BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENGGUNAAN “PASTA KEMANGI (Ocymum basilicum)” DALAM UPAYA MENANGGULANGI DEMAM BERDARAH (DBD) DI DAERAH ENDEMIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini penyakit DBD ini belum ditemukan vaksinnya, sehingga tindakan yang paling efektif untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk ini adalah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan kita dengan cara 3M, yaitu menguras tempat penampungan air dengan menyikat bagian dalam dan harus dikuras paling sedikit seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan menimbun dalam tanah barang-barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan (Setyaningrum, E. 2007).
Penyebaran penyakit DBD terkait dengan perilaku masyarakat yang sangat erat hubungannya dengan kebiasaan hidup bersih dan kesadaran keluarga terhadap bahaya DBD.Tingginya angka kesakitan penyakit ini sebenarnya oleh karena perilaku kita sendiri. Faktor lainnya yaitu masih kurangnya pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan yang cocok untuk tempat perkembang biakan dari nyamuk aedes aegepty adalah ditempat-tempat penampungan air bersih dan tenang seperti drum, tempayan, bak mandi, WC, ember, vas bunga, dan kaleng-kaleng bekas yang dapat menampung air hujan, juga baju yang bergantungan.
Daun Kemangi memiliki bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pening. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan serangga (Tjitrosoepomo, 1994).
Menurut tim peneliti dari Center for New Crops and Plant Products, Purdue University, AS, daun kemangi terbukti ampuh untuk menyembuhkan sakit kepala, pilek, diare, sembelit, cacingan, dan gangguan ginjal. Mereka mengemukakan keampuhan pengobatan menggunakan daun kemangi, yaitu dapat mengatasi sakit maag, perut kembung, masuk angin, kejang-kejang, dan badan lesu. Selain itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk.
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis mencoba menyusun gagasan tertulis mengenai cara efektif untuk menanggulangi wabah Demam berdarah (DBD), dengan judul “Penggunaan “Pasta Kemangi (Ocymum basilicum)” dalam Upaya Menanggulangi Demam Berdarah di Daerah Endemik” yang sampai saat ini belum ditemukan cara penanganan yang efektif.
1.2 Perumusan Masalah
1. Dapatkah pasta kemangi (Ocymum basilicum) digunakan sebagai bahan penanganan Demam Berdarah (DBD)?
2. Bagaimanakah cara efektif menanggulangi wabah Demam Berdarah di daerah Endemik ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penggunaan pasta kemangi (Ocymum basilicum) sebagai bahan penanganan demam berdarah (DBD).
2. Untuk mengetagui cara efektif menanggulangi wabah Demam Berdarah di daerah Endemik.
1.4 Manfaat
Berdasarkan paparan diatas dimulai dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan, maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
a. Bagi masyarakat umum, penulisan karya ilmiah ini dapat dijadikan bacaan kesehatan untuk menanggulangi wabah demam berdarah yang disebabkan salah satunya oleh nyamuk Aedes aegepty yang saat ini menjadi topik utama masalah kesehatan tubuh dan lingkungan. Selain itu dapat membantu masyarakat dalam memperoleh pengetahuan tentang penyakit DBD, salah satunya melalui pemakaian pasta kemangi (Ocymum basilicum).
b. Bagi pemerintah, informasi ini dapat membantu dalam program penyuluhan kesehatan masyarakat secara merata dan banyak diterima masyarakat menengah kebawah.
c. Bagi dunia keilmuan, penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran berupa kajian-kajian literature yang kemudian dapat pula dugunakan sebagai upaya kesehatan masyarakat luas.
1.5 Uraian Singkat
Herba kemangi (Ocymum basilicum) memiliki bau bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pusing. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan Serangga.
Dengan adanya hal tersebut, di zaman yang serba mahal ini, penulis menemukan solusi baru yang lebih aman, mudah dan murah serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses pembuatan dan alat mahal seperti pembuatan ekstrak sehingga cara ini lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun serta dapat membantu pihak terkait terutama masalah pengeluaran biaya untuk penanganan Demam Berdarah yang saat ini memakan banyak dana. Dengan pemanfaatan tanaman herba Kemangi (Ocymum basilicum) sebagai pasta, kulit akan terhindar dari efek samping sebab tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta dapat memperkecil pengeluaran dan mempersingkat waktu pembuatan. Dengan penerapan teknologi sederhana tersebut kulit akan terhindar dari sengatan nyamuk terutama penyebab Demam Berdarah.

BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Kemangi (Ocymum basilicum)
2.2.1 Biologi Tanaman
2.2.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Ocymum
Spesies :Ocymum basilicum (Steenis, 2003).
2.1.1.2Morfologi
Terna yang menegak, tinggi hingga 1,10 m, batang coklat tua, tangkai daun coklat muda dan daun-daun hijau tua. Daunnya berasa manis dan agak tajam (Tjitrosoepomo, 1994).
2.1.2 Budidaya
Kemangi tidak menuntut syarat tumbuh yang rumit. Dapat dikatakan semua wilayah di Indonesia bisa ditanami kemangi. Yang jelas tanahnya bersifat asam. Kemangi juga toleran terhadap cuaca panas maupun dingin. Perbedaan iklim ini hanya mengakibatkan penampilan tanacnan sedikit berbeda. Kemangi yang ditanam di daerah dingin daunnya lebih lebar dan lebih hijau. Sedang kemangi di daerah panas daunnya kecil, tipis, dan berwama hijau pucat.
Benih Kemangi diperbanyak dengan bijinya. Biji diperoleh dari buah kemangi yang masak di batang. Ciri biji yang tua ialah berwama – hitam dan
kering. Biji kemangi harus disemai terlebih dahulu sebelum ditanam. (Anonimous, 2009).
2.1.3 Distribusi dan Habitat
Tanaman ini ditemukan di seluruh pulau Jawa dari daratan rendah hingga kurang lebih 450 m di atas permukaan laut, bahkan dibudidayakan hingga 1100 m. Selain di P. Jawa, jenis ini telah ditanam hampir di seluruh Nusantara. Tumbuh pada tepi-tepi jalan dan tepi-tepi ladang, pada sawah-sawah kering dan dalam hutan-hutan jati seringkali disemaikan di kebun-kebun dan pekarangan rumah. (Anonimous, 2009).
2.1.4 Manfaat
Daun selasih memiliki bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pening. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan serangga (Tjitrosoepomo, 1994).
Dalam farmakologi Cina disebut tumbuhan ini memiliki sifat: rasa agak manis, dingin, harum, dan menyegarkan, menghilangkan bau badan, dan bau mulut. Efek zat aktif : 1,8 sineol (seluruh tanaman), anestesi, membantu mengatasi ejakulasi dini, anti kholinesterase, perangsang aktifitas syarafpusat, melebarkan pembuluh darah kapiler (merangsang ereksi), penguat hepar. Anethol (seluruh tanaman); merangsang hormon estrogen, merangsang faktor kekebalan tubuh, merangsang ASI. Apigenin (seluruhtanaman); melebarkan pembuluh darah, mencegah pengentalan darah, melancarkansirkulasi, menekan syaraf pusat, ralaksasi otot polos. Arginine (daun), memperkuat daya tahan hidup sperma, mencegah kemandulan, menurunkan gula darah, antihepatitis, diuretik. Asam aspartat (daun); merangsang syaraf, analeptik. Boron (seluruh tanaman); merangsang keluarnya hormon androgen dan hormon estrogen serta mencegah pengeroposan tulang (Anonimous, 2009).
2.1.5 Kandungan Kimia
Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, a. l: Minyak atsiri: Osimena, farnesena, sineol, felandrena, sedrena, bergamotena, amorfena, burnesena, kadinena, kopaena, kubebena, pinena, ter pinena, santalena, sitral, dan kariofilena.
Senyawa lain : Anetol, apigenin, asam askorbat, asam kafeat, eskuletin,eriodiktiol, eskulin, estragol, faenesol, histidin, magnesium, rutin, tanin, ß-carotene, ß-sitosterol.
2.2 Tinjauan Umum Demam Berdarah
2.2.1 Pengertian
DBD adalah salah satu penyakit yang tidak ada obat maupun vaksinnya. Pengobatannya hanya suportif berupa tirah baring dan pemberian cairan intravena. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk dan membunuh larva serta nyamuk dewasa terus digalakkan.
2.2.2 Manifestasi Klinis
Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengue , demam berdarah dengue, sampai sindrom syok dengue. Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.
Secara klinis biasanya ditandai dengan demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbul ruam makulopapular. Tanda lain menyerupai demam dengue yaitu anoreksia, muntah, dan nyeri kepala (Dep.Kes. RI, 1992).
2.2.3 Diagnosis
Diagnosis DBD biasa dilakukan secara klinis:
1. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis.
2. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
3. Dengan/tanpa syok. Syok yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk.
4. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi, yaitu sedikitnya 20%.
5. Adanya ruam-ruam pada kulit.
6. Leukopenia
Derajat Beratnya DBD secara klinis dibagi menjadi 4 derajat yaitu:
1. Derajat I:
Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.
2. Derajat II:
Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
3. Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
4. Derajat IV:
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur (Setyaningrum, 2005)
2.2.4 Usaha-usaha Pemecahan Masalah yang Telah Dilakukan
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memerintahkan para Dokter untuk berkoordinasi dengan aparat kesehatan setempat untuk kasus-kasus DBD yang sedang diobati. Tetapi, hal tersebut juga disampaikan kepada masyarakat agar berperan aktif melakukan tindakan pencegahan dan berperilaku hidup bersih dan sehat dengan senantiasa melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dan segera melapor ke RT/RW setempat apabila terdapat warga di daerahnya yang menderita DBD (Lamppost, 2009)
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk selama 2004 yang digunakan untuk penyuluhan dan pembelian insekstisida untuk pengasapan sarang nyamuk di sejumlah daerah (Anonimous, 2009)
2.3 Penelitian Terkait Demam Berdarah dan Insektisida Alami
Berdasarkan studi terdahulu oleh Hamon & Mouchet dalam Bulletin WHO 1967, memang sudah dipaparkan bahwa spesies Culex quinquesfasciatus adalah spesies nyamuk yang paling cepat resisten terhadap insektisida daripada spesies nyamuk lain. Selain itu, WHO 1996 melaporkan, di banyak negara nyamuk Culex telah resisten terhadap insektisida golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid.
Lima dkk dalam Am J Trop Med Hyg 2003 juga mengemukakan adanya tanda-tanda resistensi larva dan nyamuk dewasa Aedes aegypti terhadap beberapa jenis insektisida. Sampel nyamuk diambil dari 10 kotamadya yang terletak di Rio de Janeiro dan Espirito Santo, Brazil. Dari 10 kotamadya tersebut, larva Aedes aegypti dari delapan kotamadya sudah menunjukkan resistensi terhadap temefos (0,012 mg/L), dimana tingkat mortalitasnya hanya 74% sampai 23,5.
Sathantriphop S dkk meneliti kerentanan nyamuk Culex quinquefasciatus dan Aedes aegypti terhadap beberapa kelompok besar insektisida yaitu DDT, fenitrothion, malathion, deltamethrin, dan permethrin. Setelah dipapari selama 1jam (kecuali 4 jam untuk DDT), nyamuk Culex (nyamuk yang paling sering ditemukan di rumah-rumah) menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap DDT 4%, deltamethrin 0,05%, fenitrothion 1%, dan permethrin 0,75% dengan persentase kematian berturut-turut adalah 0%, 11%, 21,2%, dan 10,1%.
Menurut tim peneliti dari Center for New Crops and Plant Products, Purdue University, AS, daun kemangi terbukti ampuh untuk pengobatan sakit maag, perut kembung, masuk angin, kejang-kejang, dan badan lesu. Selain itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk. Sejak zaman dahulu, kemangi disuling untuk diambil sari minyak atsirinya.
2.4 Hubungan Herba Kemangi (Ocymum basilicum) dengan Demam Berdarah
Herba Kemangi (Ocymum basilicum) dikenal memiliki zat aktif berupa alkaloid yang dapat mematikan jentik nyamuk.
Alternatif dari alam ini sudah sering digunakan. Penelitian tentang insektisida alamiah dalam upaya mengendalikan serangga, khususnya pada stadium jentik, pertama kali dirintis oleh Campbell dan Sulivan tahun1933. Selanjutnya berturut-turut Harzel tahun 1948; Amongkas dan Reaves tahun 1970; Pirayat Suparvann, Roy Sifagus, dan Fred W.K (1974) di University of Kentucky, Lexington telah menghasilkan penelitian bahwa ekstrak daun kemangi (Olium basikicum) pada dosis 100 ppm (bagian per sejuta) dapat menghambat pertumbuhan jentik Aedes aegypty (Anonimous, 2008).

BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Sumber Data Deskriptif
Pada periode Januari 2007, terjadi 4.862 kasus DBD di 14 provinsi di Indonesia di antaranya 75 mengakibatkan kematian. Bisa disebut menurun dibanding Januari 2006, di mana dilaporkan terjadi 18.941 kasus DBD di 33 provinsi dan 192 di antaranya meninggal (Widianto, 2007).
Namun, jika dilihat secara total kasus DBD sepanjang tahun, trennya terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir misalnya, angka peningkatanya jelas, yakni kasusnya 79.462 meninggal 957 tahun 2004, 95.000 dan meninggal 1.350 (2005), 113.640 dan meninggal 1.184 (2006) dan terakhir 140.000 kasus dengan 1.380 meninggal tahun 2007 (Budianto, 2007).
Kasus demam berdarah dengue (DBD) setiap tahun di Indonesia terus meningkat dan bahkan dikhawatirkan makin merajalela dengan pemanasan global. Pusat Informasi Departemen Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di Indonesia pada bulan Januari 2008 mencapai 8.765 kasus dengan 68 korban meninggal, bahkan hingga awal Februari kasusnya telah mencapai 9.092 dengan 70 korban meninggal (Widianto, 2006).
3.2 Metode Pengumpulan data
3.2.1 Dokumentasi
Tercantum dalam lampiran 1.
3.2.2 Wawancara
Dalam mengumpulkan data, selain menggunakan observasi dan dokumentasi juga digunakan wawancara agar data yang diperoleh lebih akurat. Wawancara ditujukan pada Dinas kesehatan, puskesmas, dan beberapa masyarakat yang terkena wabah tersebut di daerah Endemik.
3.2.3 Observasi
Untuk mendukung gagasan tertulis ini, penulis melakukan observasi di daerah endemis Malang. Hasil observasi yang didapat berupa, kasus demam berdarah yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Obserevasi ini dilakukan pada tanggal 3 dan 4 Januari 2009.

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1 Analisis Masalah
Jumlah korban yang tewas dari wabah demam berdarah di Indonesia telah meningkat menjadi 224 orang. Sejak permulaan tahun, virus itu telah menyerang lebih dari 11 ribu 720 orang. Departemen kesehatan menyebut wabah demam berdarah itu “luar biasa” karena jumlah yang terserang lebih dari duakali lipat selama waktu yang sama tahun lalu. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah mengatakan, kasus demam berdarah telah bertambah setiap tahun diseluruh Asia Tenggara. Demam berdarah tertutama adalah penyakit tropis, dan disebarkan oleh nyamuk.
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk selama 2004 yang digunakan untuk penyuluhan dan pembelian insekstisida untuk pengasapan sarang nyamuk di sejumlah daerah.
Pada bulan Maret 2005 masih ada daerah berstatus kejadian luar biasa. Sampai Mei di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus; dengan jumlah kematian 348 orang. Hingga awal Oktober 2005, kasus DBD di 33 provinsi mencapai 50.196 kasus, dengan 701 di antaranya meninggal (case fatality rate 1,4 persen). Daerah terpaan DBD terbesar: DKI Jakarta (14.200 kasus). Kasus kematian tertinggi: Jawa Barat (147 orang). Data itu menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dari Mei hingga awal Oktober. Banyaknya kasus DBD ini seiring dengan datangnya musim hujan yang menyebabkan banyaknya genangan air.
Mantan Kepala Subdirektorat Arbovirosis Departemen Kesehatan, Rita Kusriastuti memperkirakan jumlah penderita demam berdarah meningkat seiring perubahan iklim global terjadi dan membuat sejumlah tempat menjadi lebih hangat. Dia juga menyatakan, data penderita DBD, bisa lebih besar dari perkiraan, apalagi bisa jadi ada korban yang tidak tercatat.
Menurut Rum Istriati, Kasudin Kesmas Jakarta Pusat, ketika dihubungi, dua orang korban meninggal merupakan warga Bungur, Kecamatan Kemayoran, dan satu orang lagi merupakan warga Petamburan. Korban meninggal diduga akibat telat diagnosa dan telat penanganan hingga akhirnya mereka meninggal dunia.
Dalam Kompas, 2005 dijelaskan bahwa kurangnya koordinasi yang bagus antara masyarakat dan pihak kesehatan terkait sehingga terjadi peningkatan korban DBD dari tahun ke tahun dalam skala besar. Bahkan pemerintah telah mengeluarkan anggaran dengan jumlah besar tetapi hasilnya belum bisa dirasakan oleh masyarakat secara merata. Akibatnya pembangunan nasional di Indonesia belum bisa tercapai secara seimbang.
4.2 Sintesis Masalah
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk.
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis membuat alternatif baru untuk mengatasi wabah demam berdarah yang lebih murah dan mudah karena dapat dijangkau semua kalangan, aman karena tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta tidak memerlukan waktu lama dan alat mahal untuk pengolahan seperti pembuatan ekstrak. Solusi tersebut adalah dengan memanfaatkan tanaman kemangi yang telah dibuat pasta, kemudian pasta tersebut dioleskan pada permukaan kulit agar kulit tidak tergigit oleh nyamuk terutama nyamuk penyebab demam berdarah (DBD). Dengan menerapkan teknologi sederhana tersebut maka akan membantu upaya pemerintah dan pihak kesehatan terkait dalam menanggulangi wabah Demam Berdarah. Cara tersebut lebih efektif untuk menanggulangi wabah Demam Berdarah (DBD) yang saat ini kasusnya mengalami peningkatan dalam skala besar dari tahun ke tahun.
Adapun pembuatan pasta kemangi, sebagai berikut:

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dengan adanya hal tersebut, di zaman yang serba mahal ini, penulis menemukan solusi baru yang lebih aman, mudah dan murah serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses pembuatan dan alat mahal seperti pembuatan ekstrak sehingga cara ini lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun serta dapat membantu pihak terkait terutama masalah pengeluaran biaya untuk penanganan Demam Berdarah yang saat ini memakan banyak dana. Dengan pemanfaatan tanaman herba Kemangi (Ocymum basilicum) sebagai pasta, kulit akan terhindar dari efek samping sebab tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta dapat memperkecil pengeluaran dan mempersingkat waktu pembuatan. Dengan penerapan teknologi sederhana tersebut kulit akan terhindar dari sengatan nyamuk terutama penyebab Demam Berdarah.
5.2 Saran
Disarankan bagi:
1. Masyarakat dan pihak terkait untuk menggunakan alternatif ini karena cara tersebut diketahui lebih efektif dan lebih terjangkau.
2. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi para calon peneliti selanjutnya agar dapat menemukan alternatif baru untuk menanggulangi wabah demam berdarah.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA

TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES

PAK ZAIF

 

07/31/2009 Posted by | Contoh PKM | 17 Komentar

Respon Beberapa Varietas Entres Mangga (MANGIFERA indica l.) Pada Perbedaan Waktu Defoliasi Terhadap Pertumbuhan Bibit Secara Grafting

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mangga merupakan jenis buah tropis yang digemari oleh masyarakat di dunia dan menjadi komoditas perdagangan antar negara. Publitas mangga dikenal sebagai The Best Loved-Tropical , mendampingi popularitas durian sebagai King of Fruit. Komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan salah satunya buah mangga mempunyai prospek baik bila dikembangkan secara intensif dan dalam skala agribisnis. Dari tahun ke tahun permintaan buah tropis didalam dan luar negeri semakin meningkat, baik dalam bentuk segar maupun olahan.
Keadaan produksi ataupun produktifitas, dan kualitas mangga Indonesia masih rendah, padahal kita mempunyai koleksi plasma nutfah terbesar No. 2 didunia setelah India. Kebun koleksi tersebut terletak di kebun percobaan daerah Cukorgondang Pasuruan. Penyebabnya antara lain adalah bentuk kultur budidaya yang bersifat tanaman pekarangan varietas atau kultivar aneka ragam, bibit kurang bermutu, dan pemeliharaan kurang intensif. (Rukmana, 1997).
Disamping itu jika diamati laju perkembangan mangga, maka dijumpai kasus yang perlu memperoleh perhatian, yaitu sejak tahun 1995 hingga 1997, produksi mangga Indonesia meningkat, tetapi ekspor pada tahun yang sama mengalami penurunan tajam. Pada tahun 1997 produksi mangga Indonesia mencapai 1.206.050 ton (11,20% dari total produksi buah nasional) sementara ekspor mangga hanya sebesar 74,995 ton (0,048% dari total ekspor buah nasional). Di lain pihak impor buah-buahan dalam tahun yang sama justru mengalami peningkatan (Anonim, 1998). Hal tersebut menunjuk¬¬kan bahwa peran mangga dalam ekspor buah secara nasional makin turun. Hal ini disebabkan oleh kualitas mangga Indonesia tidak mampu bersaing di pasar global, atau konsumen jenuh dengan varietas yang ada, yaitu Arumanis atau Gadung. Dengan demikian preferensi konsumen sedang berubah. Untuk itu perlu menawarkan varietas alternatif, agar segmen pasar yang jenuh tersebut bergerak kembali.
Pada beberapa tahun mendatang diramalkan warna merah akan mendominasi beberapa aspek kehidupan masyarakat, tidak kecuali penampilan buah. Untuk itu penyediaan varietas unggul mangga diarahkan untuk memenuhi perubahan selera konsumen yang mulai menyukai warna buah merah untuk buah segar seperti mangga varietas Irwin, Haden, Kensington Aplle. Di¬samping varietas-varietas untuk memenuhi kebutuhan produk olahan sebagai diversifikasi produk mangga selaras dengan perkembangan industri olahan yang berkembang pesat. Industrialisasi ternyata juga menumbuhkan industri baru skala rumah tangga dan skala perusahaan besar. Industri rumah tangga manisan atau asinan, juice, puree, jamu, kripik dan tepung sedang tumbuh di beberapa pusat-pusat produksi mangga, yang semuanya membutuhkan bahan baku yang sesuai dengan kegunaan-nya.
Walaupun demikian varietas unggul buah mangga yang telah dilepas (dirintis) resmi oleh Menteri Pertanian nasional dengan Surat Keputusan nomor 890 /Kpts/TP.240/11/1984, yaitu, varietas Arumanis-143, Manalagi-69, Golek-31 masih menjadi primadona bagi konsumen buah mangga di beberapa negara seperti Singapura, Eropa barat, USA, dan negara timur tengah. Sehingga harus juga terus dikembangkan kualitas dan kuantitasnya, dengan mencari alternatif cara perbanyakan bibit mangga yang paling efektif. Dalam usaha penyediaan bibit yang baik, banyak digunakan batang bawah terutama varietas madu. Selain batang bawah, batang atas juga perlu diperhatikan sehingga nantinya akan diperoleh tanaman mangga yang sesuai dengan selera konsumen. Dari beberapa cara perbanyakan tanaman mangga yang paling mudah dan banyak dilakukan orang sekarang ini adalah okulasi dan grafting.
Defoliasi adalah suatu cara yang umum dilakukan dalam hal ini melakukan perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung atau memangkas seluruh daun dengan atau tanpa meninggalkan dua helai digunting dan disisakan seperempat bagian. Menurut Sudarto (2000), perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.4 Hipotesa
1. Terjadi interaksi antara beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera indica L.) dan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
2. Beberapa macam varietas entres mangga ( Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
3. Perbedaan waktu dofoliasi entres mangga (Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi
Buah mangga yang bisa dijual-belikan di pasaran pada umumnya adalah buah mangga Arummanis, Manalagi, Gadung, dan lainnya. Ditinjau dari sistematika, tanaman mangga dapat digolongkan sebagai berikut :
Devisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji).
Kelas : Angiospermae (berbiji tertutup).
Sub Kelas : Dicotyledoneae (berkeping dua).
Ordo : Sapindale
Famili (keluarga) : Anacardiaceae.
Genus : Mangifera.
Species : Mangifera Indica L. ( Rukmana, 1997).
Mangga (Mangifera indica L.) termasuk famili Anacardiacea, terdiri dari 64 generasi. Di samping mangga, beberapa tanaman lain yang segenerasi dengan mangga adalah Anacardium occidentale (jambu mete), Spodias mangifera (hot plum, amra), Bouea macrophylla Griff. (gandaria) dan Pisticia vere L. (pistachio).(Tjitrosoepomo,2003).
Genus Mangifera L. terdiri dari 62 spesies yang berupa pepohonan daun selang-seling, berpetiole lengkap dan coriaceous (Singh, 1969). Mukherjee (1985) menyajikan hanya 41 spesies Mangifera L. yang terdapat di Asia Tenggara, sedangkan spesies selebihnya-sekurangnya mungkin sinonim. Bunga-bunganya kecil, berangkai dalam satu malai yang muncul sempurna yang terdapat pada pohon yang sama. Buahnya termasuk kelompok fleshy drupe dan berserat. Biji kompak dilapisi oleh kulit dalam seperti kertas dan kulit luar yang berserabut.
Di samping Mangifera indica L. 15 spesies lainya dari genus Mangifera L. dapat dimakan dan beberapa diantaranya enak dimakan, tetapi kualitas buahnya tidak sebaik buah mangga (Mangifera indica L.). Meskipun begitu tetap bermanfaat sebagai batang bawah.
Jumlah kromosom Mangifera L., M. syvatica Roxb., M. coloneura kunz, M. zenglanica Hook. F., dan M.odorata griff yang dilaporkan oleh Mukherjee (1950) adalah 2n = 40. singh (1969) manyajikan 2n = 20 dalam seedling M. indica yang poliembrioni. Dari sejumlah kromosom ini terdiri dari 11 tipe yang terdapat dalam M. indica dan M.sylvatica. spesies dan varietas M.indica dapat dibedakan dari satu dengan lainya berdasarkan perbedaan satu atau lebih diantara 11 tipe kromosom tersebut (Mukherjee, 1950). Berdasarkan ukurannya, dari 20 kromosom bivalen dalam varietas-varietas mangga adalah besar. Hal ini menunjukkan adanya kontrol genotipe melalui ukuran kromosom, dan merupakan sebuah fenomena yang dapat dikaitkan dengan hibridisasi dan mutasi gen. Tentu kejadian secara sitologis tersebut menunjukkan bahwa mangga adalah alloploid, dan mungkin sebagian besar amphidiploid. Dengan demikian hibridasi inter-varietas secara alami sangat penting untuk memperoleh varietas baru. (Purnomo. 1990).
Menurut Rukmana (1999), Kerabat dekat suku mangga-manggaan cukup banyak diantaranya adalah kemang (Mangifera casei Jack ex Wall), batang atau embacang atau limu (M.foitida Lour). Tanaman mangga memiliki pohon yang tingginya mencapai 10 m – 30 m atau lebih dan umurnya dapat mencapai puluhan tahun. Batang tubuh tegak, kokoh, berkayu, dan berkulit agak tebal dan warnanya abu-abu kecoklatan, pecah-pecah serta mengandung cairan semacam damar. Percabangannya banyak yang tumbuh ke segala arah hingga tampak rimbun.
Daun tubuh tunggal pada ranting, letaknya berseling-seling dan bertangkai panjang. Bentuk daun panjang-lonjong dengan bagian ujung meruncing. Permukaan sebelah bawah berwarna hijau-muda. Bunga tersusun dalam rangkaian bunga (malai) tiap-tiap malai bunga dalam jumlah sangat banyak, yakni sekitar 1000-6000 kuntum, namun bunga yang berkembang menjadi buah sekitar 1%. Rendahnya prosentase bunga yang menjadi buah disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah, jumlah bunga jantan permalai amat banyak sekitar 90%, namun sel telur yang normal sangat rendah antara 5 %-10 %. Disamping itu, bunga jantan letaknya pada pangkal malai, sedangkan bunga sempurna dibagian ujung malai. Kedua kemampuan tumbuh tepung sari sangat rendah, yakni sekitar 1%-12% tidak sempurna (abnormal) hingga tidak mampu membuahi sel telur. Ketiga tidak terjadi penyerbukan akibat banyak turun hujan atau tidak ada lebah penyerbuk. (Rebin, 1999).
Buah mangga disebut buah batu dan memiliki bentuk beraneka ragam, antara lain bulat, bulat-pendek dengan ujung pipih, dan bulat panjang agak pipih. Susunan tubuh buah terdiri dari beberapa lapisan, yaitu: tangkai, pangkal buah, kulit buah, daging buah, serabut, biji, lukukan, paruh, pucuk buah.( Rukmana,1997).

2.2 Jenis dan Varietas Mangga Unggul
Diseluruh dunia banyak jenis mangga, karena penyebaran tanaman hampir mencakup seluruh benua. Dikawasan ASEAN saja terdapat lebih dari 500 varietas asli maupun introduksi. Meskipun demikian untuk tujuan komersial, berbagai Negara hanya memilih jenis atau varietas tertentu untuk dikembangkan secara intensif. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo, 1970).
Di Indonesia dikenal 3 jenis (golongan) mangga yang tersebar luas diberbagai wilayah nusantara, antara lain terdiri dari mangga Arummanis, Manalagi dan Golek.
Plasma nutfah mangga di Indonesia cukup banyak. Sejak tahun 1941 sampai sekarang ragam jenis atau varietas mangga dikoleksikan di kebun percobaan Cukorgondang, Pasuruan.
Pengembangan mangga varietas unggul dibeberapa negara dirancang sesuai dengan permintaan pasar (konsumen). Baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Filipina mengembangkan mangga untuk sasaran ekspor dengan memilih varietas atau kultivar Carabao dan Pico. Sementara untuk pasaran dalam negeri memilih varietas Pahutan, Dudul, Senora, dan Binoboy.
Di Thailand varietas mangga unggul yang dikembangkan secara komersial antara lain adalah Okyong, Nam Dokmai, Thong Dam, Nang Klangwan Chok’anam, Pinsendeang, Keo Cuk, dan Read. Varietas unggul lainnya untuk konsumen dalam negeri adalah Khieo Sawoei, Pimsenman, Selaya, dan Sampi.(Rismunandar,1990).
Di Malasyia terdapat lebih dari 110 klon Mangga, namun baru 5 klon (Varietas) yang dipilih untuk dikembangkan penanamannya secara komersial. Kelima varietas tersebut adalah Took Boon, Arumanis, Kuala Selangor, Golek, dan Maha 65. Dua varietas yang juga dianjurkan adalah Malgova dan Apple Mango.
Di Indonesia dikenal beberapa varietas mangga seperti Arumanis, Golek, Manalagi, Madu, Cengir, Gendong, Dodol, dan lain lain. Berdasarkan dengan surat keputusan Menteri Pertanian, telah ditetapkan (dilepas) 3 varietas unggul yaitu: Golek 31, Manalagi 69, dan Arumanis 143. produksi rata-rata ketiga varietas unggul tersebut adalah 52,3 Kg/pohon, 36,5 kg/pohon, 54,7 kg/pohon.(Rismunandar,1990).

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
2.3.1 Keadaan Iklim
Tanaman Mangga dapat tumbuh dan berproduksi di daerah tropik maupun sub-tropik. Di daerah tropik Indonesia mangga tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl namun paling optimal pada ketinggian 300 m dpl dan iklimnya kering. Unsur penting bagi tanaman mangga adalah curah hujan, suhu (temperatur), dan angin. Tanaman mangga membutuhkan pergantian musim kemarau dan hujan yang nyata. Yakni sedikitnya 4-6 bulan kering, dan curah hujan 1000 mm/tahun atau kurang dari 60 mmm/bulan atau selama jangka waktu musim kering mempengaruhi fase repoduktif. Pembungaan mangga membutuhkan bulan kering selama 3-5 bulan karena keluarnya bunga mangga terjadi 1,5 – 2 bulan sesudah awal musim kering. Sedangkan pembuahan membutuhkan minimal 1 bulan kering setelah pembungaan.(Rukmana, 1997).
Suhu udara yang ideal adalah antara 270-340 C dan tidak ada angin kencang atau angin panas. Disamping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga membutuhkan penyinaran antara 50%-80%.
Di daerah yang tipe iklimnya basah, mangga sedikit sekali berbuah dan rasanya cenderung masam, serta tanaman mudah terserang penyakit mati pucuk oleh cendawan Gloeosporium mangifera.Curah hujan yang tinggi atau angin kencang pada pembungaan atau pembuahan dapat menyebabkan gugurnya bunga atau buah.
Mangga pada umumnya cocok ditanam di daerah yang beriklim kering, namun beberapa jenis atau varietas dapat beradaptasi di daerah yang beriklim basah. Mangga Kemang, Gedong, Cengkir banyak ditanam di daerah Cirebon dan Idramayu yang iklimnya basah.
Mangga varietas unggul seperti Arumanis 143, Manalagi 69, dan Golek 31 tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah yang beriklim kering. Daerah-daerah yang mempunyai kondisi iklim kering terdapat di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Tenggara, Lombok, Sumbawa, Kupang, dan lain lain. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).

2.3.2 Temperatur
Menurut Rukmana (1997), Temperatur untuk pertumbuhan optimimum tanaman mangga lebih kurang 24-270C. Pada suhu tersebut pertumbuhan vegetatif dan hasilnya juga sangat baik. Baik temperatur yang rendah, bagi tanaman mangga muda (umur 5 tahun) akan banyak menderita kerusakan. Namun ada beberapa jenis tanaman mangga yang masih tahan terhadap suhu rendah, tetapi tidak berproduksi dengan baik. Menurut pengamatan temperatur tanaman mangga masih dapat hidup adalah lebih kurang 4-100 C, tetapi temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi.
Pada musim kemarau, jika temperatur mencapai lebih dari 450 C dan disertai angin kencang, dapat mengakibatkan luka bakar matahari pada buah. Untuk mengatasi hal ini, di tepi perkebunan mangga yang sering ditiup angin kencang harus diberi tanaman yang lebih tinggi dari pada pohon mangga, supaya dapat mematahkan kecepatan angin, misalnya ditanami sengon laut.
Pada temperatur kira-kira 450 C dengan kelembaban 15 persen ditempat yang terlidung, daun-daun dan buah yang masih kecil akan terpengaruh sebagian buah yang masih kecil akan rontok, sedangkan yang masih berkembang akan menjadi buah yang tidak berbiji. Pada temperatur maksimum lebih dari 440 C, tanaman mangga masih dapat hidup, tetapi hasilnya tidak begitu baik.

2.3.3 Curah Hujan
Keadaan volume curah hujan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga dan proses produksi dan pembentukan bunga dan buah. Kalau pada musim bunga dan masa berbuah mulai masak tidak ada hujan, tanaman akan tumbuh dengan baik dan proses produksi akan berlangsung dengan baik pula. Sebaliknya, apabila waktu musim bunga, banyak turun hujan, berawan dan banyak kabut, proses pembentukan bunga akan terganggu. Disamping itu, keadaan tersebut akan merangsang timbulnya hama penyakit yang penyebarannya cepat sekali.
Jadi pada prinsipnya curah hujan hanya diperlukan pada tidak musim bunga, yaitu pada masa pertumbuhan vegetatif untuk memacu pertumbuhan cabang, ranting, serta tunas-tunas baru. Jumlah curah hujan tidak begitu penting pada waktu musim bunga, tetapi kalau ternyata masih juga turun hujan sedikit justru baik untuk pertumbuhan bunga, sebab akam menciptakan suasana udara sejuk, tetapi tidak lembab. (Marhijanto dan Wibowo. 1994).
Prosentase pembagian curah hujan setiap tahun sangat penting pengaruhnya terhadap proses pembungaan. Sebab masa primordial bunga akan terjadi setelah musim hujan, sekurang-kurangnya setiap tahun kira-kira 10.000 mm, dan musim kering lebih kurang 4-6 bulan dengan curah hujan rata-rata 60 mm/bulan. Jika dalam jangka waktu yang lama tidak ada hujan, maka areal pertanaman dapat dibantu dengan pengairan. Sebab kalau kondisi kadar air tanah terlalu kering, bunga mangga dapat menjadi layu dan akhirnya kering.
Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada musim bunga adalah:
a). Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari, dan akhirnya tepungsari tersebut jatuh bersama air hujan.
b). Hujan yang terlalu lebat biasa menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga, dan bahkan dapat merontokkan bunga.
c). Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan atau wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga maupun buah yang rontok, dan panen pun gagal.
d). Selama hari-hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan karena tidak dapat terbang.
e). Banyak embun dan kabut dapat menggagalkan pemanenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu musim hujan.

2.3.4. Ketinggian Tempat
Tanaman mangga dapat tumbuh sampai ketinggian tempat lebih kurang 1.300 m dpl. Akan tetapi didaerah yang tinggi. Produksinya tidak begitu banyak, dan kualitasnya pun tidak baik. Jika kita ingin mengusahakan tanaman mangga yang produksinya optimal, sebaiknya ditanam pada suatu areal yang memiliki ketinggian maksimal 500 m dpl. (Rukmana. 1997).
Masa berbunga tanaman mangga juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Karena negara Indonesia didaerah tropis pada posisi 110 LU atau 60 LS. Maka setiap kenaikan kira-kira 130 m, ditempat pohon mangga itu ditanam, masa pembungaan tanaman tersebut akan tertunda selam 4 hari.

2.3.5 Keadaan Tanah
Tanaman mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Di pantai utara Kraton dan Bangil (Jawa Timur) yang tanahnya berbelah-belah, termasuk jenis tanah sangat berat (Grumosol), tanaman mangga dapat tumbuh baik. Untuk jenis tanah grumasol perlu dilakukan penutupan dengan mulsa jerami atau pemberian kompos dalam jumlah banyak untuk menahan penguapan.
Pertumbuhan dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis berpasir, lempung, atau agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung banyak bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara 5,5-6,0. Jenis tanah Aluvial seperti di Probolingga (Jawa Timur) mempunyai pengaruh baik terhadap kualitas buah.
Tanaman mangga toleran terhadap kekeringan, namun untuk menjamin pertumbuhan dan produksi membutuhkan keadaan air tanah yang memadai. Air tanah yang ideal adalah tidak lebih dari 50 cm dari permukaan tanah. Apabila tidak ada sumber air, pengadaan air dapat dilakukan dengan cara menampung air hujan dalam bak-bak penampung. Selama masa pembesaran buah tanaman mangga amat diperlukan air, terutama pada musim kemarau. (Pracaya. 1990).

2.4 Pengertian Varietas Unggul
Varietas atau kultivar unggul adalah sekumpulan individu tanaman yang dibedakan oleh setiap sifat (morfologi, fisiologi, sitologi, kimia) yang nyata untuk maksud usaha pertanian dan bila diproduksi kembali akan menunjukkan sifat unggul yang dapat dibedakan dari yang lain, Varietas unggul meliputi :
a. Sifat Genetik
Sifat genetik merupakan penampilan varietas murni atau tertentu yang menunjukkan identitas genetik dari tanaman induknya mulai benih penjenis, benih dasar, benih pokok dan benih sebar.
b. Sifat Fisiologik
Sifat ini menampilkan kemampuan daya hidup varietas serta bebas dari hama dan penyakit.
c. Sifat Fisik
Sifat fisik merupakan penampilan varietas secara prima bila dilihat secara fisik seperti ukuran varietas.
Keunggulan sifat kadang-kadang dinyatakan pada salah satu komponen hasil atau hasil akhir, kadang-kadang juga pada mutu atau kandungan zat gizi maupun hanya pada kegenjahan atau ketahanannya pada suatu hama penyakit atau kekeringan. Secara total keistimewaan suatu varietas unggul tentu pada daya produksinya disuatu daerah tertentu (Rukmana, 1999).

2.5 Morfologi Beberapa Jenis Mangga
2.5.1 Arumanis –143
Mangga arumanis memiliki pohon yang tidak begitu besar dengan ukuran diameter 120-130 cm. Mangga ini memiliki tinggi berkisar 900 cm. Mangga ini memiliki daun yang sangat lebat berbentuk lonjong, panjang dan ujungnya runcing. Panjang daun mencapai 22 cm- 24 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 7 cm.
Bunganya majemuk dan mempunyai panjang 43 cm – 45 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 45 cm, dengan bentuk bunga kerucut. Setelah berbunga, tidak selang beberapa lama berubah menjadi buah. Buah yang telah tua berwarna hijau tua dan dilapisi dengan lilin, sehingga warnanya menjadi hijau kelabu. Jika dimasak, pangkal buahnya akan kering dan pada pada pangkal tangkai buah akan meyebar warna merah sampai bagian tengahnya.

2.5.2 Golek – 31
Pohon berukuran sedang, berdiameter antara 120-130 cm, miliki cabang banyak. Pada cabang tersebut terdapat ranting yang merupakan kekuatan untuk menggantung buah.
Daun mangga golek berbentuk lonjong, pada bagian pangkalnya meruncing sehingga berbentuk seperti mata tombak. Panjangnya berkisar antara 23 cm – 24,5 cm, dengan lebar 6 cm.
Mangga ini berbunga majemuk, artinya bunganya banyak dan berkumpul dalam suatu tangkai sehingga kelihatan bergerombol. Tidak semua bunga dapat menjadi buah, karena diantara bunga tersebut tidak memiliki putik yang dapat diserbuki juga disebabkan oleh daya hidup pada tepung sari pada bunga tersebut mulai berkurang .
Buahnya yang masih muda berwarna hijau muda, rasanya tidak terlalu masam. Sesudah masak, sebagian kulitnya mulai dari pangkal tangkai berwarna kuning, sedangkan sebagian lain berwarna kuning kehijauan. Kulitnya dilapisi dengan lilin tipis sehingga tampak bintik-bintik kelenjar yang berwarna putih kehijauan, jika sudah tua warnanya akan berubah putih kecoklatan.

2.5.3 Manalagi – 69
Pohon mangga manalagi hampir sama dengan pohon golek dan arumanis, besarnya berdiameter 120 cm dengan ketinggian 800 cm. Cabang dan rantingnya tidak teralu banyak (boleh dikatakan kurang).
Daun mangga manalagi berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing, dibagian pangkal tangkai daun berbentu agak bulat. Panjang daun mangga ini berkisar antara 23 cm-25 cm dan lebar sampai 7,5 cm, permukaan daun agak bergelombang.
Bunga mangga manalagi mempunyai bunga majemuk (berbunga banyak) dan bergerombol dalam satu tangkai. Sebagian tidak bisa menjadi buah karena sebagian ada yang tidak memiliki putik yang bisa dibuahi. Bunga manalagi berwarna kuning dengan tangkai hijau muda sedikit kemerahan dan berbentuk kerucut.
Buah yang masih muda berwarna hijau, jika sudah tua warna berubah menjadi hijau tua dan agak kelabu, buah yang sudah tua akan berlapis lilin sehingga tampak hijau keputihan, bila pangkal buah akan berwarna kekuningan tetapi pada ujung masih berwarna hijau.

2.5.4 Keitt
Mangga ini berasal dari filipina, pohon mangga keitt memiliki tinggi sekitar 6,20 m dengan diameter batang 49 cm batang bawah dan 47 cm batang atas, warna batang coklat dan kulit batang kehitaman licin. Cabang dan rantingnya jarang dengan bentuk tajuk piramida tumpul.
Daun mangga keitt berbentuk lonjong dengan pucuk daun berbentuk lancip. Panjang daun 20,5 cm dan lebarnya berkisar 7,1 cm. Warna pupus cenderung kekuningan dan panjang pupus berkisar 17,3 cm.
Bunga mangga keitt tersusun teratur dalam satu tangkai. Panjang malai sekitar 31 cm dan lebar sekitar 17 cm. Bentuk malai seperti piramida lancip dengan warna malai berwarna merah. Bunga mangga ini berwarna merah kekuningan diikuti porsi bunga permalai 78 sempurna dan 309 jantan.
Berat buah mangga keitt , yaitu 650gr/buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 14 cm dan lebar 24 cm dan lingkar 24 cm. Bentuk pucuk buah ini sedikit berlekuk dan mempunyai paruh. Kulit buahnya tebal, halus berbintik dan jarang warna putih. Jika sudah masak warna daging buah pada pangkal merah kekuningan dan pucuk buah hijau. Aromanya sedang, rasanya segar, selain itu buah ini mempunyai kadar vitamin c 8,9 mg/100 gr buah. (Rebin, et al. 1998).
2.5.5 Haden
Mangga jenis ini merupakan hasil introduksi dari USDA. Besar pohon relatif besar sekitar 133 cm batang dan 107 cm batang atas. Mangga ini cabang dan ranting yang jarang dan menyebar dengan bentuk tajuk seperti piramida tumpul (bulat). Warna kulit batang coklat kehitaman kekuningan dan kulit batang berwarna coklat kehitaman.
Daun mangga haden berbentuk sempit dengan ujungnya lancip dan dasar daun runcing. Ukuran daun berkisar 18, 2 cm panjang dan 15,2 cm lebar. Warna pupus daun coklat tua dengan panjang pupus 21,3 cm.
Bentuk Bunga pada mangga haden teratur dengan ukuran malai bunga, yaitu panjang malai sekitar 32 cm dan lebar malai sekitar 19 cm, dan bentuk malai bunga seperti piramida lancip. Bunga buah ini berwarna kuning, malai berwarna kuning dan warna tangkai malai merah kehijauan. Selain itu porsi bunga buah haden ini adalah 50 betina dan 50 jantan.
Berat buah berkisar 365 gr/buah, dengan ukuran bauh 9 x 7x 6,5 cm. Bentuk buah ini bulat dengan pangkal berbentuk rata dan pucuk buah bulat. Ketika sudah masak daging buah berwarna kuning dan aromanya agak harum, selain itu mangga ini kadar air 66ml/100gr buah dengan kadar gula 15,52 % (Rebin, et al. 1998).

2.5.6 Irwin
Mangga ini berasal dari Australia, ukuran pohonnya relatif kecil yaitu, mempunyai ketinggian mencapi 9 m, diameter pohon sekitar 8 cm. Percabangan mangga Irwin terkategori sedang dengan bentuk tajuk piramida lancip. Sedangkan warna batang mangga ini adalah coklat.
Bentuk daun mangga Irwin bebentuk sempit, dengan permukaan berombak, pucuk daun lancip, dasar daun lancip. Ukuran daun meliputi; panjang daun 25 cm dan lebar 5 cm. Warna daun muda hijau muda dan warna daun tua hijau tua.
Bunga pada mangga ini tersusun teratur , berbunga 3-4 kali pada lokasi di Solok, Sumatera Barat. Ukuran malai yaitu; panjang malai sekitar 43 cm dan lebar sekitar 26 cm dengan bentuk malai seperti piramida lancip. Sedangkan warna bunga mangga Irwin adalah merah,merah keunguan dan warna malai bunga merah kekuningan.
Berat buah sekitar 368,75 gram/ buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 43 cm, lebar 26 cm. Bentuk pangkal buah rata dan berlekuk, betuk pucuk buah datar, lekukan pucuk buah datar, paruh sedikit jelas. Daging buahnya tebal sekita 2,5 cm dengan tekster lunak. Jika sudah masak daging buahnya berwarna kuning berserat kasar, dan panjang. (Rebin, et al. 1998).

2.6 Perbanyakan Tanaman Mangga
Tanaman mangga dapat diperbanyak atau dikembangkan dengan beberapa cara, cara pertama adalah seksual (generatif) dengan biji, dimana biji ada yang monoembrional dan yang polyembrional. Sedangkan cara kedua adalah secara aseksual (vegetatif), hal ini dapat dilakukan baik melalui grafting, cangkok maupun rundukan. Cara ketiga adalah pengembangan cara vegetatif dan cara generatif (Harjadi, 1985).

2.6.1 Perbanyakan secara Generatif
Penanaman mangga yang paling mudah adalah dengan cara menanam biji, kebanyakan pohon-pohon mangga yang berumur sampai berpuluh-puluh tahun, pohonnya menjadi sangat besar dan kuat, bibitnya berasal dari biji. Pohon mangga yang dari biji mempunyai akar tunggang yang kuat dan menjalar ke segala arah sampai puluhan meter panjangnya (Gardner, 1989).
Semua biji pelok yang dipersiapkan sebagai benih harus dipilih dari buah yang benar-benar sudah masak. Usaha pembibitan dengan menggunakan biji masih tetap diperlukan dan masih banyak dirasakan manfaatnya terutama untuk kepentingan bibit okulasi dan grafting, sebagai batang bawah (Winarno,dkk 1990).
Beberapa keuntungan perkembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Kondisi tanaman dari biji biasanya perakarannya relatif lebih kuat, sehat dan berumur panjang.
b. Perlakuan mudah dan murah
c. Dapat diperoleh varietas baru yang baik
d. Pada biji poliembrionik dapat menghasilkan tanaman yang sama dengan sifat induknya.
Beberapa kelemahan pengembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Tidak cepat berbuah
b. Varietas baru yang muncul belum tentu mempunyai sifat yang baik seperti induknya.
c. Untuk mengetahui kualitasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan juga dengan ketahanannya terhadap penyakit. (Danoesastro, 1984).

2.6.2 Perbanyakan Secara Vegetatif
Pengembangbiakan cara vegetatif ini merupakan cara perbanyakan tanaman mangga tanpa melaui proses seksual (askesual) dimana perbanyakan dilakukan dengan jalan menggunakan bagian tanaman tersebut. Perbanyakan vegetatif ini terdiri dari bagian batang, daun dan akar (Sasmita, 1985).
Perbanyakan vegetatif adalah penggabungan antara dua jenis tanaman, yang satu bertindak sebagai penerima yang disebut batang atas “entres” dan yang lain bertindak sebagai pendukung (donor) yang disebut sebagai batang bawah. Oleh karena itu tanaman harus mampu menjalani hidup bersama tanpa menimbulkan yang tidak diinginkan bahkan mampu meningkatkan kekekaran dan produktifitas dan kualitas hasil batang atas. untuk maksud tersebut maka batang bawah tersebut harus mempunyai sifat:
1. Kompatebel dengan entresnya.
2. Resistensi terhadap penyakit batang
3. Mempunyai sistem perakaran yang luas dan kuat
4. Tahan terhadap lingkungan yang menekan.
Perbanyakan vegetatif ini mempunyai kelebihan antara lain :
1. Pada umumnya tanaman mempunyai sifat yang sama dengan pohon induknya, misalnya: buah besar dan manis, tahan hama dan penyakit.
2. Tanaman cepat berbunga dan berbuah,walaupun pohonnya masih pendek.
3. Tanaman masih dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tidak mempunyai akar tunggang.
Disisi lain cara perbanyakan ini juga meiliki kelemahan antara lain:
1. Tidak hanya sifat yang baik saja yang diturunkan oleh induknya, tetapi sifat jeleknya juga diturunkan.
2. Perakaran tidak dalam sehingga pada kondisi angin kencang akan mudah roboh, dan pada musim kemarau panjang tidak tahan pada kekeringan.
3. Sukar untuk memperoleh banyak tanaman dari atau pohon induk sekaligus (Rochiman, 1983).

2.6.3 Perbanyakan Mangga Secara Grafting
Grafting adalah teknik menyatukan pucuk yang berfungsi sebagai calon batang atas dengan calon batang bawah, sehingga dapat diperoleh batang baru yang memiliki sifat-sifat unggul. Keunggulan dari grafting yaitu lebih mudah dan lebih cepat dalam pengerjaannya (sederhana), tingkat keberhasilannya cukup tinggi, banyak digunakan buah kombinasi yang berumur 6-12 bulan atau pada tanaman induk yang diremajakan. Tujuan teknik ini yaitu untuk mendapatkan bibit tanaman buah yang unggul, memperbaiki bagian-bagian tanaman yang rusak atau terserang hama dan penyakit, membantu proses pertumbuhan tanaman dan memperoleh tanaman buah kombinasi (Anonymous, 1990).

2.6.3.1 Syarat Batang Atas dan Bawah
Untuk memperoleh hasil (tanaman) sambungan yang baik diperlukan batang bawah yang cocok dan serasi. Menurut Marhijanto dan Wibowo (1994) tanaman yang baik untuk batang atas harus mempunya sifat sebagai berikut, yaitu: Cabang dari pohon yang kuat, normal pertumbuhannya dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Mempunyai bentuk percabangan yang lurus, dimana diameter batang atas harus disesuaikan dengan batang bawah sekitar paling besar 1 cm. Cabang yang diambil berasal dari pohon yang yang mempunyai sifat unggul seperti buahnya lebat, tahan penyakit dan hama, rasa dan aroma buah enak. Dan yang terakhir adalah adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri antara batang atas dengan batang bawah sehingga sambungan kompatibel (cocok).
Menurut Rismunandar (1990), Sedangkan syarat tanaman yang akan dijadikan batang bawah harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut; batang bawah yang baik mempunyai kemampuan daya adaptasi yang tinggi. Mempunyai perakaran dan batang yang kuat dan tahan terhadap serangan hama sehingga akan mengokohkan daya topang pohon yang kuat ketika sudah dewasa. Dan yang terakhir mempunyai kecepatan tumbuh sesuai dengan batang atas yang digunakan, sehingga diharapkan batang bawah ini mampu hidup bersama dengan batang atas.

2.6.3.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Grafting
2.6.3.2.1 Faktor Tanaman
Kesehatan batang bawah yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan perlu diperhatikan. Pada batang bawah yang kurang sehat, proses pembentukan kambium pada bagian yang dilukai sering terhambat. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyambungan (Sugiyanto, 1995). Pendapat ini didukung oleh Garner dan Chaudri (1976) yang mengemukakan bahwa batang bawah berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pemilihan tanaman yang digunakan sebagai batang bawah sama pentingnya dengan pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai batang atas.
Berhasilnya pertemuan entres dan batang bawah bukanlah jaminan adanya kompatibilitas pada tanaman hasil sambungan. Sering terjadi perubahan pada entres maupun pada tanaman hasil sambungan, misalnya pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan entres yang abnormal atau penyimpanan pertumbuhan lainnya, dimana keadaan ini disebut inkompatibel. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur antara batang atas dan batang bawah atau ketidakserasian bentuk potongan pada sambungan (Rochiman dan Harjadi, 1973). Sedangkan batang yang mampu menyokong pertautan dengan baik dan serasi disebut kompatibel (Winarno, 1990).

2.6.3.2.2 Faktor Pelaksanaan
Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Menurut Rochiman dan Harjadi (1973) kecepatan penyambungan merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi penyakit. Pemotongan yang bergelombang dan tidak sama pada permukaan masing-masing batang yang disambungkan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan ( Hartman dan Kester, 1976).
Kehalusan bentuk sayatan dari suatu bagian dengan bagian lain sangat penting untuk mendapatkan kesesuaian posisi persentuhan kambium. Ukuran batang bawah dengan batang atas hampir sama sangat diharapkan agar persentuhan kambium sangat banyak terjadi. Apabila batang atas lebih kecil dari batang bawah, maka salah satu sisi kambium harus cepat. Cara penyambungan suatu tanaman keberhasilannya lebih banyak dibandingkan dengan metode lain. Disamping itu ketrampilan dan keahlian dalam pelaksanaan penyambungan maupun penempelan serta ketajaman alat-alat yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan tersebut (Sugiyanto, 1995;Winarno, 1990).

2.6.3.2.3 Faktor Lingkungan
Cahaya matahari sangat kuat akan berpengaruh terutama pada saat pelaksanaan penyambungan. Oleh karena itu penyambungan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau. Selain untuk menghindari kebusukan, curah hujan pada musim kemarau batang sedang aktif mengalami pertumbuhan serta entres yang tersedia cukup masak (Sugiyanto, 1995)

2.7 Defoliasi (Perompesan Daun)
Menurut Widianto (1988) dalam Sudarto (2000), Cara yang umum dilakukan dalam hal ini perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung daun yang tinggi dua helai digunting dan disisakan ¼ bagian.
Usaha untuk mengetahui sejauh mana efesiensi hasil suatu tanaman tergantung pada aktifitas organ pengguna yaitu dengan perompesan sebagian daun atau menghilangkan sebagian pengguna. Organ pengguna yang dimaksud adalah pengguna fotosintat misalnya: titik tumbuh, bunga, buah, akar. Sedangkan penghasil bagian tanaman, atau organ yang menghasilkan fotosintat misalnya daun yang membuka penuh, seludang daun, namun sebagian besar fotosintat dihasilkan oleh daun dan digunakan oleh organ tanaman yang aktif tumbuh. Widianto (1988).
Pertumbuhan daun selalu cenderung mengalami perubahan subtansi yang mengarah terjadinya absisi. Perompesan daun (defoliasi) telah membuang asimilat, juga meniadakan hormon pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun, sehingga dapat mempertinggi sambungan jadi dan mepercepat pembentukan tunas (Widianto,1988).
Menurut Sudarto (2000), bahwa defoliasi mempunyai pengaruh pada peubah panjang tunas yang terjadi pada 98 hari setelah grafting dan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata, secara terpisah perlakuan entres yang didefoliasi dengan cara membuang daun dan menyisakan 2-3 helai daun terbukti dapat meningkatkan panjang tunas. Hal ini diduga karena hormon penghambat pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun semakin berkurang, seiring dengan dengan pengurangan cabang entres sehingga proses penyatuan sambungan dapat terjadi dengan baik.
Perlakuan defoliasi cabang entres dapat mendukung prosentase sambung jadi. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Akumulasi asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan bawah, sehingga melancarkan unsur hara dan air dari batang bawah kebatang atas (Lukman, 2004).
Sedangkan menurut Lukman (2004), pada tanaman jambu mete pengaruh lama waktu defoliasi sebelum penyambungan pada tiga stadium entres terhadap keberhasilan penyambungan menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi, diatas 54,4 % yaitu dengan defoliasi pada 3 dan 6 hari. Entres yang sedang aktif dapat digunakan sebagai entres dengan perlakuan defoliasi. Tunas akan keluar dari tunas yang berada diketiak daun disamping batang pucuk. Perlakuan defoliasi pada tunas tidur menunjukan keberhasilan lebih tinggi dibanding pada tunas aktif dan entres tanpa pucuk, yaitu 89,3% dengan defoliasi 3 HSS dan 77,1% dengan defoliasi 6 HSS. Hadad dan Koernati (1996) melaporkan, bahwa tingkat keberhasilan penyambungan pada umur 60 HSP cukup representatif. Munculnya tunas-tunas baru menunjukkan bahwa hasil sambungan kompatibel.
Perontokan daun sebelum penyambungan pada ketiga stadium entres menunjukkan tingkat keberhasilan lebih tinggi, mencapai 54,4-89,3% dibanding dengan tanpa defoliasi (13,7- 31,3%). Hal ini akan menunjukkan bahwa perontokan daun sebelum penyambungan berpengaruh positif dalam penyembuhan luka.
Alvin et al. (1972) melaporkan semakin banyak daun yang dipangkas semain banyak senyawa absicic acid (ABA) yang hilang sehingga meningkatkan nisbah sitokinin dengan ABA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sitokinin berperan pada pemacuan pertunasan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu defoliasi antara 3-6 HSS dapat mengimbangi proses penyembuhan dan menstimulir hasil metabolisme untuk mendorong munculnya tunas atau pucuk baru.
Penggunaan stadium entres dengan defoliasi kelihatannya berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun. Perlakuan stadium entres dengan defoliasi menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi dengan diameter batang yang lebih besar serta jumlah daun lebih banyak dibanding dengan tanpa defoliasi (Alvin,1972).

2.8 Proses Pertautan Sambungan
Proses pembentukan pertautan sambungan dapat disamakan dengan penyembuhan luka, apabila pangkal sebuah tanaman dibelah, maka jaringan yang luka tersebut akan sembuh dengan jika luka tersebut diikat dengan kuat. Keberhasilan penyambungan suatu tanaman tergantung pada terbentuknya pertautan sambungan itu, dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya hubungan kambium yang rapat dari kedua batang yang disambungkan (Ashari, 1995).
Ashari (1995), mengemukakan bahwa pertautan antara btang atas dengan batang bawah melalui beberapa tahapan. Apabila dua jenis tanaman disambung maka pada daerah potongan dari masing-masing tanaman tersebut tumbuh sel-sel meristematis. Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, kegiatan sel/jaringan meristem antara daerah potongan harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara sempurna. Hal ini hanya mungkin apabila kedua jenis tanaman cocok (kompaibel) dan irisan luka rata, serta pengikatan sambungan tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, sehingga terjadi kerusakan/kematian jaringan.
Adnance dan Brison (1976), menjelaskan adanya pengikat yang erat akan menahan bagian sambungan untuk tidak bergerak, sehingga kalus yang terbentuk akan semakin jalin-menjalin dan terpadu dengan kuat. Jalinan kalus yang kuat semakin menguatkan pertautan sambungan yang terbentuk.
Lebih lanjut Hartman dan Khester (1975) mengemukakan proses fotosiologis didalam peristiwa penyembuhan luka adalah sebagai berikut:
• Setelah dilakukan penyembuhan antara batang bawah (stock), batang atas (scion), maka tahap pertama di daerah kambium.
• Pada tahap kedua, sel-sel parenkim berkembang sehingga terjadi penggabungan antara batang bawah dengan batang atas.
• Pada tahap ketiga, terjadi deferensiasi pada sel-sel kambium baru dan terjadi penggabungan antara dua kambium (lama) dari batang bawah dan atas.
Setelah tahap pertama sampai tahap ketiga selesai, maka tebentuklah jaringan vaskuler baru (xylem, dan floem) sebagai saluran untuk menyalurkan air dan zat-zat makanan antara batang bawah dan atas (Abidin,1987).
Menurut Ashari (1995), dalam proses penyambungan ada beberapa hal yang harus ketahui adalah sebagai berikut:

a). Polaritas
Dalam melakukan sambung atau okulasi, hal penting yang harus diperhatikan adalah polaritas bagian batang atas dan batang bawah. Untuk batang atas, bagian dasar entres atau mata tempel harus harus disambungkan dengan bagian atas batang bawah. Dalam hal okulasi, berarti mata tunas harus menghadap keatas. Bila runtutan atau posisi terbalik, maka sambungan tidak akan berhasil baik, karena fungsi xilem sebagai penghantar hara dari tanah maupun fungsi floem yang mengantar asimilat dari daun terbalik arahnya. Tetapi sebaliknya, apabila entres disambungkan pada akar tanaman, maka posisinya menjadi terbalik, yaitu bagian dasar entres harus disambungkan pada bagian dasar akar karena ujung akar sifatnya geotropik (Lukman, 2004).
b). Kompatibilitas
Pengertian kompatibilitas adalah kemampuan dua jenis tanaman yang disambung untuk tumbuh menjadi satu tanaman baru. Kebalikan kejadian ini adalah inkopitibilitas.
Bahan tanaman yang disambungkan akan menghasilkan persentase kompatibilitas tinggi apabila tinggi tanaman tersebut masih dalam satu spesies atau satu klon. Bahkan ada kalanya berbeda spesies pun dapat berhasil disambung asalkan masih dalam satu famili, tentu saja hal ini bergantung pada jenis tanaman masing-masing. Pada tanaman mangga dan jeruk terlihat kompatibilitas yang tinggi, misalnya jeruk roug lemon disambungkan dengan jeruk siem besar jeruk nipis dan sebagainya. Dengan halnya dengan mangga ; mangga madu memberikan keberhasilan tinggi bila disambung dengan batang atas jenis golek, lalijiwo dan sebagainya (Lukman, 2004).
Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung mulai terlihat pada beberapa tahapan, mulai sejak gagalnya sambungan hingga matinya tanaman sambungan secara perlahan. Adapun kriteria inkompatibilitas menurut Hartman dan Kester (1978) sebagai berikut:
1. Tingkat keberhasilan sambungan rendah.
2. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning, rontok dan mati tunas.
3. Mati muda pada bibit sambungan.
4. Terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dengan batang atas .
5. Terjadinya pertumbuhan yang berlebihan baik batang bawah ataupun batang atas (Hartman dan Kester, 1978).

III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai dengan bulan April 2006, di kebun percobaan Pohjentrek Pasuruan. Ketinggian tempat 4 m dpl, dengan jenis tanah latosol kompleks, tipe iklim D Smith Ferguson, curah hujan per tahun 1332 mm dengan 96 hari hujan, suhu rata-rata 27o C dan kelembaban nisbih 65%.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pisau okulasi, gunting stek, kamera, alat tulis dan peralatan lain yang mendukung dalam pelaksanaan.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah entres varietas Irwin, Haden, Kengsinton apple, Arumanis 143, Golek 31, Manalagi 69. Tanaman mangga, batang bawah varietas madu 225, pupuk kandang kambing, tanah, pasir, polibag, plastik pembungkus.

3.3 Metode
Pelaksanaan penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Dimana macam varietas sebagai faktor I, dan perbedaan waktu defoliasi sebagai faktor II.
Faktor I adalah varietas entres (V) yang terdiri dari 6 level :
V1 : entres mangga varietas Heiden
V2 : entres mangga varietas Irwin
V3 : entres mangga varietas Kensintong Apple
V4 : entres mangga varietas Arumanis-143
V5: entres mangga varietas Golek-31
V6 : entres mangga varietas Manalagi-69
Faktor II adalah waktu defoliasi (D) yang terdiri dari 3 level:
D1: 0 hari sebelum sambung
D2: 6 hari sebelum sambung
D3: 12 hari sebelum sambung
Dari kedua faktor tersebut didapat 18 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan diwakili oleh 3 sampel. Sehingga seluruh populasi berjumlan 162 tanaman. Seperti pada Tabel 1 dibawah ini :
Perlakuan Defoliasi 0 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 6 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 12 Hari SebelumSambung
Entres V. Haden V1D1 V1D2 V1D3
Entres V. Irwin V2D1 V2D3 V2D3
Entres V.Kengsinton Apple V3D1 V3D2 V3D3
Entres V. Arumanis-143 V4D1 V4D2 V4D3
Entres V. Golek V5D1 V5D2 V5D3
Entres V. Manalagi V6D1 V6D2 V6D3

3.4 Pelaksanaan Percobaan
3.4.1 Persiapan Media
Persiapan dimulai dengan mengemburkan tanah, kemudian dicampur dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 . kemudian media yang sudah dicampur itu dimasukkkan kedalam polybag yang bagian dasar berlubang, ukuran tinggi 20 cm dan diameter 12,5 cm.
3.4.2 Penyediaan Batang Bawah
Batang bawah yang digunakan adalah varietas madu-225 yang telah ditanam dipolibag yang berumur kurang lebih 4 bulan, batang bawah yang digunakan tersebut mempunyai diameter batang 0,5-0,7 cm.
3.4.3 Penyediaan Batang Atas
Penyediaan batang atas yang diguanakan adalah sebagai entres dari varietas mangga Haden, Irwin, Kensinton Apple, Arumanis-143, Golek-31, Manalagi-69. Batang atas dipilih dari ranting yang baik, diameter batang disesuaikan dengan batang, bentuknya lurus panjang sekitar 15 cm.
3.4.4 Defoliasi (perompesan daun)
Perompesan dilakukan dengan cara membuang seluruh daun pada cabang yang akan dijadikan batang atas. Saat perompesan dilakukan berdasarkan waktu: yaitu 0 hari sebelum sambung, 6 hari sebelum sambung, 12 hari sebelum sambung.

3.4.5 Pelaksanaan Penyambungan
Batang bawah yang ada dipolybag akan disambung bila sudah mencapai sebesar pensil. Cara penyabungan menggunakan model sambung celah, pelaksanaan penyambungan dilakukan setelah entres didefoliasi sesuai dengan perlakuan yang yang ada. Pengikatan penyambungan menggunakan kantong plastik es yang lentur dengan cara dimulai dari bawah keatas kemudian sisa plastik ditutupkan pada entres, tujuan untuk menjaga kelembababan bibit hasil sambungan.
3.4.6 Pemeliharaan Bibit Sambungan
Selama pembibitan pemeliharaan sambungan agar diperoleh keberhasilan yang baik, maka dilakukan pemeliharaan sebagai berikut:
3.4.7 Pemberian Air
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam pertumbuhan, penyiraman dilakukan dua hari sekali pada pagi hari. Banyak air yang diberikan dalam jumlah yang cukup, artinya pemberian tersebut tidak sampai tergenang. Alat yang digunakan adalah gembor.
3.4.8 Pemupukan
Pemupukan awal berupa pupuk N dan P diberikan setelah bibit berumur satu bulan setelah sambung dengan kandungan nitrogen lebih tinggi. Dosis pupuk 15 gram P perpolibag, caranya dengan dibenamkan sedalam 10 cm dalam polibag.
3.4.9 Pengendalian Hama Penyakit
Apabila ada tanda-tanda terserang penyakit, dikendalikan dengan menggunakan Decise dengan dosis 2 cc/liter dan untuk pengendalain serangga digunakan insektisida dursban yang diberikan dengan konsntrasi 2 cc/liter air. Dan waktu pemberian dilakukan pada umumya 14 HSS sedang pemberantasan berikutnya tergantung serangan atau bila terjadi serangan hama dana penyakit.

3.5 Alur Pelaksanaan Percobaan

3.6 Pengamatan
Dalam penelitian tidak semua diamati tetapi pengamatan dapat dilakukan hanya dengan pengambilan beberapa sampel (contoh) yang mewakili.
Pengamatan dilakukan secara non destruktif setiap 6 hari sampai 58 HSP, kecuali untuk saat pecah mata tunas dilakukan 2 hari sekali. Pengamatan terhadap keberhasilan bibit mangga hasil grafting ini dilakukan dengan mengamati parameter:
1. Saat Muncul Tunas
Saat pecah tunas dihitung dari munculnya bakal daun yang ditandai apabila seludang daun telah lepas.
2. Persentase Sambung Jadi
Pengukuran keberhasilan grafting dimulai dari masuknya batang atas ke batang bawah setelah 3 minggu dari penyambungan, dihitung dengan rumus :
P = Jumlah entres yang tumbuh x 100%
Jumlah sample tanaman

3. Panjang tunas
Pengukuran dimulai dasar tunas sampai titik tumbuh dilakukan 10 hari sekali
5. Diameter tunas
Pengukuran dilakukan diatas sambungan kurang lebih dua cm, waktu pelaksaan 12 hari setelah sambung dengan menggunakan jangka sorong.
4. Luas Daun
Luas daun dengan mengukur panjang dan lebar daun maksimum kemudian dikalikan dengan faktor koreksi dikalikan jumlah daun pertanaman.
LD = P xL xF k x n
Dimana :
LD : Luas daun L : Lebar daun
P : Panjang daun Fk : Faktor koreksi
n : Jumlah daun pertanaman

3.6 Analisa Data

Data penelitian akan dianalisa dengan menggunakan RAK Faktorial untuk mencari interaksi antara perbedaan waktu defoliasi entres dengan beberapa macam varietas terhadap pertumbuhan bibit mangga. Jika uji F pada analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka pengujian selanjutnya menggunakan uji jarak duncan (Duncan Multiple Range Test) 5 %.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Saat Muncul Tunas
Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi yang sangat nyata antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres terhadap peubah saat muncul tunas.(Lampiran 1).
Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres disajikan pada tabel.1
Tabel 1 Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara perlakuan macam varietas dan defoliasi entres.
Perlakuan Saat muncul tunas
( HSS)
Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
6,63abcde
9,53e
15,20f
4,33a
4,53ab
5,06abc
20,00g
4,73ab
21,00g
8,83cde
10,53e
7,20abcde
4.14a
9,10de
4,20a
5,50abcd
8,30bcde
6,63abcde
Keterangan:
angka-angka yang di yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel diatas nampak bahwa perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi 12 hari sebelum sambung menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan semua kombinasi perlakuan yang ada, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi saat sambung. Sedangkan varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Saat awal muncul tunas umur 4 HSS disajikan pada gambar.1

Gambar.1 Saat awal muncul tunas umur 4 HSS

4.1.2 Persentase Sambung Jadi
Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap persentase sambung jadi. Akan tetapi jika dilihat secara terpisah perlakuan varietas menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi perlakuan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi. (Lampiran 2 dan 3).
Rerata persentase keberhasilan sambung pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel 2

Tabel.2 Rerata persentase sambung jadi pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Persentase sambung jadi (%) umur ( HSS)
16 23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V) :
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
33,37ab
59,30bc
44,47ab
85,20c
25,94a
55,7bc

44,50a
66,67ab
63,00ab
96,30c
51,90ab
77,78ab
55,60a
74,10ab
77,80ab
96,30b
70,40ab
70,40ab
63,00a
85,30ab
88,90ab
100,00b
62,98a
88,90ab
55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40bc
88,90bc

55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40ab
88,90bc
59,30a
88,90bc
88,90bc
100,00c
66,68ab
88,90bc

Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss ( D3)

42,62a
57,42a
51,88a

64,85a
75,95a
59,29a

72,25a
85,20a
64,85

79,65a
85,19a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

81,50a
85,19a
79,65a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Irwin, Kengsinton Apple, Arumanis-143, Golek, dan Manalagi. Hasil persentase sambung jadi varietas Arumanis-143 umur 58 HSS disajikan pada gambar.2

Gambar.2 Hasil persentase sambung jadi Arumanis-143 umur 58 HSS

4.1.3 Panjang Tunas
Kombinasi perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres memberikan pengaruh sangat nyata terhadap peubah pajang tunas pada umur pengamatan 51 dan 58 HSS. (Lampiran 5.b dan 5.c). Perlakuan macam varietas berpengaruh nyata pada umur pengamatan 16, 23, 30 37 dan 44 HSS. Akan tetapi perlakuan defoliasi entres tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 5 dan 6)
Rerata panjang tunas pada interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres disajikan tabel.
Tabel 3 Rerata panjang tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres.
Perlakuan Panjang Tunas (cm) umur HSS
51 58

Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
4,043a
6,23a
6,06a
4,00a
10,58a
6,76a
6,86a
6,10a
6,43a
8,73a
8,06a
6,00a
9,30a
23,10b
9,00a
6,00a
10,86a
24,00b
6,16a
8,16ab
13,66c
7,40ab
14,03c
7,63ab
7,10ab
7,03ab
8,10ab
10,33b
9,33ab
14,10c
15,00c
24,03d
10,10b
7,06ab
14,40c
24,36d
Ket: angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel. 3 nampak varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss. Panjang tunas varietas Manalagi dengan 12 hss umur 58 HSS disajikan pada gambar. 3

Gambar.3 Panjang tunas manalagi dengan defoliasi 12 hss umur 58 HSS
Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.4

Tabel 4 Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Panjang tunas (cm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Haiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
0,38a
2,61c
1,02bc
4,58d
0,83a
2,45bc
1,56a
3,27a
1,53a
6,67c
3,37bc
4,05c
2,11a
4,46a
2,62a
6,33b
4,49ab
3,80a
2,85a
6,95bc
4,03a
8,58c
6,17bc
7,58c
3,42a
7,62bcd
5,39ab
9,25d
6,22ab
8,44cd
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
1,83a
2,16a
1,85a
2,73a
4,09a
3,41a
3,28a
5,02a
3,57a
5,83a
6,32a
5,85a
6,76a
6,66a
6,76a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Pada tabel 4 di atas terlihat bahwa varietas Arumanis-143 menunjukkan panjang tunas lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Heiden pada pengamatan 16 dan 44 HSS, tetapi tidak berbeda nyata dengan vareitas Manalagi, dan Irwin.

4.1.4 Diameter Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara macam perlakuan varietas dan defoliasi terhadap peubah diameter tunas. Namun jika dilihat secara terpisah perlakuan macam varietas berpengaruh sangat nyata pada semua umur kecuali pada umur 44, 51 dan 58 HSS, sedangkan pada perlakuan waktu defoliasi tidak berpengaruh nyata pada semua umur pengamatan.
(Lampiran 6 dan 7).
Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.5
Tabel 5 Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Diameter Tunas (mm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
1.24a
2.87bc
2.88ab
3.84c
1.44a
3.84c
1.84a
3.88b
3.22b
5.28c
3.14b
4.40bc
1.96a
3.48b
3.22b
5.41c
3.17ab
4.52bc
2.31a
4.71b
4.71b
6.06b
4.34b
5.27b
2.83a
5.506b
4.65b
7.15c
4.80b
5.80b
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
2.56a
2.58a
2.30a
3.91a
3.45a
3.32a
3.97a
3.51a
3.40a
4.80a
4.73a
4.00a
5.39a
5.32a
4.66a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Tabel. 4 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas, sedangkan varietas Heiden pada umur pengamatan 37 dan 44 HSS menunjukkan diameter terendah dibandingkan semua perlakuan yang ada. Diameter tunas umur 44 HSS disajikan pada gambar.4

Gambar.4 Diameter tunas pada umur 44 HSS
4.1.5 Luas Daun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan macam varietas dan waktu defoliasi entres terhadap peubah luas daun. Akan tetapi secara terpisah perlakuan macam varietas memberikan pengaruh yang nyata pada umur pengamatan 23, 30, 37, 44, 51, dan 58 HSS. Sedangkan perlakuan defoliasi entres tidak berpengaruh nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 8 dan 9).
Rerata luas daun pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.7
Tabel 7 Rerata luas daun pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Luas Daun (cm2) umur ( HSS)
23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V):
V1=Haiden (V1)
V2=Irwin (V2)
V3=Kengsinton.A (V3)
V4=Arumanis-143 (V4)
V5=Golek (V5)
V6=Manalagi (V6)
20.29a
25.62ab
24.27ab
33.53bc
36.96c
32.50bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
24.74a
29.77ab
28.31ab
37.55bc
41.31c
37.35bc
26.75a
32.23ab
30.62ab
39.98bc
43.42c
39.50bc
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
28.53a
29.12a
28.53a
32.49a
32.56a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
33.16a
33.33a
33.02a
35.30a
35.51a
35.30a

Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Tabel 6 diatas terlihat bahwa varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Manalagi dan Arumanis-143 sejak umur pengamatan 16-58 HSS. Hasil luas daun varietas Manalagi umur 58 HSS disajikan pada gambar.5

Gambar.5 Luas daun manalagi saat umur 58 HSS

4.1 Pembahasan
4.2.1 Saat Muncul Tunas
Hasil analisis ragam yang dicobakan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata pada peubah saat muncul tunas. Varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Dalam hal ini karena hasil sambungan pada varietas golek yang didefoliasi saat sambung lebih cepat membentuk sel-sel fungsional, sehingga terjadi pertautan antara batang atas dengan batang bawah yang lebih sempurna. Menurut Suseno (1968) mengemukakan bahwa defoliasi daun pada batang atas dimaksudkan untuk memecahkan dormansi tunas-tunas yang terdapat pada batang. Hal ini didukung Sudarto (2000), bahwa perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.
Sedangkan varietas kengsinton apple dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan saat muncul tunas terlama dan berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Hal ini di duga waktu defoliasi entres yang terlampau lama yaitu 12 hss menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres dirombak sehinga entres tersebut muncul tunas sebelum disambung. Menurut Ashari (1995), bahwa tunas atau entres yang baik untuk sambung adalah entres dalam keadaan dorman atau segera akan tumbuh.

4.2.2 Persentase Sambung Jadi
Varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga varietas menunjukkan kesiapan tumbuh saat itu didukung oleh keadaan entres dan batang bawah serta translokasi bahan organik dari batang bawah keentres maupun faktor lingkungan.
Menurut Hartman dan Kester (1976) keberhasilan sambungan disebabkan adanya hubungan sel-sel fungsional pada daerah sambungan yang terbentuk sehinga dapat mengalirkan air serta nutrisi dari kedua batang secara sempurna.
Sedangkan pada perlakuan defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga rentang waktu defoliasi entres terlampau lama, sehingga hal ini menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres telah terpakai semua pada saat muncul tunas.
Menurut Supriyanto (1995) bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan sambung diantaranya adalah temperatur, kelembaban dan keadaan O2 disekitar bidang pertautan, dimana ketiga faktor inilah secara langsung berperan dalam proses pertautan antara batang atas dengan batang bawah.

4.2.2 Panjang Tunas
Varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss, hal ini diduga dipengaruhi oleh cepatnya pertautan dan tingkat kompatibilitas antara batang atas (varietas Manalagi) dan batang bawah (varietas Madu-22) yang tinggi, sehingga aliran nutrisi berjalan dengan lancar serta memudahkan aktifitas meristem apikal dapat berlangsung dengan baik dan perkembangan tunas segera terjadi. Menurut Garner dan Chaundri (1976) dalam Ifdlali (2002) mengemukakan bahwa batang atas berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Sedangkan Wattimena (1987) yang mengemukakan bahwa tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh aktifitas auksin, suatu phytohormon yang berpengaruh didalam inisiasi dan pemajangan sel pucuk tanaman. Hali ini didukung oleh Abidin (1985) yang mengemukakan bahwa auksin dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, meningkatkan sintesa protein, dan pengembangan dinding sel.
Menurut Lakitan (1996) mekanisme pemanjangan batang diawali dengan sel-sel meristem batang mula-mula membesar secara radial dan setelah itu terjadi dideferensiasi. Selanjutnya terbentuk prokambium, kemudian xilem dan floem. Diferensiasi ini berlansung secara akropetal, mulai dari sel-sel yang lebih tua. Setelah dideferensiasi terjadi, sel-sel ini kemudian membesar secara longitudinal, sehingga mengakibatkan pemanjangan batang.
4.2.4 Diameter Tunas
Varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas. Diduga varietas Arumanis-143 pada umur tersebut sudah terjadi persentuhan kambium antara batang bawah dan batang atas, yang ditandai dengan bertambahnya ukuran diameter tunas. Dan kedua sambungan memiliki kedudukan yang mantap sehingga memudahkan pertautan antara batang bawah dan batang atas. Dijelaskan oleh Rochman dan Harjadi (1973), bahwa keberhasilan sambungan dipengaruhi oleh berbagai hal, disamping batang bawah dan batang atas sendiri juga dipengaruhi oleh hubungan sel-sel fungsional pada daerah tempelan.

4.2.5 Luas Daun
Daun merupakan bagian tanaman yang berpengaruh penting terhadap fotosintesisis, dimana laju fotosintesis persatuan luas tanaman di tentukan oleh luas daun. Varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga sambungan yang telah terbentuk dengan baik, sehingga akan mempercepat transpor nutrisi, dimana nutrisi tersebut akan diubah menjadi energi dalam fotosintesis dan energi inilah yang digunakan untuk pembelahan sel-sel meristem daun sehingga luas daun menjadi meningkat. Selain energi, fotosintesis juga menghasilkan fotosintat yang kemungkinan juga ditranslokasikan untuk pelebaran luas daun. Pembagian asimilat atau fotosintat sangat penting pada masa pertumbuhan vegetatif maupun reproduksi. Pembagian selama fase vegetatif akan menentukan luas daun terakhir (Garner, F.B, Perce.Rager, 1985).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terjadi interaksi antara macam varietas entres pada perbedaan waktu defoliasi terhadap saat muncul tunas dan panjang tunas.
2. Varietas golek dengan defoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul tunas paling cepat yaitu 4,14 HSS. Sedangkan pada varietas manalagi dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan panjang tunas lebih tinggi dibanding dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58 HSS, yaitu 24 – 24,36 cm.
3. Varietas arumanis-143 menunjukkan persentase sambung jadi yang tertinggi, diameter yang lebih besar, dan diameter tunas yang lebih besar.
4. Perbedaan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh pada persentase sambung jadi, diameter tunas dan luas daun.

5.2 Saran
Perlu dikaji lebih lanjut pertumbuhan bibit mangga hasil defoliasi sehingga didapatkan hasil bibit yang berkualitas.

07/29/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 9 Komentar

“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

1. Judul Program
“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

B. Latar Belakang Masalah

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), buta aksara di Idonesia tahun 2005 usia 15 tahun ke atas terdapat 14.595.088 orang. Jumlah buta huruf di Jawa Timur masih tergolong besar yaitu 833.005 orang (Data Base Line Survey, 2005). Pada tahun 2006 angka tersebut tidak mengalami perubahan berarti buta aksara masih sebesar 8,07 persen dari sekitar dua ratus juta penduduk (Antara, 24/07/2007). Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi tertinggi angka buta aksara yaitu 30 persen dari total penduduknya (Antara, 02/03/2007).
Angka tersebut menunjukkan masih tingginya buta aksara di Indonesia terutama di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tinggal di pedesaan. Umumnya mereka adalah petani kecil, buruh, nelayan, penduduk miskin yang tingkat pendapatan atau penghasilan rendah. Mereka tertinggal di bidang pengetahuan, teknologi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Dikarenakan rendahnya pengetahuan, akhirnya mereka tertinggal dalam memperoleh akses informasi dan komunikasi yang penting untuk membuka cakrawala kehidupan dunia (Budiyanto, 2007). Hal ini menyebabkan posisi tawar mereka pada pergaulan ekonomi dan sosial menjadi sangat rendah. Dengan kata lain penduduk buta aksara belum dapat memberikan kontribusinya secara optimal terhadap berbagai proses pembangunan sosial dan ekonomi (Depdiknas, 2007).
Berdasarkan Rencana Aksi Pendidikan Untuk Semua (PUS) Propinsi Jawa Timur 2004-2008, daerah dengan Prioritas Tertinggi adalah daerah yang tingkat buta aksaranya di atas 10.000. Salah satu dari daerah Prioritas Tertinggi adalah Kabupaten Malang (Data Base Line Survey, 2005; Budiyanto, 2007).
Permasalahan di atas perlu segera dipecahkan guna mendukung kemajuan bangsa. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA) diantaranya berisi pernyataan bahwa pemberantasan buta aksara dilakukan dengan mengerahkan seluruh kekuatan, mulai dari presiden, menteri terkait, gubernur, wali kota/bupati, camat, sampai kepala desa. Sedangkan pendekatan horizontal dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen atau ormas (Su, 2007; Edrie, 2007). Oleh karena itu, sudah saatnya semua stakeholders seperti perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), PKK, Kowani, Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiah, organisasi kepemudaan dan swasta (Kurniawan, 2005; Ali, 2007).
Untuk mengatasi permasalahan buta huruf ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan program Calistung (kependekan dari membaca, menulis dan menghitung). Program tersebut perlu segera diterapkan oleh semua stakeholder seperti yang telah diuraikan di atas. Mahasiswa dengan ilmu dan pengalaman yang ada memiliki peran strategis terkait dengan pengentasan buta aksara ini. Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan.
Berangkat dari data, fakta, wacana serta amanat di atas maka disusunlah proposal PKMM ini. Pemilihan Dusun (dukuh) Sukosari dengan alasan bahwa dusun ini merupakan dusun paling tertinggal di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Sesuai dengan laporan KKN-T 28 Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2007 dan data arsip desa tahun 2007, penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta huruf mencapai 975 orang dari jumlah total penduduk 6327 orang atau 2.017 KK.
Program dinamakan Sukosari Calistung Center dengan asumsi agar pengentasan buta huruf ini terpusat dan terstruktur. Hal ini dimungkinkan karena nantinya banyak pihak yang terlibat. Selain dari tim PKMM diharapkan pula peran serta masyarakat setempat, guru-guru sekolah dan tenaga terdidik setempat, aparat desa, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat.
C. Perumusan masalah
Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:
1. Apakah program calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang?
2. Seberapa besar pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara?

D. Tujuan Program
Tujuan program ini adalah:
1. Mengetahui apakah calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang.
2. Mengetahui besarnya pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dengan adanya program ini adalah kemampuan membaca, menulis dan menghitung masyarakat sasaran. Kemampuan tersebut berupa:
1. Warga belajar (100%) mampu membaca kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
2. Warga belajar (100%) mampu menulis kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
3. Warga belajar (100%) mampu menggunakan operasi matematika (+, -, x, dan :) dengan hasil akhir 100 atau lebih dengan lancar
Setiap warga belajar yang memenuhi kriteria tersebut akan mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar. Luaran lain yang diharapkan berupa adanya sarana membaca desa atau perpustakaan desa untuk mencegah warga belajar mengalami buta huruf kembali.

F. Kegunaan Program
Program ini memiliki berbagai kegunaan diantaranya:
1. Bagi Warga Belajar
– Kemampuan membaca, menulis, dan menghitung warga belajar akan meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengurangi kebodohan yang merupakan pintu gerbang kemiskinan.
– Kemampuan membaca akan meningkatkan taraf hidup, sosial, budaya dan ekonomi.
– Kemampuan membaca akan mempermudah akses dan pemahaman bidang pengetahuan, teknologi, informasi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan.
2. Bagi Pemerintah (Desa sampai pusat)
– Titik tolak minimalisasi angka kebodohan dan kemiskinan yang mendorong kemajuan daerah dan bangsa
– Meningkatkan harkat dan nilai hidup masyarakat
– Memberi daya tambah positif terhadap Human Development Index (HDI).
– Mendorong dan mendukung terwujudnya rencana pengurangan angka buta huruf sampai 5% pada tahun 2009.
3. Bagi Tim PKMM
– Merupakan manisfestasi tanggung jawab sebagai Agent of Community Enpowerment dan aset bangsa.
– Menjadi pengalaman nyata dan literatur hidup yang akan memberi nilai tambah setelah tamat kuliah.
– Menumbuhkan jiwa kreatif dan membangun kepekaan sosial terhadap realitas dan kompleksitas permasalahan bangsa.
– Membangun kekompakan dan sekaligus relasi baik sesama tim ataupun dengan warga sasaran (warga belajar).

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1 Gambaran Umum Desa Pandansari
1. Keadaan Geografis Desa Pandansari
Desa Pandansari adalah salah satu desa di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jarak dari desa ke Kecamatan Poncokusumo adalah 7 km dan 28 km dari dari ibukota Kabupaten Malang. Desa Pandansari terletak pada ketinggian 850 mdpl. Luas desa mencapai 935.214 Ha, peruntukan ladang dan kebun (kebun apel) 794.430 Ha, sawah irigasi 4 Ha, pemukiman/perumahan 360.800 Ha, hutan lindung 19.500 Ha dan perbukitan/pegunungan 951 Ha.

2. Keadaan Demografis Desa
2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Uraian Keterangan
1 Laki-laki 3.421 Orang
2 Perempuan 3.206 Orang
3 Kepala keluarga 2.017 KK
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.2 Potensi Desa dan Mata Pencaharian Penduduk
Desa Pandansari merupakan suatu desa yang terletak di kaki pegunungan Bromo dan Semeru sehingga desa ini mempunyai karakteristik pegunungan. Lahan-lahan yang ada cenderung pada pola terasering. Suhu relatif rendah sehingga tanaman yangh cenderung dibudidayakan adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Pandansari berasal dari sektor Pertanian baik sebagai petani pengarap lahan pertanian (komplangan) maupun buruh tani. Sedangkan mata pencaharian lainnya sebagai peternak, pedagang, dan tukang. Struktur mata pencaharian penduduk Desa Pandansari tahun 2006 secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 2. Struktur Mata Pencaharian Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Petani 848 Orang
2. Pekerja disektor jasa/ perdagangan 32 Orang
3. Pekerja disektor industri – Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007
2.3 Tingkat Pendidikan Penduduk
Sumber daya manusia pada masyarakat cenderung rendah. Mayoritas masyarakat hanya tamat SD/MI. Penduduk tidak tamat SD/MI dan penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf sangat tinggi. Tingkat pendidikan penduduk Desa Pandansari tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Penduduk Usia 10 th ke atas yang buta huruf 975 Orang
2. Penduduk tidak Tamat SD/MI 1821 Orang
3. Penduduk Tamat SD /MI 3021 Orang
4. Penduduk Tamat SLTP/MTs 662 Orang
5. Penduduk Tamat SLTA/MA 105 Orang
6. Penduduk yang Tamat D-1 – Orang
7. Penduduk yang Tamat D-2 6 Orang
8. Penduduk yang Tamat D-3 – Orang
9. Penduduk yang Tamat S-1 17 Orang
10. Penduduk yang Tamat S-2 – Orang
11. Penduduk yang Tamat S-3 – Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.4 Keadaan Budaya Desa
Penduduk Desa Pandansari dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Tengger dan Jawa. Hubungan kemasyarakatan antara warga desa umumnya bercorak masyarakat paguyuban yang saling bergotong royong, ramah tamah dan masih memiliki hubungan kekerabatan erat antara satu dengan yang lain. Keadaan seperti ini dapat terlihat dari hubungan keseharian warga.

2.5 Keadaan Keagamaan
Warga Desa Pandansari semuanya beragama Islam sehingga dikenal sangat religius. Ada dua organisasi keagamaan yang terdapat di Desa Pandansari, yaitu NU dan Muhammadiyah. Kegiatan mengaji dipusatkan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Keadaan TPA masih sangat sederhana dan fasilitas kurang memadai. Pengajian warga yang termasuk dalam kelompok Fatayat dan IPNU dilakukan satu sampai empat kali dalam satu minggu. Sarana peribadatan yang terdapat di Desa Pandansari yaitu masjid 4 buah dan musholla 18 buah.
G.2 Gambaran Warga Belajar
Warga belajar yang menjadi prioritas adalah usia 15 – 44 tahun yang buta aksara. Namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi hal diluar perkiraan maka sasaran yang berusia di atas 45 tahun dapat direkrut menjadi warga belajar. Kriteria lain warga belajar adalah sosial ekonomi rendah dan pendapatan rendah.

H. Metode Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program ini terdiri dari beberapa tahap yaitu:

Gambar 1. Tahap Pelaksanaan Program

a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
– Persiapan tim pelaksana berupa pemantapan kemampuan Tim PKMM dan terutama tutor desa (Bahan Pelatihan Tutor Terlampir).
– Penggandaan modul pembelajaran, soal evaluasi, borang administrasi pembelajaran buta aksara dan CD bahan pembelajaran buta aksara.
– Persiapan sarana dan prasarana yang akan dijadikan pusat kegiatan atau Sukosari Calistung Center. Dalam hal ini bertempat di Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari
– Pendataan dan konfirmasi peserta (warga belajar), calon tenaga pelatih di luar Tim PKMM (tenaga yang berasal dari Desa Pandansari yang sebelumnya dikoordinir oleh kepala desa dan perangkatnya serta pihak Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari.
– Penandatangan surat perjanjian kesediaan mengikuti program sampai tuntas oleh peserta (warga belajar) dan kesediaan menjadi tutor desa oleh tenaga tutor desa. Tutor desa (3-5 orang dengan latar belakang guru SDI Al-Hidayah Sukosari, tokoh masyarakat, atau orang yang telah direkomendasikan oleh SDI Al-Hidayah Sukosari dan Kepala Desa Pandansari)
– Persiapan fasilitas lain berupa kokart/tanda pengenal, alat tulis, sertifikat (yang akan diberikan kepada peserta) serta poster dan spanduk untuk publikasi.

b. Tahap Pelatihan atau Pembelajaran
– Pelatihan akan dilakukan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Pelatihan atau pembelajaran diberikan kepada warga belajar (jumlah 30 orang) dan dilakukan oleh tutor (tutor Tim PKMM dan tutor desa).
– Peserta (warga belajar) dapat pula mengkonsultasikan segala permasalahan yang dihadapi terkait dengan buta aksara dan program yang dilakukan di luar hari tersebut. Warga belajar akan dilayani oleh panitia desa atau tutor desa yang ada di Sukosari Calistung Center
– Dalam pelatihan ini peserta (warga belajar) akan diberikan berbagai materi yang telah direkomendasikan dalam pemberantasan buta huruf yang tentunya disesuaikan dengan kondisi setempat (Contoh Modul dan Kurikulum terlampir).

c. Tahap Ujian
– Ujian dilakukan setelah semua materi pembelajaran dilakukan atau jika tutor telah menganggap bahwa warga belajar telah siap dan layak mengikuti ujian. Waktu yang ditargetkan atau direncanakan yaitu minggu ke-7 dan ke-8 pertemuan pembelajaran (Contoh Soal Ujian Terlampir).
– Ujian dilakukan sebagai syarat mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar.
– Untuk menjamin mutu dan kualitas, maka pada saat ujian akan dipantau oleh Diknas Kabupaten atau Diknas Cabang Poncokusumo, Aparat Desa, beberapa organisasi mahasiswa, pemantau dari Universitas Muhammadiyah Malang dan pihak lain yang dianggap perlu. Akan dibuat pula berita acara ujian (Lembar Terlampir).
– Setelah ujian dilakukan, sebagai bentuk rangsangan akan dipilih beberapa warga belajar berprestasi.

d. Supervisi (Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program)
– Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim Sukosari Calistung Center
– Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan serta setelah ujian dilakukan
– Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya. Target yang dimaksudkan adalah antusiasme warga belajar dalam mengikuti pembelajaran, peningkatan kemampuan warga belajar, dukungan dari pihak desa dan masyarakat, keterlibatan tutor desa dan kerjasama tim.
– Untukk menjamin mutu dan profesionalitas maka akan dilakukan evaluasi dan monitoring oleh supervisor. Komponen monitoring dan evalusi terlampir.

e. Tahap Pengembangan
– Pengembangan dimaksudkan agar terjadi kesinambungan program meskipun PKMM telah selesai
– Pada tahapan ini akan dirintis berdirinya pusat membaca desa atau perpustakaan desa yang bertempat di SD Islam Al-Hidayah. Sarana dan prasarana yang ada adalah ruangan, buku bacaan, majalah, koran, bahan bacaan lain dan sumber informasi lainnya, poster-poster/tempelan dinding, buku administrasi peminjaman, data jenis dan jumlah bahan bacaan, meja dan kursi untuk membaca, rak/lemari buku, tenaga pelaksana/pengelola perpustakaan. Sarana dan prasarana lain yang dianggap perlu akan dilengkapi dan disesuikan pada saat pelaksaan program.
– Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan warga belajar, mencegah warga belajar agar tidak buta aksara kembali, sekaligus dapat digunakan sebagai sumber bacaan oleh siswa SD setempat.
– Akan dijajaki pula kerjasama pengembangan dengan berbagai donatur dan sponsor, penerbit buku, toko buku, instansi dan perseoranga.
– Tim PKMM juga akan memberikan rekomendasi kepada beberapa universitas penyelenggara KKN termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Ini dimaksudkan agar mahasiswa KKN dapat mengembangkan atau melaanjutkan program tersebut.
– Khusus untuk tutor desa akan dilakukan refresh (penyegaran) guna meningkatkan mutu dan kualitas mereka. Hal ini sangat penting karena merekalah yang nantinya akan bersentuhan langsung setelah program berakhir.

I. Jadwal Kegiatan Program

No Nama Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
– Persiapan Tim
– Pelatihan Tutor Desa
X
X

X
2 Pelatihan atau proses pembelajaran X X X X X X X X
3 Ujian X X
4 Pendampingan X X X X X X X X X X
5 Supervisi X X X X X X X X X X
6 Pengembangan X X X X X
7 Laporan Akhir X X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Husamah
NIM : 04330058
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Alamat : Jl. Notojoyo No. 189A Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Andik Nurdianto
NIM : 05330060
Alamat : Jl. Notojoyo No. 227 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

3. Nama Lengkap : Herwan Jaya
NIM : 07330046
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4 Nama Lengkap : Sukma Maholla Yunitasari Putri
NIM : 04330045
Alamat : Jl. Telaga Al-Kautsar Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Iin Hindun, M.Kes
Golongan Pangkat dan NIP : Penata Tk I/III.d/131.930.145
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Pendidikan Biologi
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya
No Jenis Banyaknya Jumlah
1. Bahan Habis Pakai
a. Kertas
b. Tinta
c. CD blank
@Rp.30.000×2
@Rp.30000×2
@Rp.2500×5
Rp. 60.000
Rp. 60.000
Rp. 10.000
2 Peralatan penunjang
a. Alat Tulis
– Kapur Tulis
– Ballpoin/pulpen
– Pensil
– Penghapus
– Buku Tulis
– Penggaris Kayu
– Penggaris plastik
– Penghapus papan tulis
– Boardmarker

b. Penggandaan Modul dan borang administrasi
c. Penggandaan soal ujian
d. White board
e. Tanda pengenal
f.Pembuatan stempel dan bantalannya
g. Map arsip
h.Stapless dan isinya
i. Kaos ”Berantas Buta aksara”
j. Sertifikat
k.Peralatan unjuk kerja

@Rp.5000×4
@Rp.1500×50
@Rp.1000×50
@Rp. 500×50
@Rp.1500×50
@Rp. 5000×2
@Rp. 1500×50
@Rp. 10.000×2
@Rp. 5.000x 10

@10.000×50

@2000×40
@Rp.100.000×1
@Rp. 1500×50

@Rp.1000×10
@Rp.10.000×2
@Rp. 15.000×30
@Rp. 1500×50

Rp. 20.000 Rp. 75.000
Rp. 50.000 Rp. 25.000
Rp. 75.000 Rp. 10.000
Rp. 75.000
Rp. 20.000
Rp. 50.000

Rp.500.000

Rp. 40.000
Rp.100.000
Rp. 75.000

Rp. 60.000
Rp. 10.000
Rp. 20.000
Rp.450.000
Rp. 75.000
Rp. 70.000
3. Perjalanan
a. Tim PKMM
b. Dosen Pembimbing
c. Tutor Desa dan Pemantau
@Rp. 60.000X5
@ Rp.100.000×1
@Rp. 30.000×10
Rp.300.000
Rp.200.000
Rp.300.000
4. Lain-lain
a. Konsumsi
– Tim PKMM
– Tutor Desa dan Pemantau
– Dosen Pembimbing
– Peserta Pelatihan
b. Dokumentasi
– Cetak foto Digital
– Video Kegiatan
c. Spanduk dan publikasi Rp. 200.000
d. Supervisi Rp. 200.000;
e. Pendampingan
f. Pengembangan
– Perintisan Perpustakaan Desa
1. Buku Baru
2. Buku Bekas
3. Majalah Baru
4. Majalah bekas
5. Koran
6. Bahan Bacaan lain
g. Laporan akhir

@Rp.100.000×5
@Rp. 20.000×10
@Rp. 100.000×1
@Rp. 10.000×30

@Rp.1000×100
@Rp.200.000×1
@Rp. 70.000×3

@Rp.25.000×20
@Rp.10.000×40
@Rp. 6.000×10
@Rp.1000×100

Rp.500.000
Rp.200.000
Rp.100.000
Rp.300.000

Rp.100.000
Rp.200.000
Rp.210.000
Rp.150.000
Rp.150.000

Rp.500.000
Rp.400.000
Rp. 60.000
Rp.100.000
Rp. 50.000
Rp. 50.000
Rp.200.000
Total Biaya Rp. 6.000.000

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

A. JUDUL
METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

B. LATAR BELAKANG
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah dipakai oleh banyak negara di dunia terutama Indonesia. Tak dapat dipungkiri lagi jika bahasa Inggris menjadi bahasa yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, baik dari jenjang TK hingga Perguruan Tinggi. Bahkan, tidak sedikit warga Indonesia melanjutkan kuliah ke luar negeri untuk memperdalam. Jika misalnya kita membeli produk-produk elektronik, rata-rata pada halaman awal atau kedua selalu menggunakan bahasa Inggris. Ini pertanda bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang penting dan wajib dikuasai.
Zaman sekarang ini, banyak lembaga pendidikan dari mulai SD hingga Perguruan Tinggi mengadakan lomba yang berhubungan dengan bahasa asing, yang salah satunya adalah Inggris. Misalnya, lomba debat, pidato, menulis, menyanyi, membaca puisi, dan lain sebagainya. Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, maka tidak salah dan tak heran jika setiap lembaga pendidikan menekankan pengajaran bahasa asing tersebut. Bahkan ada juga lembaga pendidikan yang menyertakan bahasa kedua selain bahasa Inggris.
Tetapi, masih banyak masyarakat di Indonesia khususnya Malang, merasa bahwa bahasa asing ini cukup sulit untuk dipelajari. Padahal, bahasa Inggris tidak sesulit yang diduga. Karena, bahasa asing yang dikenal paling sulit adalah Mandarin. Biasanya, kesulitan yang sering dialami oleh seorang siswa adalah pemahaman vocabulary (kosakata) dan grammar (tata bahasa). Sering dari mereka menemui vocab asing yang mungkin belum pernah diketahui sebelumnya, terutama pada bacaan. Begitu juga dengan grammar yang berupa tenses (waktu). Kadang kala, mereka “terjebak” dalam mengerjakan soal yang terdapat tenses. Hal inilah yang kadang juga bisa membuat seorang siswa enggan mempelajarinya. Dampak positif yang diterima siswa jika menguasai bahasa asing ini dalam arti mereka punya prestasi yang besar, mereka akan mudah “dicari” oleh perusahaan, baik lokal maupun asing, mengingat bahasa Inggris dibutuhkan setiap perusahaan. Selain dapat bekerja di perusahaan, siswa atau mahasiswa juga bisa menjadi seorang dosen atau guru bahasa Inggris setelah mereka lulus kuliah, penterjemah professional, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, hal ini tidak menutup kemungkinan akan laku kerasnya media pembelajaran bahasa Inggris selain buku dan kamus dan juga lembaga non-formal (kursus). Beberapa media yang tersedia di pasaran adalah dengan menggunakan media Flash. Meski media tersebut sudah ada, penulis ingin menawarkan jasa yang mungkin berbeda dengan yang sudah ada. Sebenarnya, Power Point juga dapat digunakan untuk metode pembelajaran bahasa Inggris, tetapi tidak seinteraktif Flash. Karena Flash merupakan program yang diperuntukkan untuk merancang dan membuat animasi, sedangkan PowerPoint hanya menyediakan animasi yang berupa teks, dan fiturnya pun terbatas.

Perbandingan media pembelajaran dengan menggunakan
PowerPoint dan Macromedia Flash MX
Microsoft PowerPoint Macromedia Flash MX
• Program yang hanya diperuntukkan untuk membuat presentasi dengan system slideshow
• Kurangnya fasilitas untuk merancang dan membuat animasi (tulisan maupun gambar)
• Tidak ada bahasa pemrograman untuk membuat animasi
• Kurang interaktif • Program khusus untuk membuat animasi
• Banyak fasilitas yang tersedia untuk membuat animasi
• Terdapat bahasa pemrograman untuk menggerakkan teks atau gambar sehingga terlihat lebih interaktif

Tetapi, meskipun media pembelajaran telah disediakan, jika siswa yang bersangkutan tetap enggan atau tidak tertarik untuk mempelajarinya, tentu hal itu tidak berefek apa-apa pada siswa tersebut. Jadi, bukan hanya media saja yang dapat membantu, tetapi juga kesungguhan dalam mempelajari bahasa Inggris. Jika ditinjau lebih dalam, dalam hal stuktural tata bahasa Inggris, terdapat lebih dari tiga materi grammar. Misalnya, tenses sendiri berjumlah enam belas, tapi yang dipakai hanya dua atau paling banyak tiga. Diantaranya adalah Past Tense (Waktu Lampau), Present Tense (Waktu Sekarang), dan Future Tenses (Waktu Akan Datang). Untuk future tense dapat dijadikan atau dimasukkan ke dalam present tense.
Dan sebenarnya mereka tidak perlu menghafal. Mereka hanya cukup memahami, karena metode belajar dengan menghafal sangatlah beda dengan memahami. Menghafal belum tentu memahami. Permasalahan lainnya adalah, siswa atau mahasiswa yang mempelajari bahasa Inggris tidak atau jarang mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, speaking, writing, reading dan listening. Empat kebiasaan tersebut haruslah dilakukan agar “data” atau ilmu yang mereka terima tidak mudah hilang. Karena ada pepatah yang mengatakan “bisa karena biasa”.
Oleh karena itu, ironis jika seorang siswa mempelajari bahasa Inggris setiap hari tapi jarang mempraktekkan.biasanya siswa tidak atau jarang mempraktikkan karena dua factor. Yang pertama, siswa tersebut malu kepada teman-temannya. Yang kedua, mereka khawatir keliru dalam penggunaan vocab dan grammar. Jika hal ini masih dilakukan, tentu sangat disayangkan. Padahal usia siswa SMA masih memiliki potensi dan kapasitas yang besar untuk menerima dan mengembangkan ilmu yang mereka terima.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris?
2. Bagaimana agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik ?

D. TUJUAN PROGRAM
1. Agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris (dengan media software animasi).
2. Agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik (dengan media software animasi).

E. KEGUNAAN PROGRAM
Dari program ini diharapkan siswa dapat:
1. Menambah wawasan siswa SMA tentang seluk beluk Bahasa Inggris secara teori.
2. Membantu siswa SMA dalam mengasah kemampuan berbahasa Inggris dengan lebih baik secara praktek

F. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam program ini adalah tersediannya sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Bahasa Inggris dengan memanfaatkan program Macromedia Flash MX.

G. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Dalam pelaksanaan program ini, pelaksana program akan melakukan pelatihan terhadap obyek pelatihan dengan materi-materi sebagai berikut:

Materi : I Komponen Bahasa Inggris
Secara umum, komponen yang terkandung bahasa Inggris ada tiga, yaitu Grammar (Tata Bahasa), Reading (Bacaan), dan Writing (menulis). Grammar dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Tenses (Waktu yang digunakan dalam kalimat), Time (Waktu/Jam), Passive Voice (Kalimat pasif), Preposition (Preposisi), dan Relative Clause (Klausa relatif), Introducing and Greeting People (Memperkenalkan dan Menyambut Orang), Asking and Giving Direction (Meminta dan memberi petunjuk jalan).
1. Grammar (Tata Bahasa)
Bagian kedua dari komponen bahasa Inggris adalah tata bahasa. Tata bahasa merupakan penunjang dari kosakata. Keberadaan dan fungsinya cukup penting. Fungsi dari tata bahasa adalah untuk membuat suatu kalimat menjadi lebih terstruktur rapi dan tidak membingungkan orang lain yang membaca dan mendengar. Dalam bahasa Inggris ada lebih dari tiga tata bahasa, diantaranya yaitu Tenses (Waktu), Passive Voice (Kalimat Pasif), Direct Indirect (Kalimat Langsung dan Tak Langsung), Reading (Bacaan), dan Writing (Menulis).
1.1. Tenses
Tense adalah cara bahasa menyatakan waktu pada saat kejadian yang dinyatakan oleh kalimat sedang berlangsung. Tenses seluruhnya berjumlah 16 tense, dibawah ini adalah tabel ringkasan tense yang sering digunakan.
Tense Positif/Negatif/Pertanyaan Kegunaan
Simple Present (Sekarang Sederhana) Positif : he speaks (dia berbicara)
Negative: he does not speak (dia tidak berbicara)
Pertanyaan: does he speak? (apakah dia berbicara) • Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Fakta
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lain
• Jadwal
Present Progressive
(Sekarang Berlangsung) Positif : he is speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he is not speaking (dia tidak sedang berbicara)
Pertanyaan: is he speaking? (apakah dia sedang berbicara?) • Kejadian berlangsung saat berbicara
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Kejadian diatur untuk akan datang
Simple Past
(Lampau Sederhana) Positif : he spoke (dia berbicara)
Negative : he did not speak? (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : did he speak? (apakah dia berbicara?) • Kejadian masa lampau sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Kejadian yang terjadi setelah kejadian yang lain
• Kejadian di tengah-tengah kejadian lain
Past Progressive
(Berlangsung Lampau) Positif : he was speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he was not speaking (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : was he speaking? (apakah dia berbicara?) • Kejadian yang berlangsung pada waktu tertentu di masa lampau
• Kejadian yang terjadi di waktu yang sama
• Kejadian masa lampau yang disela oleh kejadian lain
Present Perfect Simple
(Sempurna Sekarang
Sederhana) Positif : he has spoken (dia telah berbicara)
Negative : he has not spoken (dia belum berbi cara)
Pertanyaan : has he spoken? (sudahkah dia berbicara?) • Memberikan penekanan pada hasil
• Kejadian yang masih berlangsung
• Kejadian yang baru saja berhenti
Present Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Sekarang) Positif : he has been speaking (dia telah sedang berbicara)
Negative: he has not been speaking
Pertanyaan: has he been speaking? • Memberikan penekanan pada durasi
• Kejadian yang baru-baru saja berhenti atau masih berlangsung
• Kejadian yang selesai tapi hasilnya berpengaruh
Past Perfect Simple
(Sempurna Lampau
Sederhana) Positif : he had spoken
Negative: he had not spoken
Pertanyaan : had he spoken? • Kejadian dimulai pada waktu tertentu pada waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Progresif
• Memberikan penekanan hanya pada waktu (bukan durasi)
Past Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Lampau) Positif : he had been speaking
Negative: he had not been speaking
Pertanyaan: had he been speaking? • Kejadian sebelum waktu tertentu di waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Simple
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
Future Simple
(Akan Datang Sederhana) Positif : he will speak?
Negative: he will not speak
Pertanyaan : will he speak? • Kejadian akan datang yang tidak bisa dipengaruhi
• Keputusan yang terjadi secara spontan
Sumber: http://www.ego4u.com
Dari tabel diatas, kiranya cukup jelas penjelasan tentang tenses beserta penggunannya. Namun, jika siswa yang bersangkutan masih merasa kebingungan untuk dapat membedakan antara tenses yang hampir sama. Misalnya Simple Past dengan Simple Present, dan lain sebagainya.
Berikut penulis sertakan kembali tabel perbedaan tenses yang hampir sama.
 Simple Present – Present Progressive
Simple Present Present Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action in the present that is going on in the moment of speaking
• Kejadian berlangsung saat berbicara
• Facts, states that are generally known to be true
• Fakta, menyatakan bahwa secara umum diketahui benar • Action in the present taking place only for a limited period of time
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Actions in the present taking place one after another
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lainnya • Actions in the present taking place at the same time
• Kejadian pada waktu yang sama
• Action set by a time table or schedule
• Kejadian diatur oleh waktu atau jadwal • Action already arranged for the near future
• Kejadian diatur untuk waktu yang akan datang

 Simple Present – Present Perfect Progressive

Simple Present Present Perfect Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action that started in the past and is still going on
• Kejadian dimulai di waktu lampau dan masih berlangsung
• Puts emphasis on how often the action takes place
• Memberikan penekankan seberapa sering kejadian dilakukan • Puts emphasis on how long the action has been going on
• Memberi penekanan berapa lama kejadian telah sedang berlangsung

 Present Perfect Simple – Present Perfect Progressive
Present Perfect Simple Present Perfect Progressive
• Puts emphasis on the result
• Memberikan penekanan pada hasil • Puts emphasis on the duration or course of an action
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
• Action from past to present
• Kejadian dari lampau ke sekarang
• Action is finished, but influences the present
• Kejadian selesai, tapi berpengaruh sampai sekarang
 Simple Past – Past Progressive
Simple Past Past Progressive
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali. • Action in the past whose course / duration is to be emphasised
• Kejadian masa lampau yang durasinya ditekankan
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian di waktu lampau setelah kejadian yang lain • Actions in the past taking place at the same time
• Kejadian masa lampau yang dilakukan pada waktu yang sama
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian di waktu lampau di tengah kejadian lain • Action in the past starting before another action and continuing after it
• Kejadian di waktu lampau dimulai sebelum kejadian lain dan berlanjut sesudahnya

 Simple Past – Present Perfect
Simple Past Present Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action that stopped recently or is still going on
• Kejadian yang baru-baru berhenti atau masih berlangsung
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Finished action that has an influence on the present
• Kejadian selesai yang mempunyai pengaruh pada masa sekarang
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Action that has taken place once, never or several times before the moment of speaking
• Kejadian yang telah dilakukan sekali, tidak pernah, atau beberapa kali sebelum berbicara

 Simple Past – Past Perfect
Simple Past Past Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action taking place before a certain time in the past
• Kejadian dilakukan sebelum waktu tertentu di masa lampau
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Sometimes interchangeable with past perfect progressive
• Kadang dapat dirubah dengan past perfect progressive
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Puts emphasis only on the fact (not the duration or course of the action)
• Memberikan penekanan hanya pada fakta (bukan durasi kejadian)

1.2. Time (Waktu/Jam)
Ada dua cara umum untuk mengatakan waktu
 Formal tapi lebih mudah :
1. Mengatakan jam dulu kemudian menit
Contoh : 7:45 – seven forty-five (tujuh:empat lima)
2. Untuk menit 01 sampai 09, Anda bisa melafalkan ‘0’ sebagai oh.
Contoh : 11:06 – eleven (oh) six (sebelas:kosong enam)
 Cara yang lebih populer
2. Mengatakan menit dulu kemudian jam. Gunakan past dan yang dulu dijadikan patokan jam untuk menit 01 sampai 30. Gunakan to dan jam yang akan dating untuk menit 31 sampai 59.
Contoh : 7.15 – fifteen minutes past seven (tujuh. lewat lima belas)
Contoh: 7.45 – fifteen minutes to eight (tujuh. lewat empat lima)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes past’ is: a quarter past (lebih seperempat/lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes to’ is: a quarter to (kurang seperempat/kurang lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’30 minutes past’ is: half past (kurang 30 menit)
-Contoh: 5:30 – half past five
Gambar Keterangan Waktu

Catatan
Gunakan o’clock hanya pada jam penuh/tepat
Contoh: 7:00 – seven o’clock (tapi 7:10 – ten past seven)
Dalam bahasa Inggris, dua belas jam digunakan. Jadwal biasanya menggunakan dua puluh empat jam. Dalam pembicaraan bahasa Inggris, dua puluh empat jam hanya digunakan dalam pengumuman resmi, tapi tidak di pembicaraan biasa.
Contoh : 17:20 – twenty past five (tujuh belas:lewat dua puluh)
Untuk waktu sekitar tengah malam atau tengah hari, Anda bisa menggunakan ekspresi tengah malam/tengah hari daripada angka 12.
Contoh: 00:00 – midnight
Contoh: 12:00 – midday or noon
Untuk membuat jelas(dimana memerlukan) apakah yang Anda maksud sebuah waktu sebelum pukul 12 tepat siang atau sesudahnya, Anda bisa menggunakan pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Gunakan pagi hari sebelum pukul 12 siang tepat, sesudah pukul 12 siang tepat gunakan sore hari. Ketika merubah dari siang ke sore, dari sore ke malam dan dari malam ke pagi tergantung pada pengertian waktu Anda.
To make clear (where necessary) whether you mean a time before 12 o’clock noon or after, you can use in the morning, in the afternoon, in the evening, at night. Use in the morning before 12 o’clock noon, after 12 o’clock noon use in the afternoon. When to change from afternoon to evening, from evening to night and from night to morning depends on your sense of time.
Contoh: 3:15 – a quarter past three in the morning OR a quarter past three at night (tiga:lewatseperempat pagi ATAU tiga:lebih seperempat malam)
Ekspresi yang lebih formal untuk mengindikasi apakah sebuah waktu sebelum siang atau sesudah adalah a.m. (ante meridiem, sebelum siang) dan p.m. (post meridiem, sesudah siang). Gunakan ekspresi ini hanya dengan cara formal untuk mengatakan waktu.
Contoh: 3:15 – three fifteen a.m.
Itu tidak biasa untuk menggunakan a.m. dan p.m. dengan past/to.
Contoh: 3:15 – fifteen minutes past three OR a quarter past three (tiga:lewat lima belas ATAU tiga:lewat seperempat)
American English
Selain past, Amerika sering menggunakan after.
Contoh: 06:10 – ten past/after six
Tapi: dalam ekspresi waktu dengan half past, itu tidak biasa untuk memindahkan kembali past oleh after.
Selain to, Amerika sering menggunakan before, of atau till.
Contoh: 05:50 – ten to/before/of/till six
1.3. Passive Voice
Passive voice digunakan ketika fokus pada perbuatan. Itu tidak penting atau tidak diketahui, bagaimanapun, siapa atau apa sedang menampilkan perbuatan.
Contoh: My bike was stolen. (Sepedaku dicuri)
Dalam kalimat diatas, fokus pada fakta bahwa “sepedaku dicuri”. Saya tidak tahu, bagaimanapun, siapa melakukannya pada waktu lampau. Kadang sebuah pernyataan dalam passive lebih sopan daripada active voice. Contohnya sebagai berikut
Contoh: A mistake was made.
Dalam kasus ini, penulis fokus pada fakta bahwa kesalahan dibuat, tapi penulis tidak menyalahkan siapapun. (Contoh: Anda telah membuat kesalahan)
 Bentuk Passive
Subject + bentuk terbatas to be + Past Participle
Contoh: A letter was written. (Sebuah surat ditulis)
Ketika menulis kembali kalimat dalam passive voice, catat hal-hal berikut:
• Obyek kalimat aktif menjadi subyek kalimat passive
• Bentuk terbatas dari kata kerja dirubah (to be + past participle)
• Subyek dari kalimat aktif menjadi obyek kalimat pasif (atau diturunkan)
 Contoh Passive
Tense Subject Verb Object
Simple Present Active: Rita Writes (menulis) a letter. (sebuah surat)
Passive: A letter (Sebuah surat) is written (ditulis) by Rita. (oleh Rita)
Simple Past Active: Rita Wrote a letter.
Passive: A letter was written (ditulis) by Rita.
Present Perfect Active: Rita has written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter has been written (telah ditulis) by Rita.
Future Active: Rita will write (akan menulis) a letter.
Passive: A letter will be written (akan ditulis) by Rita.
Modal Active: Rita can write (dapat menulis) a letter.
Passive: A letter can be written (dapat ditulis) by Rita.
 Contoh:
Tense Subject Verb Object
Present Progressive Active: Rita is writing (Sedang menulis) a letter.
Passive: A letter is being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Progressive Active: Rita was writing a letter.
Passive: A letter was being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Perfect Active: Rita had written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter had been written (telah ditulis) by Rita.
Future II Active: Rita will have written a letter.
Passive: A letter will have been written by Rita.
Conditional I
(Kondisional) Active: Rita would write a letter.
Passive: A letter would be written by Rita.
Conditional II Active: Rita would have written a letter.
Passive: A letter would have been written by Rita.

 Kalimat Pasif dengan Dua Obyek
Menulis kembali sebuah kalimat aktif dengan dua obyek dalam kalimat pasif artinya bahwa salah satu obyek-obyek menjadi subyek, satu yang lainnya sebuah obyek. Yang mana obyek mentransformasikan kedalam subyek tergantung pada apa yang Anda mau letakkan.
Subject Verb Object 1 Object 2
Active: Rita Wrote (menulis) a letter (surat) to me. (kepadaku)
Passive: A letter (surat) was written (ditulis) to me (kepadaku) by Rita. (oleh Rita)
Passive: I was written (ditulisi) a letter (surat) by Rita.

Sebagaimana yang Anda lihat dalam contoh, menambahkan by Rita tidak bersuara sangat indah. Itulah mengapa biasanya diturunkan.
As you can see in the examples, adding by Rita does not sound very elegant. That’s why it is usually dropped.

 Passive Personal dan Impersonal
Personal Passive dengan sederhana berarti bahwa obyek dari kalimat aktif menjadi subyek dari kalimat pasif. Jadi setiap kata kerja yang membutuhkan sebuah obyek (kata kerja transitif) bisa membentuk sebuah personal passive.
Contoh: They build houses. – Houses are built. (Mereka membangun rumah-rumah – Rumah-rumah dibangun)
Kata kerja tanpa obyek ( kata kerja intransitif) secara normal tidak bisa membentuk kalimat pasif personal (sebagai tidak adanya obyek yang bisa menjadi subyek dari kalimat pasif). Jika Anda mau menggunakan kata kerja intransitif dalam passive voice, Anda butuh sebuah konstruksiimpersonal-oleh karena itu passive ini disebut Impersonal Passive.
Contoh: he says – it is said (Dia mengatakan-itu dikatakan)

1.4. Preposisi
Preposisi adalah kata-kata pendek (on, in, to) yang biasanya berdiri di depan kata benda (kadang juga di depan kata kerja gerunds)
Tabel berikut berisi aturan-aturan untuk beberapa dari sebagian besar preposisi yang sering digunakan dalam bahasa Inggris:
 Preposisi – Waktu
English Penggunaan Contoh
• on • days of the week (hari dalam Minggu) • on Monday (pada hari Minggu)
• in • months / seasons (bulanan/musiman)
• time of day (waktu hari)
• year (tahun)
• after a certain period of time (when?) (setelah periode waktu tertentu) (kapan?) • in August / in winter (di bulan Agustus/musim dingin)
• in the morning (di pagi hari)
• in 2006 (di 2006)
• in an hour (dalam satu jam)
• at • for night (untuk malam)
• for weekend (untuk akhir pekan)
• a certain point of time (when?) (batas waktu tertentu) (kapan?) • at night (pada malam hari)
• at the weekend (pada akhir pekan)
• at half past nine (pada jam setengah sembilan)
• since • from a certain point of time (past till now) (dari batas waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • since 1980 (sejak 1980)
• for • over a certain period of time (past till now) (melebihi batasan waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • for 2 years (selama 2 tahun)
• ago • a certain time in the past (waktu tertentu lampau) • 2 years ago (dua tahun yang lalu)
• before • earlier than a certain point of time (lebih awal daripada waktu tertentu) • before 2004 (sebelum 2004)
• to • telling the time (memberitahu waktu) • ten to six (5:50) (jam lima menuju jam 6)
• past • telling the time (memberitahu waktu) • ten past six (6:10) (jam enam lebih 10)
• to / till / until • marking the beginning and end of a period of time (menandai awal dan akhir periode waktu) • from Monday to/till Friday (dari Senin ke/sampai Jum’at)
• till / until • in the sense of how long something is going to last (dalam pertimbangan dari berapa lama sesuatu berlangsung ke akhir) • He is on holiday until Friday. (dia dalam liburan sampai Jum’at).
• by • in the sense of at the latest (dalam pertimbangan pada paling akhir)
• up to a certain time (sampai waktu tertentu) • I will be back by 6 o’clock. (Saya akan kembali pada jam 6 tepat).
• By 11 o’clock, I had read five pages. (pada jam sebelas tepat, saya telah membaca lima lembar)

 Preposisi – Tempat (Posisi dan Petunjuk)
English Penggunaan Contoh
• in • room, building, street, town, country
• (ruang, bangunan, jalan, kota, negara)
• book, paper etc.
• (buku, kertas)
• car, taxi (mobil, taksi)
• picture, world (gambar, dunia) • in the kitchen, in London (di dapur, di London)
• in the book (di buku)
• in the car, in a taxi (di mobil)
• in the picture, in the world (di gambar)
• at • meaning next to, by an object (berarti sebelah, oleh sebuah obyek)
• for table (untuk meja)
• for events (untuk peristiwa)
• place where you are to do something typical (watch a film, study, work) (tempat dimana Anda melakukan sesuatu dengan khas) (melihat film) • at the door, at the station (di pintu, di stasiun)
• at the table (di meja)
• at a concert, at the party (di konser, di pesta)
• at the cinema, at school, at work (di bioskop, di sekolah)
• on • attached (dilampirkan)
• for a place with a river (untuk sebuah tempat dengan sungai)
• being on a surface (sedang dalam permukaan)
• for a certain side (left, right) (untuk bagian tertentu) (kanan,kiri)
• for a floor in a house (untuk lantai dalam rumah)
• for public transport (untuk transportasi masyarakat).
• for television, radio (untuk TV) • the picture on the wall (gambar di tembok)
• London lies on the Thames. (London terbentang di Thames)
• on the table (di meja)
• on the left (di kiri)
• on the first floor (di lantai pertama)
• on the bus, on a plane (di bus)
• on TV, on the radio (di TV)
• by, next to, beside • left or right of somebody or something (kiri atau kanan dari seseorang atau sesuatu) • Jane is standing by / next to / beside the car. (Jane sedang berdiri pada / sebelah / disamping mobil)
• under • on the ground, lower than (or covered by) something else (pada tanah, lebih rendah daripada (atau atau ditutupi oleh) sesuatu yang lain) • the bag is under the table (tas di bawah meja)
• below • lower than something else but above ground (lebih rendah daripada sesuatu tapi diatas tanah) • the fish are below the surface (ikan dibawah permukaan)
• over • covered by something else (ditutupi oleh sesuatu yang lain)
• meaning more than (berarti lebih daripada)
• getting to the other side (also across) (mendapat ke lain bagian (juga seberang)
• overcoming an obstacle (menguasai halangan) • put a jacket over your shirt (letakkan jaket di atas bajumu)
• over 16 years of age (diatas 16 tahun)
• walk over the bridge (berjalan diatas jembatan)
• climb over the wall (memanjat diatas tembok)
• above • higher than something else, but not directly over it (lebih tinggi dari sesuatu yang lain, tapi tidak dengan langsung melebihinya) • a path above the lake (jalan kecil diatas danau)
• across • getting to the other side (also over) (mendapat ke lain sisi (juga seberang) )
• getting to the other side (mendapat ke bagian lain) • walk across the bridge (jalan menyeberangi jembatan)
• swim across the lake (berenang menyeberang danau)
• through • something with limits on top, bottom and the sides (sesuatu dengan batas pada atas, tengah dan bagian-bagian) • drive through the tunnel (mengendarai melalui terowongan)
• to • movement to person or building (pergerakan ke orang atau bangunan)
• movement to a place or country (pergerakan ke sebuah tenpat atau negara)
• for bed (untuk tempat tidur) • go to the cinema (pergi ke bioskop)
• go to London / Ireland (pergi ke London)
• go to bed (pergi tidur)
• into • enter a room / a building (masuk ruang/bangunan) • go into the kitchen / the house (pergi kedalam dapur)
• towards • movement in the direction of something (but not directly to it) (pergerakan dalam petunjuk dari sesuatu (tapi tidak secara langsung ke hal itu) ) • go 5 steps towards the house (pergi 5 langkah menuju rumah)
• onto • movement to the top of something (pergerakan ke atas dari sesuatu) • jump onto the table (loncat ke meja)
• from • in the sense of where from (dalam pertimbangan darimana) • a flower from the garden (bunga dari kebun)

 Preposisi Lain Yang Penting
English Penggunaan Contoh
• from • who gave it (siapa yang memberinya) • a present from Jane (hadiah dari Jane)
• of • who/what does it belong to (kepunyaan apa/siapa)
• what does it show (apakah itu menunjukkan) • a page of the book (halaman dari buku)
• the picture of a palace (gambar istana)
• by • who made it (siapa yang membuatnya) • a book by Mark Twain (buku oleh Mark Twain)
• on • walking or riding on horseback (sedang berjalan atau mengendarai di belakang kuda)
• entering a public transport vehicle (masuk kendaraan transportasi umum) • on foot, on horseback (pada kaki, pada belakang kuda)
• get on the bus (naik bus)
• in • entering a car / Taxi (masuk mobil) • get in the car (masuk mobil)
• off • leaving a public transport vehicle (meninggalkan kendaraan umum) • get off the train (turun dari kereta)
• out of • leaving a car / Taxi (meninggalkan mobil) • get out of the taxi (keluar dari taxi)
• by • rise or fall of something (muncul atau turun dari sesuatu)
• travelling (other than walking or horseriding) (perjalanan (selain daripada berjalan atau mengendarai kuda) • prices have risen by 10 percent (harga-harga telah naik pada 10 persen)
• by car, by bus (oleh mobil)
• at • for age (untuk usia) • she learned Russian at 45 (dia (perempuan) belajar bahasa Rusia pada usia 45 tahun)
• about • for topics, meaning what about (untuk topik, arti tentang apa) • we were talking about you (kami sedang membicarakan tentangmu)
1.5. Relative Clauses
Kita menggunakan klausa-klausa untuk memberikan informasi tambahan tentang sesuatu tanpa memulai kalimat lain. Dengan mengkombinasikan kalimat-kalimat dengan relatif klausa, teks Anda menjadi lebih lancar dan Anda dapat menghindari pengulangan kata-kata tertentu.
Contoh: Bayangkan, seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Anda mau tahu siapa dia (gadis) dan bertanya teman apakah dia (Tom) mengetahuinya (si gadis). Anda bisa mengatakan:
Contoh: -A girl is talking to Tom. Do you know the girl?.
-Seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Apakah kamu tahu gadis itu?
Suara itu agak sukar, bukan?. Itu akan lebih mudah dengan klausa relatif: Anda meletakkan kedua potong informasi kedalam satu kalimat. Mulai dengan hal yang paling penting – Anda mau tahu siapa gadis itu.
-Do you know the girl … (Apakah Anda tahu gadis…)
Sebagaimana temanmu tidak tahu gadis mana yang sedang Anda bicarakan, Anda butuh meletakkan informasi tambahan – the girl is talking to Tom (gadis yang sedang berbicara kepada Tom). Gunakan “the girl” hanya di bagian pertama dari kalimat, di bagian kedua, pindahkan itu kembali (gadis) dengan relatif pronoun (untuk orang, gunakan “who”). Jadi kalimat akhirnya adalah: Do you know the girl who is talking to Tom?. (Tahukah Anda siapa gadis yang berbicara kepada Tom?).
 Tabel Relative Pronouns:
relative pronoun Penggunaan Contoh
who • Subject or object pronoun for people
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang • I told you about the woman who lives next door.
• Saya diberitahu Anda tentang perempuan yang tinggal disamping pintu
which • Subject or object pronoun for animals and things
• Subyek atau obyek kata ganti untuk hewan dan benda • Do you see the cat which is lying on the roof?
• Apakah Anda melihat kucing yang sedang berbaring di atap?
which • Referring to a whole sentence
• Menghubungkan ke seluruh kalimat • He couldn’t read which surprised me.
• Dia tidak membaca yang mengejutkanku
whose • Possession for people animals and things
• Milik untuk hewan dan benda • Do you know the boy whose mother is a nurse?
• Apakah Anda tahu laki-laki yang ibunya perawat?
whom • Object pronoun for people, especially in non-defining relative clauses (in defining relative clauses we colloquially prefer who)
• Obyek kata ganti untuk orang, khusunya dalam klausa relatif tak tentu (dalam menggambarkan klausa relatif kita yang menghubungkan dengan bahasa sehari-hari lebih suka who • I was invited by the professor whom I met at the conference.
• Saya diundang oleh profesor yang saya temui di konferensi.
that • Subject or object pronoun for people, animals and things in defining relative clauses (who or which are also possible)
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang, hewan dan benda dalam klausa relatif (who atau which juga mungkin) • I don’t like the table that stands in the kitchen.
• Saya tidak suka meja yang berdiri in dapur.

2. Reading
2.1. Main Idea (Ide Utama)
Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mengembangkan suatu main idea (ide utama). Kalimat yang menerangkan tentang ide utama tersebut disebut dengan topic sentence (kalimat topik).
Topic sentence biasanya terdapat pada awal atau akhir paragraf. Topic sentence jarang berada di tengah paragraf.
Jika ditulis dengan benar, setiap paragraf hanya menjelaskan tentang satu subjek yang di sebut dengan topic noun.
Pada paragraf terdapat juga kumpulan kata benda yang mengembangkan atau mendukung ide utama. Kata benda ini adalah supporting nouns.
Contoh paragraf:
The hippo is a large water and land animal. It lives in Africa. Except for elephant, the hippo is the heaviest of all land animals. A large hippo may weigh as much as three automobiles. We wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Pada paragraf diatas kata “hippo” adalah topic noun karena paragraf tersebut menggambarkan tenteng hewan tersebut.
Kalimat pertama pada paragraf di atas “ the hippo is a large water and land animal” adalah topic sentence (kalimat topik) karena di dalam kalimat tersebut mengandung pemikiran yang berkisar pada topic noun. Kalimat-kalimat selanjutnya hanyalah pendukung untuk topic sentence. Dengan kata lain main idea dapat ditemukan dengan cara berikut:
1. memilih kalimat yang merupakan topic sentence (kalimat topik)
2. membaca setiap kalimat dan juga topic sentence kemudian bandingkan. Kalimat lain selain
topic sentence hanyalah kalimat pendukung.
The hippo is a large water and land animal (topic sentence)
1. it lives in Africa
2. except for the elephant, the hippo is the heaviest of all land animals.
3. a large hippo may wigh as much as three automobiles
4. we wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Kalimat nomor 1 mendukung kalimat pertama dengan menjelaskan tentang habitat hewan tersebut.
Kalimat nomor 2 menjelaskan lebih lanjut kata “large” pada kalimat pertama.
Kalimat nomor 3 menjelaskan maksud dari kata “ heavy” pada kalimat 2 dengan cara memberikan informasi yang lebih khusus.
Kalimat 4 menekankan pada berat kuda nil tersebut dengan memberikan pengandaiian.
Hasil analisis menunjukkan bahwa 4 mendukung 3; 3 mendukung 2; sedangkan 2 mendukung 1. Dengan demikian 1,2,3, dan 4 adalah kalimat pendukung bagi topic sentence.
3. Writing
Dalam writing biasanya sering terjadi kesalahan tanda baca. Walaupun hal ini tidak terlalu menonjol, tapi bisa menyebabkan kesalahan fatal (misalnya jika siswa mengikuti ujian writing). Berikut beberapa penjelasan tentang penggunaan tanda baca.
3.1. Koma dengan angka
Gunakan koma untuk memisahkan ribuan dan jutaan dalam gabungan angka.
Contoh: 3,460,759
Jangan gunakan koma dalam desimal
Contoh: $3.49
Gunakan koma sebelum tahun jika tanggal diberikan sebagai berikut: bulan, hari, dan tahun.
Contoh: April 16, 2003
Jangan gunakan koma jika hanya dua elemen dari tanggal diberikan (bulan dan tahun).
Contoh: I was born in May 1972.

3.2. Koma dengan salam
Gunakan koma jika kalimat mulai dengan alamat kepada seseorang
Contoh: Greg, can I talk to you for a second?
Gunakan koma dengan salam dalam surat pribadi.
Contoh: Dear Francis,
Jangan gunakan koma dengan salam dalam surat bisnis. Gunakan titik dua dalam Inggris Amerika dan tidak ada tanda baca Inggris Britania.
Example:
BE (British English) – Dear Mr Jefferson
AE (American English) – Dear Mr. Jefferson:
Sesudah ucapan, koma opsional.
Example:
Sincerely,
Sincerely
H. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
No Bulan Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2
I II III IV I II III IV
1 Persiapan penelitian √
2 Penelitian lapangan √
3 Analisa data √
4 Seminar Hasil penelitian √
5 Penulisan laporan akhir √

I. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA

1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Fuad Hussein
b. NIM : 06360151
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 12 jam/minggu
2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ikhwanuddin Dallas
b. NIM : 06360130
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
3. Anggota
a. Nama Lengkap : Ratih Wulan Pinandu
b. NIM : 05360089
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
4. Anggota
a. Nama Lengkap : Dwi Hastani Setyaningsih
b. NIM : 06360123
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu

J. BIODATA PENDAMPING
a. Nama Lengkap : Thathit Manon Andini, M.Hum
b. NIP : 104.9109.0244
c. Jabatan : Dosen
d. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
e. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
f. Keahlian : Literatur
g. Waktu Kegiatan : 6 jam/minggu

K. BIAYA PELAKSANAAN KEGIATAN
Adapun Besar biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program ini adalah sebesar Rp. 2.987.500,-
No. Kebutuhan Satuan Volume (Rp) Harga (Rp)
1 Peralatan penunjang
 Sewa komputer

 Sewa alat peraga LCD

 Block note

 Makalah

 CD
1 unit x 3 kali pertemuan

1 unit x 3 kali pertemuan

25 buah

25 ekseplar/ materi x 6 kali pertemuan
25 buah
20.000

100.000

50.000

2.000

25 x 2000
60.000

100.000

150.000

50.000

50.000
Rp. 410.000
2 Akomodasi
 Transportasi

 Konsumsi

 Dokumentasi
– Survei pelaksana program

25 orang x 10 kali pertemuan

1 rool film cuci cetak

50.000

@ 10.000 x 25 x 10

65.000

50.0000

2.250.000

52.500

Rp 2.352.500
4 Lain-lain
 Penyusunan, penggandaan dan pengiriman hasil PKM
 Pengeluaran tak terduga
5 eksemplar

-
20.000

-
100.000

100.000

200.000
Total : Rp. 2.987.500,-

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ego4u.com diakses tanggal 27 September
Rusli, Ratna Sajekti, dkk, “ Buku Materi Pokok Reading”, Karunika, Jakarta,1997

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 9 Komentar

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

A. Judul Program

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

B. Latar Belakang Masalah

TK Al Masyithoh merupakan TK yang terletak di desa Tegal Gondo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Desa tegalgondo memiliki luas area sekitar 150 Ha. TK Al- Masyithoh ini berdiri sejak tahun 1999, dengan jumlah siswa sekitar 100 siswa. Sebagian besar siswa berasal dari daerah setempat yang pada umumnya orangtua bermata pencaharian sebagai petani, walaupun ada beberapa yang bermata pencaharian sebagai PNS, dan wiraswasta.
Kondisi yang memprihatinkan ini menuntut perhatian masyarakat dari segala lapisan, baik itu pemerintah, masyarakat umum, industri, maupun perguruan tinggi. Perhatian inipun tidak memandang usia, tua-muda, anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua semuanya memiliki andil dalam menumbuh-kembangkan sikap responsif anak.
Dalam Haditono, S. R, 2004 Penelitian Riksen-Walraven (1977: 1978) pada 100 orang anak Belanda berasal dari kelas sosial-ekonomi yang rendah menunjukkan betapa pentingnya stimulasi yang tepat diberikan selama periode tahun pertama. Dalam penelitian tersebut diadakan stimulasi terhadap 2 aspek perkembangan masa awal.
Konvensi Hak Anak yang menaungi setiap anak berusia 18 tahun kebawah memiliki empat tema utama dalam hak anak, dua diantaranya adalah Survival dan Development. Tentang survival dan development, dikemukakan bahwa anak mendapat hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat (ECOTON, 2001). Termasuk di dalamnya lingkungan sosial dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang.
Dalam kelompok teori lingkungan termasuk teori belajar dan teori sosialisasi yang bersifat sosiologis. Kedua macam teori itu sebetulnya sama karena prinsip sosialisasi itu merupakan suatu bentuk belajar sosial. Hal ini juga berlaku bagi enkulturasi, yaitu memperolehnya tingkah laku kebudayaan sendiri, yang banyak ditulis oleh ahli antropologi budaya. ( Haditono, S R, 2004).
NLP merupakan pola pikir yang menitikberatkan pada bagaimana menjadikan manusia efektif. Karena itulah maka sejak awal (dan sampai saat ini tentunya) NLP banyak mempelajari mereka yang excellent dalam bidangnya masing-masing yang berlandaskan pada The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions.
a. The Pillars of NLP
Ini adalah 6 prinsip dasar yang menjadi landasan utama jika Anda dan saya ingin mempelajari NLP secara utuh, yaitu:
1. Diri sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian yang paling penting dari setiap proses intervensi dalam NLP, sebab NLP baru menjadi berguna jika kita gunakan secara utuh. Selayaknya sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai orang lain, baik atau buruknya efek yang ditimbulkan oleh NLP juga amat ditentukan oleh diri kita sendiri sebagai pelaku praktik NLP. Begitupun tingkat kesuksesan kita dalam menggunakan NLP juga amat tergantung dari seberapa ahli kita dalam menguasai setiap detilnya. Semakin kongruen kita, semakin sukses lah kita. Kongruen disini adalah ketika tujuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang kita miliki sejalan dengan perilaku dan ucapan yang kita lakukan.
2. Presuppositions. Presuposisi adalah prinsip dasar dari NLP yang digunakan untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP. Ia adalah taken for granted, yang membedakan NLP dibanding yang lain.
3. Rapport. Rapport adalah hubungan yang berkualitas yang dihasilkan dari rasa saling percaya. Anda baru bisa mendapatkan rapport hanya jika Anda sudah bisa memahami dan mengerti cara orang lain melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dengan kata lain, rapport adalah seperti kita berbicara dengan bahasa orang lain. Ketika kita sudah memiliki rapport, orang yang kita ajak bicara akan merasa dihargai dan seketika menjadi lebih responsif. Sekalipun dapat dibangun secara instan, dalam jangka panjang rapport membutuhkan rasa saling percaya yang tinggi.
4. Outcome. Kunci utama untuk menguasai keterampilan dasar dari NLP adalah memahami secara rinci apa yang Anda inginkan dan mampu membantu orang lain untuk juga memahami secara rinci apa yang mereka inginkan. Keterampilan NLP selalu didasarkan pada fokus untuk memikirkan hasil yang kita inginkan, sehingga kita selalu mengambil tindakan yang berorientasi pada tujuan. Pola pikir hasil ini dibagi menjadi 3 yaitu:
 Memahami kondisi saat ini
 Memahami kondisi yang kita inginkan
 Merencakana strategi untuk mencapainya
5. Feedback. Sekali kita memahami apa yang kita inginkan, kita harus selalu menaruh perhatian terhadap hasil yang sudah kita capai sejauh ini, sehingga kita selalu tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Inilah yang dinamakan dengan feedback. Kita harus terus memperhatikan secara jeli berbagai informasi yang kita dapat melalui apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan.
6. Flexibility. Ketika Anda tahu apa yang Anda inginkan dan apa yang Anda dapat sejauh ini, ketika itu pula lah Anda harus memiliki cukup banyak strategi untuk mencapainya. Satu cara tidak bekerja, segera gunakan cara lain. NLP selalu mendorong tiap orang untuk senantiasa fokus pada tujuan dan fleksibel dalam menggunakan berbagai macam cara untuk mencapainya.

b. NLP Presuppositions
Presuposisi adalah prinsip utama, filosofi dasar, dan belief dari NLP. Prinsip-prinsip ini memang bukanlah sesuatu yang universal, karenanya kita tidak harus benar-benar meyakini kesemuanya. Ia disebut sebagai presuposisi karena kita memang dengan sengaja meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan bertindak berdasarkan itu. Pada dasarnya, presuposisi sebenarnya adalah kumpulan dari suatu set prinsip etika kehidupan.
1. People respond to their experience, not to reality itself. Kita tidak pernah tahu pasti apa yang disebut dengan realita. Indra, keyakinan, dan pengalaman masa lalu kita memang memberikan sebuah peta sebagai gambaran bagaimana seharusnya kita bertindak, namun yang namanya peta tidak pernah sama persis dengan daerah yang digambarkannya. Kita tidak pernah tahu daerah aslinya, maka bagi kita peta itu adalah daerah aslinya (the map is the teritory). Beberapa jenis peta memang cukup baik dalam menggambarkan keadaan aslinya, karenanya kita bisa berlayar dalam hidup dengan aman. Namun peta yang salah tentu akan mengakibatkan kita tersasar ke daerah yang salah pula. NLP adalah seni untuk mengubah peta ini sehingga kita memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menentukan arah hidup kita.
2. Having a choice is better than not having a choice. Selalu mencari sebuah peta yang bisa memberikan Anda pilihan paling banyak dan selalu mengambil tindakan yang memungkinkan Anda untuk memiliki lebih banyak pilihan. Semakin banyak pilihan yang Anda miliki, semakin Anda memiliki kebebasan, dan semakin besar pula pengaruh yang Anda miliki.
3. People make the best choice they can at the time. Setiap orang selalu berusaha untuk membuat pilihan yang terbaik yang mereka bisa, sesuai dengan peta yang mereka miliki. Pilihan tersebut bisa jadi buruk dan merusak, namun bagi diri mereka sendiri, ini adalah langkah terbaik yang bisa mereka ambil. Beri mereka pilihan yang lebih baik, maka mereka dengan mudah menerimanya. Lebih jauh, beri mereka peta yang mampu menyediakan lebih banyak pilihan yang lebih baik.
4. People work perfectly. Tidak ada seorang pun yang benar-benar melakukan hal yang salah. Kita semua menjalankan strategi yang kita punya dengan sempurna. Kalau pun ternyata hasilnya tidak sempurna, maka strategi itulah yang barangkali memang tidak efektif. Cari tahu strategi Anda dan orang lain, sehingga Anda bisa menyesuaikan strategi yang Anda miliki agar lebih efektif.
5. All sctions have a purpose. Perilaku kita bukanlah sesuatu yang acak, sebab kita selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dari perilaku yang kita munculkan, sekalipun kita tidak selalu sadar akan hal itu.
6. Every behavior has a positive intention. Semua tindakan yang kita ambil setidaknya memiliki 1 tujuan—untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan yang menguntungkan bagi kita. NLP memisahkan intensi yang ada di balik setiap perilaku dari perilaku itu sendiri. Kita tidak dapat menilai seseorang dari perilaku mereka, sebab ketika mereka memiliki pilihan perilaku yang lebih baik dan tetap bisa memenuhi intensi positif mereka, mereka pasti akan mengambilnya.
7. Pikiran bawah sadar menyeimbangkan pikiran sadar. Pikiran bawah sadar adalah semua hal yang tidak muncul di pikiran sadar pada suatu waktu tertentu. Ia mengandung semua sumber daya yang kita butuhkan untuk hidup dalam keseimbangan.
8. The meaning of the communication is not what you intend, but also the response you get. Respon tersebut bisa jadi bukanlah sesuatu yang Anda inginkan, namun tidak pernah ada kegalalan dalam komunikasi, ia hanyalah umpan balik agar Anda menyesuaikan cara komunikasi Anda.
9. We already have all the resources we need or we can create them. Tidak ada yang namanya unresourceful people, yang ada hanyalah unresourceful state of mind.
10. Mind and body form a system, keduanya adalah ekspresi yang berbeda dari seseorang yang sama. Pikiran dan tubuh saling berinteraksi dan mempengarusi satu sama lain. Mustahil kita bisa membuat perubahan pada salah satunya tanpa mengakibatkan perubahan pada yang lain. Ketika kita berpikir dengan cara yang berbeda, tubuh kita akan berubah. Ketika kita bertindak dengan cara yang berbeda, pikiran kita pun akan berubah.
11. We process all information through our senses. Mengembangkan indra yang Anda miliki agar kesemuanya lebih peka terhadap berbagai informasi yang muncul akan membuat Anda lebih jelas dalam berpikir.
12. Modelling successful performance leads to excellence. Jika ada seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan sempurna, maka ia bisa kita model untuk kemudian kita ajarkan kepada orang lain. Dengan demikian, setiap orang bisa mempelajari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara mereka sendiri. Anda tidak akan menjadi kloning dari orang yang Anda model, Anda hanya belajar dari mereka.
Hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh tim pengusul menunjukkan bahwa pentingnya NLP(Neuro Linguistic Programming) masih belum dimiliki oleh anak-anak di desa Kebonagung. Hal ini menunjukkan bahwa perlu usaha untuk menstimulasi tingkat responsibilitas anak. Oleh karena itulah maka program ”Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang” sangat perlu dilakukan. Program ini menitikberatkan pada perubahan pola pikir anak mengenai masalah yang dihadapi.
C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka lingkup permasalahan yang ingin dipecahkan adalah bagaimanakah Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam mengoptimalkan tingkat responsibilitas anak usia dini (TK Al-Masyithoh) Tegalgondo Malang?

D. Tujuan Program
1. Mengoptimalkan sejak dini daya responsibilitas anak termasuk dalam lingkungan sosial.
2. Mengimplementasikan pemahaman, pengetahuan yang diperoleh pada
lingkungan kehidupan sehari-hari.
3. Menumbuhkan jiwa dan pemahaman yang kritis tentang permasalahan dalam konteks kehidupan anak.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan adalah jasa. Yang mana, dengan adanya program aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam meningkatkan responsibilitas anak usia dini di desa Tegal gondo Malang adalah adanya perubahan pola pikir yang responsive yang akan menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.

F. Kegunaan Program
a. Menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.
b. Kegiatan anak lebih mengarah kepada hal-hal yang positif.

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1. Gambaran Umum Masyarakat Malang
G.1.1 Kelompok etnis
Penduduk asli Malang dikenal sangat religius, dinamis, pekerja keras, fleksibel dan sangat bangga dengan identitas mereka sebagai Arema (Arek Malang). Penduduk asli ini berasal dari suku Jawa, Madura, dan beberapa keturunan Arab dan Cina.
G. 1.2 Agama
Islam adalah agama mayoritas yang dianut penduduk Malang, diikuti dengan Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu. Kehidupan masyarakat beragama di Malang sangat harmonis dan semua lapisan saling bekerja sama membangun kota Malang. Di sini juga banyak tempat-tempat peribadahan seperti mesjid, gereja, dan kelenteng, juga institusi pendidikan agama seperti pesantren dan seminari yang cukup populer di Indonesia.
G.1.3 Kebudayaan
Kelompok etnis dan budaya yang kaya di Malang telah memberikan pengaruh baik kepada budaya tradisional, seperti munculnya Tari Topeng yang sangat terkenal dengan gabungan beberapa unsur kebudayaan Jawa Tengah (Solo, Yogyakarta), wilayah Tenggara Jawa (Ponorogo, Tulungagung, Blitar), dan Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi). Sayangnya tarian ini telah banyak dimodifikasi menjadi bentuk tarian modern akhir-akhir ini.
G.1.4 Bahasa
Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Tapi penduduk asli seringkali menggunakan bahasa Jawa, dengan dialek campuran Jawa Timur dan Madura untuk percakapan sehari-hari. Diantara anak muda Malang, dikenal sebuah bentuk bahasa lain yang mereka sebut “boso walikan” dimana mereka mengucapkan kata secara terbalik. Orang Malang dikenal berbicara langsung tanpa basa-basi seperti umumnya orang Jawa. Ini mewakili karakter masyarakatnya yang tegas dan langsung menuju sasaran.
G.1.5 Penduduk
Kebanyakan penduduk kedua kecamatan ini adalah pedagang, pekerja dan pelajar (mahasiswa) dari luar kota, yang sewaktu-waktu bisa kembali ke daerah asalnya. Pedagang dan pekerja biasanya datang dari sekitar Malang, sementara pelajar (mahasiswa) umumnya datang dari daerah lain seperti Bali, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku, Madura, Sulawesi dan Papua.

G.2 Gambaran Umum Masyarakat

Desa Tegalgondo Kecamatan Karang ploso, terletak di wilayah Kabupaten Malang. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini juga di dukung dengan bayaknya area sawah. Dengan demikian pendapatan masyarakat bersumber dari jumlah hasil panennya. Walau ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai PNS dan wiraswsta. bidang pertanian di Malang masih memegang peranan cukup strategis. (Anonymous, 2005).

Hasil pengamatan Tim PKMM menunjukkan bahwa masyarakat di desa Tegalgondo belum memiliki kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap anak mengenai responsibilitas anak usia dini dalam menghadapi permasalahan. Kebanyakan orang tua masih sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga waktu untuk anak –pun banyak tersita. Kebutuhan anak akan perhatian dari orang tua pun menjadi sangat kurang. Ketika anak mendapat masalah, anak akan cenderung menyimpan sendiri permasalahannya. Dan menyebabkan rendahnya responsibility terhadap permasalahan yang dihadapi ataupun dengan lingkungan sekitarnya.
G. 3. Gambaran Umum Anak-anak yang Menjadi Sasaran Program
Anak-anak yang menjadi sasaran program Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al-Masyithoh) Tegal gondo Malang usia (4-5 th).
Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut diatas, anak yang tinggal di desa tegal gondo, dengan kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap anak ternyata berdampak pada pola pikir anak.

H. Metode Pelaksanaan Program
Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegalgondo Malang
terdiri dari beberapa tahap:
H.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
– Persiapan tim pelaksana (berupa pemantapan kemampuan teori maupun praktek)
– Persiapan materi yang akan disampaikan kepada peserta pelatihan.
– Persiapan fasilitas yang akan diberikan kepada peserta berupa, kokart/tanda pengenal, stiker, sertifikat, kaos serta poster untuk publikasi.
– Pendataan dan konfirmasi peserta, pemateri atau tenaga pelatih di luar Tim PKMM (yaitu dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dan HMJ Biologi FKIP-UMM yang telah menyatakan kesediaannya menyukseskan program ini.
H.2 Tahap Pelatihan
– Pelatihan akan dilakukan selama satu kali dalam satu minggu.
– Dalam pelatihan ini peserta akan diberikan berbagai materi yaitu menyangkut pentingnya Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia, penerapan The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions. Pelatihan dilakukan melalui dua bentuk:
a. Outbond (diluar ruangan, lingkungan sekolah )
b. Di dalam ruangan yaitu (untuk penyampaian materi dokumenter tentang, , gambar).
– Peran aktif, partisipasi, kerjasama dan sosialisasi antar peserta menjadi perhatian utama
H.2 Tahap Pendampingan
– Pendampingan dilakukan setelah peserta mengikuti kegiatan pelatihan berlangsung selama dua setengah bulan
– Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang berupa pelatihan tentang NLP serta penerapannya, Penyelesaikan masalah, serta sharing dan permainan. (Kegiatan ini di bawah pantauan dan bimbingan Tim PKMM)
H.3 Tahap Monitoring dan Evaluasi
– Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim PKMM selama kegiatan pelatihan NLP berlangsung. Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan dan laporan serta setelah masa pendamping selama dua setengan bulan berakhir.
– Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya.
H.4 Tahap Pengembangan
– Pada tahapan ini diharapkan kemungkinan penambahan anggota komunitas serta kemungkinan kerjasama dengan berbagai pihak yang mendukung kegiatan ini.
-
Berbagai tahapan diatas dapat digambarkan secara lebih singkat sebagai berikut:

I. Jadwal Kegiatan Program

No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan X X
2 Pelatihan X
3 Pendampingan X X X X X X X X X X
4 Monitoring Evaluasi X X X X X X X X X X X
5 Pengembangan X X
6 Laporan akhir X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Faridha Khaira Hasniy
NIM : 04330043
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Siswati
NIM : 04330048
Alamat : Jl. Tirto Utomo No. Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
3. Nama Lengkap : Sholihah
NIM : 04330057
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4. Nama Lengkap : Dewi Oktaviana
NIM : 04330049
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Sri Wahyuni, M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III C/ Penata dan
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Anatomi Fisiologi Manusia
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya

1. Bahan habis pakai
a. Kertas @Rp.30.000×2 Rp. 60.000;
b.Tinta Print @rp.30000×2 Rp. 60.000;
c. CD dan Disket Rp. 20.000;
2. Peralatan penunjang PKM
a. Film dokumenter lingkungan, foto-foto, gambar Rp.140.000;
b Stiker @1000×40 Rp.300.000;
c. Kokart/tanda pengenal @1000×40 Rp. 40.000;
d. Kaos @20.000×30 Rp.600.000;
e. Sertifikat 2000×30 Rp. 60.000;
3. Transportasi
a. Tim PKMM @ 5.000,- x 6×10 Rp. 250.000;;
4. Lain-lain
a. Konsumsi selama program
– Tim PKMM @ 5.000,- x 3x5x10 Rp. 750.000;
-Pemateri/Pelatih/undangan @10.000x3x6 orang Rp. 180.000;
b. Dokumentasi Rp. 200.000;
c. Spanduk dan publikasi Rp. 280.000;
d. Evaluasi dan Monitoring Program Rp. 300.000;
e. Pengembangan program Rp. 200.000;
f. Laporan akhir Rp. 280.000;
g. Sewa peralatan pengamatan lingkungan dan outbond Rp. 600.000; +
Total Biaya Rp. 6.000.000,-

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | Tinggalkan komentar

POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

1) Judul Program
POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

2) Latar Belakang Masalah
Upaya memanfaatkan sumber energi terbarukan merupakan bagian penting dalam program deversifikasi energi sebagai akibat semakin menipisnya cadangan energi dan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Hal tersebut harus dilakukan karena kebutuhan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi terus mengalami peningkatan sehingga dalam beberapa tahun akan terjadi kelangkaan minyak bumi.
Biodiesel memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai subtitusi dari minyak diesel. Biodiesel yang merupakan minyak nabati yang diperoleh dari tumbuhan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Keunggulan dan kelebihan biodisel antara lain (1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, (2) Cetane number lebih tinggi (>60) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik, (3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, (4) Biodegradable (dapat terurai), (5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui, (6) Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (BPTP, 2006).
Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (reneweble fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit, minyak jagung dan minyak nabati lainnya. Secara agronomis tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal. Akan tetapi masih ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial (Puslitbang Perkebunan, 2006).
Sebenarnya di Indonesia ditemukan banyak keragaman plasma nutfah jarak pagar, namun variasi tersebut diduga hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata (Mardjono et al., 2006). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir dengan irradiasi sinar gamma telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi. Diharapkan melalui proses poliploidisasi tersebut dapat diperoleh peningkatan keragaman genetik sekaligus usaha untuk mendapatkan peningkatan potensi hasil minyak tanaman jarak pagar.

3) Perumusan Masalah
Penerapan mutasi secara kimia untuk mendorong terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar lokal Indonesia belum ditemukan laporannya. Karena itu, penerapan mutasi kimia menggunakan senyawa colchicine untuk mengembangkan tanaman jarak pagar poliploid diharapkan dapat diperoleh keragaman genetik baru dari tanaman jarak pagar terutama yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman jarak pagar yang sudah ada.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1). Seberapa besar keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda?
2). Takaran larutan colchicine pada konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar?

4) Tujuan Program
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda, (2) menentukan takaran konsentrasi colchicine yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar.

5) Luaran Yang Diharapkan
Luaran hasil penelitian yang diharapkan adalah (1) diperolehnya jenis baru dari tanaman jarak pagar khususnya dengan ploidi yang berbeda dari sebelumnya; (2) diperolehnya informasi konsentrasi yang efektif bagi terbentuknya poliploid pada tanaman jarak pagar.

6) Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini adalah (1) dapat membantu meningkatkan keragaman genetik tanaman jarak pagar yang sangat bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman; (2) dapat memberikan informasi teknik mutasi khususnya duplikasi kromosom atau perubahan ploidi pada tanaman jarak pagar.

7) Tinjauan Pustaka
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiacae. Genus Jatropha memiliki 175 spesies, dan dari jumlah tersebut lima spesies ada di Indonesia, yaitu Jatropha curcas L dan Jatropha gossypiifolia yang sudah digunakan sebagai tanaman obat. Jatropha integerrima Jacq, Jatropha multifida dan Jatropha podagrica Hook digunakan sebagai tanaman hias. Jatropha curcas L. menarik minat para ilmuwan karena sifat minyaknya yang dapat digunakan untuk substitusi minyak diesel atau solar (Puslitbang Perkebunan, 2006). Kandungan minyak pada biji jarak pagar berkisar antara 25–30%, 30-40%, 30-45%, 40-58% berat kering dan bahkan ada menyatakan yang mencapai 66,4% (Adebowale dan Adedire, 2006; Hariyadi, 2005; Lele, 2005; Pambudi, 2006, Puslitbang Perkebunan, 2006).
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah jarak pagar yang cukup tinggi, namun variasi tersebut mungkin hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata. Penelitian di BALITTAS telah berhasil mengidentifikasi beberapa genotipa dari NTT, NTB, Jatim, Jateng dan Lampung, namun hasil panen yang diperoleh masih rendah yaitu berkisar antara 154,90-315,63 kg/ha karena tanaman belum berumur satu tahun (Mardjono et al., 2006). Kajian berikutnya diperoleh informasi 7 aksesi jarak pagar yang memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha) (Sudarmo et al., 2007). Sampai sekarang belum ada varietas unggul maupun klon jarak pagar yang dilepas ke petani (Anonymous, 2005; Sudarmo et al., 2007; Media Kita, 2006), sehingga sumber benih masih mengandalkan pengumpulan dari petani di berbagai daerah (Hariyadi, 2005). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi.
Autotetraploid secara alami dihasilkan melalui kejadian duplikasi secara spontan dari genom 2x menjadi 4x. Secara artifisial autotetraploid diperoleh melalui perlakuan mutasi mengunakan colchicine. Tanaman autotetraploid dapat menguntungkan secara komersial karena pada tanaman tersebut terjadi peningkatan jumlah kromosom yang mengakibatkan pertambahan ukuran sel, ukuran bunga, buah, stomata dan bagian-bagian tanaman lainnya. Hal tersebut disebabkan terjadinya kenaikan produk dari aktifitas gen (protein atau RNA) yang proposional dengan kenaikan jumlah gen dalam sel (Anthony et al., 2000).
Organisme poliploid umumnya lebih besar dibandingkan dengan organisme diploid, tetapi tidak normalnya proses berpasangan dari kromosom homolog pada saat meiosis menyebabkan beberapa organisme poliploid menjadi steril (Anthony et al., 2000). Namun demikian, persilangan antara dua spesieas yang berbeda yang diikuti dengan penggandaan kromosom melalui perlakuan mutasi dengan colchicine menghasilkan hibrida poliploid yang fertil (Anthony et al., 2000).

Variasi pada tanaman poliploid juga meningkat akibat peristiwa nondisjunction (segregasi yang tidak normal dari kromosom pada saat meiosis atau mitosis). Variasi juga dapat ditimbulkan oleh ketidakseimbangan gen atau tidak sempurnanya kromosom (Anthony et al., 2000). Peningkatan tersebut juga terjadi karena autotetraploid mempunyai dua kali lipat salinan gen per lokus dibandingkan pada populasi diploid maupun allotetraploid (Brown dan Young, 2000).
Poliploidi buatan tersebut merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil minyak esensial maupun metabolit sekunder berbagai jenis tanaman (Tsevtkov Raev, 2006). Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30%-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact, 2007).
Autotetraploid buatan yang diperoleh melalui perlakuan mutasi dengan colchicine merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi minyak esensiel tanaman vetiver (2n=20). Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang dan lebih tebal. Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Peningkatan hasil tersebut juga berkaitan dengan peningkatan senyawa metabolisme sekunder (Lavania, 1988). Induksi poliploid tanaman lavender menghasilkan minyak 3-5 kali lebih banyak dan diikuti dengan peningkatan kualitas minyak yang dihasilkan dibanding diploid (Urwin, Horsnell, dan Moon, 2005).
Peningkatan ploidi dapat diketahui dengan adanya peningkatan ukuran stomata daun tanaman yang telah diperlakukan. Poliploidi yang dihasilkan juga dapat dideteksi melalui tingkatan DNA dengan flow-cytometry. Hasil deteksi DNA tersebut sama dengan hitungan jumlah kromosom sel ujung akar (Mi-Seon Kim et al., 2003).
Metode lain yang juga sering digunakan untuk membedakan ciri-ciri suatu individu secara molekuler adalah studi isozim, restriction fragment length polymorphism (RFLP), random amplified polymorphism DNA (RAPD), dan simple sequence repeat (SSR). Penerapan suatu metode harus diketahui terlebih dahulu optimasinya. Kemampuan membedakan genotip individu di dalam species maupun beberapa genotip secara tepat sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Karakter morfologi dan fenotip telah banyak dipergunakan, namun sifat kuantitatif umumnya dikendalikan banyak gen dan sangat dipengaruhi lingkungan sehingga perbedaan antar species berkerabat dekat seringkali sulit diamati. Kebanyakan karakter sulit dianalisis karena tidak memiliki sistem pengendalian genetik yang sederhana. Penggunaan penanda molekuler seperti alozim, RFLP dan RAPD dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Pemakaian marka molekuler berdasarkan pola pita DNA telah banyak digunakan untuk menyusun kekerabatan beberapa individu dalam spesies maupun kekerabatan antar spesies. Penggunaan kekerabatan dapat dijadikan rujukan dalam pemuliaan persilangan untuk mendapatkan keragaman yang tinggi dari hasil persilangan. Penggunaan marka DNA dapat membantu pelaksanaan pemilihan tetua persilangan yang memiliki perbedaan tinggi secara genetik (Correa, 1999). Perkembangan teknik PCR dalam bidang biologi molekuler terjadi dengan cepat setelah ditemukan teknik pelipat gandaan bagian genom tanaman pada beberapa lokus yang berbeda menggunakan primer arbitrari, yang dikenal dengan Random Amplified Polymorphic DNA (Welsh dan McClelland 1990). Pola pita DNA yang dihasilkan pada teknik RAPD sangat konsisten bagi kebanyakan primer dan teknik ini telah digunakan pada berbagai tanaman seperti padi, jagung, kopi serta pada tanaman anggrek (Orozco-Castillo et al. 1994 ; Hoon-Lim et al. 1999).
Salah satu keuntungan analisis keragaman menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi PCR adalah kuantitas DNA yang diperlukan hanya sedikit. Selain itu, dalam teknik RAPD tingkat kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi, atau dengan kata lain teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian DNA yang beragam. Penerapanan metode RAPD telah berhasil digunakan untuk membedakan keragaman genetik secara molekuler tanaman anggrek Phalaenopsis yang telah dimutasikan dengan memberikan perlakuan berbagai konsentrasi colchicine (Zainudin, 2007). Penelitian awal terkait dengan analisis molekuler keragaman genetik tanaman jarak pagar telah diperoleh informasi tentang prosedur isolasi DNA menggunakan Sodium Dudocyl Sulfate yang menghasilkan DNA genom jarak pagar dengan kualitas cukup baik dan sesuai untuk proses amplifikasi melalui proses PCR (Zainudin dan Maftuchah 2006), serta rangkaian suhu optimal serta beberapa primer yang sesuai dalam proses amplifikasi DNA jarak pagar lokal Lamongan dan Karangtengah (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Pemakaian beberapa primer RAPD yang berukuran 10 basa telah terbukti menghasilkan sidik jari DNA RAPD tanaman jarak pagar dengan tingkat polimorfisme tinggi dengan jumlah 4 sampai 12 pita DNA (Maftuchah, 2006).

8) Metode Pelaksanaan Program
Penelitian ini akan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo. Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Pusbang Biotek UMM.
Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama 5 (lima) bulan. Bahan tanam awal yang akan ditanam berupa benih jarak pagar yang diperoleh dari Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo.
Metode penelitian yang akan diterapkan untuk penelitian di lahan adalah percobaan lapang menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan yang diujikan terdiri dari dua faktor:
Faktor I: Jenis Tanaman Jarak Pagar
J1 : Lokal Asembagus
J2 : Lokal Kediri
Faktor II: Penetesan Titik Tumbuh Kecambah dengan Beberapa Konsentrasi Colchicine
K0 : Tanpa penetesan larutan colchicine
K1 : Penetesan larutan colchicine 0,1%
K2 : Penetesan larutan colchicine 0,3%
K3 : Penetesan larutan colchicine 0,5%
Berdasarkan kedua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali.
Kombinasi perlakuan yang diperoleh adalah:
J1K0 = Jarak pagar lokal Asembagus tanpa penetesan colchicine
J1K1 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J1K2 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J1K3 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,5%
J2K0 = Jarak pagar lokal Kediri tanpa penetesan colchicine
J2K1 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J2K2 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J2K3 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,5%

Tahap penelitian yang akan dilakukan meliputi:
(1) Penyiapan Benih Hasil Penyerbukan Sendiri (Selfing)
Tahap kegiatan ini diawali dengan penentuan pohon jarak pagar yang dipilih untuk materi penelitian dilanjutkan dengan penutupan bunga menggunakan kantong kain kasa agar terjadi penyerbukan sendiri (selfing) dari masing-masing pohon terpilih. Pohon yang terpilih dipemelihara sampai saat panen buah yaitu kulit buahnya sudah berwarna kuning kecoklatan serta diperoleh benih untuk disemaikan pada tahap berikutnya.

(2) Produksi Bibit Generasi M1 Hasil Perlakuan Colchicine
Kegiatan tersebut diawali dengan penyemaian benih hasil panenan sebelumnya yang telah dikeringkan tidak langsung di bawah terik matahari. Penyemaian dilakukan pada polibag ukuran 2 kg yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1. Selama menunggu tumbuhnya benih tersebut dilakukan penyiapan larutan colchicine dengan cara menimbang serbuk/kristal colchicine masing-masing 0,1 g (100 mg); 0,3 g (300 mg); dan 0,5 g (500 mg) untuk masing-masing perlakuan konsentrasi 0,1%; 0,3% dan 0,5%; kemudian ditambah alkohol 90% sebanyak 10 tetes sampai larut dan ditambah aquades sampai volume 100 ml. Benih yang sudah berkecambah sebanyak sepuluh kecambah untuk tiap kombinasi perlakuan ditetesi larutan colchicine pada titik tumbuh kecambah yang tumbuh dan membuka kotiledonnya. Penetesan larutan colchicine dilakukan selama 8 kali pada pagi hari (05.30 wib) dan sore hari (17.00 wib) selama empat hari berturut-turut.
(3) Analisis dan Evaluasi Morfologi Bibit, Pertumbuhan Vegetatif bibit dan Anatomi Jaringan Daun Jarak Pagar Generasi M1
Kegiatan tersebut dilakukan setelah bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan penetesan larutan colchicine telah menumbuhkan minimal lima helai daun sejati.
Pengamatan morfologi meliputi: 1) kejadian pigmentasi (warna batang, warna daun, warna tulang daun), 2) bentuk daun, 3) persentase jumlah bibit yang tumbuh dibandingkan total benih ditanam, 4) tinggi bibit, diukur mulai permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi, 5) diameter pangkal batang, diukur menggunakan jangka sorong.
Pengamatan anatomi jaringan daun bibit tanaman jarak pagar (generasi M1) tiap perlakuan dengan cara membuat preparat sayatan daun bagian bawah untuk mengamati ukuran stomata menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer. Stomata yang teramati dipotret untuk menunjukkan perbandingan kenampakan stomata dari tanaman kontrol dengan tanaman yang sudah diperlakukan dengan colchicine.

(4) Analisis Pola Sidik Jari DNA Berdasarkan Penciri RAPD Bibit Tanaman Generasi M1,
Analisis ini dilakukan terhadap daun muda bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan yang sudah tumbuh (generasi M1) yang mengindikasikan terjadinya poliploidi yaitu ukuran stomatanya lebih besar dari daun tanaman kontrol. Proses analisis molekuler tersebur terdiri dari:
a) Isolasi DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar diisolasi dari daun muda bibit tanaman jarak pagar generasi M1. Prosedur isolasi dan purifikasi DNA genom dari daun tanaman jarak pagar dilaksanakan berdasarkan metode Sambrook (1989) yang telah dimodifikasi dengan menggunakan buffer ekstraksi sodium dudocyl sulfate (Zainudin dan Maftuchah, 2006). DNA hasil isolasi yang telah dimurnikan, dihitung konsentrasinya dengan spektrofotometer. DNA dilarutkan dengan TE dan disimpan dalam suhu 40C. DNA genom tanaman jarak pagar hasil isolasi DNA selanjutnya dideteksi melalui proses elektroforesis pada 1% gel agarosa dengan voltase 100 V dengan waktu running selama 1 jam diteruskan dengan dilakukan pemotretan gell dengan polaroid. DNA genom tersebut telah siap dipergunakan sebagai cetakan (template) dalam reaksi Polimerase Chain Reaction.
b) Proses PCR DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar dipergunakan sebagai cetakan (template). Primer yang dipergunakan dalam reaksi PCR ini adalah sepuluh primer RAPD yang masing-masing berukuran sepuluh basa (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Volume total reaksi PCR yang dipergunakan adalah sebanyak 25 l, terdiri dari campuran larutan yang terdiri dari DNA taq polimerase dan 10x buffer Taq Polimerase (100 mM Tris-Cl, pH 8.3; 500 mM KCl; 15 mM MgCl2; 0.01 % gelatin); dNTP’S mix (dGTP, dATP, dTTP dan dCTP) (Pharmacia); dH2O dan 30 ηg DNA cetakan. Kondisi untuk reaksi PCR dirancang sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan: pre denaturasi 94oC (2 menit), suhu Denaturasi 94oC (1 menit), Annealing 37oC (1 menit) dan perpajangan 72oC (2 menit) (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Siklus reaksi PCR diulang sebanyak 40 kali.
c) Visualisasi Hasil PCR
Hasil amplifikasi DNA genom tanaman jarak pada proses PCR dideteksi dengan Elektroforesis Gel Poliakrilamid yang dilanjutkan dengan pewarnaan perak (silver staining). Pola pita inilah yang digunakan untuk deteksi polimorfisme alel DNA RAPD. Fragmen DNA produk PCR dideteksi dari pola pita yang berbeda hasil elektroforesis setelah diwarnai mengggunakan metode pewarnaan perak (silver staining) menurut petunjuk Guillemet and Lewis (Tegelström, 1986), yang telah dimodifikasi. Metode ini cukup efektif dalam mengurangi back ground dan meningkatkan sensitivitas.
d) Deteksi Alel-alel RAPD Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
Analisis sidik jari DNA–RAPD dilaksanakan berdasarkan jumlah, frekuensi dan distribusi alel-alel DNA berdasarkan penanda RAPD. Fragmen dideteksi dari pola pita DNA yang berbeda hasil elektroforesis gel agarose dari produk PCR. Penentuan posisi pita DNA dilakukan secara manual (Leung et al., 1993). Beberapa hal yang dilakukan untuk memudahkan pengamatan: 1) Seluruh pita DNA dengan laju migrasi yang sama diasumsikan sebagai lokus yang homologus, 2) Masing-masing pita DNA ditandai (dapat menggunakan tinta berwarna), tiap tanda mewakili satu posisi pita DNA tertentu, yang dilakukan dengan menempelkan plastik transparan pada foto gel, 3) Bila jalur DNA yang dibandingkan terpisah satu sama lain, maka dapat digunakan bantuan alat (misal mistar) untuk membantu menentukan posisi pita DNA, 4) Data profil DNA merupakan data alel yang teramati dengan ketentuan ada dan tidaknya pita DNA berdasarkan ukuran produk PCR pada satu posisi yang sama dari beberapa individu yang dibandingkan.
Pita yang muncul pada gel diasumsikan sebagai alel RAPD. Keragaman alel RAPD ditentukan dari perbedaan migrasi alel pada gel dari masing-masing individu sampel. Berdasarkan ada atau tidaknya pita RAPD, profil pita diterjemahkan ke dalam data biner, untuk penyusunan matriks data biner yang diturunkan menjadi matriks kemiripan genetika (Nei dan Li, 1979). Analisis pengelompokan dan pembuatan dendogram dilakukan menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi 1,8. Derajad ketelitian data UPGMA dianalisis dengan analisis bootstrap menggunakan program WinBoot. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat diperoleh pula informasi spesifik untuk tanaman jarak yang telah diberi perlakuan colchicine.

9) Jadwal Kegiatan Program

Bulan Ke…
No. KEGIATAN 1 2 3 4 5
1. Pemilihan, Penyiapan, pemeliharan pohon induk untuk proses selfing
2. Proses Penyerbukan Sendiri (Selfing)
3. Pemeliharaan buah dan penanganan benih
4. Penyemaian benih hasil selfing
5. Penyiapan dan perlakuan colchicine pada kecambah
6. Pemeliharaan bibit dan tanaman generasi M1
7. Analisis morfologi, pertumbuhan bibit dan anatomi jaringan daun jarak pagar generasi M1
8. Isolasi DNA genom, Reaksi PCR, Deteksi alel-alel RAPD tanaman jarak pagar generasi M1
9. Analisis data dan penulisan laporan

10) Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Estherina Noventhi Subandi
b. NIM : 04710006
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jln. WR Supratman Gang I No.43 RT 01 RW 01 Tulungagung 66212, Telp. O355-328005 / HP. 085233049828
g. Alamat Malang : Perum Landungsari Asri Blok C-79 Malang, Telp. 0341-462354
h. E-mail : Alvent@yahoo.com
i. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA Bidang Pendidikan dan Penalaran
2. HMI (Anggota)

2. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Denny Prasetyo
b. NIM : 05710004
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Ngelgok-Blitar 66181 JATIM
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 27 Landungsari Malang-JATIM, HP. 085649721722
h. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA (Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda (Sekretaris Umum)

3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Ari Kusuma Wardani
b. NIM : 06710038
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 9 Landungsari-Malang-JATIM, Telp. 0341-468682, HP. 085645283301
h. Pengalaman Organisasi : 1. HMJ Agronomi (anggota)
2. Tapak Suci (Kabid. Kesejahtera-an)

11) Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Agus Zainudin,MP.
2. NIP : 105.9109.0238
3. Golongan Pangkat dan : IIIc / Penata
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : -
6. Fakultas/Program Studi : Pertanian / Agronomi
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Bidang Keahlian : Pemuliaan Mutasi Tanaman
9. Waktu untuk kegiatan : 8 jam/minggu

12) Biaya
No. Kebutuhan Penelitian Besar Biaya (Rp)
1. Bahan habis pakai
a. Benih tanaman jarak pagar 1 kg 50.000.00
b. Media tanam, pupuk, pestisida 150.000.00
c. Colchicine 250 mg, alkohol, aquades 750.000.00
d. Proses Isolasi DNA genom 1.000.000.00
e. Proses PCR RAPD 2.100.000.00
2. Peralatan penunjang PKM
a. Sewa sarana-prasarana laboratorium 650.000.00
b. Sewa sarana-prasarana kebun koleksi 250.000.00
3. Perjalanan (Malang-Asembagus 4 kali, Malang-Karangploso 4 kali) 700.000.00
4. Lain-lain (Dokumentasi, Analisis data, pelaporan) 350.000.00
JUMLAH 6.000.000.00

13) Daftar Pustaka
Anthony J.F., Griffiths, Jeffrey H. Miller, David T. Suzuki, Richard C. Lewontin, William M. Gelbart, 2000, An Introduction to Genetic Analysis, W.H.Freeman and Company, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/bv.fcgi?call=bv.View.ShowSection&rid=iga.section.3058
Biopact. 2007. Polyploid technology brings high yield energy crops. http://biopact.com/2007/03/polyploid-technology-brings-high-yield. html

BPPT. 2006. Biodisel. http://ec.bppt.go.id/biodiesel/index.htm

Brown, A.H.D., dan Young, A.G., 2000, Genetic Diversity In Tetraploid Populations Of The Endangered Daisy Rutidosis Leptorrhynchoides And Implications For Its Conservation, Journal Heredity, August Edition 2000, Vol. 85, No. 2, Pages 122-129, http://www.nature.com/hdy/journal/v85/ n2/full/ 6887420a.html

Correa, R. X.,Ricardo V. A., Fabio G. F. Cosme D. C., Maurilio A. M., dan Everaldo G. B., 1999. Genetic Distance in Soybean Based on RAPD Markers. (On line), http://www.scielo.br/scielo.php diakses 22 April 2004

Dwimahyani, I. 2006. Pemanfaatan Teknologi Nuklir Dalam Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Biodesesel / Budi Daya Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Tanaman Lorong di Lahan Bermasalah http://www.batan.go.id/mediakita/current/ mediakita.php

Hariyadi. 2005. Budidaya Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Lokakarya prospektif sumberdaya lokal bioenergi. KNRT-Puspiptek Serpong. Jakarta 14-15 September 2007
Hasnam. 2006. Variasi Jatropha curcas L. Infotek Jarak Pagar. Volume 1, No. 2, Februari 2006. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id /index. Php? Option=com_content&task=view&id=38&Itemid=7

Lavania. U.C. 1988. Enhanced productivity of the essential oil in the artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash). Euphytica Volume 38, Number 3 / July, 1988. http://www.springerlink.com/content/k11123l97567khj5/

Maftuchah dan Zainudin, A. 2006. Optimasi proses Polimerase Chain Reaction DNA genom tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Jurnal Tropika.
Maftuchah. 2006. Analisis molekuler tiga aksesi jarak pagar (Jatropha curcas L) berdasarkan penanda Random Amplified Polymorphic DNA Program Penelitian Dasar Keilmuan. DPP-Universitas Muhammadiyah Malang
Mardjono, R., Sudarmo, H., dan Sudarmadji. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Genotipa Terpilih Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar Jatropha curcas L. Bogor 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Media Kita. 2006. Membuat minyak bio-diesel dari jarak pagar. http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php
Mi-Seon Kim, Jae-Yeong, Kim, Jong-Seon Eun, 2003, Chromosome Doubling of a Cymbidium Hybrid with Colchicine Treatment in Meristem Culture, National Horticultural Research Institute, R. D. A., Suwon 440-310, Korea Dept. of Horticultural Science, Chonbuk National Univ., Chonju 560-756, Korea http://www.biolo.aichi-edu.ac.jp/NIOC2003poster/10KoreaCym.pdf

Orozco-Castillo C, Chalmers KJ, Waugh R, and Powell W. 1994. Detection of genetic diversity and selective gene introgression in coffee sing RAPD markers. Theor Appl Genet 87:934-940.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2006. Infotek Jarak Pagar Volume 1, Nomor 2, Februari 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Sudarmo, H., Heliyanto, B., Suwarso, dan Sudarmadji. 2007. Aksesi potensial jarak pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II: Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar di Bogor, 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tsevtkov-Raev, R., R. Jordanov, V. Zheljazkov. Induced Polyploidy In Lavender. 2006. International Society for Horticultural Science. ISHS Acta Horticulturae 426: International Symposium on Medicinal and Aromatic Plants. http://www.actahort.org/members/showpdf? booknrarnr=426_61
Urwin N, Horsnell, J and Moon T. 2005. Improvement of Lavender by Manipulation of Chromosome number. Lavender Bag, 23:5-1. http://www.rirdc.gov.au/comp04/eoi1.html
Welsh J and McCleland M. 1990. Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acids Res. 18:7213-7218
Zainudin A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta Volume 2 Nomor 1: 20-32

14) Lampiran

1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana

Nama : Estherina Noventhi. Subandi
Alamat : Jln. Wr Supratman Gang I No. 43 RT/RW 1/1 Tulungagung 66212
Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung 21 November 1985
Pendidikan:
1. SDN Kampung Dalem 02 Tulungagung Tahun 1992-1998
2. SLTPN 01 Tulungagung Tahun 1998-2001
3. SMUN Kedungwaru 01 Tahun 2001- 2004
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. BEMFA (Anggota Bidang Pendidikan Dan Penalaran)
3. HMI ( Anggota )

2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Denny Prasetyo
Alamat : Jln. Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Nglegok-Blitar 66181 Jatim
Tempat Tanggal Lahir : Blitar 04 Agustus 1986
Pendidikan:
1. SDN Kemloko 01 Tahun 1993- 1999
2. SLTPN 01 Legok Tahun 1999- 2002
3. SMUN 01 Garum Tahun 2002- 2005
Pengalaman Organisasi:
1. BEMFA ( Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda ( Sekretaris Umum)

3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Ari Kusuma Wardani
Alamat : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 06 Januari 1988
Pendidikan:
1. SDN Kerkep Tahun 1994- 2000
2. SLTPN 01 Gurah Tahun 2000- 2003
3. SMUN 01 Plosoklaten Tahun 2003- 2006
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. Tapak Suci ( Kabid. Kesejahteraan)

4. Daftar Riwayat Hidup Dosen Pendamping

Nama Lengkap : Agus Zainudin
Gelar Kesarjanaan : Ir. MP.
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP-UMM : 10591090238
Unit Kerja : Fakultas Pertanian – Univ. Muhammadiyah Malang.
Bidang Keahlian : Pemuliaan dan Genetika Tanaman
Pendidikan Akhir : Pasca Sarjana S-2 Program Studi Agronomi Program Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2003
Alokasi Waktu : 8 jam / minggu
Lembaga : Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang – 65144
Telp. 0341-464318 / 464319 (Ext. 165)
Faximile. 0341-460782 / HP : 08123317247
e-mail: agusz@umm.ac.id / agszain@yahoo.com

A. Riwayat Pendidikan (dari sarjana muda / yang sederajat)
No Universitas/Institut dan Lokasi Gelar Tahun Selesai Bidang Studi
1. Fakultas Pertanian
Univ. Brawijaya , Malang Insinyur 1988 Budidaya Pertanian
2. Program Pascasarjana
Univ. Gadjah Mada,
Yogyakarta Magister
Pertanian 2003 Ilmu Tanaman

B. Pengalaman Kerja
No Institusi / Program Jabatan Periode Kerja
1. Dosen Luar biasa UMM Staff Pengajar 1989 – 1990

2. Dosen Tetap UMM Staff Pengajar 1991– sekarang
3. Lab. Komputer Pertanian Sekretaris 1992 – 1994
4. Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Bioteknologi) UMM Staff Peneliti 1995 – sekarang
5. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Sekretaris 1994 – 1997
6. Badan Pengembangan SDM UMM Sekretaris 2000 – 2003
7. Kebun Percobaan Faperta UMM Kepala Tahun 2003-2005
8 Lembaga Penelitian (Lemlit), Universitas Muhammadiyah Malang Manager Mutu 2005 – sekarang

C. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun Sumber Dana
1. Analisis molekuler tanaman mangga lokal dengan penciri Random Amplified Polymorphic DNA 2007 PDM DIKTI-Depdiknan
2. PCR-RAPD PLB Tanaman Anggrek Phalaenopsis sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine 2006 DPP UMM
3. Produktifitas Tiga Varietas Hibrida Jagung Manis
( Zea Mays Sacharata Sturt. ) Pada Perlakuan Beberapa Dosis Pupuk Kascing 2005 DPP UMM
4. Respon Tiga Varietas Jagung Manis (Zea mays sacharata Sturt.) terhadap Pemberian Pupuk Organik 2004 DPP UMM
5. Kajian Potensi Hasil Buah Apel Batu Pada Sistem Pertanian Organik Dan An-Organik 2004 DPP UMM
6. Respon Beberapa Varietas Tanaman Paprika (Capsicum Annuum Var. Grossum L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Sistem Modifikasi Organic Greenhouse 2003 PDM DIKTI – Depdikbud
7. Induksi Mutagenik Beberapa Varietas Semangka dengan Perlakuan Kolkisin 2003 DPP UMM
8. Kajian Kuantitas dan Kualitas Hasil Beberapa Varietas Padi Sawah dengan Perlakuan Inokulasi Anabaena Azollae dan Pemberian Campuran Pupuk Kandang 2002 DPP UMM
9. Dekomposisi An-aerob Beberapa Limbah Organik dengan Inokulasi Campuran Mikroba Pengurai dan Uji Penerapan Komposnya pada Beberapa Varietas Tomat 2002 DPP UMM
10. Efektifitas Inokulasi Mikroba Tanah terhadap Dekomposisi Beberapa Limbah Organik serta Pengaruh Komposnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat 2001 PDM DIKTI-Depdikbud
11. Respon Beberapa Varietas Padi Sawah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan Pupuk Hayati 2000 DPP UMM
12. Dekomposisi Kotoran Sapi dengan Inokulasi Campuran Mikroba Tanah dan Penggunaan Komposnya pada Tanaman Bawang 1999 DPP UMM
13. Pengaruh Inokulasi Berbagai Jenis Mikroba Tanah pada Dekomposisi Kotoran Sapi dan Pengujiaannya pada Tanaman Bawang Merah 1998 PDM DIKTI
14. Pengaruh Konsentrasi Nitrogen Terhadap Produksi Protein Mikroalga Anabaena azollae 1997 DPP UMM
15. Asosiasi Azolla-Anabaena sebagai Sumber Nitrogen Alami dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Baku Protein 1997 PDM DIKTI
16. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi IR64 1996 DPP UMM
17. Pengaruh Dosis Beberapa jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Semangka 1995 DPP UMM
18. Perlakuan Mutasi dengan Perlakuan Colchicine pada Beberapa Varietas Semangka 1994 DPP UMM

D. Daftar Karya Ilmiah / Publikasi Ilmiah
No Judul Publikasi, Tahun, Media / Jurnal
1. Zainudin, A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 2(1) : 20-32
2. Zainudin, A. 2006. Optimasi Proses PCR-RAPD Pada PLB Tanaman Anggrek Oncidium sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine. GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 1 (2) : 91-103
3. Maftuchah, A. Zainudin, J.B. Sulistiyanto and A.H. Kaswari. 1999. In Vitro Culture of Artemisia (Artemisia vulgaris L.) Through Callus Induction. Proceedings The International Biotechnology Conference. Jakarta.
4. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengujian Berbagai Komposisi Media Selektif Terhadap Daya Tumbuh Sel Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
5. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Kadar Nitrogen dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae Pada Berbagai Konsentrasi Cobalt dalam Medium Bebas Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang.
6. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengaruh Tingkat Kemasaman Media Kultur Terhadap Biomassa dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
7. Zainudin, A. 1996. Pembentukan Semangka Poliploid dengan Perlakuan Mutasi Kimia Menggunakan Senyawa Kolkisin, Tropika II (2): 27-38

Malang, 29 September 2007

Ir. Agus Zainudin, MP.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
– Pelargonidin 3-glukosida
– Sianidin 3-glukosida
– Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
– Pelargonidin 3,5 diglukosida
– Peonidin 3,5 diglukosida
– Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
– Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
– Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
– Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

Pengaruh penggunaan tapiokal aloevera

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh). Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
1. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
2. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka yang mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Di lihat dari kedalaman lukanya, kedua jenis luka di atas merupakan jenis luka superfisial yang bisa di terapi secara topikal.
Penggunaan topikal Aloe vera membantu kecepatan penyembuhan luka bakar derajat II A dan luka lecet, juga mengobati luka pada kulit, beberapa jenis dermatitits, psoriasis, alergi tumbuhan, bisul dan masalah dermatologis lainnya. Penyembuhan dimungkinkan karena Aloe vera mengandung senyawa antiinflamasi, termasuk glikoprotein, salisilat, dan senyawa lain yang merangsang pertumbuhan kulit dan jaringan konektif. (Hafiz, 2003)
Aloe vera merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai penyebaran geografis luas. Hampir 350 persen dari jenis Aloe vera tersebar di seluruh penjuru dunia. Aloe vera banyak tumbuh di tempat yang beriklim panas seperti Indonesia. Cara menanamnya juga tidak terlalu sulit, dan untuk merawatnya juga tidak terlalu banyak syarat. Dalam perkembangannya, Aloe vera banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, kosmetik, industri makanan dan minuman. Aloe vera mengandung sumber gizi dan antioksidan yang bagus dalam memperbaiki metabolisme tubuh.
Selain itu, kandungan vitamin C, E, dan zinc-nyz juga berguna bagi penyembuhan luka. Zat-zat ini juga memiliki efek antifungal dan antibakterial untuk mencegah infeksi pada luka. Sebagai nilai tambah, Aloe vera dapat melembapkan kulit, meredakan nyeri pada lesi, serta merangsang pertumbuhan sel-sel kulit.(Hafiz,2003)
Kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi menjadikan sebagai bahan favorit dalam industri kosmetik, terutama sebagai emolien, penyegar, dan pelembap kulit. Jika digunakan secara teratur, Aloe vera mempercepat luruhnya sel-sel kulit mati dan memperbaharui pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Berkat fungsi bakerisidanya, Aloe vera juga mujarab untuk kulit berjerawat, tidak hanya menyembuhkan tetapi juga meregenerasi kulit. (Hafiz,2003)
Melihat kenyataan bahwa Aloe vera mudah di budidayakan di Indonesia dan telah ada penelitian yang membuktikan bahwa Aloe vera dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dan luka lecet, maka kami ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh penggunaan Aloe vera secara topikal pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka. Untuk mengetahui frekuensi yang efektif untuk meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh penggunaan topikal aloevera pada luka bakar grade II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menilai efek penggunaan topikal Aloe vera pada penyembuhan luka bakar grade II A dan luka lecet.

1.3.2 Tujuan Khusus
• Mengetahui kecepatan pengaruh penyembuhan luka bakar grade IIA dan luka lecet pada pemberian topikal aloevera.
– 1-2 kali sehari
– 3-4 kali sehari
– > 4 kali sehari

1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya tenaga medis mengenai hubungan antara tingkat (frekuensi) penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar dan luka superfisial terhadap waktu penyembuhan luka dan ada-tidaknya bekas luka.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat, khususnya tenaga medis dalam pemilihan atau pemberian terapi penyembuhan luka bakar dan luka superfisial.
c. Sebagai dasar penelitian lanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kulit
Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis, yang merupakan lapisan terluar, dan aksesorisnya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ectoderm embrio. Dermis berasal dari mesoderm. (
Gambar 1. Anatomi kulit
a. Epidermis
Epidermis merupakan epitel pipih (squamose) berlapis, dengan beberapa lapisan yang terlihat jelas. Epidermis terdiri dari epithel squamouse complex cornifikasi. Yang terdapat 4 macam sel yaitu:
• Keratinosit
Sel utama yang merupakan hasil pembelahan sel pada lapisan epidermis yang paling dalam stratum basale (lapisan basal), tumbuh terus kearah permukaan kulit, dan sewaktu bergerak keatas keratinosit mengalami proses yang disebut diferensiasi terminal untuk membentuk sel-sel lapisan permukaan (stratum korneum).

• Melanosit: terdapat pada stratum basale, folikel rambut, jaringan ikat dermis.
Ciri-ciri : – Sel bulat banyak cabang yang disebut dendrite
– Inti bulat, kecil
– Sitoplasma ada melanosom → malanosit → ke sel-sel keratinosit → pigmentasi kulit
 Sel langhans
Lokasi : epitel berlapis pipih pada kulit (stratum spinosum), oesofagus, vagina
Sel : bulat banyak cabang, sitoplasma jernih
Fungsi : imunologi (Ag permukaan)
 Sel Merkel
Lokasi : stratum germinativum kulit tebal
Ciri khas : inti tidak teratur, banyak desmosom
Fungsi : reseptor mekanis.
Lapisan epidermis terdiri dari :
a. Stratum basale: lapisan dengan sel-sel bentuk kubis atau silinder, sering melakukan mitosis untuk pembaharuan epitel setiap 15-30 kali. Hubungan epitel dengan jaringan ikat di bawahnya disebut Hemidesmosom, dengan epitel lain disebut Desmosom.
b. Stratum spinosum: beberapa lapis sel polygonal dengan banyak tonjolan atau spina. Hubungan antar sel disebut desmosom. 1 dan 2 disebut stratum Malphigi.
c. Stratum Granulosum: terdiri dari beberapa lapis sel, dengan bentukan pipih, sejajar di permukaan. Sitoplasma ada butir-butir keratohyalin
d. Stratum Lusidum: dengan lapisan jernih/ homogeny, sel gepeng tidak ada inti atau mati. Struktur sel hilang sehingga menjadi homogeny.
e. Stratum corneum: sel-sel sudah mati, dengan bentukan pipih, menyatu membentuk lapisan tanduk. (Gembong, 1989)
f. Dermis
Dermis merupakan lapisan dibawah epidermis dengan tebal 0,5-3 mm.Ada 2 lapisan pada dermis yaitu stratum papillare dan stratum reticulare. Dermis juga terdapat chromatophori (pigmen dari melanosit) dan M. arector pili berfungsi agar rambut lebih tegak.
a. Stratum papillare: lebih superficial dengan tonjolan-tonjolan yang terdiri dari sabut-sabut kolagen dan elastic seta retikulare. Terdapat akhiran saraf yang disebut nervous papil dan pembuluh darah yang disebut vascular papil.
b. Stratum reticularis: lebih profunda terdiri dari serabut-serabut kolagen dan retikulare dan lebih banyak elastic pada permukaan untuk elastisitas kulit dan lipatan kulit (garis langer). Pada telapak tangan dan kaki membentuk sidik jari. (Gembong, 1989)
Pada kulit terdapat rambut yang berupa benang keratin yang hampir tumbuh di seluruh tubuh yang berasal dari invaginasi epidermis dimana warna dan ukurannya tergantung dari ras, usia, sex, dan lokasi. Struktur rambut antara lain :
– Medula terdiri dari 2-3 lapisan sel kuboid dengan pigmen.
– Kortex beberapa lapisan sel pipih, dengan keratin dan pigmen
– Kutikula lebih superficial ada kornifikasi, tidak ada inti dan sel jernih.
(Gembong, 1989)
Bagian-bagian dari rambut antara lain rambut bebas atau batang rambut, akar rambut atau folikel rambut. Yang didekatnya ada M.arector pili dan kelenjar lemak, juga terdapat bulbus dan papil. Struktur pada rambut dari dalam keluar yaitu medulla, kortex, kutikula, inner rooth sheat: lapisan Huxley dan lapisan Henle, outher rooth sheat, glassy membrane, dan connective tissue sheath. Pada kulit juga terdapat kelenjar-kelenjar yaitu:
1. Kelenjar sebacea/kelenjar lemak : bentuk compound acinar, kelenjar holokrin dan berfungsi meminyaki rambut

2. Kelenjar sudorifera/keringat: dengan bentuk simple coiled tubular dan kelenjar merokrin. Ada juga kelenjar keringat yang apokrin terdapat di axilla dan di papilla mammae (kelenjar montgomerry). (Gembong, 1989)

2.2 Lesi (Luka)
2.2.1 Pengertian atau Definisi Lesi
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan kulit permukaan tubuh). Jenis luka dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Misalnya berdasarkan penyebabnya.
2.2.2 Macam-macam Lesi dan Karateristiknya Masing-Masing
– Secara umum luka dapat di bagi menjadi dua, yaitu luka terbuka dan luka tertutup.
Kebanyakan luka adalah yang terbuka, yaitu dari kulit yang rusak keluar darah dan cairan tubuh lainnya. Di sinilah kuman bisa masuk sehingga bisa menimbulkan infeksi. (Wikipedia, 2007)
Pada luka tertutup, darah keluar dari sistem sirkulasi tetapi tidak keluar dari tubuh sehingga disebut luka dalam. Sifat rudapaksa yang menyebabkan luka menentukan jenis dari luka dan tindakan untuk mengatasinya. Namun apapun jenis cederanya, kita harus selalu menjaga kebersihan secara cermat dan melindungi diri terhadap infeksi. (Wikipedia, 2007)
Sedangkan berdasarkan kategori ini, ada beberapa jenis luka, yaitu:
– ekskoriasi (luka lecet atau gores),
– vulnus scisum (luka sayat atau luka iris),
– vulnus laceratum (luka robek yaitu luka dengan tepi yang tidak beraturan),
– vulnus punctum (luka tusuk),
– vulnus morsum (luka karena gigitan binatang), dan
– combutio (luka bakar).
(Wikipedia, 2007)

2.2.2.1 Luka Bakar
Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalan. Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik. (Settle, 1996)

Klasifikasi
1. Berdasarkan dalamnya luka bakar .
Tingkat I : hanya mengenai epidermis

Tingkat II : dibagi lagi
a. Superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epitelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
b. Dalam; sisa-sisa jaringan epitelial tinggal sedikit, penyembuhan lebih lama 3 – 4 minggu dan disertai pembentukan parut hipertropi

Tingkat III : mengenai seluruh tebalnya kulit, tidak ada lagi sisa elemen epithelial. Luka bakar yang lebih dalam dari kulit pun seperti subcutan, tulang disebut juga tingkat III.

2. Berdasarkan luasnya luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian – bagian 9% atau kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama “Rule of Nine” atau ‘Rule of Wallace”.
Kepala dan Leher 9%
Lengan masing-masing 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18% 36%
Tungkai masing-masing 18% 36%
Genetalia / perineum 1%
Jumlah 100%
3. Berat Ringannya Luka Bakar
Amerika College of Surgeon membaginya dalam :
1. Parah – critical
a. Tingkat II 30 % atau lebih
b. Tingkat III 10% atau lebih
c. Tingkat III pada tangan, kaki, muka
d. Dengan adanya komplikasi pernafasan, jantung, fracture, soft tissue yang luas.

2. Sedang – moderate
a. Tingkat II 15 – 30%
b. Tingkat III 5 – 10%

3. Ringan – minor
a. Tingkat II kurang 15%
b. Tingkat III kurang 5%
(Settle, 1996)
Gambar

Gambar 2. Luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan

Gambar 3. Luka bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.

Gambar.4. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan

Gambar 5. Luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.
Prosedur Penanganan Luka Bakar
Prosedur Lengkap IRD :
1. Panggil dokter jaga yang bertugas di unit luka bakar.
2. Lakukan penanganan seperti menangani kasus gawat darurat pada umumnya, yaitu resusitasi sesuai urutan A, B, C.
3. Penderita dengan kriteria ringan diijinkan dirawat di poliklinik (MRS). Sedang yang lain tidak, terkait dengan ancaman shock yang mungkin timbul dan kerusakan yang hebat. Orang-orang tua lebih rentan (fragil) terhadap luka bakar, dewasa muda dengan 30% luka relatif mudah diatasi, sedang luka itu pada orang tua sudah amat parah. Hal ini diantaranya karena sudah terjadi perubahan-perubahan seperti arteriosclerosis, kerusakan jantung, ginjal, dan otak. Begitu juga anak-anak yang amat peka dengan kehilangan cairan.
4. Untuk penderita yang poliklinis (tidak perlu MRS) penderita dilakukan perawatan secara tertutup di IRD dengan :
a. Cuci luka dengan savlon. Kalau luka luas dan kotor dicuci dengan air kran/NaCl 0,9% dulu baru dibilas dengan savlon 1 : 30 (savlon : air steril)
b. Cream silver sulfadiazine atau tulle
c. Diberi antibiotic atas indikasi dan penderita bisa dipulangkan
5. Penderita yang perlu MRS setelah mengisi status IRD, sambil melakukan resusitasi penderita langsung dibawa ke Burn Unit
6. Dipasang IV line, karakter urine. Untuk kasus yang berat (luka bakar > 40%) dipasang CPV dan O2.
7. Cairan :
– Orang dewasa > 20% ) pada tingkat II & III harus diberikan cairan.
– Anak-anak > 15% )
Cairan yang dipilih : Ringer laktat berdasarkan rumus Baxter
– pada dewasa → 4 cc/kg BB/%/24 jam
– pada anak-anak → 2 cc/kg BB/% + kebutuhan cairan basal dengan perbandingan kristaloid : koloid = 17 : 3 (menurut Monerief)
½ nya diberikan 8 jam pertama
½ nya diberikan 16 jam berikutnya
Dalam hal ini semua yang paling penting ialah observasi produksi urine setiap jam.
Bila urine BHT > lidah buaya umur 4 tahun> alfa-tokoferol.Lidah buaya umur 3 tahun menunjukkan aktvitas penangkapan terhadap radikal bebas paling kuat (72,19 persen) dibandingkan BHT (70,52 persen) dan alfa-tokoferol (65,20 persen). (Saada et al., 2003).
Unsur-unsur yang ditemukan pada daun lidah buaya menunjukkan adanya hubungan yang saling sinergis dalam mempertahankan integritas status antioksidan dalam tubuh. Pengujian dengan menggunakan tikus irradiasi yang diberi filtrat jus daun lidah buaya sebanyak 0,25 ml/kg berat badan/hari, selama 5 hari sebelum irradiasi dan 10 hari setelah irradiasi, menunjukkan adanya perbaikan yang nyata terhadap aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase pada organ paru-paru, ginjal, dan jantung. (Saada et al., 2003).
SOD dan katalase merupakan enzim dan sekaligus antioksidan intraseluler yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit. . (Dep.Kes, 2007)
c. Penyembuh Penyakit Kulit
Gel lidah buaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, dan menstimulasi fibroblast, yaitu sel-sel kulit yang bertanggung jawab untuk penyembuhan luka. Publikasi pada American Podiatric Medical Association menunjukkan bahwa pemberian gel aloe pada hewan percobaan, baik dengan cara diminum maupun dioleskan pada permukaan kulit, dapat mempercepat penyembuhan luka. (Dep.Kes, 2007)
Pemberian gel aloe secara oral (diminum) sebanyak 100 mg/kilogram berat badan selama dua bulan dapat mengurangi ukuran luka sebanyak 62 persen, dibandingkan 51 persen pada kelompok kontrolnya (tanpa pemberian gel). Pengolesan krim yang mengandung 25 persen gel aloe pada permukaan luka selama enam hari dapat mengurangi ukunan luka sebesar 51 persen dibandingkan 33 persen pada kelompok kontrolnya. . (Dep.Kes, 2007)
Publikasi pada Journal of Dermatolagic Surgery and Oncology juga menunjukkan bahwa aloe dapat mempercepat penyembuhan pasca operasi. Gel aloe juga dapat digunakan untuk campuran krim facial penyembuhanjerawat. Campuran krim facial dengan gel aloe dapat menyembuhkan jerawat, 72 jam lebih cepat dibandingkan kelompok tanpa aloe. (Dep.Kes, 2007)
Aloe juga dapat digunakan untuk mencegah kerusakan kulit akibat sinar X. Penelitian di Hoshi University Jepang menunjukkan, aloe mengandung senyawa antioksidan yang mampu menyingkirkan radikal bebas akibat radiasi, serta melindungi dua komponen penyembuh luka yang secara alami ada di dalam tubuh, yaitu superoksida dismutase (enzim antioksidan) dan glutation (asam amino yang menstimulasi sistem kekebalan). . (Dep.Kes, 2007)
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pemberian 0,5 persen ekstrak aloe ke dalam krim campuran minyak dan mineral dapat menyembuhkan penyakit psoriasis (sejenis penyakit kulit). (Dep.Kes, 2007)
d. Obat, Makanan, Minuman
Pemanfaatan lidah buaya semakin lama semakin berkembang. Mula-mula lidah buaya hanya dikenal sebagai obat luar, dengan berbagai kegunaan. Di antaranya sebagai penyubur rambut, penyembuh luka (luka bakar/tersiram air panas), obat bisul, jerawat/noda hitam, pelembab alami, antiperadangan, antipenuaan, serta tabir surya alami. (Dep.Kes, 2007)
Daun lidah buaya juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman, berupa sejenis jeli, minuman segar sejenis jus, nata de aloe, dawet, dodol, selai, dan lain-lain. Makanan dan minuman hasil olahan lidah buaya sangat berpotensi sebagai makanan/minuman kesehatan. Hal tersebut disebabkan oleh kombinasi kandungan zat gizi dan nongizi yang memiliki khasiat untuk mendongkrak kesehatan. (Dep.Kes, 2007)
Kegunaan lidah buaya sebagai makanan/minuman antara lain berkhasiat untuk: cacingan, susah kencing, susah buang air besar (sembelit), batuk, radang tenggorokan, hepatoprotektor (pelindung hati), imunomodulator (pembangkit sistem kekebalan), diabetes melitus, penurun kolesterol, dan penyakit jantung koroner. (Dep.Kes, 2007)
Menurut beberapa penelitian, yang paling baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera barbadensis Miller. Lidah buaya jenis tersebut mengandung 75 zat yang dibutuhkan oleh tubuh. . (Dep.Kes, 2007)
Mengingat demikian besar manfaat lidah buaya bagi kesehatan, tidak ada salahnya kita memasukkan produk olahannya ke dalam pola makan sehari-hari. (Dep.Kes, 2007)

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Narasi:
Aloe vera digunakan secara topikal pada luka bakar derajat IIA dan luka lecet. Karena Aloe vera dapat meningkatkan kelembapan kulit, sedangkan pada kaeadaan lembap kulit mengadakan epitelialisasi dengan cepat, dan enzim protease lebih mudah menyingkirkan jaringan nekrosis. Sehingga luka akan lebih cepat sembuh.

3.2 Hipotesis
Ada pengaruh penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan design ”The Posttest Only Control Group Design”. Adapun skema desainnya sebagai berikut.

Keterangan :
Kelompok P1: diberikan aloevera secara topikal 1-2 kali sehari
Kelompok P2: diberikan aloever secara topikal 3-4 kali sehari
Kelompok P3: diberikan aloevera secara topikal > 4 kali sehari
Kelompok X : kontrol normal
O= Observasi

4.2 Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi diambil dari tikus varian winstar, dengan penyamaan ciri subyek sebagai berikut :
1. Jenis kelamin jantan
2. Tikus dewasa dengan umur antara 10-11 minggu
3. Berat tikus antara 300-500 gram
Penentuan jumlah sampel setiap kelompok menggunakan rumus sebagai berikut :
(t-1)(r-1) ≥ 14
dengan t (treatment) sebanyak 4, maka didapatkan r (ulangan) ≥ 6.
Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus,yaitu :
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka bakar derajat II A yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka lecet yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
Maka untuk 8 kelompok percobaan diperlukan 48 ekor Rattus novergicus.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama Empat bulan

4.4 Variabel dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Tergantung
Luka bakar tingkat IIA dan luka lecet
4.4.2 Variabel Bebas
Aloevera
4.4.3 Definisi Operasional
(luka) : Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh).
a. Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
3. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
4. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Lidah buaya (Aloe vera) : merupakan tanaman family Liliaceae yang daging (gel-nya) digunakan secara topikal (perlakuan) pada proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini lidah buaya yang digunakan adalah varian Barbadensis miller.
 Frekuensi penggunaan : frekuensi penggunaan lidah buaya terhadap luka bakar dan luka superfisial secara topikal, yaitu :
a. P1 = 1-2 x sehari
b. P2 = 3-4 x sehari
c. P3 = > 4 x sehari
 Kecepatan penyembuhan : lama hari luka tertutup epithel seluruhnya, yaitu :

4.5 Prosedur Penelitian (Tekhnik Pengumpulan Data)
Mengumpulkan tikus dan membatasi tikus yang akan diteliti yaitu tikus jantan dengan usia 10-11 minggu dan berat badan 300-500 gram. Kemudian tikus dibius dimasukkan ke dalam kotak yang berisi kapas yang telah dicelup ke dalam ether, lalu bulunya dicukur dengan ukuran 3×3 cm2. Setelah itu tikus diberi perlakuan dengan membuat luka pada kulit tikus berupa luka lecet dan luka bakar derajat II A.
Luka lecet dibuat dengan menggunakan amplas kertas dengan ketebalan 0,5 mm dan dilakukan dengan cara mengusapkan amplas yang permukaannya kasar pada kulit tikus yang sudah dicukur bulunya. Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
Luka bakar derajat II A dilakukan dengan cara menempelkan paku usuk dengan diameter kepala 1 cm selama 2-3 detik. Dimana sebelumnya paku tersebut sudah direbus dengan suhu 100°C selama 5 menit. Paku direbus menggunakan bunsen Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
.Setelah 1 jam, luka pada Rattus novergicus dioleskan getah Aloe vera yang telah sebelumnya diiris setebal 2 cm.Perlakuan diberikan dengan rincian sebagai berikut: Kelompok X : kontrol normal Kelompok. P1: diberikan Aloe vera secara topikal 1-2 kali sehari. Kelompok P2: diberikan Aloe vera secara topikal 3-4 kali sehari. Kelompok P3: diberikan Aloe vera secara topikal > 4 kali sehari.
Pemberian Aloe vera diulang secara kontinyu sampai luka sembuh (epitelialisasi sempurna) dan waktu penyembuhan pada masing-masing tikus dicatat.
4.6 Metode Analisa Data
Agar hipotesis dapat diuji , maka dilakukan analisa statistik dengan menggunakan independent t-test, One Way ANOVA.

4.7 Jadwal Kegiatan Program
Pada dasarnya penelitian ini efektif dilaksanakan dalam jangka waktu 4 bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV
Minggu Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan Kegiatan
Penyusunan Laporan
Presentasi Hasil Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Anto.2007.Luka Bakar.available from http/www. Asiamaya.com.URL.acces at google.com.
Arikunto, Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : Rineka Cipta.Halaman108-109.
Sudjana.2002.Metoda Statistika.Bandung: Tarsito.(Hal.299-302)
Fenlon. 2007. Critical Care&Pain. London : British Journal of Anasthesi.(Hal.50-75)
Hafiz, Ida.2003. Aloe vera untuk Penampilan. Jakarta : Healthylife. Edisi 10/11. Halaman 36.
Rofieq, Ainur.2006. Penelitian Eksperimen. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Konsep Dasar Statistika. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kesehatan. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Sabiston, David C.1994. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. Halaman 76-99.
Settle. 1996. Principles and Practice Burn Management. New York : JAD.Halaman 98-109.
Sulisetiono.2006.Statistika.Malang: Universitas Negeri Malang. Halaman 12, 118.
Suwati, Irma. 2006. Proposal Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Suwati, Irma. 2006. Tehnik dan Prosedur Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Tjitrosoepomo, Gembong. 1989.Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.Halaman 7-75.
Unknown.2007.Panduan Mencari Jodoh.available from http://www.myjodoh.net. URL. acces at http://www.google.com.
Unknown.2007. Manfaat Lidah Buaya. available from http://www.DepKes. co.id. URL. acces at http://www.google.com.
BIODATA KETUA PELAKSANA PKM PENELITIAN

Nama Lengkap : RESTU PAMUJINING TYAS
Tempat Tanggal Lahir : Sumedang, 30 Oktober 1987
Suku Bangsa : Sunda
NIM : 05020029
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Raya Ciherang RT 03 / RW 02, Sumedang.

PENDIDIKAN
1. 1993 – 1999 : SDN Sukaraja 1 Sumedang
2. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Sumedang
3. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Sumedang
4. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA ANGGOTA PELAKSANA PKM PENELITIAN

1. Nama Lengkap : WIFAQ THALIB
Tempat Tanggal Lahir : Pamekasan, 29 Juli 1987
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020017
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Wijaya Kusuma Atas No.3 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 2 Barkot
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 2 Pamekasan
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Pamekasan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

2. Nama Lengkap : HOTIMAH
Tempat Tanggal Lahir : Pontianak, 27 September 1988
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020043
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 2A No.51 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 1 Pontianak
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Putusibau
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Putusibau
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

3. Nama Lengkap : SESANTI
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 8 Nopember 1986
Suku Bangsa : Jawa
NIM : 05020037
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 1 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN II Karanggeneng Lamongan
b. 1999 – 2002 : MTs Assalaam Solo
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri I Lamongan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

4. Nama Lengkap : CHURIN INFI AFIDATINA
Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 15 Maret 1989
Suku Bangsa : JAWA
NIM : 06020081
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Bader 1 Bendomungal-Bangil, Pasuruan

PENDIDIKAN
e. 1994 – 2000 : MI Al-Fatah Kedung Pandan
f. 2000 – 2003 : SMP Negeri 2 Bangil
g. 2003 – 2006 : SMA Negeri 4 Pasuruan
h. 2006 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA DOSEN PENDAMPING PKM PENELITIAN

Nama dan Gelar : Ruby Riana Asparini, dr., Sp.BP.
Tanggal Lahir/Jenis Kelamin : Jakarta, 16 September 1968 / Perempuan
Alamat Rumah : Perumahan Belimbing Indah Blok A6 No.11
Fakultas/Jurusan : Kedokteran
Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Pendidikan :
 Ijasah Sekolah Dasar : tahun 1981
 Ijasah SMP : tahun 1984
 Ijasah SMA : tahun 1987
 Ijasah Dokter : tahun 1993 Universitas Airlangga
 Microsurgery course : 2004

Riwayat Pelatihan :
1. Microtia Referat DJ Forum Ilmiah Sabtu JBPI
2. Van der Woude:case series Case report MSNJBPI
3. Tahapan penanganan CLP Text Book reading Forum Ilmiah Sabtu22-03-2003
4. Skin Coverage in Acute Trauma Hand Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu19-04-2003
5. Facial FlapsTextbook reading Forum Ilmiah Sabtu07-06-2003
6. The Fate of Dorsal Metacarpal ArteryJournal Reading Forum Selasa08-07-2003
7. Electrical Burns Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu09-08-2003
8. Burn Management-General ManagementTextbook Reading Forum Selasa09-09-2003
9. Heparin in the Treatment in Burn Jounal reading Forum Ilmiah Sabtu08-11-2003
10. Congenital Hand DeformityTextbook reading Forum Selasa24-11-2003
11. Burn Treated with and without Heparin Journal reading Forum Selasa02-12-2003
12. Craniofacial Dysostosis Syndrome Textbook reading Forum Selasa09-02-2004
13. Anatomy of the Eyelids& ptosis Textbook reading Forum Selasa30-03-2004
14. Paired Abdominal Flap: case series Case report ISD Forum Ilmiah Sabtu PIT PERAPI Medan20-05-2004 Hand Course Jakarta20-08-2004
15. Tendon Transfer Textbook reading Forum Selasa 10-08-2004
16. Deepithelized Fasciocutaneous FlapsJournal Reading Forum Selasa07-09-2004
17. Experience with the seven flap-plasty for the contracture release Journal Reading Forum Selasa09-11-2004
18. Treatment of a neck burn contracture with a super-thin occipito-cervico-dorsal flap Journal reading Forum Selasa12-04-2005
19. Blow Out fractureText book reading Forum Sabtu11-06-2005
20. Finger Tip Injury Text book reading Forum Sabtu15-10-2005
21. Tendon Injury Text book reading Forum Sabtu19-11-2005
22. Rhinoplasty Text book reading Forum Sabtu22-10-2005
23. Blepharoplasty Text book reading Forum Sabtu21-01-2006
24. Universal Dermal Mastopexy Journal reading Forum Selasa14-03-2006
25. Double eyelids blepharoplastyJournal readingForum Selasa04-04-2006
26. The “Anterior-Only” Approach to Neck Rejuvenation- An Alternative to Face Lift SurgeryJournal readingForum Selasa02-05-2006

Riwayat Pekerjaan :
 Klinik Pusura 1994
 Rumah Sakit Bayangkara 1994
 Rumah Sakit Gatoel 1995
 PTT Puskesmas Bugul Pasuruan 1996-1999
 Staf Bedah PPD UMM 2007-sekarang
Riwayat Penelitian :
1. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Proposal DP, Prof Indri Safitri Forum Sabtu 17-09-2005
2. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri MABI Makasar 06-07-2006
3. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri Medical Research Unit 19-08-2006
4. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Dan Epitelialisasi Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar KARYA AKHIR DP, Prof Indri Safitri Forum Jumat 08-09-2006
5. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi Penelitian DP, Prof Indri Safitri PIT PERAPI Bali 23-05-2006

Rencana Anggaran

Agar terlaksananya Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang kami laksanakan membutuhkan dana dari DIKTI, dengan rincian sebagai berikut :

Penyusunan Proposal
a. Rental Komputer Rp. 200.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Proposal Rp. 100.000
e. Flash Disk Rp. 300.000

Alat dan Bahan
a. Tikus varian Winstar Rp. 1.000.000
b. Scalpel Rp. 200.000
c. Kandang Tikus Rp. 1.000.000
d. Penggaris Rp. 50.000
e. Bunsen Api Rp. 500.000
f. Makanan tikus Rp. 500.000
g. Lidah Buaya (Aloe vera) Rp. 100.000

Analisa Data
a. Biro Analisa Statistik Rp. 500.000

Akomodasi
a. Transportasi Rp. 200.000
b. Konsumsi Pelaksana 5 Orang Rp. 300.000
c. Dokumentasi Rp. 100.000

Penyusunan Laporan
a. Rental Komputer Rp. 250.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Laporan Rp. 100.000

Total Biaya Pelaksanaan Rp. 5.700.000

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

A. Judul Program

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

B. Latar Belakang Masalah

Melahirkan seorang bayi merupakan suatu anugerah bagi sebuah keluarga. Karena itu menunjukkan bahwa mereka dapat mendapatkan keturunan yang sangat diharapkan dalam sebuah keluarga dan yang mereka harapkan adalah melahirkan bayi yang sehat. Salah satu faktor melahirkan bayi yang sehat adalah dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh tubuh pada ibu hamil untuk menjaga kehamilannya tersebut. Soetjiningsih (1995) mengatakan bahwa gizi ibu yang baik diperlukan agar pertumbuhan janin berjalan pesat dan tidak mengalami hambatan, dimulai dari sel telur yang dibuahi hingga menjadi janin didalam rahim. Karena tidak semua ibu hamil memperhatikan kebutuhan gizi yang diperlukan saat hamil karena kurangnya pengetahuan mereka tentang hal tersebut. Sehingga menyebabkan banyaknya angka kematian ibu hamil pada saat persalinan.
Dimulai dari konsepsi hingga melahirkan, ibu dan anak merupakan satu kesatuan yang erat dan tak terpisahkan. Kesehatan ibu, fisik maupun mental, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungannya. Agar bayi yang sehat dapat dilahirkan dalam dengan selamat, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh hanyalah melalui pemeliharaan kesehatan ibu. Pengalaman dari beberapa generasi menunjukkan bahwa kerawanan dan ketergantungan janin pada ibu mengarah pada adanya kebutuhan dan perawatan khusus selama kehamilan.
Sejalan dengan kemajuan zaman, hasil kehamilan yang diharapkan tidak hanya bayi yang sekedar hidup, tetapi juga bayi yang sehat. Hal ini merupakan bukti peninggalan tanggung jawab sosial dan moral masyarakat. Bahwa gizi yang baik sangat berperan dalam proses yang efisien. Yang dapat dibuktikan dari hasil pengamatan waktu musibah, dalam keadaan demikian tidak datangnya haid pada wanita usia subur tidak jarang dijumpai. Dampak lain yang juga dapat di catat adalah meningkatnya angka lahir mati, angka kematian lahir dini, serta menurunnya berat lahir rata-rata (Aebi, H & R. G. Whitehead, 1980).
Kematian yang terjadi pada tahun pertama setelah kelahiran hidup disebut kematian bayi. Kematian bayi dan anak sampai umur lima tahun relatif sangat tinggi. Hal ini erat hubunganya dengan kemampuan orang tua dalam memberikan pemeliharaan dan perawatan pada anak-anaknya. Karena faktor sosial ekonomi berkaitan dengan kemampuan tersebut, maka kematian bayi dan anak sering kali digunakan sebagai indikator taraf kesehatan dan taraf sosio ekonomi penduduk (United Nation, 1973). Pengetahuan mereka mengenai makanan yang bergizi hanya berpatokan pada karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin saja. Sedangkan seperti zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh pada saat persalinan jarang mereka perhatikan. Sehingga berdampak pada banyaknya kurang darah pada saat hamil dan berpengaruh pada bayi yang akan dilahirkannya.
Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi turun, sakit kepala, mudah terserang penyakit, mata berkunang-kunang. Selain itu wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku penderita sangat pucat (Soetjiningsih, 1997). Kalau anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak nafas bahkan lemah jantung.
Selain kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan gizi kurang yang menyebabkan ibu hamil menderita anemia, juga disebabkan oleh status sosial ekonomi keluarga yang minim. Dimana seorang ibu hamil sangat membutuhkan suatu asupan gizi yang sangat banyak. Tetapi dengan keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, maka ibu tersebut kurang mendapatkan gizi yang seharusnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan janin, atau bisa juga mengakibatkan kematian pada ibu tersebut pada saat persalinan. Setyowati (2003) menyatakan bahwa berbagai gangguan akan dialami wanita hamil dan janinnya, jika Si ibu menderita anemia. Pengaruh kurang baik ini berlangsung selama kehamilan, saat persalinan atau selama memasuki masa nifas dan masa laktasi serta waktu selanjutnya.
Ibu hamil dengan penderita anemia kemungkinan akan melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) atau bisa jadi salah satu penyebab kematian ibu hamil di karenakan adanya pendarahan pada saat persalinan. Ariawan (2001) menuturkan bahwa anemia gizi pada kehamilan adalah kondisi ketika kadar hemoglobin lebih rendah dari pada normal karena kekurangan satu atau lebih nutrisi esensial.
Perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu-ibu penderita sudah banyak dilakukan di Negara maju. Hal ini dapat terlihat dalam bertambahnya tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) ibu hamil. Dibandingkan dengan di Negara berkembang, yang mana perbaikan gizi dan kesehatan yang dilakukan masih minim sekali, keadaan tersebut dapat mempengaruhi berat lahir yang berbeda secara bermakna.

NO BBLR Negara Maju (%) Negara Berkembang (%)
1 prematur 3,3 6,7
2 KMK /dismatur 2,6 17,0
Sumber : Villar 1982, dikutip dari Gould JB 1986.

Dengan demikian diperlukan suatu tinjauan tentang banyaknya ibu hamil yang menderita anemia yang mana dapat berpengaruh terhadap banyaknya angka kelahiran berat bayi lahir rendah. Sehingga dapat mempermudah dalam pemberian perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu hamil, khususnya bagi penderita anemia. Sehingga akan dapat mengurangi banyaknya angka kematian yang terjadi, baik pada ibu yang melahirkan atau pada bayi yang di lahirkan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu :
1. Berapa rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang ?
2. Adakah pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah ?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajanag
2. Mengetahui adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah

E. Luaran yang di Harapkan

1. Ingin menghasilkan sebuah data tentang ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang.
2. Ingin menghasilkan sebuah artikel tentang pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Haryoto Lumajang

F. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah :
1. RS Daerah Lumajang
Sebagai bahan informasi terhadap pelayanan kesehatan, khususnya kepada ibu hamil yang menderita anemia, dalam hal pemberian tablet penambah zat besi.
2. Dinas Kesehatan
Sebagai bahan informasi dinas terkait untuk melakukan suatu penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu hamil, sehingga tidak meningkatkan angka kematian pada ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya.
3. Masyarakat umum
sebagai suatu sarana untuk menambah pengetahuan tentang kesehatan, sehingga dapat menambah asupan gizi yang dibutuhkan pada saat kehamilan.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya, meskipun ada beberapa perbedaan pada obyek dan variabel yang diteliti.
Menurut WHO (1968), kejadian anemia hamil berkisar antara 20 persen sampai dengan 89 persen, dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Sehingga angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi.
Muhilai Djumadias A. N, (1979), juga mengemukakan bahwa sekitar 70 persen ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi. Pada pengamatannya lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat Indonesia adalah karena kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi. Selain itu di daerah pedesaan banyak di jumpai ibu hamil yang malnutrisi atau kekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi yang rendah, serta banyaknya kehamilan dibawah usia 18 tahun atau kehamilan diatas usia 35 tahun ().
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dalam penelitiannya Iskandar (1998), mengemukakan, bahwa persentase ibu hamil yang menderita anemia sudah mengalami penurunan, yaitu dari 73,7 persen pada tahun 1986 menjadi 51,3 persen pada tahun 1995. namun dengan adanya krisis, diramalkan tingkat anemia ibu hamil akan meningkat pada tahun 1999 sampai dengan tahun-tahun berikutnya apabila tidak dilakukan adanya peningkatan gizi. Disamping itu, dalam penelitiannya yang lain yang dilakukan di jawa barat menunjukkan bahwa persentase tersebut akan terus meningkat karena banyaknya sistem penanganan kegawat daruratan di rumah sakit malah sering memeperburuk situasi. Sistem penanganan kegawat daruratan yang dimaksud adalah dalam persediaan tablet zat besi serta kurang lancarnya komunikasi antara petugas dengan pasien.
.
2. Landasan Teori

a. Anemia pada Kehamilan

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi dan asam folat dalam makanan ibu. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional, karena dapat mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, serta mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil biasanya disebut dengan “potential denger to mother and child” yaitu suatu potensial yang membahayakan ibu dan anak. Pada umumnya anemia pada ibu hamil disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi yang sangat pesat dikarenakan kebutuhan janin akan zat besi sangat besar, juga karena bertambahnya volume darah pada plasma darah sehingga menurunkan Hb pada sel darah merah (Anonymous, 1984).
Menurut Kartaji, Sri, Kusin, I.A (1981) mengemukakan bahwa makanan yang banyak mengandung zat besi adalah sayuran berdaun hijau, sedangkan ikan dan buah-buahan dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Sedangkan untuk penambahan asam folat banyak terdapat pada makanan pokok dan umbi-umbian.
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai dengan 40 mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan maka akan semakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis. Sebagai gambaran berapa banyak zat besi pada setiap kehamilan, dibawah ini terdapat berbagai kebutuhan dari zat besi yang diperlukan.
Meningkatkan sel darah merah : 500 mgr
Terdapat dalam plasenta : 300 mgr
Terdapat dalam janin : 100 mgr
Jumlah : 900 mgr
Setelah persalinan dengan lahirnya dan perdarahan, ibu akan kehilangan zat besi sekitar 900 mgr. Saat laktasi ibu masih memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik. Sehingga banyak didapat adanya ibu yang meninggal atau bayi yang meninggal (INACG, 1979).
Terjadinya anemia gizi pada ibu hamil dapat berawal dari seorang ibu yang dilahirkan oleh ibu penderita anemia gizi, yang selama masa pertumbuhan hingga kehamilannya tidak mendapat sumber zat gizi yang cukup, maupun pelayanan kesehatan yang mungkin diperlukannya, sehingga dia selalu menderita anemia gizi. Alasan lain adalah adanya kehamilan yang berulang-ulang dan dalam selang waktu yang relatif singkat, sehingga cadangan zat besi ibu seakan –akan dikuras guna memenuhi kebutuhan janin atau akibat perdarahan pada waktu bersalin. Keadaan terakhir tersebut akan semakin parah apabila masih ditambah dengan adanya pantangan terhadap beberapa jenis makanan, terutama yang kaya akan zat besi selama kehamilan (WHO, 1968).

b. Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin

Pengaruh Anemia pada Kehamilan
a) Bahaya selama kehamilan
1. Dapat terjadi abortus
2. Persalinan prematuritas
3. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
4. Ketuban pecah dini (KPD)
5. Mudah terjadi infeksi dan sepsispuer peralis
6. Lemah dan anoreksia
7. Pendarahan
8. Pre eklamsi dan eklamsi

b) Bahaya saat persalinan
1. Gangguan his- kekuatan mengejang
2. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar
3. Kala kedua berlangsung lama hingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan
4. Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonea uteri
5. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri

Pengaruh Anemia tehadap Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan adanya anemia maka akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat adanya anemia pada ibu, maka dapat terjadi gangguan pada janin dalam bentuk:
a) Abortus
b) Terjadi kematian intrauterine
c) Persalinan prematuritas tinggi
d) Berat badan lahir rendah
e) Kelahiran dengan anemia
f) Dapat terjadi cacat bawaan
g) Bayi mudah terserang infeksi sampai kematian perinatal
h) Intelegensi rendah (cacat otak)
i) Kematian neonatal
j) Asfiksia intra partum
(Manuaba, 1998)

c. Nutrisi Ibu Hamil dan Pertumbuhan Janin

Pertumbuhan janin didalam kandungan merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan intrauterine. Pada semua mamalia, perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada tubuh ibu selama kehamilan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pertumbuhan janin.
Pada umumnya, pada ibu – ibu yang hamil dengan kondisi kesehatan yang baik, dengan reproduksi yang normal, tidak sering menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra- hamil maupun pada saat hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat dari pada ibu – ibu yang kondisinya tidak seperti yang disebutkan diatas. Kurang gizi yang kronis pada masa kanak – kanak dengan atau tanpa sakit yang berulang-ulang, akan menyebabkan bentuk tubuh yang “stunting atau kuntet” pada masa dewasa. Ibu-ibu yang kondisinya seperti ini lebih sering melahirkan bayi BBLR yang mempunyai vitalitas rendah dan kematian yang tinggi, lebih-lebih apabila ibu tersebut juga menderita anemia. Terdapat hubungan antara bentuk tubuh ibu, sistem reproduksi, dan sosial ekonomi terhadap pertumbuhan janin. Selain yang disebutkan diatas tersebut, berat badan lahir (BBL) bayi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain selama kehamilan. Misalnya sakit berat, komplikasi kehamilan, kurang gizi, keadaan setres pada ibu hamil, dapat mempengruhi pertumbuhan janin melalui efek buruk yang menimpa ibunya, atau juga pertumbuhan plasenta dan transport nutrisi ke janin (Soetjiningsih, 1995).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor resiko BBLR. Yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi factor ibu, janin, dan plasenta. Diantara faktor-faktor tersebut, masalah anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan merupakan salah satu faktor resiko adanya indikasi kelahiran premature, BBLR, dan peningkatan kematian prenatal (Najoan, N.W, 2002).
Tambahan makanan untuk ibu hamil dapat diberiakn dengan cara meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas makanan ibu sehari-hari, bisa juga dengan memberikan tambahan formula khusus untuk ibu hamil atau menyusui. Adanya kenaikan volume darah akan meningkatkan kebutuhan zat besi (terbanyak) dan asam folat (lebih sedikit). Jumlah elemental Fe pada bayi baru lahir meningkatnya volume darah adalah 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. dengan perkataan lain kebutuhan Fe selama kehamilan kurang dari 1 gram, terutama dibutuhkan pada setengah akhir kehamilan. Pada diet yang adekuat kandungan Fe yang diperlukan sekitar 10 – 15 mg, dimana hanya sekitar 10 – 20 % yang diserap. Sehingga Fe pada diet hanya memenuhi sedikit kebutuhan Fe pada ibu hamil. Oleh karena itu di perlukan adanya penambahan suplemen Fe.
Untuk pertumbuhan janin yang memadai diperlukan zat-zta makanan yang adekuat, dimana peranan plasenta besar artinya dalam transfer makanan tersebut. Pertumbuhan janin yang paling pesat terjadi pada stadium akhir kehamilan, plasenta bukan sekedar organ untuk transport makanan yang sederhana, tetapi juga mampu menseleksi zat-zat makanan yang masuk dan proses lain atau resistensi sebelum mencapai janin. Suplai zat-zat makanan kejanin yang sedang tumbuh tergantung pada jumlah darah ibu yang mengalir ke plasenta dan zat-zat makanan yang diangkutnya. Efisiensi plasenta dalam mengkonsentrasikan, mensintesis dan transport zat-zat makanan menentukan suplai makanan ke janin. Karbohidrat merupakan sumber utama bagi janin dan ini diperoleh secara kontinu dari transfer glukosa darah ibu melalui plasenta.
Pentingnya gizi pada ibu hamil telah diketahui sejak lama, dimana gizi ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu maupun bayinya. Diet ibu yang baik sebelum hamil maupun selama hamil akan memberikan dampak yang positif yaitu bayi yang lahir dengan berat badan cukup, sehat dan mortalitasnya rendah (Soetjiningsih, 1995).

d. Akibat Gizi Kurang pada Janin dan Bayi

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, seperti infeksi selama dalam kandungan, kurang gizi ibu, penyakit ibu selama kehamilan, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan serta kelainan pada saluran kencing. Di Negara-negara berkembang gizi kurang pada ibu dan infeksi dalam kandungan merupakan factor yang terpenting. Jika taraf konsumsi ibu selama kehamilan kurang dari 1800 kalori sehari, angka prevelensi lahir rendah akan lebih tinggi (WHO, 1979). Menurut badan kesehatan dunia (WHO) bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 g termasuk bayi dengan lahir rendah (Sterky & Mellander, 1978).
Prematuritas (belum cukup bulan) adalah kelahiran kandungan dibawah 37 minggu. adalah bayi dengan lahir rendah daripada yang seharusnya menurut usia kandungan. Belum ada statistik yang menggambarkan prevalensi berat badan bayi lahir rendah (BBLR) secara rasional di masing-masing negara. Berat bayi lahir juga di pengaruhi oleh tinggi badan ibu, dengan kata lain ibu-ibu yang pertumbuhan dan perkembangannya sewaktu kanak-kanak terhambat oleh gizi kurang, efisiensi fisiologinya lebih rendah daripada ibu-ibu dengan cukup gizi sewaktu kecil (Hytten & Leith, 1971).
Menurut Arief Mansjoer (1999), pada BBLR sering ditemui adanya refleks menghisap / menelan lemah, bahkan kadang-kadang tidak ada, bayi cepat lelah, saat menyusu sering tersedak atau malas menghisap, dan lain-lain. Sehingga angka kesakitan dan kematiannya tinggi.

e. Peran Pelayanan Kesehatan

Faktor penyebab dari tingginya kematian ibu, bayi, dan anak ini tidak lain disebabkan karena belum memadainya pelayanan kesehatan masyarakat dan keadaan gizi. Diluar faktor pencetus lainnya yang memperkuat masalah ini seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan.
Dari segi potensial, salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif untuk pencegahan kematian dan kesakitan ibu adalah pelayanan prenatal, khususnya ditempat yang status kesehatan umum wanitanya buruk. Pelayanan kesehatan prenatal mempunyai beberapa fungsi utama yaitu :
a. promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktifitas pendidikan
b. melakukan skrinning, identifikasi wanita dengan kehamilan resiko tinggi dan merujuknya jika perlu
c. memantau kesehatan selama kehamilan dalam usaha mendeteksi dan mencegah masalah yang terjadi
Pendidikan kesehatan selama pelayanan prenatal dapat diberikan secara individu dan informal atau sistematis dalam kelompok. Materi pendidikan mencakup topik umum seperti gizi dan perawatan selama kehamilan. Kesempatan itu harus digunakan untuk memberikan informasi pada wanita mengenai tanda yang berbahaya dalam kehamilan. Termasuk langkah yang harus diambil pada keadaan tersebut.
Pemantauan pelayanan prenatal yang penting adalah pencegahan, deteksi dan pengobatan anemia yang berperan penting dalam kesakitan dan kematian ibu. Walaupun demikian, pemeriksaan hemoglobin untuk deteksi anemia seringkali sangat tidak memuaskan. Kemungkinan ini terjadi karena pemeriksaan tidak dilakukan di puskesmas tempat pelayanan prenatal, tetapi justru pada rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, atau kalaupun dapat, kemungkinan rumah sakit gagal untuk mengirimkan hasilnya ke puskesmas. Masalah yang berhubungan dengan prosedur seperti ini perlu diketahui dan diatasi agar pelayanan kesehatan prenatal dapat memerangi anemia secara efisien (Royston, 1994).
Merupakan aib bangsa Indonesia karena banyaknya bayi, anak balita dan ibu melahirkan yang meninggal karena gizi buruk yang seharusnya dapat dicegah apabila posyandu, polindes, puskesmas dapat berfungsi optimal dengan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. Empat masalah gizi utama di Indonesia sebenarnya dapat ditangani dengan baik apabila puskesmas sebagai pusat pelayanan gizi dan kesehatan masyarakat dapat berjalan optimal dan didukung potensi sumber daya masyarakat.
Hasil analisis hubungan antara kemajuan pembangunan ekonomi dan status gizi anak balita selama 20 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi (5 – 7 %). Produksi pangannya cukup memadai bahkan mampu berswasembada. Tetapi anehnya prevelensi gizi kurang – gizi buruk masih tetap tinggi sekitar 30 % bahkan untuk anemia gizi besi untuk ibu hamil masih diatas 50 % dengan hasil bayi yang dilahirkan mencapai 2 % sampai 17 % (Depkes, 1993). Oleh karena itu distribusi tablet zat besi dan penyuluhan manfaat zat besi untuk ibu hamil terus ditingkatkan.
Tujuan pemberdayaan kader posyandu adalah meningkatkan kemampuan dan kinerja kader posyandu sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak. Revitalisasi posyandu diutamakan pada posyandu yang sudah tidak aktif atau rendah stratanya, dan posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin. Adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat baik pimpinan formal maupun informal dalam menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu. Revitalisasi posyandu terdiri dari paket minimal dan paket pilihan. Sampai saat ini masih ada paket minimal yang berupa perbaikan gizi, misalnya pemantauan status gizi, PMT pemulihan untuk gizi buruk, MP – ASI, dan penyuluhan gizi. Paket minimal ini juga melayani kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), imunisasi anak balita maupun ibu hamil, penanggulangan penyakit diare (oralit) (Anonymous, 2004).

f. Hipotesa

Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka pemikiran diatas, maka untuk tujuan penelitian pertama yang berkaitan dengan besarnya rata – rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak dibuat hipotesa penelitian, akan tetapi dijelaskan secara deskriptif. Sedangkan untuk tujuan penelitian kedua dibuat hipotesa penelitian ini sebagai berikut : Terdapat adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

H. Metode Pelaksanaan Program

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk membuat pencatatan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi (Rofieq, 2001). Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan fakta-fakta atau fenomena-fenomena yang terjadi mengenai adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan kesembilan sampai dengan bulan kesebelas di tahun 2007 yang bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang.

3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruan dari obyek penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dan diambil dengan cara atau tehnik tertentu yang dijadikan sebagai obyek yang sebenarnya dalam suatu penelitian (Rofieq, 2001). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.

4. Variabel Penelitian

penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian deskriptif untuk menguji hipotesa yang diajukan, maka dalam penelitian ini terdapat variabel bebas (independent) yaitu ibu hamil yang penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umujm Dr. Haryoto Lumajang. Ibu hamil penderita anemia disini dapat berupa ibu hamil penderita anemia karena faktor dari keturunan atau bawaan dan faktor pada saat hamil kekurangan darah (kekurangan konsumsi zat besi).dan variabel terikat (dependent) yaitu berat badan bayi yang lahir di Rumah Sakit Daerah Lumajang. Berat badan bayi yang lahir disini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) menurut ketentuan dari WHO yaitu kurang dari 2500 gram yang terdapat beberapa faktor penyebab, diantaranya adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan seorang bayi.

5. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi yang dilakukan dengan wawancara kepada dokter atau staf rumah sakit yang berhubungan dengan permasalahan ini sebagai instrumennya. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui observasi pada dokumen-dokumen lembaga yang terkait dengan permasalahan ini pula. Dalam hal ini yaitu Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

6. Analisa Data

a. Tabel frekwensi. Analisa ini digunakan untuk mengetahui prosentase masing-masing alat penilaian banyaknya penderita selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di RS Dr. Haryoto Lumajang. Alat penilaian banyaknya penderita meliputi ibu hamil penderita anemia (X) dan bayi berat badan lahir rendah (Y).
b. Dalam menganalisa metode yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Yaitu terdapat adanya dua macam variabel. Karena dalam penelitian ini untuk mencari adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
1. Rancangan analisa data, yang dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistika yaitu :
o Rata-rata (mean)

o Standart deviations

o Ukuran variabilitas

Keterangan :
merupakan notasi dari penjumlahan data
= rata-rata sampel
= rata-rata populasi
n = jumlah sampel yang diteliti
N = jumlah populasi yang diteliti
S = standart deviations
MD = ukuran variabilitas
2. Uji hipotesa, model yang dapat digunakan dalam menganalisis analisa regresi adalah :
Y = bo + b1x + E
Keterangan : Y : variabel terikat
bo : koefisien
b1x: variabel bebas
Dengan hipotesis yang digunakan adalah :
H0 : b1 0
H1 : b1 0
H0 yaitu tidak terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat
H1 yaitu terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat

Kemudian melakukan uji F. uji ini digunakan untuk melihat signifikan pengaruh variabel X terhadap Y secara bersama-sama dan melakukan uji t untuk mengetahui signifikan pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Taraf signifikan ini diklasifikasikan berdasarkan taraf kesalahan sebagai berikut :
a. SS = sangat signifikan pada taraf kesalahan ( P 0,05 )
Dalam mengoperasionalkan rumus-rumus diatas digunakan soft ware SPSS 10.01 For Windows.

I. Jadwal Kegiatan Penelitian

No
Jenis kegiatan Bulan Ke – 1 Bulan Ke – 2 Bulan Ke – 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
a. pembuatan ijin penelitian di RSU Lumajang
b. menyusun proposal penelititian
c. melekukan observasi di RSU Lumajang
v

v

v

v

v

v

2. Tahap pelaksanaan
a. melakukan wawancara
b. pengumpulan data

v
v

v

v
3. Tahap penulisan
a. penulisan hasil penelitian
b. pengumpulan hasil penulisan

v
v
v

v

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok :
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Welly Andri Puspyantoro
b. NIM : 06.330.054
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

2. Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap : Benni Bakhtiar
b. NIM : 06.330.091
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

3. Anggota Pelaksana 2
a. Nama Lengkap : Abdul Hafid
b. NIM : 06.330.055
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu
4. Anggota Pelaksana 3
a. Nama Lengkap : Retno Suryani
b. NIM : 07330064
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu

K. Nama dan Biodata Dosen Pendamping :

Nama Lengkap dan gelar : DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III/d, Penata Tk I, 104.8909.0118
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : -
Fakultas / Program Studi : FKIP/Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Biologi
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam /minggu

L. Rencana Biaya

No Item Pengeluaran Jumlah
1. Biaya perjalanan
a. Transportasi PP 4 orang x @ 60.000.00
b. Temu wicara 3 kali
c. Akomodasi dan Konsumsi
Rp. 400.000,00

Rp. 300.000,00
Rp. 400.000,00
2. Peralatan penunjang
a. Sewa komputer 3 bulan
b. Dokumentasi
Rp. 300.000,00
RP. 300.000,00
3. Pengeluaran Biaya Lain-lain
a. Pembuatan Proposal
b. Laporan Penelitian
c. Transparansi
d. Foto Copy dan Penjilidan
e. Jurnal
f. Buku
g. Administrasi
Rp. 200.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 250.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 222.500,00
Total Biaya Rp. 3.072.500,00

M. Daftar Pustaka

Aebi, H. and R. G. Whitehead. (eds). 1980. Maternal Nutrition During Pregnancy and Lactation. Nestle foundation Publication Series No. 1, Hans Huber Publ : Bern

Anonymous. 1984. Obstetri Patologi Kehamilan. Elstar Offset : Bandung

Anonymous. 2004. Revitalisasi “ POSYANDU “ dalam Pembangunan Gizi dan Kesehatan Masyarakat. IPB : Bogor

Ariawan. 2001. 80 % Ibu Hamil Menderita Anemia. Suara Merdeka. Semarang

Depkes, RI. 1993. Pedoman Pemantauan Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga : Jakarta

Djumadias. A.N. Muhilai, Darwin Karyadi dan Lg, Tarwotjo. 1979. Kecukupan Kalori, Protein dan Zat Gizi yang dianjurkan untuk Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. LIPI : Bogor

Gould JB. 1986. The Low Birth Weight In Fant, In Falkner F and Tanner JM : Human Growth : A Comprehensive Treatise, 1 st Ed, Plenum Press

Hytten, F. E. and I Leitch.1979. The Physiology Of Human Pregnancy. Edisi Kedua. Blackwell Scientific Publ : Oxford

Intern. Nurt. An. Consultative Group (INACG). 1979. Iron In Fancy and Chilhood. Nutrition Foundation, New York

Iskandar, B. Melwita, dkk. 1996. Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat : Penelusuran Kembali Atas Saksi-saksi Hidup (Determinan Ibu dan Bayi di Jawa Barat). Jakarta : Pusat Penelitian Kesehatan, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia

Kardjati, Sri, Kusin, J. A. “ East Java Pregnancy Study 1981 – 1985 “

Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta

Manuaba, Prof. Dr. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta

Najoan. N.W, Sugiarti. W. 2002. Hubungan Serum Feritin Ibu Hamil Trisemester Ke Tiga dengan Bayi Berat Lahir Rendah. FK Universitas Samratulangi : Manado

Rofieq, Ainur. 2001. Pengantar Metode Penelitian. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Royston, Erica. 1994. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara : Jakarta

Setyowati. 2003. “ Komplikasi Anemia Sering Tak Terduga “. Sriwijaya Post

Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta

_____________. 1997. ASI : Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC. Jakarta

Sterky, G and L. Mellanders. 1978. Birth Weight Distribution and Indicator Of Socio Ekonomic Development. Report From a SAREC / WHO Workshop No. R 2, Uppsala

United Nation. 1973. Determinants and Consequens Of Population Of Economic and Social Affair. Population Trends, vol 1. Population Studies Series No. 50 St/ SOA/ Ser.A/ 50. New York

WHO. 1968. Nutritional Anemia. WHO Techn. Rep. Series No. 405. Ganeva

WHO Region Office For The Western Pasific. 1979. The Health Aspects Of Food and Nutrition. Edisi ketiga : Manila

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

. JUDUL PROGRAM
“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Di Indonesia secara umum tidak dilakukan analisa fenomena dasar ergonomis untuk fasilitas belajar di Sekolah Dasar, menurut Kromer, murid sekolah akan mengalami suatu kondisi discomfort antaral lain: cepat lelah, mudah ngantuk , tekanan pada jaringan tulang belakang berkisar 500 sampai 700 N ( Kroemer, 1995) dari gejala diatas akan berkembang menderita cedera jaringan otot sehingga akan menghambat prestasi akademis di Sekolah. Dari survey awal pada murid Sekolah Dasar Kelas satu dan dua SD Tlogomas I Malang dan MI Miftahul Huda Batu, bahwa banyak murid kelas satu duduk di bangku untuk murid kelas empat keatas sehingga posisi duduk seperti dalam gambar 3 sampai 7.
Dari hasil survey tersebut, akan dilakukan perancangan dan pembuatan prototype bangku ergonomis, untuk murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar. Data yang diperlukan adalah pengamatan dimensi antrophometri secara mendetail tentang murid kelas satu dan dua pada saat posisi posisi duduk, dan berdiri dan dengan pengamatan foto. Pada posisi ini dilakukan pengamatan tentang posisi kaki, leher, tulang belakang, dan lengan.
Hasil yang diharapkan dari penelitian perancangan prototype meja dan bangku ergonomis ini adalah bahwa murid sekolah dasar dapat duduk dengan posisi yang ergonomis sehingga memberikan rasa menurut comfort Kroemer (1995) antara lain; 1. Impresif antara lain warm, softness, luxurious, plush, spacious, supported, dan safe (duduk ada penopang pada tulang belakang, lengan leher dan kaki) 2. Energy tekanan pda jaringan tulang belakang dibawah 300N . 3. Relaksasi (relaxed, resful, at ease, calm) , artinya semua jaringan otot dan tulang adalah bekerja sesuai dengan kondisi alamiah, tidak ada pemaksaan.

C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang diteliti adalah adalah “Bagaimana Merancang dan membuat prototype meja dan bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

D. TUJUAN PROGRAM
Adapun dari tujuan penelitian ini, tujuan sebagai berikut :
1. Mendapatkan data antrophometry muid sekolah dasar kelas satu dan dua.
2. Merancang meja bangku ergonomis Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.
3. membuat prototype meja bangku ergonomis untuk Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran penelitian ini antara lain :
1. Hasil Pengembangan rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
2. Pembuatan hasil rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
3. Penerapan Rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis, sehingga siswa kelas satu dan dua murid lebih nyaman dalam duduk untuk belajar , karena posisi jaringan otot: leher, tulang belakang, lengan, bahu, kaki dan murid sesuai dengan data antrophometrinya.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegunaan Penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Aspek akademis : Menerapkan dan mengkombinasikan teori-teori beberapa mata kuliah Analosa Perancangan Kerja dan Ergonomi.
2. Aspek Siswa Sekolah dasar kelas satu dan Dua: membuat prototype produk meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
3. Menerapkan meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
G TINJAUAN PUSTAKA
Repetitive Strain Injury, RSI atau cedera karena ketegangan sistem jaringan otot secara berulang, yang diakibatkan sistem jaringan otot dan persendian gagal melakukan adaptasi dengan peralatan atau mesin. Contoh pada pada operator komputer adalah kondisi orang duduk dimana kondisi jaringan otot: punggung, lengan, leher dan jemari dipaksakan untuk menekan anak keyboard (lihat gambar 1) dan mengamati tulisan di monitor. Maksud pada jari dipaksakan pada proses mengetik pada keyboard sehinga jaringan otot lengan dan jari dipaksakan meregang (melebihi batas beban jaringan otot yang diperbolehkan) untuk mencapai posisi huruf tertentu kemudian menekannya.

Gambar 1 . Pemaksaan Jaringan Otot untuk Bekerja pada Lengan dan Jari (lihat garis panah) untuk Menekan Huruf pada Key Board Komputer

Gambar 2 Rancangan meja, bangku Ergonomis
Jika dilakukan pengamatan pada jari kita, posisi jari yang paling enak atau nyaman tanpa beban meregang adalah pada posisi jari enak menekuk kedalam, dan jika jari dipaksa meregang, yang akan menyebabkan ketegangan (peregangan/ strain) pada jaringan otot jari dan lengan. Kondisi ini sangat tidak disadari, dan jika berlangsung terus menerus akan menyebabkan cedera (injury), karena jaringan otot akan mengalami perobekan jika hal ini berlangsung lama akan menyebabkan peradangan, dan kegiatan ini terus berjalan (repetitive) maka akan menyebabkan kelumpuhan karena tidak berfungsinya saraf dan otot disebabkan jaringan parut mendominasinya. Kondisi pekerja di Indonesia khususnya siswa SD, kondisinya akan lebih parah karena tidak ada klinik khusus yang menangani kasus Repetitive Strain Injury, RSI. Kondisi siswa SD kelas satu sampai kelas tiga, pekerjaan mereka adalah duduk sangat lama. Pada saat duduk dengan kecenderungan posisi siswa adalah:
1. Pertama jaringan otot leher (leher dipaksakan menegakkan tulang lehernya, dengan menahan berat kepala yang ditekuk mendekati sudut 30o, untuk proses menulis dan membaca, sehingga sistem jaringan otot leher mengalami ketegangan, karena harus menahan berat kepala, lihat gambar 2.

Gambar 3. Posisi Kepala dan Leher Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 3. Posisi Tulang Belakang Siswa SD Saat Proses Belajar Tanpa Bersandar Pada Pungung Kursi
Gambar 4 Posisi Lengan Atas dan Bawah Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 5 Meja Bangku Konvensional SD Muhammadiyah 8 Dau Gambar 6 Meja Bangku Konvensional MI Miftahul Huda Batu

2. Kedua adalah jaringan otot punggung (jaringan otot tulang belakang dipaksakan duduk tanpa disanggah bantal punggung (back supporting chair), sehingga sistem jaringan otot tulang belakang mengalami peregangan berlebihan untuk menahan beban berat tubuh bagian atas, lihat gambar 3).
3. Ketiga adalah sistim jaringan otot bahu, lengan dan jari tangan yang dipaksa untuk melakukan kegiatan menulis dan membaca dimana jarak antara kursi dengan meja bisa terlalu tinggi (murid terpaksa menaikkan lengannya untuk kegiatan ini, lihat gambar 4, sehingga terjadi peregangan otot disekitar bahu lengan dan jari tangan).
4. Keempat adalah sistem jaringan otot kaki, dimana kondisi kaki murid bisa menggantung karena kursi terlalu tinggi, sehingga sistem jaringan otot kaki mengalami ketegangan akibat membawa beban kaki.

ERGONOMI
Definisi Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari kalimat latin ergon, yang berarti kerja dan nomos, artinya aturan/ hukum alam, sehingga ergonomi adalah aturan kerja, yaitu aturan kerja yang diterapkan pada proses kerja antara manusia dan alat kerja dimana alat kerja dapat membantu kenyamanan (kondisi alamiah dari posisi pekerja dalam melakukan pekerjaannya, misalnya duduk dengan konsisi enak tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tangan, punggung ada sandaran) dan produktivitas bagi pekerjanya. Perkembangan ergonomi terjadi sekitar pertengahan abad ke-20 mulai berkembang disiplin ilmu tentang perancangan peralatan dan fasilitas kerja yang berdasarkan kondisi fisiologi, yang dikenal dengan Ergonomi, negara di Eropa Barat dikenal dengan istilah Human Factor Engineering atau Human Engineering.) definisi ergonomi yang disebut sebagai “human factor” menurut Sritomo W (1995 : 56) :
1. Penekanan pada keberadaan manusia dan interaksinya dengan produk, perlengkapan, fasilitas, prosedur dan lingkungan kerjanya sehari-hari.
2. Tujuan “human factor” yaitu :
a.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja, termasuk didalamnya usaha memaksimalkan keselamatan kerja dan meningkatkan produktifitas kerja.
b.Untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan termasuk pengembangan keselamatan kerja pengurangan kelelahan dan ketegangan kerja epningkatan kenyamanan dan kepuasan kerja serta pengembangan akulitas hidup.

Gambar Analogi“Mountain of Cumulative trauma partly obscured fog”

Gambar 5. Penelitian Tentang Kursi Ergonomis Dalam OPERATOR COMPUTER
Sumber: TU-Delft Dalam Peter Vink

Gambar meja dan bangku untuk siswa
Kiri adalah kondisi tidak Ergonomis tanpa sandaran kepala dan gambar kanan Kursi ergonomis dengan sandaran kepala, tulang belakang serta posisi kaki yang rileks.

Gambar Atribut kenyamanan dan tidak kenyamanan pada posisi duduk

Gambar tekanan pada tulang belakang
Aspek-Aspek Dalam Perancangan Fasilitas Ergonomi
Dalam melakukan perancangan suatu alat yang ergonomis melibatkan banyak aspek atau faktor yang harus diperhatikan karena fokus utama ergonomi adalah manusia sehingga dalam melakukan perancangan suatu peralatan harus didasarkan pada kemampuan dan keterbatasan terutama yang berkaitan dengan aspek pengamatan, kognitif, fisik ataupun psikologisnya.
Menurut Sritomo Wignjosuebroto (1995 : 58) penelitian ergonomi akan meliputi hal-hal yang berkaitan dengan :
1. Anatomi (struktur), fisiologi (bekerjanya) dan antropometri (ukuran) tubuh manusia.
2. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.
3. Kondisi-kondisi kerja yang dapat menciderai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang ataupun membuat celaka manusia dan sebaliknya ialah kondisi-kondisi kerja yang dapat membuat nyaman kerja manusia.

ANTROPOMETRI
Pengertian Antropometri
Pengukuran antropometri pada dasarnya adalah pengukuran jarak antara dua titik pada tubuh manusia seperti dalam dengan menggunakan suatu alat ukur yang dinamakan antropometer yang dirancang secara khusus untuk mengetahui ukuran-ukuran tubuh manusia atau juga bisa juga digunakan alat ukur standart.
Pengukuran dimensi tubuh atau kondisi fisik satu orang responden dengan lainnya adalah berbeda, hal ini karena faktor-faktor: suku/ ras, umur, jenis kelamin, serta posisi tubuh (posture). Menurut Sritomo Wignjosoebroto (1995 : 62 & 63) pengukuran dimensi tubuh itu sendiri dibedakan dengan dua cara yaitu :
1. Pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) yaitu dimensi tubuh yang diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna)
2. Pengukuran dimensi fungsional tubuh (dynamic anthropometry) yaitu pengukuran yang dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.
Data antropometri ini nantinya akan merupakan pedoman untuk menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan menggunakan/ mengoperasikan produk tersebut.
Rancangan Kursi Kerja Secara Umum
Didalam melakukan perancangan kursi kerja kita harus tetap memperhatikan ukuran antopometri sebagai dasar untuk melakukan desain dan memperhatikan kegiatan/ jenis pekerjaan menulis dan membaca, misalnya jarak meja dengan mata, leher, lengan, lutut pekerja, tulang belakang dan yang lainnya (seperti dalam gambar 6). Kriteria dalam melakukan desain terhadap kursi kerja diantaranya :
1) Tinggi kursi sebaiknya dirancang sesuai dengan ketinggian alas duduk dari

Gambar 6. Kursi Kerja Ergonomis untuk operator komputer

Hal ini penting karena ukuran kursi yang tidak tepat akan berakibat kurang baik terhadap pemakainya baik dari segi desain maupun kesehatan, yang akan dapat mengakibatkan sirkulasi darah terganggu dan kaki cepat lelah.
2) Dari segi kekuatan sebaiknya kursi kerja dirancang sedemikian rupa agar kuat dan serasi dengan menekankan kekuatan pada bagian-bagian yang mudah retak dan sebaiknya dilengkapi dengan sistem mur baut ataupun keling pasak.
3) Sandaran punggung (belakang) ini akan membantu dalam menjaga jaringan otot tulang belakang dan keseimbangan posisi duduk. Dalam pendesainan diharapkan sedapat mungkin sandaran punggung ini disesuaikan/ mendekati kontur tulang belakang. Sandaran punggung ini didasarkan pada ukuran lebar punggung dengan faktor kelonggaran tertentu.
4) Ketinggian sandaran punggung disesuaikan dengan ukuran tinggi siku duduk dengan persentile 95 %.
5) Lebar kursi ditentukan dengan maksud untuk memberikan penyangga pada pinggul sehingga perlu dibuat agak lebar untuk memberikan perasaan nyaman pada pemakainya. Lebar kursi ini diukur dari tepi pinggul ke tepi lainnya dengan menambah kelonggaran dari ketebalan pakaian.
6) Panjang alas duduk diharapkan tidak mengganggu/ menghambat aktifitas yang dilakukan oleh pengguna kursi.
7) Bahan yang digunakan dalam desain kursi ini diharapkan adalah bahan yang mudah dibentuk sesuai dengan desain yang telah dirancang disamping itu bahan juga harus yang mudah didapatkan, tetapi juga harus tetap diperhatikan faktor kekuatannya. Untuk tempat duduk dan sandaran punggung sedapat mungkin diberi material yang cukup lunak dengan harapan dapat mengurangi kelelahan / menghambat segera munculnya rasa lelah dan capek.
Akibat Yang Ditimbulkan Dari Desain Kursi Yang Tidak Ergonomis
Desain kursi yang tidak sesuai dengan dimensi tubuh pemakainya (tidak ergonomis) akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi pemakainya itu sendiri yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi kerja mereka. Akibat dari desain kursi yang tidak ergonomis ini antara lain :
1. Alas kursi yang terlalu pendek akan menimbulkan tekanan pada pertengahan paha, seperti ditunjukkan pada gambar 7.
2. Begitu juga alas tempat duduk yang terlalu panjang juga tidak ergonomis karena berakibat adanya tekanan pada pertemuan betis dan paha atau lipatan lutut sehingga hal ini akan memberikan ketidaknyamanan pada pemakainya, seperti pada gambar 8.
3. Dan apabila alas tempat duduk terlalu rendah akan menimbulkan kelelahan pada tungkai sehingga cenderung mendorong badan ke belakang yang berakibat timbulnya tekanan pada pinggang, seperti ditunjukan gambar 19.
4. Alas tempat duduk yang terlalu tinggi juga tidak baik bagi pemakainnya karena hal ini mengakibatkan tekanan pada telapak kaki, seperti ditunjukkan gambar 10.

Gambar 7. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Pendek
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 8. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Lebar
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 9. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Sempit
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 10. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Tinggi
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Besarnya pencayahaan (Lux) akan berpengaruh terhadap produktifitas pekerja, dengan metode desain ekperimaen di peroleh penerangan 300 Watt, memiliki produktifitas tertinggi jika dibandingkan dengan diatas atau dibawah 300 Watt.( Heri Mujayin, Kholik 2005)
Produktivitas tertinggi pekerja adalah diperoleh warna dinding ruang kerja Kuning dengan penelrangan sebesar 9,675 Lux, kemudian warna hijau dan biru, Produktivitas terendah diperoleh oleh Luminansi warna dinding ruang kerja Hitam sebesar dengan penerangan sebesar 0,8 Lux. (Cukup Santosa, 2004)

H. METODOLOGI PENELITIAN
H.1 Diagram Alir Penelitian
Langkah-langkah untuk menyelesaikan penelitian adalah sebagai berikut:

Diagram Alir Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Studi Lapangan
Studi Lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dan mengetahui kondisi kursi yang akan diteliti, dan study pendahuluan di SD MI Miftahul Huda Batu dan SD Muhammadiyah 8 Dau

2. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mempelajari teori dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah diteliti.
3. Perumusan Masalah dan Tujuan Masalah
Setelah studi literatur langkah selanjutnya adalah identifikasi terhadap permasalahan yang ada.. Penentuan tujuan penelitian sangat penting karena dugunakan untuk menentukan kemana arah pengerjaan penelitian yang akan diselesaikan.
H.2 Pengumpulan Data
H. 2.1 Data Hasil penelitian tahap Pertama
dari data penelitian tahap paertama diperoleh :
1. Data Antrophometri murid kelas satu dan dua, adalah seperti dalam dibawah ini:
2. Gambar rancangan bangku hasil perhitungan antrophometri adalah

Tinggi bahu (B) : ….cm
Lebar pantat duduk (D) :…cm,
Panjang paha duduk (E) : ….cm
Tinggi lutut (F) : …cm

Panjang lengan bawah (G) :….cm
Panjang lengan atas (H) :.. cm
Tinggi badan : cm
]

Gambar Data Antrophometri Murid SD/ MI Kelas satu dan Dua

I.3 Pengolahan Data Dengan Perhitungan Percentil
Pemakaian nilai-nilai percentIl yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data anthropometri (Sritomo; 2003) dapat dijelaskan dalam tabel seperti berikut ini:
Macam Percentil dan cara perhitungannya
Percentil Perhitungan
1 –st
2.5-th
5-th
10-th
50-th
90-th
95-th
97,5 th
99-th -2.325
-1.96
-1.645
-1.28

-1.28
-1.645
– 1.96
-2.325

I.3.1 Perancangan Meja dan Perancangan Bangku
Disini produk dirancang dan dibuat unmtuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, terlebi dahulu harus tetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut kemudian menenkan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, selanjutnya tentukan populasi terbesar yang diantisipasasi, diakomodasikan dan menajdi target utama pemakai rancanagn prosuk tersebut.
I.4 Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
dari penelitian tahap pertama. Hasilnya adalah beberapa gambar desain yang paling sesuai untuk meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Kriteria sesuai adalah berdasarkan dimensi antrophometri dan kepraktisan hasil desain.
Dari desain gambar tersebut akan dipilih satu gambar desain yang akan dibuatkan prototype meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Bahan dari meja dan bangku ini adalah dari pipa baja dan kayu.
I.5 Aplikasi Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam percentiler tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu.
I.6 Pembahasan
Dari data diatas akan dilakukan pengolahan, sehingga dari hasil pengolahan data akan dihasilkan meja bangku ergonomis di sekolah dasar, dengan ditandainya bahwa maereka duduk di meja bangku bisa dengan lebih nyaman. Dengan beberapa pengamatan yang dilakukan antara lain:
1. posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi lengan atas dan bawah pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot .
2. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi kaki pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
3. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi tulang belakang pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
4. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi leher pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
I.7 Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini didapatkan kesimpulan akhir, dimana kesimpulan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Selain itu diberikan saran-saran permasalahan penelitian diatas.

J. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan ini akan dilakasanakan MI Miftahul Huda Batu Malang yang akan direncanakan selesai dalam kurun waktu 3 bulan (Oktober – Desember 2007), dengan jadwal sebagai berikut :
Table 3. Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Survei lokasi X
2 Pengumpulan Data dan Pendefinisian Model Sistem Alur Proses Produksi X X X
3 Pengolahan Data X X X X
4 Pembahasan X X
5 Laporan akhir X X

A. BIODATA PELAKSANA KEGIATAN
a. Ketua Peneliti
Nama Lengkap : Frasis Tiyasari
NIM : 05540054
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
b. Anggota 1 (satu)
Nama Lengkap : Ninik Masturoh
NIM : 05540078
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
c. Anggota 2 (dua)
Nama Lengkap : Zainul Falih
NIM : 04540052
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu

K. BIODATA DOSEN PENDAMPING
Nama Lengkap : Ir. Lukman, MT
Golongan Pangkat / NIP : IV A / 108.9303.291 :
Jabatan Funsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Ilmu Teknologi dan Rekayasa
Waktu Kegiatan : 8 Jam / Minggu

L. PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
No Uraian Jumlah
1 Bahan Habis pakai
a. Disket CD RW
b. Kertas HVS A4 3 rim
c. Injection ink
d. Sewa computer + printer
e. Foto Copy
f. Alat tulis
Rp 50.000
Rp 100.000
Rp 100.000
Rp 350. 000
Rp 100.000
Rp 100.000 Rp 800.000
2 Perjalanan
a. Biaya perjalanan untuk observasi lapangan ( Rp. 50.000 x 3 x 2 kali )
b. Biaya perjalanan untuk pengumpulan data (Rp. 50.000 x 3 x 6 kali )
c. Konsumsi dan Akomodasi
d. Biaya perjalanan supervisi
Rp 300.000

Rp 200.000

Rp 450.000
Rp 300.000 Rp 1.250.000
3 a. Bahan pustaka
b. Download Internet Rp 400.000
Rp 200.000 Rp 600.000
4 Dokumentasi Rp 250.000 Rp 250.000
5 Laporan Penelitian
a. Penggandaan
b. Penjilidan
c. Pengiriman
d. Operasional pembuatan laporan
e. Lain-lain
Rp 400.000
Rp 80.000
Rp 70.000
Rp 300.000
Rp 250.000

Rp 1.100.000
6 Pembuatan Prototype
a. Pembuatan Bangku
b. Pembuatan Meja
Rp 1.250.000
Rp 750.000 Rp.2.000.000

M. LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Acerni Aleigh ,Charleston, 2004: Business Journal.
Amick Benjamin C , Office Ergonomics, University of Texas-Houston School of Public.
Bailey, Robert Ph.D, Human Performance Engineering using Human Factors/ Ergonomics to Achieve Computer System Usability, Prentice Hall, 1989.
Biman Das, Arijit KS. Industrial Work Station Design: A Systematic Ergonomic Approach, Journal Applied Ergonomics UK, Elservaer Science Ltd.
Bridger Rober S, Patrick S, Willams S. Marras, 1998, Spade design Lumbar motion risk low back injury and digging, Ohio State Univesity Columbus USA. IOS Press.
David L. Goestsch, 2002, Occupational Safety And Health for Technologies, Engineer and Manager, Prentice Hall fourth edition.
Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Guna Widya Jakarta.
, Intisari, Febuari 1995.
(IEA) International Ergonomic Association, 2003: Ergonomics for Children and Educational Environments, 2003 IEA Congress, Seoul Korea Education for Children in Ergonomics Technical Committee.
Gerth Alan, 2004,“Office ergonomics A Preventative Approach, Purdue University.
International Journal, 2004Industrial Ergonomics, ELSEVIER,
Julius Panero, Martin Zelnik. Human Demension And Interior Space. The Architecture Press Ltd. London.
Linton,SJ. Hellsing, A-L. Halme,T. dan Akerstedt,K. 1994,The Effects of Ergonomically Designed Scholl Furnioture on Pupils attitudes, symtoms and behaviour, Journal Aplied Ergonomic , Vo. 25, No.5 halaman 200-309.
Kholik Heri Mujayin, 2004, Pengaruh Pencahayaan Ruang Kerja Terhadap Hasil dan Fisiologi Kerja (Study Experimental pada proses perakitan mainan anak-anak).
Kroemer Karl, Henrike Kroemeer,Katrin Kroemer, Elbert, Ergonomic How to Design For ease And Efficiency, Prentice Hall International, 2 nd edition. MacLeod Dan, 1995, The Ergonomics Edge Improving Safety, Quality, and Productivity, Van Nostrand Reinhold.
Mendenhall William.1992, Statistic For Engineering And The Science. Singapore.
2002,Work–Related Musculoskeletal Disorder Injuries in Minnesota a Presentation to The Ergonomics Task Force, Minestosa Departement of Labor and Industry June.
Purwanto, Wahyu. 1991, Peraancangan Cangkul Ergonomis Untuk Meningkatkan Kapasiotas Kerja Aktual Petani dalam Mengolah Tanah Sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta,Thesis, ITB.
Salammia LA,” 1998, Analisis Ergonomi Dalam Perancangan Fasilitas Kerja Unit Finisshing Untuk Pemintalan Tikar Palastik dari Bahan Limbah Di PT. Teja Jaya Utama “ Thesis ITS.
Sastrowinoto,Suyatno, 1985, Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi, Jakarta PT.Pustaka Binaman Pressindo,.
Sanders Mark S, Mc. Cormiek E.J. Human Faktor in Engineering and Design. Sixth Edition. MC Graw Hill. Singapore. 1987.
Santoso Cukup, 2004, Pengaruh warna dinding ruang kerja, gender dan shift terhadap produktivitas (study kasus di laboratorium analisa dan perancangan kerja Teknik industri umm).
Sritomo Wignjosoebroto, 1995, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya Jakarta..
Sunarto Hadi, 2004, Perancangan Ayunan Ynag Ergonomis Untuk Memberikan Kenyamanan dan Keamanan Dalam Bermain di Taman Kanak-kanak, Tugas Akhir TI – UMM.
Thomas Robert E. 2004., Industrial and Systems Engineering, Auburn University Overview of Occupational Safety & Ergonomics.
Walpole Rodald Raymond H Myers,1995, Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan, edisi keempat, penerbit ITB.
William Inger,2002, Proceedings of the XVI Annual International Occpational Ergonomic and Savety Conference.
Vink Peter, 2002, Comfort-Ergonomie-Productonwerp, Faculty of Design, Contruction and Production , Delft University of Technology.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 14 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 944 pengikut lainnya.