BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Sirsak (Anona muricata Linn)

Sirsak (Anona muricata Linn) berasal dari Amerika Selatan. Tanaman sirsak dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Class : Dicotyledonae

Ordo : Polycarpiceae

Famili : Annonaceae

Genus : Annona

Species : Anona muricata Linn

Saat ini di Indonesia dikenal dua kultivar sirsak yang berbeda rasanya, yaitu sirsak yang rasanya manis asam dan banyak bijinya, jenis ini tersebar luas dalam jumlah besar. Kedua adalah sirsak yang rasanya manis, lengket di lidah dan bijinya sedikit, jenis ini dikenal dengan sebutan sirsak ratu karena ditemukan di Pelabuhan ratu dan baru dikembangkan dalam jumlah kecil di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Buah sirsak termasuk buah semu, daging buah lunak atau lembek, berwarna putih, berserat, berbiji hitam pipih. Kulitnya berduri, tangkai buah menguning, aromanya harum, dan rasanya manis agak asam.

Buah sirsak yang normal dan sudah cukup tua / matang mempunyai berat ± 500 gr, warna kulit agak terang, hijau agak kekuningan dan mengkilap. Bentuk buah bagian ujung agak membulat dengan diameter ± 5 cm, diameter bagian tengah ± 7 cm, serta panjang buah ± 17 cm. Kerapatan duri maksimal 2- 3 buah per 4 cm (diukur pada bagian buah yang durinya paling jarang), kekerasan daging buah empuk merata, rasa manis atau manis asam segar dan beraroma khas.

Kandungan Zat Gizi dan serat pangan buah SIRSAK / 100 gram BDD dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel Kandungan Zat Gizi dan serat pangan buah SIRSAK / 100 gram BDD

Kandungan

Jumlah

Kandungan

Jumlah

Energi

65,00 kal

Besi

0,60 mg

Protein

1,00 gr

Vitamin A

1,00 RE

Lemak

0,30 gr

Vitamin B1

0,07 mg

Karbohidrat

16,30 gr

Vitamin B2

0,04 mg

Kalsium

14,00 mg

Vitamin C

20,00 mg

Fosfor

27,00 mg

Niacin

0,70 mg

Serat

2,00 gr

Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat dan meningkatkan nafsu makan. Dengan mengkonsumsi buah sirsak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (sebagai obat agar awet muda). Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit. Sari buah sirsak di dalam sistem pencernaan akan meningkatkan rangsangan nafsu makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit kandung air seni dan wasir (ambeien).

Daun sirsak juga sering digunakan sebagai bahan obat tradisional, antara lain untuk pengobatan sakit pinggang. Caranya : 20 lembar daun sirsak direbus dalam 5 gelas air. Didihkan hingga airnya tinggal 3 gelas. Setelah cukup dingin, diminum 1 kali sehari sebanyak ¾ gelas. Sedangkan daun yang masih muda dapat dipakai untuk mengobati bisul. Caranya : siapkan daun sirsak muda secukupnya, kemudian tumbuk halus dan tambah air sedikit sambil diaduk merata. Tempelkan bahan tersebut pada bisul.

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

Family

Annonaceae

Deskripsi

Kandungan Buah sirsak tersusun atas 67% daging buah yang dapat dimakan, 20% kulit, 8,5% biji, dan 4%.poros tengah buah, dari berat keseluruhan buah. Kandungan gulanya sekitar 68% dari seluruh bagian padat daging buah. Sirsak merupakan sumber vitamin B yang lumayan jumlahnya (0,07 mg/100 g daging buah) dan vitamin C (20 mg/ 100 g daging buah), dan sedikit sampai sedang kandungan kalsium dan fosfornya. Sifat yang paling disenangi orang dari sirsak ini ialah harumnya dan aromanya yang sangat menggiurkan. Daging buahnya mirip dengan ‘cherimoya’, warna putihnya yang murni itu sangat stabil, walaupun sedang diolah. Sirsak berbentuk perdu atau pohon kecil, tingginya 3-10 m, tajuknya cocok dengan model arsitektur Troll, bercabang hampir mulai dari pangkalnya. Daun berbentuk lonjong-bundar telur sungsang, berukuran (8-16) cm x (3-7) cm, ujungnya lancip pendek; tangkai daun panjangnya 3-7 mm. Bunga-bunganya teratur, 1-2 kuntum berada pada perbungaan yang pendek, berwarna kuning kehijauan; gagang bunga panjangnya sampai 2,5 cm; daun kelopaknya 3 helai, berbentuk segi tiga, tidak rontok, panjangnya sekitar 4 mm; daun mahkota 6 helai dalam 2 baris, 3 lembar daun mahkota terluar berbentuk bundar telur melebar, berukuran (3-5) cm x (2-4) cm; 3 lembar daun mahkota dalam berukuran (2-4) cm x (1,5-3,5) cm, pangkalnya bertaji pendek; benang sarinya banyak, tersusun atas barisan-barisan, menempel di torus yang terangkat, panjangnya 4-5 mm, tangkai sarinya berbulu lebat; bakal buahnya banyak, berbulu lebat sekali, kemudian gundul. Buahnya yang matang, yang merupakan buah semu, berbentuk bulat telur melebar atau mendekati jorong, berukuran (10-20) cm x (15-35) cm, berwarna hijau tua dan tertutup oleh duri-duri lunak yansirsakg panjangnya sampai 6 mm, daging buahnya yang berwarna putih itu berdaging dan penuh dengan sari buah. Bijinya banyak, berbentuk bulat telur sungsang, berukuran 2 cm x 1 cm, berwarna coklat kehitaman, berkilap.

Manfaat

Sirsak dapat dimakan dalam keadaan segar sebagai pencuci mulut jika matang betul, atau dicampur dengan es krim atau susu dijadikan minuman yang lezat, seperti dilakukan di Jawa, Kuba, dan sebagian dari Amerika. Akan tetapi, buah ini lebih sering dimakan dalam bentuk ‘puree’ setelah daging buahnya diperas dan disaring. Juga dapat dijadikan selai buah, sari buah (setelah dicampur gula), nektar atau sirop. Juga digunakan dalam pembuatan eskrim. Di Indonesia dodol sirsak dibuat dengan cara daging buahnya dipanaskan dalam air dan diberi gula sampai campuran itu mengental. Di Filipina, buah sirsak muda beserta bijinya yang masih lunak digunakan sebagai sayuran. Buah tua yang masih keras dapat dibuat kue yang lezat rasa dan aromanya.

Syarat Tumbuh

Sirsak merupakan jenis yang paling tidak bandel tumbuhnya di antara jenis-jenis Annona lainnya dan memerlukan iklim tropik yang hangat dan lembap. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian sampai 1000 m dpl. dan meluas sampai ke 25° LS pada lahan yang ternaung. Pertumbuhan dan pembungaannya sangat terhambat oleh turunnya udara dingin, serta hujan salju yang ringan saja sudah dapat membunuh pohon sirsak. Musim kering dapat mendorong luruhnya daun dan menyelaraskan pertumbuhan memanjang d an pembungaan dalam batas-batas tertentu. Hasil panen dapat lebih tinggi pada cuaca demikian, asalkan kelembapan yang tinggi berlangsung selama periode pembentukan buah; ada indikasi bahwa untuk Annona spp. lainnya, balk kelembapan yang sangat tinggi maupun sangat rendah, dapat merusak pembentukan buah. Jika kelembapan cenderung rendah, dianjurkan untuk memberikan naungan agar transpirasi dapat dikurangi (juga karena pohon sirsak dangkal perakarannya). Sebagian besar tipe tanah cocok untuk tanaman ini, tetapi drainasenya harus balk, sebab pohon sirsak tidak tahan terhadap genangan air.

Pedoman Budidaya

Perbanyakan dan penanaman Pohon sirsak dapat diperbanyak dengan klon, terutama melalui berbagai teknik penempelan dan penyambungan pada batang bawah yang diperbanyak dengan semai, seperti dipraktekkan di berbagai wilayah Amerika (misalnya di Kolumbia dan Venezuela). Akan tetapi, umumnya sirsak ditumbuhkan dari benih. Semai dapat dipakai, sebab populasi yang tumbuh cukup seragam dan benih dari kultivar manis, misalnya, pada umumnya sifatnya sama dengan induknya, serta karena fase yuananya hanya berlangsung 2-4 tahun. Benih dapat ditanam langsung di ladang atau disemaikan dahulu di persemaian. Setelah 2030 hari, 85-90% dapat berkecambah dan semai itu dapat dipindahkan ke lapangan setelah 6-8 bulan. Pemotongan separuh daun dan kadang-kadang perompesan daun diperlukan untuk memindahtanamkan semai yang sebelumnya tidak ditumbuhkan dahulu dalam wadah. Jarak tanam di kebun buah sebaiknya antara 3 m x 4 m dan 4 m x 6 m. Berkat kecilnya ukuran pohon dan cepatnya berbuah, sirsak dapat ditanam sebagai tanaman sela di antara pohon buah-buahan yang lebih besar, seperti mangga, avokad, dan kecapi. Jika tanaman utamanya membutuhkan ruangan, pohon sirsak dapat ditebang.

Pemeliharaan

Lahan di sekitar pangkal pohon sirsak sebaiknya terbebas dari gulma atau ditutup oleh mulsa untuk menghindari dehidrasi dari perakarannya yang dangkal itu pada musim kemarau. Sirsak toleran terhadap keadaan tanah yang kering, tetapi pohonnya akan meluruhkan terlalu banyak daun jika mengalami kekeringan yang berkepanjangan; dalam situasi demikian pohon sirsak akan tertolong oleh pengairan tambahan. Pemupukan dengan pupuk kandang dan/atau NPK dalam dosis kecil beberapa kali dalam setahun dapat mendorong pertumbuhan dan pembuahan, tetapi tidak diperoleh data kuantitatif mengenai kebutuhan pupuk atau banyaknya pupuk daun yang dianjurkan. Pohon sirsak biasanya dapat mencapai bentuk yang memuaskan, tetapi dalam beberapa kasus diperlukan usaha sedini mungkin membatasi pohon itu hanya berbatang tunggal, yaitu dengan cara memotong cabang-cabang yang akan menyainginya. Tunas air (water sprout), cabang-cabang yang tumpang-tindih dan bergerombol juga harus dibuang. Kurang baiknya penyerbukan kiranya merupakan faktor pembatas utama dalam jumlah hasil, dan untuk menghilangkan kendala ini dianjurkan untuk penyerbukan dengan tangan. Akan tetapi, hal ini jarang dilakukan dan hanya dapat berlangsung jika ada masa pembungaan yang jelas.

Hama dan Penyakit

Selama vigor pohon dapat dipertahankan, kerusakan yang serius disebabkan oleh penyakit dan hama umumnya terbatas hanya pada buah. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides merupakan penyakit utama pada sirsak di daerah yang lembap. Produksi buah sirsak dapat menyusut sekali karena bunga dan buahnya terserang penyakit sehingga menjadi busuk atau keriput; selanjutnya penyakit ini juga mengganggu buah, daun, batang, dan pematangan buah. Di Hindia Barat ada anjuran agar diadakan seleksi terhadap kemampuan pembentukan buah dalam kondisi lingkungan yang lembap. Jika terjadi musim kemarau barangkali ada kemungkinan untuk mempercepat pembungaan dan pembentukan buah agar terhindar dari periode kelembapan yang tinggi. Penyakit busuk coklat batang (Corticium sp.) menyerang pohon sirsak dan menyebabkan busuknya cabang dan mungkin membunuh pohonnya juga. Pembersihan yang sebaik-baiknya menjelang akhir musim kemarau, termasuk pembakaran bagian-bagian pohon yang terserang, dapat menolong untuk menahan penyakit pada musim hujan berikutnya. Kutu perisai seringkali menyerang pohon sirsak, dan kutu bubuk dapat bergerombol banyak sekali pada buah sirsak. Jika semut dapat diberantas dengan baik, musuh-musuh alaminya akan mampu menanggulangi hama ini. Buah dapat dibungkus untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh lalat buah. Annonaepestis bengalella adalah penggerek buah sirsak, dan ngengat ini tersebar dari India sampai ke Jawa dan Filipina. Ulat besar dari kupu-kupu Meganotron rufescens dan Papilio agamemnon sering sekali dijumpai memakan daun sirsak. Kerusakan yang disebatkan oleh ketiga jenis hama ini umumnya belum sampai mengharuskan dilakukannya pemberantasan secara kimiawi.

Panen dan Pasca Panen

Buah sirsak sebaiknya dipanen setelah tua benar tetapi masih keras. Buah ini dianggap tua jika duri-durinya sudah saling berjauhan dan warna kulitnya yang tadinya hijau berkilat telah berubah menjadi hijau kusam atau hijau kekuning-kuningan. Jika dipetik terlalu awal, kualitas buah akan jelek. Sebaliknya jika buah dibiarkan matang di pohon, seringkali buah itu dimakan oleh kelelawar sebelum jatuh ke tanah. Di daerah yang iklimnya tidak mengenal musim, buah sirsak dapat dijumpai sepanjang tahun, tetapi biasanya pohon sirsak memiliki 1-3 kali masa panen, dengan puncaknya yang nyata pada masa musim utama. Buah harus dipetik secara selektif; dipotong gagangnya dengan pisau yang tajam atau gunting setek, kemudian disimpan di dalam keranjang bambu yang telah dialasi dengan bahan yang empuk, seperti jerami.

01/30/2009 Posted by | BTT | 15 Komentar

Phymatosorus scolopendria

Phymatosorus scolopendriaIni adalah salah satu jenis paku yang dapat ditemukan di dataran rendah dinding tua, dan di dasar pohon, membentuk koloni yang besar. daun paku ini mempunyai ukuran yang variabel di (dalam) ukuran, tenunan dan banyaknya daun. Yang breada diketeduhan tumbuh dengan gemuk, sedang secara langsung terkena cahaya matahari tumbuh dengan kasar dan kaku. pembedaan helaian tipis juga variabel dan beberapa mungkin punya daun palem tunggal.

Akar : merambat dengan warna coklat gelap di bagian tepi, epilitik.

Batang : straw-coloured; bersendi di rhizome dan timbul pada interval pendek/singkat dari itu, panjangnya ± 40 cm

Helaian : pinnatifid dan variabel dalam jumlah cuping, dengan berujung, warna daun hijau terang, panjang 50 cm dan lebar 40 cm lebar/luas; masing-masing cuping panjang 15 cm dengan lebar 4 cm, permukaannya tidak ada rambut dan pembuluh darah.

sori: besar [membulatkan/ mengelilingi], di (dalam) dua baris sepanjang pembuluh darah yang utama dari tiap lobe, sporangia jeruk terang ketika dewasa.

spora: monolete, ellipsoidal, permukaan secara dangkal.

01/30/2009 Posted by | BTT | 2 Komentar

NUTRIEN MINERAL

Interaksi Akar dan Tanah

Kondisi di daerah rhizosfere agak berbeda dengan kondisi tanah di luar rhizosfere yang berjauhan dengan akar tanaman. Akar tanaman tidak hanya berfungsi dalam penyerapan dan transportasi nutrien dari tanah ke tanaman dan utamanya air, tetapi juga akumulasi dan pengurangan ion, membebaskan H+ atau HCO3- yang mengakibatkan perubahan pH, mengkonsumsi O2 yang berakibat pada perubahan “redox potential” di dalam tanah. Eksudasi oleh akar tanaman juga berpengaruh terhadap mobilitas dan transformasi unsur serta populasi mikroorganisme dalam tanah. Kondisi rhizosfere dalam tanah berpengaruh terhadap perubahan lingkungan kimia akan berakibat pula pada ketersediaan nutrien dan penyerapan akar.

Tanah dan Mineral

Tanah adalah bentukan alam pada permukaan bumi yang tersusun atas lima komponen utama : bahan mineral, bahan organik, air, udara dan organisme hidup. Bahan mineral terdiri atas material anorganik dengan berbagai ukuran yaitu mulai dari fragmen batuan, kerikil, hingga partikel-partikel lempung/liat. Bahan organik tersusun atas hasil dekomposisi sisa tanaman dan hewan. Bahan mineral dan bahan organik ini yang berperan dalam memperbaiki matrik tanah. Pori-pori tanah yang terbentuk di antara partikel-partikel tanah akan diisi air dan udara. Sedang yang termasuk organisme hidup : akar tanaman, bakteri, fungi, protozoa, cacing, serangga dll.

Bentukan tanah berlangsung sejak ribuan tahun melalui proses geologi yang berlanjut hingga sekarang, termasuk di dalamnya proses pelapukan kimia dan fisika terhadap batuan dan mineral tanah, adanya tekanan, akumulasi dan dekomposisi bahan organik, transformasi, pencucian terhadap hasil pelapukan dan dekomposisi. Dari proses pelapukan dan dekomposisi tersebut menghasilkan partikel-partikel yang bersifat koloid ataupun partikel-partikel lempung.

Sisa tanaman, hewan dan mikroorganisme akan mengalami degradasi oleh mikroorganisme tanah. Proses degradasi bahan organik tanah ini akan membebaskan ion-ion anorganik dan CO2, selanjutnya proses degradasi bahan sisa ini akan berlangsung lebih lambat dengan meninggalkan residu koloid karbonat yang relatif resisten terhadap dekomposisi. Akumulasi residu bahan organik ini akan membentuk humus berwarna coklat hitam, banyak mengandung turunan senyawa fenol terutama lignin asal tanaman.

Partikel humus dan lempung, keduanya bercampur bersama air diperkolasikan ke dalam pori-pori tanah. Akhirnya bahan-bahan yang dapat larut tadi didispersikan mengikuti aliran menuju tempat pencadang air, sedang koloid lempung dan partikel-partikel humus yang tertinggal dalam tanah akan terhidrasi.

Bagian penting dari tanah yang terkait dengan nutrisi tanaman adalah fraksi koloid yang mengandung partikel-partikel koloid organik dan anorganik. Partikel koloid tersebut secara individual disebut misel, yang sangat halus (hanya nampak dengan bantuan mikroskop elektron) memiliki permukaan yang relatif luas per unit berat. Misel dari lempung memiliki struktur lempung yang terdiri atas silikon, alumunium oksida dengan atom oksigen di permukaan misel, memiliki sisi adsorpsi elektro negatif untuk menarik kation (Ca2+, Mg2+, K+, Al3+, NH4+ dan Na+) sebagaimana ion H+ yang dihasilkan oleh aktivitas biologi.

Misel humus (sedikit lempung) bersifat amorf, memiliki sifat khas yaitu dengan adanya permukaan yang bermuatan yang ditimbulkan oleh adanya gugus karboksil (-COOH) dan gugus hidroksil (-OH) di mana hidrogen berdisosiasi digantikan oleh kation.

Kedua misel lempung dan humus dikelilingi oleh sekumpulan kation dengan ikatan longgar yang masing-masing dikelilingi oleh mantel air. Karena misel lempung dan humus didominasi oleh muatan negatif, maka bila anion (nitrat) ditambahkan ke dalam tanah atau diberikan pada tanah organik yang telah terdekomposisi maka akan mengalami pencucian oleh air perkolasi.

Kation diadsorpsi di permukaan partikel koloid tanah dan dapat dipertukarkan secara cepat dengan larutan tanah, proses ini disebut pertukaran kation.

Suatu kation dapat menggantikan kation lain tergantung daya retensi dan adsorbsi kation. Kation trivalen diikat lebih kuat daripada kation divalen dan seterusnya lebih kuat daripada kation monovalen. Juga tingkat hidrasi dari suatu ion berpengaruh terhadap daya ikat. Kation terhidrasi tidak cukup kuat terikat pada permukaan mineral lempung karena adanya selubung (mantel) air. Kation yang lebih kecil memiliki mantel air yang lebih tebal, karena itu kerapatannya akan berkurang sehingga tidak terikat kuat pada mineral lempung.

Tabel ! :: Diameter kation terhidrasi dan tanpa hidrasi

kation

Terhidrasi

tanpa hidrasi

Rb+

0,51

0.,30

K+

0,53

0,27

NH4+

0,54

0,29

Na+

0,76

0,20

Li+

1,0

0,15

Mg2+

0,64

0,16

Ca2+

0,56

0,21

Menurut Hofmeister daya tukar kation dapat disusun sebagai berikut :

Li < Na < K+ < Rb+ < Cs+

Mg2+ < Ca2+ < Sr2+ < Ba2+

Namun ini tidak berlaku secara universal karena masih dipengaruhi struktur mineralnya (kaolinit, monmoulinit, mica dll).

Mikoriza

Mikoriza merupakan fungi di dalam tanah yang berasosiasi dengan akar tanaman. Ada dua kelompok mikoriza : ektotropik dan endotropik mikoriza. Ektotropik mikoriza menyelimuti akar dengan mantel hifa yang tebal, banyak dijumpai pada Pinus silvestris. Berkas fungi ini menyebar di antara sel kortikal akar yang memungkinkan terpeliharanya hubungan jamur dan tanaman.

Fungi ini digolongkan ke dalam Basidiomycetes yang menggantungkan kebutuhan karbohidratnya dari akar tanaman. Hal ini dibuktikan dengan menggunakan C-14 label pada fotosintat yang ditranslokasikan ke akar tanaman juga ke dalam berkas hifa mikoriza. Karbohidrat yang diperoleh dari akar terutama sukrosa segera diubah menjadi gula jamur seperti trihalosa dan manitol. Dengan cara ini senyawa organik, karbon organik yang diterima hanya sedikit yang direasimilasi oleh akar tanaman, sehingga nampak bahwa transport asimilat dari bagian atas tanaman menuju akar yang terinfeksi lebih banyak daripada yang menuju akar yang tidak terinfeksi.

Ketebalan berkas hifa yang menyelimuti akar berperan dalam penyerapan air dan nutrien anorganik terutama fosfat dengan mengefektifkan dan memperluas permukaan kontak dengan tanah secara langsung. Hifa mikoriza (diameter 2-4 µm) mampu berpenetrasi ke dalam pori tanah yang tidak dapat dipenetrasi oleh akar rambut (diameter 5 kali lebih besar dari hifa). Akar yang tidak terinfeksi usianya lebih pendek dan tetap tidak membentuk cabang, sedang akar yang terinfeksi usianya lebih panjang dan mampu membentuk cabang, dengan demikian mikoriza membantu akar mengeksploitasi tanah untuk mendapatkan air dan nutrien.

Telah diketahui bahwa fosfat diserap oleh hifa dan diteruskan ke tanaman. Fungi ini juga mengakumulasi nutrien yang selanjutnya disediakan bagi tanaman pada saat ketersediaan tanah rendah.

Ektotropik mikoriza utamanya dijumpai pada akar pohon-pohonan dan semak hutan dan sangat berarti bagi kebutuhan nutrisi tanaman yang bersangkutan dan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman bila ditanam ditanah yang ketersediaan fosfatnya rendah.

Fungi endotropik mikoriza merupakan anggota dari Phycomycetes dan Basidiomycetes. Berbeda dengan ektotropik mikoriza, hifa endotropik mikoriza ini berpenetrasi ke sel kortek akan membentuk jala hifa internal dan beberapa di antaranya juga berkembang di dalam tanah.

Banyak tanaman pertanian akarnya terinfeksi (berasosiasi) oleh vesikular-arbuskular mikoriza (VAM). Nama ini diberikan sehubungan dengan dua struktur karakteristik dari infeksi yaitu vesikel dan arbuskula. Dari Phycomycetes yaitu famili Endogonaceae, hifa fungi ini tumbuh bercabang baik yang ada di luar (dalam tanah) maupun dalam sel korteks. Juga dijumpai adanya struktur yang berbeda perkembangannya yang disebut arbuskula. Struktur ini menyerupai hostoria tetapi dihasilkan oleh cabang hifa dikotom.

Vesikula merupakan hasil pembengkaan hifa yang terjadi di dalam atau di antara sel. Vesikula eksternal juga dibentuk dan berkembang dari hifa eksternal. Asosiasi antara inang dan fungi ini memiliki koordinasi yang baik. Akar-akar muda pencari nutrien tidak menunjukkan adanya kerusakan sewaktu diinfeksi oleh fungi ini, tentu saja akar hidup mempunyai arti penting dan sebagai kultur untuk fungi tersebut. Simbiosis ini prinsipnya sama dengan ektomikoriza yaitu : tanaman menyediakan senyawa karbon organik bagi mikoriza dan fungi membantu akar mengeksploitasi tanah untuk memperoleh air dan nutrien anorganik terutama fosfat bila terjadi kekurangan fosfat di sekitar akar (karena diserap lebih cepat daripada yang jauh dari akar).

Jaringan hifa eksternal memperluas dari akar ke dalam tanah, memperluas permukaan kontak antara tanah dan asosiasi fungi-akar, sehingga meningkatkan penyerapan fosfat. Dari suatu penelitian pada akar bawang merah menunjukkan bahwa kecepatan fosfat lewat hifa lebih tinggi daripada lewat akar dan translokasi dalam hifa nampak lebih cepat. Fosfat ditranslokasikan dalam bentuk granula kecil-kecil polifosfat oleh aliran sitoplasma. Fosfat diserap oleh fungi dari kumpulan fosfat tanah yang labil dan karenanya dengan mudah fosfat tersedia. Fungi mikoriza memiliki kemampuan yang kecil untuk menggunakan fosfat tidak lerut seperti batuan fosfat. Tanaman dengan sistem perakaran yang permukaannya sempit dan berdaging dengan sedikit rambut akar akan sangat diuntungkan dalam penyerapan fosfat dari VAM (onion, sitrus dan anggur).

Kecepatan infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor : pH dan temperatur optimum pada pH agak asam dan suhu 20o-25o C. Infeksi lambat pada kondisi defisiensi N yang sangat rendah dan meningkat dengan penyediaan nitrat dan kandungan nitrogen di akar, sedang pemberian ammonium berpengaruh sebaliknya.

Kecepatan infeksi berkorelasi positip dengan kandungan karbohidrat terlarut di akar dan eksudasi gula. Terdapat korelasi positip antara infeksi VAM dengan pertumbuhan inang dan intensitas cahaya atau panjang hari. Lingkungan yang tidak cocok : ternaungi, tanaman meranggas menekan pertumbuhan mikoriza. Kondisi lingkungan yang menonjol adalah pengaruh fosfat. Pada defisiensi fosfat, kecepatan eksudasi gula reduksi dan asam amino meningkat dan seringkali berkorelasi dengan meningkatnya kecepatan infeksi. Ada hubungan antara aplikasi fosfat yang mudah larut (super fosfat) dan infeksi VAM, berbeda dengan rock fosfat sangat kecil pengaruhnya terhadap infeksi. Perluasan infeksi dikendalikan tidak oleh konsentrasi fosfat dalam larutan tanah tetapi oleh kandungan fosfat dalam tanaman.

Secara umum meningkatnya penyerapan fosfat dan meningkatnya nutrisi fosfor adalah sebab utama dari meningkatnya hasil dan pertumbuhan tanaman yang berasosiasi dengan mikoriza. Respon pertumbuhan terhadap infeksi menurun bila diberi fosfat yang mudah larut dan meningkatnya pertumbuhan menimbulkan lebih cepatnya penyerapan mineral lain.

Mineral Essensiil

Nutrien esensiil dibutuhkan oleh tanaman berupa bahan anorganik alam. Secara mendasar nutrien dibutuhkan tanaman berbeda dengan yang dibutuhkan oleh manusia, hewan dan mikroorganisme yang membutuhkan konsumsi bahan organik. Elemen essensiil tersebut : C H O N S P K Ca Mg Fe Mn Cu Zn Mo B Cl ( Na Si Co ) yang dibedakan elemen bukan mineral ( C H O N ), bukan metal ( N S P Bo Cl ) dan metal ( K Ca Mg Fe Mn Zn Co Mo ).

Elemen essensiil untuk tanaman dibedakan antara elemen makro dan mikro. Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, sedang mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil. Elemen makro lebih dibutuhkan untuk komponen struktural, sedang elemen mikro lebih mengarah untuk komponen fungsional. Sebagai contoh makronutrien N dalam jaringan dapat mencapai 1000 kali lipat lebih besar daripada Zn.

Makronutrien tersebut : C H O N S P K Ca Mg ( Na Si ) sedang mikronutrien : Fe Mn Cu Zn Mo B Cl. Namun adakalanya keberadaan mikronutrien hampir menyamai makronutrien dalam jaringan misal Fe atau Mn di dalam jaringan sangat tinggi hampir menyamai S atau Mg, bahkan pada kondisi tertentu dijumpai konsentrasi yang tinggi terhadap elemen-elemen non essensiil yang di antaranya bersifat toksik (Al, Ni, Se, F).

Klasifikasi nutrien tanaman

Nutrien

Penyerapan

Fungsi

1.

C H O N S

CO2(HCO3-), H2O, O2, NO3-, NH4+, N2, SO42-, SO2

Komponen BO, komponen enzim

  • ion dari larutan tanah

  • gas dari atmosfer

Assimilasi dan proses oksidasi-reduksi

2.

P, B, Si

Fosfat, asam borat, silikat dari larutan tanah

Esterifikasi alkohol tanaman

Fosfat ester yang terlibat dalam pemindahan energi

3.

K, Na, Mg, Ca, Mn, Cl

Ion dari larutan tanah

Tidak spesifik, osmotik potensial, aktivasi protein enzim, keseimbangan dengan anion, elektro potensial

4.

Fe, Cu, Zn, Mo

Ion atau khelate dari larutan tanah

Dalam bentuk khelate sebagai gugus prostetik, donor/aseptor elektron (oksidasi/reduksi)

Phospat (P)

Keberadaan Phosphat/fosfat (P) dalam tanah utamanya dalam bentuk :

  1. fosfat dalam larutan tanah

  2. fosfat labil

  3. fosfat nonlabil

Fraksi pertama yaitu berupa fosfat yang terlarut dalam larutan tanah, fraksi dua fosfat labil yaitu yang terikat dengan partikel-partikel tanah (mineral lempung), hidroksida, karbonat, Fe dan Al fosfat yang cepat mencapai keseimbangan dengan fosfat larutan. Fe oksida mengadsorpsi fosfat lebih kuat daripada mineral silikat. Proses adsorpsi fosfat ini tidak berdiri sendiri, tetapi juga melibatkan proses pengendapan (Ca-Fe dan Al fosfat) dan ini berakibat pada rendahnya ketersediaan nutrien yang bersangkutan. Fraksi ketiga : fosfat yang tidak larut misal : batuan fosfat yang lambat tersedia.

Dekomposisi bahan organik berpengaruh terhadap adsorpsi fosfat secara langsung ataupun tidak langsung dan mineralisasi fosfat dari dekomposisi bahan organik akan berpengaruh pada adsorpsi fosfat ataupun keberadaan fosfat bebas.

Bentuk ion fosfat penting dalam tanah : H2PO4- dan HPO42-

HPO42- + H+ H2PO4-

Keberadaan ion fosfat ini sangat dipengaruhi oleh pH. Akar tanaman mampu mengabsorbsi fosfat dari larutan tanah pada konsentrasi fosfat yang rendah, dan umumnya kandungan fosfat di akar maupun di xylem sekitar 100 – 1000 kali lipat lebih tinggi daripada di larutan tanah. Fosfat diserap oleh sel tanaman melawan perbedaan konsentrasi oleh karenanya diserap secara aktif.

Dilaporkan bahwa meningkatnya tekanan partikel O2 pada larutan nutrien akan meningkatkan pula serapan fosfat, sehingga respirasi karbohidrat akan mendorong proses aktif penyerapan fosfat. Hal serupa juga dijumpai bahwa tanaman yang tumbuh di bawah cahaya akan menyerap fosfat lebih tinggi daripada dalam keadaan gelap.

Serapan fosfat juga dipengaruhi oleh pH, pada pH rendah (4) tanaman mengabsorbsi fosfat 10 kali lipat lebih tinggi daripada pH tinggi (8,7) dan kecepatan maksimum diperoleh pada pH 5,6 dan akan menurun dengan cepat dengan semakin naiknya pH dan fosfat diserap secara aktif dalam bentuk ion H2PO4- dan bukan HPO42-.

Fosfat dalam sel ada dalam bentuk : fosfat anorganik (ortofosfat), pirofosfat, fosfat organik (fruktosa 6 fosfat, fosfolipida, nukleotida : ATP, UTP, CTP, GTP dan juga sebagai koenzim dan asam nukleat)

Mengingat pentingnya fungsi fosfat maka defisiensi fosfat dapat berdampak pada penyediaan energi (misal dalam kloroplas), proses metabolisme yang memerlukan energi (biosintesis : protein, asam nukleat dll), terhambatnya pertumbuhan dengan memperhatikan ratio berat kering tunas/akar (rendah) juga terhambatnya pertumbuhan tunas baru, berpengaruh pula pada kualitas buah, kualitas biji dan hasil yang rendah, mengingat P bersifat sangat immobile pada kebanyakan tanaman.

Defisiensi fosfat menunjukkan gejala : daun tua sering berwarna hijau gelap. Pada tanaman setahun, cabang-cabang berwarna kemerahan karena bertambahnya antosianin, pada tanaman buah-buahan daunnya berwarna agak kecoklatan.

Potassium (K)

Sumber potassium (K) untuk tanaman diperoleh dari pelapukan batuan mineral (alkali fildspars 4-15% K2O, Muskovit/K-mika 7-11% K2O, Biotit-Mg mika 6-10% K2O, ellite 4-7% K2O) berada di kisi-kisi mineral.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

K+ K+ K+ K+

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pembebasan K hasil pelapukan dapat dengan air atau asam lemah dapat lebih cepat. Konsentrasi H+ yang tinggi dan K+ yang rendah dapat membebaskan K+ yang berada di antara lapisan batuan mineral (interlayer). Pembebasan K dapat juga dengan cara penggantian K+ oleh kation lain (Na+, Ca++, Mg++).

Fiksasi K+ dapat juga oleh mineral tanah dan fiksasi berlangsung lebih kuat pada kondisi kering daripada basah (lembab). Fiksasi K+ ini dapat dibebaskan oleh adanya NH4+ atau H+.

K+ berperan dalam banyak proses fisiologis dan biokimia tanaman dan diserap secara aktif dengan kecepatan penyerapan yang tinggi dan dapat melawan perbedaan konsentrasi. K+ dalam konsentrasi rendah ditransport secara aktif dengan adanya transfer energi oleh ATP-ase, sedang K+ konsentrasi tinggi justru akan menghambat mekanisme transport aktif dan dutransport secara pasif. Kecepatan penyerapan K+ juga dikontrol oleh konsentrasi K+ internal yang pada gilirannya berdampak pada turgor sel atau turgor sel justru dikontrol oleh penyerapan K+.

K+ diketahui sebagai unsur yang sangat mobil di jaringan tanaman, K+ utamanya ditransport secara langsung ke jaringan meristem dan seringkali dijumpai transport K+ berlangsung dari jaringan tua ke jaringan muda.

Transport K+ ke meristem, perannya belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga terkait dengan kegiatan : sintesis protein, laju pertumbuhan dan penyediaan sitokinin. K+ penting dalam menentukan status air dalam tanaman : penyerapan air dalam sel/jaringan seringkali sebagai akibat penyerapan aktif terhadap K+, pembengkakan kotiledone berhubungan dengan penyediaan K+, turgor sel (daun) jega sangat dipengaruhi oleh kandungan K+.

Perlakuan tanaman dengan level K+ yang rendah diperoleh penurunan : laju pertumbuhan, besarnya sel, kandungan air dalam jaringan. Dari perlakuan ini disimpulkan bahwa jaringan muda sangat memerlukan K+ untuk memelihara turgor sel yang pada gilirannya untuk pembesaran sel, pada jaringan muda turtgor sel sangat sensitif terhadap status K+, K+ juga berkaitan dengan asimilasi CO2, fosforilasi dan sintesis protein.

Pendapat lain menyebutkan bahwa K+ sinergistik dengan asam gibberelin, kecepatan perpanjangan yang tinggi dijumpai pada aplikasi K+ dan asam gibberelin. Kehilangan air lebih rendah pada tanaman yang diberi K+ karena berpengaruh pada penurunan transpirasi yang tidak hanya tergantung pada potensi air pada sel mesofil, tetapi juga dikontrol oleh besarnya tingkat membukanya stomata.

K+ dalam sel stomata ikut mengendalikan membuka dan menutupnya stomata, stomata membuka bila kadar K+ di dalam sel stomata tinggi dan menutup bila kadar K+ rendah. Pada siang hari akan berlangsung fotosintesis, dihasilkan fotosintat yang dampaknya akan dihasilkan energi maka mendorong peningkatan penyerapan K+ yang akhirnya akan meningkatkan konsentrasi K+ dan menaikkan tekanan turgor. Perilaku K+ ini ternyata tidak berlaku untuk ion (anion) Cl- dan H2PO4- sehingga tidak mampu memberikan keseimbangan akibat peningkatan K+, sedang anion yang memberikan keseimbangan terhadap K+ asam malat yang dihasilkan via karboksilasi PEP.

Pengaruh K+ terhadap fotosintesis ternyata tidak langsung berpengaruh pada fotosintesis I dan II, tetapi menaikkan reaksi denovo yaitu sintesis enzim rubisco. K+ juga menurunkan resistensi difusi CO2 kedalam sel mesofil. Meningkatnya asimilasi CO2 paralel dengan meningkatnya fotorespirasi dan menurunkan respirasi (respirasi gelap), K+ juga meningkatkan translokasi fotosintat dan K+ secara tidak langsung meningkatkan sintesis beberapa macam senyawa organik seperti protein, gula dan polisakarida.

Kation K juga berperan mengaktifkan beberapa macam enzim, misal terhadap starch sintetase pada jagung manis, pengaruh K+ sangat kuat yang diikuti oleh Rb+, Cs+ dan NH4+ pengaruhnya lebih rendah daripada K+.

Defisiensi K tidak menunjukkan gejala yang jelas, awalnya hanya pengurangan laju pertumbuhan, setelah lanjut diikuti oleh klorosis dan nekrosis. Umumnya mulai nampak pada daun tua, karena K+ yang mobil ditransport dari daun tua ke jaringan yang lebih muda. Turunnya turgor apalagi pada kondisi stres air menyebabkan tanaman lembek. K+ juga dapat meningkatkan resistensi tanaman terhadap beberapa penyakit, misal pada gandum terhadap serangan penyakit : “powdery mildew” oleh Erysiphe graminis , padi : “brown spot” oleh Ophiobolus myabeanus, barley : “brown rust” oleh Puccinia hordei dan Fusarium, layu pada pisang oleh Fusarium oxysporum.

Beberapa pupuk potasium :

KCl

50 % K

(60 % K2O)

41 % K

(58 % K2O)

33 % K

(40 % K2O)

KSO4

43 % K

(52 % K2O)

KNO3

37 % K

(44 % K2O, 13 % N)

KPO3

33 %

(40 % K2O, 27 % P)

= K metafosfat

Calsium (Ca)

Di alam dalam bentuk calcite CaCO3 atau dolomit CaCO3MgCO3, gipsum CaCO3 2H2O, CaCO3 sukar larut dan hanya 10-15%mg Ca per liter air. Dalam bentuk Ca(HCO3)2 agak mudah larut yang dapat menyebabkan pencucian Ca :

CaCO3 + H2O Ca(HCO3)2

Ca dalam ikatan koloid tanah dapat dipertukarkan/dibebaskan oleh 2H+. Keberadaan Ca++ dalam tanah dapat mencapai 10 kali lipat atau lebih tinggi daripada K+, tetapi penyerapan K+ oleh akar tanaman lebih tinggi daripada Ca++. Rendahnya penyerapan Ca, karena Ca hanya diserap oleh ujung akar muda di mana endodermisnya belum dilapisi suberin, di samping penyerapan Ca ditekan oleh adanya K+ dan NH4+ yang lebih cepat diserap oleh akar.

Umumnya keberadaan Ca+ berkaitan dengan sifat basis pada tanah (pH yang lebih tinggi), namun Ca++ yang dapat dipertukarkan oleh H+ dapat berakibat pada penurunan pH tanah. Sebagai contoh pada kondisi yang natural, berlangsung proses nitrifikasi terhadap ammonium yang dihasilkan dari mineralisasi bahan organik :

2NH4 + 4O2 2NO3- + 4H+ + 2H2O

H+ yang dihasilkan akan membebaskan Ca, dengan demikian nitrifikasi dapat menyebabkan keasaman tanah dan pencucian Ca. Pengasaman tanah ini dapat juga terjadi karena eksresi H+ oleh akar tanaman juga pembakaran fosil dapat menyebabkan pembentukan H2SO4, H2SO3, HNO2 dan HNO3 di atmosfer yang dikembalikan ke tanah bersama air hujan.

Berbeda dengan penyerapan K+ dan fosfat, penyerapan Ca (dan Mg) hanya terjadi pada daerah akar yang terbatas yaitu sedikit di belakang pucuk akar dan transport Ca2+ dari korteks ke silinder pusat hanya efektif pada akar muda yang sel endodermisnya belum mengalami penebalan pita kaspari. Selebihnya pada akar yang lebih tua maka transport Ca2+ hanya mungkin lewat simplas.

Atas dasar keterangan di atas maka ditemukan bahwa transport Ca berlangsung secara pasif, sama halnya translokasi Ca2+ dalan tanaman. Di dalam xylem translokasi Ca berhubungan dengan proses transpirasi yang dipengaruhi oleh kelembaban udara.

Ketika kelembaban udara tinggi (trnaspirasi rendah) maka translokasi Ca2+ ke bagian atas tanaman menurun dan akan menekan penyerapan Ca2+. Aliran Ca di dalam xylem tidak semudah massflow, mengingat kation Ca juga diabsorbsi oleh sel-sel yang berdekatan dan diadsorpsi oleh anion yang tidak berdifusi dalam xylem. Adsorpsi Ca2+ pada dinding sel dapat dipertukarkan dengan kation lain sehingga Ca2+ dapat ditranslokasikan ke atas.

Pada tanaman yang sedang mengalami pertumbuhan berlangsung translokasi ke arah tunas pucuk walau kecepatan transpirasi lebih rendah daripada di daun yang telah tua. Hal ini diketahui bahwa aliran tersebut diinduksi oleh auksin (IAA) yang disintesis di tunas pucuk.

Selama pertumbuhan IAA menstimulasi pengeluaran proton (H+) pada zona perpanjangan tunas pucuk meningkatkan pembentukan sisi pertukaran kation sehingga pucuk pertumbuhan menjadi pusat akumulasi kation Ca. Hubungan tersebut telah diteliti dan hasilnya bahwa penggunaan penghambat trasport IAA, asam 2 3 5 iodobenzoat (TIBA) menunjukkan penghambatan induksi TIBA pada transport IAA dan pengaruh penghambatan TIBA terhadap translokasi Ca ke pucuk tunas. Ternyata bahwa transport IAA ke basipetal mendorong Ca untuk ditranslokasikan ke arah akripetal sebaliknya kecepatan translokasi Ca2+ ke arah bawah sangat lambat, oleh karena itu transport Ca2+ di floem konsentrasinya sangat kecil.

Kadang dijumpai Ca2+ di deposit pada daun tua dan tidak dapat ditranslokasikan ke jaringan meristem yang menunjukkan gejala defisiensi Ca2+ karena sifat Ca2+ yang tidak mobil. Percobaan menggunakan Ca label juga menunjukkan bahwa Ca ditranslokasikan ke bagian atas tanaman dan tidak ke pucuk akar, sebaliknya K+ di floem dijumpai dalam jumlah yang berlebihan.

Ca2+ merupakan ion yang antagonis dengan H+. bila Ca2+ membran dipertukarkan dengan H+ atau menggunakan khelat maka permeabilitas sangat meningkat dan dapat terjadi kebocoran ion atau senyawa organik molekul kecil. Ca diketahui penting untuk pertumbuhan tanaman, hal itu dapat ditunjukkan dengan menghentikan penyediaan Ca pada akar, maka pertumbuhannya segera berkurang dan setelah beberapa hari pucuk akar berwarna coklat dan secara bertahap akan mati. Calsium dibutuhkan untuk perpanjangan dan pembelahan sel. Tetapi bagaimana peran Ca2+ dalam proses tersebut belum diketahui betul. Ca merupakan ion penting untuk memelihara permeabilitas dan integritas membran sel. Ca yang ditempatkan pada daerah batas antara sitoplasma dan dinding sel mengindikasikan kandungan Ca yang tinggi di plasmolema. Ca dapat dipindahkan dari membran dengan perlakuan EDTA. Perlakuan ini meningkatkan permeabilitas membran, sehingga senyawa anorganik dan organik dapat berdifusi ke luar sel dan berakibat pada kerusakan.

Kerusakan dari permeabilitas membran oleh defisiensi Ca, seperti efek dari EDTA mempengaruhi retensi dari senyawa-senyawa seluler yang dapat berdifusi. Membran akan bocor, cepat mengalami defisiensi dan struktur membrannya mengalami disintegrasi.

Pada tanaman, kerusakan terjadi pertama di jaringan meristem seperti pucuk akar, titik tumbuh pada bagian atas tanaman dan organ penyimpanan. Senyawa melanin yang berwarna coklat yang dihasilkan dari oksidasi polifenol berkaitan dengan jaringan yang mengalami defisiensi. Bila jaringan ini kecukupan Ca2+ oksidasi tersebut akan dihambat dengan adanya khelasi senyawa fenolik oleh Ca.

Senescen juga diakibatkan oleh adanya defisiensi Ca dan dapat dihambat oleh Ca2+. Senesen pada daun jagung dapat ditunda dengan penambahan Ca2+ atau sitokinin. Absisi daun (hidney bean) yang disebabkan oleh senesen dapat ditunda dengan memberikan Ca2+ konsentrasi tinggi pada medium. Untuk memenuhi fungsinya, Ca harus selalu ada di larutan eksternal di mana ia mengatur selektivitas penyerapan ion dan mencegah kebocoran dari sitoplasma. Ca membran terikat oleh gugus fosfatdan karboksil dan fosfolipida dan protein pada permukaan membrn sel. Dapat dipertukarkan oleh K+, Na+ dan H+, meskipun tidak dapat menggantikan posisi Ca sebagai stabilisasi termasuk divalen Mg2+.

Aplikasi Calsium seringkali dilakukan dengan cara pengapuran. Karbonat adalah batuan kapur, yang bila dibakar pada suhu 1100oC menghasilkan :

CaCO3 CaO + CO2 , CaO cepat bereaksi dengan air.

CaO + H2O Ca(OH)2, bila kontak dengan CO2 akan kembali ke bentuk : Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O

CaO dan Ca(OH)2 stabilitasnya tinggi

CaO bereaksi dengan air dan langsung dapat menetralkan larutan tanah yang asam.

CaO + H2O Ca(OH)2

Ca(OH)2 + 2H+ Ca2+ + 2H2O

CaO + 2H+ Ca2+ + H2O

Reaksi di atas diperlakukan bila diperlukan perubahan pH yang cepat.

CaCO3 bereaksi lebih lambat, tetapi bila kondisi sangat asam dapat bereaksi cepat : CaCo3 + 2H+ Ca2+ + H2O + CO2

Pada kondisi asam agak lemah adanya CO2 baik untuk pelarutan CaCO3 dengan membentuk senyawa bicarbonat :

CaCO3 +CO2 + H2O Ca(HCO3)2

Ca(HCO3)2 + 2H+ Ca2+ + 2CO2 + 2H2O

CaCO3 + 2H+ Ca2+ + CO2 +H2O

Ca silikat lebih lambat daripada CaCO3 untuk menetralkan tanah asam

CaSiO3 + 2H+ Ca2+ + SiO3 + H2O

Pada pH basa sebaiknya jangan memupuk dengan pupuk ammonium sebab akan terjadi volatilisasi dalam bentuk amoniak

NH4 +OH H2O + NH3

Meningkatnya pH dari asam berdampak membaiknya kondisi lingkungan mikroorganisme :

  • penambat N2 bebas

  • mineralisasi nitrogen (dekomposisi)

  • nitrifikasi

  • denitrifikasi

S (Sulfur)

Merupakan nutrien non metalik yang dapat diserap dalam bentuk SO2 oleh bagian tanaman di atas tanah (daun) dan bentuk SO42- oleh akar tanaman.

Sulfur di tanah dalam bentuk organik dan anorganik, pada tanah organik merupakan recervoir S, misal pada tanah peat kandungan terbesar adalah S. di dalam tanah organik dibedakan dalam dua fraksi : S yang berikatan dengan karbon seperti (asam amino jumlahnya kurang dari separoh fraksi), yang kedua ialah yang tidak berikatan dengan karbon (senyawa fenolik, cholin-sulfat sebagai lemak)

Tanah organik memiliki ratio C/N/S = 125 : 10 : 1,2, sedang tanah anorganik berada dalam bentuk : CaSO4, MgSO4 dan Na2SO4. Pada tanah organik S tersedia oleh aktivitas mikroorganisme yaitu lewat proses mineralisasi bahan organik dan terbentuk H2S, pada kondisi aerob akan terjadi oksidasi (autooksidasi) menjadi SO4. Pada kondisi anaerob H2S akan dioksidasi menghasilkan S oleh bakteri belerang khemotrop (Beggiatoa dan Theothrix), bakteri yang sama juga mengoksidasi S menjadi H2SO4 dalam kondisi aerob.

S dioksidasi secara khemotropik oleh Thiobacillus

2H2S + O2 2H2O + 2S + 510 kj

2S + 3O2 + 2H2O 2H2SO4 + 1180 kj

2H2S + 4O2 2H2SO4 + 1690 kj

Pembentukan H2SO4 dan unsur S menyebabkan keasaman oleh karena itu dapat menurunkan pH tanah alkali.

Pada kondisi tanah tergenang S tereduksi dalam bentuk FeS, FeS2 (pirit) dan H2S, misal pada kondisi tergenang padi sawah : H2S merupakan hasil akhir dari degradasi S secara anaerob (metil sulfida, butil sulfida juga terbentuk), H2S memberikan bau yang tidak disenangi.

FeS + H2O + ½O2 Fe(OH)2 + S

Bakteri fotosintetik ungu dan hijau dapat mengoksidasi H2S ke S dengan menggunakan H untuk transport elektron fotosintetik. Bila prosesnya dihambat, H2S dapat berakumulasi sehingga meracuni tanaman.

Keracunan H2S dapat dihindarkan dengan menambahkan garam fero sehingga membentuk FeS. Reduksi sulfat pada kondisi anaerob oleh bakteri Desulfovibrio menggunakan oksigen dari SO4 sebagai aseptor elektron terakhir menghasilkan H2S.

Sulfur diserap tanaman secara aktif dalam bentuk SO42-, pH tidak terlalu berpengaruh namun serapan tertinggi berlangsung pada pH 6,5. Banyak senyawa yang mempunyai fungsi penting yang mengandung sulfur misal : asam amino sistein, metionin, glutation, biotin, coenzim A dan teamin pirofosfat.

Menurut penelitian pada bunga matahari SO4 diabsorpsi dan ditranslokasikan secara aktif dengan melawan perbedaan konsentrasi. Sulfat terutama ditranslokasikan ke arah atas (acropetal) dan kemampuan tanaman tinggi menggerakan S ke arah bawah (basipetal) relatif rendah.

Percobaan dengan kultur larutan (clover) diketahui dengan diputuskan penyediaan SO4 (ke dalam larutan bebas SO4), S dalam akar dan petiol ditranslokasikan ke arah daun muda, sedang S dari daun tua tidak berkontribusi terhadap penyediaan unsur S bagi jaringan muda. Juga diketahui bahwa tidak terjadi translokasi yang menentang aliran transpirasi.

Di atmosfer S berada dalam bentuk SO2 yang dapat diabsorbsi lewat stomata dan didistribusikan ke seluruh bagian tanaman. S dalam tanaman dapat dijumpai sebagai S protein, S asam amino dan sulfat. Sebagai bukti bahwa SO2 atmosfer dapat dimanfaatkan oleh tanaman : beberapa spesies tanaman yang ditumbuhkan dalam “growth chamber” dan dialirkan SO2 atmosfer sebagi sumber S, ternyata pertumbuhan tanaman akan berkurang bila tidak ada SO2. Namun SO2 atmosfer juga dapat meracun terutama bagi tanaman yang sensitif.

Konsentrasi SO2 di atmosfer umumnya sekitar 0,1 – 0,2 mg SO2- S/m3, sedang kadar SO2 atmosfer yang dapat meracun mulai 0,5 – 0,7 mg SO2- S/m3. Konsentrasi SO2 atmosfer yang tinggi mengakibatkan gejala nekrotik di daun, sedang pada defisiensi S pada larutan medium (tanah) akan menghambat sintesis protein karena kurangnya asam amino metionin dan sistein. Sebaliknya terjadi akumulasi asam amino non S : asparagin, glutamin, arginin. Defisiensi S menunjukkan gejala klorosis sehingga berakibat rendahnya gula sebagai hasil fotosintesis.

Defisiensi S dapat diatasi dengan aplikasi pupuk S seperti gipsum (CaSO4 – 2H2O) untuk tanah yang mengalami defisiensi S sangat tinggi, pupuk superfosfat, amonium sulfat dan potasium sulfat.

Magnesium (Mg)

Di dalam tanah banyak dijumpai dalam fraksi lempung, Mg dijumpai dalam mineral ferromagnesium yang mudah lapuk (biotit, serpentin, hornblende, olivin) juga dalam mineral lempung sekunder (chlorite, vermikulit, illit dan monmoulinit). Di dalam tanah juga dapat dijumpai Mg sebagai MgSO4, MgCO3 atau dolomit (CaCO3, MgCO3).

Distribusi Mg dalam tanah mirip dengan K dibedakan dalam tiga bentuk: tidak dapat dipertukarkan, dapat dipertukarkan dan bentuk larut dalam air. Ketiga bentuk tersebut relatif setimbang namun yang terbesar adalah bantuk tidak dapat dipertukarkan pada mineral primer dan mineral lempung sekunder. Mg yang dapat dipertukarkan ini sekitar 5% dari total Mg, fraksi yang berupa Mg terlarut dalam air penting bagi penyediaan nutrien tanaman. Mg dalam larutan tanah cukup tinggi 2-5 mM, meskipun pada berbagai tanah sangat bervariasi yaitu mulai 0,2 – 150 mM. beberapa Mg di tanah berasosiasi dengan bahan organik, tetapi biasanya kecil, kurang dari 1% total Mg dalam tanah, seperti halnya Ca ternyata Mg juga mudah mengalami pencucian.

Penyerapan oleh tanaman lebih rendah daripada Ca2+ atau K+. Mg dalam jaringan sekitar 0,5% bahan kering. Pengaruh kompetitif kation terhadap penyerapan utamanya Mg seringkali menjadi penyebab defisiensi Mg pada daun (apel) dan sebaliknya K+ yang rendah diperoleh Mg yang tinggi.

Meskipun K+ yang tinggi sering menekan total penyerapan Mg, namun pengaruh peningkatan penyediaan K+ bervariasi pada berbagai organ tanaman. Tabel berikut menunjukkan bahwa pada tanaman tomat, peningkatan penyediaan K+ menurunkan kandungan Mg di daun dan akar, namun pada buah malah sedikit meningkat, ternyata K+ meningkatkan translokasi Mg2+ yang menuju buah.

Tabel 2 : Pengaruh K+ terhadap kandungan beberapa kation pada berbagai organ tanaman ( Mengel K. dan Kirkby E.A., 1987 )

Perlakuan mM K/lt larutan nutrien

K

Na

Ca

Mg

Dalam % DM

Daun

2

0,5

0,40

4,7

0,61

10

3,3

0,19

4,2

0,27

20

4,2

0,18

3,3

0,15

Akar

2

0,2

0,36

3,9

0,33

10

2,2

0,25

3,2

0,31

20

2,4

0,13

3,3

0,26

Buah

2

1,6

0,10

0,09

0,07

10

2,5

0,07

0,08

0,08

20

2,7

0,06

0,07

0,09

K & Na kompetitif

-

atagonisme.

K & Mg kompetitif

tapi Mg sangat mobil pada buah tidak berpengaruh.

K & Ca kompetitif

-

translokasi Ca sangat ditentukan oleh transpirasi hanya diangkut ke arah atas.

Berbeda dengan Ca2+, Mg bersifat mobil di dalam floem sehingga dapat ditranslokasikan ke daun muda ataupun ke tunas pucuk. Dalam jaringan tanaman total Mg seringkali lebih 70% yang dapat didifusikan berasosiasi dengan anion organik seperti asam malat dan asam sitrat. Pada biji cerealia dapat berupa garam inositol hexafosfat (asam fitat) berasosiasi dengan klorofil (15-20%).

Mg juga merupakan kofaktor hampir seluruh enzim yang mengaktifkan proses fosforilasi, Mg sebagai jembatan antara struktur pirofosfat (ATP dan ADP) dengan molekul enzim.

Aktivasi ATP ase dibawakan oleh model jembatan di atas, Mg juga mengaktifkan fosfokinase, dehidrogenase, enolase. Mg juga membawakan reaksi kunci pengaktifan enzim ribulosa bifosfat carboksilase (Rubisco). Defisiensi Mg dapat menurunkan N protein karena defisiensi Mg menghambat sintesis protein, terutama terhadap penggabungan asam amino tertentu (seperti halnya defisiensi S), pengaruh ini lebih disebabkan oleh disosiasi ribosom ke dalam sub unitnya karena ketiadaan Mg, karena Mg sebagai stabilisator ribosom yang penting untuk sintesis protein. Pemindahan asam amino dari aminoacide tRNA ke rantai polipeptida juga diaktifkan oleh Mg.

Gejala defisiensi Mg selalu dimulai dari daun yang tua ke arah daun muda, hal ini disebabkan sifat Mg yang mobil. Pada bagian antarvena daun menunjukkan warna kuning atau klorosis bila lebih lanjut akan terjadi nekrosis. Pada gula beat gejala ini sering dikacaukan dengan serangan virus yellow. Ciri lain, bila tanaman memperoleh cahaya matahari yang kuat nampak layu seperti pada defisiensi K, yang mengalami gangguan pada kandungan airnya. Defisiensi Mg pada daun secara individual nampak kaku/keras, rapuh, pembuluh antar tulang daun lengkung, daun gugur prematur. Gejala ini pada dikotil dan monokotil berbeda. Pada cereal dan monokotil, defisiensi Mg menunjukkan gejala yang berbeda. Seperti pada dikotil mempengaruhi metabolisme air dan karbohidrat dan defisiensi dimulai dari daun tua. Cerealia, dasar daun lebih dulu tampak kecil, bercak hijau gelap akibat akumulasi klorofil bersebelahan dengan warna kekuningan sebagai warna latar belakang pada kondisi tertentu terjadi klorosis, nekrosis juga terjadi terutama pada daun pucuk.

Level K+ dan NH4+ yang tinggi menekan penyerapan Mg sehingga dapat menyebabkan defisiensi Mg, pH rendah dan pH tinggi juga menekan penyerapan Mg disebabkan keberadaan H+, K+, Ca2+ juga berpengaruh terhadap penyerapan Mg karena pengaruh kompetisi.

Pupuk Mg antara lain : Kieserit Mg SO4.H2O biasa diaplikasikan lewat tanah 500 kg/Ha, Epson MgSO4.7H2O mudah larut, 35 kg/Ha dilarutkan dalam 400 l air lewat semprotan.

Fe ( besi )

Di dalam tanah sebagai Fe oksida : haematit.(Fe2O3), ilmenit FeTiO3, magnetit Fe3O4, batuan endapan dan siderit FeCO3. Kelarutan Fe dalam tanah sangat rendah dibanding kandungan Fe yang ada, bentuk anorganik terlarut antara lain : Fe3+, Fe(OH)2+, dan Fe2+. Dalam keadaan aerasi yang baik kontribusi Fe2+ kecil terhadap total Fe terlarut, kecuali pada pH tinggi. Kelarutan Fe sangat ditentukan oleh kelarutan hidroksida Fe(3) :

Fe3+ + 3OH Fe(OH)3

Fe(OH)3 mengendap dan sangat tergantung pH yang tinggi, aktivitas Fe3+ menurun dengan naiknya pH. Pada pH yang lebih tinggi aktivitas Fe3+ dalam larutan menurun 1000 kali lipat setiap kenaikan pH. Kelarutan Fe mencapai minimum pada pH sekitar 6,5 – 8,0.

Pada tanah asam kelarutan Fe anorganik relatif lebih tinggi daripada tanah kapur yang kelarutannya sangat rendah dan dapat menyebabkan defisiensi pada tanaman yang tumbuh di atasnya. Pada tanah tergenang terjadi reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ yang disertai meningkatnya solubilitas Fe. Proses reduksi ini penting terutama pada tanah sawah di mana konsentrasi Fe2+ dapat agak tinggi yang sering mengakibatkan keracunan pada tanaman padi yang dikenal sebagai “bronzing” (daun berwarna kemerahan). Pada kondisi anaerob, proses reduksi yang biasa terjadi :

Fe(OH)3 + eˉ + H+ Fe2+ + 3H2O, terjadi konsumsi H+ sehingga pH naik. Reaksi ini dapat berbalik bila terjadi peningkatan aerasi, pH lalu menurun disertai oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Dengan sendirinya semakin dalam lapisan tanah dengan aerasi yang semakin kurang, maka Fe2+ akan lebih tinggi daripada di tanah lapis atas.

Diabsorbsi oleh akar tanaman sebagai Fe2+ atau Fe khelate. Fe3+ kelarutannya rendah pada pH tanah umumnya. Ketersediaannya tergantung pada kemampuan akar pada pH rendah dan reduksi Fe3+ ke Fe2+. Fe khelate dapat larut sehingga tersedia bagi akar tanaman, walau penyerapannya sangat rendah. Untuk efisiensi penggunaan Fe-khelate, pemisahan antara Fe dan molekul organiknya berlangsung di permukaan akar ketika Fe-khelate diberikan pada akar tanaman, yang biasanya dibutuhkan dalam jumlah yang kecil. Di samping itu reduksi Fe3+ penting sebelum Fe-khelate dipisahkan dan Fe2+ diabsorbsi oleh akar tanaman.

Spesies tanaman berbeda-beda kemampuannya dalam menggunakan Fe dan Fe khelate sebagai nutrien. Dikatakan tanaman efisien terhadap Fe adalah yang tahan terhadap pH rendah,medium dan meningkatkan kapasitas reduksi di permukaan akar pada kondisi stress Fe sehingga ketersediaan Fe dan absorbsi oleh akar meningkat. Misalnya bunga matahari : yang pada kondisi stress Fe terjadi perubahan fisiologi dan morfologi akar : pucuk akar menjadi lebih tebal, korteks melebar/meluas, terjadi pembelahan sel rhizodermal, perkembangan bulu akar yang intensif, terjadi perubahan sel : sel rhizodermis menjadi sangat spesifik untuk penyerapan Fe. Berbeda dengan graminae : tidak terjadi perubahan fisiologi dan morfologi, tidak mampu merespon stress Fe.

Penyerapan Fe sangat dipengaruhi oleh kation lain. Pengaruh kompetitif terhadap penyerapan Fe : Mn2+, Cu2+, Ca2+, Mg2+, K+ dan Zn2+. Efek yang serupa terhadap penyerapan Fe adalah berasal dari logam berat yang dapat menginduksi defisiensi Fe pada beberapa spesies tanaman. Cu dan Zn diketahui dapat menggantikan Fe dari kompleks khelate membentuk khelate logam berat. Hal inilah yang menyebabkan pembatasan terhadap penyerapan Fe.

Kecenderungan Fe untuk membentuk khelate dan kemampuannya untuk berubah valensi merupakan dua hal penting yang mendasari sejumlah proses fisiologis :

Fe2+ Fe3+ + e

Sudah diketahui fungsi Fe dalam enzim sebagai haeme dari beberapa enzim misal : peroksidase, katalase, sitokrom oksidase, Nitrit reduktase (NiR), Nitrat Reduktase (NR) , nitrogenase dll. Walau Fe penting dalam menyusun haeme, tetapi jumlahnya hanya 0,1 % dari total Fe di daun, sebagian besar disimpan dalam bentuk Ferifosfoprotein yang disebut fitoferitin. Keberadaan fitoferitin untuk melayani kebutuhan Fe yang digunakan bagi pengembangan plastida untuk fotosintesis. Terbukti bahwa pada kloroplas banyak mengandung Fe (± 80 %) dari total Fe di tanaman. Bentuk lain dari Fe di khloroplas ialah Feredoksin yang berpartisipasi dalam proses oksidasi-reduksi dengan memindahkan elektron. Yang serupa feredoksin, sebagai sistem redoks pada fotosintesis ialah reduksi nitrit, reduksi sulfat dan asimilasi N2.

Tanaman hijau sering berkorelasi antara ketersediaan Fe dengan kandungan klorofil. Tanaman dengan penyediaan Fe yang baik akan tinggi kandungan klorofilnya.

Tabel : Efek ketersediaan Fe terhadap kandungan klorofil dan aktivitas enzim di daun tomat ( Mengel K. dan Kirkby E. A., 1982 ).

Perlakuan

Kandungan Fe µg/g FW

Klorofil mg/g FW

Aktivitas enzim

Pelarut HCl

Total

Katalase

Peroksidase

Cukup Fe

10,3

18,5

3,52

100

100

Kurang Fe

4,3

11,1

0,25

20

56

Defisiensi Fe serupa dengan Mg dalam hal produksi klorofil, sedang dalam hal lain difisiensi Fe tidak sama dengan Mg yang selalu dimulai dari daun muda. Defisiensi Fe menunjukkan klorosis antar vena, vena yang berwarna hijau gelap yang kontras dengan hijau terang atau kuning sebagai latar belakang, daun-daun muda berwarna putih dan kerusakan total pada klorofil. Pada cerealia, terdapat garis-garis kuning selang-seling sepanjang daun

Keracunan Fe terutama terjadi pada tanah sawah yang selalu tergenang. Dalam beberapa minggu tergenang akan meningkatkan kelarutan Fe dari 0,1 ppm menjadi 50-100 ppm. Keracunan Fe pada padi dikenal sebagai “bronzing” awalnya daun mengalami bercak coklat yang berkembang merata berwarna coklat. Hal ini terjadi karena kandungan Fe melebihi 300 ppm. Keracunan Fe pada tanaman padi ini sering terjadi terutama pada tanah berat dan seringkali berkaitan dengan defisiensi K+, bila kekurangan K+ kemampuan akar mengoksidasi Fe2+ ke Fe3+ akan terganggu.

Gejala defisiensi Fe seringkali dijumpai pada tanah kapur dan hal ini diinduksi oleh terbentuknya HCO3- pada tanah kapur, ion ini berpengaruh pada penyerapan dan translokasi dalam tanaman. Gejala defisiensi disini bukan karena rendahnya ketersediaan Fe di dalam tanah, tetapi karena kekacauan perilaku fisiologis yang diinduksi oleh kelebihan HCO3- .

CaCO3 + CO2 + H2O Ca2+ + 2HCO3-

Kelebihan HCO3- di medium akar akan menyebabkan immobilisasi Fe dalam tanaman. Mengapa HCO3- mengurangi mobilitas Fe di dalam tanaman belum jelas benar, diduga penyerapan yang tinggi terhadap HCO3- oleh tanaman akan menyebabkan naiknya pH jaringan tanaman sehingga berakibat pada immobilisasi Fe.

Mn ( Mangan )

Di tanah berada dalam batuan mineral (mineral sekunder) : piroksit (MnO2), manganite MnO4(OH). Mn dan Fe sering berada bersamaan dalam bintil akar. Mn dalam tanah yang penting berada dalam bentuk Mn2+ dan Mn oksida (trivalen atau tetravalen). Umumnya kandungan Mn dalam tanah berkisar 200-3000 ppm.

Yang penting untuk nutrisi ialah Mn2+, Mn yang mudah/dapat direduksi penting bagi penyediaan nutrisi tanaman. Ketersediaan Mn juga lebih tinggi pada tanah asam dan kelarutannya juga lebih tinggi pada pH rendah. Kelarutan Mn menurun 100 kali lipat setiap kenaikan pH. Pada pH yang tinggi ketersediaan Mn tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Meningkatnya pH juga meningkatkan kompleks Mn-bahan organik yang kurang tersedia bagi tanaman, lagi pula aktivitas mikroorganisme yang mempengaruhi oksidasi Mn optimum pada pH 7. dari uraian ini dapat dimengerti bahwa pH yang tinggi dengan bahan organik yang tinggi akan memudahkan defisiensi Mn, demikian halnya pengapuran akan menekan ketersediaan Mn, sedang aplikasi pupuk yang secara fisiologis asam (NH4)2SO4 berpengaruh menguntungkan bagi tanaman. Kelarutan Mn2+ memberi keuntungan langsung bagi nutrisi tanaman dan kelarutan Mn2+ setimbang dengan Mn2+ yang diadsorbsi oleh mineral lempung dan bahan organik. Di sisi lain afinitas Mn2+ dengan khelate sintetis rendah dan Mn2+ mudah digantikan oleh Zn2+ dan Ca2+. Kelarutan Mn2+ dalam tanah biasanya lebih tinggi daripada Cu dan Zn, sedang pada kondisi kering, garam Mn mengalami dehidrasi yang irreversibel sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Mobilitas Mn dalam tanah sangat tinggi sehingga dengan mudah dapat mengalami pencucian.

Penyerapan Mn oleh tanaman berbeda-beda, rata-rata penyerapannya lebih rendah daripada kation divalen lainnya (Ca2+, Mg2+). Penyerapan Mn ditekan oleh adanya Mg. Demikian halnya pengapuran akan mengurangi penyerapan Mn, tidak saja oleh pengaruh Ca dalam larutan tanah, tetapi juga akibat kenaikkan pH.

Ketersediaan Fe, Cu dan Zn berpengaruh terhadap penyerapan dan translokasi Mn dalam tanaman, di sisi lain Mn juga menekan penyerapan kation lain, di mana peningkatan supply Mn mengurangi kandungan Fe (tanaman kedele), diketahui bahwa Mn relatif immobil dalam tanaman.

Peran Mn dalam proses fisiologis/biokimia tanaman diketahui bahwa Mn menyerupai Mg, yang menjembatani ATP dengan kompleks enzim (fosfokinase dan fosfotransferase. Dekarboksilase dan dehidrogenase pada siklus TCA juga diaktifkan oleh Mn, namun dalam beberapa hal Mn dapat disubstitusi oleh Mg. Mn juga terlibat dalam proses oksidasi-reduksi pada sistem transport elektron dalam fotosintesis dan Mn penting dalam fotosistem II. Mn juga terkait dengan reduksi nitrat (NO3-) di mana tanaman yang mengalami difisiensi Mn akan terjadi akumulasi nitrat.

Defisiensi Mn menunjukkan bahwa volume sel kecil, dinding selnya mendominasi dan jaringan antar epidermis menyusut. Defisiensi Mn ada yang menyerupai Mg, di mana terjadi klorosis pada antarvena daun dan perbedaannya dengan defisiensi Mg, gejala defisiensi Mn pertama nampak di daun muda, sedang defisiensi Mg, daun tua yang pertama dipengaruhi. Defisiensi Mn yang lanjut menunjukkan hanya bagian sekitar vena yang masih berwarna hijau selebihnya mengalami klorosis, sedang pada monokotil (gandum) nampak bagian bawah daun terdapat bercak dan garis-garis berwarna abu-abu. Titik kritis defisiensi Mn sekitar 15-25 ppm, namun bila jumlahnya dalam tanaman berlebihan dapat meracun yaitu bila konsentrasi Mn di daun sekitar 160 ppm dengan menunjukkan gejala bercak coklat pada daun tua dan pada bagian ini terdapat endapan Monoksida. Keracunan Mn ini juga menyebabkan berkurangnya ekspresi auksin akibat terjadinya oksidasi IAA oleh IAA oksidase. Ditunjukkan pula bahwa KPK pada jaringan yang mengalami keracunan Mn lebih rendah daripada jaringan yang normal dan aliran Ca ke titik tumbuh terhambat pada kondisi keracunan Mn.

Aplikasi Mn biasanya dalam bentuk MnSO4 atau MnEDTA yang dilakukan dengan penyemprotan daun 1-5 kg Mn/ha, sedang lewat tanah diberikan rata-rata 30 kg Mn/ha, dalam keadaan khusus dapat saja diberikan 200-300 kg Mn/ha.

Zn ( Seng )

Kandungan Zn di litosfer sekitar 80 ppm, sedang di tanah berkisar 10 – 300 ppm. Bentuk Zn dalam tanah sebagai garam yang mengandung ZnS, sfalarite (ZnFe)S, Zincite ZnO dan Smithsonite ZnCO3, garam-garam ini larut dalam air dan sebagian dari ZnS berada dalam keadaan tereduksi. Bentuk Zn yang lain : Zn-silikat ada dua : ZnSiO3 dan ZnSiO4 ..

Zn juga dijumpai diadsorbsi pada sisi yang dapat dipertukarkan pada mineral lempung dan bahan organik. Sebagai Zn2+, ZnOH+ atau ZnCl+ atau dalam bentuk yang tidak dapat diekstraksi bersama Al3+. Zn juga berinteraksi dengan bahan organik dalam bentuk kompleks organik Zn terlarut maupun tidak larut dan 60 % Zn terlarut berada pada kompleks organik Zn.

Keberadaan Zn di jaringan tanaman umumnya rendah kurang dari 100 ppm bahan kering. Belum jelas benar bagaimana Zn diserap oleh akar tanaman, secara pasif ataukah secara aktif, namun ada pendapat bahwa penyerapan Zn dikontrol secara metabolik. Pada tanaman beat dan tanaman tebu diketahui penyerapan Zn berkurang dan dihambat oleh karena temperatur rendah, juga ditunjukkan bahwa penyerapan Zn sangat dihambat oleh adanya Cu. Pengatuh kompetitif ini juga dijumpai pada tanaman padi yaitu oleh Fe dan Mn terhadap Zn. Diketahui dengan jelas bahwa pemberian P yang tinggi menginduksi defisiensi Zn di daun dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan rendahnya konsentrasi Zn di daun muda.

Fungsi Zn dalam sistem enzim seperti halnya Mn dan Mg, membentuk ikatan dan konformasi antara enzim dan substrat. Sejumlah enzim (termasuk enolase) kerjanya diaktifkan oleh Zn, Mn atau Mg, demikian halnya karbonat anhidrase :

H2O + CO2 H+ + HCO3-

Enzim ini ditempatkan di khloroplas dengan fungsi sebagai media sementara terhadap perubahan pH atau bertindak sebagai buffer, terutama konsentrasi enzim yang tinggi di stroma untuk melindungi terjadinya denaturasi protein akibat perubahan pH berkaitan dengan pompa H+ dan penggabungan CO2 ke dalam ribulosa 1,5 bifosfat.

Zn pada metal enzim sudah diketahui, misal enzim dehidrogenase (glutamic acid dehidrogenase, LDH, alkohol dehidrogenase) dan juga proteinase dan peptidase. Defisiensi Zn sangat menurunkan level RNA dan kandungan ribosom dalam sel akibatnya menghambat sintesis protein, namun senyawa nitrogen bukan protein dan DNA relatif meningkat.

Zn diperlukan juga untuk sintesis triptofan, diketahui bahwa triptofan adalah prekussor IAA, oleh karena itu pembentukan zat tumbuh ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh Zn. Hal ini terbukti pada tanaman tomat yang mengalami defisiensi Zn, kecepatan pertumbuhannya rendah, aktivitas auksinnya rendah dan kandungan triptofannya juga rendah. Defisiensi Zn juga berpengaruh terhadap sintesis pati. Percobaan pada Phaseolus vulgaris : yang satu tahan dan yang satu peka terhadap defisiensi Zn, menunjukkan bahwa kandungan pati, aktivitas enzim “Starch synthetase“, kandungan pati di biji, rendah dan lebih rendah pada tanaman yang peka.

Defisiensi Zn menunjukkan gejala klorosis pada intervena daun, area ini nampak hijau muda, kekuningan atau keputihan. Pada jagung, pita klorosis terbentuk di kedua sisi tulang daun. Tanaman pada umumnya akan mengalami kematian pada tunas pucuk, daun gugur secara prematur, hasil tanaman akan menurun secara drastis.

Keracunan Zn bila kandungan Zn di daun cukup tinggi, namun pada tanaman yang toleran dapat mencapai 600 – 7800 ppm bahan kering. Aplikasi Zn dalam bentuk ZnSO4 4 kg/ha efektif untuk waktu 3-8 tahun, dapat juga berupa Zn EDTA, ZnDTPA, tetapi harganya mahal. Pemakaian Zn yang rendah terkait dengan penyerapan Zn oleh tanaman yang umumnya juga rendah yaitu kurang dari 0,5 kg/ha/th.

Cu ( Cupper )

Lebih dari 98% larutan tanah, Cu berada dalam kompleks bahan organik Cu lebih kuat diikat oleh bahan organik daripada kation lain (Zn2+, Mn2+) dan kompleks Cu bahan organik ini berperan penting dalam pengaturan ketersediaan dan mobilitas Cu dalam tanah.

Cu diikat sangat kuat oleh bahan organik, dan bentuk yang dapat dipertukarkan tidak mudah tersedia bagi tanaman. Pertukaran kation untuk Cu2+ dan CuOH+ yang efektif ialah H+. Ketersediaan Cu menurun pada pH yang lebih tinggi, misal konsentrasi Cu dalam larutan tanah rendah pada tanah berkapur.

Akibat dari Cu yang diikat kuat pada tanah sehingga sangat immobil dalam tanah, Cu dibutuhkan oleh tanaman sangat sedikit, kandungan Cu dalam tanaman : 2-20 ppm bahan kering. Penyerapan Cu dihambat kuat oleh penyerapan Zn dan sebaliknya. Pengamatan pada akar ternyata Cu mampu menggantikan ion lain dari sisi pertukaran akar dan diikat kuat pada ruang bebas dalam akar oleh karena itu dijumpai bahwa kandungan Cu di akar sering lebih tinggi daripada organ tanaman yang lain.

Cu tidak mudah mobil (dipindahkan) dalam tanaman, meskipun dapat ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda dan perpindahan Cu ini sangat tergantung status Cu dalam tanaman. Pada kecukupan Cu perpindahan Cu mudah terjadi, tetapi pada kondisi tanaman defisien, Cu relatif immobil. Cu memiliki afinitas yang tinggi dengan atom N pada asam amino, oleh karenanya senyawa ini sering bertindak sebagai carrier Cu dalam cairan tanaman.

Konsentrasi Cu tertinggi berada di kloroplas yaitu sekitar 70% dari total Cu di daun yang terikat dalam organel. Beberapa enzim mengandung Cu yang berperan dalam proses oksidasi-reduksi misal : sitokrom oksidase, oksidase asam askorbat dan polifenol oksidase (terosinase) yang terlibat dalam pengambilan oksigen dan hidroksilasi.

Akumulasi quinon menghasilkan polimerasi yang berwarna coklat hitam dan dibentuk senyawa melanin, hal ini dapat dilihat bila mengupas kentang atau apel yang terkena udara. Enzim SOD (superokside desmutase) juga mengandung Cu dan Zn, SOD mengkatalisis reaksi O2- radikal bebas dengan H2 menghasilkan peroksida.

O2- + O2- + H2+ O2 + H2O2

Cu juga diketahui sebagai kofaktor dari enzim sintesis. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh Cu terhadap sintesis DNA dan RNA. Pada organ tanaman yang masih muda sintesis protein masih sangat aktif, level DNA yang lebih rendah dijumpai pada jaringan yang mengalami defisiensi Cu. Cu juga diperlukan penambatan N2 oleh proses simbiosis dalam tanaman, pada nutrisi Cu yang rendah pembentukan nodulasi juga rendah.

Defisiensi Cu menunjukkan gejala pertumbuhan yang lambat, daun pucuk keputihan, daun sempit dan menggulung, pertumbuhan internoda juga terhambat. Sebaliknya kelebihan Cu dapat menyebabkan keracunan dan nampak adanya klorosis pada daun.

Aplikasi Cu dalam bentuk CuSO4, Cu oksida, Cu khelate (CuEDTA & CuDTPA) Cu diberikan lewat tanah dan sangat jarang diberikan lewat penyemprotan.

Mo ( Molibdenum )

Kandungan total Mo dalam tanah pertanian berkisar 0,6-3,5 ppm dengan rata-rata kandungan 2,0 ppm, yang tersedia bagi tanaman 0,2 ppm dan kandungan tersebut bervariasi tergantung dari bahan induknya, misal :

Tanah podsolik coklat-abu-abu 0,1 – 0,5 ppm

Tanah peat 0,1 – 0,5 ppm

Tanah podsolik 0,09 – 0,36 ppm

Mo dalam tanah sebagian besar berada dalam oksicompleks (MoO42-), Mo diadsorpsi oleh sesquioksida dan mineral lempung, adsorpsi oleh mineral tanah ini masih dapat dipertukarkan dan ikatan yang kuat terjadi pada Mo-anion. Kekuatan adsorpsi Mo menurun dengan meningkatnya pH dan adsorbsi maksimum berlangsung pada pH 4.

Mo diabsorpsi tanaman sebagai molibdat. Penyerapannya dapat berkurang karena pengaruh kompetitif dari SO42-. Di samping itu ion fosfat meningkatkan penyerapan Mo dan pengangkutan ke pucuk tanaman. Dalam bentuk apa Mo ditranslokasikan belum diketahui dengan jelas, diduga di xylem dalam bentuk MoO42-, kompleks asam amino-MoS atau sebagai kompleks Molibdat dengan gula atau senyawa polihidroksi.

Kandungan Mo di dalam tanaman umumnya rendah, lebih rendah dari 1 ppm bahan kering, dan Mo dapat diserap dalam jumlah yang lebih besar dibanding mikronutrien yang lain tanpa efek keracunan, misal pada kapas yang diperlakukan dengan Mo dapat mengakumulasi Mo di daun sampai 1500 ppm, walau kebutuhan fisiologis tanaman pada umumnya rendah kurang dari 1 ppm bahan kering.

Mo merupakan komponen esensial bagi enzim nitrogenase dan NR, ketersediaan Mo menstimulasi penyerapan N, dan Mo diakumulasi pada bintil akar pada sisi pengikatan N2.

Nitrat reduktase yang mereduksi nitrat menjadi nitrit, aktivitasnya meningkat dengan meningkatnya penyediaan Mo. Penyerapan Mo per unit bahan kering lebih besar bila tanaman tersebut dipupuk nitrat daripada ammonium, sedang bila tanaman dipupuk ammonium maka tanaman tidak memerlukan Mo. Tanaman yang diperlakukan dengan NH4 akan memerlukan Mo setelah mengalami nitrifikasi dan Mo dibutuhkan untuk mereduksi nitrat.

Defisiensi Mo sering muncul pada daun tua dan daun tengah, berwarna kuning-hijau kekuningan, tepi daun menggulung. Daun juga kecil dan terdapat banyak nekrosis. Klorosis juga sering terjadi pada antarvena daun, defisiensi yang parah menyebabkan tidak terbentuknya lamena daun dan hanya tulang-tulang daun yang nampak dominan. Defisiensi Mo terutama terjadi pada tanah asam, walaupun dapat diatasi dengan pengapuran, misal pada tanah peat, dengan adanya asam humat akan terjadi reduksi MoO42- menjadi Mo5+ dan kation ini yang kemudian difiksasi.

Aplikasinya biasanya dalam bentuk : Na-molibdat, NH4 molibdat, molibdenum trioksid yang dapat larut, molibdenis superfosfat. Perlakuan pada tanaman biasanya 1% larutan molibdat atau dengan diberi NH4 molibdat 100 gr/ha, dalam bentuk pupuk daun pada sayuran 0,5 % NH4 molibdat.

B ( Boron )

Kandungan total dalam tanah berkisar 20 – 200 ppm, umumnya tidak tersedia bagi tanaman, dalam air panas dapat tersedia berkisar 0,4-5 ppm. Dalam tanah berada dalam berbagai mineral : tourmalin (3-4 % B). B larut dalam tanah terutama berada dalam bentuk asam borak B(OH)3. pada kondisi pH tanah, asam ini B(OH)3 tidak mengalami disosiasi, berbeda dengan nutrien essensial yang lain. B berada dalam bentuk non ion dalam larutan tanah, inilah yang mungkin jadi alasan utama mengapa B dapat dengan mudah mengalami pencucian dari tanah.

B diserap oleh tanaman dalam bentuk asam borak tidak terdisosiasi, meskipun prosesnya belum diketahui dengan jelas, dan masih terjadi kontroversi antara pasif dan aktif proses. B relatif immobil dalam tanaman dan seringkali kandungan B naik dari bagian bawah ke bagian atas tanaman dan transpirasi sangat menentukan. Transport B ke bagian atas tanaman utamanya ditranslokasikan di xylem, dan dapat diakumulasikan di pucuk dan pinggiran daun. Akumulasi ini dapat berdampak pada keracunan, namun beberapa tanaman dapat menghindarkan dengan cara ekskresi lewat gutasi. Pergerakan B yang sejalan dengan aliran transpirasi dapat untuk menerangkan mengapa defisiensi B selalu dimulai dari titik tumbuh.

Defisiensi B dapat mengganggu perkembangan jaringan meristem (pucuk akar, pucuk tunas) atau jaringan kambium. Penyediaan B diperlukan untuk memelihara aktivitas meristem. B diperlukan untuk sintesis basa nitrogen, seperti urasil. Penambahan urasil dan asam orotat, senyawa antara pada biosintesis urasil diketahui mengurangi gejala defisiensi B. Ditemukan bahwa B terlibat dalam biosintesis urasil. Urasil merupakan komponen penting dalam RNA dan bila RNA tidak ada, maka perakitan ribosom tidak dapat dibentuk, kemudian berpengaruh pada sintesis protein. Sintesis RNA, pembentukan ribosom, dan sintesis protein merupakan proses penting dalam jaringan meristem, sehingga bila ada gangguan karena kurangnya B di dalam proses ini akan mengganggu pertumbuhan meristem. Juga diketahui penggabungan fosfat ke dalam asam nukleat juga dipengaruhi oleh defisiensi B.

Urasil juga merupakan prekusor UDPG (Uridin Diphospat Glukosa), koenzim untuk pembentukan sukrosa dan pati. Sukrosa adalah bentuk gula yang akan ditransportasikan, bila sintesisnya terhambat akan berpengaruh juga pada translokasinya.

Defisiensi B mengakibatkan pembentukan asimilat di daun hanya sedikit yang ditranslokasikan ke bagian lain. Defisiensi B juga meningkatkan produksi kalosa, plug kalosa ini akan menyumbat lubang-lubang tapisan yang dapat menghambat transport lewat floem.

Pengaruh defisiensi B dapat dicegah dengan penambahan basa timin, guanin dan sitosin dan diketahui bahwa B berperan penting dalam pemanfaatan dan metabolisme RNA.

Defisiensi B menandakan abnormal, terhambatnya pertumbuhan titik tumbuh, daun muda bentuknya tidak serasi, keriput dan lebih tebal, berwarna hijau-biru gelap, klorosis yang tidak teratur antara tulang-tulang daun. Daun dan batang/cabang menjadi rapuh dan menimbulkan gangguan transpirasi. Defisiensi lanjut menyebabkan matinya titik tumbuh, pembentukan bunga dan buah terhambat. Defisiensi B juga berpengaruh terhadap perkembangan akar, akar menjadi lebih tebal dan pucuknya mengalami nekrotik.

Aplikasinya sebagai : Boraks Na2B4O7.10H2O

Asam boraks H3BO3

Boron frits N2B4.XH2O

Keracunan B bila tanaman menyerap dalam jumlah yang banyak, misal pada rumput berkisar 270-570 ppm., namun pada tanaman pertanian dapat mengalami keracunan bila B terlarut pada air panas levelnya di dalam tanah lebih dari 5 ppm, sedang di tanah kurang dari 1 ppm cukup aman untuk pertumbuhan optimal tanaman.

Cl ( Chlorida )

Chlorida dalam tanah tidak diadsorbsi oleh mineral, bersifat mobil dan mudah mengalami pencucian. Tanaman cepat menyerap Cl-, percepatan penyerapannya tergantung pada konsentrasi nutrien dalam tanah atau larutan tanah. Penyerapan Cl- dapat melawan perbedaan konsentrasi. Pergerakan/aliran Cl- ke dalam jaringan melewati plasmalemma yang permeabel terhadap Cl- dan hal ini berbeda dengan tonoplas ternyata dapat bertindak sebagai barrier terhadap pergerakan Cl-, oleh karenanya transport melewati korteks menuju silinder pusat secara simplas dan dapat terjadi akumulasi Cl- di dalam sitoplasma manakala penyerapannya tinggi. Cl tidak hanya diserap melewati akar tetapi juga dapat oleh bagian tanaman di atas tanah sebagai chlorida atau gas clorine. Jumlah Cl di atmosfer sangat dipengaruhi oleh jauhnya dari pantai/laut. Kandungan Cl pada tanaman umumnya cukup tinggi bila dibanding elemen lain yaitu 2-20 mg Cl/gr bahan kering., namun fungsinya belum jelas benar. Pada kultur in vitro menunjukkan bahwa Cl- diperlukan untuk menghasilkan O2 pada fotosistem II.

Defisiensi Cl- sangat jarang dijumpai, sebaliknya kelebihan Cl akan menunjukkan gejala : terbakar pucuk daun dan pinggiran daun, “bronzing“, kuning prematur dan absisi daun.

Si ( Silikon )

Jumlahnya berlebihan di litosfer terdapat pada hampir semua mineral, sehingga aseptibilitas tanaman sangat ditentukan oleh kecepatan pelapukannya. Bentuk terlarutnya : Si(OH)4, dalam tanaman berada dalam bentuk silica amorf terhidrasi SiO2nH2O atau polimer asam silicat, kandungannya dalam tanaman sangat tergantung pada spesies tanaman, misal tomat, kobis, lobak rendah sedang padi, gandum, alang-alang tinggi. Pada sel epidermis daun padi nampak lapisan silika bergabung dengan selulose melapisi bagian bawah sel kutikula. Keberadaan lapisan silika ini penting untuk mencegah kehilangan air dan mencegah infeksi jamur.

Co ( Cobalt )

Konsentrasi dalam tanaman normalnya antara 0,02-0,5 ppm. Sedang kandungan dalam tanah lebih tinggi : 1-40 ppm. Dalam tanah antara lain dalam bentuk kristal lattise dari mineral ferromagnesian. Setelah mengalami pelapukan akan dibebaskan Co2+ yang terikat dan dapat dipertukarkan atau dalam bentuk lain komplek mineral organik, konsentrasinya di dalam tanah amat rendah.

Co diserap akar tanaman mengikuti aliran transpirasi yang kemudian ditranslokasikan pada daun memperkaya bagian pucuk daun dan pinggiran daun. Sebagaimana elemen mikro yang lain, Co mampu membentuk senyawa khelate. Diketahui bahwa kelebihan nutrisi Co akan menginduksi defisiensi Fe, di samping itu juga kelebihan Co dapat menyebabkan keracunan yang menyerupai defisiensi Mn. Pengaruh toksisitas Co akan menyebabkan klorosis dan nekrosis pada daun.

Co juga merupakan komponen penting vitamin B12 dan Co juga berpengaruh terhadap pembentukan bintil akar tanaman legum dan sekaligus juga terhadap penambatan N2 udara. Pada bakteri bintil akar Co juga penting dalam transformasi molekul propionate ke coenzim suksinil :

Propionat Propionil CoA Metil Malonil CoA Suksinil CoA, penting juga dalam aktifitas enzim : metil-malonil CoA mutase yang mengkatalisis perubahan metil malonil CoA Suksinil CoA. Defisiensi Co dapat menghambat pembentukan leghaemoglobin dan juga penambatan N2.

Al ( Aluminium )

Lebih dari 15 % kerak bumi tersusun atas Al2O3 sehingga Al juga merupakan komponen penting dari tanah. Solubilitas Al dalam larutan tanah rendah pada pH netral dan alkali. Al merupakan elemen toksis bagi tanaman, oleh karena itu rendahnya kelarutan Al dalam tanah berdampak menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.

Pada tanaman tinggi kandungannya sekitar 200 ppm Al bahan kering, pada tanaman teh dapat lebih tinggi mencapai 2000-5000 ppm dan ini penting untuk pertumbuhan normal teh. Pada pH asam lebih rendah dari 5,5 solubilitas Al meningkat tajam dan lebih dari separuh sisi pertukaran kation ditempati oleh Al, dalam kondisi seperti ini Al akan dapat meracuni tanaman.

Pengaruh Al terhadap tanaman yaitu terhambatnya pertumbuhan akar, pucuk akar dan akar lateral menjadi tebal dan berwarna coklat. Al juga berpengaruh terhadap penyerapan fosfat dan translokasi fosfat ke bagian atas tanaman. Keracunan Al pada pucuk menunjukkan gejala yang menyerupai defisiensi P, daun berwarna hijau gelap, tanaman kerdil, cabang/batang berwarna ungu. Di dalam sel tanaman Al bercampur dengan fosfat pada asam nukleat yang berakibat menghambat pembelahan sel.

Keracunan Al seringkali disertai dengan Fe dan Mn yang tinggi dan Ca dan Mg yang rendah, hal ini sejalan dengan kondisi asam, ketersediaan Fe dan Mn tinggi dan Ca dan Mg yang rendah karena proses pencucian. Untuk mengatasi pengaruh Al pada tanah asam ini biasanya dilakukan dengan cara pengapuran.

01/30/2009 Posted by | BTR | 7 Komentar

DIVISI PHAEOPHYTA

  1. Pendahuluan

Ganggang coklat semua multi-selular, dan terdapat dalam berbagai bentuk fisik yang berbeda termasuk crusts, filaments, besar dan panjang kelps. Seperti semua photosynthetic organisme, coklat Ganggang hijau mengandung pigmen klorofil. Mereka juga mengandung emas lainnya dan pewarna coklat, masker yang warna hijau klorofil. Pigmen yang dominan ditemukan di Ganggang coklat disebut fucoxanthin, dan mencerminkan adanya lampu kuning. Karena kombinasi pewarna, yang cokelat alga pewarnaan yang berkisar dari lampu hijau zaitun atau emas, untuk coklat sangat gelap. Ganggang coklat Sebagian besar tinggal di intertidal atau subtidal zona dangkal, dan mereka yang paling banyak di sejuk berhubung dgn lautan air dari,belahan,utara

Phaeophyta memiliki pigmen fikosantin. Menghasilkan asam alginat yang berfungsi untuk pembuatan es krim, pembuatan cat, berfungsi dalam industri untuk penyamakan kertas/menghaluskan kertas, pernis, obat-obatan, dan pasta gigi. Contohnya Fucus, Sargassum, Turbinaria, Macrocystis. Fucus habitatnya di laut sepanjang pantai melekat pada batu-batuan, di dalam tubuhnya terdapat rongga yang menghasilkan gamet disebut konseptakel dan pada bagian ujung tubuhnya terdapat alat untuk perkembangbiakan disebut reseptakel.

Manusia menggunakan coklat seaweeds dalam berbagai cara, dan Ganggang menjadi sangat penting secara komersial untuk makanan, kosmetik, dan obat-obatan dalam ilmu pengetahuan. Banyak lezat kelps dipanen dari populasi liar dan juga tumbuh di kelp peternakan komersial. Unik dua jenis yang ditemukan di Kompleks Ganggang coklat, algin dan fucans, yang digunakan dalam proses manufaktur barang konsumen. Algin ditemukan dalam sel dinding Ganggang coklat, dan itu merupakan emulsifier yang digunakan dalam produk makanan. Fucans adalah berlumpur item ditemukan pada kelps, dan memiliki potensi menggunakan obat. Ganggang coklat juga dikumpulkan, dirawat, dan dijual sebagai pupuk untuk pertanian darat.

Klasifikasi : Berdasarkan tipe pergantian keturunan, Phaophyta dibagi dalam 3 golongan yaitu :

    • Golongan Isogeneratne

Yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturunan isomori. Sporofit dan gametofit mempunyai bentuk dan ukuran yang sama secara morfologi tetapi sitologinya berbeda.

Contoh : Ectocarpus, Dictyotoa dan Cutleria

    • Golongan Heterogeneratae

Yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturunan yang heteromori, sporofit dan gametofitnya berbeda secara morfologi maupun sitologisnya.

Contoh : Laminaria, Nercosystis

    • Golongan Cyclosporate

Yaitu golongan tumbuhan yang tidak memiliki pergiliran keturunan

Contoh : Fucus

Divinisi ini hanya mempunyai sat kelas, yaitu Phaeophyceae

  1. Ciri-ciri Umum

  • Perkembangbiakan

Perkembangbiakan dilakukan secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan vegetatif dilakukan dengan perantara cabang-cabang kecil yang dibentuk di bagian basal dari thallusnya atau dapat pula dilakukan secara fragmentasi thallusnya. Perkembangan baikan seksual dilakukan secara oogamis. Ganggang ini bersifat monoesis atau diesis.

  • Pembuahan

Sebelum terjadi pembuahan, layak anthernazoid mengelilingi sel telur pada ganggang ini terbentuk 8 sel telur. Biasanya hanya satu antherozoid yang masuk ke sel telur. Dalam waktu satu jam kedua intinya melebur dan terjadinya inti diploid. Zigot segera membentuk dinding yang berlendir dan dapat melekat pada substrat. Zigt membentuk tonjolan yang akan seperti cahaya. Suhu pH dan adanya zat pengatur di dalam sel telur merupaan faktor perangsang bagi terjadinya polaritas. Karena adanya cadangan makanan yang cukup di dalam sel telur. Maka mula-mula pertumbuhan embrionya cepat, tetapi kemudian pertumbuhan menjadi lambat karena tergantung dari fotosintesis. Tubuh yang terbentuk bersifat diploid dan pembelahan reduksi terjadi pada waktu gametogenesis. Jadi daur hidupnya bersifat diplontik.

  • Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah beriklim dingin.

  • Set vegetatif mengandung khloroplast berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat.

  1. Ciri -Ciri Classis

Classis : Phaeciphyta

    • Thallus dari jenis-jenis yang tergolong dari phacophyceae selalu bersel tertentu. (multiseluluer), umumnya makroskopis dan mempunyai bentuk tertentu. Sel mengandung promakropora yang berwarna coklat kekuning-kuningan karena adanya kandungan fokosantin yang melimpah, pingmen yang terkandung dalam phaeophyta tersebut adalah klorofil A, kloropil C, beta karoti, fiolaskosantin, flasposantin, deosantin, fukosantin, heofukasantin A dan neofukasantin B. Cadangan makanan berupa laminarin, yaitu beta glukan yang mengandung manitol. Dinding sel sebagian bersar tersusun oleh tiga macam polimer yaitu : selulosa, asam alginat, fukan dan fuolin. Asam alkinan dan fukoidin mempunyai struktur kimia lebih komplek dari pada selulosa, tetapi senyawa-senyawa tersebut tidak merupakan komponen struktural. Fungsi skelatel dari gang-gang ini diperkirakan berasal dari sifat-sifat fisik pembentukan gel dan larutnya yang viskus.

    • Perkembangbiakan

Perkembangbiakan dapat di lakukan secara seksual dan aselsual

      • Perkembang biakan aseksual dilakukan oleh zoospora atu aplanospra yang tidak berdinding. Zooopora atau aplanospora yang tidak berdiding. Zoospora mempunyai dua buah flagella yang tidak sama panjang. Terletak dibagian lateral. Spora dibentuk dalam sporangium yang uniseluler, dinamakan sporangia yang unilokuer atau spora dibentuk dalam sporangium yang multi seluler yang disebut sporangum prulilokuler.

      • Perkembangbiakan seksual dilakukan secara isogamit anisogamit

    • Struktur Vegtatif.

Dalam daur hidupnya, semua pheophycene kecuali langsa fucales menunjukkan adanya pergantian keturunan antara gametofit dan sporafit yang masing-masing hidup sebagai individu yang bebas. Pergantian keturunan tersebut bersifat isomorfik atau berteromofik.

Ukuran thalusnya baik sprofit maupun gamteofitnya, bermacam-macam. Beberapa margan gametofit ataupun gamteofitnya hanya terdiri dari beberapa sel saja. Tetapi sebaliknya sporafit dari “ganggang perang raksasa” mencapai tinggi atau panjang sampai berpuluh-puluh meter. Sporofit maupun gametofit dewasa mempunyai bentuk tertentu. Mengalami diferensi : menjadi bagian yang tegak dan ala pelekat atau sporafit dan gemetofitnya tidak mempunyai bentuk terntentu. Sebagian besar dari phaeophyccae, pertumbuhannya bersifat mikhothallik. Pertumbuhan trikholthallik adalah cara pertumbuhan yang dilakukan oleh sel-sel yang ketakkanya dibagian berasal dari filamen yang terdapat pada ujung thallus sel-sel tersebut aktif membelah.

    • Distribusi

Sebagian besar phaeophyceae terdapat dilaut, hanya ada tiga jenis saja yang hidup di air tawar dan jenis-jenis ini merupakan jenis yang langka. Phaeophyceae banyak terdapat di daerah yang beriklim dingin alga ini mendominasi bagian literal daerah artik dan antantik. Kearah daerah tripik jenis makin berkurang. Walaupun demikian, maka dari bangsa diktythalles dan jenis dari sargansum dan turbinaria hanya terdapat didapat di daerah tpik dan subtropis. Sebagian besar dari Phaecphycene hidup melekat pada subtrat karang dan lainnya beberapa diantaranya hidup sebagai epifit.

Contoh Anggota Divisi Phaeophyta

Egregia menziesii

Ini adalah rumput laut coklat bernama egregia menziesii setelah botanist Archibald Menzies, yang pertama dikunjungi Northwest pada bulu-kapal perdagangan, dan rumput laut banyak spesimen yang dikumpulkan dari pantai perairan British Columbia. Berbeda dengan nama egregia menziesii adalah bulu boakelp,karenasepertinyayangberbulusyal!

Warna egregia menziesii berkisar dari zaitun hijau, coklat sampai gelap. Indah ini kelp ditemukan terpasang ke batu di intertidal rendah dan subtidal zona sedang terpapar di sepanjang pantai dari Alaska ke Meksiko. Ini adalah salah satu yang terbesar intertidal kelps, dan dapat mencapai 20 meter panjang. Ini sering tumbuh lebat di patch di zona subtidal dangkal, membentuk tajuk rimbun. Egregia attaches sendiri ke batu yang kuat dengan pegangan erat yang terdiri dari banyak haptera. Memiliki panjang Stipe yang silinder di dasar, dan cabang irregularly. Bagian atas adalah Stipe kuat dan merata seperti tali. Stipe yang dilindungi adalah padat dengan berbagai permasalahan dan kecil berbentuk bulat panjang, luas Blades, yang hingga 5 sentimeter panjang, dan 1 hingga 2 cm. Limpets sering diamati pada Stipe dari egregia. Besar lain seperti coklat kelps, egregia menziesii telah digunakan sebagai pupuk oleh petani pantai.

Gambar Egregia menziesii

Alaria

Kata Alaria berarti sayap dalam Latin, dan nama umum untuk kelompok ini adalah seaweeds bersayap kelps. Terdapat 14 jenis bersayap indah kelps ditemukan di Arctic, Atlantik Utara, dan lautan Pasifik Utara. Bersayap kelps populer adalah makanan, dan dimakan oleh orang-orang di seluruh dunia.
Alaria marginata adalah satu jenis bersayap kelp yang sering ditemui di Pacific Northwest. Hal ini dapat dilihat clinging untuk batu di perairan terbuka dan dilindungi dari Alaska ke Meksiko. Grand spesies ini dapat tumbuh hingga 3 meter panjang, dan banyak tersedia di intertidal rendah dan dangkal subtidal zona. Warna Alaria marginata berkisar dari zaitun hijau untuk mendalam coklat.
Pegangan erat dengan sungguh-sungguh dari Alaria marginata terdiri dari banyak ramping, percabangan haptera. Pendek Stipe biasanya kurang dari 30 cm panjang, dan memiliki bentuk silinder dekat dengan pegangan erat. Dimana besar vegetatif blade dimulai Stipe flattens untuk menjadi midrib. Grand vegetatif blade yang memiliki keistimewaan midrib dan dapat tumbuh hingga 2 meter dan panjang 20 cm lebar. Ciri emas midrib umumnya sekitar satu sentimeter lebar dan berjalan di sepanjang keseluruhan panjang dari vegetatif blade. Jika akhir blade mendapat haus dan diiris yang midrib Mei memperpanjang melebihi akhir blade. Pada bagian bawah megah vegetatif blade Alaria tanaman dewasa memiliki 2 baris yang lebih kecil, reproduksi, produksi spora Blades disebut sporophylls. Sporophylls yang tumbuh di sisi yang berlawanan Stipe dan 10-20 cm panjang dan 2-3 cm lebar. Ukuran dan bentuk kecil mungil sporophylls merupakan karakteristik digunakan untuk membedakan antara berbagai jenis Alaria.

Gambar Contoh: Alaria sp

Hedophyllum sessile

Hedophyllum sessile juga dikenal sebagai Stipe-kurang kelp, dan laut sebagai kubis. Rumput laut ini cerdas cokelat tumbuh di pertengahan dan zona intertidal rendah dari pantai Pasifik dari Alaska ke California. Ianya ditemui di gelombang kedua terpapar dan mengungsi situs, dan sering dianggap dicuci di pantai setelah badai kasar. Yang kuat dari pegangan erat Hedophyllum sessile sangat Branched, dan karena merupakan Stipe-kurang Blades kelp yang berasal dari pegangan erat. The Blades formulir yang rimbun kanopi yang sering mencakup banyak haptera yang menyalakan pegangan erat. Yang enak Blades adalah cahaya untuk sangat gelap di warna coklat, dan umumnya antara 30 cm dan panjang 1 meter. The Blades dari Hedophyllum sessile mengambil pada penampilan yang berbeda tergantung pada jumlah gelombang aksi dan gerakan air di lingkungan mereka. Dimana gelombang aksi paling besar yang Blades memiliki tekstur halus, dan dibagi menjadi menipis, tali berbentuk segmen 5-10 cm lebar. Bersembunyi di lingkungan yang Blades biasanya lebih besar, memiliki ruffled, berombak formulir, dan beberapa longitudinal Splits. Yang tenang, split Blades adalah pemikiran untuk menawarkan kurang tahan terhadap gerakan air, tanaman ini memungkinkan untuk tetap terlampir pada batu-batuan di lingkungan yang terkena gelombang. Hedophyllum sessile lain adalah lezat kelp yang menambahkan rasa, warna, dan tekstur untuk soups, casseroles piring dan banyak lainnya.

Lessoniopsis littoralis

Lessoniopsis littoralis adalah indah, kayu dan kelp juga dikenal sebagai tali kelp. Ini adalah rumput laut yang kuat hanya ditemukan di zona intertidal rendah di lingkungan yang terkena gelombang di sepanjang garis pantai Pasifik dari Alaska ke California. Biasanya berwarna coklat gelap, dan dapat tumbuh hingga 2 meter panjang. Lessoniopsis littoralis adalah spesies tahan lama, yang berarti bahwa tanaman hidup untuk lebih dari satu tahun, walaupun mereka mungkin kehilangan sebagian besar mereka Blades kekerasan selama musim dinginbadai. Pegangan erat dari yang Lessoniopsis littoralis adalah gemuk dan kayu, dan terlihat seperti miniatur batang pohon. Pegangan erat dan Stipe yang dapat dasar hingga 20 sentimeter tebal, dan panjang 40 cm. Stipe sistem yang juga cabang kayu dan berulang kali. Pada akhir dari setiap cabang yang panjang, merata blade dengan midrib. Ramping Blades adalah 7-12 milimeter lebar, dan hingga 1 meter panjang Midribs yang terletak di pusat dari blade dan lebar 2-3 milimeter. Sangat lama, dewasa Lessoniopsis littoralis tanaman memiliki banyak cabang, dan mungkin hingga 500 Blades. Sporophylls, yang memproduksi spora Blades, kadang-kadang ditemukan pada tanaman dewasa. Sporophylls adalah yang lebih kecil dibandingkan dengan vegetatif Blades, dan ditemukan di dasar lama vegetatif Blades.

Nereocystis leutkeana

Nereocystis leutkeana merupakan satwa dari rumput laut yang coklat pula dengan nama bullish menyabet kelp, atau cukup kelp bullish. Bull kelp ditemukan dilindungi dan terbuka di sepanjang pantai Pasifik dari Alaska ke CaliforniaTumbuh di dalam zona subtidal hingga 20 meter dari air. Nereocystis leutkeana adalah salah satu yang terbesar seaweeds coklat, dan dapat tumbuh untuk ukuran 40 meter! Rumput laut yang terdiri dari tubuh yang besar pegangan erat dengan percabangan banyak haptera, yang sangat panjang berbentuk Stipe, satu berbentuk bola-apung, dan berbagai panjang, mulus, Blades luas. Stipe yang dapat tumbuh hingga 36 meter panjang dan berakhir di permukaan air, di mana pelampung terpasang. Pelampung yang umumnya memiliki diameter 10 hingga 15 sentimeter, dan diisi dengan hingga 3 liter daya gas. Salah satu gas ditemukan di pelampung dari bullish kelp adalah karbon monoksida, racun yang jahat. Terpasang ke hanyut 2 kelompok yang padat berwarna coklat emas, tali berbentuk Blades, yang tumbuh hingga panjang 4 meter dan lebar 20 cm, dan hanyut di permukaan air. Bull kelp kelp tumbuh di hutan besar, dan subur Blades membuat permukaan canopies. Kelp hutan menyediakan tempat perlindungan yang banyak ikan dan invertebrata laut, dan merupakan hal yang penting untuk sumber makanan laut nggak>>> overlap.

Nereocystis leutkeana tahunan adalah rumput laut, yang berarti bahwa setiap penambahan hanya untuk satu musim, dan kemudian meninggal dunia luar. Tanaman mati dan menjadi copot di musim dingin, dan dicuci darat selama berkuasa badai. Musim pertumbuhan yang bullish kelp cukup singkat, umumnya hanya dari Maret sampai September, maka mereka harus tumbuh dengan cepat Untuk mencapai Stipe panjang 36 meter (maksimum) tanaman akan tumbuh 17 sentimeter sehari! Pada akhir musim panas dan awal musim gugur sering Anda dapat melihat berwarna coklat gelap patch pada Blades dari bullish kelp. Gelap daerah ini adalah spora patch, yang ditahan kelompok spora, dan dipanggil Sori. Patch yang dari bubar sisanya dari blade dan menetap ke bagian bawah. Setelah spora patch mencapai substrat yang spora yang dilepaskan dan mereka tumbuh menjadi kecil, mikroskopis laki-laki dan perempuan gametophyte (gamete produksi) tanaman, yang mereproduksi secara seksual. Laki-laki gametophyte tanaman kemudian rilis sperma, yang tertarik ke telur, yang disimpan oleh perempuan gametophyte. Setelah telur adalah pupuk yang zygote (pupuk telur) tumbuh menjadi sporophyte baru. Yang sporophyte (spora produksi tanaman) adalah rumput laut besar yang dijelaskan di atas. Bull kelp umum adalah rumput laut, dan beberapa menggunakan ini untuk melimpah kelp yang telah ditemukan oleh manusia. Seiring dengan lainnya Ganggang coklat, bullish kelp telah dikumpulkan, dirawat, dan dijual sebagai pupuk untuk pertanian darat. Nereocystis leutkeana juga yang populer dan lezat makanan untuk manusia, dan dipanen secara komersial untuk segar dan produk makanan kering.

Gambar Nereocystis leutkeana

Ordo : Ectocarpales

Ectcaruals mempunyai pergantian keturunan yang isonori, thallus berbentuk yang bercabang-cabang bebas atau saling berhubungan satu dengan lainnya hingga membentuk jaringan pseudoparenkhimatik. Alat reproduksi / perkembangbiakan letaknya bebas satu sama lain atau membentuk suatu rantai. Sporofit menghasilkan zoospora dan spora netral. Sedang gametofit gemet. Sistem klasifikasi dari bangsa ini seluruhnya didasarkan atas struktur vegetatif dan cara perkembangbiakannya

Suku Ect

Marga Ectocarpus

Thallus dari ganggang ini merupakan filamen yang uniseriate, bercabang banyak. Sel berinti tunggal dengan plastida yang berbentuk pita atau piring perkembangbiakan dilakukan oleh zooid yang berflagella 2 buah dan dibentuk di dalam alat reproduksi yang unilokuler atau plurolokuler alat reproduksi tersebut biasanya terdapat pada ujung-ujung cabang lateral.

Perkembangbiakan sporangia yang unilokuler dimulai dengan membesarnya sel terminal dari cabang yang pendek. Sporangia muda berbentuk bulat panjang atau bulat telur. Ukurannya menjadi beberapa kali sel semula. Inti tunggal yang terdapat dalam sporan da muda mengalami pembelahan meiosis yang diikuti 32 – 64 inti. Jika pembelahan inti berhenti terjadilah celah-celah yang membagi protoplast menjadi protoplast-protoplast yang berinti satu. Masing-masing protoplast tersebut mengalami metamorfose menjadi zoospora yang berbentuk seperti buah pi dan berflagella 2 buah di bagian interal, tidak sama panjang. Flagella yang pendek diarahkan ke belakang sedang yang panjang ke muka. Zoospon dikeluarkan dalam suatu massa melalui suatu lubang kecil yang kemudian dapat berenang bebas. Setelah zoospora dikeluarkan maka sporangia baru terbentuk di sebelah dalam dinding yang lama.

Gametoft hesifat homothalik atau keterothallik gamet dibentuk dalam gametangium yang plurilokuler yang perkembangannya ident dengan perkembangan sporangium yang plurilokuler. Ael-sel yang terbentuk mengalami metamorfose menjadi gamet yang berlagella 2 buah. Gamet dibebaskan melalui suatu porus di bagian terminal dari gametangium. Tipe persatuan gamet adalah isogamik atau anisogamik. Gamet betina akan lebih cepat mengalami waktu istirahat dari pada yang jantan, gamet betina kemudian dikelilingi oleh banyak sekali gamet jantan. Gamet jantan melekat pada yang perantaraan flagellatanya yang anterior, salah satu diantara gamet jantan melebur dengan gamet betina ini sedang gamet yang lain akan pergi. Setelah terjadi persatuan betina ini sedang maka menjadi sporafit yang diploid. Sporafit mengandung sporangium yang plurilokuler yang menghasilkan mospora yang diploid. Zoospora berkecambah menjadi sporofit (A) yang sifatnya diploid. Sporafit ini juga membentuk sporatangium yang unilokiler (F), inti dari sporangium tersebut mengadakan meiosis, hingga zoospora yang dihasilkan bersifat happoid (G) zoospora kemudian tumbuh jadi gametofit yang haploid (H) gametofit mengandung gametangium yang plurilokur (I) yang menghasilkan gamte (J) persatuan gamet kemudian terjadi (K) dan terbentuklah zigot (L) zigot tumbuh sporaofit yang diploid (A)

Bangas Dictyotales

Bangsa ini mempunyai satu suku dengan 21 marga serta 100 jenis sebagian besar terdapat di lautan daerah tropik. Suku Dictyotaceae

Marga Dictyota

Thailus tegak dan berbentuk pita yang bercabang-cabang melekat pada suatu substart dengan perantaraan alat pelekat yang berbentuk seperti cakram. Thallus terdiri dari 3 lapis sel. Lapisan tengah disebut medula. Tersusun dari sel-sel besar, berbentuk segi empat dan berdinding tebal. Tanpa khromatofora. Kedua lapisan superfisiannya terdiri dari sel-sel kecil, berbentuk segi empat, berdiding tipis dan mengandung banyak khromatofora. Pada lapisan ini terdapat banyak rambut-rambut steril dan tidak berwarna serta dapat mengeluarkan lendir pada permukaannya. Pertumbuhan dilakukan oleh sel apikal. Perkembangan biakan dilakukan secara aseksual dan seksual. Perkembang biakan aseksual dilakukan oleh aplanospora (spora yang tidak bergerak). Dalam satu sporangium hanya dibentuk 4 aplanospora saja yang haplaid sporangia terdapat di permukaan thallus. Perkembang biakan seksual dilakukan secara oogami gametofit bersifat heterothalik. Alat kelamin (anheridium dan oogami) terdapat didalam suatu sorus, terdapat di kedua permukaan thallusnya.

Daur hidup dari dicyota dapat dilihat pada gambar…… fertilisasi terjadi setelah sel telur dikeluarkan dari ooganium, pembuahan tidak terjadi maka sel telur dapat tumbuh secara pertenoghenesis menjadi gametofit betina. Sel telur yang telah dibuahi membentuk dinding tebal yang kemudian tumbuh jadi zigot yang diploid. Inti zigot membelah secara mitosis yang diikuto dengan pemebelahan sel hingga terbentuk individu yang terjadi 2 sel yang diploid. Salah satu sel akan membentuk rhizoid sedang satu sel lainnya akan membentuk bagian thallus yang tega individu ini adalah sporofitnya dan bersifat diploid. Sporangia terdapat pda kedua peruakaan thallusnya. Pembelajan pertama dari inti sporcangium adalah meiosis (pemebelahan reduksi), kemudian diikuti dengan pemebelahan mitosis hingga terbentuk 4 spora yang haploid dan tidak berfingella (aplanospora) aplanospora dikeluarkan melalui porus di bagian apikel sporangium. Pemisahan kelamiin sudah terjadi sejak terjadinya pemebalahan reduksi dari inti sporangium, hingga dari 4 spora yang terbentuk 2 spora akan tumbuh jadi gaemetofit dan sporofit mempunyai bentuk serta ukuran yang sama. Hingga didalam tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya dengan demikian maka pergantian keturunannya adalah isomaorf, hingga ganggang ini tergolong dalam isogeneratea.

Bangsa Cutleriales.

Suku Cutlriaceae

Suku ini hanya mempunyai 2 marga saja, yaitu zanardinia dan cutleria. Zanardinia mempunyai pergantian keturunan yang gametofit dan sporafitnya identik satu sama lain. Sedang gametofit Cutleia tidak identik dengan sporofinya, hingga pergantian keturunan dari cutleria bersifat isomartik, akan tetapi kedua marga tadi tampaknya mempunyai hubungan yang cukup erat satu sama lain. Sebab beberapa sifat tertentu dari kedua marga tadi mempunyai kesamaan, antara lain : pertumbuhan yang trikbotthallik, sporangia yang unflokuler dan sel-sel kelamin jantan dan betina ukurannya tidak sama (anisogamet). Sehubungan dengan hal-hal tersebut, maka kedua marga tersebut digolongkan dalam satu bangsa yaitu

Marga Cutleria

Cutleria mempunyai gametofit yang berbentuk pita yang bercabang menggarpu yang tidak begitu teratur atau berbentuk seperti kipass. Pertumbuhan terjadi pada tepi thallus bagian atas yang mempunyai rambut yang uniseriate. Tipe rambut mempunyai daerah pertumbuhan yang letaknya interkalar. Gametrofit bersifat heterothllik. Gametofit jantan mengandung antberidia yang menghasilkan gamet jantan berbentuk buagh pir. Berflagella 2 buah di baian lateral. Gamelafit betina mengandung gametangia betina yang mengeluarkan gamet betina yang bentuknnya mirip dengan yang jantan tetapi ukurannya lebih besar dan gerakannya lebih lambat pada masanya persatuan gamet. Gamet jantan bersatu dengan gamet betina. Zigot yang terbentuk tumbuh jadi sporofit dalam waktu satu hari. Sel kelamin betina yang tidak dibuahi akan tumbuh jadi gametofit betina. Sporofit mempunyai bentu yang berlainan sama sekali dengan gametofit. Sporoti berbentuk lembaran kecil dan melekat pada substrat dengan perantaraan rhizoid, dulu sporofit ini dikira thallus dari ganggang lain yang disebut Aglaomonia. Sampai sekarang nama tersebut masih diterankan untuk memberi nama sporofit dari Cutleria. Inti sporangia yang masih muda mula-mula membelah meiosis kemudian diikuti dengan pembelahan mitosis hingga terbentu 8-32 inti yang haploid. Protoplast kemudian terbagi-bagi hingga terjadilah protoplast-protost ini mengalami metamorfose menjadi zoospora yang berbentuk buah pir dan berflagella 2. sembilan puluh menit kemudian roospora tadi membuat dan membentuk dinding, kemudian tumbuh menjadi gametofit.

Bangsa Laminariale

Jenis-jenis yang termasuk bangsa Laminarialer mempunyai sporofit yang dapat dibagi menjadi alat plekat, tangkai dan helain atau lembaran. Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar dan biasanya terletak di antara tangkai dan lembaran. Sporofit mempunyai sporangia yang uniloluler dan terkumpul dalam suatu “sorus” pada permukaan lembaran. Beberapa marga tertentu, sporangianya terletak pada suatu lembaran khusus (sporofil). Gametofit dari laminariale berupa filamen yang mikroskopik, perkembangbiakan seksual bersifat oogamik.

Bangsa ini mempunyai marga 30 marga dengan kurang lebih 100 jenis yang kesemuanya merupakan penghuni lautan di daerah beriklim dingin.

Dari marga ke marga, gametofitnya dapat dikatakan identik satu sama lain, tetapi sporafitnya mempunyai bentuk yang beraneka ragam, difautan pasifik, sporofit dari gangguan ini terkenal dengan nama “kelp” dan yang paling menarik adalah yang disebut “giant kelp” atau gangang perang raksasa. Gangang-ganggang ini hidup di kedalam 10-30 meter. Contoh : Macrocytis pyrheral, mempunyai tangkai yang bercabang-cabang dan mempunyai panjang / tinggi 10 -50 meter. Pada tiap ujung dari tangkai tersebut selalu tumbuh helain baru : nerecoystis luetkeana mempunyai tangkai yang tidak bercabang, panjang / tinggi tangkai mencapai 20-25 meter. Gelembung ini terdapat cabang-cabang dikhotom yang padanya terdapat belaian-belaian yang panjangnya mencapai 3-4,5 meter, postelsia palmaeformis terkenal dengan sebutan palm laut dan merupakan “klep” yang paling kecil, tumbuh di daerah batas pasang surut di pantai berkarang yang diharapkan pada pukulan ombak di pasifik. Ganggang ini mempunyai tangaki kuat dan fleksibel, tinggi 50 cm pada ujungnya terdapat cabang-cabang dikhotom yang pendek dan pada ujung cabang ini terdapat helaian-helaian yang sempit

Marga Laminaria

Alat pelekat sporafit umumnya berupa cabang-cabang yang dikhotom, disebut haptera, tangkai tidak bercabang, dilindris atau agak memipih, ujung tangkai ini terdapat helainnya yang tumbuh atau terbagi ke arah vertikat menjadi beberapa segmen. Tangkai terdiri dari medula (bagian tengah). Dan koteks yang dikelilingi oleh selapi sel yang menyerupai sel epidermas. Sporofit mempunyai sporangia yang unilakuler dan terdapat pada permukaan belaian, sporangia berbentuk gada. Inti dari aporangin muda mula-mula membelah secara melosis yang kemudian diikuti dengan pembelahan mitosis terbentuk 32 – 64 inti. Protoplast terbagi menjadi banyak protoplast yang masing-masing mengandung satu inti dan mengalami metamorfose menjadi zoospora. Setelah berenang beberapa lama, zoospora kemudian membuat membentuk diding dan berkecambah menjadi gametofit yang berbentuk filamen serta terdiri dari beberapa sel saja. Pada lamimaria saccharia, penentuan jenis kelamin gametofit terjadi pada saat pembelahan reduksi, sepora dari mospora akan tumbuh menjadi gametofit betina sedang lainnya akan membentuk gametofit jantan. Gemetangis akan dibentuk setelah gametofit mencapai 2 – 3 sel. Terjadinya pembuahan tergantung langsung pada suhu. Gametofit jantan membentuk banyak sekali antheridia pada ujung cabang-cabangnya. Masing-masing antberiklium terdiri dari satu sel dan protoplastanya hanya akan membentuk satu antherozoid. Oogonium hanya membentuk satu sel telur (ovum). Sel telur menonjol keluar, tetapi tetap melekat pada lubang diujung dinding oogonium. Antherezoid berenang menuju ke sel telur yang kemudian bersatu. Zigot yang terbentuk akan tumbuh menjadi sporofit yang dipkrid. Bentu dari sporofit sangat berbeda dengan gametofitnya, jadi pergantian keturunanya bersifat heteromorfik hingga ganggang ini tergolong dalam heteregeneratese.

Bangsa Fucales

Thallus dari jenis-jenis ganggang yang termasuk bangsa ini bersifat diplaid, pembelahan reduksi (melosis) terjadi pada saat gametogeumesis. Alat kelainan terdapat di dalam konsptakel. Dalam daur hirupnya, ganggang ini tidak menujukkan adanya pergantian keturunan.

Suku Fucaceae

Marga Fucus

Fucus hidup di daerah beriklim dingin di belahan bumi utara. Fucus berwarna coklat tua, berbentuk pita yang bercabang dikhoton dengan suatu rusuk tengah, melekat pada karang dengan suatu alat pelekat. Beberapa jenis dari fucus ini, mempunyai gelembung udara di dalam tubuhnya untuk menyimpan udara hingga membantu keterapungannya, letak dari gelembung udara biasanya berpasangan kanan dan kiri. Ujung cabang-cabang menggelembung dan mengandung konseptaled, tempat konseptakel berkumpul tersebut dinamakan reseptakel, secara anotomi thallus tersusun atas meristoderm, korteks dan medula.

Familia Sargassacese

Sargassum terdapat di laut daerah tropik atau sub tropik di belahan bumi bagian selatan. Akan tetapi fragmen yang terputus terbawa arus laut. Melinouns laut atlantik ke daerah yang beriklim dingin di benua eropa. Jenis-jenis yang banyak sekai tumbuh di sepanjang pantai Australia. India, Srilangka, China, Jepang dan Indonesia. Di Jepang scogassum enerya banyak dijadikan hiasan dan bahan makanan.

Thalus dari sargassum mempunyai morfologi yang kompleks sepintas lalu memberi kesan seakan-akan tubuhnya mempunyai akar batang dan daun. Pada bagian tangkainya (bagian yang menyerupai batang terdapat bentuk banyak cabang-cabang lateral yang menyerupai daun sering disebut filoid. Didekat filoid ini terdapat gelembung udara dan juga reseptakel yang mengandung konseptakel. Daur hidup bersifat diplontik

Perkembang biakan

  1. Secara aseksual dengan fragmentasi thallusnya

  2. Secara seksual dilakukan secara oogamik. Antheridia dan oogania.

Masing-masing dibentuk dalam konseptakel.

  1. Tempat Hidup :

Kebanyakan anggota phaeophyta hidup dalam air laut, hanya beberapa jenis saja yang hidup di air tawar. Dilaut dan samudtr, didaerah ilkim sedang dan dingin.

  1. Susunan tubuh :

Bentuk benang, contoh : ectocarpus

Berbentuk multiseluler, contoh : Dictyota, necrocistis, fucus, sargasum.

Bagian-bagian dari susunan tubuh yang berbentuk multiselluler :

Keterangan :

    • Lamina (helain)

    • Stipe (tangkai)

    • Pangkal

    • Haptera (serupa akar)

  1. Susunan Sel :

Umumnya dapat ditemukan adanya dinding sel, yang tersusun dari tiga macam polimer yaitu : Selolosa, asam alginat, fukan dan fukoidin dimana algin dan fukolin lebih kompleks dari selulosa da gabungan dari eduanya membentu7k fikokolod. Dang-kadang diding selnya juga mengalami pengapuran.

  1. Isi sel

Berarti tunggal, bagian pankal berinti banyak

Kloroplas dengan berbagai macam bentuk ukuran dan jumlah

  1. Pigmen

Klorofil a dan c

karoten

Xantofil : fukoxanti yang terdiri dari violaxantin flavoxantin, neofukoxantin a dan neofukoxantin b

  1. Cadangan makanan

Berupa laminarin, sejenis karbohidtrat yang mempunyai dekatrin yang lebih dekat dengan selulosa dari pada zat tepung, selain laminarin juga ditemukan manitol, minyak dan zat-zat yang lainnya.

  1. Alat Gerak

Berupa flagel, terletak pada sel-sel perkembangbiakan dan letaknya lateral berjumlah 2 yang berterokan dan terdapat di bagian samping badannya yang berbentuk pir atau sekoci. Pada waktu bergerak ada yang panjang mempunyai rambut-rambut mengilat menghadap kemuka dan yang pendek menghadap kebelakang. Dekat dengan keluarnya flagel terdapat bintik mama yang berwarna kemerah-merahan.

  1. Perkembangbiaan

Perkembiakan terjadi secara vegetatif, dengan fragmentasi.

  1. Perkembangbiakan secara sporik

Cantoh : Ectocarpus, nercocystic

Dapat juga dengan membentuk aplanospora

Contoh : Dictota

Dilihat dari sporanlumnya, dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

      1. Unilokuler, dimiliki oleh anggpta phaeophyta yang iunilseluler

Contoh : Nercocyutic, dictyota dan ectocarpus.

      1. Plufokuler, dimiliki oleh anggota phaeophyta yang multiseluler

Contoh : ectocarpus.

  1. Pembentukan Unifokuler :

Terjadi dari sel terminal, dengan cabang pendek yang membesar sporangla muda berbentuk bulat panjang atau bulat telur. Ukurannya lebih besar dari sel semula. Inti tunggal mengalami pembelahan meiosis kemudian diikuti pembelahan mitosis sehingga dihasilkan 32 – 64 inti selanjutnya terjadilah celah-celah yang membagi protoplas yang berinti satu. Masing-masing protolas mengalami metamorfose membentuk zoospora berlagel 2

  1. Pembentukan Plurikokuler

Berasal dari sel terminal yang pendek. Ukurannya relatif besar dan terjadi pembelahan transversal secara berulang-ulang yang akhirnya dihasilkan 6 – 12 sel. Pembelahan vertikal dimulai dari dereta sel bagian tengah dan kemudian terbentuklah kubus yang letaknya teratur sebanyak 20 – 40 deretab. Protoplas pada masing-masing sel mengalami metamofosa menjadi zoospora yang memiliki 2 flagel (diploid). Diikuti dengan talus yang bersifat diploid dan terbentuklah dsporangia yang bersifat unilakuler dan atau plorilokuler.

  1. Perkembangbiakan secara gametik, gametangium dimiliki oleh aporangium yang plurilokuler. Gamet akan membentuk zoogamet dengan cara :

  • Isogami, contoh : Ectocarpus

  • Anisogami, Contoh : Cuthleria

  • Oogami, contoh : Fucus.

01/30/2009 Posted by | BTR | Tinggalkan komentar

Catharanthus roseus

Tumbuhan Spermatophyta

Catharanthus roseus

1.    Klasifikasi.
Regnum        : Plantae
Divisi        : Spermatophyta
Anak divisi    : Angiospermae
Kelas        : Dicotyledoneae
Anak kelas        : Sympetalae
Ordo        : Confortae
Famili        : Apocynaceae
Genus        : Catharanthus
Spesies        : Catharanthus roseus

II. Sinonim.
Lochnera rosea, Reich. Vinca rosea, Linn. Ammoallis rosea, Small.

III. Nama Lokal.
Perwinkle (Inggris), Chang Chun Hua (Cina); Keminting Cina, Rumput Jalang (Malaysia); Tapak Dara (Indonesia), Kembang Sari Cina (Jawa); Kembang Tembaga Beureum (Sunda);
Nama Melayu: Kemunting Cina, Rumput Jalang, Tapak Dara, Kembang Sari Cina, Ros Pantai
Nama Lain: Rose Periwinkle, Old-Maid, Madagascar Periwinkle, Periwinkle

IV. Uraian.
Tapakdara (Catharanthus roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tapakdara sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau dipedesaan beriklim tropis. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah, umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tapak dara bisa tumbuh di tempat terbuka atau terlindung pada bermacam-macam iklim, ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl.
Ciri-ciri tumbuhan ini : Terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi mencapai 120 cm, banyak bercabang. Batang bulat, bagian pangkal berkayu, berambut halus, warnanya merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai pendek, berhadapan bersilang. Helai daun elips, ujung runcng, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, kedua permukaan daun mengkilap dan berambut halus. Perbungaan majemuk, keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan 5 helai mahkota bunga berbentuk terompet, warnanya ada yang putih, merah muda atau putih dengan bercak merah di tengahnya. Buahnya buah bumbung berbulu, menggantung, berisi banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji, setek batang atau akar.

VI. Kandungan Kimia:
Herba mengandung lebih dari 70 macam alkaloid, termasuk 28 biindole alkaloid. Komponen antikanker, yaitu alkaloid seperti vincaleukoblastine (vinblastin = VLB), leurosidin dan katarantin, Alkalod yang berkhasiat hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) antara lain leurosin, katarantin, lochneri, tetrahidroalstonin, vindolin dan vindolinin. Sedangkan akar tapak dara mengandung alkaloid, saponin, flafonoid dan tanin.

VII. Efek Farmakologis.
Senyawa aktif vinblastin dan vinkristin berkhasiat antikanker pada leukemia, ehrlich ascitic liver carsinoma dan walker carcinoma. Juga menghentikan pembelahan sel (mitos) kanker pada tingkat metafase dan menghambat sintetis purin, DNA dan RNA. Vimblastin terutama untuk penyakit hodgki”s dan chorioepithelioma, juga efektif pada kanker payudara, indung telur (ovarium), testis dan nephroblastoma. Vinkristin lebih efektif pada leukemia granulostik dan limfositik akut, terutama pada leukemia limfositik dan mielositik akut pada anak-anak. Keduanya menyebabkan penekanan ringan pada sumsum tulang (penyebab turunnya jumlah sel darah putih dan trombosit).
Pemberian rebusan daun tapak dara (bunga putih) 10%, 20%, 30% dan 40% dengan dosis 5 ml/kg bb pada kelinci dapat menurunkan kadar gula darah masing-nasing sebesar 46,61%, 49,25%, 51,62% dan 58,66% dibandingkan dengan tolbutamid (Norma, Jurusan Farmasi FMIPA UNHAS, 1985)
Pemberian rebusan daun tapak dara (bunga merah) per oral pada tikus putih jantan, efek hipoglikemik didapat dari rebusan berkadar 15% pada menit ke 210, 240 dan 270. Rebusan berkadar 30%, efek hipoglikemik pada menit ke 240 dan 270. Potensi relatif rebusan daun tapak dara yang berbunga merah kurang lebih 1/2 dari potensi relatif tolbutamid terhadap air. Efek tersebut sangat lemah bila dibandingkan dengan tolbutamid (Suyanto, FK UGM 1992)
Vincristine (m.w 824.97)
Vinblastine

Bahan Lain:  Catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine, akuammine, vincamine, vinleurosin dan vinrosidin

VIII. Kesan Keracunan.
Kesan keracunan ditunjukkan dengan simptom seperti demam, loya dan muntah-muntah dalam tempoh 24 jam. Simptom-simptom lain ialah neuropathies, kehilangan refleksi tendon, halusinasi,koma, sawan dan kematian.

IX. Penyakit yang dapat Diobati.
Herba berkhasiat mengatasi:
·    Tekanan darah Tinggi (hipertensi)
·    Kencing Manis (diabetes mellitus)
·    Kencing sedikit (oliguria)
·    Hepatitis
·    Perdarahan akibat turunnya jumlah trombosit (primary thrombocytopenic purpua)
·    MAlaria
·    Sukar buang air besar (sembelit)
·    Kanker: penyakit Hodgkin”s, chorionic epithelioma, leukimia limfositik akut, leukimia monostik akut, limfosarkoma an retikum sel sarkoma.
Akar berkhasiat mengatasi:
Ø    haid yang tidak teratur

Pemanfaatan:
1. Diabetes mellitus (sakit gula/kencing manis)
a. Bahan: 10 – 16 lembar daun tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
b. Bahan: 35 – 45 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras
Cara membuat: bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai
mendidih hingga tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
c. Bahan: 3 lembar daun tapakdara, 15 kuntum bunga tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore setelah makan.
2. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
a. Bahan: 15 – 20 gram daun tapakdara kering, 10 gram bunga krisan
Cara membuat: direbus dengan 2,5 gelas air sampai mendidih dan
disaring.
Cara menggunakan: diminum tiap sore.
b. Bahan: 7 lembar daun atau bunga tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air dan dibiarkan beberapa
saat dan disaring
Cara menggunakan: diminum menjelang tidur.
3. Leukimia
Bahan: 20-25 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras.
Cara membuat: direbus dengan 1 liter air dan disaring.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
4. Asma dan bronkhitis
Bahan: 1 potong bonggol akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 5 gelas air.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
5. Demam
Bahan: 1 genggam (12 -20 gram) daun tapakdara, 3 potong batang
dan akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore ditambah gula kelapa.
6. Radang Perut dan disentri
Bahan: 15 – 30 gram daun tapakdara kering
Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore dan ditambah dengan
gula kelapa.

7. Kurang darah
Bahan: 4 putik bunga tapakdara putih.
Cara membuat: direndam dengan 1 gelas air, kemudian ditaruh di luar
rumah semalam.
Cara menggunakan: diminum pagi hari dan dilakukan secara teratur.
8. Tangan gemetar
Bahan: 4 – 7 lembar daun tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air panas dan disaring.
Cara menggunakan: diminum biasa.
9. Gondong, bengkak, bisul dan borok
Bahan: 1 genggam daun tapakdara
Cara membuat: ditumbuk halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.
10. Luka bakar
Bahan: beberapa daun tapak dara, 0,5 genggam beras.
Cara membuat: direndam dengan air, kemudian ditumbuk
bersama-sama sampai halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.
11. Luka baru
Bahan: 2 – 5 lembar daun tapakdara
Cara membuat: dikunyah sampai lembut.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka baru.

01/30/2009 Posted by | BTT | Tinggalkan komentar

PHAEOPHYTA (algae coklat)

Ganggang coklat adalah salah satu ganggang yang tersusun atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta (ganggang coklat) ini berwarna coklat karena mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Ganggang coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar diantara semua ganggang ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik. Ganggang ini juga mempunyai jaringan transportasi air dan makanan yang anolog dengan transportasi pada tumbuhan darat, kebanyakan bersifat autotrof.

Tubuhnya selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup didaerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil.

Set vegetatif mengandung khloroplast berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat.

Sel-sel ganggang hijau mempunyai khloroplas yang berwarna hijau, dan mengandung khlorofil a dan b serta karetinoid. Pada chloroplas terdapat perenoid. Hasil asimilasi berupa tepung dan lemak, terdiri dari sel-sel yang merupakan koloni berbentuk benang yang bercabang-cabang, hidupnya ada yang diair tawar, air laut dan juga pada tanah yang lembab atau yang basah

Setiap organisme tersusun dari salah satu diantara dua jenis sel yang secara struktural berbeda, sel prokariotik dan sel eukariotik. Hanya bakteri dan arkhea; alga hijau biru yang memiliki sel prokariotik. Sedangkan protista, tumbuhan, jamur dan hewan semuanya mempunyai sel eukariotik

Habitat

Alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di laut yang agak dingin dan sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit.

Pigmen

Pigmen yang terdapat pada ganggang coklat (Chrysophyta) adalah klorofil a, klorofil b, karoten dan xantofil. (Fukoxantin) yang terdiri dari violaxantin, flavoxantin, a dan neofukoxontin b, xantofil memberikan kesan warna coklat pada chrysophyta.

Berdasarkan tipe pergantian keturunan, phaeophyto di bagi dalam 3 golongan, yaitu:

a) Golongan Isogeneratae

Golongan isogeneratae yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturuan isomorf. Sporofit dan gametofit mempunyai bentuk dan ukuran yang sama secara morfologi tetapi sitologinya berbeda.

Contoh: Ectocarpus

b) Golongan Heterogenerate

Golongan heterogenerate yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturunan yang heteromorf. Sporofit dan gametofitnya berbeda secara morfologi maupun sitologinya.

Contoh: Laminaria

c) Golongan Cyelosporae

Golongan cyelosporae yaitu golongan tumbuhan yang tidak memiliki pergiliran keturunan.

Contoh: Fucus

Alga coklat (Phaeophyta) hanya mempunyai satu kelas saja yaitu klas phaeophyceae. Thallus dari jenis golongan phaeophyceae bersel banyak (multiseluler), umumnya mikroskopik dan mempunyai bentuk tertentu. Sel mengandung promakropora yang berwarna coklat kekuning-kuningan karena adanya kandungan fukoxontin yang melimpah. Cadangan makanan berupa laminarin yang beta glukan yang mengandung manitol. Dinding sel sebagian besar tersusun oleh tiga macam polimer yaitu selulosa asam alginat, fukan dan fuoidin.

Perkembangbiakan dilakukan secara aseksual dan seksual.

a) Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan oleh zoospora atau aplanospora yang tidak berdinding. Zoospora mempunyai dua, buah flagella yang tidak sama panjang, terletak dibagian lateral. Spora dibentuk dalam sporangium yang uniseluler, dinamanakan sporangia unilokuler. Atau spora yang dibentuk dalam sporangia yang multiseluler yang disebut sporangium prulilekuler.

b) Perkembanganbiakan seksual dilakukan secara isogamet, anisogamet.

Pembuahan pada alga coklat

Sebelum terjadi pembuahan, layak anthernazoid mengelilingi sel telur pada ganggang ini terbentuk 8 sel telur. Biasanya hanya satu antherozoid yang masuk ke sel telur. Dalam waktu satu jam kedua intinya melebur dan terjadinya inti diploid. Zigot segera membentuk dinding yang berlendir dan dapat melekat pada substrat. Zigt membentuk tonjolan yang akan seperti cahaya. Suhu pH dan adanya zat pengatur di dalam sel telur merupaan faktor perangsang bagi terjadinya polaritas. Karena adanya cadangan makanan yang cukup di dalam sel telur. Maka mula-mula pertumbuhan embrionya cepat, tetapi kemudian pertumbuhan menjadi lambat karena tergantung dari fotosintesis. Tubuh yang terbentuk bersifat diploid dan pembelahan reduksi terjadi pada waktu gametogenesis. Jadi daur hidupnya bersifat diplontik.

Dalam daur hidupnya semua phacophyceae keculai bangsa fucales menunjukkan adanya pergantian keturunan antara gametofit dan sporofit, yang masing-masing hidup sebagai individu yang bebas pergantian keturunan tersebut bersifat isomorfik atau heteromorfik. Sebagian besar dari phaeophyceae pertumbuhannya bersifat trikhothallik. Pertumbuhan trikhothallik adalah cara pertumbuhan yang dilakukan oleh sel-sel yang letaknya di bagian basal dari filamea yang terdapat pada ujung thallas. Sel-sel tersebut aktif membelah.

Sebagian besar phaeophyceae hidup di laut dan banyak ditemukan di daerah yang beriklim dingin. Sebagian besar hidup melekat pada substrat karang dan lainnya dan beberapa diantaranya hidup sebagai epifit.

Ordo Ectocarpales

Ectocarpales mempunyai pergantian keturunan yang isomorf yaitu tumbuhan sporofit sama dengan tumbuhan gametofit, talusnya berbentuk cabang-cabang bebas atau saling berhubungan satu sama lainnya. Hingga membentuk jaringan pseudoparenkimatik. Alat perkembangbiakan letaknya bebas satu sama lain. Sporofit menghasilkan zoospora dan spora netral. Sedang gametofit menghasilkan gamet.

Suku Ectocarpaceae

Marga Ectocarpus

Thallus dari ganggang ini merupakan filamen yang uniseriate, bercabang banyak. Sel berinti tunggal dan plastida yang membentuk pita atau piring. Perkembangbiakan dilakukan oleh zooid yang berflagella 2 buah dan di bentuk di dalam alat reproduksi yang unilokuler atau plusilokuler. Alat reproduksinya biasanya terdapat pada ujung-ujung cabang lateral.

Gametofit bersifat homothallik atau heterothallik. Gambet dibentuk dalam gametangium yang plulilokuler yang perkembangannya identik dengan perkembangan sporangium yang prusilokuler. Sel-sel yang terbentuk mengalami metamorfose menjadi gamet yang berflagella 2 buah. Tipe persatuan gamet adalah isogamik atau anisogamik.

Bangsa Dietyotales

Sebagian besar dari bangsa ini terdapat di lautan daerah tropic. Pada ganggang ini spora tidak mempunyai bulu cambuk. Sporangium beruang satu dan mengeluarkan 4 tetraspora. Pembiakan seksual dengan oogami. Anteredium yang berkotak-kotak dan oogonium tidak pada tumbuhan yang berlainan dan tersusun secara berkelompok. Tiap oogonium merupakan satu sel telur. Gamet jantan mempunyai satu bulu cambuk yang terdapat pada sisinya. Sporofit dan gametofit bergiliran dengan beraturan dan keduanya mempunyai talus berbentuk pita yang bercabang-cabang menggarpu. Misal Dictyota dichotoma yang terbesar di lautan Eropa. Skema pergiliran keturunan Dictyota dichotoma:

Marga Dictyota

Thallus tegak dan berbentuk pita yang bercabang-cabang, melekat pada suatu substrat dengan perantaraan alat pelekat yang berbentuk seperti cakram. Thallus terdiri dari 3 lapis. Lapisan tengah tersusun dari sel-sel besar, terbentuk segi empat dan berdinding tebal tanpa khromatofora. Kedua berdinding tipis dan mengandung banyak kromotofora. Pada lapisan ini terdapat banyak rambut-rambut steril dan tidak berwarna serta dapat mengeluarkan lendir pada permukaannya.

Perkembangbiakan dilakukan secara aseksual, dan seksual. Perkembangbiakan aseksual dilakukan oleh aplanospora yaitu yang tidak bergerak. Dalam satu sporangium hanya dibentuk 4 aplanospora saja. Perkembangbiakan seksual dilakukan secara oogami. Gametofit bersifat heterothallik. Alat kelamin terdapat dalam suatu sorus. Terdapat di kedua permukaan talusnya.

Bangsa Cutleriales

Suku Cutleriaceae

Suku ini hanya mempunyai 2 marga saja, yaitu zanardinia dan cutleria, zanardinia mempunyai pergantian keturunan yang gametofit dan sporofitnya identik satu sama lain, sedang gametofit cutleria tidak identik dengan sporofitnya, hingga pergantian keturunan dari cutleria bersifat iso morfik. Tetapi kedua marga tersebut mempunyai kesamaan, yaitu pertumbuhan yang tirkhothallik, sporangia yang uniloker dan sel-sel kelamin dan betina ukurannya tidak sama.

Marga Cutleria

Cutleria mempunyai gamtofit yang berbentuk pita yang bercabang, menggarpu yang tidak begitu teratur atau berbentuk seperti kipas. Pertumbuhan terjadi pada tepi talus bagian atas yang mempunyai rambut yang uniseriate. Gametofit bersifat heterothallik. Gametofit jantan mengandung anteridia yang menghasilkan gamet jantan berbentuk buah pir, berflagellata 2 buah di bagian leteral. Gametofit betina mengandung gametangia betina yang mengeluarkan gamet betina yang bentuknya mirip dengan yang jantan. Tetapi ukurannya lebih besar dan gerakannya lebih lambat.

Bangsa Laminariales

Jenis-jenis yang termasuk dalam bangsa ini mempunyai sporofit yang dapat dibagi menjadi alat pelekat, tangkai dan helaian atau lembaran. Pertumbuhan terjadi pada bagian yang meristematik yang letaknya interkalar dan biasanya terletak diantara tangkai dan lembaran. Sporofit mempunyai sporangia yang unilokuter dan terkumpul dalam suatu sorus pada permukaan lembaran. Gametofit dari laminariales berupa filamen yang mikroskopik. Perkembangbiakan seksual bersifat oogamik.

Bangsa ini mempunyai 30 marga dengan kurang lebih 100 jenis yang kesemuanya merupakan penghuni lautan beriklim dingin. Dari marga ke marga gametrofitnya dapat dikatakan identik satu sama lain, tetapi sporofitnya mempunyai bentuk yang beranekaragam. Contoh:

  • Macrocystis pyrifera, hidup di daerah kutub selatan. Talusnya dapat mencapai panjang 60 m dengan berat sampai 100 kg. alat pelekatnya seakan-akan mempunyai kuku untuk berpegangan erat-erat. Sumbu talus bebas, mempunyai cabang-cabang talus berbentuk lembaran yang bergantungan, kadang-kadang sampai 3 m panjangnya hingga dengan itu talus dapat terapung pada permukaan laut.
  • Lessonia,sp mempunyai talus yang bentuknya seperti pohon palma.
  • Laminaria cloustoni, banyak terdapat di laut utara, panjangnya sampai 5 m. pangkal talus setebal lengan dan umurnya tahunan, bagian atas menyerupai daun atau mempunyai lembaran-lembaran menjari yang setiap tahun diperbaharui. Menjelang berakhirnya musim dingin terjadi pertumbuhan di bagian tengah dari pangkal lembaran-lembaran tadi dan terbentuklah lembaran-lembaran baru.

Warga Laminaria

Alat pelekat sporofit umumnya berupa cabang-cabang yang dikhotom disebut haptera. Tangkai tidak bercabang silindris atau agak memipih, diujung tangkai ini terdapat helaian yang utuh atau terbagi kearah vertikal menjadi beberapa segmen. Tangkai terdiri dari medula dan korteks yang dikelilingi oleh selapis sel yang menyerupai sel epidermis. Sporofit mempunyai sporongia yang unilokuler dan terdapat pada perunukan helaian. Sporangia berbentuk ganda.

Pada laminaria saccharina, penentuan jenis kelamin gametofit terjadi pada saat pembelahan reduksi, setengah dari zoospora akan tumbuh menjadi gametofit betina sedang lainnya akan membentuk gametofit jantan. Gametongia akan dibentuk setelah gametofit mencapai 2-3 sel. Terjadi pembuahan tergantung langsung pada suhu.

Bangsa Fucales

Ganggang ini merupakan penyusun utama vegetasi lautan di daerah dingin. Pembiakan generatif dengan oogami, pembiakan vegetatif tidak ada.Thallus dari ganggang ini bersifat diploid, pembelahan reduksi (meiosis) terjadi pada saat gametogenesis alat kelamin terdapat di dalam konseptakel. Dalam daur hidupnya, ganggang ini tidak menunjukkan adanya pergiliran keturunan.

Suku Fucaceae

Ganggang ini banyak ditemukan hidup di air laut maupun air tawar. Focus yang sudah berumur beberapa tahun mempunyai talus berbentuk pita yang di tengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah. Bentuknya kaku dank eras seperti kulit.

Marga Fucus

Fucus hidup di daerah beriklim dingin di belahan bumi utara. Fucus berwarna coklat tua. Berbentuk pita yang bercabangdi khotom dengan suatu rusuk tengah, melekat pada karang dengan suatu alat pelekat. Beberapa jenis dari fucus ini mempunyai gelembung udara di dalam tubuhnya untuk menyimpan udara hingga membantu keterapungannya letak dari gelembung udara biasanya berpasangan kanan dan kiri. Ujung cabang-cabang menggelembung dan mengandungkoseptakel, tempat konseptakel berkumpul tersebut dinamakan reseptakel, secara anatomi, talus tersusun atas meristaderm, korteks dan medula. Di dalamnya terdapat oogonium, anteredium, dan benang-benang mandul (parafisis). Anteredium berupa sel-sel berbentuk jorong, duduk rapat satu sama lain pada benang-benang pendek yang bercabang-cabang. Tiap anteredium menghasilkan 64 spermatozoid. Suatu spermatozoid terutama terdiri dari bahan inti, suatu bintik mata dan 2 bulu cambuk pada sisinya. Bulu cambuk yang pendek menghadap ke muka dan mempunyai rambut-rambut mengkilat. Oogonium berupa suatu badan yang duduk diatas tangkai, terdiri dari 1 sel saja dan mengandung 8 sel telur. Zigot lalu membentuk dinding selulose dan pectin, melekat pada suatu substrat dan tumbuh menjadi individu yang diploid.

Familia Sargassaceae

Sargassum terdapat di laut daerah tropik atau subtropik di belahan bumi bagian selatan. Akan tetapi fragmen yang terputus terbawa arus melintas laut atlantik ke daerah yang beriklim dingin di benua Eropa. Jenis-jenis yang banyak sekali tumbuh di sepanjang pantai Australia, India, Srilangka, Jepang, China dan Indonesia. Di Jepang Sargassum enerya banyak dijadikan hiasan dan bahan makanan.

Talus dari sargassum mempunyai morfologi yang kompleks, sepintas lalu memberi kesan seakan-akan tubuhnya mempunyai akar, batang, dan daun pada bagian tangkainya terdapat banyak cabang-cabang lateral yang menyerupai daun sering disebut filoid. Di dekat filoid ini terdapat gelembung udara dan juga reseptakel yang mengandung konseptakel. Daur hidup bersifat diplontik.

Susunan sel

Pada phaeophyta umumnya dapat ditemukan adanya dinding sel yang tersusun dari tiga macam polimer yaitu selulosa, asam alginat, fukan dan fukoidin. Algin dari fukoidin lebih kompleks dari selulose dan fukoidin lebih kompleks dari selulose dan gabungan dan keduanya membentuk fukokoloid. Dinding selnya juga tersusun atas lapisan luar dan lapisan dalam, lapisan luar yaitu selulosa dan lapisan dalam yaitu gumi. Tapi kadang-kadang dinding selnya juga mengalami pengapuran. Inti selnya berinti tunggal yang mana pana pada pangkal berinti banyak.

Dinding sel menyebabkan sel tidak dapat bergerak dan berkembang bebas, layaknya sel hewan. Namun demikian, hal ini berakibat positif karena dinding-dinding sel dapat memberikan dukungan, perlindungan dan penyaring (filter) bagi struktur dan fungsi sel sendiri. Dinding sel mencegah kelebihan air yang masuk ke dalam sel.Dinding sel terbuat dari berbagai macam komponen, tergantung golongan organisme. Pada tumbuhan, dinding-dinding sel sebagian besar terbentuk oleh polimer karbohidrat (pektin, selulosa, hemiselulosa, dan lignin sebagai penyusun penting). Pada bakteri, peptidoglikan (suatu glikoprotein) menyusun dinding sel. Fungi memiliki dinding sel yang terbentuk dari kitin. Sementara itu, dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan sakarida sederhana (gula).

Cadangan Makanan

Cadangan makanan pada Phaeophyta berupa laminarin, yaitu sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin yang lebih dekat dengan selulose dari pada zat tepung.selain laminarin juga ditemukan manitol minyak dan zat-zat lainnya.

Alat Gerak

Alat gerak pada Phacophyta benepa jlagel yang terletak pada sel-sel perkembangbiakan dan letaknya lateral. Berjumlah dua yang heterokon dan terdapat di bagian samping badannya yang berbentuk pir atau sekoci. Pada waktu bergerak ada yang panjang mempunyai rambut-rambut mengkilat menghadap kemuka dan yang pendek menghadap ke belakang. Dekat dengan keluarga flogel terhadap bintik mata yang berwarna kemerah-merahan.

Perkembangbiakan

Perkembangbiakan pada Phaeophyta dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

  • Perkembangbiakan secara vegetatif dengan fragmentasi
  • Perkembangbiakan secara sporik dengan membentuk spora

Dilihat dari sporangiumnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a) Pembentukan Unilokuler, dimiliki oleh anggota Phaeophyta yang uniseluler

Terjadi dari sel terminal dengan cabang pendek yang membesar. Sporangia muda berbentuk bulat panjang atau bulat telur. Ukurannya lebih kecil dari sel semula. Inti tunggal mengalami pembelahan meioses kemudian diikuti pembelahan mitosis sehingga dihasilkan 32-64 inti. Selanjutnya terjadilah celah-celah yang membagi proteplas yang berinti satu. Masing-masing protoplas mengalami metamorfose membentuk zoospora perflagel dua yang terletak di bagian lateral dengan panjang flagel yang tidak sama. Flagel yang pendek diarahkan ke belakang, flagel yang panjang diarahkan kedepan.

b) Pembentukan plurilokuler dimiliki oleh anggota phaeophyta yang multiseluler

Berasal dari sel terminal yang pendek. Ukurannya relatif besar dan terjadi pembelahan tranversal secara berulang-ulang yang akhirnya dihasilkan 6-12 sel.pembelahan vertikal dimulai dari deretan sel bagian tengah dan kemudian terbentuklah kubus yang letaknya teratur sebanyak 20-40 deretan. Protoplas pada masing-masing sel mengalami sultamorfosa menjadi zoospora yang memiliki 2 stagel. Diikuti dengan talus yang bersifat diploid dan terbentuklah sporangia yang bersifat unilokuler dan atau plorilokuler.

  • Perkembangbiakan secara gametik, gametangium dimiliki oleh sporangium yang plurilokuler. Gamet akan membentuk zoogamet dengan cara:
    1. Isogami yaitu gamet yang bentuk dan ukurannya sama (belum dapat dibedakan mana jantan dan mana betina). Contoh: ulva
    2. Anisogami: gamet yang bentuk dan ukurannya tidak sama (gamet betina memiliki ukuran besar dan gamet jantan memiliki ukuran kecil). Contoh: codium
    3. Oogami: jenis anisogami dengan gamet jantan yang aktif. Contoh: volvox

Contoh-Contoh Phaephyta

  • Sargassum binderi (Sonder)

Nama latin : Sargassum binderi

Spesifikasi : Batang gepeng (1,5 mm), halus licin, tinggi mencapai sekitar 60 cm, percabangan “alternate” teratur, oppsite (kiri-kana). Cabang utama yang pendek (1-2 cm) diatas holdfast. Daun lonjong, pinggir bergerigi, panjang 5 cm, lebar 1 cm ujung runcing.

Sebaran : Tubuh pada substrat batu umumnya di daerah rataan terumbu dekat bagian ujung luar yang terkena gerakan air relatif lebih kuat dan konstan.

Potensi : Belum banyak dimanfaatkan, kandungan kimia sama dengan jenis sargassum lainnya.

  • Sargassum Polycystum

Nama latin : Sargassum Polycystum C.A Argadh

Spesifikasi : Ciri-ciri umum. Thallia silidris berduri-duri kecil merapat hodfast membentuk cakram kecil dengan diatasnya secara karaktersitik terdapat perakaran/stolon yang rimbun berekspansi ke segala arah. Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun.

Sebaran : Algae yang kosmopolitan di daerah tropis hingga subtropis. Bukan merupakan algae endemic perairan Indonesia tetapi banyak ditemukan di perairan nusantara terutama di Kalimatan.

Potensi : Bisa dimanfaatkan sebagai bahan esktraksi alginat. Manfaat lainnya belum diketahui. Tidak dibudidayakan.

  • Turbin Conoides (J. Agardh)

Nama Latin : Turbinaria Conoides (J. Argadh) Kuetzing

Nama Daerah : Rumput Coklat Corong

bSpesifikasi : Batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan, Holdfast berupa cakram kecil dengan terdapat perakaran yang berkspansi radial. Percabangan berputar sekeliling batang utama. Daun merupakan kesatuan yang terdiri dari tangkai dan lembaran.

Sebaran : Umumnya terdapat di daerah rataan terumbu, menempel pada batu. Tersebar luas di perairan Indonesia.

Potensi : Algae ini mengandung alginat dan iodin. Potensi eksport ke Jepang.

Peranan Ganggang Coklat (Phaeophyta)

Adapun peranan ganggang coklat dalam kehidupan yaitu:

  • Ganggang coklat dapat dimanfaatkan dalam industri makanan
  • Phaeophyta sebagai sumber alginat banyak dimanfaatkan dalam dunia industri tekstil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai bahan pembuat bahan biomaterial untuk teknik pengobatan.
  • Dapat digunakan sebagai pupuk organik karena mengandung bahan-bahan mineral seprti potasium dan hormon seperti auxin dan sylokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman untuk tumbuh, berbunga dan berbuah.
  • Macrocytis Pyrifers menghasilkan iodine (unsur yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit gondok).
  • Laminaria, Fucus, Ascophylum dapat menghasilkan asam alginat. Alginat biasanya digunakan sebagai pengental pada produk makanan (sirup, salad, keju, eskrim) serta pengentalan dalam industri (lem, tekstil, kertas, tablet antibiotik, pasta gigi) dan pengentalan produk kecantikan (lotion, krim wajah).
  • Macrocytis juga dibuat sebagai makanan suplemen untuk hewan ternak karena kaya komponen Na, P, N, Ca.

01/30/2009 Posted by | BTR | 56 Komentar

Deskripsi Dan Analisis Vegetasi Floristika Dan Non Floristika

Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya. Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman yang telah lalu.
Indonesia membentang sepanjang lebih dari 5000 km dari barat sampai ke timur dan luasan lahannya mencakup anekaragam Vegetasi lahan kering dan rawa. Penelaahan biologi, termasuk penelitian Vegetasi di Indonesia belum terlalu banyak, baru kulitnya saja, meskipun telah dimulai sejak permulaan abad ke-18. Uraian sejarah penelitian yang dilaksanakan sebelum tahun 1945 disarikan dalam buku Science and Scientists in Netherlands Indies (Honig and Verdoorn, 1945) dan kemudian Chronica Naturae, volume 106 (6) pada 1950. Penelitian Vegetasi dan ekologi, termasuk ekologi tumbuhan, terutama menyangkut eksplorasi flora dan fauna serta inventarisasi, pertelaan berdasarkan pengamatan visual, peri kehidupan, dan sampai tingkat tertentu faktor ekologi. Banyak hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, antara lain Tropische Natuur, Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, Treubia, Bulletin du Jardin Botanique de Buitenzorg, dan Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg
Di Indonesia Perkembangan penelitian Vegetasi sampai tahun 1980 telah dilaporkan oleh Kartawinata (1990), yang mengevaluasi pustaka yang ada mengenai Vegetasi dan ekologi tumbuhan di Indonesia, menunjukkan bahwa bidang ini belum banyak diteliti. Banyak dari informasi tentang ekologi tumbuhan dalam berbagai pustaka seperti serie buku Ekologi Indonesia (misalnya MacKinnon dkk., 1996 dan Whitten dkk.,1984) berdasarkan berbagai penelitian di Malaysia. Berbagai penelitian sebagian besar terfokus pada ekosistem hutan, terutama hutan pamah dipterokarp (lowland dipterocarp). Sebagian besar informasi untuk kawasan fitogeografi Malesia (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste) telah disintesis oleh Whitmore (1984) dalam bukunya Tropical Rain Forests of the Far East. Data vegetasi biogeografi dan ekologi tentang Papua New Guinea (misalnya Paijmans, 1976; Gressitt, 1982; Johns, 1985, 1987a,b; Brouns, 1987; Grubb dan Stevens 1985) dapat diterapkan untuk Papua
Analisis vegetasi
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Webb, 1954).
Pakar ekologi dalam pengetahuan yang memadai tentang sistematik tumbuhan berkecenderungan untuk melakukan pendekatan sacara florestika dalam mengungkapkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan pembntuk vegetasi tersebut.
Pendekatan kajianpun sangat tergantung kepada permasalahan apakah bersifat autekologi atau sinetologi, dan juga apakah menyangkut masalah produktivitas atau hubungan sebab akibat.
Pakar autelogi biasanya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu species tumbuhan, sedangkan pakar senitologi berkepentingan dengan komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi. Pakar rkologi produktivitas memerlukan data tentang berat kering dan kandungan kalori yang dalam melakukannya sangat menyita waktu dan juga bersifat destruktif.
Deskripsi vegetasi juga memerlukan bagian yang integral dengan kegiatan survey smber daya alam, misalnya sehubungan dengan investarisasi kayu untuk balok dihutan,dan menelaah kapasitas tamping suatu lahan untuk sutu tujuan ternak atau penggembalaan.pakar, tanah, dan sedikit banyak pakar geologi dan pakar iklim tertarik dengan vegetasi sebagai ekspresi dari factor – factor yang mereka pelajari.
Kehutanan memerlukan penelaahan tentang komposisi spesies tumbuhan sebagai penunjuk (indicator) potensi dari tapak sebagai bahan bantu dalam menentukan jenis kayu yang ditanam.
Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tubuh – tumbuhan yang hidup bersama dialam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan fungsi sifat – sifatnya yang mengkarekterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fisiognomi.
Metode dengan pendekatan secara fisignomi tidak memerlukan identifikasi dari species dan sering lebih berarti hasilnya untuk gambaran vegetasi dengan skala kecil (area yang luas),atau untuk gambaran habitat bagi disiplin ilmu lainnya.misalnya pakar hewan menghendaki deskripsi vegetasi yang dapat dipakai untuk menggambarkan relung atau nisia,habitat dan sumber pakan untuk hewan.
Metode berdasarkan komposisi atau floristika species lebih bermanfaat untuk menggambarkan vegetasi engan skala besar ( area yang sempit )yang lebih detail,yang biasannya dipergunakan oleh pakar dieropa daratan dalam klasifikasi vegtasi dan pemetaan pada skala yang besar dan sangat rinci.
Beberapa metode analisis vegetasi
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Selain menggunakan kedua metode di atas namun, secara garis besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat dikelompokkan dalam dua perbedaan yang prinsip, yaitu:
a.    Metode diskripsi dan
b.    Metode non diskripsi
Metode destruktif
Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang dipakai bisa diproduktivitas primer, maupun biomasa. Dengan demikian dalam pendekatan selalu harus dilakukan penuain atau berarti melakukan perusakan terhadap vegetasi tersebut.
Metode ini umumnya dilakukan untu bentuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya.
Metode ini sangant membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput denan usaha pencairan lahan penggembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.
Metode non-destruktif
Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu berdasarkan penelaahan                                                                           organism hidup/tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya,sehingga dikenal dengan pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan organisma tumbuhan secara taksonomi atau pendekatan floristika.
Metode non-destruktif,non-floristika
Metode non-floristiaka tealah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
Bentuk HidupMetode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya (Syafei,1990).

Metode telah banyak dikembangkan oleh berbagai pakar ilmu vegetsi, seperti Du Rietz (1931) ; Raunkiaer (1934) dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresikan juga dengan cara lain oleh Eiten (1968) dan UNESCO (1973).
Untuk memahami metode non floristika sebaiknya kita kaj dasar-dasar pemikiran dari beberapa pakar tadi. Pada prinsipnya mereka berusaha mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama aekali diabaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu.

Sistem Klasifikasi dan Bentuk hidup
Klasifikasi sistematis pada masyarakat tumbuhan menerima suatu daya dorong khusus melalui BRAUN-BLANQUET, yang mengkombinasikan banyak inisiasi dari para pendahulunya kedalam suatu rencana yang meyakinkan. Sistem phytosociology-nya (1928,1932) diterima sangat baik di seluruh dunia, dan telah mempengaruhi pengembangan Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan Eropa dalam beberapa dekade. Hirarki unit sistemat isnya sengaja dipolakan setelah pengetahuan vegetasi akan menemukan suatu akhir dalam penetapan, penamaan, dan penerapan seperti classcategories terpadu. Kecenderungan ini tidak sesuai dengan niat asli BRAUN-BLANQUET. Di dalam cetakan pertama buku terkenalnya, ia mengabdikan lebih dari separuh ruang untuk ekologi didalam pengert ian yang sesuai, yaitu untuk hubungan fungsional dan hubungan sebab akibat. Hubungan masyarakat tumbuhan pada habitatnya menjadi penekanan oleh banyak pengarang. seperti UNGER (1836), SENDTNER (1854) DRUDE (1896), WARMING (1909), SCHIMPER (1898), SCHROTER (1904), dan banyak orang yang lain. Beberapa dari mereka, khususnya WARMING dan DRUDE (1913), membuat hubungan lingkungan, dasar studi vegetasi-nya. Mereka juga mengembangankan sistem klasif ikasi tumbuhan menurut lingkungannya. Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan menjadi suatu cabang ekologi yang penting di sekitar peralihan abad itu. Pemahaman ini menjadikan definisi ekologi dikenal dan ditafsirkan dalam semua negara-negara yang berbahasa Inggris. Saat ini, kecenderungan nampak mempengaruhi arah dari studi-studi hubungan lingkungan. Penggunaan dari kriteria lingkungan untuk mencirikan masyarakat tumbuhan menjadi lebih umum, dan usaha hingga mencapai suatu sintesis tentang floristic dan perlakuan ekologi vegetasi (KRAJINA 1969, DAUBENNIIRE 1968). Penekanan tertentu diberikan untuk menjelaskan penelitian ekologi pada komunitas tunggal.(ODUM 1959, OVINGTON 1962). Bersamaan dengan ini terjadi suatu perubahan pent ing dalam metodametoda sepanjang dekade terakhir. Pengarang yang lebih awal bekerja sebagian besar secara deduktif dan menggambarkan ekologis mereka dan bahkan kesimpulan fisiologis dari perbandingan pengamatan di lapangan, tanpa mencoba untuk mendukungnya dengan eksperimen. Berlainan dengan penyelidik modern yang bekerja secara induktif dan menggunakan eksperimen untuk meningkatkan ketelit ian dari kesimpulan mereka.
Analisis kuantitatif komunitas
Konsep komnitas termasuk konsep tertua dalam ekologi.pada tahun 1844 Edward Forbes, dosen botani pada kings college, London, mempelajari distribusi binatang laut di laut Aegean. Dia menyimpulkan adanya delapan daerah kedalaman yang dibdakan satu sama lain oleh kelompok spesies yang ada di dalamnya( kormondy, 1965) kemudian karl mobius (1877),ahli tidak hanya didiami oleh tiram sendiri, tetapi didiami binatang – binatang lain. Setiap tempat tinggal merupakan suatu kehidupan dimana sejumlah spesies dan individu – individu satu sama lain dibatasi, dan selanjtnya terjadi seleksi dan pemilikan teitori tertentu.ruang dan makanan merupakan kebutuhan pertma setiap komunitas social. Berdasarkan alas an ini, Eugene warming (1909), ahli botani Denmark, menyimpulkan spesies tertentu bahwa membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk komonitas, yang memperlihatkan kombinasi bentuk pertumbuhan.

Diskontinyuitas relative

Komunias komunitas tanaman digunakan sebagai model organisassi komunitas. Banyak ekolog membuktikan bahwa pada bbeberapa keadaan, vegetasi membuntuk continuum, pada keadaan yang lain vegetasi membentuk komunitas yang berbeda dan sebagian besar vegetasi berada dimana mana diantara kondisi tersebut. Yang peril di peranyakan adalah: factor factor  apa yang menentukan kontyutas vegetasi (beals, 1969). Beals mengjukan hipotesa bahwa kontinyutas komunitas merupakan fungsi kontinyutas lingkungan. Jika gradient tajam atau curam, komposisi komunitas bisa berubah secara perahan, komposisi komunitas juga akan berubah secara perlahan.
Banyak ekolog eropa menggunakan metiode semi komunikatf untuk mengklsifikasikan komunitas. Metode ini diberi nama sesuai denga penemunya yaitu braun-blantquet (1951).daftar spesies dari sejumlah tegakan kemudian digunakan untuk menetukan ketetapan yaitu proporsi spesies yang ada ddiseluruh tegakan. Satua dari klasifikasi adalah pencampuran, sutu abstaksi yang terdaftar dari spesies yang beraal dari banyak tempat. Spesies dengan constancy intermediate (sedang) digunakan untuk menentukan percampuran, karena baik spesies tersebut ada disetiap tempat maupun hanya ada pada sedikit tempat, tidak berguna untuk pemisahan tipe tipe komunitas (muller-dombis dan ellenberg,1974). Kebenaran spesies ( a spesies fidelity) penting sekali dalam menentukan percampuran. Spesies yang bisa dipercaya (faithful spesies), terbatas pada tipe komunitas tertentu dan digunakan untuk mendiaknosa komunitas.
Selain itu untuk menentukan apakah suatu spesies cenderung berada bersama beberapa spesies dan tidak ada dengan kehadiran spesies lainya, maka Agmew (1961) mencatat kehadiran spesies di 99 paya (marsh) di North Wales. Tanaman utama dalam paya yang dijadikan sampel adalah gelaga (rush), Juncus efufus. Keberadaan spesies yang kurang dari 5 kali, dihilangkan sehingga tingal 53 spesies yang dihitung nilai X2 nya. Di dalam paya-paya, beberapa spesies yang bercampur secara positif dan negativ. Pencampuran positif dihasilkan jika spesies terjadi dalam komunitas secara bersamaan dan tidak terjadi tanpa kehadiran spesies lainnya. Pencampuran negatif dihasilkan jika spesies tidak terjadi bersamaan. Dia tidak menggunakan spesies yang hanya memiliki satu kali pencampuran dari 20 kali pencampuran.
Analisa ini menggunakan bahwa kelompok spesies bercampur dengan spesies lainyya. Dan menunjukan adanya sekelompok spesies tertentu yang cenderung berada bersama-sama di payau tersebut dan tipe komunitas tersebut dapat dikenali dengan metode yang obyektif. Akan tetapi, tidak satupun dari kelompok tersebut terisolasi secara sempurna terhadap kelompok lain, bermacam – macam spesies berhubungan di antara kelompok tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.
.

01/30/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 10 Komentar

Analisis Artikel Tumbuhan Lumut

Hamparan LumutPendahuluan

Lumut merupakan tumbuhan kecil, lembut. Mereka tidak mempunyai bunga atau biji, dan daun-daun yang sederhananya menutupi batang liat yang tipis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.Klasifikasi tradisional menggabungkan pula lumut hati ke dalam Bryophyta.

Karakteristik Bryophyta

·        Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof

·        Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut.

·        Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).

·        Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu:a.       Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoidb.      Alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum

·        Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).

·        Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur.

·        Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian :-       Vaginula (kaki) -       Seta (tangkai) -       Apofisis (ujung seta yang melebar) -       Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.

Ciri-ciri umum Tumbuhan Lumut

§             Tumbuhan kecil, mempunyai talus (akar, batang dan daun sukar dibezakan)

§             Kitar hidup selangan Genussi

§             Genussi dominan adalah gametofit

§             Sporofit kekal melekat pada gametofit

§             Tinggi kurang daripada 15 cm

§             Gametofit Bryophyta mempunyai bentuk badan seperti daun

§             Ada yang mempunyai jasad taloid seperti piring yang pipih secara dorsiventral

§             Ada yang mempunyai paksi utama seperti batang yang mengeluarkan apendaj berupa daun

§             Daun tiada kutikel berlilin dan batang tiada berkas vaskular

§             Tumbuhan gametofit mempunyai struktur berfilamen seperti akar yang disebut rizoid

§             Rizoid melekatkan tumbuhan kepada batuan atau substrat yang lain

§             Rizoid bukan akar sebenar, ia selebar satu sel dan tiada jidal akar

Ciri-ciri dan Struktur Pembiakan

§             Gametofit matang keluarkan organ pembiakan khas yang disebut gametangium

§             Gametangium terdiri daripada organ seks jantan (anteridium) dan organ seks betina (arkegonium)

§ Anteridium menghasilkan sperma biflagelum yang motil

§ Arkegonium menghasilkan telur

§             Sperma bersenyawa dengan telur dan menghasilkan zigot (sporofit diploid), proses persenyawaan bergantung kepada air

§             Zigot menghasilkan kaki dan struktur penghasil spora yang disebut kapsul

§             Zigot yang masih melekat pada tumbuhan induk berkembang menjadi embrio multisel

§             Kapsul lazimnya terletak pada struktur seperti tangkai yang disebut seta

§             Kapsul terdiri daripada selapisan sel mandul yang mengelilingi tisu yang mengandungi sel induk spora

§             Sel induk spora membahagi secara meiosis dan menghasilkan spora haploid

§          Spora haploid disebarkan oleh angin apabila matang

§             Spora yang mendarat di atas tanah lembab akan bercambah dan keluarkan satu struktur yang disebut protonema

§             Protonema tumbuh menjadi tumbuhan gametofit haploid yang berdaun.

Habitat Lumut

Lumut ditemukan terutama di area sedikit cahaya / ringan dan lembab. Lumut umum di area berpohon-pohon dan di tepi arus. Lumut juga ditemukan di batu, jalan di kota besar. Beberapa bentuk mempunyai menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi ditemukannya. Beberapa jenis dengan air, seperti Fontinalisantipyretica, dan Sphagnum tinggal / menghuni rawa.

Siklus Hidup

Kebanyakan dari tanaman memiliki dua bagian kromosom di sel-selnya (diploid, beberapa kromosom hidup dengan sebuah pasangan yang mengandung informasi genetik yang sama). Sedang lumut (dan Bryophyta lain) hanya memiliki satu set kromosom (haploid, beebrapa kromosom hidup dalam sebuah salinan sel yang unik). Periode siklus hidup lumut secara lengkap, merusak kromosom, tetapi hal ini hanya pada sporofi.

Perkembangan Lumut

Perkembangan lumut secara singkat berlangsung sebagai berikut : spora yang kecil dan haploid, berkecambah menjadi suatu protalium yang pada lumut dinamakan protonema. Protonema pada lumut ada yang menjadi besar, adapula yang tetap kecil. Pada protoneme ini terdapat kuncup-kuncup yang tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan lumutnya..

Manfaat Bryophyta

Ada suatu market substansiil yang mengumpulkan lumut dari yang liar. Penggunaan lumut tetap utuh terutama di florist trade dan untuk dekorasi rumah. Lumut jenis Sphagnum juga komponen utama bahan bakar, yang mana ditambang untuk penggunaan sebagai bahan bakar, sebagai aditip lahan perkebunan, dan jelai bertunas dikeringkan pada pemroduksian Scotch Whisky.Sphagnum, biasanya jenis cristatum dan subnitens, dipanen selagi masih bertumbuh dan dikeringkan digunakan di kamar anak anak dan hortikultura sebagai medium pertumbuhan.

IKLAN 

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RRP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 atau Email di zaifbio@gmail.com

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 atau Email di zaifbio@gmail.com

TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES

PAK ZAIF

01/30/2009 Posted by | BTR | 73 Komentar

TINGKAT TAKSONOMI

Disebut juga tingkat pengelompokkan.Tingkatan ini disusun oleh kelompok (takson) yang paling umum sampai kepada kelompok yang paling khusus, dengan urutan tingkatan sebagai berikut:

1. Regnum/Kingdom (Dunia/Kerajaan)
2. Divisio/Phyllum (Tumbuhan/Hewan)
3. Classis (Kelas)
4. Ordo (Bangsa)
5. Familia (Suku)
6. Genus (Marga)
7. Species (Jenis)

CARA PEMBERIAN NAMA KELAS, BANGSA DAN FAMILI

  1. Nama kelas adalah nama genus + nae. contoh: Equisetum + nae, menjadi kelas Equisetinae.
  2. Nama ordo adalah nama genus + ales. contoh: zingiber + ales, menjadi ordo Zingiberales.
  3. Nama famili adalah nama genus + aceae. contoh: Canna + aceae, menjadi famili Cannacea

Pengelompokkan Mahluk Hidup

Whitaker (1969) mengelompokkan mahluk hidup ke dalam lima kerajaan/regnum:

1. Regnum Monera
Monera merupakan golongan organisme yang bersifat prokariotik (inti selnya tidak memiliki selaput inti). Regnum ini dibagi menjadi dua golongan yaitu :

1.1. Golongan bakteri (Schizophyta/Schizomycetes)
1.2. Golongan ganggang biru (Cyanophyta)

2. Regnum Protista
Protista merupakan organisme yang bersifat eukariotik (inti selnya sudah memiliki selaput inti). Pembentukan regnum ini diusulkan oleh Ernst Haeckel atas pertimbangan adanya organise-organisme yagn memiliki ciri tumbuhan (berklorofil) sekaligus memiliki ciri hewan (dapat bergerak). Yang termasuk dalam regnum ini adalah :

2.1. Protozoa
2.2. Ganggang bersel satu

3. Regnum Fungi (Jamur)
Fungi merupakan organisme uniseluler (bersel satu) dan multiseluler (bersel banyak) yang tidak berklorofil, fungi multiseluler dapat membentuk benang-benang yang disebut hifa. Seluruh anggota dari regnum ini bersifat heterotrof. Regnum ini dibagi menjadi beberapa divisi yaitu:

1.1. Oomycotina
1.2. Zygomycotina
1.3. Ascomycotina
1.4. Basidiomycotina
1.5. Deuteromycotina

4. Regnum Plantae (Tumbuhan Hijau)
Meliputi organisme bersel banyak (multiseluler) dan sel-selnya mempunyai dinding sel. Hampir seluruh anggota berklorofil sehinga sifatnya autotrof. Yang termasuk dalam Regnum Plantae adalah:

1.1. Ganggang bersel banyak (diluar ganggang biru)
1.2. Lumut (Bryophyta)
1.3. Paku-pakuan (Pteridophyta)
1.4. Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta)

5. Regnum Animalia (Kerajaan Hewan)
Meliputi organisme bersel banyak, yang sel-selnya tidak berdinding sel dan tidak berklorofil sehingga bersifat heterotrof. Yang termasuk regnum ini adalah filum:

1.1. Porifera
1.2. Coelenterata
1.3. Platyhelminthes
1.4. Nemathelminthes
1.5. Annelida
1.6 Echinodermata
1.7 Arthropoda
1.8 Chordata

KLASIFIKASI TUMBUHAN

Anggota +/- 500.000 – 600.000 spesies

1. ALGA/GANGGANG
Dibagi dalam beberapa kelas:
a. Chlorophyta: Ganggang Hijau
b. Chrysophyta: Ganggang Keemasan
c. Phaeophyta: Ganggang Pirang/Coklat
d. Rhodophyta: Ganggang Merah.
2. BRYOPHYTA: LUMUT
3. PTERIDOPHYTA: PAKU-PAKUAN
Dibagi menjadi beberapa kelas:
a. Kelas Psilophytinae
b. Kelas Equisetinae
c. Kelas Lycopodinae
d. Kelas Filicinae
4. SPERMATOPHYTA ATAU TUMBUHAN BERBIJI
Menghasilkan biji sebagai alat berkembang biak, nama lainnya Embriophyta Siphonogamae (tumbuhan berembrio yang perkawinannya melalui suatu saluran) atau Antophyta (tumbuhan berbunga) atau Phanerogamae (alat kelaminnya tampak jelas yaitu berupa benang sari dan putik).

01/30/2009 Posted by | BTT | 48 Komentar

CHRYSOPHYTA

Chrysophyta atau ganggang keemasan (yunani, chrysos = emas) memiliki pigmen dominan karoten berupa xantofil yang memberikan warna keemasan. Pigmen lainnya adalah fukoxantin, klorofil a dan klorofil c. Bentuk tubuh ganggang keemasan ada yang uniseluler soliter (misal ochromonas) atau ada juga yang berkoloni tidak berflagellum, dan ada juga yang multiseluler (missal vaucheria). Dinding sel chrysophyta mengandung hemiselulose, silica yang berperan sebagai cadangan minyak bumi dan pectin. Inti sel pada chrysophyta sebagian besar adalah besifat eukariota dan sebagian lagi bersifat prokariota. Pada diatom (contohnya navicula) dinding selnya berbentuk seperti cangkang yang tediri atas bagian dasar atau hipoteca dan bagian penutup atau epiteca. Cadangan makanan pada hrysophyta berupa lemak dan karbohidrat.

Ganggang keemasan sebagian besar hidup di air tawar tetapi ada juga yang hidup di air laut dan ada yang hidup di tanah. Meskipun ada anggota chrysophyta yang hidup di laut, reproduksinya dilakukan secara aseksual dengan pembelahan biner. Pada ganggang uniseluler reproduksi atau perkembangbiakan dilakukan dengan pembentukan spora. Sedangkan pada ganggang yang multiseluler reproduksi seksualnya dilakukan melalui penyatuan dari jenis gamet. Ontoh dari ganggang keemasan atau ganggang pirang adalah navicula, synura, dan nishoous.

Berdasarkan pada persediaan karbohidrat, struktur kloroplas dan heterokontous flagellanya maka divisi hrysophyta dibagi menjadi 3 klas. Dalam chrysophyta, prinsip fotosintesis pigmen biasanya terdiri dari klorofil a dan klorofil c dan karatenoid fukosantin. Pengelompokan chrysophyta menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali tedapat tiga thylakoids di sekitar periphery kloropla (girdle lamena). Kloroplast dan retikulum endoplasma sempit dan kurang adanya perbedaan struktur : Ribosom terdapat pada permukaan luar CER. Tingkat flagenta yang paling tinggi yaitu heterokontoun. Sel heterokontous mempunyai dua flagel, yaitu age licin dan flagel dengan bulu kaku seperti pipa atau mastigonema dalam dua baris.

Tabel 1 karakteristik Pengelompokan Divisi Chryophyta

Kelompok

(noxari Umum)

Mayor Photo Synthetio Pigmen

Persediaan karbohidrat

Dinding Sell

Flegella

Chysophyeeae (alga Coklat Keemasan) Chl A, C1 dan C2 fukosantin Chrysolaminarin

(lukasin)

Skala Loricae Heterokontus
Tribophyceae (Xanuhopyeae) alga hijau kekuningan Chl A, C1 dan C2 Chrysolami narin Pectin / dind selulosa Heterokontus
Bacillariophy ceae (diatomo phyceae) Chl A, C1 dan C2 fukosantin Chrysolami Narin Silica frustula Gamet jan tandengan satu flagel dan masti genema

Mestiginema dibentuk dalam gelembung antar sel dalam Chrusophyta, prinsip fotosinteis pigmen biasanya terdiri dari klorofil A dan C1 / C2 da karotenoid yang memberikan kesan warna keemasan dan juga fukosantin.

Diatom merupakan komponen besar planktonic dan komunitas benthic di samudra dan air jernih, kadang-kadang diatom dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan strategi ekologi:

(1) diatom,

(2) diatom benthic (priphytic) dan

(3) diatom meroplanktonic (tycoplanktonic).

Spesies euplanktonic merupakan anggota plankton tetap. Hampir semua diatom sentrik adalah planktonic dan ditemukan di air jernih dan samudra. Distom pennate yang sedikit merupaan planktonic. Diatom planktonic, sering berproduksi pada musin semi dan musim gugur berkembang pada latitude tinggi. Contoh diatomic planktonic ditunjukkan pada gambar. Hanya sedikit diatom yang diketahui menghasilkan toksin (dari spesies Nitzschia dan Chaetoceros).

Semua diatom benthic adalah pennate. Pada air jernih dan habitat marine, diatom sering merupakan inisial koloni alga pada substrat dibawah permukaan air. Sekresi mucilage oleh diatom dan bakteri membentuk bioflm yang menyediakan substrat berikutnya oleh organisma yang lain. Kepadatan pertumbuhan diatom menghasilkan diskolorasi coklat keemasan. Alat gerak pada chrysophyta berupa flagel yang mempunyai tipe whiplash dan tinsel yaitu 9+2.

Klasifikasi Chrysophyta dibagi menjadi 3 klas yaitu:

  1. Klas xantophyceae atau alga hijau kuning

Ganggang ini banyak ditemukan hidup di air tawar, air laut dan tanah. Susunan tubuhnya mempunyai 3 bentuk yaitu berbentuk sel tunggal (contohnya Botrydiopsis), berbentuk filament (contohnya Tribonema) dan yang terakhir berbentuk tubular (contohnyavaucheria). Umumnya ganggang ini tidak mempunyai dinding sel. Bila mempunyai dinding sel, biasanya terdiri dari pectin dan silica. Terdiri dari 2 bagian yang saling menutupi, seperti halnya pada tribonema,sp. Ganggang jenis ini mempunyai alat gerak yang berupa 2 buah flagella yang tidak sama panjangnya, satu bagian terletak di ujung atau apical dan bagian yang lain terletak pada bagian anteriornya. Cadangan makanan berupa krisolaminarin yaitu lutein.

Algae jenis ini mempunyai klorofil atau yang sering disebut dengan pigmen hijau daun dan xantofil atau pigmen kuning, karena itu warnanya hijau kekunung-kuningan. Contohnya adalah Vaucgeria. Vaucheria tubuhnya tesusun atas banyak sel yang bebentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filament mempunyai banyak inti dan menyebar yang disebut dengan Coenocytic. Vaucheria tumbuh melekat pada substrat dengan menggunakan alat yang berbentuk akar. Berkembangbiak secaravegetatif dan generatif.

  • Perkembangbiakan vegetatif Vaucheria berlangsung dengan pembentukan zoospora yang berkumpul dalam sporangium pada ujung filament. Selanjutnya inti di dalam sporangium membelah secara meiosis dan menghasilkan zoospora. Zoospora tersebut berinti banyak dan mempunyai flagel yang tumbuh di seluruh permukaannya. Setelah sporangium masak, zoospora akan keluar dan tumbuh menjadi Vaucheria baru.

  • Perkembang biakan generatif Vaucheria berlangsung dengan pembuahan ovum dan spermatozoid. Ovum dibentuk di dalam oogonium, sedang spermatozoid dibentuk dalam anteredium, keduanya terdapat pada benang yang sama atau homotalus. Zigospora hasil pembuahannya akan membelah secara meiosis dan menghasilkanspora yang selanjutnya terlepas dari induknya dan kemudiantumbuh menjadi ganggang yang baru.

  1. Klas chrysophyceae atau alga coklat keemasan

Ganggang ini kebanyakan hidup di air laut atau air tawar. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal (contohnya ochromonas) dan ada yang berbentuk koloni (contohnya synura). Umumnya ganggang ini tidak mempunyai dinding sel. Bila mempunyai dinding sel, biasanya terdiri dari lorika atau bisa juga tersusun dari lempengan silicon atau bisa juga dari cakram kalsim karbonat. Ganggang jenis ini mempunyai alat gerak yang berupa flagella yang tidak sama jumlahnya tiap marga Cadangan makanan berupa tepung krisolaminarin

. Algae jenis ini mempunyai pigmen keemasan yang sering disebut dengan karoten, klorofil a, b, dan c, beta karoten, xantofil berupa lutein, dindinoxantin, fukoxantin, dan dinixantin. Contoh ochromonas. Ochromonas sel tubuhnya berbentuk bola yang dlengkapi dengan 2 flagel yang digunakan sebagai alat gerak. Kedua flagel tersebut panjangnya tidak sama. Di dalam sitoplasmanya terdapat beberapa organel penting seperti kloroplas yang berbentuk lembaran melengkung, vakuola, stigma dan nucleus. Ochromonas berkembang biak dengan membelah diri secara longitudinal dan dengan fragmentasi. Fragmentasi ada dua macam, yaitu:

  • Koloni memisah menjadi dua bagian atau lebih. Sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian membentuk koloni yang baru.

  • Sporik, dengan membentuk zoospore dan statospora

Statospora yaitu tipe spora paling unik yang diketemukan pada Chryaophyta, khususnya pada kelas Chrysophyceae dengan bentuk speris dan bulat. Dinding spora bersilia, tersusun atas 2 bagian yang saling tumpang tindah. Mempunyai lubang atau pore dan ditutupi oleh sumbat yang mengandung glatin.

Beberapa spesies bentuk statosporanya bermacam-macam, yaitu :

  • Ada yang berdinding halus

  • Berornamen dan

  • Berduri

Contoh: chrysomonodales

Pada genus yang motil statospora yang diketemukan berada pada fase istirahat, yaitu : flagel tertarik ke dalam dan membentuk bagian yang sperik atau bulat selanjutnya flagel mengalami diferensiasi internal dari protoplasma yang sperik. Yang terpisah hanya bagian membran plasma dari bagian periferi protoplasma asli. Kemudian sekresi dari dinding antara dua membran plasma yang baru terbentuk, kecuali daerah sirkuler, nantinya akan membentuk lubang atau pore.

  1. Klas Bacillariophyceae atau alga diatomae

Ganggang ini banyak ditemukan hidup di air tawar, air laut dan tanah-tanah yang lembab.

Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal dan ada juga yang berbentuk koloni dengan bentuk tubuh simetri bilateral (Pennales) dan simetri radial (centrals).

Terdapat dinding sel yang disebut frustula yang tesusun dari bagian dasar yang dinamakan hipoteka dan bagian tutup dinamakan epiteka dan juga sabuk atau singulum. Frustula ini tersusun oleh zat pectin yang dilapisi oleh silicon. Cadangan makanan berupa tepung krisolaminarin.

Klas Bacillariophyceae mempunyai alat gerak yang berupa flagel yang terdapat pada sperma. Isi sel berinti tunggal dan berinti diploid. Klas Bacillariophyceae ini disebut juga klas diatom. Tanah yang mengandung diatom berwarna kuning keemasan. Contoh: Navicula,sp. Tubuh Navicula terdiri atas dua bagian yaitu kotak atau hipoteka dan tutup atau epiteka. Diantara bagian kotak dan tutup terdapat celah yang disebut rafe. Perkembang biakan Navicula secara vegetatif dan generatif.

  • Perkembang biakan vegetatif Navicula dengan membelah diri. Setiap inti diatom membelah menjadi dua, diikuti pembagian sitoplasma menjadi dua bagian. Selanjtnya, dinding sel Navicula memisah menjadi kotak dan tutup. Pada sel anakan baik kotak maupun tutup akan berfungsi sebagai tutup dan masing-masing akan membentuk kotak baru. Dengan demikian sel anakan yang berasal dari kotak akan mempunyai ukuran lebih kecildaripada sel anaknya. Peristiwa ini berlangsung berulang kali.

  • Perkembang biakan generatif Navicula berlangsung dengan konjugasi. bila ukuran tubuh Navicula tidak memungkinkan untuk mengadakan pembelahan lagi inti selnya akan mengalami meiosis dan menghasilkan gamet. Gamet ini kemudian akan meninggalkan sela dan setelah terjadi pembuahan di dalam air akan menghasilkan zigot. Zigot selanjutnya tumbuh menjadi sel Navicula baru dan membentuk kotak dan tutup yang baru.

Kegunaan alga pirang dalam kehidupan manusia, yaitu:

  • Sebagai bahan penggosok

Contoh: diatomea

  • Sebagai isolasi dinamit

Contoh: diatomae

  • Sebagai campuran semen

  • Sebagai penyerap nitrogliserin pada bahan peledak

Selain berguna bagi kehidupan manusia tapi bukan berarti semuanya menguntungkan, kehadiran mikroalga dalam habitat air dapat mencemari air tersebut. Selain akan mengakibatkan timbulnya kotoran juga dapat menurunkan kualitas air. Hal ini disebabkan karena:

  • Alga dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak

  • Alga dapat menurunkan PH

  • Menyebabkan warna dan kekeuhan

  • Beberepa jenis alga dapat mengeluarkan racun

  • Dapat mengeluarka lender yang mengakibatkan waterbloom

Ganggang keemasan sering disebut ganggang kersik karena mengandung silikat. Ganggang jenis ini tidak begitu membahayakan karena tidak menghasilkan racun akan tetapi ganggang ini dapat menimbulkan bau yang tidak enak. Selain itu juga menyebabkan kekeruhan pada air.

01/30/2009 Posted by | BTR | 14 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya.