BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PANGAN, GIZI, DAN PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA

  1. Penyediaan Pangan di Indonesia

Pangan adalah bahan-bahan yang dimakan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jariangan tubuh yang rusak. Pangan juga dapat diartikan sebagai bahan sumber gizi. Kehidupan manusia tidak mungkin tanpa adanya ketersediaan bahan pangan. Jadi untuk mempertahankan kehidupan manusia, maka manusia harus makan secukupnya dan memenuhi gizi. Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling asasi atau kebutuhan pokok (basic need). Sektor pangan sebagai sumber bahan (zat) gizi merupakan sektor yang strategis, hal ini disebabkan oleh:

  1. Produk pangan (terutama sektor pertanian) merupakan industri missal.

Sektor pangan merupakan industri massa l yang melibatkan banyak orang, baik dibidang produksi, pengolahan, dan distribusi. Kegiatan produksi padi di Indonesia tahun 1995 saja melibatkan 20 juta usaha tani dimana 59% di antaranya menguasai kurang dari 0,75 Ha lahan. Bagi mereka sektor pangan merupakan sumber kehidupan dan penghidupan.

  1. Pangan di konsumsi oleh semua golongan/lapisan masyarakat Indonesia

Semakin besar jumlah anggota suatu keluarga akan semakin banyak mengkonsumi bahan pangan dan makanan.

Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:

  1. Kelompok masyarakat yang kehidupannya sulit

Masalah utama yang dihadapi oelh keompok ini adalah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Kelompok masyarakat seperti ini rentan terhadap masalah kekurangan gizi, baik kekurangan gizi kalori maupun gizi protein. Program pemerintah untuk menyediakan pangan yang murah bagi kelompok ini diharapkan tidak saja berorientasi kepada pemenuhan kalori, tetapi seharusnya diimbangi dengan program penyediaan gizi protein bagi kelompok masyarakat ini. Rasulullah pun juga menghimbau umat-nya agar memperhatikan kehidupan tetangganya.

  1. Kelompok masyarakat yang tergolong beruntung.

Yang dapat membeli jenis makanan apa saja yang diinginkannya dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga pemenuhan gizi dapat terjamin. Malnutrisi pada kelompok ini seringkali diakibatkan oleh kkonsumsi makanan yang terlalu berlebihan, sehingga muncul penyakit atau kelainan seperti hiperglikemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, obesitas, danlain sebagainya. Islam mengajarkan kepada umatnya agar makan yang halal dan thoyiban. Rasulullah SAW bersabda: “Kami ini adalah suatu kaum yang tidak makan kecuali lapar dan akan berhenti makan sebelum kenyang”

Disisi lain pangan dapat juga memperngaruhi stabilitas Poleksosbudhankam. Kelangkaan pangan akan menyebabkan tindakan-tindakan yang dapat mengganggu stabilitas komponen lain. Rakyat tanpa adanya pangan yang cukup akan terjadi kelapran yang mengakibatkan suatu Negara menjadi terganggu stabilitas baik ekonomi, social budaya, pertahanan keamanan, dan politiknya. Hal ini dikarenakan bahwa semua aspek adalah suatu system kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Dalam bidang produksi pangan terdapat permasalahan-permasalahan, diantarnya adalah:

  1. Sentral produksi pangan hanya di daerah tertentu.

Hamper 60% dari produksi pangan Indonesia berasal dari Jawa dengan 40% dianatarnya di Jawa Timur, sebuah propoindi di Jawa yang luasnya 2,5% dari luas daratan Indonesia dan dengan jumlah penduduknya 14,8% dari jumlah penduduk Indonesia. Pemusatan produksi seperti diatas menimbulkan berbagai kerumitan dalam pemasaran dan distribusi pangan, mengingat bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan dengan 3000 pulau yang didiami penduduk. Masalah lain yang dihapai erat berkaitan dengan keadaan geografis, seperti terbatasnya persediaan prasarana dan sarana perhubungan.

  1. Produksi pangan masih tergantung kepada musim

Pada musim penghujan hasil panen akan tinggi atau meningkat sedangkan pada musim kemarau hasil panen menurun. Produksi pangan di Indonesia selain tidak merata menurut tempat, tetapi juga tidak merata menurut waktu.

  1. Produksi pangan bersifat fluktuatif yang dipengaruhi oleh cuaca dan hama (penyakit)

Produksi cuaca, gangguan fluktasi, sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, gangguan hama, penyakit, dan gangguan alam dan lain sebagainya.

  1. Intensifikasi produksi pangan melalui pemakaian jenis tanaman unggul yang cepat tumbuh dan tahan penyakit, pengunaan pupuk, pemakaian irigasi teknis yang efektif di tempat-tempat yang menyediakan air alamiahnya kurang, penggunaan alat dan obat pemberantas hama (penyakti) yang aman dan efektif, dan penerapanan teknologi bercocok tanam modern.

  2. Ekstensifikasi atau perluasan produksi pangan, yaitu: memproduksi jenis dan banyaknya bahan makanan yang terutama adalah bahan makanan pokok dengan cara pengembangan akua kultur secara intensif atau jika memungkinkan pembukaan lahan baru. Diversikasi pangan yang berarti menganekaragamkan makanan pokok masyarakat suatu daerah dengan berbagai makanan pokok yang dapat disediakan oleh pemerintah seperit beras, jagung, gandum, ketela pohon, sagu, dan lain sebagainya.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tentunya tidak saja berorientasi pemenuhan jumlah (dalam konteks kuantitas), tetapi haruslah juga berorientasi kepada pemenuhan mutunya (dalam konteks kualitas). Faktor-faktor yang memenuhi kualitas produk pangan sebagai sumber bahan-bahan (zat-zat) gizi diantarnaya adalah:

  1. Kandungan gizi, produksi pangan terutama akan mempunyai kandungan gizi yang berbeda dangan produk pangan yang lain. Sebagaian dari perbedaan tersebut disebabkan oleh susunan zat gizi pokok dari pangan itu sendiri. Kandungan gizi beberapa produk pangan di Indonesia sudah diketahui dan ditebelkan dalam daftar komposisi bahan makanan.

  2. Penangganan pangan di Indonesia belum mencapai taraf yang diinginkan karena masih banyak bahan makanan hasil panen yang rusak baik pada saat penyimpangan atau pada saat pengankutan.

  3. Penyimpangan bahan makakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu terutama bahan makanan yang mudah rusak (hewani) biji-bijian harus disimpan dalam kondisi cukup kering, gudang harus mempunyai konstruksi bebas hama, gudang harus mempunyai cukup ventilasi, letak barang dalam gudang harus teratur dan juga berbagai jenis bahan makanan atau pangan di dalam gudang jangan sampai berampur baur.

  4. Pengawetan pangan yang tujuan menupayakan agar bahan makanan dapat bertahan lebih lama.

  5. Pengolahan pangan. Dalam pengolahana bahan makanan kita harus berhati-hati sekali agar bahan makanan tersebut tidak kehilangan sebagian dari zat-zat gizi terutama vitamin-vitamin.

  1. Hubungan Pangan dan Gizi

Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat gizi. Pada gilirannya, zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagai tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Beberapa diatara zat gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut zat gizi esensia, mengingat kenyataan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dapat dibentuk dalam tubuh, setidak-tidaknya dalam jumlah diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang normal, jadi zat esensial yang disediakan untuk tubuh yang dihasilkan dalam pangan, umumnya dalah zat gizi yang tiak dibentuk dalam tubuh dan harus disediakan dari unsur-unsur pangan diataranya adalah asam amino esensial semua zat esensial diperlukan untuk kesehatan yang baik.

Pada umumnya zat gizi dibagi dalam lima kelompok utama, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan sejumlah pakar juga berpendapat bahwa air juga merupakan bagian dari zat gizi. Hal ini didasarkan kepada fungsi air dalam metabolisme makanan yang cukup penting walaupun air dapat disediakan di luar bahan pangan. Dalan konteks ini penulis lebih memilih memasukkan air dalam kelompok zat gizi, sehingga zat gizi erbagi kedalam enam kelompok yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Tiga golongan zat gizi yang dapat diubah menjadi energi adalah karbohidrat, protein dan lemak. Akan tetapi vitamin, mineral dan air diperlukan untuk membantu mengubah zat gizi tersebut menjadi energi atau menjadi sesuatu dalam biosintesis.

Susunan pangan dalam makanan yang seimbang adalah susunan bahan pangan yang dapat menyediakan zat gizi penting dalam jumlah cukup yang diperlukan tubuh untuk tenaga, pemeliharaan, pertumbuhan, dan perbaikan jaringan. Banyaknya gizi yang diperlukan, berbeda antara satu orang dengan orang lain disebabkan berbagai faktor yang dibicarakan kemudian, tetapi fungsi gizi pada pokoknya sama utnuk semua orang. Berdasarkan asaupan gizi tersebutlah seseorang akan mempunyai status gizi. Secara umum ada 3 status gizi yailtu status gizi kurng, status gizi seimbang (normal), dan status gizi lebih. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah sebagai berikut:

    1. Produk pangan (jumlah dan jens makanan)

Jumlah macam makanan dan jenis serta banyaknya bahan makanan dalam pola pangan di suatu Negara/daerah tertentu biasanya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang telah ditanam di tempat tersebut untuk jangka waktu yang pangan.

    1. Pembagian makan atau pangan

Secara tradisional, di beberapa daerah Ayah mempunyai prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan tertentu dalam keluarga. Padahal justru anak-anaklah yang harus diperhatikan terutama utnuk proses pertumbuhan dan perkembangannya. Baik pertumbuhan fisiologis, psikologis, dan kecerdasarannya tetapi pada kenyataannya masyarakat Indonesia yang masih awam masih menganut anggapan/masih percaya bahwa ayah adalah orang yang harus diutamakan dalam segala hal. Faham ini dikenal dengan nama pernalistik.

    1. Akseptabilitas (daya terima)

Aseptabilitas menyangkut penerimaan atau penolakan terhadap makanan yang terkait dengan cara memilih dan menyajikan pangan. Setiap masyarakat mengembangkan cara yang turun termurun untuk mencari, memilih, menagani, menyiapkan, menyajikan dan makan makanan.

    1. Prasangka buruk pada bahan makaan tertentu.

Kita janganlah terlalu berperasangka buruk terhadap bahn makanan tertentu, sebab tidak semua bahan makanan tertentu merugikan bagi manusia. Contohnya banyaknya orang menganggap bahwa terong dapat berdampak buruk bagi kita yaitu menyebakan keloyoan pada tubuh kita, padahal sebenarnya tidak.

    1. Pantangan pada makanan tetentu

Sehubungan dengan pangan yang biasanya dipandang pantas untuk dimakan, dijumpai banyak pola pantangan, tahayul, dan larangan yang beragam yang didasarkan kepada kebudayaan dan daerah yang berlainan di dunia. Beberapa pola pantangan dinanut oleh suatu golongan masyarakat atau oleh bagian yang lebih besar dari penduduknya. Misalnya saja masih banyak orang-orang di Indonesia ini yang beranggapan ada beberapa makanan yang harus dihindari atau menjadi pantangan terutama pada beberapa kondisi tertentu.

    1. Kesukaan terhadap jenis makan tertentu

Dalam pemenuhan makanan apabila berdasarkan pada makanan kesukaan saja maka akan berakibat pemenuhan gizi akan menurun atau sebaliknya akan berlebih. Anjuran empat sehat lima sempurna, enam halalan thoyiban adalah anjuran yang perlu diikuti dalam pola makan keluarga.

    1. Keterbatasan ekonomi

Di Negara seperti Indonesia yang jumlah pendapatanan penduduk sebagian besar adalah golongan rendah dan menengah akan berdampak kepada pemenuhan bahan makanan terutama makany bergizi. Keterbatasan ekonomi yang berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan gizinya juga akan terganggu.

    1. Kebiasaan makan

Pada umumnya kebiasaan makan seseorang tidak didasarkan atas keperluan fisik akan zat-zat yang terkandung dalam makanan. Kebiasaan ini berasal dari pola makan yang di didasarkan pada budaya kelompok dan diajarkan pada seluruh anggota keluarga. Beberapa keluarga mengembangkan pola makan tiga kali sehari yaitu makan paagi, siang dan malam.

    1. Selera makan

Selera makan juga akan mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan gizi untuk energi dan pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatannya.

    1. Senitasi makanan (penyiapan, penyajian, penyimpanan)

Dimulai dair penyiapam, penyajian, dan penyimpanan suatu bahan makanan atau pangan hendaknya jangan sampai kadar gizi yang terkandung dalam bahan makanan tersebut tercampur atau tidak higenis dan mengandung banyak kuman penyebab penyakit. Makanan harus cukup mengandung kalori, makanan mudah dicerna oleh alat-alat pencernaan, pengolahan atau pemasakannya harus disesuaikan dengan sifat fisik dan kimiawi dari masing-masing bahan makanan.

    1. Pengetahuan gizi

Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap Negara di dunia. Penduduk di mana pun akan beruntung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usianya dan keadaan fisiologisnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi tersebut akan saling berinteraksi satu sama lain sehingga berimplikasi kepada status gizi seseorang. Status gizi seimbang sangant penting terutama bagi pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia. Secara umum status gizi dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Kecukupan gizi (gizi seimbang)

  2. Gizi Kurang

  3. Gizi lebih

  1. Hubungan Pangan, Gizi dan Pembangunan Manusia Indonesia

GBHN telah menerapkan bahwa pembangunan yang sedang kita galakan bersama dewasa ini bertujuan untuk membangun manusia seutuhnay dan membangun masyaarakat indoneisa seluruhnya. Jumlah penduduk yang besar, modal badan fisik biologis modal rohaniah dan mental, serta potensi efekti bangsa merupakan sebagian dari modal pembangunan. Dengan demikian bangsa Indonesia adalah subjek dan objek dari pembangunan. Membangun manusia Indonesia seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Keadaan gizi masyarakat tidak lain adalah pencerminan kualitatif dari pemenuhan kebutuhan pokok akan pangan tersebut.

Masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan di masa yang akan datang. Keterlamabatan dalam memberikan pelayanan gizi akan berakibat kerusakan yang sulit bahkan mungkin tak dapat ditolong. Kiranya tidak terlalu berlebihan walaupun perlu studi yang mendalam, jika keberapa pakar gizi menyatakan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia yang sampai tahun 2002 ini juga belum ada tanda-tanda selesai telah menghilangkan potensi bangsa indonesi satu generasi, artinya anak-anak yang hidup pada 5 tahun lebih masa krisi ekonomi ini dikhawatirkan tidak berkembang kemampuan intelektualnya sehingga 50 sampai 70 tahun mendatang ketika ia harus memimpin bangsa ini maka akan ada kemunduran peningkatan gizi terutama harus ditunjukkan pada anak-akan dan ibu hamil. Anak-anak pada masa kini adalah pemimpin, ilmuwan, dan cendekiawan serta pekerjaan di masa yang akan datang. Mereka adalah generasi penerus nusa dan bangsa.

Penundaan pemberian perhatian pemeliharaan gisi yang tepat terhadap anak-anak akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumber daya pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Anak-anak memerlukan penanganan serius terutama jaminan ketersediaan zat-zat gizi sedini mungkin. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya adalah:

    1. Kekurangan gizi adalah peneybab utama kematian bayi dan anak-anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas sumber daya manusia di masa yang akan datang.

    2. Kekurangan gizi berakibat meningkatnya angka kesakitan dan menurunnya produktivitas kerja manusa. Hal ini berarti akan menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan.

    3. Kekurangan gizi berakibat menurunkan kecerdasan anak-anak. Hal ini berarti menurunya kualitas kecerdasan manusia muda yang pandai yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.

    4. Kurangnya gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunya prestasi dan produktivitas kerja manusia.

Seharusnya kecukupan pangan dan gizi bukanlah sekedar menjadi sasaran akan tetapi juga merupakan landasaran untuk semua proses kemajuan ekonomi dan social bangsa. Peningkatan gizi masyarakat merupakan bagian integral pembangunan nasional dan juga merupakan bagian dari pembanunan manusia seutuhnya. Pembangunan mansuia seutuhnya juga berarti pembangunan badaniah, mental spiritual/rohaniahnya, kesejahteraan, dan lain sebagainya tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan pangan dan gizi. Oleh karena itu, pemerintah memubat program-program yang bermuara kepada perbaikan gizi masyarakat. Adapun program-program perbaikan gizi yang sedang dan telahdilaksanakan dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi:

Kegiatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK)

  • Penanggulangan kekurangan vitamin A

  • Penanggulangan anemia gizi

  • Penanggulangan gondok endemic

  • Dan lain sebagainya

Program pangan dan perbaikan gizi mulai mendapat perhatian khususnya sejak Repelita II Pemerintahan Orde Baru. Jelas hal ini bukan semata-mata karena kehendak seseorang atau sekelompok masyarakat yang senang terhadap gizi, tetapi terutama karena GBHN menghendaki pembanguanan manusia Indonesia seutuhnya.

ISLAM DAN AJURAN MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN

107. Al Maa´uun, 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.(CIRI PENDUSTA AGAMA)

89. Al Fajr, 18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (CIRI ORANG KUFUR NIKMAT ALLAH)

74. Al Muddatstsir, 44. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (CIRI CALON PENGHUNI NERAKA SAQOR)

69. Al Haaqqah, 34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.

76. Al Insaan, 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

47. Muhammad, 12. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.

58. Al Mujaadilah, 4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

5. Al Maa’idah, 89. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

4. An Nisaa’, 6. Dan ujilah[269] anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

5. Al Maa’idah, 95. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan[436], ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad[437] yang dibawa sampai ke Ka’bah[438] atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin[439] atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu[440], supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu[441]. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

About these ads

02/01/2009 - Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi

1 Komentar »

  1. mas, saya ini klo makan makanan manis pasti mual dan mau muntah gitu, temen saya bilang saya alerg glukosa, bener gak tu mas, trus penaggulangan nya giman ya?

    Komentar oleh agus rudiyansah | 11/16/2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 915 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: