BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

DIET THERAPY PADA OBESITAS

PENDAHULUAN

Obesitas atau kegemukan merupakan suatu keadaan fisiologis dimana lemak disimpan secara berlebihan didalam jaringan tubuh. Seseorang dikatakan mengalami obesitas bila berat badan melebihi 10% dari berat badan ideal. Obesitas adalah merupakan permasalahan sejak zaman dahulu kala. Keadaan ini adalah merupakan salah satu kelainan metabolisme yang paling lama tercatat dalam suatu sejarah seperti terlihat pada sebuah patung tanah liat yang berasal dari zaman lebih kurang 22.000 SM. Patung tersebut menggambarkan seorang wanita setengah baya yang obes. Obesitas kemudian masih selalu tercatat sepanjang sejarah, sejak zaman Mesir dan Yunani purba, bahkan sampai sekarangpun tetap menjadi persoalan, terutama dalam hal pengobatannya.

Obesitas menimbulkan berbagai dampak, baik dari segi psikososial maupun masalah medis. Orang yang obes mempunyai banyak kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari dan orang yang obes pun mengeluarkan biaya sehari-hari untuk pakaian dan makanan yang lebih besar dan dapat pula mempunyai masalh dalam hubungan suami istri dan pada anak kecil sering ditemukan persoalan identifikasi diri. Dari sudut medis penderita lebih sering untuk sakit. Penderita obesitaspun mempunyai angka harapan hidup yang lebih rendah dari populasi berat badan normal. Data New York Metropolitan life Insurance menunjukkan bahwa pada kelompok umur 40-69 tahun yang obes ditemukan angka kematian 42% lebih besar daripada rata-rata pada laki-laki dan 36% lebih besar daripada rata-rata pada wanita. Bagi si penderita obesitas sendiri dapat pula timbul rasa rendah diri, rasa tertekan, serta keputusasaan dan menimbulkan keinginan yang besar untuk menjadi lebih ramping, yang terlihat dengan keinginan untuk menjalani berbagai macam program diet.

PEMBAHASAN

Diet terhapy obesitas

2.1.1 Pengertian obesitas

Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelebihan lemak dalam tubuh. Seperti pernyataan diatas bahwa secara klasik obesitas telah diidentifikasi bobot yang lebih besar dari 20% bobot yang layak bagi wanita dan pria untuk tinggi tertentu. Obesitas disebabkan oleh ketidak seimbangan antara konsumsi dan kebutuhan energi, dimana energi terlalu banyak dibanding kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi dalam tubuh disimpan dalam bentuk jaringan lemak pada keadaan normal, jaringan lemak ditimbun dibeberapa tempat tertentu, diantaranya dalam jaringan subkutan dan didalam jaringan tirai usus (omentum).

Obesitas itu sendiri adalah istilah untuk menyatakan badan. Obesitas berarti lemak tubuh yang dapat membahayakan kesehatan, sedangkan overweight menggambarkan kelebihan dibandingkan berat badan normal.

Kelebihan berat badan dulu sering dikaitkan dengan kemakmuran. Namun, kemudian kelebihan berat badan lebih berkait dengan penampilan, dan akhirnya orang sadar bahwa kondisi ini terkait dengan banyak penyakit. Overweight dan obesitas diketahui dapat memicu beberapa penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, hipertensi dan dislipidemia.

Overweight dan obesitas yang tidak ditangani secara tepat akan meningkatkan penyakit penyerta, memendekkan usia harapan hidup, serta merugikan dari sisi hilangnya produktifitas pada usia produktif. Overweight dan obesitas juga berhubungan erat dengan beberapa penyakit lain seperti artritis (radang sendi), kesulitan bernapas, berhenti napas saat tidur, nyeri sendi, gangguan menstruasi, serta beberapa gangguan kesuburan.

Pengertian berat badan sendiri adalah seseorang yang mempunyai ukuran ideal apabila bentuk tubuhnya tidak terlalu kurus maupun terlalu gemuk dan terlihat serasi antara berat badan dan tinggi badan, agar tubuh seseorang ideal, lemak yang ada didalam tubuhnya harus dalam keadaan normal. Untuk menunjang kehidupan seseorang, di dalam tubuh harus ada lemak minimal 3% dari berat badan baik pada wanita maupun pria, lemak yang disebut adalah lemak esensial.

Lemak dalam tubuh yang jumlahnya melebihi 3% dari berat badan disebut timbunan lemak. Seseorang dikatakan mengalami kegemukan (Obesitas) jika terjadi kelebihan berat badan sebesar 20% dari berat badan ideal.

Kegemukan dapat diukur dari timbunan lemak tubuh pada wanita dewasa, dikategorikan kegemukan bila lemak tubuhnya sudah melebihi 30% dari berat badan idealnya. Sedangkan pada pria dewasa, dikatakan kegemukan bila lemak tubuhnya sudah melebihi 27% dari berat badan idealnya.

Seseorang dikatakan mengalami obesitas bila berat badan melebihi 10 % dari berat badan ideal. Obesitas merupakan permasalahan sejak zaman dahulu kala. Keadaan ini merupakan salah satu kelainan metabolisme yang paling lama tercatat dalam sejarah seperti terlihat pada sebuah patung tanah liat yang berasal dari zaman lebih kurang 22.000 tahun sebelum masehi, patung tersebut menggambarkan seorang wanita setengah baya yang obes. Obesitas kemudian masih selalu tercatat sepanjang sejarah, sejak zaman Mesir dan Yunani purba, bahkan sampai sekarangpun masih menjadi persoalan, terutama dalam hal pengobatannya.

2.1.2 Faktor-faktor obesitas

Overweight dan obesitas terjadi karena banyak faktor. Faktor utama adalah ketidak seimbangan asupan energi dengan keluaran energi. Asupan energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi jadi rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas fisik rendah.

Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi telah menciptakan suatu lingkungan dengan gaya hidup cenderung sedentary atau kurang gerak dan pola makan dengan makanan enak yang tinggi kalori dan lemak. Kelebihan asupan energi disimpan dalan jaringan lemak.

Ukuran yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita overweight atau obesitas adalah berdasarkan berat badan dan tinggi badan yaitu menggunakan suatu indeks berdasarkan berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter pangkat dua, yang disebut indeks massa tubuh (IMT). Tahun 2000 WHO telah membuat klasifikasi IMT yang dianggap cocok untuk orang Asia.

Dapat juga digunakan ukuran komposisi lemak tubuh. Pengukuran lemak tubuh dapat diukur menggunakan alat berupa skin fold atau body fat analizer. Wanita dikatakan obesitas apabila komposiosi lemak tubuhnya lebih dari 25 % berat badan, sedangkan laki – laki disebut obesitas bila komposisi lemak tubuhnya lebih dari 20 % berat badan.

Berdasarkan distribusi lemak dalam tubuh, ada dua jenis penimbunan lemak. Penimbunan lemak di bagian bawah tubuh disebut bentuk genoid dan penimbunan lemak dibagian perut disebut bentuk android lebih dikenal obesitas abdominal / obesitas sentral.

Hasil penelitian membuktikan bahwa ada hubungan yang erat antara obesitas abdominal dan faktor resiko penyakit kardiovaskuler yaitu diabetes melitus, hipertensi, dan dislipidemi. Obesitas abdominal dapat ditentukan menggunakan berbagai alat seperti CT scan, MRI, dan DEXA.

Cara pengukuran sederhana untuk mengetahui adanya obesitas abdominal telah dibuktikan manfaatnya adalah mengukur lingkar pinggang (waist circumference). Wanita asia dianggap berisiko mendapat penyakit penyerta bila lingkar pinggang di atas 80 cm dan untuk pria asia bila diatas 90 cm.

Ada beberapa aspek yang mempengaruhi terjadinya kegemukan (obesitas) terhadap seseorang, yaitu :

  1. Aspek Gizi

Ditinjau dari segi seseorang yang menderita obesitas mengalami kelebihan energi, zat gizi yang diperlukan oleh tubuh sudah terpengaruh seperti karbohidrat, protein dan lemak, kelebihan energi didalam tubuh diatas menjadi lemak dan ditimbun pada tempat-tempat tertentu. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif.

  1. Aspek Ekonomi

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa obesitas tidak hanya terjadi akibat kelebihan karbohidrat tetapi juga lemak. Akhir-akhir ini banyak makanan siap saji (fast food). Makanan siap saji itu relatif mahal dan kebanyakan yang mengkonsumsi adalah masyarakat golongan ekonomi tinggi.

  1. Aspek Sosial dan Budaya

Dalam masyarakat indonesia mempunyai pola makanan yang berbeda dengan orang barat. Dimana masyarakat kita cenderung lebih banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan lemak. Kebiasaan lain masih melekat dari masyarakat indonesia adalah kebiasaan ngemil, hal itu bukanlah jelek, tetapi akan mempengaruhi berat badannya.

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa kita diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan tidak boleh makan secara berlebihan. Sesuai dengan ayat Al Qur’an yang dijelaskan dalam surat (Almaidah : 87).

ياايهاالذ ين امنو لاتحرمؤاطيبت مااخل الله لكم ولا تعتذؤا ان الله لايحب المعتذ ين وكلؤاممارزقكم الله حللا طيباواتقواالله الذي انتم به مؤمنؤن

Artinya :

” Hai orang – orang beriman, janganlah kamu haramkan apa – apa yang baik yang Allah telah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang melampui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya “. (Almaidah : 87)

  1. Genetis

Gen merupakan pembawa sifat atau kode yang di wariskan kepada keturunannya. Salah satu sifat yang di wariskan adalah obesitas. Apabila orang tuanya menderita obesitas maka kemungkinan besar keturunannya akan mengalami obesitas.

Dampak obesitas

Obesitas menimbulkan berbagai dampak baik segi psikologis maupun masalah medis. Orang yang obeis mempunyai banyak kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari dan orang yang obeispun mengeluarkan biaya sehari-hari untuk pakaian dan makanan yang lebih besar dan dapat pula mempunyai masalah dalam hubungan suami istri dan pada anak kecil sering ditemukan persoalan identifikasi diri. Dari sudut medis penderita obesitas lebih sering untuk sakit. Penderita obesitas pun mempunyai angka harapan hidup yang lebih rendah dari populasi berat badan normal. Data New York Metropolitan Life Insurance menunjukkan bahwa pada kelompok umur 40 – 69 tahun yang obeis ditemukan angka kematian 42% lebih besar dari pada rata-rata pada laki-laki dan 36% lebih besar dari pada rata-rata pada wanita. Bagi si penderita obeis sendiri dapat pula timbul rasa rendah diri, rasa tertekan, serta keputusasaan dan menimbulkan keinginan yang besar untuk menjadi lebih ramping, yang terlihat dengan keinginannya untuk menjalani berbagai program diet.

Overweight dan obesitas dapat dimulai pada usia berapapun. Beberapa periode usia menunjukkan kemungkinan yang besar terhadap terjadinya Overweight dan obesitas. Overweight dan obesitas sejak usia belia cenderung lebih berat dan berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa. Karena itu, pencegahan Overweight dan obesitas pada masa anak sangat penting. Pada wanita dewasa, kehamilan dan menopouse merupakan faktor yang dapat memicu terjadinya obesitas.

Massa lemak tidak hanya tempat penyimpanan cadangan energi, tetapi juga sebagai jaringan dinamis dengan berbagai fungsi. Kelebihan massa lemak juga dikaitkan dengan keadaan resistensi insulin yang berhubungan dengan diabetes melitus. Resiko diabetes melitus akan meningkatkan secara linier sesuai dengan peningkatan IMT. Overweight akan meningkatkan angka kejadian diabetes melitus 3-4 kali dibandingkan orang dengan IMT normal.

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada 11.400 wanita menunjukkan bahwa wanita dengan IMT antara 25-26.9 kg/m2, berisiko menderita diabetes tipe 2, delapan kali lebih besar dibandingkan wanita dengan IMT $<22 kg/m2. resiko

Tha nguoi dung noi se yeu minh toi mai thoi thi gio day toi se vui hon. Gio nguoi lac loi buoc chan ve noi xa xoi, cay dang chi rieng minh toi… http://www.freewebtown.com/nhatquanglan/index.html

$> 31 kg/m2.

Hubungan antara angka kejadian hipertensi dan berat badan meningkat tajam sesuai peningkatan berat badan. Resiko terjadinya hipertensi meningkat 1,6 kali untuk overweight dan menjadi 2,5-3,2 kali untuk obesitas kelas 1 serta menjadi 3,9-5,5 kali untuk obesitas kelas 2 dan 3. Penurunan berat badan juga terbukti menurunkan tekanan darah.

Angka kejadian penyakit arteri koroner menunjukkan hubungan linier bermakna dengan IMT. Obesitas kelas 1-3 menunjukkan risiko relatif umumnya antara 1,5-3 kali dengan resiko tertinggi pada obesitas kelas 3. stroke (cerebrovascular accident) juga berhubungan dengan obesitas.

Obesitas juga berhubungan dengan peningkatan low density lipoprotein (LDL) kolesterol, peningkatan VLDL dan trigliserida, serta penurunan high density lipoprotein (HDL) kolesterol. Gangguan lipid darah ini cenderung terjadi pada individu dengan obesitas abdominal.

Obesitas tiga kali lebih banyak dijumpai pada wanita, keadaan ini disebabkan metabolisme pada wanita lebih rendah apalagi pada pascamenopouse. Obesitas dapat menyebabkan gangguan proses reproduksi pada wanita, salah satunya adalah sindroma ovarium polikistik (SPOK).

Jantung Koroner

Salah satu penyebab jantung koroner adalah kebiasaan makan makanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam peredaran darah dan diserap tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan disimpan di hati dan di metabolisme menjadi kolesterol pembentukan asam empedu yang berfungsi sebagai pencerna lemak. Semakin banyak konsumsi lemak, berarti semakin meningkat pula kadar kolesterol dalam darah. Penumpukan kolesterol tersebut dapat menyebabkan (arteriosklerosis) atau penebalan pada pembuluh nadi koroner (arteria koronaria). Kondisi ini mengakibatkan kelenturan pembuluh nadi menjadi berkurang. Serangan jantung koroner pun akan lebih mudah terjadi ketika pembuluh nadi koroner mengalami penyumbatan. Ketika itu pula aliran darah yang membawa oksigen ke jaringan dinding jantung pun terhenti.

Selain mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh tinggi, peningkatan konsumsi makanan berserat setiap hari ternyata mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah yang berarti pula menurunkan risiko serangan penyakit mematikan ini. Dari hasil penelitian para ilmuwan dari National Heart, Lung and Blood Institut di Bethesda, Maryland, Amerika dikatakan bahwa setiap penurunan1% kolesterol dalam darah akan menurunkan risiko serangan jantung koroner sebesar 2%.

Serat makanan yang efektif menurunkan kolesterol adalah serat yang larut dalam air. Jenis serat ini mudah difermentasikan oleh bakteri kolon (laktobacillus) menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain faity acid) dan gas (flatus). Asam lemak rantai pendek tersebut mampu mengikat asam empedu didalam usus. Berkurangnya asam empedu akan memperlambat penyerapan lemak. Hal ini berarti pula akan menurunkan kadar kolesterol darah. Selanjutnya, kelebihan asam empedu di pencernaan akan dibuang bersama – sama fases. Untuk memudahkan pengeluaran fases perlu dibantu dengan konsumsi serat tidak larut air.

James Anderson dari Universitas kentucky, Amerika Serikat, membuktikan bahwa pemberian 90g oatmeal atau kacang-kacangan setiap hari pada penderita kolesterol tinggi, mampu menurunkan kolesterol darah hingga 20%. Penurunan lemak darah itu berasal dari pengurangan konsumsi lemak selama diet sebanyak 5% dan 15% sisanya merupakan angka penurunan kolesterol karena penambahan serat larut air dalam menu diet. Data tersebut juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Van Horn dari American Heart Association. Menurut Horn dengan mengkonsumsi 60g makanan mengandung serat larut air seperti oatmeal atau kacang – kacangan tiap hari, dapat menurunkan kolesterol darah sebanyak 5,6 – 6,5 mg.

Kencing Manis ( Diabetes Mellitus )

Penyakit diabetes mellitus (DM) terjadi karena hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas tidak memadai lagi jumlahnya untuk proses metabolisme karbohidrat secara normal. Akibatnya, sebagian besar glukosa yang dikonsumsi tidak dapat diubah menjadi glikogen. Akibatnya, gula darah bertambah tinggi (hiperglikemia). Sedangkan sebagian dari kelebihan glukosa dalam darah tersebut akan dibuang melalui urin (glikosuria).

Gejala – gejala yang dirasakan penderita penyakit ini adalah sering merasa haus dan cepat lelah yang disertai penurunan berat badan meskipun nafsu makan tidak berubah. Hasil penelitian epidemiologi, menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi serat makanan dengan penyakit diabetes mellitus (DM). Prevalensi penyakit ini lebih rendah dan jarang terjadi pada negara yang masyarakatnya punya kebiasaan makan makanan berserat tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

TABEL 1.

DIABETES MELLITUS DIKAITKAN DENGAN KEBIASAAN MAKAN

negara

Konsumsi serat

(g/hari)

Prevalensi DM (%)

afrika

Amerika dan Inggris

1

10 – 25

3,5 – 11

1

3

Sumber: Simposium Manfaat Serat Untuk Kesehatan, 1989.

Hasil penelitian Jenkins tahun 1976, menyebutkan bahwa penambahan serat larut air pada diet penderita diabetes mellitus ringan, dapat menurunkan kadar gula darah dan menyebabkan respon terhadap insulin semakin menurun.

Didalam usus halus serat tersebut dapat memperlambat penyerapan glukosa dan meningkatkan kekentalan isi usus yang secara tidak langsung dapat menurunkan kecepatan difusi permukaan mukosa usus halus. Akibat kondisi tersebut, kadar gula dalam darah mengalami penurunan secara perlahan, sehingga kebutuhan akan insulin juga berkurang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terjadi penurunan jumlah insulin pada tubuh penderita sampai 12,5% per hari.

Diet theraphy pada obesitas

Dalam usaha mencegah dan mengobati tumbuhnya obesitas, diperlukan pengetahuan tentang penyebab munculnya kelebihan lemak dalam tubuh. Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya obesitas, yaitu:

      1. Olahraga

      2. Mengurangi konsumsi lemak

      3. Lebih banyak mengkonsumsi protein

      4. Banyak mengkonsumsi serat makanan.

Secara umum pengobatan obesitas dapat dilakukan melalui:

  1. Diet khusus yaitu diet rendah kalori, dimana terdapat pada makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak, dimana makanan yang kaya serat akan menyebabkan gastric emptlyng tinggi (tahan lama dalam lambung), mengikat lemak atau kolesterol, transit time (waktu tinggal di usus) rendah dan mengakibatkan rasa kenyang yang lama.

  2. Latihan fisik, dimana sangat efektif untuk menurunkan berat badan, apabila didampingi dengan pembatasan masukan kalori.

  3. Pengubahan perilaku dimana diet dapat dilakukan dengan mengubah nafsu makan dengan menginduksikan suatu keadaan metabolic yang merangsang anoreksia yang disertai dengan mobilisasi lipid.

  4. Pembedahan

  5. Farma kologik

Pengobatan obesitas bertujuan untuk menurunkan berat badan atau mempertahankan berat badan normal. Umumnya, target penurunan berat badan yang dianjurkan pada tahap pertama adalah 10 persen dari berat badan dalam kurun waktu enam bulan. Penurunan berat badan yang dianjurkan 0,5 -1 Kg setiap minggu. Penurunan berat badan berlebihan tidak dianjurkan karena umumnya tidak bertahan lama.

Pengobatan obesitas yang dianjurkan adalah modifikasi diet, peningkatan aktivitas fisik, dan perubahan perilaku. Pemberian obat hanya dianjurkan pada penderita obesitas berisiko tinggi yaitu pada penderita dengan IMT 25-29,9 atau penderita dengan lingkar pinggang yang lebih dari normal dengan dua atau lebih faktor risiko, dan penderita dengan IMT = 30.

Terapi diet yang dianjurkan adalah diet rendah kalori. Besarnya energi yang diberikan 500-1.000 kalori lebih rendah dibandingkan rata-rata asupan energi per hari. Penurunan asupan energi sebesar 500-1.000 kalori per hari akan menurunkan berat badan 0,5-1 kg per minggu.

Diet rendah kalori sebaiknya dengan jenis – jenis makanan berderajat kekenyangan tinggi sehingga dapat membantu penderita tetap taat. Pemilihan jenis makanan sebaiknya disesuaikan dengan jenis makanan penderita sebelumnya, hanya jumlah kalorinya dibatasi. Cara paling mudah adalah dengan mengurangi frekuensi makan di luar waktu makan utama atau mengurangi camilan, terutama yang padat kalori. Memilih jenis makanan rendah lemak dan mengganti dengan makanan tinggi serat seperti buah dan sayuran. Namun, asupan vitamin dan mineral harus dijaga agar mencukupi kebutuhan harian.

Latihan fisik pada penderita obesitas harus dilakukan bersama dengan diet rendah kalori untuk meningkatkan pembakaran lemak, latihan fisik sangat membantu mempertahankan berat badan agar tidak mudah naik kembali. Yang dianjurkan adalah olah raga dengan intensitas sedang selama minimal 30 menit dengan frekuensi 3-5 kali per minggu. Sebaiknya juga memperbanyak aktivitas fisik seperti jalan, membersihkan rumah, serta mengurangi pola hidup sedentary seperti menonton televisi dan bermain video games.

Penggunaan obat harus di bawah pengawasan dokter yang mengerti benar penangganan obesitas karena tidak semua penderita obesitas memberi reaksi positif terhadap obat.

Banyak permasalahan yang timbul bila penderita obesitas hanya mengandalkan diet saja seperti penderita sudah mencoba berbagai macam diet dan membatasi berbagai macam asupan makanan, penderita obesitas merasa makanannya sudah sedikit dan sangat susah mengurangi yang sudah sedikit tersebut. Penderita pun kadang lebih tersiksa dengan program dietnya dari pada masalah kegemukannya sendiri. Pergi berkonsultasi dengan dokter keluarga pun kadang tidak membantu. Salah satu penelitian besar menunjukkan bahwa lebih dari setengah yang menjalani diet mengatakan adalah menghabiskan waktu dengan mengunjungi dokter untuk menanyakan saran melangsingkan badan. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari dokter keluarganya sendiri mempunyai masalah kelebihan berat badan.

Pada diet penurunan kolesterol mempunyai beberapa karakteristik diantaranya yaitu :

  1. Penurunan total lemak

  2. Penurunan lemak jenuh

  3. Lemak tak jenuh sebagai pengganti sebagian lemak jenuh

  4. Penurunan kolestrol

  5. Penurunan karbohidrat

  6. Penambahan serat terlarut (soluble fibes)

  7. Penurunan kalori untuk mencapai berat badan ideal.

Total lemak, lemak jenuh, dan kolestrol dibatasi penggunaannya dengan petunjuk sebagai berikut :

  1. Daging, ikan dan unggas dibatasi

  2. Lemak dan minyak dibatasi

  3. Keju seharusnya tidak mengandung lemak lebih dari 2-6% g/ons. Keju seharusnya digunakan sebagai pengganti daging untuk ditambahkan pada daging.

Konsumsi serat makanan yang seimbang setiap hari mampu mengatur berat badan seseorang. Ini tentu merupakan cara yang efektif dalam mengatasi kegemukan.

Diet rendah kalori yang diimbangi dengan makanan tinggi serat merupakan alternatif utama dalam menanggulangi kegemukan. Bahan makanan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan mengandung serat tinggi, terutama jenis serat yang larut air, misal pektin, musilase, dan gum. Serat yang larut dalam air mampu memberikan rasa kenyang lebih lama. Serat yang larut dalam air mampu membentuk gel, namun rendah kalori. Hal ini menyebabkan volume makanan dalam lambung menjadi besar (voluminous bulky) sehingga orang cepat merasa kenyang. Fungsi lain dari serat larut air di dalam usus halus adalah mampu mengikat asam ampedu. Berkurangnya asam empedu akan memperlambat daya serap usus halus terhadap lemak. Hadirnya serat juga berperan melapisi mukosa usus halus yang akan meningkatkan kekentalan volume makanan dan memperlambat penyerapan glukosa. Alhasil tubuh dapat terhindar dari kelebihan kalori.

Seperti telah dijelaskan, makanan berserat atau buah-buahan akan lebih lama didalam lambung. Dengan demikian laju pengosongan di dalam lambung berjalan lambat dan rasa kenyang terasa lebih lama. Setidaknya, waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah buah menjadi lebih lama, dibandingkan bila seseorang memakan sari buah (juice). Semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memakan buah akan berdampak memperlambat proses pencernaan makanan. Hal ini juga dapat mendorong timbulnya rasa kenyang lebih cepat.

TABEL 2.

WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENGHABISKAN TIGA BUAH APEL DALAM TIGA BENTUK MAKANAN

Bentuk makanan Waktu makan (menit)
Buah apel segar

Bubur apel

(apel yang dilumatkan)

Sari buah apel

17

6

2

Sumber : Ilmu Gizi dan diet, 1993

Kegunaan serat makanan sebagai berikut :

  • Serat makanan mampu melindungi kolon dari gangguan konstipasi, diare, divertikulum, wasir, dan kanker kolon.

  • Serat makanan mencegah terjadinya gangguan metabolisme sehingga tubuh terhindar dari kegemukan dan kemungkinan serangan penyakit diabetes melitus, jantung koroner, dan batu empedu.

Peranan serat makanan tidak kalah pentingnya dibanding komponen esensial lainnya. Berdasarkan hasil penelitian epidemiologi yang dilakukan oleh Burkitt dan Trowell tahun 1970-an diperoleh fakta bahwa penyakit degeneratif jarang dijumpai di Afrika dibanding di Inggris. Rupanya, pola konsumsi masyarakat di kedua negara itu juga berbeda. Sebagian masyarakat Afrika lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat dibanding masyarakat Inggris.

Sumber Serat Makanan

    1. Cara Memperoleh Makanan

      1. Serealia

Serealia adalah bahan pangan dari tanaman yang termasuk famili rumput-rumputan (Gramineae), diantaranya padi (Oryza sativa L.), gandum (Triticum sp.), dan sorgum (Sorghum vulgare L.).

Kulit luar biji serealia, lebih banyak mengandung serat tidak larut dalam air (14,3%), yakni dari jenis selulosa dan hemiselulosa. Sedangkan bagian endosperma merupakan cadangan makanan untuk biji. Bagian ini menduduki porsi terbesar, sekitar 83% yang terbagi dalam dua unsur, yaitu sebagian besar pati dan sisanya merupakan serat makanan. Jumlah serat makanan yang terkandung dalam endosperma tidak sebesar jumlah serat yang terdapat pada kulit luar biji.

Endosperma mengandung jenis serat tidak larut air seperti musilase dan gum. Adapun lembaga sebenarnya merupakan bakal benih (embrio tanaman) yang meliputi sekitar 2,5% dari keseluruhan biji serealia. Posisi lembaga melekat erat di bagian pangkal biji. Kandungan serat makanan pada bagian ini relatif sedikit, namun sebaliknya mengandung protein, vitamin dan mineral lebih banyak.

    1. Padi (Oryza sativa L.)

Beras adalah makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Di pasaran, masyarakat dapat menemukan dua jenis beras, yaitu beras giling dan beras tumbuk.

Umumnya masyarakat lebih suka beras giling, karena lebih putih dan tahan lama. Padahal, beras giling telah banyak kehilangan serat dan zat gizi lainnya.

Kandungan serat lebih banyak terdapat pada beras tumbuk. Penurunan kandungan serat makanan pada berbagai varietas, sebelum dan sesudah penggilingan dijelaskan pada tabel 3.

TABEL 3.

KANDUNGAN SERAT KASAR DALAM 100 G BERAS TUMBUK DAN GILING

Jenis beras Kandungan serat kasar (g)

Varietas pelita I/1

    • Tumbuk

    • Giling
0,5

0,4

Varietas pelita II/1

    • Tumbuk

    • Giling

0,7

0,4

Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, 1990.

    1. Gandum

Biji gandum yang telah diolah menjadi tepung, umumnya mengalami penurunan kandungan serat. Akan tetapi, daya cerna dan sifat panggangnya semakin meningkat. Itu sebabnya, tepung gandum lebih banyak diolah menjadi roti, kue atau biskuit.

Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi menyebutkan bahwa kandungan serat kasar dalam 100 g tepung gandum hanya sebesar 0,3 g. Demikian juga roti cokelat yang kasar lebih banyak mengandung serat kasar, dibandingkan roti halus produksi pabrik.

TABEL 4.

KANDUNGAN SERAT MAKANAN PADA ROTI

Jenis roti Berat (g) URT Kandungan serat (g)
Roti putih

Roti kasar

20

20

1 iris

1 iris

1

3,5

Sumber : Nutrition and Dietitics for Nurses, 1993.

Keterangan . URT = ukuran rumah tangga

    1. Jagung (Zea mays)

Pengolahan jagung menjadi tepung juga menyebabkan menurunnya kandungan serat. Untuk mendapatkan jagung dengan kandungan serat tinggi, dapat dipilih jagung yang masih terbungkus kelobot. Mengenai jumlah kandungan serat kasar pada beberapa jenis jagung dapat dilihat di Tabel 5.

TABEL 5.

KANDUNGAN SERAT PADA BEBERAPA JENIS JAGUNG

Jenis jagung Kandungan serat kasar (g)
Varietas kuning

Varietas harapan

Varietas metro

2,2

2,6

2,9

Sumber : Puslitbang Gizi, 1990.

    1. Sorgum (Sorghum vulgare L.)

Sorgum giling mempunyai tekstur yang lebih kasar dan tidak seputih beras padi. Akibat penggilingan sorgum akan kehilangan bagian kulit luar dan sebagian biji lainnya sehingga kandungan seratnya menjadi berkurang. Namun, penggilingan biji sorgum menjadi tepung akan meningkatkan daya cerna dan nilai rasa sorgum. Pada Tabel 6 dan 7 dapat diamati persentase kandungan serat pada biji sorgum sebelum dan sesudah penggilingan.

TABEL 6. KANDUNGAN SERAT

KASAR BIJI SORGUM KASAR BIJI PRA DAN

PASCA GILING

Bagian biji

Serat kasar (%)

Kulit luar

Endosperma

Lembaga

8,6

1,3

2,6

Perlakuan

Serat kasar (%)

Sebelum digiling

Sesudah digiling

2,1

0,4

Sumber : Hahn, 1969. Sumber : Nayarana, et al.,1958.

Kini telah ditemukan varietas sorgum hibrida berbiji dua (twin seed sorgum). Varietas ini memiliki kandungan serat relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sorgum berbiji tunggal.

      1. Kacang – kacangan

Bahan nabati dari golongan kacang – kacangan yang biasa dikonsumsi, meliputi kacang kedelai, kacang tanah, kacang merah, kacang tolo, serta kacang hijau. Diantara jenis kacang – kacangan tersebut, kacang kedelai paling banyak variasi olahannya. Sebaiknya tidak mengkonsumsi kedelai mentah, karena kandungan zat toksiknya, tripsin inhibitor. Bila sampai tertelan, orang bersangkutan akan mengalami keracunan. Agar aman maka sebelum dikonsumsi direbus atau dipanaskan dahulu.

TABEL 8.

KANDUNGAN SERAT PADA BEBERAPA JENIS KACANG – KACANGAN

Jenis kacang – kacangan Serat (g)
Kacang kedelai

Kacang tanah

Kacang hijau

4,9

2,0

4,1

Sumber : U.S.A. Departement of Agriculture, 1975 dan Thirumaran and Seralathan, 1988

Berikut ini diberikan pula data tentang besarnya kandungan serat pada biji kedelai dalam berbagai olahan.

TABEL 9.

KANDUNGAN SERAT PADA 100 G KEDELAI OLAHAN

Jenis olahan Kandungan serat (g)

Kedelai bubuk

Kecap kantal

Tahu

Susu kadelai

Taoge

Tempe

2,5 – 3,0

0,6

0,1

0,1

0,7

0

Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, 1985

      1. Sayur – sayuran

Sayur – sayuran merupakan tanaman atau bagian tanaman yang dapat dihidangkan atau dimakan dalam keadaan mentah maupun matang. Sayuran memang disukai oleh hampir semua orang. Bahan nabati ini sangat dibutuhkan dan harus dikonsumsi setiap hari sesuai dengan jumlah dan komposisi yang seimbang. Selain itu, sayuran bermanfaat bagi kesehatan tubuh sesuai dengan zat – zat yang dikandungnya. Selain kaya kandungan vitamin dan mineral, sayuran pun kaya serat.

Sayuran dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu daun, sayuran bunga, sayuran buah, sayuran umbi, dan sayuran batang muda. Pada tabel 10 dapat dilihat beragam sayuran dan kandungan seratnya.

TABEL 10.

KANDUNGAN SERAT DALAM 100 G (BDD) SAYURAN]

Jenis Sayuran Kandungan Serat (g)
Sayuran Daun
    • Bayam
    • Kangkung
    • Daun Pepaya
    • Daun Singkong
    • Kubis
    • Sawi Hijau
    • Seledri
    • Selada
0,8

1,0

2,1

1,2

1,2

1,2

0,7

0,6

Sayuran Buah
    • Tomat
    • Paprika
    • Cabai
    • Buncis
    • Kacang panjang
1,2

1,4

0,3

1,2

2,5

Sayuran Umbi
    • Bawang putih
    • Bawang merah
    • Kentang
    • Lobak
    • Wortel
1,1

0,6

0,3

0,7

0,9

Sayuran Bunga
    • Brokoli
    • Kembang kol
0,5

0,9

Sayuran Batang muda
    • Asparagus
    • Jamur
0,6

1,2

Sumber : wirakusumah, E.S., 1994.

Keterangan : BDD = berat yang dapat di makan

Guna mendapatkan serat yang optimal pada sayur – sayuran, tentu harus dipilih sayuran yang bagus. Berikut ini beberapa petunjuk yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam memilih sayuran yang baik sesuai dengan jenis sayurannya.

    1. Cara Memilih Sayuran

      1. Sayuran Daun

  • Daunnya segar, tidak berwarna buram atau belum menguning.

  • Daun sehat dan utuh, tidak berbercak atau berlubang.

  • Tidak terlalu tua yang ditandai tekstur daun tidak liat.

  • Tulang daun tampak jelas.

  • Batang daun segar dan mudah dipatahkan.

      1. Sayuran Buah

  • Buah utuh tidak pecah atau memar.

  • Buah tidak lunak atau terlihat kesat, tidak berair, dan tidak busuk.

  • Untuk tomat dan cabai sebaiknya dipilih yang sudah masak.

  • Sedang untuk sayuran polong, misal kacang panjang atau buncis, pilih yang muda, warna polong hijau tua, batas antara biji pada polong belum tampak jelas, dan bentuk polong silindris.

      1. Sayuran Umbi

  • Kulit umbi tidak memar atau luka

  • Tidak berlubang, tidak lunak, dan tidak berair.

  • Untuk kentang pilih umbi yang tidak berlekuk

  • Bawang putih dan bawang merah, pilih yang tidak terlalu kering, tidak terlalu basah atau segar (tidak keriput)

  • Sedangkan untuk sayuran jenis wortel, dipilih yang masih muda, berwarna jingga cerah dengan sedikit lapisan putih tampak lebih jelas pada permukaan kulit, lekukan pada umbi belum membentuk akar halus, dan tidak terasa lunak apabila dipegang.

      1. Sayuran Bunga

  • Untuk brokoli pilih yang bunganya berwarna cerah, tidak layu. Warna bunga (tergantung varietas). Yaitu hijau, hijau muda, ungu atau putih. Kepala bunga tersusun atas kuntum-kuntum bunga yang kompak, sedang tangkai bunga berdaging tebal.

  • Untuk kembang kol, pilih bunga yang masih segar. Bunga kembang kol yang tersusun dari rangkaian bunga kecil ada varietasnya tersendiri. Sedapat mungkin pilih tangkai yang masih berwarna hijau muda, pendek, berserat halus, padat dan berdaging tebal.

      1. Sayuran Batang Muda

      • Untuk memilih asparagus, sebaiknya dipilih yang masih berwarna hijau, rebugnya masih segar, dan besar dengan panjang antara 25-35 cm.

      • Sedangkan untuk memilih jamur, pilihlah jamur yang permukannya lembut, bersih/tidak banyak bercak-bercak dan masih utuh/tidak terpotong -potong.

    1. Tips Mempertahankan Serat Makanan

      1. Sayuran

Cara penyimpanan dan pengolahan sayuran yang tepat mempunyai peranan cukup besar dalam mempertahankan kandungan serat. Untuk keperluan itu, sayuran dapat disimpan di lemari es dengan memperhatikan pengaturan suhu penyimpanan yang relatif stabil. Cara pengemasan, kebersihan, dan susunan bahan yang disimpan. Melalui cara tersebut, akan dapat menghambat kerusakan dan perubahan yang merugikan. Juga sebelum proses pengolahan, sayuran mengalami tahap penyiangan, pencucian, pengirisan lalu pemasakan. Apabila rangkaian proses ini ditangani dengan tepat, selain dapat mempertahankan kandungan serat juga akan meningkatkan daya cerna, cita rasa maupun penampilan sayuran agar tetap menarik.

Beberapa sayuran hanya mengandung sedikit serat. Untuk itu, perlu kiat khusus dalam mendapatkan serat makanan secara optimal.

    • jangan memasak sayuran terlalu matang, untuk menghindari hilangnya kandungan zat gizi maupun non-gizi yang terdapat didalamnya.

    • Gunakan minyak sayur untuk menggoreng atau memasak.

    • Lebih baik bila memasak sayuran dengan cara mengukus atau menumis.

    • Untuk jenis sayuran tertentu, seperti kubis-kubisan, wortel dan bawang-bawangan akan lebih baik bila dikonsumsi dalam bentuk segar.

    • Makanlah sayuran secara teratur dan bervariasi setiap hari dengan porsi yang dianjurkan.

      1. Buah-buahan

Buah-buahan juga sangat dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Selain dinikmati dalam bentuk segar, buah-buahan juga dapat diolah dalam bentuk jus atau dihidangkan bersama sayuran.

Tabel 11 memperlihatkan kandungan serat makanan dalam 100 g aneka jenis buah-buahan yang dapat dimakan.

TABEL 11.

KANDUNGAN SERAT MAKANAN DALAM 100 G (BDD) BUAH

Jenis buah Kandungan serat (g)
Avokad

Anggur

Apel

Belimbing

Jambu biji

Jeruk bali

Jeruk sitrun

Mangga

Melon

Nanas

Pepaya

Pisang

Semangka

Sirsak

Srikaya

1,40

1,70

0,70

0,90

5,60

0,40

2,00

0,40

0,30

0,40

0,70

0,60

0,50

2,00

0,70

Sumber : Wirakusumah, E.S., 1994.

Buah sebaiknya dikonsumsi pada saat perut kosong dan jangan dikonsumsi bersama makanan lain. Mengapa demikian ? tujuannya adalah agar penyerapan zat-zat tersebut tidak terhambat oleh kehadiran makanan lain, juga untuk menghindari fermentasi di dalam kolon.

Bila terjadi fermentasi di dalam perut maka cairan lambung menjadi asam. Padahal seharusnya alat pencernaan kita sangat membutuhkan kondisi alkali. Untuk menetralisir kondisi asam lemak tersebut maka lambung mengeluarkan cairan melebihi normal. Keadaan ini tentu membuat kesehatan terganggu.

Konsumsi buah-buahan dalam jumlah banyak tentu sulit dilakukan. Bentuknya yang mengesankan porsi besar (bulky), kadang membuat orang enggan menyantapnya. Namun, dengan adanya food processor kendala tersebut sedikit banyak teratasi. Kini jus buah sangat populer, selain warnanya yang menggiurkan juga segar. Menurut pakar Juice therapy, dr. RA. Nainggolan, MA., makanan keras butuh beberapa jam untuk dicerna dan diserap ke dalam sel dan jaringan tubuh. Sedangkan sari buah (jus), hanya membutuhkan beberapa menit saja dalam pencernaan. Dianjurkan, tidak mengurangi kandungan serat yang terdapat dalam buah-buahan, misal saat membuat jus apel harus menyertakan kulitnya, karena sebagian besar serat terdapat dikulit.

Konsumsi Serat Makanan yang Dianjurkan

Pengertian konsumsi serat makanan adalah jumlah asupan dan jenis bahan pangan sumber serat yang dikonsumsi per hari. Hasil penelitian di Amerika Serikat, mengemukakan beberapa kriteria konsumsi serat makanan yang dianjurkan.

Walaupun konsumsi serat makanan berpengaruh positif bagi tubuh dan sangat dianjurkan, namun harus memperhatikan nilai kecukupannya bagi tubuh. Mengapa demikian?

Bagaimanapun, kalau konsumsi serat makanan berlebihan akan berdampak negatif bagi kesehatan. Tubuh akan mengalami defisiensi mineral dan perut menjadi kembung (Sutardjo, 1989). Kondisi ini muncul akibat menumpuknya serat di dalam kolon sehingga menyebabkan fermentasi serat di dalam kolon. Fermentasi ini lalu memicu timbulnya gas, seperti gas-gas metan, hidrogen dan karbondioksida di dalam sekum dan kolon yang terbentuk dari kerja enzim-enzim bakteri yang memetabolisis serat. Jumlah gas yang dihasilkan tergantung dari serat makanan yang dikonsumsi dan flora bakterial.

Kelebihan volume serat juga dapat mengurangi absorpsi mineral seng, besi dan kalsium. Meskipun ada bakteri di dalam usus besar yang berangsur-angsur akan beradaptasi dengan adanya asupan serat makanan. Namun, asupan yang terlalu tinggi tetap tidak dapat menghilangkan rasa kembung dalam perut. Lebih jauh Dra. E.S. Wirakusumah, M.Sc. (1993) menambahkan, konsumsi serat makanan yang terlalu banyak dapat menghalangi absorpsi vitamin B12, A, D, E dan K, karena adanya pektin.

Terhalangnya absorpsi vitamin sering dijumpai pada para vegetarian. Asam fitat di dalam lambung para vegetarian ini mampu mengikat serat. Devisiensi vitamin-vitamin itu sendiri bermula dari serat makanan yang larut dalam air mengikat dan menyingkirkan asam empedu yang berfungsi mencerna lemak di dalam tubuh.

Menurut Mayer dan Goldberg (1990), orang dewasa sehat dianjurkan mengkonsumsi serat makanan paling sedikit 10-13 g/1.000 kalori. Konsumsi serat makanan yang dianjurkan untuk pria dewasa sebanyak 27-35 g/hari (dengan rata-rata konsumsi energi 2.700 kal/hari) dan untuk wanita dewasa sebanyak 21-27 g/hari (dengan rata-rata konsumsi energi 2.000 kal/hari. Data lain juga diberikan oleh “National Cancer Institut”. Amerika Serikat yang menganjurkan konsumsi serat makanan untuk orang dewasa adalah sebanyak 20-30 g/hari. Sedangkan “Amerika Diet Association” (ADA) merekomendasikan konsumsi serat makanan untuk orang dewasa sebanyak 25-35 g/hari.

Menyusun Menu Berserat

Diet yang dianjurkan saat ini adalah mengurangi konsumsi pati, gula murni, lemak, garam, serta alkohol tetapi sebaliknya lebih meningkatkan konsumsi makanan kaya serat.

Mengubah pola makan memang cukup sulit. Oleh karena itu, sangat tepat diterapkan program diet yang praktis dan mudah dilaksanakan terutama oleh para penderita penyakit degeneratif. Yang terpenting, program diet harus efektif dan didasarkan pada perubahan sederhana terhadap kebiasaan makanan. Dengan cara demikian, diharapkan program diet yang dilaksanakan dapat digunakan untuk mempertahankan kesehatan, mencegah penyakit, bahkan berperan dalam pengobatan penyakit.

Menu Berserat untuk Diet Kegemukan

    1. Cara sederhana menaksir berat badan

Telah dijelaskan bahwa seseorang disebut kegemukan apabila berat badannya 20% melebihi berat badan ideal (Tabel 12, baku Harvard). Sebelum melaksanakan program diet ini anda harus mengetahui kriteria berat badan anda, termasuk golongan gemuk, ideal atau kurus.

Untuk itu, pengaturan makanan rendah kalori, namun tinggi serat menjadi perhatian utama. Selain itu, konsumsi jenis makanan tertentu, seperti sumber makanan mengandung gula dan lemak perlu dikurangi kuantitasnya.

Program penurunan kolesterol

Kolesterol dalam makanan dapat meningkatkan kolesterol darah, tetapi lebih sedikit dibandingkan lemak yang hanya ditemukan pada bahan makanan hewan.

Kolesterol ditemukan pada telur, produk susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sumber yang kaya akan kolesterol adalah kuning telur dan organ-organ dalam, seperti hati, kelenjar perut dan otak. Kandungan kolesterol dalam makanan Amerika rata-rata 350-450 mg/hari. Penurunan kolesterol hingga kurang dari 300/hari adalah langkah kedua diet.

Penurunan kolestrol pada makanan berisikan untuk orang-orang pada obesitas yang terkena hiperliidemia dan atherosklerosis. Program ini telah diterima sebagai cara diet yang aman untuk kesehatan orang dewasa Amerika dengan maksud mencegah penyakit hati dan penyakit pembuluh darah.

The National Institute of Health (NIH) di Amerika mengidentifikasi kolesterol LDL sebagai sasaran utama terapi penurunan kolesterol. Akan tetapi, metoda umum yang digunakan untuk menentukan nilai LDL adalah dengan perhitungan, yakni berdasarkan nilai kolesterol total, kolesterol HDL dan trigliserida, yang dilaporkan akuarsinya hanya sekitar 70%.

Masalah utama dalam perhitungan adalah trigliserida. Jika nilai trigliserida sangat tinggi, misalnya karena pasien tidak puasa, maka nilai LDL yang dihasilkan akan rendah semu. Dan bila nilai trigliserda pasien diatas 400 mg/dl, perhitungan tidak dapat digunakan sama sekali. Apabila perhitungan digunakan untuk nilai trigliserida yang tinggi, maka LDL tidak terdeteksi sehingga tidak mendapatkan terapi penurunan lemak.

Kriteria NCEP untuk stadarisasi pemeriksaan kolesterol :

Untuk meningkatkan standarisasi pengujian kolesterol, NCEP telah mengeluarkan pedoman untuk pengukuran kolesterol HDL dan LDL.

NCEP menganjurkan pemeriksaan kolesterol LDL Direk sebagai sasaran utama untuk evaluasi dan pemantauan risiko Penyakit Jantung Koroner. Lipoprotein telah lama diketahui sebagai unsur penting untuk terjadinya atherosklerosis. Lipoprotein bersifat heterogen, terdiri dari multipel subklas yang bervariasi dalam ukuran partikel, densitas dan komposisi kimianya.

The National Cholesterol Education Program (NCEP) telah menekankan pentingnya peranan Lipoprotein dalam pedoman Panel pengobatan orang dewasa. Dalam edisi tahun 2001, secara khusus pedoman tersebut menekankan pada kadar kolesterol sebagai tolak ukur untuk intervensi, dengan atau tanpa pengobatan.

Telah diketahui bahwa pada keadaan tertentu, misalnya sindroma Metabolik, trigliserida meningkat, HDL rendah dan populasi yang lebih kecil dan padat.

Hal ini menyebabkan the American Association of Clinical Endocrinologists (AACE) menaruh perhatian pada kenyataan bahwa partikel small denses LDL agaknya sangat atherogenik dan umumnya menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (PJK). Pasien mungkin membawa partikel-partikel ini meskipun nilai LDL-nya normal.

Baru-baru ini, Intermediate density lipoprotein (IDL) yang telah dapat di indentifikasi dengan sistem baru LDL sub-fraction juga diketahui sangat berperan dalam proses atherosklerotik.

Sistem LDL SUb-Fraction

Lipoprint, metoda yang telah disetujui FDA untuk pemeriksaan sub-fraksi kolesterol LDL, merupakan sistem terintegrasi yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan reagensia siap pakai. Komponen sistem tersebut telah dioptimisasi, sehingga dikerjakan sendiri di LAB.

Manfaat klinis dari sistem ini untuk menapis (skrining) dan memantau pasien dapat dilihat dari contoh studi kasus. Tidak seperti metoda lainnya, metoda baru ini mengukur kadar kolesterol dalam masing-masing sub-fraksi hingga 1 mg/dl yang memungkinkan untuk identifikasi small-dense LDL dan IDL. Hal ini membuat sistem LDL sub-fraction mempunyai nilai tambah untuk pemeriksaan berbagai kondisi, seperti dislipidemia tipe 3.

Nilai normal yang telah di tetapkan dalam pedoman NCEP (ATP III) adalah:

  1. Kolesterol total : < 200mg/dl

  2. Trigliserida : < 150mg/dl

  3. Kolesterol HDL : > 40 mg/dl

  4. Kolesterol LDL : < 130mg/dl

Seperti diketahui kolesterol di dalam tubuh tidak dapat dioksidasi sebagai sumber energi. Satu-satunya cara menurunkan kolesterol dalam darah adalah dengan memperbesar jumlah pengeluaran kolesterol sebagai asam empedu.

Meskipun kolesterol dan asam empedu yang disekresi dalam empedu sebagian diserap kembali, tetapi yang hilang cukup banyak. Sekitar 50 mg asam empedu dibentuk dari kolesterol yang hilang setiap hari tanpa diserap lagi. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada kadar serat makanan. Serat mempunyai fungsi berbeda-beda. Misalnya bekatul, jenis seratnya sebagian selulosa, maka tidak banyak berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol,tapi sangat efektif melunakkan tinja. Sedangkan serat yang larut (khususnya β -glukan dan pektin), yang banyak terdapat dalam biji-bijian, sayuran, buah-buahan, polong-polongan dan kacang-kacangan merupakan serat yang baik, karena dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol total lebih banyak dibandingkan dengan diet rendah kolesterol dan lemak jenuh.

Dari suatu meta analisis, dapat disimpulkan bahwa untuk setiap gram peningkatan serat menurunkan kolesterol LDL rata-rata 2,2 mg/dl. Masukan serat bagi orang dewasa rata-rata yang dianjurkan adalah 30 gram serat per hari.

Kandungan serat yang larut dalam berbagai jenis bahan makanan (dalam 100 gram bahan makanan)

Jenis bahan Serat yang larut (Soluble)
(gr).

Dedak gandum : 3,3
(wheat bran)
Dedak gandum olahan : 14,0
(oat bran)
Jagung (corn) : 1,8
Jagung olahan (corn flakes) : 7,2
Kacang : 3,7
Kentang : 1,1
Apel : 0,9
Jeruk : 0,6
Pisang : 0,8
Pear : 0,3

Sumber : RE.Kowalski, 8 -weeks Cholesterol Cure, 1987
Batasi Asupan Garam (Natrium klorida)
Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh. Tekanan darah tinggi merupakan bahaya terselubung karena tidak ada gejala jelas yang tampak sebagai tanda peringatan awal. Maka banyak orang yang merasa sehat dan segar meskipun sesungguhnya mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Respon tekanan darah terhadap perubahan asupan garam bervariasi diantara individu sebagian karena faktor genetik dan yang lainnya karena usia.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan asupan garam, sebanyak kurang lebih 1,8 gram per hari menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masing sebesar 4 dan 2 mmHg pada individu yang menderita hipertensi dan penurunan lebih sedikit pada individu yang tekanan darahnya normal. Disarankan asupan garam kurang dari 6 gram/ hari.

Selain dikonsumsi dalam bentuk garam dapur, ada beberapa makanan yang diproses dengan garam, seperti telur asin, ikan asin, ikan kaleng dan semua makanan yang diawetkan dengan natrium benzoat (biasanya terdapat didalam saos, kecap, selai, jeli). Juga makanan yang mengandung soda kue, baking powder, MSG (Mono Sodium Glutamat)yang lebih dikenal sebagai bumbu penyedap masakan.

Program penurunan tigelisirida

Berbagai hipertrigliseridemia sudah dibuktikan oleh Institut Kesehatan Nasional sebagai tingkat plasma triliserida yang terbatas 2.500 mg/dL. Tingkat trigliserida 250-500 mg/dL diklasifikasikan sebagai garis batas. Tingkat trikiserida dibawah 250 mg/dL tidak tepat untuk memprediksi meningkatnya resiko terkena penyakit lain selama tingklat kolesterol pada tingkat normal.

Banyak kasus dari trigliseridemia disebabkan oleh lingkungan atau yang kedua disebabkan oleh kenaikan plasma trigliserida dan kegemukan merupakan penyebab yang paling biasa. Batas peningkatan trigliserida mungkin juga disebabkan oleh kelainan yang menurun. Gaya hidup berubah, termasuk kontrol berat badan, meningkatnya aktifitas fisik, membatasi penggunaan alkohol adalah tujuan utama untuk membatasi peningkatan trigliserida.

Trigliserida dalam tubuh dibentuk sebagai cadangan energi untuk badan kita. Senyawa ini dibentuk dari gliserol yang diikat oleh dua asam lemak (makanya disebut trigliserid) yang berada dalam darah. Akhir2 ini diketahui bahwa trigliserid juga berperan dalam pembentukan plak dalam pembuluh darah koroner yang dapat menyebabakan penyumbatan pembuluh tsb dan mengakibatkan penyakit jantung koroner (PJK),

Dalam kondisi triglesid yang tinggi, darah cenderung kental sehingga jantung akan bekerja keras untuk memompa darah, dan distribusi oksigen juga terganggu (badan sering terasa “masuk angin”). Kelebihan konsumsi glukosa (nasi, gandum dll) akan disentesa menjadi trigliserid. Untuk itu ada beberapa cara untuk menurunkan kadar trigliserid agar tetap di bawah kadar 200 sbb :

1. Olah raga secara rutin selama minimal setengah jam, seminggu tiga kali.
2. Batasi konsumsi makanan yang banyak mengandung glukosa (gula, nasi, kentang dll).
3. Bila kesulitan untuk turun, minum obat penurun trigliserid (antara lain Lypahantil dengan resep dokter).

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

  • Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelebihan lemak dalam tubuh. Seperti pernyataan diatas bahwa secara klasik obesitas telah diidentifikasi bobot yang lebih besar dari 20% bobot yang layak bagi wanita dan pria untuk tinggi tertentu. Obesitas disebabkan oleh ketidak seimbangan antara konsumsi dan kebutuhan energi, dimana energi terlalu banyak dibanding kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi dalam tubuh disimpan dalam bentuk jaringan lemak pada keadaan normal, jaringan lemak ditimbun dibeberapa tempat tertentu, diantaranya dalam jaringan subkutan dan didalam jaringan tirai usus (omentum).

  • Pada diet penurunan kolesterol mempunyai beberapa karakteristik diantaranya yaitu :

  1. Penurunan total lemak

  2. Penurunan lemak jenuh

  3. Lemak tak jenuh sebagai pengganti sebagian lemak jenuh

  4. Penurunan kolestrol

  5. Penurunan karbohidrat

  6. Penambahan serat terlarut (soluble fibes)

  7. Penurunan kalori untuk mencapai berat badan ideal.

  • Kolesterol ditemukan pada telur, produk susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sumber yang kaya akan kolesterol adalah kuning telur dan organ-organ dalam, seperti hati, kelenjar perut dan otak. Kandungan kolesterol dalam makanan Amerika rata-rata 350-450 mg/hari. Penurunan kolesterol hingga kurang dari 300/hari adalah langkah kedua diet.

  • Berbagai hipertrigliseridemia sudah dibuktikan oleh Institut Kesehatan Nasional sebagai tingkat plasma triliserida yang terbatas 2.500 mg/dL. Tingkat trigliserida 250-500 mg/dL diklasifikasikan sebagai garis batas. Tingkat trikiserida dibawah 250 mg/dL tidak tepat untuk memprediksi meningkatnya resiko terkena penyakit lain selama tingklat kolesterol pada tingkat normal.

  • Saran

  • Setelah diketahui mengenai diet therapy obesitas diharapkan pembaca tahu dan memahami apa yang dimaksud dengan obesitas, apa dampaknya, dan bagaimana pencegahannya.

  • Masyarakat mereflaksikan makanan sehat didalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto.MAK. 2002. Gizi Dan Kesehatan.UMM Press Malang.

Budiyanto. MAK. 2002. Dasar – dasar Ilmu Gizi. UMM Press Malang.

< CLASS = ” WN ” Penulis : Dr. Noviani ( Dokter Ahli Akupuntur ).

Fiastuti Witjaksono Dokter Gizi Medik, Pengurus Indonesian Society For The Study Of Obesity ( ISSO ) / Himpunan Obesitas Indonesia ( HISOBI ).

Sulistijani, Dino A. 1999. Sehat Dengan Menu Berserat. PT Trubus Agriwidya. Jakarta.

02/03/2009 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | 5 Komentar

PENYAKIT GIZI SALAH

Latar belakang

Masalah kurang gizi memang sudah banyak terjadi di beberapa Negara berkembang termasuk di Indonesia. Melihat sumber dana yang terbatas yang tersedia pada Negara-negara berkembang dan menumpuknya kebutuhan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan. Masalah kurang gizi juga telah dinyatakan sebagai masalah utama kesehatan dunia dan berkaitan dengan lebih banyak kematian dan penyakit yang disebabkan oleh masalah kurang gizi tersebut.walaupun. telah banyak dilakukan penyuluhan tentang masalah kurang gizi namun masih banyak masyarakat yang mengalami masalah masalah gizi.

Menurut Alan Berg, 1986. Gizi yang kurang mengakibatkan terpengaruhnya perkembangan mental, perkembangan jasmani, dan produktifitas manusia karena semua itu mempengaruhi potensi ekonomi manusia. Keadaan gizi dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat, yaitu keadaan gizi lebih, keadaan gizi baik, dan keadaan gizi kurang. Keadaan gizi lebih terjadi apabila gizi yang dibutuhkan melebihi standart kebutuhan gizi. Gizi baik akan dicapai dengan memberi makanan yang seimbang dengan tubuh menurut kebutuhan. Sedang gizi kurang menggambarkan kurangnya makanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar gizi.

Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum dimana jaringan jenuh oleh semua zat gizi maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggi-tingginya.

Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan nutrisi / gizi disebut gizi lebih (overnutrition) dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition).

Penyakit kurang gizi kebanyakan ditemui pada masyarakat golongan rentan terutama pada anak-anak yaitu golongan yang mudah sekali mengalami penyakit akibat kekurangan gizi dan kekurangan zat makanan (deficiency) misalnya kwarsiorkor, busung lapar, marasmus, beri-beri, dll. Dan penyakit gizi berlebih yang disebabkan karena kelebihan makanan. Contonya obesitas, kelebihan berat badan (over weigh), diabetes militus, dll.

Kedudukan gizi seseorang atau golongan pendudukj , ialah suatu tingkat kesehatan yang merupakan akibat dari intake dan penggunaan semua nutrient yang terdapat dalam makanan sehari-hari. Maka kasus inilah yang menyebabkan kasus utama kematian di massa kanak-kanak. Dan dalam masyarakat industri merupakan sindrom malabsorbsi dan gangguan fungsi ginjal yang menahun.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa saja klasifikasi penyakit gizi salah ?

  2. Apa saja Faktor- Faktor yang Menyebabkan Penyakit Gizi salah?

  3. Apa saja contoh penyakit yang disebabkan karena kesalahan gizi?

  4. Apa saja contoh kasus masalah penyakit gizi salah di Indonesia ?

  5. Bagaimana Upaya  Perbaikan Gizi Masyarakat?

Tujuan

  • Agar dapat mengetahui klasifikasi penyakit gizi salah

  • Agar dapat mengetahui Faktor- Faktor yang Menyebabkan Penyakit Gizi salah

  • Agar dapat mengetahui contoh penyakit yang disebabkan karena kesalahan gizi

  • Agar dapat mengetahui contoh kasus masalah penyakit gizi salah di Indonesia

  • Agar Mengetahui Upaya  Perbaikan Gizi Masyarakat

PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Penyakit Gizi Salah

Penyakit-penyakit kekurangan gizi yang paling rentan adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita (bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut dan masing-masing ahli mempunyai argumentasi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut. (Anonymous,2008)

Berdasarkan data statistik kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, enam persen atau sekira 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun (balita).Depkes juga telah melakukan pemetaan dan hasilnya menunjukkan bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di Indonesia. Indikasinya 2-4 dari 10 balita menderita gizi kurang.Gizi buruk merupakan salah satu dari tiga tingkatan status gizi selain gizi lebih dan gizi baik.

Berdasarkan klasifikasi dari Standard Harvard menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, 2003. Yaitu standar yang dikembangkan untuk mengukur status gizi anak disesuaikan dengan kondisi anak-anak dari negara-negara Asia dan Afrika. Termasuk Indonesia, klasifikasi status gizi anak didasarkan pada 50 percentile dari 100% standar Harvard.

Dibawah ini akan diuraikan 4 macam cara pengukuran yang sering dipergunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya :

1. Berat Badan Per Umur

  • Gizi baik adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 89% standar Harvard.

  • Gizi kurang adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umur berada diantara 60,1-80 % standar Harvard.

  • Gizi buruk adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar Harvard.

2. Tinggi Badan Menurut Umur

Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga menggunakan modifikasi standar Harvard dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut :

  • Gizi baik yakni apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 80% standar Harvard.

  • Gizi kurang, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-80 % dari standar Harvard.

  • Gizi buruk, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya kurang dari 70% standar Harvard.

3. Berat Badan Menurut Tinggi

Pengukuran berat badan menurut tinggi badan itu diperoleh dengan mengkombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar Harvard juga. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :

  • Gizi baik, apabila berat badan bayi / anak menurut panjang / tingginya lebih dari 90% dari standar Harvard.

  • Gizi kurang, bila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya berada diantara 70,1-90 % dari standar Harvard.

  • Gizi buruk apabila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya 70% atau kurang dari standar Harvard.

4. Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Klasifikasi pengukuran status gizi bayi / anak berdasarkan lingkar lengan atas yang sering dipergunakan adalah mengacu kepada standar Wolanski. Klasifikasinya sebagai berikut :

  • Gizi baik apabila LLA bayi / anak menurut umurnya lebih dari 85% standar Wolanski.

  • Gizi kurang apabila LLA bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-85 % standar Wolanski.

  • Gizi buruk apabila LLA bayi / anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Wolanski.

Menurut Moh. Agus Krisno Budianto, 2004. Penyakit gizi yang salah dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu penyakit-penyakit bawaan, penyakit berdasarkan ketidakseimbangan antara intake dan requirement dan zat-zat gizi dan penyakit- penyakit keracunan makanan.

2.1.1 Penyakit Bawaan

Berdasarkan kesalahan susunan genetik yang dapat menyebabkan kelainan sintesa enzim, yang dimulai dari kesalahan genetik, metabolisme (dengan perantara enzim), sehingga menyebabkan terjadinya penyakit. Penyakit ini disebut juga dengan inbornerrors of metabolism. Penyakit gizi akibat masalah genetik dapat menyebabkan :

  • Enzim tertentu menurun sehingga mengakibatkan penderita akan mengalami glukosa, intoleransi fruktosa dll.

  • Penyakit gangguan metabolisme.

  • Penyakit degeneratif (penurunan)

Contoh penyakit akibat kesalahan genetic dapat menyebabkan produksi insulin menurun sehingga dapat mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa rusak (diabetes mellitus).

2.1.2 Penyakit Akibat Ketidakseimbangan Antara Intake dan Requirement dan Zat-zat Gizi

Dilihat dari intake dan requirement ada dua kemungkinan yaitu penyakit gizi lebih dan dan penyakit kurang gizi.

  1. Penyakit gizi lebih, contohnya : obesitas yang berkembang menjadi diabetes mellitus, jantung koroner, dll.

  2. Penyakit kurang gizi, penyakit defisiensi komplek, contohnya :

  • Kwarshiorkhor (yang disebabkan karena kekurangan kalori dan protein.

  • Marasmus (yang disebabkan karena kekurangan kalori)

  • Busung lapar (yang disebabkan karena kekurangan protein)

Berdasarkan sebab yang mengakibatkan gizi salah dibedakan menjadi dua :

  • Gizi salah primer, kelainan terletak pada intake dan pada makanan, baik merupakan kelebihan maupun kekurangan.

  • Gizi salah sekunder, intake mencukupi tetapi terdapat rintangan pada rangkaian prosos pencernaan, penyerapan, transportasi dan utilization pada zat-zat makanan. Gangguannya yaitu :

    • Terjadi suatu keadaan defisiensi dalam efektifitas zat-zat makanan.

    • Mempertinggi desrtuksi atau ekskresi zat-zat makanan sehingga persediaan untuk penggunaan dalam tubuh menjadi berkurang.

2.1.3 Penyakit keracunan makanan

Penyakit- penyakit yang terjadi setelah memakan makanan yang tercemar bakteri dan bahan-bahan kimia.

2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan penyakit gizi salah

  • Pola makan, Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang memadai. Contoh : Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Gaya hidup modern dengan perkembangan IPTEK dimana terjadinya arus moderenisasi yang membawa banyak perubahan pada pola hidup masyarakat

  • Faktor social, Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.

  • Factor pendidikan, kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan masyarakat yang pendidikannya relative rendah.

  • Faktor ekonomi, Kemiskinan keluarga penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

  • Faktor infeksi dan penyakit lain, Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP (Malnutrisi energi protein) dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.

2.3 Beberapa Jenis Penyakit

Penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi dan yang telah merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya di Indonesia, antara lain sebagai berikut :

2.3.1 Penyakit Kurang Kalori dan Protein (KKP)

Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi atau terjadinya defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya Anak Balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi. Hal ini disebabkan anak Balita dalam periode transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa, sering kali tidak lagi begitu diperhatikan dan pengurusannya sering diserahkan kepada orang lain, dan belum mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik terutama dalam hal makanan. Hal ini juga di karenakan pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).

Dijelaskan dalam Firman Allah QS Al An’aam (140)

Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui[513] dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”

Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat, yakni :

a. KPP ringan, kalau berat badan anak mencapai 84-95 % dari berat badan menurut standar Harvard.

b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60 % dari berat badan menurut standar Harvard.

c. KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat adan menurut standar Harvard.

Beberapa ahli hanya membedakan antara 2 macam KKP saja, yakni KKP ringan atau gizi kurang dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marasmus (kwashiorkor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus, berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan.

Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda-tanda klinis : oedema atau honger oedema (HO) atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung lapar. Oedema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.

Dijelaskan dalam Firman Allah QS. Ar Ra’d (13)

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Jenis KKp atau PCM di kenal dalam 3 bentuk yaitu :

  1. Kwarshiorkor

Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana-Afrika yang berati “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi.

Etiologi

Kekurangan protein menyebabkan manusia menderita penyakit yang disebut kwashiorkor atau busung lapar. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlansung kronis.

Epidemiologi

Kasus ini sering dijumpai di daerah miskin, persediaan makanan yang terbatas, dan tingkat pendidikan yang rendah. Penyakit ini menjadi masalah di negara-negara miskin dan berkembang di Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Selatan. Di negara maju sepeti Amerika Serikat kwashiorkor merupakan kasus yang langka.

Berdasarkan SUSENAS (2002), 26% balita di Indonesia menderita gizi kurang dan 8% balita menderita gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmus-kuarsiorkor).

Tanda-tanda Tanda-tanda yang sering dijumpai pada pada penderita Kwashiorkor yaitu :

  • Gagal untuk menambah berat badan

  • wajah membulat dan sembap

  • Rambut pirang, kusam, dan mudah dicabut

  • Pertumbuhan linear terhenti

  • Endema general (muka sembab, punggung kaki, dan perut yang membuncit).

  • Diare yang tidak membaik

  • Dermatitis perubahan pigmen kulit

  • Perubahan warna rambut yang menjadi kemerahan dan mudah dicabut

  • Penurunan masa otot

  • Perubahan mentak seperti lathergia, iritabilitas dan apatis yang terjadi

  • Perlemakan hati, gangguan fungsi ginjal, dan anemia

  • Pada keadaan akhir (final stage) dapat menyebabkan shok berat, coma dan berakhir dengan kematian.

Cara mengatasi kwarshiorkor

Dalam mengatasi kwashiorkor ini secara klinis adalah dengan memberikan makanan bergizi secara bertahap. Contohnya : Bila bayi menderita kwashiorkor, maka bayi tersebut diberi susu yang diencerkan. Secara bertahap keenceran susu dikurangi, sehingga suatu saat mencapai konsistensi yang normal seperti susu biasa kembali.

Fakta terjadinya kwarshiorkor

Bandung, Kompas – Sedikitnya 95 anak balita di 10 kabupaten/kota di Jawa Barat menderita busung lapar, dua anak balita kwashiorkor dan satu anak balita menderita komplikasi busung lapar kwashiorkor .Angka itu diperkirakan hanya angka awal dari fenomena gunung es karena seluruhnya ada 25 kabupaten/kota. Diduga jumlah ini sekitar 50 persen dari jumlah keseluruhan penderita sebab belum semua ibu melaporkan kondisi anaknya yang kurang gizi karena kendala jarak ke pos pelayanan kesehatan setempat atau karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan.

  1. Marasmus

Marasmus adalah berasal dari kata Yunani yang berarti kurus-kering. Sebaliknya walau asupan protein sangat kurang, tetapi si anak masih menerima asupan hidrat arang (misalnya nasi ataupun sumber energi lainnya). Marasmus disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan, sehingga membuat cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup.

Penderita marasmus yaitu Penderita kwashiorkor yang mengalami kekurangan protein, namun dalam batas tertentu ia masih menerima “zat gizi sumber energi” (sumber kalori) seperti nasi, jagung, singkong, dan lain-lain. Apabila baik zat pembentuk tubuh (protein) maupun zat gizi sumber energi kedua-duanya kurang, maka gejala yang terjadi adalah timbulnya penyakit KEP lain yang disebut marasmus.

Tanda-tanda yang sering dijumpai pada pada penderita marasmus yaitu :

  • Sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit bahkan sampai berat badan dibawah waktu lahir.

  • Wajahnya seperti orang tua

  • Kulit keriput,

  • pantat kosong, paha kosong,

  • tangan kurus dan iga nampak jelas.

Gejala marasmus adalah seperti gejala kurang gizi pada umumnya (seperti lemah lesu, apatis, cengeng, dan lain-lain), tetapi karena semua zat gizi dalam keadaan kekurangan, maka anak tersebut menjadi kurus-kering.

Jumlah anak balita gizi buruk di Indonesia, menurut laporan Unicef tahun 2006, menjadi 2,3 juta jiwa. Ini berarti naik sekitar 500.000 jiwa dibandingkan dengan data tahun 2004/2005 sejumlah 1,8 juta jiwa (Kompas, 27 September 2006).

  1. Marasmus-Kwashiorkor

Gambaran dua jenis gambaran penyakit gizi yang sangat penting. Dimana ada sejumlah anak yang menunjukkan keadaan mirip dengan marasmus yang di tandai dengan adanya odema, menurunnya kadar protein (Albumin dalam darah), kulit mongering dan kusam serta otot menjadi lemah.

Menurut Dr. Magdalena, sampai 28 Mei 2005 jumlah gizi buruk dari Kabupaten/Kota P. Lombok berjumlah 559 kasus termasuk 51 kasus yang dirawat di RSU Mataram. Diantara kasus gizi buruk tersebut 8 anak diantaranya meninggal dunia. Kasus gizi buruk tersebut masing-masing tersebar di Kota Mataram sebanyak 23 kasus ( 2 diantaranya meninggal), Kab. Lombok Barat 133 kasus ( 5 diantaranya meninggal dunia), Kab. Lombok Tengah 25 kasus ( 1 diantaranya meninggal dunia) dan Kab. Lombok Timur 178 kasus.

Dari kasus gizi buruk tersebut, tergolong gizi buruk dengan gejala klinis yaitu Marasmus 16 kasus, Kwashiorkor 1 kasus dan Marasmus + Kwashiorkor 4 kasus.

2.3.2 Busung Lapar

Busung lapar atau bengkak lapar dikenal jiga dengan istilah Honger Oedeem (HO). Adalah kwarshiorkor pada orang dewasa. Busung lapar disebabkan karena kekurangan makanan, terutama protein dalam waktu yang lama secara berturut-turut. Pada busung lapar terjadi penimbunan cairan dirongga perut yang menyebabkan perut menjadi busung (oleh karenanya disebut busung lapar).

Tanda-tanda yang terjadi yaitu :

  • Kulit menjadi kusam dan mudah terkelupas

  • Badan kurus

  • Rambut menjadi merah kusam dan mudah dicabut

  • Sekitar mata bengkak dan apatis

  • anak menjadi lebih sering menderita bermacam penyakit dan lain-lain.

Penderita busung lapar biasanya menderita penyakit penyerta. Misalnya dari 12 anak balita di Kabupaten Cirebon, tiga di antaranya menderita tuberkulosis, satu hydrocephalus (kepala besar), dan satu meningitis (radang selaput otak).

Dari data tersebut, jumlah penderita busung lapar terbanyak ada di Kabupaten Cianjur, yaitu 70 orang, lalu Kabupaten Cirebon dan Majalengka masing-masing 12 orang dan lima orang.

2.3.3 Penyakit Kegemukan (Obesitas)

Penyakit ini terjadi ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi di dalam tubuh ini disimpan dalam bentuk lemak.

Pada keadaan normal, jaringan lemak ini ditimbun di tempat-tempat tertentu diantaranya dalam jaringan subkutan dan didalam jaringan tirai usus. Seseorang dikatakan menderita obesitas bila berat badannya pada laki-laki melebihi 15% dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya.

Bila masukan energi (suapan makanan) sama dengan pengeluaran energi untuk metabolisme basal dan kegiatan fisik berat badan akan tetap konstan. Bila masukan energi lebih besar daripada pengeluaran, kelibahan makanan akan diubah menjadi lemak dan mengakibatkan kegemukan. Patokan umum, orang dikatakan kegemukan bila bila berat badannya 10% lebih tinggi dari berat standart/ideal.

Pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu pada umumnya lebih cepat gerah, capai dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dan diabetes melitus. (Anonymous,2008)

Hal tersebut telah di terangkan dalam Firman Allah QS. Al A’raaf (31).

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan

Penyebab

Faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit obesitas antara lain sebagai berikut :

    1. Keturanan, Stuktur dan tipe tubuh cenderung menurun orang tua gemuk sering mempunyai anak-anak yang gemuk, tetapi dapat diperolehkan bahwa ini lebih disebabkan oleh kebiasaan makanan daripada oleh sifat yang diturunkan.

    2. Kurangnya Kegiatan Fisik, kegemukan jarang dijumpai pada orang yang menjalani kehidupan aktif dan mempunyai pekerjaan yang melibatkan kerja fisik berat. Pada orang yang tidak aktif, pusat nafsu makan di hipotalamus cenderung berfungsi pada tingkat yang rendah dan keseimbangan yang normal antara masukan dan pengeluaran energi tidak lagi dipertahankan, ini mengakibatkan lebih besarnya suapan makanan daripada yang dibutuhkan.

    3. Kebiasaan makanan, Orang yang sering makan melebihi kebutuhannya, ini berlaku terutama untuk makanan kaya akan gula yang sangat lezat, seperti coklat. dan es krim yang mempunyai nilai energi tinggi. Kebiasaan makan pada awal kehidupan mempunyai dampak pada berat badan sewaktu dewasa, bila suapan makanan bagi bayi dan anak-anak kecil melebihi kebutuhan jumlah sel-sel jaringan lemak akan meningkatkan untuk menyimpan kelebihan lemak. Faktor Psikologis, Orang dengan permasalah psikologis/emosional cenderung menemukan pelipur lara dalam makana yang dan sering makanan berlebihan.

    4. Faktor Endokrin, Banyak orang gemuk menyalahkan kelenjar mereka. Padahal, kelainan endokrin jarang menyebabkan kegemukan. Adakala kegemukan diakibatkan oleh produksi hormon yang cacat oleh tiroid, pituitari atau kelenjar kelamin. Kegemukan lebih disebabkan oleh kelainan hipotalamus, yang pada gilirannya akan mempergaruhi fungsi kelenjar endokrin.

Penyembuhan

Pengobatan obesitas dapat dilakukan dengan cara :

  • Diet dengan cara puasa, diet rendah kalori

  • latihan fisik, dapat menurunkan berat badan dan dibatasi dengan pembatasan masukan kalori.

  • Pembedahan

  • Farmakologi

2.3.4 Defisiensi Iodium

Beberapa akibat defisiensi Iodium antara lain :

  1. pembesaran Kelenjar Tiroid (gondok)

  2. Kreatin yaitu kekurangan Iodium berlanjut ditandai ukuran tubuh pendek,kulitkasar berwarna kekuningan, raut muka seperti orang bodoh, mulut terbuka dan hidung besar.

  3. Myxdema ditandai dengan pertumbuhan tulang yang terhambat sehingga pendek, perut buncit, kulit kering dan rambut rontok dan banyak lemak yang tertimbun pada kulit.

  4. Abortus (Kematian ibu dan Anak). Pada ibu hamil memiliki gangguan retardasi, aborsi, gangguan perkembangan, kelainan congenital yang dapat mematikan fetus yang ada di kandungan.

Fungsi iodin yang diketahui ialah sebagai bahagian perlu kepada hormon tairod. Hormon tairod mengatur banyak aktiviti berlainan termasuk tumbesaran, pembiakan , fungsi neuromuskular, pertumbuhan kulit dan rambut, metabolisma selular, dan menolong melepaskan tenaga ke dalam sel. Badan kita biasanya mengandungi  20 – 30mgs iodin. Lebih kurang  60% daripadanya terdapat dalam kilang tairod, selebihnya didapati pada keseluruhan tisu badan , terutamanya dalam ovari, otot dan darah.

Pencegahan Defisiensi Iodium dapat dilakukan dengan upaya sebagai berikut :

  1. Fortifikasi

    • Fortifikasi Iodium dalam garam Dapur

    • Fortifikasi Iodium pada cokelat

    • Fortifikasi Iodium pada air minum

    • Fortifikasi Iodium pada Roti

    • Fortifikasi Iodium pada Gula Kelapa

  1. Penyuntikan Lipiodol

Lapiodol merupakan larutan Iodium dalam minyak dalam 40 % yang diberikan dalam bentuk suntikan.

Iodine terjadi dalam jumlah yang berbeda yang terdapat dalam makanan dan air minuman. Makanan laut seperti udang kara, tiram, sarden, dan sampai rumput laut adalah sumber iodine yang baik.Jumlah iodin yang terkandung dalam susu dan telur adalah ditentukan oleh jumlah iodine yang terdapat dalam makanan termakan tersebut. Kandungan iodin yang terdapat dalam sayur-sayuran adalah berbeda mengikuti jumlah kandungan iodin yang terdapat dalam tanah.

2.3.5 Xerophthalmia (Defisiensi Vitamin A)

Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A didalam tubuh. Gejala-gejala penyakit ini adalah kekeringan epitel biji mata dan kornea karena glandula lakrimalis menurun. Terlihat selaput bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Fungsi mata berkurang menjadi hemeralopia atau noctalmia yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam, tidak sanggup melihat pada cahaya remang-remang. Pada stadium lanjut maka mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak yang disebut keratomalasia dan dapat menimbulkan kebutaan.

Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup 3 fungsi yakni fungsi dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam proses melihat yang disebut xerophthalmia ini.

Oleh sebab itu penanggulangan defisiensi kekurangan vitamin A yang penting disini ditujukan kepada pencegahan kebutaan pada anak balita. Program penanggulangan xerophthalmia ditujukan pada anak balita dengan pemberian vitamin A secara cuma-cuma melalui puskesmas dan / atau posyandu. Disamping itu program pencegahan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan sebagai sumber vitamin

Bahan makanan

Mg tiamin per 100 g

Minyak hati ikan jenis halibut

Minyak hati ikan cod

Hati lembu jantan

Margarin

Mentega

Keju ceader

Telur

Iakn jenis haering

Susu

900.000

18.000

16.500

900

825

350

140

45

30

Data Departemen Kesehatan menunjukkan, 5 juta anak balita mengalami gizi kurang, 8,1 juta anak balita menderita anemia gizi, dan 10 juta anak balita mengalami kurang vitamin A subklinis

2.3.6 Defisiensi thiamine ( vitamin B1)

Vitamin ini adalah zat berupa kristal, tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan belerang, mudah larut dalam air dan sedikit melarut dalam alkohol. Vitamin ini selain disebut theamin, lazim pula disebut aneurin atau anti beri-beri.

Penyakit beri-beri yang disebabkan kekurangan theamin ditandai dengan :

    1. kurangnya sesuatu yang dapat dirasakan atau gatal pada ibu jari kaki serta telapak kaki.

    2. lutut terasa seakan-akan kaku dan refleknya tidak ada, nyeri, kejang, sulit berjalan yang dapat menimbulkan kelumpuhan kaki dengan atrofi otot kaki.

    3. sebagai tingkat lanjutannya berbagai urat saraf mengalami gangguan, termasuk gangguan pada fungsi jantung.

    4. pada beri-beri basah ditandai oleh udema yang khusus pada kaki, sedang pada beri-beri kering dijumpai atrofi otot yang umum.

Vitamin B1 atau theamin sangat diperlukan tubuh, tersedianya dalam tubuh karena diserap usus dari makanan, selanjutnya diangkut bersama darah kejaringa-jaringan tubuh. Theamin ditemukan sebagai cadangan dalam jumlah terbatas didalam hati, buah, pinggang, jantung, otot dan otak, sebagai cadangan diperlukan untuk sekedar dapat memelihara fungsi alat-alat tubuh tadi dalam waktu yang singkat. Sel jaringan mewujudkan/menjadikan tersedianya zat yang mengandung thiamin, zat mana demikian membantu dalam pembakaran karborhidrat dan diangkat didalam darah oleh sel darah putih yang mempunyai inti dengan thiamin yang bebas dalam plasma. Koenzim tersebut berfungsi memungkinkan karboksilase memisahkan karbnioksida dari asam piruvat, sedangkan sisanya selanjutnya dirombak menjadi karbondioksida dan air.

Fungsi thiamin ( B1) adalah :

1. metabolsime karbohidrat

2. mempergaruhi keseimbangan air didalam tubuh

3. mempergaruhi penyerapan zat lemak dalam usus

Sumber vitamin B1 ( theamin ) adalah hati, ginjal, jantung, otak, susu, kuning telur, kuliut ari padi dan gandum, wortel dan ragi.

Dalam hal menentukan besarnya kebutuhan thiamin ini, bagi anak yang sedang meningkatkan pertumbuhanya dapat agak mudah menentukannya dibandingkan dengan orang dewasa :

  1. bagi anak-anak yang sedang meningkatkan pertumbuhanya memerlukan thiamin perkilogram berat badanya, dan umunnya relatif lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa.

  2. bagi orang dewasa penentuan kebutuhanya memang agak sulit karena harus dipertimbangkan dengan besar tubuhnya, kegiatan, kebiasa makan dan perbedaan pemanfaatan dan kemanfaatan dalam tubuhnya.

  3. bagi ibu yang sedang hamil atau menyusui sudah tentu akan memerlukan thiamin lebih banyak daripada biasanya.

Tabel. Kandungan Tiamin pada beberapa makanan .

Bahan makanan

Mg tiamin per 100 g

“Flake” jagung

kapri

Roti tawar asal tepung gandum pecah kulit

Roti tawar

Kentang

Daging kambing

Daging sapi

Susu

1,8

0,32

0,26

0,18

0,11

0,09

0,05

0,04

2.3.7 Defisiasi Vitamin B2 ( Riboflavin )

Riboflavin mempunyai sifat larut dalam air dan tahan panas didalam larutan netral atau asam, akan tetapi kalau dipanaskan dalam larutan basa ataupun kalau kena sinar matahari maka vitamin tersebut akan rusak. Pada putih telur kadungan riboflavin ternyata lebih banyak dari kandungan thiaminya. Mikro organisme—-bakteri—-dalam usus pada umunya sangat menunjang pembentukan riboflavin.

Fungsi riboflavin yaitu :

a. berguna untuk pemindahan rangsangan sinar ke syaraf mata.

b. berperan dalam berbagai enzim dalam proses oksidasi dalam sel-sel, dalam proses oksidasi jaringan ( teruama di bagian luar dari tubuh, seperti : kulit, mata dan syaraf perifer ).

Kekurangan vitamin B2( riboflavin ) yaitu :

1. pengelihatan menjuadi kabur—-katarak dan keratitis pada mata—, hampir semacam buta senja.

2. keilosis—-radang atau luka pada bagian sudut bibir, hidung

3. gangguan pada proses pertumbuhan, pada pencernaan dan urat syaraf.

4. berat badan menurun sedangkan aktivitasnya menjadi berkurang.

Riboflavin dalam bentuk yang diperdangankan merupakan kristal, berwarna kuning orage, mudah larut dalam suasana basa, tidak stabil terhadap pemanasan, larut dalam pH riboflavin tidak stabil terhadap sinar tampak dan sinar iltraviolet.

Kebutuhan normal orang dewasa akan vitamin B2 yaitu 1.6 mg perhari, namun kebutuhan tersebutsecara berlebihan tepatnya tergantung pada umur, berat badan, konsumsi energi dan protein, kebutuhan vutamin ini bagi anak-anak, wanita hamil dan menyusui tentunya lebih tinggi daripada biasanya.

Tabel .kandungan Riboflavin pada beberapa makanan

Bahan makanan

Mg riboflavin per 100gram

Khamir bir yang dikeringkan

Hati

Ginjal

Jantung

Keju

Telur

Daging sapi

Susu

Kubis

Kentang

Roti tawar

3,68

3,10

2,10

1,60

0,50

0,47

0,20

0,19

0,05

0,04

0,03

2.3.8 Defisiensi vitamin B3

Vitamin B3 atau dikenali juga dengan nama Niacin diperlukan oleh badan kita untuk peredaran darah dan kulit yang sihat. Niacin adalah penting dalam menghasilkan tenaga daripada gula darah (blood sugar) dan dalam pembuatan lemak. Ia membantu dalam fungsi sistem saraf ; dalam metabolisma karbohidrat, lemak dan protin dan dalam pengeluaran asid hidroklorik untuk sistem penghadaman.  Ia juga terlibat dalam pengeluaran cecair hempedu dan perut yang normal dan sitesis hormon seks. Niacin merendahkan paras kolestrol dan membaiki peredaran darah. Ia membantu dalam penyakit mental seperti schizophrenia  dan ia juga sebagai menambah ingatan.

Sumber :

Niacin dan niacinamide didapati daripada hati lembu, ragi yang ditapai, kobis bunga, lobak merah, keju, tepung jagung, buah kurma,  telur, fish, susu, kacang tanah, ubi kentang,  tomato, gandum, dan hasil gandum.

Kekurangan :

1. Keletihan, lemah badan

2. Pellegra,sejenis penyakit dengan gejala bengkak; kulit merekah atau pecah; bengkak mulut dan lidah; cirit; gangguan mental; pening; lemah badan; sakit kepala; lemah otot; rendah gula dalam darah

Tabel. kandungan asam nikotianat dari beberapa makanan.

Bahan makanan

Mg asam nikotianat ekivalen per 100 g

Khamir bir yang dikeringkan

Kacang garing

Hati

Daging sapi

Keju cieader

Roti tawar asam tepung gandum pecah kulit

Telur

Kapri

Roti tawar

Kentang

Susu

Bir

62,9

21,3

17,9

7,2

6,2

5,6

4,9

3,7

3,4

3,0

1,7

0,9

0,6

2.3.9 Defisiensi Vitamin B 12

Vitamin B 12 ­berfungsi dalam stimulus pada jaringan. Sianokobalamin dapat dikatakan demikian mendasari pembentukan bentukan vitamin B12.hasil penelitian menyatakan bahwa sianokobalamin mengandung suatu kelompok sianida dan terikat pada kobalat pusat B12 berbentuk kristal berwarna merah tua.dapat larut dalam air dan alkohol,stabil dalam bentuk larutan.

Vitamin B12 sumbernya yaitu hati,fungsinya dalam tubuh yaiu

  • Sebagai koenzim yang pentig dalam metabolisme asam amino

  • Berperan dalam pembentukan eritrosit

  • Diperkirakan berperan dalam sintesis asm nukleat

  • Berperan pula dalam pembentukan darah merah

Makan vitamin dan zat gizi lain ada aturan bakunya. Tidak boleh kurang, juga jangan berlebihan. Kalau ini dilanggar, apalagi sampai berlangsung lama, dapat mengganggu kesehatan. Kekurangan vitamin B12, misalnya, mengganggu pertumbuhan pada anak dan sistem saraf sehingga muncul gejala kebodohan, gampang marah, atau tersinggung.

Ada sejumlah faktor penyebab defisiensi vitamin B12. Misalnya karena asupan vitamin lewat makanan kurang. Jumlah yang ditelan sedikit, atau kurang memenuhi standar yang ditetapkan. Ini bisa terjadi pada mereka yang “alergi” makanan hewani, yang notabene merupakan sumber kobalamin (nama lain vitamin B12).

Pola makan vegetarian (hanya makan dari sumber nabati) juga dapat menjadi faktor penyebab kekurangan vitamin ini. Sebab, vitamin B12 ditemukan dalam produk hewan, dan jarang terdapat pada makanan nabati, kecuali kalau bahan itu berasal dari rumput laut atau yang terkontaminasi oleh feses. Beberapa rumput laut mengandung kobalamin kecuali spirulina karena hampir seluruh vitamin B12 pada spirulina merupakan analog.

Banyak sekali fungsi kobalamin dalam tubuh. Vitamin ini dikenal sebagai penjaga nafsu makan dan mencegah terjadinya anemia (kurang darah) dengan membentuk sel darah merah. Karena peranannya dalam pembentukan sel, defisiensi kobalamin bisa mengganggu pembentukan sel darah merah, sehingga menimbulkan berkurangnya jumlah sel darah merah. Akibatnya, terjadi anemia. Gejalanya meliputi kelelahan, kehilangan nafsu makan, diare, dan murung.

Defisiensi berat B12 potensial menyebabkan bentuk anemia fatal yang disebut Pernicious anemia. Soalnya, vitamin B12 bisa disimpan dalam tubuh (hati dan ginjal), dan hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, timbulnya gejala defisiensi berat itu perlu waktu lima tahun atau lebih. Ketika gejalanya muncul ke permukaan, biasanya pada usia pertengahan, defisiensi itu lebih karena penyakit pencernaan atau gangguan penyerapan daripada karena menu yang miskin B12, kecuali bagi yang vegetarian berat.

Vitamin B12 juga merupakan koenzim penting yang dibutuhkan untuk sintesa DNA yang mengontrol pembentukan sel-sel baru. Pun B12 vital dalam mencegah kerusakan sistem saraf dengan membantu pembentukan mielin pada urat saraf.

Karena berperan dalam melindungi fungsi saraf, defisiensi kobalamin bisa menimbulkan pembentukan sel saraf terganggu, dan mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Gejalanya, kehilangan daya ingat dan orientasi, gampang bingung, delusi (berkhayal), kelelahan, kehilangan keseimbangan, refleks menurun, mati rasa, geli di tangan dan kaki, serta pendengaran terganggu.

Kekurangan vitamin ini juga sering ditandai dengan timbulnya gejala kebodohan karena sistem saraf terganggu, dan demielinasi (kerusakan asam lemak mielin pada akson saraf) yang menyebar dan progresif. Pengaruh defisiensi B12 pada anak adalah terganggunya pertumbuhan. Suatu penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang vegetarian mengalami gangguan pertumbuhan (kerdil) karena asupan B12 tidak memadai. Selain meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara normal, vitamin B12 juga memelihara kesuburan.

Di samping mengganggu pertumbuhan dan sistem saraf, kekurangan vitamin B12 juga menjadikan mereka gampang marah dan tersinggung. Sementara itu penyebab kerusakan sistem saraf kemungkinan karena defisiensi gugus metil lantaran tidak mampu mensintesis metionin (salah satu asam amino) dan S-adenosil metionin.

2.3.10 Difesiensi Vitamin C

Bahan bahan makanan yang mengandung vitamin C adalah hati,ginjal,sayur sayuran dan buah buahan segar terutama jeruk yang dapat mengandung zat zat sitrin dan rutrin(zat zat ini yang membantu dalam menghentikan pendarahan.

Vitamin C pemula isolasinya dilakukan oleh seorang pakar yang bernama SZENT GYORGY(1912)dari jeruk kol,dan adrenal korteks,yang pada waktu itu dinamakanya sebagaia asam heksuronika sehubungan dengan molekulnya 6 atom karbon serta bersifat mereduksi.vitamin C ini jelasnya merupakan derivat heksoso cocok digolongkan sebagai suatu karbohidrat,dalam bentuk klristal berwarna putih,demikian larut dalam alkohol,stabil dalam keadaan kering tetapi mudah teroksidasi dalam keadaan larutan basa.

Vitamin C mudah rusak oleh panas sehingga sayuran dimasak akan berkurang kadar vitamin C nya:

  • Sebagai aktivator macam macam fermen perombak protein dan lemak

  • Penting bagi dehidrasi dan oksidasi dalam sel

  • Mempengarui kerja anak ginjal

  • Penting dalam prmbentukan trobsit

Dalam keadaan tubuh dalam waktu mengalami kekurangan vitamin C dapat menimbulkan:

  • Kerusakan sel sel endotel

  • Pembuluh kapiler kurang permeabel dan mengakibatkan timbulnya pendarahan dalam sum sum tulang serta kerusakan tulang

  • Gejala awal ditandai dengan pendarahan pada gus, dibawah kulit ‘karies gigi dan mudah menderita sakit gigi disebut skrobutum.

2.3.11 Defisensi Vitamin D

Senyawa kolkalsiferol berwarna putih, berbentuk kristal yang larut dalam minyak dan olemak tetapi tidak larut dalam air.

Ada dua bentuk vitamin D yang amt berbeda :

  1. kolkalsiferol ( vitamin D 3) adalah bentuk alami dari vitamin ini dalam makanan. Vitamin D 3 dapat terbentuk dibawah kulit oleh pengaruh sinar matahari ( radiasi ultra violet ).

  2. ergokalsiferol ( vitamin D 2 ) adalah bentuk sintetik dari vitamin ini mempunyai aktivitas yanf sama dengan vit alami. Vitamin D2 dihasilakan dengan irradiasi ultra violet dari ergosterol, suatunsenyawa yang dapat di ekstraksi khamir. Bentuk inilah yang ditambah dalam berbagai komoditi seperti margarin dan makanan bayi.

Sumber :

  1. makanan, minyak hati ikan, ikan yang berminyak, telur, mentega, hati dan keju.

  2. sinar matahari

  3. vitamin D terbentuk dalam kulit yang terkena sinar matahari.

Fungsi

Vitamin D diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Vitamin D dibutuhkan untuk absobsi kalsium dari usus dan unytuk pengambilan kalsium dan fosfor oleh tulang dan gigi.

Kekurangan vitamin D

1. Menyebabkan penyakit rakhitis ( tulang panjang akan membengkok pada bagian yang menderita beban tubuh, lututgemetar dan kaki pengkar ).

2. Menyebabkan gangguan absobsi kalsium dan pelunakan tulang.

3. Gigi keluart terhambat

4. Panggul menjadi kecil dan sempit

Penyebab penyakit rakhitis adalah susunan makanan yang murah, yamg terutama terdiri dari segi makanan sereal tanpa vit D dan kuramganya sinar matahari didaerah kota yang penuh asap.

Kelebihan vitamin D

Pengedapan kalsium pada jaringan lunak dalam tubuh

Keracunan

Pengambilan secara berlebihan boleh menyebabkan seseorang itu mengalami pengumpulan kalsium pada organ tubuh, tulang rapuh dan kerosakan pada sistem renal dan kardiovaskular.

2.3.12 Defisiensi vitamin E

Vitamin E adalah aktioksidan alam. Dalam minyak nabativitaminE membantu pengurangan ketengikan dengan mencengahan oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh. Vitamin E juga berperan melindungi asam askorbat terhadap oksidasi dalam sayuran dan buah-buahan.Vitamin E mempergaruhi kesuburan manusia.

Sumber vitamin E

a. Gandum

b. Minyak nabati

c. Telur dan susu

Vitamin E banyak terdapat pada beberapa makanan , Minyak jagung atau biji kapas, mentega, beras perang, minyak kacang soya, minyak sayuran lain seperti minyak kacang dan sebagainya. Mengandungi antioksidan. Membantu membina sel darah merah, otot-otot dan tisu tubuh. Menyimpan asid berlemak. Antioksidan juga boleh mengurangkan risiko sesetengah kanser.

Kekurangan vitamin ini jarang berlaku tetapi membabitkan kelahiran tidak cukup bulan, bayi tidak cukup berat atau kanak-kanak yang sistem tubuhnya tidak menyerap bahan berlemak dengan sempurna. Juga menyebabkan kecacatan sistem saraf.

Fungsi vitamin E yaitu :

  1. mencegah keguguran atau pendarahan pada ibu hamil

  2. diperlukan pada saat sel sedang membelah.

2.3.13 Difesiensi vitamin K

Vitamin K terdapat dalam sayuran hijau dan berbagai pangan lain. Vitamin K adalah ensensial untuk pembekuaan darah yang biasa.

Kekurangan vitamin K

Jarang terjadi, karena vitamin K ini terdapat dalam susunan makanan yang normal dan disentesis oleh bakteri yang ada diusus,masalah pembekuan darah yang tidak normal atau pendarahan.

Viamin K dibentuk dalam usus tebal ( kolon ) dengan bantuan bakteri Escherica coli, viamin ini hanya dapat diserap apabila bersama-sama empedu.

Fungsi vitamin K yaitu :

pembentukan prototrombin, jelasnya penting dalam proseskoagulasi ( pengumpalan ) darah. Peranan empedu dalam penyerapan usus adalah sangat menentukan, dalam hal ini apabila sekresi empedu terganggu maka penyerapan vitaminK ternyata akan terganggu pula. Pda seseorang menderita penyakit kuning atau penyakit saluran empedu, kekurangan vitamin K akan mengalami cukup besar, sungguhpun tersedianya vitamin ini dalam makanan cukup banyak, sehingga penderita ini mengalami kesulitan dalam pembekuan/pengumpalan darahnya pada bagian yang terluka. Kadar protombin yang rendah dalam tubuh sebagai akibat kurangnya vitamin K yang diserapm oleh tubuh kadang-kadang pada ibu yang melahirkan atau pada bayi terjadi pendarahan yang cukup hebat.

2.3.14 Defisensi Calsium

Kalsium banyak terdapat dalam susu, telur dan sayuran, Kalsium Susu, dadih, keju, sardin, brokoli dan daun lobak putih. Membantu membina tulang dan gigi yang kuat. Mengingkatkan fungsi otot dan saraf. Membantu darah membeku. Menggiatkan enzim-enzim yang diperlukan tubuh untuk menukarkan makanan kepada tenaga.

Kekurangan kalsium adalah

Penyakit rachitis dan penghambat pada pertumbuhan Kekurangan phosphorus edan vitamin D, Mengalami sembelit, karang, ginjal, pengumpulan kalsium pada tisu-tisu badan. Menghalang penyerapan zat besi dan mineral-mineral lain.

Sumber yaitu :

Dada ayam, susu, kekacang, kuning telur dan keju. Ia bergantung dengan kalsium dalam pembinaan tulang dan gigi yang sihat. Diperlukan untuk metabolisme, kimia tubuh, fungsi saraf dan otot. Kekurangan:

Walaupun jarang berlaku, ia dapat menyebabkan seseorang itu mengalami lemah-lemah tubuh, sakit tulang dan kurang selera makan.

Fungsi kalsium :

1. pembentukan tulang dan gigi

2. pada proses fisiologik dan biokimiawi didalam tubuh ( pada pembekuan darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi impul-impul syaraf, memelihara dan dan meningkatkan fungsi membran sel, mengaktifkan reaksi enzim dan pengeluaran hormon).

2.3.15 Defisensi Besi

Fungsi yaitu :

Zat besi atau iron adalah nutrien penting untuk badan manusia. Seorang lelaki dewasa yang sihat mempunyai 40 hingga 50 mg iron per kilogram berat badan manakala bagi wanita dewasa mempunyai 35 hingga  50 mgs per kilogram berat badan.

Iron memainkan peranan penting dalam pengangkutan oksigen daripda paru-paru ke tisu. Iron bergabung dengan oksigen di dalam paru-paru dan melepaskan oksigen dalam tisu-tisu yang memerlukan. Iron digunakan dalam pembuatan haemoglobin.

Iron juga berperanan penting dalam fungsi normal imuniti. Kekurangan iron telah menunjukkan badan kita mudah mendapat jangkitan.

Sumber yaitu :

Sumber terbaik zat besi berasaska makanan ialah hati, tiram, kerang, buah pinggang, daging tanpa lemak, ayam/itik dan ikan. Kacang dan sayur yang dikeringkan adalah sumber iron yang baik daripada tumbuhan.

Kekurangan yaitu :

  • Keletihan, lemah badan
  • Berdebar, sakit dada
  • Sukar bernafas
  • anemia

2.3.16 Penyakit-penyakit keracunan makanan

Keracunan makanan ialah penyakit yang terjadi setelah memakan makanan yang tercemar dengan kuman atau bahan kimia. Terdapat banyak kesalahan makan atau keracunan makanan yang terjadi dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

  • Keracunan HCN (asam Biru), disebabkan oleh asam biru (HCN). Misalnya pada singkong yang mengandung suatu glukosarida oleh pengaruh enzim akan menghasilkan HCN. Gejala keracunan singkong ialah mual dan muntah, sesak nafas dan koma.

  • Aflatoxin, merupakan racun yang dihasilkan oleh jamur aspergillus falfus yang dapat mencemari kacang tanah.

  • Asam bongkrek, merupakan senyawa yang diproduksi oleh pseudomonas cocovenenans. terbentuknya toksin pada tempe bongkrek

Ada beberapa hal yang menyebabkan meningkatnya kasus keracunan pangan :

  1. Meningkatnya jumlah makanan yang dimakan diluar rumah ( dalam kantin, resteurant, dll ), jika makan yang dikelolah oleh pengusaha catering tercemar oleh bakteri penyebab kerancunan pangan, sejumlah besar orang akan dirancuni.

  2. Pengusaha catering sekarang menyiapakan lebih banyak variasi menu yang sering melakukan penyimpanan sajian dalam kondisi yang tetap hangat, sampai diperlukan.

  3. Meningkatnya jumlah penjualan ” take away meal “, makanan ini sering dipanaskan kembali dan mungkkin dipanasi lagi di rumah pelanggan.

  4. Intensifikasi pertanian mengakibatkan lebih banyak bahan pangan terkontaminasi oleh bakteri penyebab keracunan makanan.

Bakteri yang sering menyebabkan kerancunan makanan adalah :

    1. Oraganisme dari kelompok Salmonella

    2. Staphylococcus aureus

    3. Clostridium perfringens ( welchii )

    4. Bacillus cereus

    5. Vibrio parahaemolyticus

Terdapat tiga tipe utama keracunan makanan karena bakteri:

  1. Tipe infektif yang disebabkan karena memakan makanan yang mengandung sejumlah besar bakteri hidup. Stelah dimakan, bakteri tersebut menetap dalam saluran pencernaan dan jika mati, mereka melepaskan endotoksin ( misalnya kerasunan Salmonella ).

  2. Tipe keracunan yang disebabkan karena memakan makanan yang ensotoksin. Toksin tersebut dilepaskan kemakanan selama bakteri itu tumbuh dan memperbanyak diri dalam makanan. Bakteri sendirinya sendiri mungkin mati jika makanan tersebut dimakan ( keracunan Staphylococcus ).

  3. Tipe ini disebabkan oleh toksin, toksin ini tidak diproduksi didalam makanan, tetapi dilepaskan selama pertumbuhannya didalam sallurang pencernaan, setelah bakteri tersebut dimakan ( misalnya keracunan Clostridium perfringes)

Tanda-tanda Kerancunan Makanan :

- lemas dan muntah

- mulas dan sakit perut

- Diare

- kadangkala demam dan kesejukan

- Sesak napas

- Koma

Puncak utama ialah makan makanan yang :

  • Mengandungi toksin atau racun semulajadi seperti setengah jenis kulat, cendawan, ‘shellfish’ dan sebagainya.

  • Tercemar oleh kuman yang erbahaya

  • Tercemar oleh bahan- bahan kimia

  • Tercemar oleh lalat, habuk dan sebagainya

Cara-cara untuk mencegah keracunan makanan seperti:

  • Basuh tangan selepas ke tandas dan sebelum mengendali, menyedia dan menyentuh makanan.

  • Jangan ambil makanan dengan tangan. Gunakanlah penceduk, garpu, sudu atau penyepit yang bersih.

  • Gunakanlah alat- alat yang bersih untuk menyediakan makanan. Jangan gunakan alat- alat yang sama bagi makanan mentah dan yang dimasak.

  • Simpan atau tudung makanan supaya terlindung dari lalat, serangga.

  • Simpan semua bahan makanan yang mudah rosak seperti daging, ikan, ayam, sayur dan susu didalam peti sejuk sehingga diperlukan.

  • 2.4 Upaya Mengatasi Penyakit Gizi

Kegiatan upaya perbaikan gizi masyarakat sampai bulan Desember 2006, berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan balita melalui :

  • pengukuran baret badan menurut umur mencapai 84,8%  dari target 80%, dengan 76,0% Berat badan balita naik, 0,5 % BGM

  • Balita gizi buruk yang mendapat perawatan sebanyak 100%

  • cakupan MP-ASI pada BGM dari masyarakat miskin mencapai 100% dari 17 sasaran

  • cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe adalah 98,79 %

  • Pemberian vitamin A pada balita sebanyak100%.

  • Pemberiaan ASI Eklusif mencapai 10% sedang target 80%

  • Penggunaan garam beryodium dari target 85%  mencapai 89,75%.

Untuk diwilayah Puskesmas Banjarangkan II status gizi tahun 2006 adalah sebagai berikut :

Status gizi baik      :  94,98%

Status gizi lebih      :  0,11%

Status gizi kurang  : 4,69%

Status gizi buruk    : 0,22%

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

- Penyakit gizi yang salah dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu penyakit-penyakit bawaan, penyakit berdasarkan - ketidakseimbangan antara intake dan requirement dan zat-zat gizi dan penyakit- penyakit keracunan makanan.

- faktor-faktor yang menyebabkan adanya penyakit gizi salah diantaranya : pola makan yang salah, faktor ekonomi, faktor sosial, faktor pendidikan, faktor infeksi.

- berbagai jenis penyakit gizi salah dapat dikelompokkan menjadi : under nitrition (defisiensi kalori protein, busung lapar, defisiensi vitamin, defisiensi kalsium, besi, iodium), over nutrition (penyakit obesitas yang mrnyrbabkan hipertensi, DM, hiperkolesterol, dll) dan penyakit keracunan makanan (asam HCN dan asam Bongkrek dll)

- Berdasarkan SUSENAS (2002), 26% balita di Indonesia menderita gizi kurang dan 8% balita menderita gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmus-kuarsiorkor).

- upaya pemerintah dalam mengatasi penyakit gizi salah dilakukan dengan penyuluhan terhadap daerah yang diindikasikan adanya penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. WASPADAI ANAK-ANAK DARI KWASHIORKOR http://health.allrefer.com/health/kwashiorkor-info.htlm. diakses tanggal 22 april 2008.

Berg, alan. 1985. Peranan Gizi Dalam Pembangunan Nasional. CV. Rajawali. Jakarta.

Budianto, MAK. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. UMM Press. Malang.

DepKes R.I.1991. Informasi tentang Peranan Pembangunan Kesehatan dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Malnutrisi energi protein. Dalam : Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Jakarta : 2004 ; 217-222

Magdalena, Dr. 2005. Sedikitnya 95 Balita di Jabar Menderita Busung Lapar. Kompas. Bandung.

Yayan Akhyar Israr. 2008. Malnutrisi Energi Protein (MEP) - Kwashiorkor.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU. RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU PROVINSI RIAU.

02/03/2009 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 742 pengikut lainnya.