BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

DIET THERAPY DIABETES MELITUS

BAB I

PENDAHULUAN

Meningkatnya pendapatan perkapita dan perubahaan gaya hidup terutama di kota besar telah menyebab naiknya angka kekerapan penyakit degeneratif, dimana salah satunya adalah diabetes mellitus (DM). Di Indonesia, penderita diabetes diperkirakan 3 juta orang atau 1,5%  dari 200 juta penduduk .Bahkan pada 2020 mendatang diperkirakan ada sekitar 3,5 juta pasien DM di Indonesia. Jika seseorang sudah divonis menderita DM mau tidak mau harus merubah hidupnya agar kadar gula dalam darahnya bisa terkendali dan si penderita bisa tetap merasa nyaman dengan penyakitnya

Diabetes mellitus adalah suatu keadaan dimana terdapat kadar gula yang berlebihan dalam peredaran darah , dan ini terjadi karena badan kekurangan suatu hormone yang disebut insulin, dan hormone itu yang diperlukan untuk menukar gula kedalam tenaga pada badan kita. . Akibatnya ialah glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing (poliuria), merasa amat haus (polidipsia), berat badan menurun dan berasa lelah. Penyakit diabetes juga sebagai penyakit keturunan atau kadang bisa muncul diluar factor keturunan

Menurut laporan terakhir WHO didunia kini terdapat sekitar 120 juta penderita diabetes mellitus dan diperkirakan akan naik menjadi 250 juta pada tahun 2025. Kenaikan ini antara lain karena factor usia harapan hidup semakin meningkat, diet kurang sehat, kegemukan serta gaya hidup modern. Di Indonesia menurut survey 1993 prevanlensi penyakit diabetes dikota-kota besar 6-20 tahun yaitu 0,26%, usia di atas 20 tahun 1,43%, dan usia diatas 40 tahun 4,16%, sedangkan dipedesaan usia diatas 70 tahun 1,47%. Diperkirakan seluruh penderita diabetes di Indonesia sekitar 2,5 juta orang.

Berdasarkan penelitian dari fakultas kedokteran UNDIP semarang diketahui Indonesia menduduki rangking pertama tertinggi didunia, karena balakangan ini jumlah penderita mellitus meningkat menjadi 21%.

Menurut ( Budiyanto, 2001) pengobatan penyakit untuk penyakit ini selalu berupa obat atau suntikan. Diabetes mellitus juga dilakukan melalui makanan . bila pada pemberian makanan juga disertai pemberian obat atau suntikan diabetes, maka pengaturan makanan harus disesuaikan dengan pemberian obat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Diet therapy pada penderita Diabates Mellitus

2.1.1    Pengertian Diabetes  Mellitus

Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktifitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit Diabetes Mellitus juga disebut penyakit kencing Manis.Hal ini ada hubungannya dengan keadaan air seni pasien yang banyak mengadung gula sebagai akibat tidak dapat berlangsungnya proses pemakaian gula didalam tubuh secara normal. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem kesehatan suatu negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat Indonesia diperkirakan penderita Diabetes mellitus (DM) ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa keatas pada seluruh status sosial ekonomi.

Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin yang paling umum ditemukan. Penyakit itu ditandai oleh naiknya kadar gula darah (hiperglikemia) dan tingginya kadar gula dalam darah (glikosuria). Perkataan diabetes berasal dari bahasa Yunani (Diabetes) yang berarti “Bocor ” sedangkan kata mellitus berasal dari bahasa Latin (Mellitus) yang berarti “madu”, mungkin diambil sebagai nama penyakit itu untuk menggambarkan tingginya kandungan gula dalam urin penderita. Dalam bahasa Indonesia penyakit itu disebut sebagai penyakit ” kencing manis “.

Umumnya penyakit diabetes dianggap sebagai penyakit keturunan. Jika seseorang menderita diabetes biasanya ia juga mengetahui siapa sanak keluarganya yang juga menderita penyakit yang sama.

Berdasarkan usia penderitanya, penyakit diabetes ada 2 macam yaitu :

1.  Penyakit Diabetes yang ditemukan pada usia muda ( paling banyak ditemukan pada usia antara 10-12 tahun ), disebut Juvenile Diabetes

2.  Penyakit Diabetes yang ditemukan pada orang dewasa diatas 30 tahun disebut Adult Diabetes

2.1.2    Penyebab Diabetes mellitus

Penyakit ini disebabkan oleh adanya kerusakan kelenjar pancreas ataupun alat dalam pancreas, untuk melakukan fungsinya secara wajar, terutama dalam membagi insulin yang memproses gula dalam tubuh dengan baik sehingga kurang aktifnya produksi hormone insulin dari sel kelenjar langerhans pada organ pancreas . macetnya produksi ini bisa karena menyusutnya jumlah sel penghasil hormon insulin sejak seseorang dilahirkan (bawaan; keturunan), serangan virus, atau penyakit dengan degenerative. Bahkan juga akibat penyakit autoimun.

Ada 2 macam type DM :

1.  DM type I. atau disebut IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus). yang tergantung pada insulin.DM ini disrebabkan akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi karena kerusakan dari sel beta pancreas. Gejala yang menonjol yaitu sering kencing (terutama malam hari), sering lapar, dan sering haus,sebagian penderita DM type ini berat badannya normal atau kurus.Biasanya terjadi pada usia muda dan memerlukan insulin seumur hidup.

2.  DM type II atau disebut NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus). yang tidak tergantung insulin. DM ini disebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak ada atau kurang.Akibat glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75% dari penderita DM type II dengan obesitas atau sangat kegemukan dan biasanya  diketahui setelah usia 30 tahun.

Faktor penyebab diabetes mellitus adalah factor keturunan dan diabetes berkaitan erat dengan kegemukan, meskipun mekanismenya belum diketahui dengan jelas dan umur pun juga merupakan factor pada orang dewasa karena semakin bertambahnya umur kemampuan jaringan mengambil glukosa darah semakin menurun.

2.1.3 Gejala-gejala penderita Diabetes Mellitus

Untuk mengetahui apakah seorang menderita DM yaitu dengan memeriksakan kadar gula dalam darah. Kadar gula darah normal adalahPada saat : Puasa  (nucthter) : 80 -<110 mg/dl dan Setelah makan     : 110-<160 gr/dl

Gejala akut yang ditunjukkan pada satu penderita dengan penderita yang lain selalu tidak sama. Namun ada gejala yang khas yang sering kurang dirasakan.

Adapun gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita DM  adalah sebagai berikut :

1.  Sering kencing (pelyuria), teritama dalam malam hari.

2.  Sering haus (polidipsia) dan makan (poliphgia)

3.  Berat badan menurun meskipun banyak makan.

4.  Sering merasa leleh dan mengantuk.

5.  Gatal-gatal dan bila ada luka sikar sembuh.

6.  Nyeri otot.

7.  Menurunnya gairah sek.

Sedangkan pada diabetes kronis biasanya gejala timbul secara perlahan, antara lain:

1.  Sering kesemutan

2.  Kulit terasa panas atau seperti tertusuk jarun

3.  Rasa tebal di kulit

4.  Mudah kram

5.  Mengantuk

6.  Mata kabur

7.  Gatal sekitar kemaluan (terutama wanita)

8.  Gigi mudah goyang dan lepas

9.  Kemampuan seksual menurun bahkan impotent

Pada ibu hamil sering terjadi keguguran yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Kalau bayi dilahirkan selamat pun berta lahir bayi lebih dari 4 kg.Diabetes mellitus pada kehamilan umumnya sembuh dengan sendirinya setelah persalinan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

DM dapat dicegah dengan menerapkan hidup sehat sedini mungkin yaitu dengan mempertahankan pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran, buah dan serat, membatasi makanan yang tidak tinggi karbohidrat protein dan lemak, mempertahankan BB  yang normal sesuai dengan umur dan tinggi badan serta olah raga teratur sesui dengan umur dan kemampuan

2.1.4 Tes Untuk Mengetahui Diabetes Millitus

Penyakit diabetes mellitus dapat diketahui dengan cara memeriksa kandungan gula dalam darah. Pemeriksaan kandunga gula darah yang paling sering dilakukan adalah kandungan darah setelah puasa (fasting blood glucose test), atau kandunagn gula darah 2 jam sehabis makan (postprandial blood glucose test). Kadar gula setelah puasa biasanya berkisar antara 70 mg – 100 mg per 100 ml darah. Demikian juga halnya dengan kandungan gula darah pada pemeriksaan 2 jam seterlah makan.apabila kandungan darah yang ditemukan pada kedua test itu berkisar antara 110 mg – 120 mg per 100 ml darah, harus diulakukan test lebih lanjut karena kandungan gula darah sedemikian itu sudah merupakan petunjuk adanya penyakit diabetes mellitus.

Oral Glucose Tolerance Test (OGIT) merupakan test yang lebih lanjut terhadap adanya penyakit diabetes. Untuk melakukan test ini penderita diharuskan puasa selama 24 jam. Kemudian penderita diberi minuman air dengan kadar gula sebanyak 75-100 gr. Sebelum diberi minum, darah dan urin penderita diambil terlebih dulu untuk diperiksa kandungan gulanya. Pemeriksaan berikutnya adalah berturut-turut setelah jarak waktu ½ jam, 1 jam dan 1 ½ jam. Dalam hal-hal tertentu periksaan dilakukan setelah waktu 3 jam.

Dalam keadaan normal kandungan gula darah akan menurun sesuai dengan jarak waktu setelah pemberian caira gula. Komisi diabetes dari WHO merekomendasikan konsentrasi glukosa darah baik setelah puasa ataupun setelah 2 jam diberi glukosa sebagai berikut;

Sampel darah

Konsentrasi glukosa  (mg / 100 ml)

Bukan diabetes

Penderita diabetes

Darah vena < 110 >130
Darah kapiler <120 >140
Plasma darah <135 >155

Bagi penderita yang sudah  jelas menunjukkan tanda diabetes, dianjurkan untuk dapat memeriksa sendiri adanya gula dalam urin. Untuk itu diperlukan peralatan sederha berupa tabung reaksi, pipet kecil, dan larutan benedict sebagai pereaksi.

Larutan Benedict sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambah dengan 8 tetes urin yang akan diperiksa, dengan menggunakan pipet. Campuran dipanaskan sambil dikocok di atas api sampai mendidih. Dapat juga bagian bawah tabumg dimasukkan ke dalam air mendidih selama 5 menit. Jika campuran dalam tabung berubah warna, maka berarti terdapat gula dalam urin yang diperiksa.

Arti perubahan warna campuran urin dengan larutan Benedict yang dipanaskan itu adalah sebagai berikut :

Perubahan warna Tafsiran
Warna larutan tetap biru tua Gula negatif
Warna larutan berubah hijau Ada gula : +
Warna larutan berubah kekuning-kuningan Ada gula : ++
Warna larutan berubah hijau coklat Ada gula : +++
Warna larutan berubah merah coklat Ada gula : ++++

Koma meninggal

KETOASIDOSIS

Kegagalan fungsi ginjal

Dehidrasi seluler

volume urin berkurang

Osmotik diuresis (kehilangan air dan elektrolit)

Jumlah N dan Na dibuang lewat urin naik

KETONURIA

Konsentrasi nitrogen dan natrium naik

GLUKOSURIA

Ketogenesis

meningkat

Sebagai bahan untuk glukoneogenesis

Merangsang glukoneogenesis

HIPERGLIKEMIA

Jumlah asam amino masuk hati bertambah

Jumlah asam lemak bebas masuk hati bertambah

Pelepasan asam amino meningkat (proteolisis)

Pengambilan glukosa oleh sel menurun

Pelepasan asam lemak  bebas meningkat (lipolisi)

Defisiensi

insulin

Bagan Gangguan Metabolisme pada Penderita Penyakit DM

2.1.5 Bahaya yang Menyertai Diabetes Mellitus

Komplikasi DM dapat bersifat akut atau kronis.

Komplikasi akut

Komplikasi akut terjadi jika kadar glukosa darah seseorang meningkat atau menurun dengan tajam dalam waktu relatif singkat. Kadar glukosa darah bisa menurun drastis jika penderita menjalani diet yang terlalu ketat. Perubahan yang besar dan mendadak dapat berakibat fatal.

Dalam komplikasi akut dikenal beberapa istilah sebagai berikut:

1.  Hipoglikemia yaitu keadaan seseorang dengan kadar glukosa darah di bawah nilai normal. Gejala hipoglikemia ditandai dengan munculnya rasa lapar, gemetar, mengeluarkan keringat, berdebar-debar, pusing, gelisah, dan penderita bisa menjadi koma.

2.  Ketoasidosis diabetik-koma diabetik yang diartikan sebagai keadaan tubuh yang sangat kekurangan insulin dan bersifat mendadak akibat infeksi, lupa suntik insulin, pola makan yang terlalu bebas, atau stres.

3.  Koma hiperosmoler non ketotik yang diakibatkan adanya dehidrasi berat, hipotensi, dan shock. Karena itu, koma hiperosmoler non ketotik diartikan sebagai keadaan tubuh tanpa penimbunan lemak yang menyebabkan penderita menunjukkan pernapasan yang cepat dan dalam (kusmaul).

4.  Koma lakto asidosis yang diartikan sebagai keadaan tubuh dengan asam laktat yang tidak dapat diubah menjadi bikarbonat. Akibatnya, kadar asam laktat dalam darah meningkat dan seseorang bisa mengalami koma.

Komplikasi kronis

Komplikasi kronis diartikan sebagai kelainan pembuluh darah yang akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung, gangguan fungsi ginjal, dan gangguan saraf. Komplikasi kronis sering dibedakan berdasarkan bagian tubuh yang mengalami kelainan, seperti kelainan di bagian mata, mulut, jantung, urogenital, saraf, dan kulit.

2.1.6    Pengobatan

Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin berkurang.Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes tipe II tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Tetapi kebanyakan penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pengobatan diabetes meliputi obat-obatan, olah raga dan diet .

1.    Diet

Penderita DM sangat dianjurkan untuk menjalankan diet sesuai yang dianjurkan, yang mendapatkan pengobatan anti diuretik atau insulin, harus mentaati diet terus menerus baik dalam jumlah kalori, komposisi dan waktu makan harus diatur. Ketaatan ini sangat diperlukan juga pada saat : undangan atau pesta, melakukan perjalanan,melakukan olah raga dan aktivitas lain.

2.    Obat-obatan

Tablet atau suntikan anti diabetes diberikan, namun therapy diit tidak boleh dilupakan dan pengobatan penyakit lain yang menyertai/ suntikan insulin.

3.    Olah raga

Dengan olah raga teratur sensitifikas sel terhadap insulin menjadi lebih baik,sehingga insulin yang ada relatif kurang, dapat dipakai denagan lebih efektif. Penderita  Dm sebaiknya konsultasi gizi pada dokter atau nitrutionis (ahli gizi) setiap 6 bulan sekali untuk mengatur pola diit dan makan guna mengakomodasikan pertumbuhan dan perubahgandan berat badan sesuai pola hidup.

Obat-obat hipoglikemik per-oral

Apabila perencanaan makanan, latihan jasmani dan penurunan berat badan tidak cukup berhasil penurunan kadar glukosa darah sampai ke batas normal barulah penderita memerlukan obat. Obat untuk penderita Dmdikenal sebagai obat hipoglikemik. Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.

Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah secara adekuat. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.

Berdasarkan mekanisme kerjanya obat hipoglikemik digolongkan dalam obat hipoglikemik dengan mekanisme kerja sebagai berikut:

1.  Melalui traktus gastrointestinal seperti pengunaan obat guargum (galakto manar), alpa glukosidase inhibitor (acanbose, miglitol), biguanides (metformin, phenformin), dan amilin analogue. Obat bekerja dengan cara memperlambat proses pencernaan kabohidrat menjadi glukosa sehingga kadar glukosa darah setelah makan tidak meningkat sekaligus.

2.  Merangsang sekresi insulin seperti pada penggunaan obat sulfonilarca (generasi-3: glimepinde), linoglinde, midaglizole, chloroquine, M-16209, C5-045, repaglinide, GLP-1, dan beberapa lainya lagi. Obat golongan ini merangsang pengeluaran insulin dari pankreas tidak hanya sewwaktu kadar glukosa darah naiksetelah makan tetapi terjadi sepanjang waktu dalam masa kerjanya. Itulah sebabnya obat golongan ini  tidak diberikan malam hari karena ditakutkan terjadi hiperglikimia sewaktu tidur.

3.  Menekan produksi glukosa hepar, seperti penggunaan obat pada proinsulinglukagon inhibitor (somatostatin), gluco neogesis inhibitor (hydrosine, dicloro asetase, metformin) C5-045 dan methilpalmoxirate.

4.  Meningkatkan ambilan glukosa yang bergantung insulin pada sel perifer seperti pada pengguna obat sulfonilurea.

5.  Meningkatkan ambilan glukosa tanpa bergantung pada insulin seperti pada penggunaan obat penghambat oksidase asam lemak.

Obat Pilihan

Antidiabetika Oral Kombinasi Metformin dan Glibenklamid

Kombinasi ini sangat cocok digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 2 pada pasien yang hiperglikemianya tidak bisa dikontrol dengan single terapi (metformin atau glibenklamid saja), diet, dan olahraga. Di samping itu, kombinasi ini saling memperkuat kerja masing-masing obat, sehingga regulasi gula darah dapat terkontrol dengan lebih baik. Kombinasi ini memiliki efek samping yang lebih sedikit, apabila dibandingkan dengan efek samping apabila menggunakan monoterapi (metformin atau glibenklamid saja). Metformin dapat menekan potensi glibenklamid dalam menaikkan berat badan pada pasien diabetes melitus tipe 2, sehingga cocok untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami kelebihan berat badan (80% dari semua pasien diabetes melitus tipe 2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi sampai 17-22 mmol/l).

Nama Generik :

Metformin Hidroklorida

Indikasi : menekan nafsu makan, tidak meningkatkan berat badan, indikasi lain penggunaannya dalam kombinasi dengan sulfonilurea adalah untuk pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hasil yang tidak memadai hanya dengan pemberian terapi sulfonilurea.

Dosis : 3 kali sehari 500 mg, atau 2 kali sehari 850 mg, diminum yang diberikan pada waktu makan. Bila perlu dosis dinaikkan dalam waktu 2 minggu sampai maksimal 3 kali sehari 1g.

Efek Samping : agak sering tejadi dan berupa gangguan lambung-usus, antara lain anorexia (kehilangan nafsu makan), mual, muntah, keluhan abdominal, diare terutama pada dosis di atas 1,5 g/hari. Efek tersebut berhubungan dengan dosis dan cenderung terjadi pada awal terapi dan bersifat sementara.

Kontraindikasi : kontraindikasi pada pasien yang menderita penyakit ginjal, alkoholisme, penyakit hati.

Perhatian : Berhubung kekurangan data mengenai keamanannya, maka metformin tidak dianjurkan selama kehamilan dan laktasi. Sebagai gantinya selalu disuntik dengan insulin.

Glibenklamid beluman

Indikasi : digunakan untuk diabetes melitus tipe 2 dimana kadar gula darah tidak dapat dikontrol hanya dengan diet saja.

Dosis : dosis awal 2,5 mg per hari atau kurang, rata-rata dosis pemeliharaan adalah 5-10 mg/hari, dapat diberikan sebagai dosis tunggal. Tidak dianjurkan memberikan dosis pemeliharaan lebih dari 20mg/hari.

Efek samping : hipoglikemia yang dapat terjadi secara terselubung dan adakalanya tanpa gejala yang khas, agak terjadi gangguan lambung-usus (mual, muntah, diare), sakit kepala, pusing, merasa tidak enak di mulut, gangguan kulit alergis.

Kontraindikasi : pasien usia lanjut, gangguan hati dan ginjal, wanita hamil dan menyusui.

Peringatan : dapat menimbulkan kenaikkan berat badan atau hipoglikemia.

Nama dagang di Indonesia :

Glucovance® dari Merck

Bentuk Sediaan : tablet (film coated)

Komposisi :    per tab 1,25mg/250mg mengandung glibenklamid 1,25 mg, metformin HCl 250 mg.

per tab 2,5mg/500mg mengandung glibenklamid 2,5 mg, metformin HCl 500 mg.

per tab 5mg/500mg mengandung glibenklamid 5 mg, metformin HCl 500 mg.

Indikasi : terapi tahap kedua untuk diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat dikontrol dengan diet, olahraga, dan sulfonilurea atau metformin.

Kontraindikasi : gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung kongestif, hipersensitif terhadap metformin HCl atau glibenklamid atau sulfonilurea lain, asidosis metabolik akut atau kronik, gangguan fungsi hati, intoksikasi akut alkohol, alkoholisme, porfiria, laktasi.

Dosis awal : 1,25 mg/250 mg 1-2 kali per hari atau 2,5 mg/500 mg dua kali sehari bersama makanan

Efek Samping : infeksi saluran nafas atas, diare, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, pusing.

Resiko khusus : pregnancy risk factor B, tidak boleh digunakan pada wanita hamil dan menyusui.

Sasaran Terapi

Sasaran terapi untuk diabetes melitus tipe 2 adalah kadar glukosa darah, komplikasi, dan pola hidup penderita diabetes melitus tipe 2. Terapi harus meminimalkan gejala dan menghindari komplikasi, dan memungkinkan pasien untuk hidup normal.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi jangka pendek untuk penderita diabetes melitus tipe 2 adalah untuk mengurangi tanda dan gejala yang muncul, seperti poliuria (banyak buang air kecil), polidipsia (banyak minum), dan polifagia (banyak makan) dan untuk menormalkan kadar glukosa darah. Kira-kira 80% dari semua pasien tipe-2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi sampai 17-22 mmol/l, sehingga kadar gula darah perlu dikontrol dengan nilai normal (4-7 mmol/l).

Tujuan terapi jangka panjang adalah memperlambat laju perkembangan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Komplikasi mikrovaskular seperti retinopati (penyakit mata), neuropati (kerusakan pada saraf), nefropati (kerusakan ginjal). Komplikasi makrovaskular adalah seperti penyakit kaki, keadaan ini merupakan akibat penyakit pembuluh darah perifer (kaki yang dingin dan nyeri), dan peningkatan kecenderungan untuk terinfeksi, sehingga terbentuk ulkus, gangren dan kaki charcot (kaki hangat/panas dengan kerusakan sendi).

Untuk mencapai kedua tujuan ini adalah sangat penting mengusahakan regulasi yang optimal. Regulasi yang optimal dimaksudkan bahwa sepanjang hari kadar gula darah pada penderita diabetes sangat berfluktuasi, sehingga hendaknya kadar gula darah dikendalikan dengan nilai normal (4-7 mmol/l). Kontrol glikemik yang baik menghambat timbul dan berkembangnya semua penyakit mikrovaskular, penyakit makrovaskular jarang terjadi pada pasien yang tekanan darahnya dapat terkontrol dengan baik (<140/90 mmHg).

Strategi Terapi

Nonfarmakologis

Strategi terapi nonfarmakologis untuk diabetes melitus tipe 2 adalah dengan diet, gerak badan, dan mengubah pola hidup (misalnya dengan berhenti merokok, bagi penderita yang merokok). Diet dilakukan terlebih pada pasien yang kelebihan berat badan. Makanan juga dipilih secara bijaksana, terutama pembatasan lemak total dan lemak jenuh untuk mencapai normalitas kadar glukosa darah, dan juga hindari makan makanan yang banyak mengandung gula berlebih. Gerak badan secara teratur dapat dilakukan, yaitu seperti jalan kaki, bersepeda, atau olahraga. Berhenti untuk tidak merokok, karena nikotin dapat mempengaruhi secara buruk penyerapan glukosa oleh sel.

Farmakologis

Pada saat ini terdapat 5 macam kelas obat hipoglikemik oral untuk pengobatan DM tipe II, yaitu sulfonilurea, biguanid, meglitinid, α-glukosidase inhibitor, dan agonis receptor γ (thiazolidin atau glitazon). Obat hipoglikemik oral diindikasikan untuk pengobatan pasien DM tipe II yang tidak mampu diobati dengan melakukan diet dan aktivitas fisik. Biguanid dan thiazolidinedion dikategorikan sebagai sensitizer insulin, dengan cara menurunkan resistensi insulin. Sulfonilurea dan meglitinid dikategorikan sebagai insulin secretagogues karena kemampuannya merangsang pelepasan insulin endogen.

Contoh :

Sulfonilurea                          : sulfonilurea generasi pertama (acetohexamid, clorproramid, tolbutamid, talazamid) dan generasi kedua (glimepirid, gilipizie, dan glibenklamid)

Meglitinid                            : nateglinid, repaglinid

Biguanid                              : metformin

Thiazolidinedion                  : pioglitazon dan resiglitazon

Alfa glukosidase inhibitor    : acarbose dan miglitol.

Sulfonilurea dan biguanid tersedia paling lama dan secara tradisional merupakan pilihan pengobatan awal untuk diabetes tipe 2.

Terapi Sulih Insulin

Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:

1.    Insulin kerja cepat

Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam.
Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.

2.    Insulin kerja sedang

Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.

3.    Insulin kerja lama.

Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.
Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:

a.  Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya

b.  Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya

c.  Aktivitas harian penderita

d.  Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya

e.  Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari. Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan.

Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam. Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.

2.2 Peranan gizi pada penderita Diabetes Mellitus

DM adalah gangguan metabolisme karbohidrat yang merupakan salah satu unsur gizi makro. Gangguan metabolisme ini juga menyebabkan gangguan metabolisme zat gizi lain yaitu protein, lemak, vitamin, dan mineral yang mana proses metabolisme tubuh itu saling berinteraksi antar semua unsur zat gizi. Oleh karena itu, DM adalah merupakan salah satu dari  “Nutrition Related Desease” dimana gangguan salah satu metabolisme zat gizi dapat menimbulkan penyakit.

Terapi diet adalah penatalaksanaan gizi paling penting pada penderita DM. Tanpa pengaturan jadwal dan jumlah makanan serta kualitas makanan sepanjang hari, sulit mengontrol kadar gula darah agar tetap  dalam batas normal. Bila dibiarkan dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan komplikasi baik akut atau kronis, yang pada akhirnya dapat membahayakan keselamatan DM  sendiri atau mempengaruhi produktifitas kerja. (contoh : pada penderita DM yang mengalami luka gangren yang harus diamputasi karena kadar gulanya selalu tinggi sengga lukanya tidak dapat sembuh).

Strategi gizi atau perencanaan makanana yang tepat merupakan pengobatan diabetes yang penting. Tujuan perencanaan makanan adalah mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin serta mengusahakan agar berat badan penderita mencapai batas-batas normal.dahulu banyak makanan yang dipotog atau dibatasi bagi penderita DM. Sejak ditemukan insulin dan tablet hipoglikomik lainnya sususna makanan penderita sudah mendekati makanan orang normal.yang penting jumlah kalori yang didapat dari makanan tidak lebih dari jumlah yang diharapkan ahli gizi.

Dalam membuat susunan menu pola perencanaan makanan, seorang ahli gizi tentunya akan mengusahakan mendekati kebiasaan makan sehari-hari, sederhana, bervariasi, dan mudah dilaksanakan, seimbang dan sesuai kebutuhan.di samping menu harus diperhatikan juga cara hidup, selera, dan adat istiadat penderita.bila menyusun menu yang sukar dilaksanakan dan tidak sesuai dengan selera makan maka perencanaan makan tentunya tidak akan berhasil dan akan ditinggalkan oleh penderita. Kebutuhan kalori pada pria juga lebih besar dibanding wanita. Demikian juga untuk orang pada masa petumbuhan, orang dengan aktivitas tinggi dan sebagainya.

Jadwal makan penderita DM juga diusahakan lebih sering dari 3X sehari, dengan porsi makan yang lebih kecil. Hal ini untuk mencegah naiknya glukosa darah yang sekaligus tinggi, disamping mencegah hipoglikemia bagi penderita yang memakai suntikan insulin.

  • Peranan gizi pada IDDM

IDDM adalah tipe Diabetes Melitus yang jarang dijumpai diantara masyarakat dari beberapa suku bangsa antara lain di daerah Asia dan Pasifik.Gamble (1980) mengemukananbahwa saat mula terjadinya DM yang bersifat musiman menunjukkan adanya kaitan dengan penyakit infeksi. Hal ini melahirkan hipotesa yang mengatakan bahwa penyakit infeksi merupakan agen pemercepat terjadinya kerusakan jaringan pankreas, sehingga tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang dibutuhkan.Sampai kini belum diperoleh informasi yang dapat memberikan petunjuk adanya kaitan antara gizi dengan IDD. Akan tetapi timbulnya gejala IDDM pada hewan percobaan setelah pemberian alloxan dan streptozotocin tidak menyingkirkan kemungkina terjadinya IDDM padamanusia apabila dietnya terkontaminasi oleh racun yang mempunyai strukutr kimia serupa. Duamacam toksin yang dilaporkan dapat menyebabkan IDDM adalah pembasmi hewan pengerat(radentisida), misalnya vacor, dan bahan pengawet makanan, misalnya N-nitroso-compoind (Zimmet, 1982).

  • Peranan gizi pada penderita NIDMM

Peningkatan efisiensi tenaga fisik dengan pemanfaatan perlatan mekanik sebagai dampak positif kemajuan, diikuti oleh penurunan kegiatan fisik individu yang bersangkutan yang menjadi  awal terjadinya obesitas. Diantara masyarakat maju yang demikianlah angka prevalensi NIDDM cukup menonjol. Dalam hal ini rupanya adanya ketidak-seimbanganantara masukan zat gizi melalui makanan, kebutuhan zat gizi tubuh, kemampuan jaringan mencerna zat gizi yang tersedia dan ketersediaan bahan-bahan pembantu metabolisme zat gizi, misalnya hormon insulin, berakibat pada timbulnya gejala DM. Sesuai dengan klasifikasinya, penanganan NIDDM tidak memerlukan insulin. Dengan pengaturan kembali keseimbangan antara masukan zat gizi terhadap kebutuhan dan kemampuan jaringan tubuh, gejala DM akan teratasi. Intake lemak seseorang dapat dipakai sebagai petunjuk terjadinya NIDDM. Menurut peneliti penemuan ini perlu ditinjau kembali dengan penelitian lanjutan. Interaksi antara gizi, aktivitas fisik dan ukuran tubuh bersifat kompleks, dan akan sulit membedakan apakah mekanisme faktor yang satu lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, bahwa perubahan gaya hidup seseorang dapat mempengaruhi timbulnya NIDDM sudah dilaporkan oleh beberapa peneliti antara lain oleh Watkin (1986).

2.2.1 Kebutuhan Gizi Bagi Penderita Diabetes Mellitus

Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Pengetahuan porsi makanan sedemikian rupa sehingga supan zat gizi tersebar sepanjang hari. Penurunan berat badan ringan atau sedang (5 – 10 kg), sudah terbukti dapat meningkatkan kontrol diabetes, walaupun berat badan idaman tidak dicapai.

Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan baik dengan penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran energi. Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 Kkal lebih rendah dari asupan rata-rata sehari.

Kebutuhan zat gizi dapat diuraikan sebagai berikut:

1.         Protein

Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energi dari protein total. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia kebutuhan protein untuk orang dengan diabetes adalah 10 – 15% energi.

Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologi tinggi.

2.         Total Lemak

Asupan lemak dianjurkan < 10% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih 10% energi dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya yaitu 60- 70% total energi dari lemak tidak jenuh tunggak dan karbohidrat. Distribusi energi dari lemak dan karbohidrat dapat berbeda-beda setiap individu berdasarkan pengkajia gizi dan tujuan pengobatan. Anjuran persentase energi dari lemak tergantung dari hasil pemeriksaan glukosa, lipid, dan berat badan yang diinginkan.

Untuk individu yang mempunyai kadar lipid normal dan dapat mempertahankan berat badan yang memadai (dan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal pada anak dan remaja) dapat dianjurkan tidak lebih dari 30% asupan energi dari lemak total dan < 10% energi dari lemak jenuh. Dalam hal ini anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20 – 25% energi.

Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet dislipidemia tahap II yaitu < 7% energi total dari lemaj jenuh, tidak lebih dari 30% energi dari lemak total dan kandungan kolesterol 200 mg/hari.

Apabila peningkatan trigliserida dan VLDL merupakan masalah utama, pendekatan yang mungkin menguntungkan selain menurunkan berat badan dan peningkatan aktivitas adalah peningkatan sedang asupan lemak tidak jenuh tunggal 20% energi dengan < 10% masing energi masing-masing dari lemak jenuh dan tidak jenuh ganda sedangkan asupan karbohidrat lebih rendah. Perencanaan makan tinggi lemak tidak jenuh tunggal dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan nuts, alpukat dan minyak zaitun. Namun demikian pada individu yang kegemukan peningkatan asupan lemak dapat memperburuk kegemukannya. Pasien dengan kadar trigliserida > 1000 mg/dl mungkin perlu penurunan semua tipe lemak makanan untuk menurunkan kadar lemak plasma dalam bentuk kilomikron.

3.         Lemak Jenuh dan Kolesterol

Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolestrol adalah untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu < 10% asupan energi sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan makanan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari. Namun demikian rekomendasi ini harus disesuaikan dengan latar belakang budaya dan etnik.

4.         Karbohidrat dan Pemanis

Rekomendasi tahun 1994 lebih menfokuskan pada jumlah total karbohidrat dari pada jenisnya. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal, menilai kembali fruktosa dan lebih konservatif untuk serat. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik menyerupai roti, nasi dan kentang. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang berbeda, prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi dari pada sumber karbohidrat. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 60 – 70% energi.

5.         Sukrosa

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2.

Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan.

Dalam melakukan substitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandungan zat gizi makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan, demikian juga adanya zat gizi-zat gizi lain pada makanan tersebut seperti lemak yang sering dimakan bersama sukrosa. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi.

6.         Pemanis

a.  Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil dari pada sukrosa dan kebanyakannya karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Namun demikian, karena pengaruh penggunaan dalam jumlah besar (20% energi) yang potensial merugikan pada kolesterol dan LDL, fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes. Penderita dislipidemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar, namun tidak ada alasan untuk menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengnadung fruktosa alami ataupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa.

b.  Sorbitol, mannitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah dari pada sukrosa dan karbohidrat lain. Penggunaan pemanis tersebut secra berlebihan dapat mempunyai pengaruh laxatif.

c.  Sakarin, aspartam, acesulfame adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM.

7.         Serat

Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes. Dianjurkan mengkonsumsi 20 – 35 g serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut.

8.         Natrium

Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mg natrium perhari.

2.2.2 Bawang Putih dan Diabetes Mellitus

Informasi yang menguak khasiat bawang putih sebagai obat tradisional sudah sejak zaman nenek moyang kita.bawang putih sudah banyak digunakan sebagai obat kuat, penangkaldan obat berbagai penyakit. Bawang putih memiliki manfaat dan kegunaan yang besar bagi kehidupan manusia, bagian utama dan paling penting dari tanaman bawang putih adalah umbinya. Umbi bawang putih mengandung zat hara belerang, besi, kalsium, fosfat disamping zat organis lemak, protein dan karbohidrat. Tiap 100 gram umbi bawang yang dikonsumsi, edible portion, sebagian besar terdiri dari air.

Tabel komposisi dan kandungan gizi bawang putih(per 100 gram bahan)

Bahan Gizi

Jumlah Umbi

Jumlah Daun

Energi

Protein

Lemak

Karbohidrat

Serat

Abu

Kalsium(Ca)

Fosfat(P2O5)

Zat besi(Fe)

Natrium(Na)

Kalium

Vitamin A

Vitamin B1

Vitamin B2

Vitamin C

Niacin

122 kalori

7 gram

0,3 gram

24,90 gram

1,10 gram

1,60 gram

12 mg

109 mg

1,20 mg

13 mg

346 mg

-

0,23 mg

0,08 mg

7 mg

0,40 mg

12 kal

2,10 gram

0,5 gram

9 gram

1,5 gram

1,10 gram

116 mg

56 mg

0,4 mg

4 mg

285 mg

1140 SI

0,08 mg

0,10 mg

38 mg

0,7 mg

Yang khas terdapat dalam umbi bawang putih adalah sejenis minyak atsiri dengan bau khas bawang putih yang disebut Allicin.Sulfur amino acidallinoleh enzimallisin liase diubah menjadi asam pirufat, amonia dan anti microba. Selanjutnya allisin mengalami perubahan menjadi diallil sulfida. Senyaw allisin dan diallil sulfida inilah yang banyak memiliki banyak kegunaan dobel khasiat obat.  Kandungan allisin dan diallin sulfida dapat digunakan sebagai bakteriosida yang menghambat perkembangan cendawan dan maupun mikroba lainnya. Selain allisin bawang putih juga mengandung antara lain :

1.  Allisin sejenis aasam amino yang membentuk allicin. Daya anti biotik bawang putih efeknya bergantung pada allicin.

2.  Gurwitch rays (Sinar Gurwitch) : sinar atau radiasi ini dapat merangsang pertumbuhan sel tubuh dan mempunyai daya peremajaan.

3.  Antihaemolitytic factor atau faktor anti lesu darah/ Kekurangan SDM

4.  Antianthnitic factor atau faktor anti rematik

5.  Allithiamine sumber ikatan biologis yang aktif serta vitamin B1.

6.  Anti toksin, anti oksi ini dapat memperkuat daya tubuh terhadap penyakit asma.

7.  Scordirin, kerja scodirin seperti enzim oksido-reduktase fungsinya dapat mempercepat pertumbuhan tubuh, peningkatan berat badan, peningkatan energi dan faktor pengobatan penyakit radiovasculer.

8.  Sugar regulating factor yang bermanfaat bagi pengobatan penunjang diabetes.

9.  Selenium, sejenis mikromineral yang sifatnya dapat menghindari penggumpalan darah yang mengakibatkan penyumbatan-penyumbatan darah, jantung dan otak.

Bawang putih merupakan salah satu bahan yang baik untuk dikonsumsi terutama bagi penderita Diabetes karena bawang putih mengandung sugar regulating factor, yang bermanfaat untuk mengendalikan bahkan menurunkan kadar gula seorang penderita diabetes. Penyakit diabetes memang tidak dapat disembuhkan, akan tetapi kita dapat mengendalikannya agar tidak sampai timbul komplikasi seperti jantung koroner yaitu dengan mengkonsumsi bawang putih. Karena selain mengandung sugar regulating factor, bawang putih juga mengandung selenium yaitu sejenis mikromineral yang sifatnya dapat menghindarkan penggumpalan darah yang dapat menimbulkan penyumabatn pembuluh darah, jantung dan otak sehingga baik untuk mencegah adanya komplikasi.selain itu juga sangat  besar kegunaanya bagi kehidupan. Para ahli kesehatan mengungkap hasil penelitian bawang putih antara lain sebagai obat pencegah penyakit kanker misalnya kanker lambung dan kanker usus. Sari bawang putih sangat berkhasiat untuk mengobati maag dan juga obat tipus, dimana sarinya dapat membunuh kuman-kuman yang menghambat jalannya pencernaan.kandungan minyak dalam bawang putih berkhasiat membersihkan darah dan mengurangi rasa sakit pada bagian tubuh.bawang putih sering digunakan sebagi obat penyakit asma, menurunkan berat badan, mengontrol kolesterol,gangguan suara serak, nyeri haid, flu, kencing sedikit, demam, batuk rejan, tuberculosa, dan lain-lain.dan menurut Eldon Amonkar dari California University menyatakan bahwa emulsi minyak bawang putih dapat membunuh jentik-jentik 100% dari lima jenis nyamuk.

2.2.3 Petunjuk Penderita Diabetes Mellitus yang berpuasa

Pada dasarnya penderita diabetes boleh berpuasa tetapi tergantung seberapa penyakitnya. Tapi menurut penelitian, sebagian penderita diabetes termasuk dalam kategori yang boleh berpuasa.

Beberapa petunjuk umum menurut dr Imam Subekti SpPD KMED dan dr Benyamin Lukito SpPD yang perlu diperhatikan bagi pasien diabetes :

1.    Didalam perencanaan, jumlah asupan kalori sehari selama  bulan puasa kira-kira sama dengan jumlah asupan kalori sehari-hari yang dianjurkan sebelum puasa. Yang perlu diatur adalah pembagian porsi makan sebagai berikut : 40 % dikomsumsi waktu sahur, 50 % waktu berbuka puasa dan 10 % malam sebelum tidur (sesudah sholat tarawih).

2.    Makan sahur sebaiknya dilambatkan. Selalu memonitor kadar gula dalam darah secara teratur sesuai dengan kebutuhan.

3.    Lakukan aktivitas fisik sehari-hari dengan wajar seperti biasa. Dianjurkan untuk istirahat setelah dzuhur.

4.    Pasien DM dengan kadar gula darah terkendali berdasarkan pengaturan dan olah raga saja, tidak ada masalh untuk berpuasa.

5.    Pasien DM yang membutuhkan obat hipoglikemik oral (OHO) dan diabetesnya terkendali dapat berpusa dengan sedikit perubahan dalam pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan jadwal minum obat.

6.    Pasien DM yang memerlukan suntikan insulin dua kali atau lebih tidak dianjurkan untuk berpuasa.

7.    Kemungkinan hipoklikemia terutama terjadi pada waktu sore hari menjelang berbuka puasa harus dikenal dan diarahkan

2.3       Prinsip perencanaan makan orang dengan Diabetes di Indonesia

1.         Kebutuhan Kalori

Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal komposisi energi adalah 60 – 70% dari karbohidrat, 10 – 15% dari protein dan 20 – 25% dari lemak. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Diantaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur,aktifikasi, kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan. Sedangkan cara yang lebih gampang lagi adalah dengan pegangan kasar, yaitu untuk pasien kurus 2300 – 2500 kalori, normal 1700 – 2100 kalori dan gemuk 1300 – 1500 kalori.

Kebutuhan Kalori Orang dengan Diabeter

2.         Perhitungan Berat Badan Idaman.

Dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut :

Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm – 100) x 1 kg.

Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, atau bagi mereka yang berumur lebih dari 40 tahun, rumus dimodifikasi menjadi.

Berat badan ideal = (TB dalam cm – 100) x 1 kg.

Sedangkan menurut Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat badan (kg) TB2 sebagai berikut :

Berat ideal :

BMI 21 untuk wanita

BMI 22,5 untuk pria.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:

a.     Jenis Kelamin

Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria.

b.    Umur

Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB. Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan100 kalori untuk tiap tahunnya.Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, diatas 70 tahun dikurangi 20%.

c.     Aktifitas Fisik atau Pekerjaan.

Jenis aktifitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis aktifitas dikelompokan sebagai berikut :

Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10%.

Ringan               : pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, dan lain-lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal.

Sedang              : pegawai di insdustri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal.

Berat                 : petani, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, kebutuhan ditambah 40%.

Sangat berat      : tukang beca, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus ditambah 50% dari basal.

d.    Kehamilan/Laktasi.

Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.

e.     Adanya komplikasi. Infeksi,

Trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikkan 1 derajat celcius.

f.     Berat Badan.

Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat/kekurusannya.

2.3.1    Daftar Makanan Penukar

Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama .

Dikelompokkan menjadi 8 kelompok bahan makanan yaitu :

1.  Golongan 1     :  bahan makanan sumber karbohidrat.

2.  Golongan 2     :  bahan makanan sumber protein hewani.

3.  Golongan 3     :  bahan makanan sumber protein nabati.

4.  Golongan 4     :  sayuran.

5.  Golongan 5     :  buah-buahan.

6.  Golongan 6     :  Susu.

7.  Dolongan 7     :  Minyak

8.  Golongan 8     :  makanan tanpa kalori.

2.3.2 Pengaturan Makanan untuk penderita Diabetes Mellitus

Menurut ( Budiyanto, 2001) pengobatan penyakit untuk penyakit ini selalu berupa obat atau suntikan. Diabetes mellitus juga dilakukan melalui makanan . bila pada pemberian makanan juga disertai pemberian obat atau suntikan diabetes, maka pengaturan makanan harus disesuaikan dengan pemberian obat.

1.  Pemberian makanan pada pasien diabetes mellitus pada umumnya adalah sebagai berikut :

a.  Makanan dan olah raga ( dianjurkan pada pasien yang gemuk)

b.  Makanan dan pemberian tablet diabetes mellitus ( dianjurkan pada pasien dengan berat badan sedang)

c.  Makanan dan suntikan insulin ( Dianjurkan pada apsien remaja)

2.         Tujuan diet pada penyakit Diabetes Mellitus

a.  Menyesuaikan kemampuan tubuh untuk mengelola makanan

b.  Menurunkan kadar gula darah agar mencapai standart yang normal

c.  Mempertahankan tubuh supaya dapat melakukan pekerjaan sehari-hari

3.         Syarat-syarat Diet untuk pasien Diabetes Mellitus

a.     Kalori rata-rata 30-35 kalori per kg berat badan

b.  Jumlah kalori yang diberikan sedikit dibawah normal dan sedapat mungkin diusahakan dan dipertahankan berat badab normal

c.  Protein cukup 1 gram per kg berat badan

d.  Lemak antara 30-35% dari jumlah kalori sehari

e.  Vitamin serta mineral yang cukup

Sementara itu Dr. David ( Majalah Intisari 1/30/97 ) menganjurkan kepada penderita DM di Indonesia, gunakan komposisi 68% kalori karbohidrat , 20% kalori lemak, dan 12% kalori protein . pada dasarnya , diet diabetes terdiri terdiri atas 3 kali makan antara (snack) dengan jarak 3 jam . contohnya :

1.         Pukul 06.30-makan pagi

2.         Pukul 09.30-makanan kecil atau buah

3.         Pukul 12.30-makan siang

4.         Pukul 15.30-makanan kecil atau buah

5.         Pukul 18.30-makan malam

6.         Pukul 21.30-makanan kecil atau buah

Setiap kali makan dalam jumlah porsi kecil sampai sedang agar tidak membebani pancreas. Buah-buahan yang dianjurkan, papaya,kedondong, pisang, apel, tomat, semangka yang kurang manis. Yang dilarang, sawo, mangga, jeruk, rambutan, durian,anggur. Dalam melaksanakan diet  diabetes sehari-hari hendaknya mematuhi pedoman diet 3J, yakni jumlah kalori, jadwal diet, dan jenis makanan yang boleh dan yang tidak.

Penentuan gizi penderita DM dilaksanakan berdasarkan BBR (berat badan relative) dengan rumus :

Dimana:

BB       =          Berat badan (kg)

TB       =          Tinggi baddan (cm)

2.4 Pandangan  Islam terhadap Diabetes Mellitus

Dari uraian di atas, sangat jelas  bahwa factor paling potensial yang menjadi penyebab penyakit diabetes mellitus yaitu ( bawaan; keturunan dan obesitas). Terkait dengan keturunan sebenarnya bisa dicegah dengan selektif ketika mencari pasangan atau jodoh. Dengan demikian seseorang tidak akan malahirkan generasi yang membawa bibit penyakit diabetes mellitus.

Sedangkan terkait dengan obesitas maka etika makan dalam islam adalah solusi yang paling utama. Ajaran islam mencakup seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, ,makanan di samping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga berkaitan dengan ruhani, iman, dan ibadah juga dengan identitas diri, bahkan dengan perilaku.

Dalam Al-Qur’an An Nahl (16):114

Artinya:

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Dalam Al-Qur’an Al-Araaf (7):31

Artinya:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Dalam Al-Qur’an An-Nahl (16):115

Artinya:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

2.5 Peran Pemerintah dan DPRD/DPR terkait dengan Diabetes mellitus

Peran pemerintah dan DPRD/DPR terkait dengan Diabetes mellitus dapat terlihat pada pembagunan bidang kesehatan. Dengan adanya undang-undang tentang otonomi daerah maka peran Kabupaten/ kota menjadi sangat menentukan keberhasilan pembangunan termasuk pembangunan bidang kesehatan.

Namun demikian, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan bidang kesehatan masih kurang memadai. Perhatian utama dan sebagian besar pemerintah daerah ditujukan pada upaya pembangunan infrastruktur, sarana-prasarana dan pengembangan wilayah (INPRASWIL).

Pembangunan yang bersifat non-fisik dan tidak dapat dilihat hasilnya dalam waktu dekat seperti pembangunan kesehatan umumnya kurang mendapat perhatian. Disamping itu, sering alokasi anggaran kesehatan tidak memihak kepada kepentingan rakyat banyak , tetapi untuk keperluan sekelompok penduduk perkotaan atau mungkin hanya mengutungkan penentu kebijakan saja.

Tidak jarang pemerintah daerah dan DPRD, di daerah miskin sekalipun lebih mengutamakan pendirian rumah sakit baru dengan peralatan canggih dan mahal dari pada memperbanyak, memperbaiki, melengkapi peralatan dan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia Puskesmas yang sudah ada. Advokasi terhadap pemerintah dan para wakil rakyat daerah lalu menjadi sangat dibutuhkan

BAB III

KESIMPULAN


1.        Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktifitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit Diabetes Mellitus juga disebut penyakit kencing Manis.

2.        Berdasarkan usia penderitanya, penyakit diabetes ada 2 macam yaitu :

3.        Penyakit Diabetes yang ditemukan pada usia muda ( paling banyak ditemukan pada usia antara 10-12 tahun ), disebut Juvenile Diabetes

4.        Penyakit Diabetes yang ditemukan pada orang dewasa diatas 30 tahun disebut Adult Diabetes

5.        Penyakit ini disebabkan oleh adanya kerusakan kelenjar pancreas ataupun alat dalam pancreas , untuk melakukan fungsinya secara wajar, terutama dalam membagi insulin yang memproses gula dalam tubuh dengan baik sehingga kurang aktifnya produksi hormone insulin dari sel kelenjar langerhans pada organ pancreas . factor keturunan dan diabetes berkaitan erat dengan kegemukan.

6.        Adapun gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita DM  adalah sebagai berikut : sering kencing (pelyuria), sering haus (polidipsia) dan makan (poliphgia),berat badan menurun meskipun banyak makan ,Sering merasa leleh dan mengantuk,gatal-gatal dan bila ada luka sikar sembuh,nyeri otot,menurunnya gairah sek.

7.        Penyakit diabetes mellitus dapat diketahui dengan cara memeriksa kandungan gula dalam darah. Pemeriksaan kandungan gula darah yang paling sering dilakukan adalah kandungan darah setelah puasa (fasting blood glucose test), atau kandunagn gula darah 2 jam sehabis makan (postprandial blood glucose test). Kadar gula setelah puasa biasanya berkisar antara 70 mg – 100 mg per 100 ml darah.

8.        Bahaya yang menyertai Diabetes Mellitus menyangkut komplikasi akut dan kronis.

9.        Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Pengobatan diabetes meliputi obat-obatan, olah raga dan diet.

10.    Strategi gizi atau perencanaan makanana yang tepat merupakan pengobatan diabetes yang penting. Tujuan perencanaan makanan adalah mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin serta mengusahakan agar berat badan penderita mencapai batas-batas normal.dahulu banyak makanan yang dipotog atau dibatasi bagi penderita DM.

11.    Bawang putih merupakan salah satu bahan yang baik untuk dikonsumsi terutama bagi penderita Diabetes karena bawang putih mengandung sugar regulating factor, yang bermanfaat untuk mengendalikan bahkan menurunkan kadar gula seorang penderita diabetes.

12.    Pada dasarnya penderita diabetes boleh berpuasa tetapi tergantung seberapa penyakitnya. Tapi menurut penelitian, sebagian penderita diabetes termasuk dalam kategori yang boleh berpuasa.

13.    Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang.

14.    factor paling potensial yang menjadi penyebab penyakit diabetes mellitus yaitu ( bawaan; keturunan dan obesitas).sehingga dalam pandangan islam,terkait dengan keturunan sebenarnya dapat dicegah dengan selektif ketika mencari pasanagn atau jodoh. Sedangkan terkait dengan obesitas maka etika makan dalam islam adalah solusi yang paling utama,

15.    Peran pemerintah dan DPRD/DPR terkait dengan Diabetes mellitus dapat terlihat pada pembagunan bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Badrus, 2002. Penyakit Kencing Manis. online. (http://www.sabah org.my/BM/nasihat/artikel kesehatan/penyakit kencing manis.htm. diakses tanggal 06 mei 2008.

Budiyanto, M, A,K. 2002. Gizi dan Kesehatan. UMM Press. Malang

Budiyanto,M,A,K. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. UMM Press. Malang

Hismani, 2008. Peranan Gizi bagi penderita Diabetes Mellitus. online.(http://www.sabah org.my/BM/nasihat/artikel kesehatan/penyakit kencing manis.htm. diakses tanggal 06 mei 2008.

Moehyi, S. 1992. Pengetahuan Makanan dan Diit Untuk Penyembuhan Penyakit.   Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Jokoprawiro, A. 1999. Diabetes Millitus Klasifikasi Diagnosis dan Terapi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta


About these ads

02/07/2009 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »

  1. Have you ever considered writing an ebook or guest authoring on other websites?
    I have a blog centered on the same ideas you discuss and would really
    like to have you share some stories/information. I know my viewers would appreciate your work.
    If you are even remotely interested, feel free to shoot me an e mail.

    Komentar oleh huggies rewards | 05/02/2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 940 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: