BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

HAKIKAT BELAJAR

BAB I
HAKIKAT BELAJAR

1.1 Pengertian Belajar
Belajar secara umum dapat diartikan sebagai perubahan, contohnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau, dan lain sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti merupakan peristiwa belajar. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar adalah perubahan yang relatif, konstan, dan berbekas.
Relatif artinya ada kalanya suatu hasil belajar ditiadakan atau dihapus dan digantii dengan yang baru, dan ada kemungkinan suatu saat hasil belajar terlupakan. Hal ini tergantung dari kebutuhan belajar saat itu, karena belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan. Dengan demikian relatif tersebut dalam arti tergantung dari perubahan lingkungan.
Konstan dan berbekas maksudnya bahwa perubahan dalam belajar harus menjadi milik pribadi, artinya perubahan itu akan bertahan lama, sehingga bila digunakan akan segera dapat direproduksi. Secara rinci dapat dijelaskan ciri-ciri belajar atau perubahan yang dimaksud dalam belajar adalah sebagai berikut:
Intensional
Intensional maksudnya disengaja, disadari, dan bukan karena suatu kebetulan. Dengan demikian perubahan yang dimaksud merupakan perubahan yang mempunyai tujuan tertentu. Hanya saja syarat ini tidak mutlak sifatnya, karena kadangkala ada perubahan yang terjadi dengan tidak disadari. Misalnya pengalaman.
Positif
Positif yang dimaksud dalam perubahan ini adalah perubahan harus sesuai yang diharapkan secara normatif atau berdasarkan kriteria keberhasilan. Bila dilihat dari syarat nomer satu sebenarnya perubahan tidak harus positif, asalkan sesuai dengan tujuan. Apapun tujuan tersebut, misalnya belajar mencuri, belajar menyontek, dan lain sebagainya. Namun demikian karena belajar dimaksudkan untuk menuju pada pekembangan anak didik yang positif, maka syarat ke dua ini diperlukan.
Efektif
Efektif yang dimaksudkan adalah perubahan itu harus mempunyai pengaruh dan makna tertentu bagi siswa yang bersangkutan.
Fungsional
Fungsional yang dimaksudkan adalah perubahan harus bersifat relatif tetap, sehingga setiap saat dapat direproduksi.

Ciri-ciri belajar di atas dapat memberi batasan perubahan dalam belajar, yaitu:
Belajar merupakan proses mencapai tujuan, dan bukan hasil atau tujuan.
Proses terjadi melalui interaksi dengan lingkungan.
Dalam belajar diperlukan tujuan, bahan pelajaran, perencanaan yang matang, dan kegiatan, di mana guru banyak terlibat langsung.
Perubahan harus menunjukkan perubahan tingkah laku.

Dengan demikian perubahan-perubahan yang tidak memiliki ciri-ciri di atas tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Contoh perubahan yang bukan merupakan belajar adalah:
Perubahan karena pertumbuhan jasmanai.
Perubahan akibat kelelahan fisik.
Perubahan karena menggunakan obat.
Perubahan akibat penyakit parah atau trauma.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang belajar, dapat diuraikan pengertian belajar dari beberapa sisi pandang sebagai berikut:
Belajar adalah memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Maknanya adalah:
Belajar merupakan proses.
Belajar merupakan suatu kegiatan.
Belajar bukan hasil tujuan.
Belajar bukan hanya mengingat, tetapi juga mengalami.
Belajar bukan hanya menguasai latihan, melainkan perubahan kelakuan.
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Maknanya adalah:
Belajar adalah perubahan tingkah laku.
Belajar menitik beratkan pada interaksi individu dengan lingkungan.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penugasan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap, dan nilai-nilai pengetahuan, kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi, atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi. Maknanya adalah:
Proses adalah interaksi antara individu dengan sikap, nilai, atau kebiasaan, pengetahuan, dan keterampilan dalam hubungannya dengan dunia sehingga berubah.
Berubah di sini dalam pengertian yang baik, yaitu dalam bentuk penguasaan, penggunaan, maupun penilaian suatu sikap.
Dari semua pengertian di atas belajar dapat disimpulkan sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan itu bersifat relatif, konstan, dan berbekas.

1.2 Jenis-jenis Belajar
Berbicara jenis-jenis belajar sebenarnya banyak sekali cara-cara pengklasifikasian belajar ini, sehingga jenis-jenis belajar itu dapat dibedakan dengan bervariasi sekali. Untuk itu dalam modul ini akan penulis coba mengambil dari pendapat salah satu ahli untuk mengklasifikasikan jenis belajar.
Sistematika belajar menurut A.De Block adalah sebagai berikut:
1. Bentuk-bentuk belajar menurut bentuk psikis.
Belajar dinamik/konatif.
Belajar dinamik/konatif adalah belajar yang bercirikan bahwa orang itu mempunyai kehendak. Berkehendak suatu aktivitas psikis yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari atau dihayati
Belajar afektif.
Belajar afektif adalah belajar menghayati nilai dari objek-objek (bisa orang, benda, atau peristiwa) yang dihadapi melalui alam perasaan. Atau dapat dikatakan belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.
Belajar kognitif: mengingat, berpikir.
Belajar kognitif adalah belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, dan ini merupakan proses mental. Terdiri dari mengingat dan berpikir. Mengingat dapat dibedakan menjadi dua peristiwa, yaitu rekognisi (mengenal kembali), dan reproduksi (mengingat kembali). Sedangkan berpikir mempunyai syarat harus mengenai pengetahuan yang tepat, berupa fakta. Fakta dan data menjadi bahan baku untuk berpikir.
Belajar sensori-motorik, mengamati, bergerak, berketerampilan.
Belajar sensori-motorik merupakan belajar menghadapi dan menangani objek-objek fisik.
Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari.
Belajar teoritis
Belajar teoritis merupakan data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem.
Belajar teknis.
Belajar teknis atau praktis adalah belajar dalam mengembangkan keterampilan. Belajar teknis dapat berjalan dengan baik apabila jenis belajar yang lain telah dipahami. Atau dapat dikatakan bahwa belajar teknis mempunyai syarat, yaitu belajar fakta, konsep, dan prinsip.
Belajar sosial atau bermasyarakat.
Belajar bermasyarakat adalah belajar untuk hidup bersama.
Belajar estetis.
Belajar estetis adalah belajar untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan.
Bentuk-bentuk belajar yang tidak sebegitu disadari.
Belajar insedental.
Belajar insidental merupakan belajar sampingan dari belajar yang sebenarnya. Maksudnya adalah dalam belajar sesuatu dengan tujuan tertentu, masih ada hal lain yang dipelajari yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
Belajar dengan mencoba-coba.
Belajar dengan coba-coba adalah jenis belajar yang didapatkan dengan mencoba-coba. Hal ini biasanya terjadi karena belum ada teori yang mendahului apa yang akan dipelajari.
Belajar tersembunyi.
Belajar tersembunyi adalah jenis belajar di mana yang mengetahui tentang tujuan hanya guru. Siswa tidak tahu bahwa yang ia lakukan adalah suatu yang mempunyai tujuan. Atau dapat dikatakan siswa tidak sadar kalau ia sedang belajar, padahal ia sedang belajar.

Jenis belajar menurut materi
Jenis belajar menurut materi ini sangat penting dalam rangka menentukan jenis pembelajaran yang akan digunakan di sekolah. Untuk itu akan dibicarakan lebih banyak tentang jenis belajar fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan.

Belajar fakta/informasi
Informasi sering disebut fakta, pengetahuan, atau isi. Sifat dari bahan informasi ini adalah hafalan, sebab biasanya dipelajari secara hafalan. Contoh dari jenis belajar informasi adalah belajar lambang, kata, istilah, definisi, peraturan, persamaan, perkalian, pernyataan sifat, dan lain sebagainya.
Karena belajar informasi ini dipelajari secara hafalan, maka ada beberapa kerugian dalam belajar jenis ini, antara lain:
Hasil tidak efektif dan sedikit yang dapat dipindahkan ke dalam situasi lain.
Tidak dapat disimpan lama.
Untuk mengurangi kelemahan di atas ada cara untuk mempelajari informasi, antara lain:
Dengan membuatnya ke dalam pola yang bermakna atau ke dalam suatu rangkaian yang logis seperti menggunakan singkatan, akronim, dan cara-cara lain
Membuat bentuk stimulus yang berbeda. Misalnya dengan menunjukkan gambar, model, peta, kunjungan ke objek yang nyata, dan percobaan.
Bahan informasi digunakan apabila bahan tersebut sering kali digunakan. Contoh perkalian, nama-nama latin, dan masih banyak lagi.

Belajar konsep
Konsep disebut juga pengertian, yaitu merupakan serangkaian perangsang dengan sifat-sifat yang sama. Konsep dibagi menjadi dua, yaitu:
Konsep yang sederhana, yaitu pola unsur bersama diantara anggota kumpulan atau rangkaian. Hakikat suatu konsep tidak terdapat di dalam masing-masing anggota, tetapi di dalam unsur atau sifat yang terdapat pada semua anggota. Contoh: darah.
Konsep yang lebih tinggi, yaitu yang mempunyai hubungan antara konsep dasar. Contoh: jantung.
Cara mengajarkan suatu konsep adalah:
Renungkan arah, orientasi, dan aplikasi konsep yang dipelajari.
Tinjau kembali unsur prasyarat konsep yang dipelajari.
Sajikan stimulus sederhana yang tepat dari unsur-unsur, pola, atau hubungan bersama dapat diketahui.
Definisikan dan asosiasikan nama konsep.
Perluas asosiasi melalui berbagai contoh dan aplikasi.
Pertajam kemampuan dengan menggunakan lebih banyak contoh yang realistis. Dalam beberapa kasus contoh-contoh negatif berguna untuk mempertajam kemampuan.
Berikan latihan dan peninjauan kembali.
Uji kemampuan melalui konsep, menggunakan konsep, mendefinisikan konsep, dan menanamkan konsep.

Belajar prinsip
Prinsip adalah pola hubungan fungsional antar konsep. Prinsip pokok yang diterima dengan baik dinamakan hukum. Jenis belajar ini mempunyai kebaikan-kebaikan, antara lain:
Merupakan sarana penting untuk dapat meramalkan, memecahkan masalah, dan membuat kesimpulan baru.
Prinsip sangat berguna untuk menyatakan sebab akibat.
Bila prinsip telah dikuasai dengan baik, banyak fakta dapat diperoleh, melalui kesimpulan logis.
Jika digunakan bersama-sama dengan kemampuan manusia lainnya, prinsip menjadi sarana pokok dalam memperkaya informasi.
Dalam belajar prinsip, konsep prasyarat hendaknya siap dulu, dan siap digunakan dalam ingatan jangka pendek. Contoh: Prinsip sirkulasi darah, harus memahami konsep darah dan konsep jantung.
Cara mengajarkan prinsip:
Renungkan orientasi, hubungkan dengan belajar sebelumnya dan aplikasikan prinsip yang akan dipelajari.
Mintalah siswa mengingat kembali untuk mengecek, apakah dia mengerti konsep prasyarat yang diperlukan.
Tunjukkan contoh sederhana pola hubungan prinsip.
Jika perlu, gunakan syarat tertentu untuk membawa siswa menemukan sendiri hakikat hubungan tersebut.
Mintalah siswa menunjukkan penggunaan prinsip yang dipelajari dalam meramalkan atau memecahkan masalah.
Perluas asosiasi melalui berbagai contoh dan penggunaannya.
Perjelas kemampuan membedakan melalui penyampaian contoh negatif (bila perlu).
Secara umum belajar mulai dari yang konkrit menuju yang abstrak, dan dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Tinjau kembali dan latih penggunaan prinsip.
Tes kemampuan siswa dengan menyebutkan dan menggunakan prinsip tersebut.

Belajar keterampilan.
Keterampilan adalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Keterampilan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu psikomotorik dan intelektual.
Contoh dari keterampilan psikomotorik antara lain, mencangkok, menanam, bersepeda, mengajar, berenang, dan lain sebagainya. Sedangkan contoh dari keterampilan intelektual adalah merumuskan masalah, mengadakan penelitian, menyimpulkan, dan masih banyak lagi.
Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan di dalam belajar keterampilan adalah:
Jelaskan tujuan dan nilai keterampilan yang dipelajari kepada siswa.
Tunjukkan tingkat prestasi siswa yang diharapkan bagaimana hal itu akan dinilai.
Ulang kembali pelajaran sebelumnya yang diperlukan sebagai prasyarat atau yang berguna untuk mempelajari keterampilan.
Sajikan demonstrasi keterampilan oleh petugas yang mampu dan jelaskan secara singkat bagian-bagian penting dan kegiatan yang dilatihkan.
Berikan latihan keterampilan dasar kepada siswa dan didiskusikan pola atau rantai tingkah laku yang digunakan.
Lakukan latihan tambahan disertai evaluasi kegiatan secara cepat dan umpan baliknya kepada siswa untuk peningkatan atau perbaikan.
Aturlah kondisi untuk mempelajari istilah, konsep, prinsip, prosedur, teknik, dan strategi yang menghasilkan belajar dan aplikasi keterampilan. Hal ini harus benar-benar dikerjakan pada waktu yang dibutuhkan.
Dalam mempelajari keterampilan yang kompleks perlu mengajak siswa mengamati kegiatan yang telah dimikinya.
Ubah cara menilai kegiatan dari orang lain kepada penilaian diri sendiri.
Latihan keterampilan sebaikknya diberikan dalam kondisi sedekat mungkin dengan pelaksanaan keterampilan dalam situasi sesungguhnya.

1.3 Tujuan dan Faktor-faktor Dinamis Belajar
1.3.1 Tujuan Belajar
Guru bertindak sebagai perekayasa pembelajaran, yang direalisasikan dengan membuat desain instruksional. Dalam desain instruksional akan terdapat tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru. Dengan demikian muncul pertanyaan:
Samakah antara tujuan pembelajaran dan tujuan belajar?
Siapa yang memiliki tujuan belajar? Kalau jawabannya siswa, muncul pertanyaan berikutnya:
Kapan siswa boleh memiliki tujuan belajar sendiri (dalam arti tidak dibuatkan guru)?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab dari penjelasan berikut ini:
Tujuan pembelajaran yang terealisasikan dalam tujuan instruksional (akan dibicarakan lebih lanjut dalam bab II) dibuat oleh guru dengan memandang siswa sebagai subjek yang akan mencapai sasaran belajar. Sehingga dapat dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran merupakan sasaran belajar siswa menurut pandangan dan rumusan guru.
Dari segi guru tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar, dan dari segi siswa sasaran belajar merupakan panduan belajar yang diketahuinya dari informasi guru. Kesejajaran tindak guru mencapai sasaran belajar, dan tindak siswa yang belajar untuk mencapai tujuan belajar, dapat digambarkan pada Gambar 1. 1 berikut ini.

Gambar 1.1 Kesejajaran sasaran belajar dan tujuan belajar siswa dalam kegiatan belajar menju kemandirian.

Gambar 1.1 menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran yang dibuat guru untuk mencapai sasaran belajar siswa sejajar dengan tindak belajar siswa dalam mencapai tujuan belajar. Artinya disaat guru berusaha mencapai sasaran belajar 1, maka siswa juga berusaha dalam mencapai tujuan belajar 2. Serangkaian tujuan yang dicapai siswa akhirnya akan meningkatkan kemampuan siswa yang akan membawa siswa mencapai kemandirian.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa tujuan belajar tentu saja ditujukan bagi siswa yang dinamakan dengan sasaran belajar. Hanya saja tujuan tersebut dibuat oleh guru demi terarahnya tujuan belajar itu sendiri. Dan pertanyaan kapan siswa bisa membuat tujuannya sendiri, dapat dijawab bahwa siswa dapat membuat tujuannya sendiri di saat siswa telah dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru.
Bukti bahwa siswa sudah dapat mencapai tujuan belajar yang dibuat guru ditunjukkan dengan perilaku siswa yang merupakan hasil proses belajar atau hasil pembelajaran. Hasil belajar merupakan puncak proses belajar, dan bagi siswa yang telah berhasil mencapai hasil belajar dinyatakan lulus. Di saat itulah siswa dapat menyusun program belajar sendiri atau belajar secara mandiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.2. halaman 14.
Gambar 1.2 menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran dibuat oleh guru berdasarkan kepentingan siswa. Sehingga tujuan pembelajaran tersebut juga merupakan sasaran belajar bagi siswa menurut pandangan dan rumusan guru. Selanjutnya tujuan pembelajaran itu akan digunakan dalam mencapai hasil belajar yang ditujukkan dengan perilaku siswa yang berubah. Hasil belajar tersebut akan tercapai dengan melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Apabila siswa telah mencapai hasil belajar, maka siswa dapat membuat program belajar sendiri atau membuat tujuan belajar sendiri.

1.3.2 Faktor-faktor Dinamis Belajar
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar dinamakan unsur-unsur dinamis belajar. Unsur dinamis belajar tersebut dapat mendukung (berpengaruh positif) atau sebaliknya menjadi penghambat (berpengaruh negatif). Faktor internal yang berpengaruh dalam proses belajar dapat dibedakan menjadi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis misalnya pendengaran, penglihatan, dan kondisi fisik. Sedangkan faktor psikologis, misalnya kecedasan, motivasi, perhatian, berpikir, dan ingatan.
Faktor eksternal belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lingkungan belajar dan sistem instruksional. Lingkungan belajar dapat dibedakan menjadi lingkungan dalam sekolah dan dan lingkungan luar sekolah. Sedangkan sistem instruksional antara lain kurikulum, bahan ajar, metode, media, dan evaluasi.

1.3.2.1 Faktor Internal
1.3.2.1.1 Faktor Fisiologis
1. Pendengaran
Pendenganran merupakan faktor penting di dalam belajar, karena pendengaran merupakan alat untuk menangakap informasi. Bila alat penangkap informasi ada gangguan, maka informasi yang dutangkappun akan terganggu. Secara umum pada usia yang sama mempunyai kemampuan mendengarkan yang sama. Misalnya pada usia 20 tahunan mempunyai kemampuan mendengar dengan jarak kurang lebih 8-10 meter. Dan pada usia 40 tahunan kemampuan mendengar dengan jarak kurang lebih 5 meter.
Berkaitan dengan kemampuan mendengar ini guru tidak diperbolehkan untuk menyamaratakan kemampuan mendengarkan berdasarkan umur, karena masing-masing siswa mempunyai daya mendengarkan sendiri. Untuk itu bila ada gejala kesulitan belajar guru juga harus memperhatikan atau menditeksi dari pendengaran ini.
2. Penglihatan
Seperti halnya pendengaran penglihatan juga mempunyai arti penting dalam penerimaan informasi. Secara umum penglihatan mempunyai kekuatan dengan peneangan 40 watt untuk usia sekitar 20 tahunan, dan 60-100 watt untuk usia sekitar 40 tahunan. Dipandang dari kekuatan jarak melihat masing-masing siswa mempunyai kekuatan yang sangat bervariasi sendiri. Untuk itu seorang guru juga harus memperatikan faktor ini.
3. Kondisi fisik
Kondisi fisik akan sangat berpengaruh akan sangat berpengaruh dalam proses belajar pada semua fase. Kondisi fisik itu antara lain kesegaran jasmani, keletihan, kekurangan gizi, kurang tidur dan sakit. Hal ini biasanya dijadikan pertimbangan untuk menentukan urutan jadual. Untuk mata pelajaran yang memperlukan keseriusan yang bersifat rekreatif diberikan dalam jam-jam akhir.
1.3.2.1.2 Faktor Psikologis
1. Kecerdasan dan bakat
Pembelajaran merupakan proses membantu individu mencapai pengkembangan optimal dari kecerdasan yang dimiliki. Kecerdasan seseorang sangat bervariasi walau umur yang sama. Untuk itu guru harus memperhatikan hal ini.
Perlu diketahui bahwa kecerdasan seseorang sebenarnya telah terbentuk sampai 50% pada saat usia 4 tahun, dan terbentuk sampai 80% diperoleh saat usia kurang lebih 8 tahun. Sedangkan 20% sisanya masih dapat terbentuk sampai usia kurang lebih 20 tahun. Dan titik optimal adalah pada usia 20 sampai 30 tahun. Usia 30-60 tahun mengalami penurunan.
Berdasarkan hal tersebut sebenarnya pada saat guru mengajarkan siswa SMU tingkat kacerdasan mereka sudah terbentuk. Pembelajaran hanya mengoptimalkan kemampuan, dan tidak diperkenankan memaksakan kehendak untuk menjadikan anak melebihi kapasitas tingkat kecerdasannya.
2. Motivasi
Seseorang akan terdorong untuk belajar apabila ada motivasi tertentu. Motivasi biasanya terkait erat dengan adanya suatu kebutuhan. Untuk itu untuk menimbulkan motivasi belajar siswa seorang guru harus berupaya bagaimana belajar merupakan kebutuhan bagi siswa. Hal ini disebabkan karena motivasi mempunyai fungsi yang cukup besar dalam belajar, yaitu mendorong manusia untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, dan menyeleksi perbuatan. Sebenarnya motivasi yang berasal dari guru merupakan motivasi ekstrinsik, dimana motivasi ini kurang efektif dibandingkan motivasi instrinsik. Namun harannya motivasi ekstrinsik dari guru menimbulkan kemauan siswa untuk belajar yang berarti motivasi tersebut menjadi motivasi tersebut menjadi motivasi instrinsik. Karena motivasi ini merupakan faktor penting dalam belajar akan dibicarakan tersendiri pada bab lain buku ini.
3. Perhatian
Perhatian merupakan modal dalam belajar, untuk itu seorang guru harus memahami tentang perhatian ini untuk memaksimalkan perhatian siswa dalam belajar. Perhatian dapat dibedakan menjadi lima, yaitu:
Perhatian disengaja: perhatian yang timbul karena keharusan untuk memperhatikan. Perhatian jenis ini biasanya untuk dapat berhasil, karena siswa merasa ada pemaksaan. Hanya saja diharapkan guru dapat mengkondisikan perhatian ini untuk menjadikan siswa tidak terpaksa.
Perhatian spontan: Suatu perhatian di mana orang akan tertarik untuk melihat atau mendengarkan sesuatu atas kemauannya sendiri. Perhatian ini hasilnya dapat bertahan lama. Guru diharapkan dapat memotivasi siswa yang awalnya menggunakan perhatian yang disengaja menjadi perhatian spontan.
Perhatian intensif: Perhatian yang timbul karena kebutuhan atau kepentingan pribadi.
Perhatian memusat: Perhatian pada satu objek tertentu. Hal ini dilakukan untuk memperhatikan objek yang harus diperhatikan adalah menuntut ketelitian.
Perhatian memencar: Perhatian dengan memperhatikan banyak objek sekaligus.
4. Berpikir
Berpikir adalah suatu kegiatan mental berupa pelukisan gagasan berdasarkan pengetahuan yang ada dengan memperhatikan hubungan sebab akibat, dirangkaikan secara logis dan rasional.
Langkah-langkah berpikir adalah:
Pembentukan pengertian kunci sebagai titik tolak untuk berpikir lebih lanjut.
Pemahaman atau identifikasi masalah yang perlu dipikirkan/dipecahkan.
Penyusunan argumen untuk pembentukan pendapat/pemecahan masalah.
Guru perlu memberi kesempatan siswa untuk berlatih mengkaji permasalahan, dan mengemukakan masalah, serta memberi kesempatan untuk beradu argumentasi.
5. Ingatan
Ingatan adalah suatu kegiatan kognitif yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa pengetahuan yang dimilikinya itu bersumber dari masa lalu. Fase ingatan adalah sebagai berikut:
Fase fiksasi, yaitu kegiatan mencamkan sesuatu yang berkesan, terjadi secara disengaja, dihubungkan dan disesuaikan dengan pengalaman yang telah dimiliki.
Fase retensi, yaitu penyampaian kesan-kesan tanpa disadari. Kesan yang tersimpan tersebut dapat disadarkan kembali bila keadaan meminta/diperlukan. Daya ingat seseorang terbatas, sehingga banyak yang pernah diingat akan lupa. Cara untuk menjadikan daya ingat tahan lama adalah dengan mengulang-ulang.

1.3.2.2 Faktor Eksternal
1.3.2.2.1 Lingkungan Belajar
1. Lingkungan dalam sekolah
Lingkungan merupakan faktor luar belajar yang membawa siswa nyaman atau tidak nyaman dalam belajar. Lingkungan dalam sekolah dapat dibedakan atas lingkungan alam, fisik, dan sosial. Lingkungan alam misalnya keadaan suhu, kelembaban dan pertukaran udara, serta cahaya dalam ruangan. Sedangkan lingkungan fisik misalnya gedung, mebeler, instalasi, pertamanan, sistem pembuangan air, dan masih banyak lagi. Dan lingkungan sosial menyangkut suasana hubungan timbal balik antara segenap warga sekolah, misalnya guru, sesama teman, staf tata usaha.
2. Lingkungan luar sekolah
Lingkunan luar sekolah terdiri dari lingkungan fisik, alam, dan sosial. Lingkungan fisik misalnya bangunan gedung, perkantoran, perumahan, pasar, gedung film, terminal, dan lain sebagainya. Sedangkan lingkungan alam misalnya cuaca, kondisi flora dan fauna, dan lain sebaginya. Dan lingkungan sosial mencakup struktur sosial, adat istiadat, budaya setempat, dan lain sebaginya. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi belajar siswa.

1.3.2.2.2 Sistem Instruksional
1. Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksankan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Program yang ada akan berpengaruh terhadap proses belajar seseorang, sebab di dalam kurikulum tersebut mencakup komponen: tujuan, isi, organisasi, dan strategi. Dengan adanya pembatasan belajar dari kurikulum akan memberi warna dalam belajar itu sendiri. Sehingga bila kurikulum tidak lagi sesuai dengan zamannya akan menghambat jalannya belajar.
2. Metode
Metode adalah cara menyajikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Untuk mempermudah dalam belajar metode ini harus menggunakan prinsip:
efektif dan efisien.
Digunakan secara bervariasi.
Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
Jika metode itu digunakan dengan benar, maka akan membantu tercapainya proses belajar, tetapi bila penggunaannya salah akan terjadi sebailknya.
3. Media
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan perhatian, serta minat seseorang yang mendorong terjadinya proses belajar mengajar. Penggunaan media yang tepat sangat diharapkan untuk merangsang terjadinya belajar bagi siswa.
4. Guru
Guru adalah faktor penting dalam pembelajaran, karena gurulah yang melakukan rekayasa pembelajaran. Rekayasa pembelajaran tersebut dilakukan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Faktor yang direkayasa guru antara lain dengan menyusun desain instruksional, yaitu menentukan tujuan, bahan, metode, media, dan evaluasi. Jadi kelebihan guru dari faktor-faktor yang lain adalah guru dapat merekayasa faktor yang lain, sedangkan faktor yang lain tidak dapat merekayasa guru.

Gambar 1.2 Pola hubungan pembelajaran dalam rangka emansipasi diri siswa menuju kemandirian

BAB II
HAKIKAT PEMBELAJARAN

2.1 Pengertian dan Ciri-ciri Pembelajaran
Pembelajaran atau mengajar adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku siswa. Hal ini disebabkan karena pembelajaran adalah upaya guru untuk supaya siswa mau belajar. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku siswa. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa mengajar bukan upaya guru untuk menyampaikan bahan, tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan.
Apabila dilihat dari arti belajar pada Bab I, yang menyatakan bahwa perubahan yang dimaksud dengan belajar adalah perubahan yang konstan, berbekas, dan menjadi milik siswa, maka dalam belajar siswa mengalami proses dan meningkatkan kemampuan mentalnya. Dengan demikian maka mengajar haruslah mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar mengajar dengan baik. Dari pengertian tersebut mengajar mempunyai dua arti, yaitu:
Menyampaikan pengetahuan kepada siswa, dan
Membimbing siswa.
Dua arti belajar di atas menunjukkan bahwa pelajaran lebih bersifat pupil-centered, dan guru berperan sebagai meneger of learning. Hal ini membedakan dengan mengajar dalam arti menanamkan pengetahuan, yang biasanya pelajaran bersifat teacher-centered.
Mengajar yang berarti menanam pengetahuan, tujuannya adalah penguasaan pengetahuan anak. Anak dianggap pasif, dan gurulah yang memegang peranan utama. Kebanyakan ilmu pengetahuan diambil dari buku pelajaran yang tidak dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran serupa ini disebut intelektualitas, sebab menekankan pada segi pengetahuan.
Hal di atas berbeda dengan pengertian belajar: “suatu aktivitas mengatur dan mengorganisasi lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar”. Perbedaan itu ditunjukkan pada mengajar di sini adalah usaha dari pihak guru untuk mengatur lingkungan, sehingga terbentuk suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar. Artinya yang belajar adalah anak itu sendiri dan berkat kegiatannya sendiri, sedangkan guru hanya dapat membimbing anak. Dalam membimbing tersebut guru tidak hanya menggunakan buku pelajaran semata, tetapi dimanfaatkannya segala faktor dalam lingkungan, termasuk dirinya, alat peraga, lingkungan, dan sumber-sumber lain.
Uraian di atas memberikan batasan-batasan yang benar tentang mengajar, yaitu:
Mengajar adalah membimbing aktivitas anak. Artinya yang belajar adalah anak sendiri, sedangkan tugas guru adalah mengatur lingkungan dan membimbing aktivitas anak. Jadi yang aktif adalah siswa, dan bukan sebaliknya.
Mengajar berarti membimbing pengalaman anak. Pengalaman adalah proses dan hasil interaksi anak dengan lingkungan. Jadi interaksi dengan lingkungan itulah yang dinamakan belajar. Dari pengalaman, anak memperoleh pengertian-pengertian, sikap, penghargaan, kebiasaan, kecakapan, dan lain sebagainya. Lingkungan jauh lebih luas dibandingkan dengan buku dan kata-kata guru. Seluruh lingkungan anak adalah sumber belajar, untuk itu pelajaran hendaknya dihubungkan dengan kehidupan anak dalam lingkungannya.
Mengajar berarti membantu anak berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Artinya mengajar adalah mengantarkan anak agar bakatnya berkembang. Sedangkan membantu anak untuk supaya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat diupayakann dengan memberikan pelajaran yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini agar lebih sanggup mengatasi masalah-masalah dalam kehidupannya. Dengan upaya tersebut diharapkan anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk lingkungan sosialnya. Ia harus belajar berpikir, merasa, dan berbuat sesuai dengan norma-norma lingkungan.
Sedangkan tafsiran yang kurang tepat tentang mengajar antara lain:
Mengajar adalah menyuruh anak untuk menghafal.
Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan.
Seluruh rangkaian penjelasan tentang mengajar di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan mengajar di sini adalah juga termasuk di dalamnya mendidik. Jadi bukan saja mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing ke arah norma yang benar. Atau dapat dikatakan bahwa mengajar atau pembelajaran adalah aktivitas mengatur lingkungan, sehingga terjadi proses belajar. Untuk itu dalam pembelajaran perlu adanya komponen-komponen pendukung dengan tujuan supaya proses pembelajaran berjalan dengan baik.
Komponen pembelajaran secara garis besar terdiri dari:
Tujuan.
Bahan.
Metode dan media pembelajaran.
Penilaian.
Hubungan komponen-komponen pembelajaran tersebut dapat digambarkan pada Gambar 2.1 berikut ini:

Tujuan

Bahan
Metode dan Media

Penilaian

Gambar 2.1 Hubungan antar komponen Pembelajaran

Dalam pelaksanaan pembelajaran, disamping memperhatikan ke 5 komponen dasar di atas ternyata masih harus dipertimbangkan pula lingkungan untuk membentuk situasi yang menyenangkan di dalam pembelajaran. Dan perlu pula memperhatikan dari pelaku belajar (siswa) dan pelaku pembelajaran (guru). Dari sini dapat ditunjukkan ciri-ciri pembelajaran, yaitu:
Adanya tujuan.
Adanya bahan yang sesuai dengan tujuan.
Adanya metode dan media pembelajaran.
Adanya penilaian.
Adanya situasi yang subur.
Adanya guru yang melaksanakan pembelajaran.
Adanya siswa yang melaksanakan belajar.

2.2 Jenis-jenis Pembelajaran
2.2.1 Jenis belajar berdasarkan cara mengorganisasi siswa.
Jenis pembelajaran dapat ditentukan dari cara mengorganisasi siswa ataupun dari pendekatan pembelajarannya. Berdasarkan cara mengorganisasi siswa, ada 3 cara yang dapat dilakukan guru dalam mengelola siswa, supaya pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Tiga cara tersebut adalah:
1. Pembelajaran secara individual.
2. Pembelajaran secara kelompok.
3. Pembelajaran secara klasikal

2.2.1.1 Pembelajaran secara individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan pembelajaran yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Pemberian bantuan dan bimbingan secara individual dapat dilakukan pada pembelajaran individual ataupun pembelajaran klasikal. Pembelajaran individual dalam pembelajaran individual dengan cara guru memberi bantuan pada masing-masing pribadi, sedangkan bantuan individual dalam pembelajaran klasikan dengan cara guru memberi bantuan individu secara umum. Contohnya misalnya siswa diminta untuk membaca dalam hati pada pokok bahasan tertentu.
Tujuan pembelajaran individual adalah:
Memberi kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri.
Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal.
Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual adalah:
Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri.
Kebebasan menggunakan waktu belajar.
Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.
Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar.
Siswa dapat memiliki kesempatan untuk menyusun program belajar sendiri.
Kedudukan guru dalam pembelajaran individual adalah membantu dalam:
Perencanaan kegiatan belajar, dengan cara antara lain membantu menetapkan tujuan belajar, membuat program sesuai dengan kemampuan siswa, merencanakan pelaksanaan belajar, dan membantu siswa untuk melihat kemajuan. Dalam kegiatan ini guru berperanan sebagai penasihat atau pembimbing.
Pengorganisasian kegiatan belajar. Dalam pengorganisasian ini guru berperan sebagai pengatur dan memonitor semua kegiatan dengan cara: (1) memberi orientasi umum sehubungan dengan belajar topik tertentu, (2) membuat variasi belajar supaya tidak menimbulkan kebosanan, (3) mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, dan sumber, (4) membagi perhatian pada sejumlah siswa, menurut tugas dan kebutuhan siswa, (5) memberi balikan terhadap setiap siswa, dan (6) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar.
Penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa bertujuan untuk menimbulkan perasaan bebas dalam belajar. Dilakukan dengan cara antara lain: (1) membuat hubungan akrab dan peka terhadap kebutuhan siswa, (2) mendengarkan secara simpatik terhadap segala ungkapan jiwa siswa, (3) tanggap dan memberi reaksi positip terhadap siswa, (4) membina suasana aman sehingga siswa bebas mengemukakan pendapat.
Fasilitator yang mempermudah belajar, dengan tujuan untuk mempermudah proses belajar. Cara yang dapat dilakukan antara lain: (1) membimbing siswa belajar, (2) menyedia media dan sumber belajar, (3) memberi penguatan belajar, (4) menjadi teman dalam mengevaluasi keberhasilan, (5) memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki diri.
Kelemahan pembelajaran individual adalah:
Bila jumlah siswa banyak maka pembelajaran ini kurang efisien, karena akan melelahkan guru.
Tidak semua bidang studi atau pokok bahasan sesuai diorganisasi dengan pembelajaran ini.
Pembelajaran ini dapat efektif bila:
Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.
Tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti siswa.
Prosedur dan cara kerja dimengerti siswa.
Kriteria keberhasilan dimengerti siswa.
Keberhasilan guru dalam evaluasi dimengerti oleh siswa.

2.2.1.2 Pembelajaran secara kelompok
Pembelajaran kelompok adalah pembelajaran dengan cara kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, antara 3-8 orang. Penekanan pembelajaran ini pada peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok.
Tujuan pembelajaran kelompok adalah:
Memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional.
Mengembangkan sikap sosial dan bergotong royong.
Tiap anggota mempunyai tanggung jawab terhadap kelompok.
Mengembangkan kemampuan memimpin.
Kedudukan siswa dalam kelompok adalah:
Tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok.
Tiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok.
Memiliki rasa saling membutuhkan dan saling tergantung.
Ada interaksi dan komunikasi antar anggota.
Ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok.
Pada peran guru dalam pembelajaran kelompok adalah:
Pembentukan kelompok. Pertimbangan dalam pembentukan kelompok adalah: tujuan yang akan diperoleh siswa dalam kelompok, latar belakang pengalaman siswa, minat atau pusat perhatian siswa.
Perencanaan tugas kelompok. Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah untuk menentukan bentuk tugas. Tugas yang diberikan dalam kelompok ada dua macam, yaitu: (1) dengan paralel, (2) dengan komplementer. Tugas kelompok paralel berarti semua kelompok mempunyai tugas yang sama. Sedangkan tugas komplementer bearti masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda. Tujuannya untuk saling melengkapi dalam pemecahan masalah.
Pelaksanaan. Tugas guru dalam tugas kelompok antara lain: (1) memberi informasi umum tentang pelaksanaan diskusi, (2) saat siswa berdiskusi tugas guru sebagai fasilitator, (3) pada akhir diskusi guru berperanan sebagai evaluator terhadap hasil diskusi.
Evaluasi hasil belajar kelompok.

2.2.1.3 Pembelajaran secara klasikal
Pembelajaran klasikal yaitu pembelajaran yang dilaksnakan secara klasikal atau diikuti siswa dalam jumlah berkisar antara 1- 45 orang. Karena guru harus menghadapi siswa dengan jumlah banyak, maka dalam pembelajaran klasikal diperlukan pelaksanaan dua kegiatan sekaligus, yaitu pengelolaan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Pengelolaan pembelajaran adalah kegiatan untuk melaksanakan desain instruksional, sedangkan pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Sedangkan pengelolaan kelas biasanya dilakukan karena adanya masalah disaat pembelajaran, di mana sumber masalah tersebut antara lain dari kondisi tempat belajar ataupun dari siswa yang terlibat dalam pembelajaran. Contoh sumber masalah dari kondisi tempat belajar misalnya ruang kotor, kursi rusak, papan tulis kotor, dan lain sebaginya. Sedangkan sumber dari siswa dapat secara individu ataupun kelompok.
Kelebihan pembelajaran ini adalah efisien dan murah. Sedangkan kelemahannya adalah kurang dapat memperhatikan kebutuhan individual. Kelemahan ini dapat diatasi dengan memberikan pembelajaraan individual dalam pembelajaran klasikal.
Tindakan pembelajaran kelas antara lain:
Penyususunan desain instruksional.
Melaksanakan tindakan-tindakan antara lain:
Penciptaa tertib belajar di kelas.
Penciptaan suasana senang dalam belajar.
Pemusatan perhatian pada bahan ajar.
Mengikut sertakan siswa aktif belajar.
Pengorganisasian belajar sesuai kondisi siswa.
Untuk memperjelas uraian di atas dapat dipelajarai pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Pengorganisasian Siswa dalam Pembelajaran.

2.2.2 Jenis Pembelajaran berdasarkan Pendekatan
2.2.2.1 Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mementingkan hasil daripada proses perolehan hasil. Untuk itu pendekatan ini terkesan hanya merupakan pemberian informasi, sehingga hasilnya kurang bermakna dan bertahan lama.
Bagaimanapun pendekatan ini masih pula dibutuhkan dalam pembelajaran, karena tidak mungkin semua pokok bahasan dapat digunakan pendekatan keterampilan proses. Hal ini disebabkan karena jenis bahan atau mungkin waktu yang tidak memungkinkan dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses semua. Hanya saja perlu digali bagaimana penerapan pendekatan konsep ini dapat digunakan semaksimal mungkin di dalam pembelajaran.

2.2.2.2 Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang mengembangkan keterampilan memproseskan pemerolehan, sehingga siswa mampu menemukan dan mengembangkan secara bebas dan kreatif fakta dan konsep serta mengaitkannya dengan sikap dan nilai yang diperlukan. Hal ini dapat dilakukan karena pendekatan keterampilan proses dilakukan sebagaimana layaknya ilmuwan menemukan pengetahuan (menggunakan langkah-langkah metode ilmiah), sehingga kevalidannya dapat diandalkan.
Keterampilan proses ini tidak saja mementingkan hasil, tetapi juga memperhatikan proses mendapatkan hasil. Dengan melaksanakan pendekatan ketarmpila proses berarti siswa terlibat seccara aktif dalam kegiatan pengamatan, dan menemukan sendiri konsep dan prinsip, sehingga materi belajar mudah dikuasai oleh siswa. Dengan mengetahui proses diharapkan dapat merangsang daya cipta untuk menemukan sesuatu, dan pada akhirnya dapat membentuk manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang kreatif, mampu memecahkan persoalan-persoalan aktual dalam kehidupan, dan mampu mengambil keputusan yang menjangkau masa depan.
Perkembangan selanjutnya pendekatan keterampilan proses yang perlu di terapkan terutama dalam pembelajaran IPA adalah pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Berikut akan dibicarakan pendekatan STM.

2.2.2.3 Pendekatan Expository
Pada pendekatan expository guru cenderung memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Sedangkan siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru, sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu.

2.2.2.4 Pendekatan Discovery
Discovery atau penemuan adalah proses mental yang dicirikan dengan siswa dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental itu misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan, dan sebaginya.
Inqury atau penyelidikan mengandung proses mental yang lebih tinggi, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan lain sebagainya. Dari sini dapat dilihat bahwa inquiry ini selaras dengan teori belajar yang ditemukan oleh Brunner. Menurut Brunner discovery learning adalah merupakan belajar dengan menemukan sendiri menggunakan prinsip belajar induktif, yaitu dari khusus ke yang umum. Sumber munculnya discovery learning ini adalah teori belajar Piaget, yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas.

2.2.2.5 Pendekatan Humanistik
Suatu pendekatan yang berpusat pada siswa (Student centered). Pendekatan ini mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Hal ini dapat terlaksana apabila kesejahteraan mental dan emosional siswa dipandang sebagai sentral pendidikan. Prioritasnya adalah pengalaman belajar yang diarahkan terhadap tanggapan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa.

2.2.2.6. Pendekatan Rekonstruksionalisme
Suatu pendekatan yang menfokuskan pada masalah-masalah pendting yang dihadapi masyarakat. Untuk itu pendekatan ini juga disebut pendekatan rekonstruksi sosisal. Pendekatan ini dibagi menjadi dua, yaitu:
Rekonstruksionalisme Konservatif
Pendekatan ini ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
Rekonstruksionalisme Radikal
Pendekatan ini mempunyai tujuan untuk menrombak tata sosial yang ada dan membangun struktur sosial baru.

2.3 Tujuan dan Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran
2.3.1 Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang biasanya disebut tujuan instruksional merupakan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran selesai dilakukan. Tujuan instruksional ini dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Tujuan instruksional umum (TIU) telah tersedia di dalam kurikulum, sedangkan tujuan instruksional khusus (TIK) merupakan hasil perencanaan dan perumusan guru, dimana merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum. TIU menggunakan kata kerja yang bersifat umum, dan memuat lebih dari satu pengertian, misalnya mengenal, mengerti, memahami, sehingga sulit diukur keberhasilannya atau dievaluasi. Sedangkan TIK menggunakan kata kerja yang bersifat operasional, dapat dikerjakan, yang memuat hanya satu pengertian, sehingga mudah diukur keberhasilannya atau dievaluasi.
Tujuan instruksional ini sebenarnya merupakan tujuan yang dijabarkan dari tujuan kurikuler. Secara lengkap hierarki tujuan pembelajaran itu adalah sebagai berikut:
Tujuan Pendidikan Nasional.
Tujuan pembelajaran pada jangka panjang sebenarnya akan mencapai pada tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional didasarkan pada falsafah negara atau way of life nya bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Citra tujuan pendidikan nasional adalah terbentuknya manusia pancasila yang utuh dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air melalui pembangunan nasional. Jadi tujuan pendidikan seluruh lembaga pendidikan di Indonesia baik formal maupun non formal mengarah pada tujuan pendidikan nasional tersebut. Dan tujuan pendidikan nasional tersebut akan terwujud dengan dijabarkannya ke dalam tujuan institusional. Atau dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional merupakan pedoman umum bagi pelaksanaan pendidikan dalam jenis dan jenjang pendidikan. Karena merupakan pedoman umum tentu saja dalam pencapaiannya perlu dioperasionalkan lagi supaya terealisasi. Penjabaran tersebut menjadi tujuan institusional.
Tujuan pendidikan nasional ini tercantum dalam Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II, Pasal 4, yang berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tujuan Institusional.
Tujuan institusional merupakan tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat lembaga pendidikan. Keluaran dari lembaga akan tercermin dari tujuan institusional lembaga pendidikan tersebut. Dengan demikian akan dapat segera dibedakan antara Sekolah Tingkat Dasar, Sekolah Tingkat Menengah, dan Perguruan Tinggi. Tingkat Pendidikan Mengah juga masih dapat dibedakan dari pendidikan kejuruan (SMK/Sekolah Menengah Kejuruan) dan pendidikan umum (SMU/Sekolah Menengah Umum). Begitu juga masih dapat dibedakan lagi antara sekolah umum (di bawah Departemen Pendidikan), dan sekolah agama (di bawah naungan Departemen Agama). Misalnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) akan berbeda dengan Sekolah Dasar (SD). Madrasah Tsanawiyah (MTs) akan berbeda dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Madrasah Aliyah (MA) akan berbeda dengan Sekolah Menengah Umum (SMU). Tujuan institusional atau tujuan sekolah ini dapat tercapai dengan dijabarkannya tujuan ini ke tujuan kurikuler.

Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh atau melalui tiap bidang studi. Atau dapat disebut juga tujuan bidang studi, misalnya tujuan sejarah, biologi, kimia, dan lain sebaginya. Tujuan kurikuler ini akan dicapai melalui tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran.

Tujuan Instruksional.
Tujuan instruksional adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan pada tiap pokok bahasan. Selanjutnya akan dibahas lebih rinci di bagian lain pada bab ini juga.
Rangkaian tujuan pembelajarn di atas mengandung harapan apabila rangkaian tujuan instruksional berhasil, maka akan berhasil pula tujuan institusionalnya, yang pada akhirnya akat tercapai tujuan pendidikan nasional.
Secara teoritis memang penjabaran secara struktural tujuan di atas dapat dipertanggungjawabkan, namun pelaksanaannya sangat sulit. Belum tentu pencapaian tujuan instruksional akan diikuti tercapainya tujuan kurikuler, dan seterusnya.
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila di dalam pembelajaran berhasil mencapai dua hasil yang diharapkan dari pembelajaran, yaitu damak pengajaran dan dampak pengiring. Dampak pengajaran adalah hasil yang dapat diukur (tujuan instruksional khusus), dan dampak pengiring, yaitu terapan pengetahuan dan kemampuan di bidang lain. Untuk memberi gambaran tentang dampak pengajaran dan dampak pengiring dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut:
Guru melakukan tugas pembelajaran, dilakukan dengan pengorganisasian siswa, pengolahan pesan, dan evaluasi.
Siswa memiliki motivasi belajar dan beremansipasi sepajang hayat.
Siswa memiliki kemampuan pra belajar.
Berkat tindak pembelajaran ataupun motivasi instrinsik, siswa melakukan kegiatan belajar.
Guru melakukan evaluasi untuk melihat hasil yang dicapai dalam pembelajaran.
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran, dan
Dampak pengiring.

Psikologi Pend.42

Gambar 2.1 Kemampuan yang Dicapai dalam Pembelajaran.

Hasil belajar dapat tercermin melalui dampak pengajaran dan dampak pengiring, apabila dalam pembelajaran memperhatikan ketiga ranah tujuan pembelajaran, yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Ke tiga ranah tersebut harus tercermin dalam tujuan instruksional khusus (TIK) atau tujuan pembelajaran khusus (TPK).

2.3.2 Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran dinamakan unsur-unsur dinamis pembelajaran. Sama halnya dengan unsur dinamis belajar, maka nnsur dinamis pembelajaran juga dapat mendukung (berpengaruh positif) atau sebaliknya menjadi penghambat (berpengaruh negatif). Faktor internal yang berpengaruh dalam proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis misalnya pendengaran, penglihatan, dan kondisi fisik. Sedangkan faktor psikologis, misalnya kecedasan, motivasi, perhatian, berpikir, dan ingatan. Bedanya dengan faktor dinamis belajar di atas adalah internal yang dimaksud di dalam pembelajaran adalah dari segi guru (pelaku pembelajaran).
Faktor eksternal belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lingkungan pembelajar dan sistem instruksional. Lingkungan belajar dapat dibedakan menjadi lingkungan dalam sekolah dan dan lingkungan luar sekolah. Sedangkan sistem instruksional antara lain kurikulum, bahan ajar, metode, media, dan evaluasi. Penjelasannya sama dengan faktor dinamis belajar di atas.

BAB III
PROSES BELAJAR DAN JALUR-JALUR BELAJAR

3.1 Fase-fase dalam Proses Belajar
Proses belajar menunjukkan bahwa dalam belajar memerlukan serangkaian peristiwa yang pada akhirnya akan mendapatkan hasil belajar, yaitu berupa perubahan perilaku baik perilaku kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam serangkaian peristiwa belajar tersebut diperlukan berbagai perangkat supaya proses belajar belajar sesuai dengan yang diharapkan. Perangkat tersebut antara lain: tujuan instruksional, materi belajar, media belajar, metode belajar, dan evaluasi. Selain perangkat tersebut yang tidak kalah pentingnya adalah keadaan awal siswa dan guru yang memodifikasi perangkat belajar di atas.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa belajar merupakan peristiwa internal atau dalam diri individu yang belajar. Namun demikian belajar masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal atau dari luar diri siswa. Untuk memperjelas keterangan tentang proses belajar akan digambarkan proses belajar beserta fase-fasenya.

3.1.1 Proses Belajar menurut Daur S-O-R
Proses belajar menurut daur S-O-R dikatakan bahwa belajar dimulai dari peristiwa penerimaan input informasi melalui reseptor atau panca indera, untuk disimpan dalam memory. Selanjutnya akan akan diteruskan pada proses pengolahan informasi.
Pengolahan adalah suatu peristiwa mengolah informasi yang diterima untuk mengubah informasi ke dalam bahasanya sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam penyimpanan dan mencari data kembali bila diperlukan. Sesuatu informasi yang sudah diubah menjadi bahasanya sendiri, maka informasi tersebut akan menjadi milik pribadi. Dengan demikian bila informasi tersebut dibutuhkan, dengan mudah akan dapat diprodukasi.
Langkah selanjutnya adalah proses untuk mengekspresikan hasil pengolahan informasi. Proses ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi setelah mengalami proses belajar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema di bawah ini.
O2

R
e
r
S

Di mana: S = Stimulus (informasi)
O = Peserta didik (siswa)
R = Respons
W = Komponen guru
R = Reseptor
e = Ekspresi
Keterangan:
Tahap 1 = S – r – Ow (fase penerimaan input informasi)
Pada fase ini informasi disimpan dalam memory.
Tahap 2 = Ow (fase pengolahan informasi)
Pada fase ini informasi diolah ke dalam bahasanya sendiri.
Tahap 3 = Ow – e – R (fase ekspresi hasil pengolahan informasi).

3.1.2 Proses Belajar menurut Daur What-Whay-How
Proses belajar menurut daur what-Whay-How mengatakan bahwa belajar dimulai bila siswa merasakan adanya suatu kebutuhan. Dengan adanya kebutuhan siswa mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. Selanjutnya siswa akan berperilaku tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Peristiwa ini yang dinamakan belajar.
Selanjutnya siswa mencoba melakukan cara-cara atau pola sambutan yang telah diketahui dan dipilihnya dalam praktek. Proses ini untuk melihat perubahan tingkah laku setelah belajar. Dalam proses ini ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu gagal dan berhasil. Gagal berarti tujuan tidak tercapai, dan yang berhasil bearti tujuan tercapai. Dan yang berhasil ini dinamakan intensif, karena perubahan yang terjadi sesuai dengan tujuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam skema berikut ini:

Tahap I

Kebutuhan
Tahap III

Praktek Belajar
Thap II

Motivasi Belajar

Keterangan:
Tahap 1 = Fase dimana siswa merasa adanya kebutuhan.
Tahap 2 = Menciptakan situasi yang dapat menimbulkan kebutuhan, untuk
Memperoleh kecakapan/keterampilan.
Tahap 3 = Siswa mencoba melakukan cara-cara atau pola-pola sambutan yang telah
diketahui dan dipilihnya dalam praktek.

3.1.3 Proses Belajar menurut Pengolahan Informasi
Proses belajar menurut teori peroleh informasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses belajar dalam diri seseorang atau internal, dan proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor luar atau eksternal. Proses belajar dalam diri individu dialami melalui fase-fase yang panjang. Fase-fase tersebut mengandaikan sejumlah satuan-satuan struktural yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu.

Fas-fase proses belajar yang internal adalah sebagai berikut:
Proses belajar dimulai dari penerimaan informasi dari lingkungan yang diterima oleh receptor atau alat-alat indera. Di dalam receptor ini informasi diolah atau diubah menjadi rangsang sistem urat syaraf (neural). Rangsang itu selanjutnya disalurkan melalui urat syaraf sebagai masukan bagi satuan struktural sensory register.
Masukan dari reseptor ditampung dalam sensory register (pusat penampungan sementara). Di sini informasi hanya tinggal dalam waktu singkat. Informasi ditampung dandiseleksi untuk dicari informasi yang diperlukan. Informasi yang dirasa tidak diperlukan akan dibuang. Sedangkan yang diperlukan akan dibentuk menjadi pola kebulatan perseptual. Pola kebulatan perseptual masuk pada short-term-memory.
Pola perseptual yang masuk di short-term-memory = STM (ingatan jangka pendek), akan ditampung, disimpan, dan dicari maknanya, sehingga terbentuk perseptual yang sudah terorganisasi. Pengolahan yang terjadi pada fase ini memerlukan waktu yang singkat, yaitu kurang lebih 20 menit. Artinya informasi yang tidak segera diolah akan terdesak ke luar dari LTM, karena ada informasi lain yang masuk ke STM. Daya tampung pada fase ini sangat terbatas. Hasil pengolahan dari STM ini masuk ke LTM.
Hasil pengolahan dari STM ditampung di Long-term-memory = LTM (ingatan jangka waktu lama), di mana daya tampungnya tidak terbatas. Proses yang terjadi di LTM ini adalah: Menampung hasil pengolahan informasi dari STM, disimpan sebagai informasi siap pakai. Apabila informasi dibutuhkan, maka akan digali dari LTM ini. Penggalian tersebut akan terjadi dua kemungkinan, yaitu berhasil ditemukan atau gagal. Bila berhasil ditemukan proses selanjtnya akan dikirim ke receptor generator. Tetapi apabila tidak berhasil ditemukan dapat dibantu dengan mengirimkan kembali ke STM untuk digabung dengan informasi baru dengan maksud akan dapat menggali informasi yang dicari. Penggalian informasi di LTM selain untuk keperluan reproduksi (mencari informasi), juga digunakan untuk membentuk informasi baru dengan cara dikirim ke STM untuk digabung informasi yang baru.
Informasi yang berhasil digali dari LTM masuk ke respons generator (pusat perencanaan reaksi/jawaban). Proses yang terjadi di sini adalah: menampung informasi yang digali dari LTM, mengubah menjadi rencana jawaban/reaksi. Selanjutnya dikirim ke effector.
Rencana jawaban dari respons generator ditampung di effector (pusat-pusat pelaksanaan). Proses yang terjadi di sini adalah: menampung hasil perencanaan, melaksanakan bentuk tindakan/perbuatan. Selanjutnya perbuatan tersebut akan lebih baik apabila ada umpan balik hasil atau prestasi.

Secara lengkap fase-fase belajar secara internal dari proses belajar dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.1 Fase-fase Belajar (Internal)

Satuan Struktural Proses yang Terjadi
1. Receptor Menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsangan natural.
2. Sensory register Menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perseptual.
3. Short-term memory Menampung pengolahan perseptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan lebih lama dan diolah untuk menemukan maknanya.
4. Long-term-memory Menampung hasil pengolahan yang berada di STM dan menyimpannya sebagai informasi yang siap pakai pada saat dibutuhkan. Informasi dapat dikembalikan ke STM atau langsung diteruskan ke pusat perencanaan reaksi/jawaban.
5. Respons generator Menampung informasi yang tersimpan dalam LTM dan mengubahnya menjadi rencana reaksi/jawaban.
6. Effector Menampung hasil perencanaan dan melaksanakan rencana dalam bentuk tindakan atau perbuatan. Diberikan prestasi yang menampakkan hasil belajar.

Subjek mendapat umpan balik melalui balik melalui observasi terhadap efek tindakannya atau melalui komentar dari orang lain.

Fase-fase belajar dalam diri individu di atas sebenarnya masih dipengaruhi dari lingkungannya atau faktor eksternal. Pengaruh faktor eksternal dalam fase-fase belajar internal dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Pada fase penerimaan informasi, faktor eksternal berpengaruh memberikan rangsangan supaya penerimaan informasi tersebut maksimal. Misalnya dengan rangsangan yang kuat atau tidak terduga, dapat menyebabkan alat indera lebih siap megamati apa yang terjadi. Contoh suara keras, nada naik turun, warna yang mencolok, dan lain sebagainya.
Pada fase penyeleksian informasi faktor eksternal dapat mempengaruhi dengan memberikan tekanan pada rangsangan-rangsangan yang diperlukan atau yang penting. Misal dengan nada suara yang berbeda, bila tulisan mungkin dapat dengan huruf yang berbeda, bila tulisan mungkin dapat dengan huruf yang berbeda, contoh cetak miring atau tebal, dan lain sebagainya.
Pada fase pengolahan informasi faktor eksternal dapat mempengaruhi dengan membantu mempermudah pengolahan data. Misalnya data yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar, skema, dan lain sebagainya.
Pada fase penyimpanan di LTM belum jelas betul fungsi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pada fase ini. Namun demikian untuk menggali informasi pada fase ini faktor eksternal sangat berpengaruh dalam pencarian informasi yang diperlukan. Misalnya dengan memberikan rangsangan informasi baru yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan. Pada fase ini informasi yang berhasil digali dengan perangsang-perangsang tertentu dari faktor-faktor perangsang untuk menjadi informasi yang dibutuhkan.
Pada fase perencanaan jawaban faktor eksternal dapat mempengaruhi dengan memberi pertanyaan pelacak atau memberi contoh-contoh yang berhubungan dengan rencana jawaban.
Fase selanjutnya dari faktor eksternal untuk mempertinggi pemrosesan informasi internal dapat dengan pemberian prestasi, motivasi, dan juga umpan balik.
Untuk memperjelas fase-fase pemrosesan belajar secara keseluruhan dapat dijelaskan pada Tabel 3.2 berikut ini:

Tabel 3.2 Fase-fase Proses Belajar (Internal dan Eksternal)

Fase Proses yang Terjadi
1. Fase Motivasi Siswa sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia melibatkan diri.
2. Fase Konsentrasi Siswa khusus memperhatikan unsur-unsur yang relevan, sehingga terbentuk pola perseptual tertentu.
3. Fase Mengolah Siswa menahan informasi dalam STM dan mengolah informasi untuk diambil maknanya.
4. Fase Menyimpan Siswa menyimpan informasi yang telah diolah dalam LTM. Informasi dimasukkan ke dalam ingatan. Hasil belajar sudah diperoleh, sebagian atau seluruhnya.
5. Fase Menggali 1 Siswa menggali informasi yang tersimpan dalam ingatan dan memasukkannya kembali ke dalam STM. Informasi ini dikaitkan dengan informasi baru atau dikaitkan dengan sesuatu di luar lingkup bidang studi yang bersangkutan
6. Fase Menggali 2 Siswa menggali informasi yang tersimpan dalam LTM dan mempersiapkannya sebagai masukan bagi fase prestasi. Langsung atau melalui STM.
7. Fase Prestasi Informasi yang tergali digunakan untuk memberikan prestasi yang menampakkan hasil belajar.
8. Fase Umpan Balik Siswa mendapat konfirmasi, sejauh prestasinya tepat.

Tabel 3.2 menunjukkan pentingnya kesiapan individu dalam memproses informasi. Di sana juga diperlihatkan adanya pengaruh yang tidak kecil dari faktor eksternal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemrosesan informasi diperlukan fase-fase tertentu, di mana masing-masing fase dipengaruhi faktor internal dan juga faktor eksternal.

3.2 Jalur-jalur Belajar
Jalur belajar menunjukkan pada jenis belajar tertentu, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap jalur belajar akan membentuk suatu proses belajar, dan proses belajar menunjuk pada serangakaian fase-fase belajar. Fase-fase belajar secara umum adalah sama pada setiap jalur belajar seperti yang telah dijelaskan pada sub bab proses belajar di atas (sub bab 3.1). Namun mengingat adanya ciri-ciri khas dari setiap jalur belajar, maka akan nampak perbedaan penekanan yang harus diberikan pada fase-fase tertentu dari setiap jalur belajar.
Untuk memperjelas fase-fase setiap jalur belajar, pada sub bab ini akan dibahas tentang jalur belajar menurut pandangan Gagne, yaitu: (1) Jalur belajar verbal, (2) Jalur belajar kemahiran intelektual, (3) Jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif, (4) Jalur belajar sikap, (5) Jalur belajar motorik. Berkaitan dengan jalur belajar tersebut maka menurut R. Gagne taksonomi tujuan adalah: (1) tujuan informasi verbal, (2) tujuan keterampilan intelektual, (3) tujuan strategi kognitif, (4) tujuan sikap, dan (5) tujuan motorik. Secara ringkas ke lima tujuan tersebut dapat dibedakan sebagaimana tertera pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Taksonomi Tujuan menurut Gagne

No. Taksonomi Tujuan Pencapaian Tujuan
1. Informasi Verbal Kemampuan menyimpan sesuatu: nama, macam, jenis, dll. Saat lain dapat di recall
2. Keterampilan Intelektual Penggunaan simbol dalam melakukan interaksi, mengorganisir, membentuk arti, huruf, angka, simbol dasar.
3. Strategi Kognitif Kemampuan untuk berfikir, mengingat, dan belajar.
4. Sikap Kepemilikan kondisi mental perilaku tertentu.
5. Motorik Kemampuan untuk melakukan gerakan tubuh.

3.2.1 Jalur Belajar Verbal
Jalur belajar verbal akan mendapatkan hasil belajar berupa pengetahuan dan akan menuangkan pengetahuan tersebut dalam bahasa, sehingga dapat dikomunikasikan pada orang lain. Bila disejajarkan dengan jenis belajar di bab 1, maka jalur belajar di sini bisa masuk pada jenis belajar fakta ataupun konsep, karena yang dihadapi ada yang berupa fakta ataupun konsep. Namun cenderung ke arah fakta, karena lebih banyak fakta dibandingkan konsepnya.
Seperti halnya pada jenis belajar fakta di bab 1, maka untuk mengurangi sulitnya menghafal banyak fakta yang akan diwujudkan dalam daftar kata-kata, maka untuk mengurangi keterbatasan jalur belajar informasi verbal diperlukan cara untuk mengatasinya, antara lain:
Mempelajari daftar kata-kata itu secara berulang-ulang, lebih-lebih pada padanan kata yang agak mirip.
Membuat siasat untuk mengakarkan padanan kata dalam ingatan, misalnya dengan jembatan keledai, atau bentuk organisasi. Bentuk organisasi ini bisa dengan cara mengelompokkan atau mencari kaitan dengan data yang sudah diketahui. Misalnya: untuk menghafal nomer telpon yang cukup panjang akan sulit, maka perlu diorganisasi dengan memisah menjadi beberapa kelompok. Contoh: No. 08123382579, dapat dipisah menjadi 4 kelompok, yaitu: 0812. 33. 815. 79. Fase ini akan diolah dalam ingatan jangka pedek (STM), sehingga bantuan guru sangat berpengaruh untuk pematangan data dan fakta agar dapat disimpan dalam ingatan jangka panjang.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam belajar informasi verbal masih diperlukan hasil dari belajar kemahiran (konsep, kaidah) dan belajar pengaturan kognitif (kontrol mental). Hal ini ditunjukkan perlunya kebermaknaan dalam belajar informasi verbal. Secara lengkap fase-fase tersebut dapat ditunjukkan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Fase-fase dalam Jalur Belajar Informasi Verbal

No. Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Motivasi

Mengolah

Menggali

Prestasi Dengan mau mempelajari banyak kata-kata atau fakta.

Diulang-ulang, dicari maknanya, dalam menemukan konsep atau kaidah
Berperanan sekali bila fakta yang telah dihafal, dimasukkan ke dalam LTM untuk dipelajari kembali (review) atau dihubungkan dengan fakta baru. Dengan demikian, working memory memegang peranan penting dalam belajar informasi verbal.
Mengambil wujud menuangkan informasi yang dimiliki dalam perumusan verbal yang tepat, sehingga orang lain dapat menangkapnya dengan jelas. Memotivasi untuk mau mempelajari banyak kata-kata atau fakta.
Teknik pembelajaran yang tepat dalam pengulangan dan pencarian makna.
Pengaturan waktu dan cara pengulangan kata-kata yang sedang dipelajari. Atau untuk menggali fakta yang telah disimpan di LTM untuk memasukkan kembali ke STM dengan mengajukan pertanyaan.

Mengajukan pertanyaan yang menuntun.

3.2.2 Jalur Belajar Kemahiran Intelektual
Menurut Gagne yang termasuk kategori hasil belajar kemahiran intelektual adalah persep, konsep, kaidah, dan prinsip. Ke empatnya menunjukkan suatu urutan hierarkis. Persep merupakan kemampuan untuk mengadakan diskriminasi antara objek-objek berdasarkan ciri-ciri fisik yang berbeda-beda, sedangkan konsep merupakan kemampuan untuk mengadakan generalisasi dengan mengelompokkan objek-objek satu atau lebih ciri yang sama. Kaidah merupakan kemampuan untuk menghubungkan beberapa konsep, sehingga membentuk suatu pemahaman baru yang mewakili kenyataan yang selalu demikian, sedangkan prinsip merupakan kemampuan untuk menggabung beberapa kaidah, sehingga tercipta pemahaman yang lebih tinggi, yang membantu dalam memecahkan masalah atau problem.

3.2.2.1 Belajar Persep
Belajar persep penekanan pada fase konsentrasi, pengolahan, prestasi, dan umpan balik. Pada fase konsentrasi merupakan fase dimana akan ada wujud mengamati melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Pda fase pengolahan perlu mendapat tekanan, karena dalam fase ini ditentukan apakah sesuatu berbeda atau sama dengan yang lain dan perbedaan/persamaan itu menyangkut ciri fisik apa. Sejumlah ciri fisik yang khas pada suatu objek, dikombinasikan dalam pola perseptual tertentu (persepsi). Fase prestasi adalah mengambil wujud suatu perbuatan, seperti menunjuk jari atau memakai beberapa kata untuk menyatakan sama atau beda. Sedangkan fase umpan balik cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap diskriminasi yang telah dibuat. Peranan internal dan eksternal pada masing-masing fase dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Fase-fase dalam Jalur Belajar Persep

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Konsentrasi

Mengolah

Prestasi

Umpan balik

Mencatat ciri-ciri fisik secara seksama.Syarat siswa harus memiliki peralatan indera yang normal, mampu mengamati perbedaan-perbedaan fisik.
Mengolah dengan teliti supaya berlangsung persepsi yang tepat.

Harus mampu menyatakan dengan salah satu cara bahwa ini dan itu berbeda.

Siswa perlu mengetahui apakah diskriminasi yang telah dibuatnya tepat atau tidak. Diskriminasi yang tepat menjadi unsur dalam diskriminasi yang lebih kompleks. Penyajian untuk membedakan ciri-ciri fisik, misal gambar menonjolkan ciri-ciri khas dari benda yang tergambar.
Memberi penekanan (Ciri-ciri fisik yang mirip sebaikknya ditunjukkan beberapa kali, sehingga perbedaannya dapat diamati secara seksama).
Memberi petunjuk tentang cara menyatakan perbedaan yang telah diamatinya, apakah harus dengan cara menunjukkan, memberikan tanda atau dengan cara menggunakan kata-kata.
Memberi petunjuk bahwa diskriminasi yang dibuat tepat.

3.2.2.2 Belajar Konsep
Konsep dibedakan menjadi dua, yaitu konsep konkret, dan konsep yang didefinisikan. Dasar pembentukan konsep konkrit adalah ciri-ciri fisik yang dapat diamati dalam lingkungan fisik. Jadi belajar konsep ini menuntuk kemampuan untuk menemukan ciri-ciri yang sama pada sejumlah objek. Sedangkan konsep yang didefinisikan didasarkan atas sejumlah objek yang tidak bersumber pada kesamaan dalam ciri-ciri fisik. Sehingga kesamaan itu tidak dapat diamati langsung.
Pada belajar konsep konkret fase-fase belajar yang perlu diberi penekanan adalah fase konsentrasi, fase mengolah, fase prestasi, dan fase umpan balik. Sedangkan pada belajar konsep yang didefinisikan tekanan yang harus diberikan pada fase motivasi, pengolahan, prestasi, dan umpan balik.
Fase konsentrasi pada belajar konsep konkret dibutuhkan dalam mengamati ciri-ciri fisik yang perlu dibeda-bedakan. Pada fase mengolah dilakukan dengan mengambil bersama-sama ciri-ciri fisik yang sama, dan pada fase prestasi siswa membuktikan bahwa dia sudah memiliki konsep yang dipelajari dengan menunjukkan atau memisah-misahkan, sering disertai pula dengan menyebutkan nama untuk konsep itu. Dan fase konfermasi cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap penggolongan yang telah dibuat. Peranan faktor internal dan eksternal pada belajar konsep konkrit ini disajikan pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Fase-fase dalam Jalur Belajar Konsep Konkrit

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Konsentrasi

Mengolah

Prestasi

Umpan balik

Kemampuan untuk
Mendiskriminasikan secara
Cermat dan kemampuan untuk mengadakan abstraksi.
Sehingga perlu juga motivasi.

Informasi verbal yang diperoleh atau informasi verbal yang digali dari ingatan membantu siswa dalam pembuatan konsep

Menunjukkan atau memisah-misahkan, dan menyebutkan nama konsep.

Menggunakannya konsep yang tepat dan membuang konsep yang kurang tepat Kejelasan dalam ciri-ciri fisik pada objek-objek yang harus dikelompokkan.

Disajikan objek-objek yang bervariasi banyak. Menyebutkan nama konsep yang ditemukan dan membantu dalam
membahaskan ciri-ciri fisik yang relevan.

Petunjuk tentang cara
memberikan prestasi

Menunjukkan tepat dan
tidaknya prestasi

Dalam belajar konsep yang didefinisikan, siswa menghadapi suatu tantangan khusus, karena ciri-ciri atau sifat-sifat yang sama, tidak dapat ditemukan hanya melalui pengamatan. Tetapi dapat diperoleh melalui membaca penjelasan dalam bentuk bahasa tertulis, atau mendengarkan penjelasan dalam bentuk bahasa lisan. Untuk fase motivasi sangat cukup berperanan, karena dalam belajar semacam ini, ciri-ciri yang sama tidak dapat ditemukan melalui pengamatan. Pada fase pengolahan konsep-konsep yang menjadi kmponen digali dari LTM untuk dimasukkan ke STM. Pada fase prestasi siswa mengemukakan definisi atau menunjukkan pada skema dan diagram, satu atau lebih bagian yang mencerminkan konsep yang bersangkutan. Dan fase umpan balik cukup berperanan sebagai konfirmasi terhadap penggolongan yang telah dibuat. Peranan faktor internal dan eksternal pada belajar konsep konkrit ini disajikan pada Tabel 3.7.

Tabel 3.7 Fase-fase dalam Jalur Belajar Konsep yang Didefinisikan

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Motivasi

Mengolah

Prestasi

Umpan balik

Siswa termotivasi untuk mencari ciri-ciri yang sama melalui membaca atau
Mendengarkan penjelasan.
Sehingga konsentrasi juga
Diperlukan.

Mempunyai kemampuan untuk memahami konsep-konsep yang menjadi komponen dalam definisi. Dapat menuangkan konsep yang dipelajari dalam bentuk skema atau diagram.

Kemampuan dalam
Pembahsanan yang tepat dapat meyakinkan orang lain, bahwa konsep yang dituju sudah
Dimiliki.

Konfirmasi mengenai tepatnya prestasi, memberikan keyakinan kepada siswa bahwa usahanya, yang bersumber pada motivasi yang kuat tidak bercuma. Memberi motivasi supaya siswa memungkinkan untuk membaca dan mendengarkan penjelasan.

Cara mendifinisikan dan
menyajikan konsep, misalnya dengan skema, diagram, bagan, atau gambar. Pembahasan harus cukup baik.

Petunjuk tentang cara
memberikan prestasi.

Tepat dan tidaknya prestasi akan bermanfaat bagi siswa.

3.2.2.3 Belajar Kaidah dan Prinsip
Belajar kaidah dibicarakan dalam satu sub bab yang sama, sebab prinsip dipandang sebagai kaidah yang bertaraf lebih tinggi, sehingga fase-fase belajarnyapun tidak jauh berbeda. Belajar kaidah menuntut kemampuan untuk menunjukkan suatu keteraturan yang mencakup sejumlah golongan objek. Pada belajar kaidah ini diharapkan dapat mengurutkan sejumlah langkah operasional terhadap lambang-lambang. Dalam suatu kaidah aktivitas berpikir seolah-olah diatur, dijalurkan, dan disalurkan, sehingga orang memiliki sejumlah ketentuan prosedural yang dapat diterapkan, dengan menggunakan pola pengetahuan prosedural pengalaman pola. Kemampuan untuk mengenal pola baru atau mengenal kembali pola lama membantu sekali dalam melakukan operasi-operasi tertentu secara terencana dan teratur.
Belajar prinsip menuntut kemampuan untuk menggabungkan beberapa kaidah sampai dapat terjadi kombinasi yang cukup kompleks. Prinsip-prinsip itu sering ditemukan sebagai dasar untuk memecahkan problem atau masalah tertentu dan kemudian disimpan dalam LTM untuk digunakan dalam memecahkan problem-problem sejenis di kemudian hari.
Proses belajar kaidah, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan proses belajar konsep yang didefinisikan, karena juga berlangsung melalui membaca atau mendengarkan penjelasan verbal dan juga membutuhkan pemahaman dari konsep-konsep yang menjadi komponen dalam kaidah. Tekanan yang harus diberikan pada fase proses belajar juga sama dengan fase-fase dalam proses belajar konsep yang didefinisikan. Yang membedakan adalah penekanan pada fase konsentrasi untuk belajar kaidah diperlukan pengamatan langsung dalam memecahkan problem. Dimana hal ini belum diperlukan sekali pada belajar konsep yang didefinisikan.
Peranan faktor internal dan eksternal pada belajar kaidah tidak jauh berbeda dengan belajar konsep yang didefinisikan. Bedanya pada faktor eksternal untuk belajar kaidah diperlukan adanya komunikasi verbal (learning guidance) sebagai tuntunan. Tuntunan itu bisa sedikit atau banyak. Kalau sedikit berarti siswa sendiri yang harus menemukan kaidah, menyusunnya, dan juga membahasnya, yang dinamakan discovery learning. Sedangkan kalau banyak berarti siswa dituntun langkah demi langkah, sampai memahami kaidah, yang disebut expository teaching. Biasanya penerapan di dunia pendidikan adalah dengan memadukan keduanya, yang dikenal dengan guided discovery learning.
Peranan faktor internal dan eksternal pada belajar prinsip juga tidak jauh berbeda dengan belajar konsep yang didefinisikan. Letak perbedaannya adalah informasi verbal menjadi penunjang pada belajar prinsip. Maksudnya jumlah pengetahuan fakta yang dimiliki siswa mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi, akan membantu siswa dalam menemukan prinsip yang relevan.

3.2.3 Jalur Belajar Pengaturan Kegiatan Kognitif.
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran yang terorganisasi dengan baik, dimana orang mempunyai kemampuan untuk memusatkan perhatian, menggali ingatan, berfikir, menggunakan pengetahuan yang dimiliki, terutama dalam menghadapi problem atau masalah. Sasaran dari belajar ini adalah sistematisasi atas pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri sendiri.
Tujuan-tujuan instruksional kognitif sering mengandung sasaran supaya siswa belajar berpikir. Secara instrinsik belajar berpikir ini dipengaruhi oleh taraf kemampuan belajar yang dimiliki siswa, termasuk di dalamnya taraf intelegensi. Sedangkan faktor eksternal yang menunjang belajar semacam ini biasanya terbatas pada memberikan kesempatan untuk memecahkan berbagai problem. Artinya masing-masing siswa akan memiliki cara pemecahan problem sendiri-sendiri, walau guru memberikan beberpa petunjuk cara pemecahan problem tersebut, karena yang akan berpikir adalah siswa sendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diramalkan peranan masing-masing fase belajar dalam mengatur jalur belajar kognitif ini yang dapat dilihat pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8 Fase-fase dalam Jalur Belajar Kognitif

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Motivasi

Konsentrasi

Pengolahan

Umpan balik

Siswa harus mempunyai motivasi, karena siswa harus berupaya memeras otaknya sendiri. Kalau motivasi siswa tidak tinggi, siswa akan cenderung membiarkan problem menjadi problem.

Siswa harus konsentrasi penuh dalam mengatasi problem. Hal ini harus dilakukan siswa dengan pengamatan secara cermat, perhatian terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam problem yang akan dipecahkan.

Siswa harus menggali dari ingatan siasat-siasat yang pernah digunakannya, mana yang cocok untuk problem ini. Kalau tidak tersedia siasat dalam ingatan, siswa harus menciptakan siasat baru yang membutuhkan pikiran kreatif, paling tidak pikiran terarah.

Siswa mendapat konfirmasi tentang tepat tidaknya penyelesaian yang ditemukannya, konfirmasi ini dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi siswa untuk berusaha memeras otak lagi pada lain kesempatan. Memberi motivasi supaya siswa memungkinkan untuk mau dan dapat memecahkan problem.

Memberi kesempatan untuk memecahkan suatu problem dengan siasat tertentu.

Memberi petunjuk siasat

Memberi konfermasi tentang tepat dan tidaknya siswa memecahkan problem.

Untuk mencapai ke arah pemecahan problem, hierarki tujuan kognitif dapat digambarkan pada Tabel 3.9, sebagaimana yang dituturkan oleh B. Bloom.

Tabel 3.9 Taksonomi Tujuan Kognitif menurut B. Bloom

No. Aspek Tujuan yang Dicapai
1.

2.

3.

4.

5.

6. Pengetahuan

Pemahaman

Penerapan

Analisis

Sintesis

Evaluasi Mengidentifikasikan, memilih, menyebutkan.

Membedakan, menyelaraskan, memperkirakan,
menyimpulkan, merangkum.

Menghitung, mengembangkan, menggunakan,
memodifikasi, mentransfer.

Membuat diagram, membedakan, menghubungkan,
menjabarkan ke dalam bagian-bagian

Menciptakan, mendesain, menformulasikan, membuat
predikasi.

Membuat kritik, membuat penilaian, membandingkan, membuat evaluasi.

3.2.4 Jalur Belajar Sikap
Belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu objek. Penerimaan atau penolakan tersebut didasari atas penilaian terhadap objek tersebut, yaitu berguna/berharga (sikap positif) atau tidak berharga/berguna (sikap negatif). Atau dapat dikatakan sikap atau afektif menyangkut perasaan, misalnya perasaan senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, gembira atau tidak gembira, dan lain sebagainya. Sikap biasanya didahului oleh aspek kognitif, dan konatif.
Perkembangan kognitif meliputi peningkatan pengetahuan serta pemahaman yang sering disebut perkembangan intelektual. Sedangkan perkembangan konatif meliputi penghayatan berbagai kebutuhan, baik psikologis, maupun psikologis dan penentuan diri sebagai makhluk yang bebas dan rasional.
Contoh dari rangkaian perkembangan tersebut adalah seseorang mau bersikap menerima tumbuhan obat sebagai pengobatan menuju kesehatan keluarga mandiri apabila dia telah memiliki serangkaian pengetahuan tentang tumbuhan obat. Selanjutnya dia akan menghayati betapa pentingnya tumbuhan obat sebagai pengobatan mandiri. Dan akhirnya dia akan mempunyai sikap menerima tumbuhan obat sebagai pengobatan mandiri.
Penerapan belajar sikap ini melalui fase-fase belajar yang penting, yaitu fase motivasi, konsentrasi, pengolahan, dan umpan balik. Pada fase motivasi mempunyai harapan siswa akan mempunyai keinginan belajar tertentu, hal ini bisa terjadi dengan pengkondisian. Pada fase konsentrasi ditekankan dengan adanya model yang diidolakan oleh seseorang. Dalam hal idola akan dijadikan model dia bersikap atau digunakan sebagai contoh. Fase pengolahan memahami penjelasan verbal yang disertai contoh atau teladan yang diberikan oleh model. Dan fase umpan balik siswa mendapat konfirmasi mengenai perbuatan dan perkataannya yang mencerminkan suatu sikap positif. Peranan faktor internal dan eksternal pada masing-masing fase belajar sikap dapat dilihat pada Tabel 3.10.

Tabel 3.10 Fase-fase dalam Jalur Belajar Sikap

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4. Motivasi

Konsentrasi

Pengolahan

Umpan balik

Siswa termotivasi untuk bersikap terhadap sesuatu hal. Misalnya melihat sesuatu yang menyenangkan. Juga dipenga ruhi kemampuan kognitif siswa

Belajar dari model (idola).

Kemampuan siswa untuk mencerna penjelasan verbal model dan contoh-contoh sikapnya. Kemampuan kognitif siswa sangat berpengaruh

Konfirmasi sikap yang positif berfungsi sebagai penguatan siswa.

Memberi motivasi supaya siswa memungkinkan untuk bersikap sesuai dengan tujuan. Menggali dari kemampuan kognitif siswa.

Guru bertindak sebagai model sesuai dari sikap yang diharap kan.

Kejelasan dalam menyampaikan uraian verbal dan teladan (contoh).

Memberikan penekanan pada sikap positif siswa sebagai penguatan.

Menurut Krathwohl taksonomi tujuan afektif atau sikap adalah sebagai tercantum pada Tabel 3.11.

Tabel 3.11 Taksonomi Tujuan Afektif menurut Krathwohl

No. Aspek Tujuan yang Dicapai
1.

2.

3.

4.

5. Pengenalan

Pemberian Respon

Penghargaan terhadap nilai

Pengorganisasian Sosial

Mengamankan
Mendengarkan, menghadiri, melihat, memperhatikan.

Mengikuti, mendiskusikan, berlatih, berpartisipasi,
mematuhi.

Memilih, meyakinkan, bertindak, mengemukakan
argumentasi.

Memilih, memutuskan, menformulasikan,
membandingkan, membuat sistematisasi.

Menunjukkan sikap, mendemonstrasikan, menghindari

3.2.5 Jalur Belajar Motorik
Belajar keterampilan motorik menuntut kemampuan untuk merangkaikan sejumlah gerak-gerik jasmani, sampai menjadi suatu keseluruhan yang dilakukan dengan alami atau luwes, tanpa memikirkan lagi secara detail apa yang dilakukan dan mengapa dilakukan begini begitu. Hal ini dapat terjadi dengan dukungan jalur belajar yang lain, seperti jalur belajar verbal, kemahiran intelektual, kognitif, dan sikap. Artinya jalur belajar motorik sangat dipengaruhi oleh hasil jalur-jalurbelajar yang lain. Dengan demikian secara garis besar jalur belajar motorik terdiri dari dua fase, yaitu: (1) Fase kognitif, dan (2) Fase fiksasi.
Fase kognitif adalah bentuk pengetahuan deklaratif mengenai urutan langkah-langkah operasional atau urutan gerak-gerik yang harus dibuat. Sedangkan fase fiksasi merupakan rangkaian gerak-gerik yang mulai dilaksanakan secara pelan-pelan dahulu, dengan dituntun oleh pengetahuan prosedural, sampai semua gerakan mulai berlangsung lebih lancar dan akhirnya keseluruhan uratan gerak-gerik berjalan sangat lancar dan otomatis.
Untuk mencapai itu dapat ditunjukkan pada pencapaian tujuan secara urut yang dapat dlilihat pada hierarki tujuan motorik pada Tabel 3.12.

Tabel 3.12 Taksonomi Tujuan Psikomotor menurut Harlow

No. Aspek Tujuan yang Dicapai
1.

2.

3.

4.

5. Immitation
Peniruan (menirukan gerak)

Manipulation
Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)

Presicion
Ketepatan (melakukan gerak dengan tepat)

Arculation
Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)

Naturalisasi
Melakukan gerak secara wajar.
Mengulangi, mengikuti, memegang, menggambar, mengucapkan.

Sama dengan atas, tapi diberi instruksi tertulis atau verbal

Dengan tepat, dengan lancar tanpa kesalahan.

Membuat selaras, terkoordinasi, stabil, lancar.

Dengan otomatis, dengan sempurna, dengan lancar.

Peranan dan wujud dalam belajar keterampilan motorik dapat dilihat pada tekanan fase-fase belajar jalur motorik Tabel 3.13.

Tabel 3.13 Fase-fase dalam Jalur Belajar Motorik

No Fase Internal Eksternal
1.

2.

3.

4.

5. Motivasi

Konsentrasi

Pengolahan

Menggali

Umpan balik

Siswa harus termotivasi untuk untuk melakukan gerak-gerik, lebih-lebih bila keterampilan yang dipelajari membutuhkan usaha kontinyu dan banyak waktu latihan.

Berperan dalam belajar keterampilan yang menuntut pengamatan terhadap lingkungan untuk menentukan posisi badan.

Mempelajari prosedur yang harus diikuti dan melatih diri, baik sub keterampilan maupun keseluruhan rangkaian gerak-gerik, disertai koordinasi. Fase ini memegang peranan pokok.

Menggali program mental yang tersimpan dalam LTM (dari ingatan). Diperkirakan program mental ini langsung menjadi masukan bagi fase prestasidan tidak disalurkan melalui STM.

Konfirmasi ketarampilan yang positif berfungsi sebagai penguatan siswa, dalam rangka penyempurnaan keterampilan sampai semua berjalan secara otomatis. Memberi motivasi supaya siswa dengan memberitahu pentingnya keterampilan motorik yang akan dipelajari. Jadual latihan diatur dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kebosanan.

Menyampaikan prosedur yang harus dipegang sebagai pola, disertai demonstrasi dalam bentuk gambar, diagram, film atau contoh nyata.

Membantu mengingat dari apa yang telah dimiliki siswa, sebagai dasar gerak-geriknya.

Memberi petunjuk sampai seberapa jauh prestasi yang tepat.

BAB IV
TEORI-TEORI BELAJAR

4.1 Peranan Teori Belajar dalam Belajar dan Pembelajaran
Teori adalah seperangkat azas yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Sedangkan ciri-ciri teori adalah membebaskan penemuan penelitian secara individual dari kenyataan kesementaraan waktu dan tempat untuk digantikan dengan suatu dunia yang lebih luas.
Dari pengertian teori secara umum tersebut, maka teori belajar adalah seperangkatat azas belajar yang tersusun tentang kejadian-kejadian belajar dalam dunia nyata. Atau dapat dikatakan bahwa teori belajar dapat menjelaskan sejumlah fakta khusus yang diamati secara terpisah dengan jalan menghubungkan fakta itu dengan suatu model yang bersifat konseptual.Dengan demikian teori belajar dapat memberikan penerangan atau penjelasan dasar proses belajar dan dalil-dalilnya. Hal tersebut akan dapat mempengaruhi proses belajar. Secara rinci peranan/fungsi teori belajar adalah:
Sebagai kerangka kerja untuk penelitian.
Sebagai kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu.
Mengungkapkan kekompleksan peristiwa-peristiwa yang kelihatannya sederhana.
Mengorganisasi kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Sebagai kerangka kerja untuk penelitian berarti teori belajar dapat digunakan untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Sedangkan peranan sebagai kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu maksudnya adalah bahwa teori belajar sebagai organisasi pengetahuan. Contohnya adalah: Teori belajar A mengahsilkan sesuatu, teori B juga menghasilkan sesuatu. Sintesa dari teori-teori tersebut akan menghasilkan pengetahuan yang merupakan organisasi teori-teori (teori A dan B).
Peranan teori belajar yang dapat mengungkapkan kekompleksan peristiwa-peristiwa yang kelihatannya sederhana adalah bila dilihat proses belajar merupakan peristiwa yang sederhana. Namun demikian bila ditinjau terjadinya belajar terutama bila dihubungkan dengan fase-fase belajar akan terlihat kekompleksannya. Dari kekompleksan itu akan ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa belajar. Hal ini ditemukan dari teori-teori yang ada. Sedangkan fungsi mengorganisasi kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya menunjuk pada ciri teori secara umum, yaitu penggantian teori lama apabila ada penemuan-penemuan teori yang baru.
Sejalan dengan berkembangan zaman dan waktu, maka banyak ditemukan teori-teori belajar. Setiap teori biasanya mempunyai kekuatan dan kelemahan, dan teori yang dikemukakan lebih kemudian biasanya sebagai reaksi terhadap teori yang dikemukakan sebelumnya. Namun tidak menutup kemungkinan juga teori-teori belajar tersebut masih digunakan bersama-sama dalam pembelajaran, sehingga teori yang satu tidak menumbangkan teori yang lainnya. Hal ini akan terjadi apabila masing-masing teori masih dapat mempertanggungjawabkan argumentasinya.
Kebenaran teori dapat diterima sejauhmana teori dapat mempertanggung jawabkan argumentasinya berdasarkan penelitian-penelitian ilmiah dan sejauhmana sebuah teori memberikan jawaban dan manfaat terhadap kebutuhan-kebutuhan praktis dalam kegiatan belajar yang dilakukan. Dengan demikan maka dalam membelajarkan siswa diharapkan seorang menggunakan teori-teori belajar yang dianggap sesuai.

4.2 Teori-teori Belajar
Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991), dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
Conditioning theory.
Connection theories.
Insighful Learning.
4.2.1 Conditioning theory
Conditioning theoty adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu respons dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Pavlov, dan dikembangkan oleh Watson, Guthreic, dan Skinner. Teori belajar ini berhaluan pada pandangan behavioristik.
Pavlov (1949-1936) mengembangkan teori belajar ini dengan disebut juga conditioning reflex, sebab yang dipelajari adalah gerakan gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex juga dapat ditimbulkan oleh perangsang lain yang mulanya tidak menimbulkan reflex. Secara teoritis refleks dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
Unconditioned (refleks wajar) atau tidak terkondisi, yang terdiri dari:
Unconditioned respons (respons tak terkondisi).
Unconditioned stimulus (stimulus tak terkondisi)
Contoh : Anjing – Daging – Timbul air liur.
S1 ……………..R1
Anjing ditunjukkan daging (S1), sehingga menimbulkan air liur (R1). Daging dalam peristiwa ini bertugas sebagai stimulus untuk menimbulkan reflekx air liur.
Implikasi dalam belajar:
Dari penelitian ini ditemukan pendapat bahwa asalkan ada stimulus belajar, anak pasti akan mau belajar. Sehingga diharapkan guru memberikan stimulus supaya anak mau belajar.
Conditioned (Refleks bersyarat), yang terdiri dari:
Conditioned respons (respons terkondisi)
Conditioned stimulus (stimulus terkondisi).
Contoh: Anjing – Bel – Daging.
S2 (Cond) …………. R2
Setiap membunyikan bel ditunjukkan daging, maka air liur anjing keluar. Di sini yang berperanan sebagai syarat adalah membunyikan bel. Lama kelamaan setiap ada bel berbunyi (walau tanpa daging) air liur anjing keluar.
Implikasi dalam Belajar:
Pendapat dari conditioning theories menuntut kondisi tertentu, sehingga organisme dengan sendirinya belajar. Harapan penerapan dari teori ini adalah ada pengkondisian terhadap siswa, sehingga siswa mau belajar.

Teori Pavlov ini disebut juga Kondisioning Klasik (Classical Conditioning) atau stimulus substitution. Hal ini disebabkan karena kondisi yang ada akan menyebabkan begitu saja respons, karena respons itu yang digunakan penelitian adalah respon alami (keluar air liur). Sehingga hal ini menimbulkan banyak kelemahan, karena dalam belajar sulit disamakan dengan keluarnya air liur. Namun demikian teori ini akan membawa peneliti lain untuk mendasari penelitian selanjutnya.
Selanjutnya John B. Watson (1878-1958) mengembangkan teori belajar dengan berpola pada penemuan Pavlov, dimana pendapatnya adalah belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti.
Percobaan yang dilakukan adalah:
Anak susia 11 bulan diberi kelinci aebagai kawan bermain (anak tidak takut kelinci). Selanjutnya dibuat kondisi supaya anak takut dengan kelinci (conditioning).
Cara percobaannya adalah:
(Kelinci – Suara gong) (S1) – anak takut (R1)
Kelinci (S2) ……………. Anak takut (R2)
Penjelasan:
Setiap ditunjukkan kelinci dibarengi suara gong yang menakutkan (S1), sehingga anak menjadi takut (R1). Perlakuan itu dilakukan berkali-kali, yang pada akhirnya setiap ditunjukkan kelinci tanpa ada bunyi gongpun (S2), anak menjadi takut (R2).
Impilikasi dalam belajar:
Apabila pada awalnya anak belum mau belajar, dan diberi stimulus yang menyenangkan, maka anak akan berubah menjadi mau belajar. Atau sebaliknya yang pada awalnya anak senang sekali belajar kalau ada hal yang menjadikannya dia tidak nyaman lagi maka menyebabkan ia tidak mau belajar lagi. Teori ini mengharapkan guru memberikan stimulus yang menyenangkan apabila yang dikehendaki adalah perubahan positip, dan stimulus yang tidak menyenangkan bila perubahan yang dikehendaki adalah yang tidak menyenangkan.
Guthric(1886-1959) memperluas penemuan Watson yang dikenal dengan the law of association, yaitu suatu kombinasi stimuli yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung menimbulkan gerakan apabila kombinasi stimuli itu muncul kembali. Maksudnya jika sesuatu dalam situasi tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama akan mengerjakan hal yang serupa lagi. Hal tersebut disebabkan karena terdapatnya suatu pola perangsang yang bekerja pada suatu reaksi dilakukan menyebabkan pola perangsang yang sama bekerja lagi. R tadi akan timbul kembali. Suatu perangsang yang dalam situasi tertentu akan berasoaiasi pada situasi tertentu. Dan belajar memerlukan reward (hadiah) dan kedekatan antara stimulus dan respons. Belajar dapat digunakan untuk pembentukan sikap.
Percobaan/Contoh Peristiwa:
Gadis melempar topi sepulang sekolah. Gadis tersebut disuruh mengambil lagi, diajak keluar rumah, selanjutnya diajak masuk dan disuruh meletakkan topi ke gantungan. Setelah itu ternyata gadis tersebut mau meletakkan topinya setiap pulang sekolah.
Perlakuan yang dilakukan dari awal atau pangkal dapat mengubah atau melenyapkan sikap buruk gadis tersebut.

Peristiwa tersebut dapat menjelaskan bahwa teori Guthric dapat digunakan dalam pembentukan sikap (habit formation). Beraitan dengan hal tersenut dapat ditemukan metode untuk memperbaiki kebiasaan buruk, yaitu:
Incompetible response
Prinsip metode ini adalah: a. S1 ————— R1

R1
S1

R2
b.

R2
c. S1

Keterangan: S1 = Tingkah laku yang tak baik.
R2 = Tingkah laku yang baik untuk mendesak R1 (Incompetible response untuk menghilangkan R1)
R1 = Hilang karena R2
Contoh:
Kelinci
S1 —————————————————————- R2 (Ketakutan).
Anak diperlihatkan kelinci, kemudian timbul R1. Tetapi pada saat itu diberi gula-gula, sehingga menimbulkan R2. Ketakutan tadi (R1) dikompensir dengan kesenangan (R2). Lambat laun kelinci analog dengan R2.
Exhqustied method
Diperlakukan untuk mengulangi terus menerus tingkah laku yang buruk sehingga akan bosan. Misalnya anak yang mempunyai kebiasaan main korek api. Beri saja anak tersebut banyak korek api dan diminta untuk menyalakan satu persatu, sampai akhirnya anak bosan dan tidak mau lagi main korek api.
Tolerance
Perubahan perangsang diberi secara berangsur, sehingga timbul reaksi yang tolerence. Misalnya kuda yang diharapkan dapat ditunggangi dapat dilatih dulu dengan diletakkan selimut, berangsung-angsur hingga beratnya menyerupai manusia. Dengan demikian kuda tersebut dapat ditunggangi.
Change of environment.
Kebiasaan buruk yang sering ada pada anak, mungkin disebabkan perangsang yang tak beres. Untuk meninggalkan kebiasaan itu perlu anak itu dipindahkan dari lingkungan yang menimbulkan tingkah laku buruk tadi. Mode ini menjadi dasar bagi seorang dokter menyuruh seseorang istirahat.
Skinner (tahun 30 an) mengembangkan teori belajar ini dengan teori operant conditioning, yaitu tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau operant. Teori ini terlihat bahwa di dalam belajar diperlukan adanya pengulangan-pengulangan suatu stimulus untuk mendapatkan respons.Dan menganggap reward (hadiah) atau reinforcement (penguatan) sebagai faktor penting.
Hal tersebut merupakan bentuk ketidak setujuan Skinner terhadap pendapat Pavlov, yaitu setiap ada stimulus akan ada respons. Alasannya adalah banyak faktor di lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme untuk merespons. Sehingga teori belajar Pavlov S – R hanya bisa dilakukan pada tingkah laku yang sederhana, sedangkan tingkah laku yang kompleks tidak bisa. Hal ini disebabkan karena rintangan tingkah laku yang dihasilkan terbatas. Sehingga model Pavlov itu cocok untuk respons yang sudah diasosiasikan dengan stimulus tertentu. Sedangkan menurut Skinner kunci memahami tingkah laku adalah pemahaman antara situasi stimulus, respons dan konsekuensi respons itu.
Ada enam asumsi yang membentuk operan condisioning, yaitu:
Belajar itu adalah tingkah laku.
Perubahan tingkah laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
Hubungan yang berhukum antara tingkah laku dan lingkungan hanya dapat ditentukan kalau sifat-sifat tingkah laku dan kondisi eksperimennya didefinisikan menurut fisiknya dan diobservasi di bawah kondisi-kondisi yang dikontrol secara bermakna.
Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Tingkah laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok.
Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk semua jenis makhluk hidup.
4.2.2 Connection theories
Connection theories (1874 – 1949) merupakan teori belajar yang menyatakan bahwa belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Teori belajar ini dikembangkan oleh Thorndhike yang juga dinamakan trial and error learning. Hal ini disebabkan karena proses belajar dapat melalui coba-coba dalam rangka memilih respons yang tepat bagi stimulus tertentu. Hukum belajarnya dinamakan Law effect, yaitu:
Segala tingkah laku yang menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajari.
Segala tingkah laku yang tidak menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajari.
Hasil Percobaan:
Problem box
Kucing dimasukkan dalam peti tertutup. Peti tersebut mempunyai pintu yang dapat dibuka dengan cara menekan knop. Kucing dalam peti berputar-putar berupaya untuk keluar, dan secara kebetulan kucing menekan knop, maka pintu terbuka. Selanjutnya percobaan diulangi, ternyata kucing dapat keluar lebih cepat. Begitu selanjutnya semakin lama, keluarnya kucing dari box semakin cepat. Hal ini disebabkan karena telah ada pengulangan-pengulangan yang awalnya ditemukan karena coba-coba atau kebetulan. Dengan kata lain terjadi asosiasi, connection dengan suatu keadaan yang menyenangkan (reward).
Law effect: Segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk dipelajari. Sebaliknya segala tingkah laku yang tidak menyenangkan cenderung untuk tidak dilakukan kembali. Di antara keseluruhan tingkah laku hanya tingkah laku teretntu hanya tingkah yang menyenangkan itulah yang dipelajari.
Aplikasi dari teori ini dengan adanya pemberian ganjaran, hukuman, dan dalam belajar perlu adanya pengulangan-pengulangan. Tingkah laku yang dihargai dapat dipelajari anak secara mendalam, sedangkan hukuman memperkecil proses belajar. Selain itu belajar dapat juga dilakukan dengan coba-coba.Teori belajar ini cenderung mengacu pada pandangan belajar behavioristik.

4.2.3 Insighful Learning
Insighful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut juga Gestalt dan Field Teories. Teori mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya kedua teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian. Dengan demikian teori belajar ini berhaluan pada pandangan belajar konstruktivistik.
Gestalt dan Field theories berorientasi pada Thorndike. Dalam teori insightful learning terdapat trial and error, tetapi tidak seperti tafsiran Thorndike (belajar ngabur). Dalam semua belajar didahului trial and error. Trial ang error mempunyai peranan dalam timbulnya insight. Pada teori Thorndike tidak ada tujuan, otomatis, tanpa konsep, sedang pada field theories ada tujuan dengan konsep. Insight learning dapat digunakan dalam situasi yang serupa.

1. Teori Belajar Gestalt
Menurut teori Gestalt, insight merupakan hal yang penting, jadi tidak bisa hanya hafalan. Peletak dasar teori ini adalah:
Mex Wetheiner (19880-1943): Pengamatan dan problem solving.
Kurt Koffka (1886-1941): Hukum-hukum pengamatan
Walfgang Kohler (1887-1959): Penelitian insght pada simpane.
Penelitian:
Pisang digantung, di dekatnya diletakkan dua peti, ternyata simpanse mengambil pisang dengan menumpuk peti.
Pisang digantung, di dekatnya diletakkan tongkat, ternyata simpanse menyambung tongkat tersebut untuk mengambil pisang.
Pisang digantung, di dekatnya ada pohon yang berdaha, ternyata simpanse mematahkan dahan kayu untuk mengambil pisang.
Penenelitian ini menunjukkan bahwa simpanse telah menggunakan insight yang timbul pada percobaan pertama untuk mendapatkan hasil di percobaan ke dua, dan mendapat insght pada percobaab kedua untuk mrndapatkan hasil pada percobaab ke tiga. Kesimpulannya bila ada masalah dapat dipecahkan bila terbentuk insight, jadi bukan hafalan.
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan belajar juga diartikan dengan problem solving dan insight dapat digunakan dalam problem solving. Yang paling penting dalam belajar adalah insight.

2. Field Teories
Field teories atau teori Medan ditemukan oleh Kurt Lewin, menyatakan bahwa belajar adalah perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan, tetapi perubahan struktur pengertian.
Insight tergantung dari:
Kecerdasan dan bakat. Kecerdasan tergntung pada umur dan keadaan. Semakin muda semakin kurang kecerdasannya.
Pengalaman. Pengalaman yang telah diolah individu akan mempengaruhi insight seseorang.

3. Teori Belajar Piaget
Menurut Piaget, interaksi yang terus menerus antara individu dan lingkungan adalah pengetahuan. Artinya, pengetahuan itu suatu proses, bukan suatu barang. Karena itu, untuk memahami pengetahuan seseorang dituntut untuk mengenali dan menjelaskan berbagai cara bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, kecerdasan juga membentuk struktur kognitif yang diperlukan untuk penyesuaian dengan lingkungan.
Faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kognitif adalah:
Lingkungan fisik. Kontak dengan lingkungan fisik mutlak perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru. Namun kontak dengan lingkungan fisik tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut. Karena itu kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik.
Kematangan. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan, sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berbeda, bergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan si belajar sendiri.
Pengaruh sosial, termasuk peranan bahasa dan pendidikan. Pentingnya lingkungan sosial ialah dapat memacu dan menghambat perkembangan struktur kognitif.
Proses pengaturan diri (ekuilibrasi), yaitu proses pengaturan diri dan pengoreksian diri dari si belajar.
Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget adalah:
Proses belajar dari konkrit ke yang abstrak.
Pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan mental baru yang sebelumnya.
Perubahan umur mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksi dengan lingkungan.

4. Teori Belajar Brunner
Teori belajar Brunner merupakan pengembangan dari insightful learning. Dalam teori Brunner dikatakan untuk mendapatkan pemahaman belajar dengan menemukan sendiri, sehingga menggunakan pendekatan discovery learning, yaitu belajar dengan menemukan sendiri. Pendekatan ini pemahaman didapatkan secara induktif dengan membuat perkiraan yang masuk akal atau menarik kesimpulan. Sebagai hasil belajar ini siswa mendapat pengetahuan dan pemahaman baru, yang kemudian dikaitkan dengan kerangka kognitif yang sudah dimiliki sehingga kerangka itu berubah, dalam arti ada yang digeser, dikurangi atau ditambah. Jadi kerangka kognitif yang terbentuk tidak bersifat statis dan dapat berubah.
Dalam pendekatan ini mengandung makna bahwa refleksi belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah terhadap informasi (masukan) yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dasar pikiran teori ini adalah”
Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Orang menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.
Bruner beranggapan, bahwa cara belajar dengan menemukan sendiri ini sesuai dengan hakikat manusia sebagai seorang yang mencari-cari secara dan menghasilakan pengetahuan serta pemahaman yang sungguh-sungguh bermakna. Kelebihan dari cara belajar ini adalah:
Hasilnya lebih berakar dan mengendap.
Lebih mudah dan cepat dimanfaatkan dalam bidang studi lain atau dalam kehidupan sehari-hari (transfer belajar).
Berdaya guna dalam mengembangkan daya nalar siswa.
Membentuk kerangka kognitif siswa.
Namun demikian teori ini juga ada kelemahannya, yaitu memerlukan biaya banyak, waktu lama, dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut adalah:
Dengan menggunakan cara belajar yang dinamakan guided discovery learning, yaitu siswa menemukan sendiri dengann tuntunan.
ada pengembangan teori insightful learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tetapi tidak dengan induktif tetapi deduktif. Jadi siswa tidak harus mengalami sendiri. Teori ini dikembangkan oleh Ausebel.

5. Teori Ausebel
Teori terakhir ini dikembangkan oleh Ausebel dengan nama teori bermakna. Belajar bermakna tidak mutlak harus menemukan sendiri, yang penting siswa dapat membentuk kerangka kognitif sendiri. Ausebel belum menyediakan cara bagi guru untuk pengembangan belajar bermakna, selanjutnya Novak menemukan yang dikembangkan dengan peta konsep.
Peta konsep adalah suatu konsep yang disajikan berupa kaiatan-kaitan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi. Konsep-konsep tersebut dikait-kaitkan dengan kata-kata teretntu sehingga mengandung pengertian yang bermakna (Rustaman, 1986). Misalnya konsep tumbuhan dan organisme proposisinya adalah itu, sehingga kaitannya menjadi: tumbuhan itu organisme. Konsep organisme dan energinya proposisinya adalah membutuhkan, kaitannya menjadi: organisme membutuhkan energi.
Peta konsep ini menggunakan cara berpikir dari deduktif ke induktif, yaitu dari yang bersifat umum ke yang khusus. Jadi peta konsep dibuat dari konsep yang paling umum ke konsep yang lebih khusus.
Dalam penerapannya sebenarnya guru dapat saja memadukan beberapa teori belajar di atas. Hanya saja biasanya seorang guru akan mempunyai kecenderungan ke arah mana mereka akan bertindak. Pada saat ini yang banyak dikembangkan adalah teori yang ke tiga, karena diharapkan siswa lebih banyak memahami atau mengerti dibandingkan hanya menghafal saja. Karena dengan menghafal saja konsep-konsep materi akan segera dilupakan lagi.
Berdasarkan teori-teori di atas muncul adanya prinsip-prinsip belajar yang sebenarnya merupakan penggabungan dari beberapa teori belajar. Prinsip belajar itu antara lain perhatian dan motivasi, kreatifitas, keterlibatan langsung/pengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, perbedaan individu (bab VI modul ini)

4.3 Pandangan Belajar
4.3.1 Pandangan Behavioristik
Pandangan behavioristik sebenarnya merupakan penerapan dari teori belajar Conditioning theory dan Connection theories. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan dari operant conditioning yang dikemukakan oleh B.F. Skinner. Operant ialah sebuah perilaku yang memberikan pengaruh pada lingkungannya serta menimbulkan akibat. Sebaliknya, perilaku tersebut dipengaruhi oleh akibat itu. Dan tindakan yang utama ialah pengadaan reinforcement/penguatan. Kemungkinan terulangnya sebuah perilaku akan lebih besar, jikalau akibat-akibat yang ditimbulkannya memberikan reinforcement/penguatan.
Penjelasan di atas dapat menggambarkan bahwa menurut operant conditioning ada tiga komponen belajar, yaitu: (1) stimulus diskriptif, (2) respons si belajar, dan (3) konsekuensi perkuatan operan pembelajaran. Asumsi yang membentuk landasan untuk conditioning theoris ini adalah: (1) Belajar adalah tingkah laku, (2) Perubahan tingkah laku secara fungsional terkait dengan adanya perubahan kejadian di lapangan, (3) Hubungan antara tingkah laku dan lingkungan bersifat jika sifat tingkah laku dan kondisi-kondisi dapat terkontrol secara seksama, (4) Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima sebagai penyebab terjadinya tingkah laku, (5) Tingkah laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok, (6) Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Penerapan teori tersebut dalam pembelajaran dari pandangan behavioristik adalah teknik pembelajaran berprogram yang mengatur bahan pelajaran menjadi bagian-bagian kecil (operasional) dan memberikan penguatan pada jawaban-jawabannya (reinforcement). Sehingga behavior modification merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah perilaku seseorang sesuai dengan yang diinginkan, melalui reinforcement berulang sampai perilakunya berubah. Dari sini mengandung pengertian bahwa si belajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.
Penjelasan di atas mengartikan belajar dari pandangan behavioristik sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar, sehingga tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan. Pengetahuan itu telah terstruktur dengan rapi, objektif, pasti, dan tetap, sehingga orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial, atau dapat dikatakan ciri dari pembelajaran behavioristik adalah adanya keteraturan.
Ketatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri si belajar. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikatagorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikatagorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
Pembelajaran cenderung mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil.
Kecenderungan pandangan ini adalah belajar merupakan perilaku yang nampak. Menurut pandangan ini perilaku yang nampak sangat sesuai dalam pembelajaran karena pengaruh teknologi yang serba rasional dan realistik serta praktis, maka manusia saat ini cenderung untuk lebih operasional, lebih menyukai yang nampak (observable), yang dapat diukur (measurable), penampilan/kinerja (performance), kemasan yang rapai (appearance).
Permasalahan yang timbul dari pandangan behavioristik ini adalah adanya hal-hal yang mungkin tidak tercakup dalam perilaku manusia yang tampak. Selain itu juga perlu dipertimbangkan adalah apakah belajar bisa terjadi dalam lingkungan yang penuh aturan? Tampaknya memang tidak mudah untuk menerapkan pandangan ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan saat ini, yaitu berpikir kreatif, dapat mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Karena menurut pandangan ini rasanya tidak mungkin pembelajaran tanpa adanya ketaatan atau keteraturan.
Apapun kelemahan dari pandangan ini, ternyata dewasa ini banyak teori-teori belajar dalam lingkup pandangan behavioristik yang diterapkan pada prinsip-prinsip belajar yang diharapkan. Hal ini menandakan bahwa pandangan ini juga banyak diterapkan dewasa ini, walau implikasinya banyak dipadukan dengan pandangan konstruktivistik. Yang perlu dilakukan adalah harus dilihat dan dipilih benar secara jeli mana yang dapat ditangani dengan menerapkan pandangan behavioristik ini dalam pembelajaran.

4.3.2 Pandangan Konstruktivistik
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Dengan demikian maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Implikasi pembelajaran dari pernyataan di atas adalah guru diharapkan dapat mendorong munculnya diskusi dalam rangka memberi kesempatan siswa untuk meluapkan pikiran atau aktivitas dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu guru diharapkan dapat mengkaitkan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa.
Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu, sehingga ciri konstruktivistik adalah ketidakteraturan. Maksudnya kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar, karena hanya di alam yang penuh kebebasan si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Si belajar adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh si belajar. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Implikasi dalam pembelajaran dari pernyataan di atas adalah diharapkan guru menyediakan pilihan tugas, sehingga tidak semua siswa harus mengerjakan tugas yang sama. Dan sediakan pula pilihan bagaimana cara memperlihatkan bahwa siswa telah menguasai apa yang telah dipelajari.
Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar, menciptakan pemahaman baru yang menurut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata, yang mendorong si belajar untuk berpikir ulang dan mendemonstrasikan. Dengan demikian maka pembelajaran dan evaluasi menekankan pada proses.
Pembelajaran lebih diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Dan evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata.
Implikasi dari pernyataan di atas adalah hendaknya guru memberikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya. Beri kesempatan siswa untuk melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, tentang cara belajarnya, tentang mengapa ia menyukai tugas tertentu.
Secara ringkas penataan lingkungan belajar berdasarkan pandangan konstruktivistik menurut Wilson (1996) dalam Diptiadi (1997) adalah:
Menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara siswa diajak ikut menentukan topik/sub topik bdangsdyang mereka pelajari, metode pengajaran, dan strategi pemecahan maslah.
Menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai alternatif. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan peninjauan kembali masalah dari berbagai segi.
Mengintegrasikan proses belajar mengajar dengan dengan konteks yang nyata dan relevan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan mengupayakan siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.
Memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan arah belajar mereka. Dalam hal ini guru berperan sebagai konsultan.
Mengintegrasi belajar dengan pengalaman bersosialisasi. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peningkatan interaksi antara guru-siswa dan siswa-siswa.
Meningkatkan penggunaan berbagai media disamping komunikasi tertulis dan lisan.
Meningkatkan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan mereka. Dalam hal ini diharapkan siswa mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan cara tertentu.
Dengan penataan lingkungan belajar seperti disebutkan di atas diharapkan mendapatkan hasil aplikasi pandangan konstruktivistik dalam proses belajar mengajar, antara lain:
Siswa memiliki sikap dan persepsi positif terhadap belajar.
Siswa mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, nisalnya mengklasifikasikan, membandingkan, menganalisis, membuat induksi – deduksi, memecahkan maslah.
Siswa memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri, kritis, dan kreatif.
Secara ringkas, manusia yang diharapkan dalam belajar konstruktifistik adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Bila dihubungkan dengan teori belajar terdahulu, yang sesuai dengan pandangan konstruktivistik ini adalah kelompok teori belajar Insightful Learning, karena harapan hasilnya adalah sama.

BAB V
LUPA

5.1 Pengertian Lupa
5.2 Waktu dan Dasar Terjadina Lupa
5.3 Upaya Mengurangi Lupa

Belajar merupakan suatu perubahan sari belum mampu menjadi mampu dalam jangka waktu tertentu. Saat terjadinya proses belajar yang berperan tidak saja usaha mental seperti bepikir tetapi fisik seseorang turut berperan dalam proses belajar. Dalam menjalani proses belajar ada yang lebih dominant usaha mental seperti berpikir dan ada pula yang lebih dominant ketrampilan atau fisik dari orang yang mengalami proses belajar. Belajar matematik merupakan proses belajar dimana berpikir merupakan kegiatan yang dominan. Tetapi kegiatan lain seperti mengetik, skil lebih dominant daripada berpikir.
Usaha mental dan fisik orang yang sedang mengalami proses belajar dipengaruhi oleh lingkungan fisik dimana orang tersebut mengalami proses belajar. Lingkungan fisik tersebut dapat berupa kebisingan, pencahayaan, temperature, dimensi alat kerja dan lain sebagainya. Pada penelitian ini dikaji pengaruh temperature serta kebisingan terhadap proses belajar.
Eksperimen yang dilakukan berupa pemberian empat jenis perlakuan pada empat kelompok naracoba. Kelompok naracoba pertama diberi perlakuan sedag-sepi yang bertindak sebagai control. Kelompok kedua diberi perlakuan sedang bising, kelompok ketiga panas-sepi, dan kelompok keempat panas-bising. Masing-masing kelompok mengerjakan modul matematik serta modul mengetik.
Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil, kebisingan berpengaruh terhadap prestasi belajar matematis juga prestasi belajar mengetik. Panas tidak berpengaruh pada prestasi belajar matematis serta mengetik. Kombinasi panas-bising berpengaruh pada prestasi belajar matematis serta mengetik. Bising, panas serta kombinasi panas bising berpengaruh pada presentase kesalahan mengerjakan modul matematis, dan tidak ditemukan pengaruh yang berarti pada kesalahan mengetik.

BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER (BEBAS):
Sebuah Pemikiran tentang Peluang dan Tantangannya*)
Oleh: Mohammad Tahmid **)

Abstrak
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) merupakan proses belajar alternatif bagi mereka yang tak mampu masuk ke dalam lembaga pendidikan konvensional. Dengan BEBAS seorang anak didik dapat belajar dengan bantuan sumber belajar apa saja, belajar dari siapa saja, belajar kepada siapa saja, belajar tentang apa saja, dan belajar untuk tujuan apa saja. BEBAS dapat berlangsung jika ada inisiator yang berasal dari masyarakat yang peduli kepada pemerataan pendidikan, LSM, organisasi atau bahkan pemerintah . Peran penting yang diharapkan dari pemerintah adalah kebijaksanaan sertifikasi bagi mereka yang dinilai telah mendapatkan keahlian tertentu setelah mengikuti BEBAS. Keuntungan dari BEBAS disamping perluasan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang mereka inginkan juga mengurangi beban pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan nasional.

A. Pendahuluan
Belajar tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan non-fisik, yakni rasa ingin tahu dan prasyarat untuk mencapai kemampuan yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu pula memecahkan berbagai masalah. Kenyataan hidup sehari-hari dalam meningkatkan kualitas dan bertahan hidup diperlukan berbagai kompetensi sehingga mampu bersaing dengan lainnya. Hal demikian dapat dicapai kalau seseorang mampu belajar dengan baik dan benar. Dengan demikian belajar sudah selayaknya menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi bagi seseorang yang ingin mempertahankan, meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya serta ingin memenangkan persaingan di tengah arus global.
Belajar Berbasis Aneka Sumber (selanjutnya disingkat dan ditulis dengan huruf kecil “bebas”) memang telah dipakai sebagai pendekatan di lingkungan pendidikan1) konvensional sebagai upaya memperluas sumber belajar. Namun bebas di sini dimaksudkan sebagai proses belajar dari sumber apa saja, tentang apa saja, dan kemudian di sini, mengenai bebas ini juga diperluas dalam pengertian bebas yang sebenarnya, yakni tidak terikat. Jadi bebas dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan bagaimanapun caranya yang tidak terikat oleh format pendidikan formal yang telah diatur pemerintah.
Belajar di lingkungan formal dan non-formal telah dirasakan oleh masyarakat pada umumnya sebagai suatu yang semakin sulit dijangkau dan di sisi lain mereka semakin rnenyadari arti pentingnya. sebagian kecil masyarakat dengan relatif mudah mendapatkan (menikmati) proses pembelajaran yang bermutu tinggi di institusi unggulan sementara jauh lebih banyak mereka yang tidak mampu memperoleh pendidikan (baca: menyekolahkan) anggota keluarganya di institusi pendidikan yang lumayan baik saja. Mahalnya biaya pendidikan (belajar) merupakan salah satu yang mendorong penulis untuk mencoba memaparkan bebas ini sebagai salah satu alternatif pemecahannya. Keuntungan bebas lainnya disamping segi relatif murah biayanya adalah terkait dengan waktu dan keleluasan pebelajar untuk menguasai materil kemampuan tertentu, tanpa terikat oleh berbagai aturan baku yang terkadang bersifat kaku.
Tanpa disadari setiap hari anak-anak maupun orang dewasa telah menerapkan bebas ini. Namun demikian perlu disadari bahwa belajar merupakan suatu proses yang disengaja
Untuk tujuan tertentu dan mengarah pada perubahan yang ralatif menetap. Pada tataran terjadinya proses bebas ini memang sebaiknya pemerintah atau lembaga resmi lainnya tidak ikut campur tangan, namun persoalan pengendalian mutu dan standar hasil belajarnya diperlukan campur tangan pihak-pihak yang lebih berkompeten termasuk dan terutama sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar/menguasai kemampuan tertentu. Dalam benak penulis mungkin akan dapat muncul semacam sertifikasi bebas; SD, SLTP, SMU, SMK, D II, D III dan lain-lainnya sebagai tanda bahwa peserta bebas telah memiliki dan bisa dibuktikan mereka mampu dalam hal tertentu yang disyaratkan untuk melaksanakan tugas tertentu. Misal bebas D III Perhotelan, bila peserta bebas entah bagaimanapun caranya telah memiliki kemampuan tertentu sebagai petugas khusus di Hotel.
Siapapun dapat melakukan dan atau ikut serta di dalam pendekatan bebas ini sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tentu saja akan disyaratkan umur tertentu apabila dalam pelaksanaannya diharuskan belajar mandiri dan memerlukan persyaratan minimal tertentu. Mengingat masih minimnya kemampuan masyarakat secara umum mengidentifkasi sumber-sumber belajar dari kemampuan tertentu sebagai tujuan belajar yang harus dikuasainya, maka diperlukan paling tidak adanya inisiator maupun lembaga tertentu yang memungkinkan terlaksananya bebas ini sesuai dengan karakteristiknya (yang penulis maksudkan di atas) tanpa mengarah kepada format pendidikan yang telah ada.
lnisiator di sini diharapkan dari orang/lembaga yang sangat peduli kepada pemerataan pendidikan dari kesejahteraan ataupun mungkin adanya campur tangan pemerintah sebagai legitimator terhadap hasil belajar mereka (peserta bebas). Kepedulian dapat diwujudkan antara lain dengan kesediaan membantu proses bebas dalam bentuk bekerjasama dengan para “inisiator”, “organisator”; “koordinator” atau apapun namanya serta masing-masing individu pembelajar sehingga memungkinkan adanya arah yang dituju secara jelas. Hal demikian tentunya akan dimungkinkan lebih cepat terwujud apabila pemerintah mengeluarkan aturan khusus tentang bebas ini sebagai proses pendidikan/pembelajaran alternatif dan inovatif. Dan akhirnya pantaslah untuk direnungkan ungkapan berikut ” Bebas untuk Belajar dan Belajar untuk Bebas “.
B. Bebas di Lembaga Pendidikan Konvensional
Konsep pemakaian sumber belajar di sekolah/institusi pendidikan konvensional memang telah menggunakan pendekatan bebas ini. Namun kenyataannya penggunaan sumber belajar masih didominasi oleh yang sifatnya merancang, belum memanfaatkan yang ada disekelilingnya secara optimal. Keberadaan SLTP dan SMU Terbuka yang dirintis oleh Pustekkom nampaknya cukup mendekati apa yang penulis maksudkan, yakni berusaha menggunakan sumber belajar yang relatif lebih luas yang berada di lingkungan sekitar para siswa.
C. Bebas Non-Format Pendidikan Konvensional
Belajar di lingkungan formal telah banyak mendapat kritik yang tajam berbagai kalangam berkaitan dengan hasil belajarnya maupun pola-pola administratif dan manajerial yang terkadang dirasa kaku dan menghambat kreativitas. Uraian berikut mencoba memaparkan pola lain proses belajar dan pembelajaran yang lebih banyak mendasarkan diri pada pembelajar. Hal demikian akan sejalan dengan apa yang dipandang oleh Teori Belajar Berdasarkan Psikologi Sasial:
Dalam pandangan faham belajar sosial, orang tidak didorong oleh tenaga dari dalam, demikian pun tidak digencet stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Alih-alih fungsi psikologi orang itu dijelaskan sebagai fungsi interaksi timbal balik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya. (Bandura, 1977b, hal. -11).2)
Teori belajar sosial Albert Bandura tersebut berusaha menjelaskan asas belajar yang berlaku dalam latar/lingkungan yang wajar. Tidak seperti halnya latar laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan yang kompleks dan kemampuan melalui pengamatan terhadap tingkah-laku model dan konsekuensi-konsekuensinya.
Menyimak sekilas teori belajar sosial tersebut, selanjutnya dalam tulisan ini penggunaan sumber belajar di dalam aktivitas belajar oleh pembelajar menurut hemat penulis dapat di golongkan ke dalam 3 tingkatan kebebasannya:
1. Bebas mutlak
Urusan belajar dan hal lain yang terkait, merupakan hak asasi manusia sehingga setiap individu atau kelompok orang bebas menentukan apa saja yang terkait dengan belajar termasuk sumber belajarnya. Hal ini dapat dilihat dengan lebih jelas pada orang dewasa lengkap dengan sifat-sifat kedewasaan yang lekat padanya. Mereka memandang dan menyadari benar bahwa belajar adalah kebutuhan individual dan sehagai kecenderungan/kodrat manusia/binatang untuk memahami sesuatu dan bertahan hidup. Dalam hal demikian siapapun kita tak dapat berbuat banyak atas orang lain dalam hat belajarnya, tetapi semua hal yang berkait dengan belajar terpulang pada individu, terutama yang tergolong telah dewasa.
2. Bebas terkendali longgar
Proses belajar dan penggunaan sumber belajar terkendali dalam arti positif oleh para inisiator, organisator, lembaga swadaya masyarakat (LSM) secara longgar demi efektivitas proses belajar. Peran pengendali di sini hanyalah mungkin sebagai perumus tujuan belajar, penyedia pokok-pokok materi dan pengidentifikasi sumber-sumber belajar yang dapat digunakan oleh si belajar dan kamudian hanya menginformasikan (termasuk di mana ada pusat sumber belajar yang bisa dimanfaatkan) hal tersebut kepada pembelajar yang selanjutnya terserah sepenuhnya kepada si belajar. Dengan demikian akan tampak perbedaan model ini dengan format pendidikan formal dan non-formal selama ini. Hal demikian disadari karena pada dasarnya basis belajar ini pada aneka sumber yang harus dicari, dialami, dicoba, dikoreksi sendiri dan dimanfaatkan sendiri oleh si pembelajar. Namun demikian juga masih dimungkinkan para inisiator tersebut menyediakan sumber belajar tertentu untuk tujuan belajar tertentu.
Format seperti inilah yang penulis maksudkan di dalam tulisan ini, sehingga memang di sana-sini terdapat berbagai peluang dan tantangan bagi berbagai pihak mulai dari individu yang ingin belajar menguasai sesuatu sampai lembaga-lembaga yang secara resmi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan/proses pembelajaran.
3. Bebas terkendali ketat
Hal demikian telah dilakukan oleh berbagai institusi pendidikan konvensional yang telah memiliki aturan yang terkadang bersifat kaku dan berskala nasional. Namun demikian nampaknya sekarang ini sedang berlangsung suatu proses penyusunan peraturan pemerintah tergantung pendidikan yang di dalamnya terdapat reorientasi keberadaan pendidikan nasional selama ini, baik terkait dengan persoalan kurikulum, profesionalisme kependidikan dan lain-lain termasuk di dalamnya penggunaan sumber-sumber belajar.
Proses belajar itu dapat dilakukan setiap individu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Belajar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari paling tidak dapat dipilah-pilah menjadi:
– belajar dengan …
– belajar dari …
– belajar kepada …
– belajar tentang …
– belajar untuk …

• Belajar dengan. Menunjukkan bahwa proses belajar itu disertai, didampingi, dengan perantaraan, menggunakan sesuatu yang mendukung terjadinya proses belajar itu sendiri sehingga tercapailah tujuan belajar. Dikaitkan dengan bebas, maka hal ini dapat ditafisirkan pula penggunaaan aneka sumber belajar baik insani maupun non-insani yang telah dirancang maupun yang tinggal memanfaatkan. Namun peran sumber belajar di sini merupakan pendamping, penyemangat ataupun penguat sehingga pebelajar mampu melalukan tugas belajarnya. Misalnya untuk belajar mengendarai sepeda motor seorang anak didampingi oleh kakaknya/orangtuanya, untuk belajar desain grafis pebelajar menggunakan perantaraan komputer.
• Belajar dari. Menunjukkan bahwa di dalam proses belajar terdapat sesuatu yang digali sehingga pebelajar menguasai dan mencapai tujuan belajar. Nuansa ini juga dapat disebut belajar karena yang maksudnya lebih dekat kepada susuatu yang menjadi inspirasi terjadinya belajar. Kaitannya dengan bebas adalah bahwa segala sesuatu dapat menjadi inspirasi terjadinya belajar, sehingga hal tersebut dapat disebut pula sumber belajar. Misalnya; peristiwa hujan dapat kita jadikan sumber belajar. Jadi kita dapat belajar dari hujan, kebakaran, kekeringan, kerusuhan, dll.
• Belajar kepada. Hal ini lebih menunjukkan adanya obyek yang dijadikan narasumber belajar. Narasumber lebih berperan sebagai pengajar yang memiliki kemampuan lebih dan dengan demikian ia dapat memberikan bahan ajar (sesuatu yang dapat dipelajari) melalui dirinya kepada si belajar. Misalnya; belajar kepada Ustadz, Kyai, Guru, Seorang Ahli, dll.
• Belajar tentang. Hal ini menunjukkan adanya spesifikasi materi yang akan dikuasai sehingga proses belajar menjadi terfokus kepada satu atau beberapa hal yang sejenis. Misalnya; belajar tentang matematika, pemograman barbasis komputer, bagaimana cara belajar yang baik, desain interior, sepak bola, dll.
• Belajar untuk. Hal ini menunjukkan adanya tujuan akhir belajar, tujuan di sini lebih merupakan tujuan utama yang harus dilewati melalui pencapaian tujuan-tujuan lain yang menjadi tahapan ke arah tujuan utama. Kata untuk di sini juga bisa dipadankan dengan demi, guna. Misalnya; belajar untuk menjadi seorang sopir yang baik maka seseorang harus pula belajar tentang mobil, jalan raya, aturan lalu lintas dan juga ia harus pula belajar dari/kepada sopir lainnya.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah dikaitkan bahwa berbasis dalam bahasan bebas ini dapat meliputi berbagai hal di atas kecuali belajar tentang dan belajar untuk. Karena kata berbasis penulis artikan sebagai “berdasar”, “mendasarkan diri”, “berpijak” kepada segala macam sumber-sumber belajar.
Menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT ) sumber belajar sebagaimana dikutip oleh Karti Soeharto, dkk dalam bukunya Teknologi Pembelajaran (1995):
Learning resources (for Educational Technology) all of the resources (data, people, and things) which may be used by the learner in isolation or in combination, usuaily in a formal manner, to facilitate learning; they include messages, people, materials, devices, techniques, and setting. (AFCT, 1977, p.F) 3)
Yang dimaksud dengan sumber (pen: sumber belajar) ialah asal (pen: sesuatu) yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dari lingkungan.4)

D. Peluang
Peluang dalam hal ini dimaksudkan sebagai adanya kesempatan baik, yang penulis pandang sebagai sesuatu yang cukup inovatif dan alternatif yang bisa di dapat/terwujud apabila diusahakan ke arah itu dan berhasil melewati tantangan-tantangan tertentu.
Peluang melaksanakan bebas dan memperoleh manfaat dari bebas ini secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam:
1. Individu
2. Keluarga
3. Masyarakat
4. Pemerintah
5. Tempat Kerja
6. Tempat Ibadah
7. Media
8. Sekolah
9. Perguruan Tinggi
Namun demikian, konsisten dengan apa yang penulis maksudkan pada uraian terdahulu yang diharapkan dapat berperan penting dalam pelaksanaan bebas ini adalah individu, keluarga, dan masyarakat lengkap dengan segala potensinya.
Beranjak dari kesempatan yang dimungkinkan oleh keleluasaan penyelenggaraan bebas ini, maka berikut ini terdapat keuntungan yang bisa didapat:
1. Masing-masing individu akan leluasa menentukan tujuan dari topik belajar sendiri, baik menyangkut -pengetahuan, keterampilan dan atau sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Kebebasan inipun dapat difaktakan dalam hal waktu penyelesaian belajarnya.
2. Memotivasi masyarakat untuk ikut serta menggerakkan pebelajar ataupun menjadi inisiator pelaksanaannya.
3. Pendanaan relatif lebih rendah daripada yang ada pada lembaga formal karena telah banyak variabel-variabel pembiayaan yang bisa dihemat/dipangkas, antara lain tak perlu gedung sekolah, tak perlu pegawai administrasi yang banyak, tak perlu rnembuat aturan. yang macam-macam, tak perlu gedung pertemuan, dll.
4. Beban pemerintah dalam penyelenggaraair pendidikan menjadi lebih ringan dengan adanya partisipasi aktif masing-masing individu pelajar, masyarakat, para inisiator, organisator, dll.

E. Tantangan
Konsep bebas dalam tulisan ini dalam prakteknya lebih dimungkinkan berhasil apabila terarah pada tingkat SLTP ke atas, karena perlu adanya persyaratan minimal tertentu sehingga belajar mandiri dapat dilaksakan. Sedangkan dalam tingkat SD pendekatan bebas juga akan sangat baik dilakukan untuk merangsang kamandirian dan kreativitas siswa.
Mengingat dengan bebas ini dimungkinkan banyak keuntungan/kelebihan yang dapat diperoleh, tentunya akan sulit terwujud apabila tidak ada peran serta berbagai pihak dalam mewujudkan pelaksanaannya secara rill di masyarakat. Berikut ini akan dicoba paparkan pihak-pihak yang dapat berperan menembus tantangan dimaksud yang tentu saja akan berbeda dengan apa yang oleh sekolah konvensioal pernah lakukan.
Pemerintah. Pemerintah dapat berperan dengan mengeluarkan aturan khusus mengenai mekanisme pelaksanaan bebas termasuk di dalamnya; kurikulum khusus untuk bebas, acuan patokan penguasaan kemampuan, standar minimal, serta sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar sehingga hal ini menarik perhatian banyak kalangan untuk ikut serta di dalamnya. Baik individu maupun masyarakat akan tergerak karena terdapat legitimasi/pengakuan bahwa tidak hanya mereka yang menamatkan sekolah di lembaga formal saja yang berhak mendapatkan pekerjaan ataupun menduduki jabatan yang layak. Contoh bila ada seseorang yang memiliki kemampuan tertentu sebanding dengan tamatan SMK (Mis: dulu STM jurusan Otomotif) namun tidak pernah bersekolah di SMK, tentunya mereka akan senang kalau kemampuannya dihargai dengan tamatan SMK.
Selanjutnya dengan adanya ketentuan khusus yang telah dikeluarkan pemerintah, tentunya harus diikuti pula kesadaran berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang biasanya mensyaratkan ijasah tertentu untuk bekerja di instansinya dengan merubah paradigma rekruitmen menjadi persyaratan kemampuan minimal tertentu dan bukan ijasah tertentu. Misalnya; seseorang yang bekerja di hotel sebagai ‘house keeping’ yang agak jarang berhubungan dengan orang adalah tamatan D III perhotelan. Mungkin nanti pekerjaan house keeping dapat pula dilakukan oleh seseorang yang hanya memiliki ijasah SD atau SLTP namun ia mampu melakukan hal sebagaimana D III perhotelah tersebut. Kenapa tidak? Yang digaji itu pekerjaannya atau ijasahnya dan apakah ijasah sudah pasti menjamin keterampilan riil yang diperlukan?
Persyaratan peserta dibuat seringan dan semudah mungkin dipenuhi; misalnya telah miliki ijasah SD atau bisa membaca dan menulis saja. Umur pesertapun tidak dibatasi, mengingat hak belajar dan berkemampuan adalah hak setiap orang.
Individu. Setelah tahu kurikulum dan tujuan belajar, peserta bebas selanjutnya akan mandiri mencari sumber belajarnya dan berusaha dengan berbagai cara menguasainya. Dituntut disiplin, kemandirian dan kemampuan untuk maju yang tinggi dari para peserta bebas beserta kelompok-kelompok belajarnya. Memang dimungkinkan peserta bebas bisa semaunya sendiri dan tak terkontrol dalam hal belajarnya. Hal demikian menurut hemat penulis justru merupakan tantangan kemadirian yang harus ditanamkan sehingga dalam sikapnya mereka memiliki kedewasaan dan kesadaran penuh.
Dorongan masyarakat orangtua juga tetap dimungkinkan. Kepentingan belajar sudah seharusnya melekat pada pebelajar tanpa adanya campur tangan pihak lain terutama pemerintah sehingga diharapkan akan mendewasakan mereka. Dengan banyaknya contoh temannya yang berhasil, maka akan lebih memacu, merangsang dan mendorong, memotivasi mereka untuk mengikuti jejak teman-temannya.
Inisiator. Inisiator dapat dilakukan pada prinsipnya siapa saja yang peduli akan pemerataan pembelajaran baik berupa individu, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, institusi pendidikan, tempat-tempat kerja, tempat-tempat ibadah, pemerintah, dll.
Para tokoh masyarakat, Ormas, LSM dan lain-lain dapat berperan memantau/menyemangati para peserta agar dengan sungguh-sungguh “berproses” kepada tujuan belajarnya. Masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi terkait diharapkan membantu mengidentifikasi, bahkan bila mungkin, menyediakan sumber-sumber belajar yang diperlukan. Institusi pendidikan dan lembaga lain yang berkompeten hendaknya menyediakan sumber belajar terbuka (open learning resources) yang akan bisa dimanfaatkan oleh peserta bebas.
Mengingat sebagian besar masyarakat telah terlalu banyak yang terbiasa dengan bersekolah secara konvensional, kemampuan untuk belajar mandiri akan tergantung dengan pola bebas ini. Dengan demikian perlu adanya bahan belajar mandiri (BBM) karena kurang ada kemampuan otodidak dan tidak yakin akan berhasil, selalu ingin dibimbing, diarahkan, diberitahu dan lain-lain. Hal ini juga merupakan tantangan para inisiator maupun pemerintah untuk membantu lebih banyak tersedia bbm.

F. Pengendalian Mutu Bebas
Pengendalian mutu dapat dengan lebih mudah dilakukan pada materi-materi tertentu yang lebih terkait dengan perfarmunce ability daripada kemampuan konseptual. Pengendalian ini dimaksudkan agar terdapat standar minimal yang disesuaikan dengan kondisi si pelajar dan lingkungannya. Dalam dunia pendidikan formal hal ini dikenal dengan standar acuan patokan yakni level kemampuan tertentu yang menjadi rujukan pengusaan kemampuan peserta belajar.
Pengendalian ini dapat diperankan oleh lembaga-lembaga pendidikan konvensional yang ditunjuk yang dalam prakteknya hanya memfasilitasi terlaksananya ujian/tes penguasaan materi peserta bebas. Peran ini juga dapat dimainkan oleh segenap komponen bangsa yang potensial, institusi swasta, maupun LSM yang memiliki kompeteltsi yang relevan sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat. Adapun sasaran pengendalian mutu adalah kompetensi para peserta bebas dalam prosesnya menuju tujuan akhir belajarnya.

G. Mekanisme Bebas
Mekanisme pelaksanaan bebas yang penulis maksudkan secara sederhana dapat digambarkan dengan mengacu pada prinsip belajar dan kepentingan si belajar.
Para inisiator memberitahukan kurikulum berikut dengan sumber belajar standar buku-bukunya. Selanjutnya peserta bebas mencari tambahan referensi sendiri. Bila peserta telah merasa menguasai materi mereka dapat mengajukan ujian kepada inisiator.
Berikut ini digambarkan struktur subordinat dalam pendekatan yang berorientasi pada siswa/pembelajar5).
Gambar tersebut di atas merupakan pendekatan kepada siswa yang dilaksanakan di institusi pendidikan konvensional, sehingga beban lembaga penyelenggaran menjadi berat dan dibalik itu kebebasan siswa dirasa kurang.
Berikut ini bandingkan dengan pendekatan bebas yang penulis maksudkan dengan mengadaptasi bagan di atas. Dalam bagan berikut siswa/pebelajar masih menjadi pusat perhatian, namun kemandirian dan kedewasaan mereka sangat ditantang yang tentu saja peran orang tua maupu masyarakat sebaiknya menyertai proses belajar mereka.
Pendekatan Bebas yang penulis maksudkan dapat digambarkan sbb:
H. Bebas dalam Pandangan Islam
Menurut Agama Islam, ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah IQRO’ yang berarti bacalah. Menyimak ayat pertama surat Al-Alaq ini (iqro’bismirobbika alladzi kholaq: bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan) sebenarnya dalam pandangan Al-Qur’an sejak diturunkan ayat tersebut umat Islam khususnya telah diperintahkan untuk “membaca”. Tentu saja membaca dalam hal ini tidak hanya diartikan sebagaimana membaca tulisan di dalam buku, kitab, dan lain-lainnya, tetapi ia mengandung arti yang lebih luas dari itu. Menurut hemat penulis membaca dapat diartikan selain membaca dalam arti sesungguhnya tersebut adalah juga sebagai mengamati, menganalisa, mengambil pelajaran hikmah, dari lingkungan sekitar kita, diri kita sendiri, peristiwa, keteladanan, aktivitas sosial, dll. Lebih lanjut dalam surat Al-Alaq ayat lima (allamal insaanna maa lam ya’lam: Dia (pen: Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Bila dikaitkan dengan bebas, maka Al-Qur’an pun sejak ayat pertamanya telah menunjuk dan menginspirasikan pada kita untuk membaca (baca:belajar) dari berbagai sumber, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit di sana. Adapun ayat lima lebih eksplisit disinggung bahwa Allah (Tuhan) adalah sumber ilmu.
Dalam hal penafsiran terhadap ayat tersebut, para ulama rupanya telah sepakat bahwa iqro dapat dibagi/dijabarkan dalam tiga dimensi:
– Membaca diri sendiri (iqro’ bin-Nafs)
– Membaca alam semesta/lingkungan (iqro’ maa fi Samawati wal Ard)
– Membaca kitab (iqro’ bil Kutub)

Dengan demikian jelaslah bahwa sebenarnya bukan hanya konsep modern sekarang saja yang menyatakan bahwa belajar itu dapat dan sebaiknya Harus berbasis segala sumber yang memungkinkan. Bahkan telah diakui dan terbukti oleh berbagai kalangan terutama para Ilmuwan dan umat Islam sendiri bahwa .Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Di kalangan umat Islam telah sangat populer adanya ajaran bahwa; apabila kulian ingin memperoleh kebaikan dengan ilmu dan apabila kalian ingin kebaikan pada keduanya hendaklah dengan ilmu pula. Maka dari itu jelaslah khususnya bagi umat Islam, Al-Qur’an bukan sekedar sumber belajar, tetapi pedoman/tuntunan hidup. Demikian pula tentunya umat yang beragama selain Islam menyakini bahwa kitab sucinya dapat merupakan sumber belajar dan pedoman hidup mereka.
I. Penutup
Inilah sebuah pemikiran dan apabila diperkuat dengan pemikiran-pemikiran lain tentu akan lebih baik dan berpengharapan. Dan bahkan bila muncul pemikiran yang berbeda tentu hal ini juga sebuah pemikiran yang bila digambarkan sebuah pemikiran dari masing-masing kita, yang peduli tentunya, akan menjadi kumpulan pemikiran yang luar biasa yang diharapkan menjadi salah satu solusi krisis multi dimensi masa kini. Penulis menyadari di sana sini terdapat kekurangan, baik kurang operasinal, terlalu teoritis, tidak jelas maksudnya dan lain-lain. Namun paling tidak, penulis harapkan paper ini menggugah dan merangsang pemikiran kita akan nasib anak bangsa yang kurang beruntung untuk dapat berkemampuan, berketerampilan, bersikap sebagaimana mereka yang lebih dulu menikmatinya pembelajaran yang baik.

VIRTUAL LEARNING/VIRTUAL CLASSROOM SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN JARAK JAUH: KONSEP DAN PENERAPANNYA*)
Oleh: Anung Haryono dan Abubakar Alatas**)
Abstrak
Kelas virtual akan menjadi trend teknologi pembelajaran masa depan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran seperti video conference, audio conference, e-learning, CD interaktif, dll telah dimulai di sejumlah institusi Pendidikan. Secara konseptual, kelas virtual memiliki sejumlah potensi antara lain; memberikan peluang bagi siswa untuk berinterkasi dengan guru, teman, maupun bahan belajar tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Demikian pula guru melalui internet dapat mengontrol kegiatan belajar siswa kapan saja diperlukan. Selain itu, kelas virtual dapat memberikan sajian bahan belajar yang menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Namun di pihak lain, kelas virtual juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain; penggunaan internet memerlukan imprastruktur yang memadai, saat ini masih relatif mahal, dan komunikasi melalui internet sering kali lamban. Oleh karena itu penerapan kelas virtual di Indonesia perlu dilakukan secara bertahap. Sekolah-sekolah di perkotaan yang telah mempunyai akses ke internet dapat memulai terlebih dahulu.
PENDAHULUAN
Banyak orang di seluruh penjuru dunia mengakui bahwa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang sulit diatasi dengan cara konvensional. Permasalahan itu misalnya banyaknya anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah, banyaknya anak maupun orang dewasa yang ingin memperoleh pendidikan tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena harus bekerja mencari nafkah pada jam jam sekolah, banyaknya orang yang pada waktu mudanya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan dan sekarang ingin mendapatkan kesempatan kedua tetapi tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, banyaknya orang yang ingin mendapatkan pendidikan tetapi tidak dapat karena cacat badan, sakit, tinggal di penjara, tidak dapat meninggalkan rumah karena banyaknya urusan dan tanggung jawab keluarga, dan sebagainya.
Makalah ini membahas mengenai pengertian PJJ, efektivitas dan kelemahan sistem yang digunakan selama ini, timbulnya keinginan untuk mengembangkan kelas virtual sebagai cara baru dalam menyelenggarakan sistem PJJ, serta potensi, cara menggunakan, dan kelemahan model PJJ melalui internet ini.

DEFINISI PENDIDIKAN JARAK JAUH
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berkembang sudah lama sebelum kita di Indonesia menggunakannya. Banyak definisi yang digunakan untuk PJJ. JW. Keegan melakukan penelitian mengenai praktek penyelenggaraan dan definisi PJJ yang digunakan di berbagai negara di dunia. Dia melakukan analisis dan menelaah berbagai definisi yang hampir sama, mulai dari definisi Doamen (1967), Meckenzie. Christensen; dart Rigby (1968); Undang-undang Pendidikan Perancis (1971); Peters (1973), Holmberg (1977) dan membuat sintese mengenai definisi-definisi tersebut. Menurut dia ada enam unsur dasar pengertian (six defining elements) Pendidikan Jarak Jauh yang dapat diketengahkan, yaitu:
• Terpisahnya guru dan siswa. Karakteristik inilah yang membedakan PJJ dari pendidikan konvensional.
• Adanya lembaga yang mengelola PJJ. Hal ini yang membedakan orang yang mengikuti PJJ dari orang yang belajar sendiri (self study).
• Digunakannya media (biasanya media tercetak) sebagai sarana untuk menyajikan isi pelajaran.
• Diselenggarakannya sistem komunikasi dua arah antara guru dan siswa atau antara lembaga dan siswa sehingga siswa mendapatkan manfaat darinya. Dalam hal ini siswa dapat berinisiatif untuk terjadinya komunikasi itu.
• Pada dasarnya PJJ itu bersifat pendidikan individual. Pertemuan tatap muka untuk melengkapi proses pembelajaran berkelompok maupun untuk sosialisasi dapat bersifat keharusan (compulsory), pilihan (optional), ataupun tidak ada sama sekali tergantung kepada organisasi penyelenggaranya.
Definisi tersebut berlaku bagi berbagai sistem atau model PJJ yang menggunakan nama yang berbeda-beda seperti Correspondence School, Distance Learning, Open Learning. Open Education, Open University, Extentiori Study, Home Study, Independent Learning, dan masih banyak lagi istilah lain. Definisi itu bahkan juga masih berlaku bila diterapkan pada sistem PJJ baru yang sekarang sedang banyak diminati orang yaitu On-line Learning, Virtual Learning atau e-Learning.

JARAK TRANSAKSI DAN CARA MENJEMBATANINYA
Sebelum pembahasan mengenai pendidikan jarak jauh melalui internet ini dilanjutkan kiranya perlu dibahas terlebih dahulu mengenai arti jauh dalam istilah “pendidikan jarak jauh” dan bagaimana cara menjembatani jarak itu. Menurut Moore (1983) jarak antara siswa dan guru dalam pendidikan jarak jauh hanya dipandang dari segi jarak fisik dan geografis saja melainkan harus dilihat sebagai jarak komunikasi dan psikologis yang disebabkan karena keterpisahan siswa dari guru. Dewey dalam Moore (1903) menjelaskan bahwa transaksi pendidikan merupakan interaksi antara individu; lingkungan, dan perilaku yang terjadi dalam situasi tertentu. Transaksi pendidikan dalam sistem PJJ terjadi antara siswa dan guru dalam situasi yang bersifat khusus yaitu keterpisahan mereka satu dari lainnya. Jarak transaksi dalam sistem pendidikan jarak jauh merupakan jarak komunikasi dan jarak psikologis antara siswa dan guru. Jarak transaksi ini dapat mengakibatkan perbedaan persepsi mengenai konsep yang dijelaskan oleh guru melalui media dan pemahaman siswa mengenai konsep itu. Oleh karena itu jarak itu perlu dijembatani supaya perbedaan persepsi itu berkurang atau hilang.
Menurut Moore (1983, 1996) jarak transaksi itu dapat dijembatani melalui komunikasi dan percakapan (dialogue). Dialog atau komunikasi pembelajaran dapat mengurangi jarak transaksinya. Artinya makin mudah dan makin sering guru dan siswa berinteraksi makin kecil kemungkian terjadinya kasalahpahaman dalam menafsirkan isi pelajaran. Jadi dalam sistem PJJ ini adanya interaksi aktif antara siswa dan guru itu sangat penting supaya proses belajar dapat terjadi.
Moore (1983, 1996) juga mengatakan bahwa media yang digunakan untuk menyajikan isi pelajaran itu sangat mempengaruhi ada tidaknya komunikasi, dialog, atau interaksi antara guru dan siswa. Kalau media yang digunakan adalah TV, radio, atau buku kesempatan siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru sangat kecil. Kalau media yang digunakan adalah audio conference, video conference, atau internet kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru secara relatif jauh lebih besar. Dengan perkataan lain, bila media yang digunakan itu internet jarak transaksi antara siswa dan guru kecil dan karenanya komunikasi dapat sering dilakukan sehingga kesalahpahamanan penafsiran isi pelajaran semakin kecil.

USAHA YANG TELAH DILAKUKAN
Sampai saat ini media pembelajaran yang masih banyak digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh terutama adalah media cetak berupa bahan belajar mandiri yang biasa disebut modul. Media ini seringkali ditunjang dengan media radio, TV, kaset audio, dan kaset video.
Seperti yang telah dibicarakan pada bagian sebelumnya media tersebut di atas kurang memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk saling berinteraksi, karena itu menyebabkan adanya jarak transaksi yang besar. Artinya media tersebut kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru. Akibatnya siswa yang mendapatkan kesulitan dalam memahami isi pelajaran tidak dapat menanyakan kesulitan itu kepada guru. Dengan demikian kalau siswa salah dalam menafsirkan isi pelajaran, kesalahan itu akan disimpannya dan dibawanya terus sebelum ada orang yang memberi penjelasan mengenai penafsiran yang benar.
Apakah usaha yang dilakukan untuk menjembatani jarak tersebut? Telah banyak usaha yang dilakukan untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Usaha itu antara lain berupa layanan bantuan belajar melalui tutorial. Dalam kegiatan tutorial ini guru atau tutor memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan atau mendiskusikan kesulitan belajar yang mereka hadapi. Guru akan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah itu dengan memberikan penjelasan atau mendiskusikannya dengan siswa yang lain.

BEBERAPA JENIS TUTORIAL DAN KELEMAHANNYA
Tutorial dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya tutorial tatap muka, tutorial melalui surat-menyurat, turorial melalui telepon, tutorial melalui audio konference atau video conference.
• Tutorial tatap muka
Siswa dan guru atau tutor bertemu muka secara berkala untuk memberikan kesempatan kepada siswa menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa. Tutorial seperti ini sangat bagus untuk mengurangi jarak transaksi antara guru dan siswa. Dengan demikian kesalahpahaman dalam menafsirkan isi pelajaran dapat diperkecil.
Kekurangan yang ada dalam tutorial semacam ini:
– Tutorial tidak dapat dilakukan terlalu sering. Makin sering dilakukan makin mahal biayanya. Biasanya tutorial ini diadakan seminggu sekali, sebulan sekali, atau bahkan ada yang hanya diselenggarakan dua atau tiga kali dalam satu semester. Hal ini menyebabkan siswa harus menunggu lama sebelum mereka dapat mengutarakan kesulitannya kepada guru atau tutor.
– Tutorial seperti ini biasanya bukan merupakan keharusan. Akibatnya banyak siswa yang memilih tidak hadir karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat individual. Banyak yang tidak hadir karena aiasan waktu, biaya transpor, atau alasan lain.
• Tutorial melalui telepon dan surat
Tutorial jenis ini tidak banyak dimanfaatkan siswa, pada hal biayanya relatif murah dan mudah melakukannya. Kendalanya mungkin tidak semua siswa mempunyai telepon, atau sungkan untuk menanyakan pelajaran kepada guru melalui telepon atau surat. Rasa sungkan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Di samping itu tutorial melalui surat jawabannya seringkali datangnya sangat lambat.
• Tutorial melalui konferensi audio atau video
Tutorial ini jarang digunakan karena biayanya relatif mahal.

SISTEM PEMBELAJARAN MELALUI INTERNET
Dunia telah mengakui bahwa sistem PJJ yang diselenggarakan selama ini merupakan wahana belajar siswa yang cukup efektif. Lulusan PJJ dapat bersaing dengan lulusan sekolah konvensional di pasar kerja di masyarakat. Banyak juga lulusan PJJ yang berhasil memasuki dan meyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dalam kedudukan yang sama seperti lulusan sekolah konvensional. Namun kekurangan yang ada dalam penyelenggaraan sistem PJJ yang selama ini berlangsung dan kemajuan di bidang teknologi informasi telah mendorong banyak orang untuk menjajagi efektifitas teknologi pembelajaran melalui internet yang diduganya dapat meningkatkan proses belajar dalam sistem PJJ. Dalam sistem pembelajaran melalui intemet isi pelajaran disampaikan secara on-line, siswa belajar, berdiskusi, bertanya, dan mengerjakan soal latihan secara on-line. Karena itu sistem pembelajaran ini seringkali disebut pembelajaran secara on-line. Dalam sisten pembemlajaran ini semua proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa menuntut siswa hadir di ruang kelas tertentu, tetapi mereka dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan pelajaran seperti yang terjadi di kelas biasa. Karena dalam sistem pembelajaran ini tidak ada ruang kelas atau kampus secara fisik maka sistem ini seringkali disebut virtual learning, virtual classroom, atau virtual campus (Potter, 1997). Selain dari pada itu, karena proses pembelajaran, dalam sistem ini dilaksanakan melalui komunikasi elektronik dengan menggunakan intemet, maka sistem ini juga sering disebut e-learning.

POTENSI VIRTUAL LEARNING DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Virtual Learning ini banyak diminati orang karena potensi yang dimilikinya untuk membuat proses belajar menjadi efektif.
• Potensi yang utama adalah dapat memberikan peluang bagi siswa untuk berinteraksi dengan guru, dengan teman, maupun dengan bahan belajarnya.
– Siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya melalui e-mail. Komunikasi ini bersifat orang perorang. Siswa dapat mengajukan pertanyaan kapan saja dia mau. Guru akan menjawab secepat mungkin sesuai dengan waktu yang dimilikinya. Cara berkomunikasi seperti ini jauh lebih cepat dari pada komunikasi yang dilakukan melalui pertemuan tatap muka.
– Siswa dapat berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya secara bersama-sama melalui papan buletin. Dalam forum ini pertanyaan seorang siswa kepada guru dapat dibaca oleh teman-temannya yang mengambil pelajaran yang sama. Jawaban guru juga dapat dibaca oleh siswa lain yang tidak mengajukan pertanyaan. Dalam proses ini guru juga dapat melontarkan pertanyaan tadi kepada siswa yang lain. Siswa yang lain dapat memberikan jawaban yang akan dibaca oleh seluruh anggota kelas. Dengan demikian sesuatu persoalan dapat dipecahkan bersama antara guru dan semua siswa di dalam “kelas virtual-nya”.
Komunikasi antara siswa dan guru atau antara siswa dengan siswa lain itu dapat dilakukan secara tidak bersamaan waktu (a-synchronous) maupun secara bersamaan waktu (synchronous). Komunikasi melalui e-mail dan papan buletin seperti yang diutarakan di atas dilakukan secara tidak bersamaan waktu. Pengiriman dan penerimaan informasi tidak dilakukan pada waktu yang sama.
Komunikasi yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan (synchronous) dapat dilaksanakan melalui forum diskusi secara on-line. Diskusi semacam itu dilakukan menurut jadwal waktu yang disepakati. Dengan demikian pada waktu yang sama semua peserta diskusi akan membuka internetnya. Masing-masing akan dapat membaca informasi yang masuk dan pada waktu itu juga akan dapat memberikan tanggapan. Diskusi semacam ini akan sama menariknya dengan konferensi melalui audio atau video. Hanya biayanya relatif lebih murah.
– Komunikasi antara siswa dengan isi pelajaran. Siswa akan terbiasa untuk mempelajari sendiri bahan belajar yang disajikan secara on-line. Karena bahan belajar on-line itu biasanya disertai dengan tes mandiri, siswa akan dapat menguji kemajuan belajar dirinya sendiri. Bila siswa memerlukan pengayaan bahan belajar siswa juga dapat mencari sumber bacaan yang sesuai melalui internet. Hal tersebut akan mernbiasakan siswa mencari informasi dan sumber belajar sendiri, tidak menunggu diberikan oleh guru. Karena itulah proses pembelajaran on-line ini sering kali disebut juga resource based learning atau belajar berbasis sumber.
• Guru dapat mengontrol aktivitas belajar siswa melaiui internet. Guru akan dapat melihat kapan siswa belajar, topik apakah yang dipelajari, berapa lama ia mempelajarinya, berapa kalikah ia mempelajari ulang topik itu. Guru juga dapat melihat apakah siswa mengerjakan latihan soal setelah selesai mempelajari topik tertentu. Berapa banyak soal yang dapat dikerjakan dengan betul. Berapa sekornya dan sebagainya.
• Virtual learning dapat menyajikan pelajaran dengan cara yang menarik. Merrill dalam Reigeluth (1983) mengemukakan bahwa dalam mengajar ada empat langkah utama yang dilakukan guru (1) pemberian penjelasan, (2) pemberian contoh, (3) pemberian latihan (exercise), dan (4) pemberian umpan balik atau feedback yang berfungsi sebagai reinforcement.
Keempat langkah ini dapat diterapkan dengan mudah dalam penyajian pelajaran melalui internet. Dalam memberikan penjelasan dan contoh, internet dapat menggunakan gambar, diagram, chart, suara, dan juga gerakan. Kalau dalam memberikan penjelasan digunakan, kata, atau istilah, atau konsep yang umum dikenal oleh siswa, siswa dapat meng-klik kata, istilah, atau konsep itu dan akan muncul paparan yang dengan mudah dapat dipelajari siswa. Setelah mempelajari paparan itu siswa akan dengan mudah kembali ke pelajaran semula. Dengan cara ini interaksi antara siswa dan bahan belajar dapat berlangsung secara aktif.
Pada saat siswa mengerjakan latihan, siswa akan segera mengetahui apakah jawaban yang diberikan betul atau salah. Karena program on-line akan segera memberikan umpan baliknya. Dengan demikian siswa akan gembira mendapatkan umpan balik itu dan akan termotivasi untuk belajar lebih lanjut.

MENCIPTAKAN KELAS VIRTUAL
(VIRTUAL CLASSROOM)
Porter (1997) menyarankan, kalau kita akan menciptakan kelas virtual kita harus mempertimbangkan berbagai hal supaya kelas virtual tersebut dapat menjadi wahana proses belajar yang efektif
• Kelas virtual tersebut harus dilengkapi dengan sumber belajar yang pada saat diperlukan siswa telah tersedia dan mudah diakses. Andaikan sumber belajar itu tidak dapat disediakan, penyelenggara kelas virtual tersebut harus dapat menunjukkan di mana sumber belajar itu dapat dicari. Kelas virtual itu harus dilengkapi dengan peralatan (tool) yang dapat digunakan untuk mencari dan mengirimkan pesan kepada guru atau sesama siswa. Sebagai contoh, bila siswa ingin mempelajari buku atau dokumen tertentu yang berkaitan dengan pelajaran yang sedang dipelajari, bahan belajar tersebut harus dapat diakses secara on-line. Bila tidak tersedia, setidak tidaknya alat yang tersedia dapat digunakan untuk mencarinya di sumber data yang lain.
Kelas virtual seringkali juga menggunakan alat komunikasi lain selain internet, seperti fax, telepon, konferensi audio dan konferensi video.
• Kelas virtual tersebat harus dapat memberikan harapan kepada siswa untuk terjadinya proses belajar dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar. Hal tersebut antara lain dapat diwujudkan dengan merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dan spesifik, menyusun bahan belajar yang baik dan berkualitas tinggi, dan memfasilitasi terjadinya komunikasi timbal balik antara siswa dan guru.
• Kelas tersebut harus dapat menyatukan siswa dan guru supaya mereka bersikap terbuka untuk berbagi informasi dan bertukar gagasan. Mungkin siswa dan guru dalam kelas virtual tidak pemah berjumpa satu dengan lainnya, tetapi kalau mereka sering berdialog jarak komunikasi dan jarak psikologisnya (jarak transaksinya) menjadi kecil. Dalam situasi seperti ini kemungkinan terjadinya kesalahan dalam menafsirkan isi pelajaran juga kecil.
• Kelas virtual harus menyediakan ruang untuk percobaan dan penerapan. Dalam sistem konvensional siswa sering diberi kesempatan melakukan percobaan, menghadapi workshop, melakukan demonstrasi mengenai hasil pelaksanaan tugas-tugas akademik, dan melakukan penyajian untuk mengungkapkan gagasan.
Kelas virtual juga perlu dirancang supaya siswa dapat berbagi (share) hasil karya dan bertukar pengalaman dalam menerapkan pengetahuan yang telah diperolehnya. Misalnya konferensi jarak jauh atau desktop video conference dapat digunakan untuk ceramah atau penyajian. Dapat juga dilakukan simulasi secara on-line mengenai penerapan pengetahuan tentang prosedur melakukan sesuatu yang baru dipelajari. Simulasi seperti ini harus dirancang untuk dapat memperoleh umpan balik, sehingga dapat diketahui apakah penerapan pengetahuan yang disimulasikan tersebut benar atau salah.
• Kelas virtual juga harus dapat memberikan penilaian terhadap kinerja siswa. Dalam sistem pembelajaran ini harus dimasukkan evaluasi kemajuan belajar siswa yang dapat dikerjakan secara on-line. Guru dapat memeriksa dan memberikan penilaian secara on-line juga. Pekerjaan siswa dan nilainya hanya dapat dilihat oleh siswa dan gurunya saja. Siswa lain tidak dapat mengetahui hasil tes tersebut. Dengan perkataan lain kerahasiaan hasil tes itu terjaga dengan baik.
Kelas virtual ini juga dapat memberikan tugas perorangan kepada setiap siswa melalui e-mail. Pekerjaan siswa yang dikirimkan kepada guru melalui e-mail diperiksa oleh guru, diberi komentar, dan diberi nilai. Komentar dan nilainya dikirimkan ke siswa melalui e-mail.
• Kelas virtual harus dapat menjadi wahana kebebasan akademik. Siswa itu perlu memperoleh kebebasan dalam melakukan percobaan, dalam membuat asumsi, dalam berinteraksi dengan siswa lain tanpa harus merasa takut dan cemas. Kelas yang efektif merupakan wahana bagi siswa untuk mengekspresikan diri dengan cara yang tepat, wahana untuk menempuh resiko sehingga dapat belajar lebih banyak, wahana berbagi gagasan, dan wahana melontarkan pertanyaan tanpa rasa takut.

KELEMAHAN KELAS VIRTUAL
Kelas virtual diciptakan dengan bantuan media internet. Ungkapan yang mengatakan bahwa “tidak ada media terbaik” kiranya berlaku juga bagi media internet. Media ini baik kalau digtmakan untuk tujuan yang tepat dalam situasi yang tepat juga. Ada beberapa kelemahan yang perlu dikemukakan dalam paper ini.
• Penggunaan intemet memerlukan infrastuktur yang memadai
Internet dapat dioperasikan kalau ada jaringan listrik dan ada jaringan telepon. Tempat-tempat yang belum mempunyai jaringan listrik dan telepon tidak dapat menggunakan internet. Karena itu banyak tempat di Indonesia yang belum dapat menggunakan internet.
• Penggunaan internet mahal
Untuk dapat menggunakan internet orang harus mempunyai komputer yang dilengkapi dengan modem, tenaga listrik, fasilitas telepon, dan terhubung dengan internet provider yang dapat diperoleh melalui langganan. Harga komputer dan modemnya mahal tetapi membeli sekali dapat dipakai dalam waktu yang lama.
Sedangkan biaya penggunaan saluran telepon, tenaga listrik dan langganan provider internet harus dibayar setiap bulan. Biaya ini untuk banyak orang seringkali tidak terpenuhi.
• Komunikasi melalui internet sering kali lamban
Arus komunikasi melalui internet sering kaki berjalan lamban. Lebih-lebih kalau informasi itu mengandung gambar, chart, bagan, gambar bergerak, suara dan sebagainya. Lambatnya arus informasi ini dapat menyebabkan proses belajar menjadi membosankan.

APAKAH KELAS VIRTUAL DIPERLUKAN
DI INDONESIA?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Untuk menjawabnya memerlukan pemikiran dan analisis yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Kalau melihat kondisi infrastruktur dan kondisi perekonomian di Indonesia terutama di daerah pedesaan kelas virtual ini mungkin memang belum waktunya dikembangkan dan digunakan. Namun kalau kita melihat potensi yang dimiliki oleh kelas virtual sebagai suatu sistem pembelajaran rasanya salah kalau kita tidak menggali potensi itu dan memanfaatkannya sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Demi rasa keadilan dan pemerataan kesempatan belajar kita memang perlu mengutamakan pengembangan sistem pembelajaran yang sesuai untuk daerah-daerah pedesaan dan daerah terpencil. Namun kalau Indonesia tidak ingin tertinggal dalam penggunaan teknologi umtik memajakan sistem pendidikan, kita harus juga memikirkan cara penggunaan teknologi itu sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Kelas virtual mungkin dapat dikembangkan dan digunakan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran di daerah perkotaan yang infrastruktur dan kondisi perekonomian warganya dapat mendukung pelaksanaan kelas virtual itu.

PENUTUP
Sungguhpun mempunyai berbagai kelemahan, sistem PJJ yang digunakan untuk mengatasi problema pendidikan di Indonesia selama ini ternyata cukup efektif. Sistem ini perlu terus dikembangkan dan digunakan terutama untuk melayani kebutuhan pendidikan di daerah pedesaan dan daerah perkotaan.
Kelas virtual yang mempunyai potensi yang tinggi untuk meningkatkan efektititas proses pembelajaran dalam sistem PJJ, ternyata memerlukan infrastruktur dan biaya yang mahal untuk melaksanakannya. Karena itu mungkin pada saat ini biaya dapat dikembangkan untuk daerah perkotaan saja. Supaya sistem pendidikan kita dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi barat dalam bidang pendidikan, pengembangan dan penggunaan kelas virtual ini merupakan kebutuhan pengembangan pendidikan yang tidak dapat kita abaikan.

REFERENSI
Alatas, Abubakar (2002) Virtual Campus: a Project Proposal. Jakarta: SEAMOLEC
Bullen Mark (2001) E-Learning and Internationalisation of Education, Malaysian Journal of Educational Technology. Volume 1, Number l, June 2001.Penang : META.
Buck, Martin (2000) Introduction to Web Course College.
Haryono, Anung (2000) Self Learning: The Concept and its Application in ODL. Jakarta : SEAMOLEC
Moore, Michael (1983) A Theory of Apartness and Autonomy dalam Keegan, Desmond Six Distance Education Theorist. ZIFF : Hagen
Moore, Michael G and Kearsley, Greg (1996) Distance Education: A System View. Belmond : Wadworth Publishing Company
Porter, Lyhhette (1997) Virtual Classroom, Distance Learning with the Internet. New York : John Wiley and Sons,Inc.
Regeluth, Charles M (1963) Instructional Design Theories and Models:An Overview of their Current Status. London: Lawrence Erlabaum Associates, Publisher
Suryo, Roy (2001) Information Technology and Communication Technology for Open And Distance Learning. Jakarta : Pustekkom-SEAMOLEC.

BABVI
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN AZAS PEMBELAJARAN

6.1 Prinsip-prinsip Belajar
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang ditemukan oleh beberapa ahli, di mana ada persamaan dan perbedaan. Di sini akan diungkap tentang prinsip-prinsip yang relatif umum dari penemuan beberapa ahli. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: (1) Perhatian dan motivasi, (2) keaktifan, (3) Keterlibatan langsung/berpengalaman, (4) Pengulangan, (5) Tantangan, (6) Balikan dan Penguatan, (7) Perbedaan Individual.

6.1.1 Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam pembelajaran. Berdasarkan kajian teori pengolahan informasi, terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar (Winkel, 1996). Perhatian terdiri dari perhatian disengaja, perhatian spontan, perhatian intensif, perhatian memusat, dan perhatian memencar.
Diharapkan guru dapat membawa anak ke perhatian spontan dibandingkan perhatian yang disengaja. Hal tersebut dapat dilakukan apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkit motivasi untuk mempelajarinya.
Motivasi adalah tenaga penggerak yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan dengan minat. Anak yang memiliki minat terhadap sesuatu, cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian ia akan termotivasi untuk mempelajari sesuatu tersebut.
Motivasi juga berhubungan dengan nilai dianggap penting dalam kehidupannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

6.1.2 Keaktifan
Keaktifan merupakan keharusan dalam belajar, karena belajar merupakan kegiatan individu yang belajar. Teori-teori belajar yang mendukung keaktifan ini antara lain: (1) Teori kognitif menyatakan bahwa belajar menunjukkan adanya jiwa sangat aktif. Jiwa mengolah informasi yang diterima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (2) Teori Thorndike, yang dikenal dengan hukum belajar law of exercise yang menyatakan bahwa belajar memerlukan latihan-latihan.
Dari teori-teori belajar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar memerlukan keaktifan dari siswa. Atau dapat dikatkan bahwa keaktifan merupakan prinsip belajar.

6.1.3 Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Keterlibatan langsung atau berpengalaman akan mendukung prinsip keaktifan, sehingga keterlibatan langsung berperanan dalam belajar. Dengan berperanan langsung orang akan lebih mendalami tentang apa yang dipelajarinya. Ia tidak hanya sekedar mendapatkan cerita, tetapi benar-benar mengalami. Harapan dari pengalaman langsung ini perubahan dalam belajar dapat berbekas atau menjadi milik pribadinya. Teori belajar yang mendukung pprinsip keterlibatan langsung ini antara lain: (1) John Dewey dengan learning bay doing nya, yang menyatakan bahwa belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. (2) Teori belajar Piaget, yang menyatakan bahwa proses berfikir adalah dari yang konkrit ke yang abstrak. Sesuatu yang konkrit berarti siswa harus benar-benar mengalami sendiri. (3) Teori belajar Brunner dengan discovery learning nya, yang menyatakan bahwa belajar seharusnya dengan menemukan sendiri.
Pengalaman lansung merupakan prinsip belajar karena: (1) belajar merupakan proses berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, (2) Orang dapat menciptalan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.

6.1.4 Pengulangan
Belajar perlu adanya pengulangan, hal ini disebabkan untuk menghindari lupa akan apa yang pernah dipelajari. Dengan pengulangan-pengulangan orang akan sedikit hafal dan sesuatu itupun dapat menjadi miliknya. Teori belajar yang mendukung prinsip belajar pengulangan ini antara lain: (1) Teori psikologi daya, yang menyatakan bahwa belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri dari daya mengamat, menaggap, mengingat, menghayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Ilustrasi dari teori ini adalah piasaui yang selalui diasah akan menjadi tajam. (2) Connectionn Theories yang dikemukakan oleh Thorndike, yang dikenal dengan hukum belajarnya law of exercise, menyatakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Teori ini dikenal dengan penelitian problem box. (3) Conditioning theory, menyatakan bahwa belajar timbul dari stimulus yang dikondisikan. Tingkah laku manusia banyak terjadi karena pengkondisian, misalnya bel berbunyi anak masuk kelas dengan berbaris. Karena dikondisikan seperti itu dengan mengulang-ulang tingkah laku akan menjadikan kebiasaan yang dengan spontan dapat dilakukan. Belajar sesuatu juga diharapkan dapat dilakukan dengan pengulangan yang dikondisikan seperti itu. Namun demikian tidak semua bentuk belajar cocok digunakan prinsip pengulangan ini.

6.1.5 Tantangan
Adanya tantangan diharapkan dapat menjadikan motivasi belajar siswa, karena tantangan yang dihadapi siswa cenderung siswa untuk menyelesaikan sesuatu yang menantang tersebut. Teori belajar yang mendukung prinsip belajar tantangan ini adalah: Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin. Teori ini menyatakan bahwa belajar adalah perubahan kognitif (pemahaman), jadi belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian. Untuk membentuk perubahan struktur pengertian perlu adanya tantangan-tantangan. Adanya tantangan akan menimbulkan motif untuk mengatasi tantangan tersebut. Apabila tantangan sudah diatasi berati tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk pada medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya sehingga tercapai tujuan pembelajaran.

6.1.6 Balikan dan Penguatan
Balikan adalah konfermasi atas prestasinya. Baik prestasi yang bagus atau sebaliknya. Hal tersebut dapat diungkapkan dengan penguatan. Bila pprestasi baik dapat digunakan dengan penguatan positif, dan bila prestasi jelek dapat digunakan dengan penguatan negatif. Teori belajar yang mendukung balikan dan penguatan dalam belajar antara lain: (1) Operant Conditioning dari B.F.Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, tetapi pada operant conditioning yang diperkuat adalah responnya. Respons akan diberi penguatan, baik penguatan positif ataupun negatif dalam rangka memberi balikan atas prestasi yang diraih. (2) Teori Belajar Thorndike dengan law of effect nya, yang menyatakan bahwa siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha selanjutnya. Hal ini juga dapat dijelaskan dengan hasil penelitiannya tentanh Problem box.

6.1.7 Perbedaan Individual
Perbedaan individual ini ditekankan karena adanya teori yang menyatakan bahwa tidak ada manusia ini yang sama persis. Pernyataan ini menun jukkan bahwa manusia memiliki perbedaan-perbedaan. Dengan perbedaan-perbedaan ini menyebabkan tidak ada manusia yang mempunyai cara belajar yang sama persis.

6.2 Azas Pembelajaran
Azas pembelajaran sebenarnya menrupakan implikasi pprinsip-prinsip belajar bagi guru. Atau dapat dikatakan seorang guru melakukan pembelajaran berdasarkan atas prinsip belajar yang ada. Untuk itu urutan azas pembelajaran di sini diurutkan pula dari prinsip-prinsip belajar yang telah dibicarakan terdahulu. Azas-azas pembelajaran tersebut adalah: Perhatian dan motivasi, (2) keaktifan, (3) Keterlibatan langsung/berpengalaman, (4) Pengulangan, (5) Tantangan, (6) Balikan dan Penguatan, (7) Perbedaan Individual.

6.2.1 Perhatian dan Motivasi
Dalam rangka memenuhi prinsip belajar perhatian ini iharapkan guru dapat membawa anak ke perhatian spontan dibandingkan yang perhatian yang disengaja. Hal tersebut dapat dilakukan apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Perhatian ini harus diupayakan guru sejak guru membuat perencanaan mengajar. Implikasi prinsip perhatian ini tampak pada perilaku guru antara lain: (a) Menunjukkan tujuan pembelajaran kepada siswa, (b) menggunakan metode secara bervariasi, (b) menggunakan media sesuai dengan tujuan dan materi belajar, (c) menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton, (d) mengemukakan pertanyaan yang membimbing.
Dimuka telah dikatakan bahwa motivasi mempunyai kaitan dengan minat. Anak yang memiliki minat terhadap sesuatu, cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian ia akan termotivasi untuk mempelajari sesuatu tersebut. Motivasi juga berhubungan dengan nilai dianggap penting dalam kehidupannya, untuk itu bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Implikasi yamng harus dilakukan guru antara lain: (a) Memilih bahan ajar sesuai dengan minat siswa, (b) menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa, (c) memberi tahu hasil pekerjaan siswa, (d) memberi penguatan.

6.2.2 Keaktifan
Keaktifan merupakan keharusan dalam belajar, karena belajar merupakan kegiatan individu yang belajar. Untuk itu guru harus memberi kesempatan pada siswa supaya aktif dalam pembelajaran. Cara-cara guru untuk membri kesempatan aktif siswa antara lain dengan serangkaian proses sebagai berikut: (a} menggunakan multimetode dan multimedia, (b) memberi tugas secara individual atau kelompok, (c) memberi kesempatan pada siswa melaksanaka eksperimen atau memecahkan masalah, (d) memberi tugas untuk membaca bahan dan mencari hal-hal yang penting dari bahan bacaan, (e) mengadakan tanya jawab dan diskusi.

6.2.3 Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Keterlibatan langsung atau berpengalaman akan mendukung prinsip keaktifan, sehingga keterlibatan langsung berperanan dalam belajar. Dengan berperanan langsung orang akan lebih mendalami tentang apa yang dipelajarinya. Pengalaman langsung yang dimaksudkan disini adalah pengalaman fisik. Mental emosionmal, dan intelektual. Untuk membentuk pengalaman langsung yang seperti itu, upaya yang harus dilakukan guru adalah: (a) Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok, (b) mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi, (c) menggunakan media langsung yang digunakan siswa, (d) memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan psikomotorik yang dicontohkan, (d) melibatkan siswa mencari informasi atau pesan dari sumber di luar kelas atau di luar sekolah, (e) melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran, (f) guru bertindak sebagai manajer atau mengelola pembelajaran.

6.2.4 Pengulangan
Belajar perlu adanya pengulangan, hal ini disebabkan untuk menghindari lupa akan apa yang pernah dipelajari. Dengan pengulangan-pengulangan orang akan sedikit hafal dan sesuatu itupun dapat menjadi miliknya.. Namun demikian tidak semua bentuk belajar cocok digunakan prinsip pengulangan ini. Untuk itu seorang guru harus mampu memilih mana pesan yang perlu pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan untuk pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikitpun, dan pesan-pesan yang memutuhkan latihan. Apabila dipadang dari jenis belajar berdasarkan materi atau bahan pelajaran, maka yang perlu diulang-ulang adalah jenis belajar fakta. Implikasi prinsip pengulangan yang dapat dilakukan guru antara lain: (a) merancang pelaksanaan pengulangan, (b) mengembangkan atau merumuskan soal-soal latihan, (c) mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang, (d) mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan, dan (e) membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.

6.2.5 Tantangan
Adanya tantangan diharapkan dapat menjadikan motivasi belajar siswa, karena tantangan yang dihadapi siswa cenderung siswa untuk menyelesaikan sesuatu yang menantang tersebut. Adanya tantangan akan menimbulkan motif untuk mengatasi tantangan tersebut. Tantangan yang harus diupayakan guru dalam bentuk bahan, kegiatan, dan alat yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku yang dapat dilakukan guru antara lain: (a) Merencaan eksperimen secara individual atau kelompok kecil, (b) memberi tugas memecahkan masalah yang harus dipecahkan dari luar kela atau sekolah, (c) meminta siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang telah disajikan, (d) menyajikan bahan tidak secara detail, supaya siswa tertantang untuk mencari sendiri, (e) membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri, dan (f) menggunakan metode diskusi.

6.2.6 Balikan dan Penguatan
Balikan adalah konfermasi atas prestasinya. Baik prestasi yang bagus atau sebaliknya. Hal tersebut dapat diungkapkan dengan penguatan. Bila pprestasi baik dapat digunakan dengan penguatan positif, dan bila prestasi jelek dapat digunakan dengan penguatan negatif. Supaya balikan itu bermakna bagi siswa, maka guru harus pandai-pandai melaksanakan balikan tersebut. Yang perlu diperhatikan di dal;am memberikan balikan adalah karakteristik siswa dan jangan diulang-ulang dengan cara yang sama. Implikasi prisip balikan dan penguatan ini bagi guru antara lai: (a) Memantapkan jawaban siswa yang telah benar, (b) membenarkan jawaban siswa yang salah atau yang kurang benar, (c) Mengoreksi pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa, (d) memberi catatan-catatan pada tugas yang diberikan, (e) membagi lembar jawaban tes, (f) mengumumkan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tugas ataupun tes, (g) memberikan isyarat tanda membenarkan jawaban yang benar, misalnya anggukan, acungan jempol, dan lain sebagainya, (h) memberi hadiah atau ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.

6.2.7 Perbedaan Individual
Perbedaan individual ini ditekankan karena adanya teori yang menyatakan bahwa tidak ada manusia ini yang sama persis. Pernyataan ini menun jukkan bahwa manusia memiliki perbedaan-perbedaan. Dengan perbedaan-perbedaan ini menyebabkan tidak ada manusia yang mempunyai cara belajar yang sama persis. Dengan demikian guru harus mampu meghadapi siswa yang mempunyai perbedaan individual tersebut. Implikasi prinsip belajar perbedaan individual ini antara lain dilakukan guru dengan: (a) menggunakan multimetode dan multimedia, (b) mengenali karakteristik masing-masing siwa dalam rangka melaksanakan pembelajaran individual dalam pembelajaran klasikal, (c) memberikan pengayaan atau remidiasi bagi yang membutuhkan.

6.3 Hubungan prinsip Belajar, Azas Pembelajaran dan Teori Belajar
Pembelajaran atau mengajar yang baik seharusnya menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu. Hal ini dimaksudkan supaya di dalam mengajar dapat bertindak dengan tepat, karena teori dan prinsip belajar dapat digunakan sebagai arah prioritas dalam tindakan guru yang mengajar.
Pengertian tersebut mengandung arti bahwa di dalam menentukan azas pembelajaran atau mengajar harus berdasarkan pada teori-teori dan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru. Hubungan antara prinsip belajar, azas pembelajaran, dan teori belajar dapat dilihat pada Tabel 6.1

Tabel 1.6 Hubungan antara prinsip belajar, teori belajar, dan azas pembelajaran

Prinsip Belajar Dasar Teori Belajar Implikasi Azas Pembelajaran
Perhatian dan Motivasi.

Keaktifan

Keterlibatan langsung/Berpengalaman.

Pengulangan

Tantangan

Balikan dan penguatan

Perbedaan Individual.

BF Skiner
Operant Conditioning

Teori kognitif
Teori Thorndike
(Hukum belajar law
of exercise)

John Dewey (Learning by doing)
Piaget (konkrit – abstrak).
Brunner (Discovery Learning)

Teori psikologi daya.
Connection Theories
(Thorndike-Low of exercise)

Conditioning Theory.

Teori Medan (Field Theory)
Kurt Lewin.

BF Skiner
(Operant Conditioning)
Thorndike
(Low of Effect).
Perbedaan individual Perhatian:
Menunjukkan tujuan.
Metode bervariasi.
Media yang sesuai.
Gaya bahasa tidak monoton.
Pertanyaan membimbing.

Motivasi:
Bahan ajar sesuai minat siswa.
Metode dan teknik yang disukai siswa.
Memberitahu hasil pekerjaan siswa.
Penguatan.

Multi metode dan media.
Tugas individu dan kelompok.
Eksperimen dan memecahkan masalah.
Mengerti isi bacaan.
Tanya jawab dan diskusi.

Pembelajaran individual dan kelompok.
Eksperimen.
Media.
Psikomotorik.
Mencari informasi sendiri.
Merangkum.
Guru sebagai menejer dan pengelola.

Merancang pengulangan.
Mengembangkan soal-soal.
Petunjuk kegiatan.
Alat evaluasi.
Bervariasi.

Eksperimen individual dan kelompok kecil.
Tugas pemecahan masalah.
Menyimpulkan isi.
Menyajikan pelajaran dengan tidak detail.
Menemukan konsep, fakta, prinsip, generalisasi.
Diskusi.

Memantapkan jawaban siswa yang benar.
Membenarkan jawaban siswa yang salah.
Mengoreksi PR.
Catatan-catatan pada tugas.
Membagi lembar jawaban siswa.
Peringkat.
Isyarat.
Hadiah.

Multi metode dan media.
Mengenali karakteristik siswa.
Pengayaan dan remidiasi

BAB VII
MOTIVASI BELAJAR

7.1 Pengertian dan Pentingnya Motivasi
7.2 Jenis dan Sifat Motivasi
7.3 Motivasi dan Belajar
UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DALAM PEMBELAJARAN
DI SLTP DAN SMU TERBUKA
Oleh: Nurdin Ibrahim *)

Abstrak
Keberhasilan pembelajaran pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sangat dipengaruhi oleh karakteristik si pebelajar dan strategi (metode) pembelajaran. Hal ini termasuk pada sistem pendidikan terbuka jarak jauh seperti SLTP Terbuka dan SMU Terbuka. Karakteristik si pebelajar akan mencakup beberapa variabel yang di antaranya kemampuan awal dan motvasi belajar dan berprestasi yang biasanya disebut kondisi pembelajaran, sedangkan dalam strategi pembelajaran mencakup variabel strategi pengorganisasian bahan pembelajaran, strategi penyampaian isi pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Strategi penyampaian isi pembelajaran: mencakup penggunaan media pembelajaran dan bentuk kegiatan pembelajaran, sedangkan strategi pengelolaan pembelajaran: mencakup penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, kontrol belajar, dan pengelolaan motivasional si pebelajar.

I. PENDAHULUAN
Untuk mengatasi permasalahan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan sekaligus sebagai upaya mensukseskan wajib belajar pendi9dikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, pemerintah telah mengembangkan sistem pendidikan terbuka pada tingkat SLTP. SLTP Terbuka semula dirintis pada lima lokasi, yaitu SLTP Terbuka Kalianda Lampung Selatan, SLTP Terbuka Plumbon Cirebon Jawa Barat, SLTP Terbuka Adiwerna Tegal Jawa Tengah, SLTP Terbuka Kalisat Jember Jawa Timur, dan SLTP Terbuka Terara Lombok Timur. Pada tahun 1994/1995 pada saat Wajar Dikdas 9 tahun dicanangkan, jumlah SLTP Terbuka sebanyak 59 lokasi dan tahun 2002/2003 jumlah telah berkembang menjadi 2,870 lokasi dengan jumlah siswa 232.395 orang.

Berdasarkan hasil evaluasi tahun 1984/1985 lulusan SLTP Terbuka mempunyai hasil belajar yang tidak berbeda secara signifikan dengan lulusan SLTP reguler lainnya. Selain itu lulusan yang melanjutkan ke jenjang SLTA (SMU dan SMK) mempunyai hasil belajar yang sama dengan lulusan SLTP lainnya, bahkan di beberapa tempat lain cukup banyak lulusan SLTP Terbuka masuk kategori lima besar di kelasnya. Namun setelah ditetapkan bahwa sistem SLTP Terbuka sebagai salah satu pola Wajar Dikdas 9 tahun yang diunggulkan, maka pengembangan lokasi SLTP Terbuka tidak didasarkan studi kelayakan lokasi secara sistem dan sistemik, sehingga cukup banyak lokasi pengembangan yang kurang layak.
Cukup banyak lokasi SLTP Terbuka yang mempunyai SLTP Induk yang tidak memenuhi syarat seperti kecukupan jumlah guru yang sesuai latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang ajarkan (dibina) dan sarana dan prasarana pembelajaran yang tidak tersedia
Hal ini menyebabkan cukup banyak lokasi SLTP Terbuka tidak dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan konsepsi pembelajaran pendidikan pada SLTP Terbuka. Kondisi dan strategi pembelajaran tak bisa dilaksanakan secara optimal sehingga diasumsikan (belum ada penelitian) motivasi belajar dan motivasi keberhasil siswa semakin menurun. Pada akhirnya hasil belajar siswa tidak sesuai dengan yang diharapkan seperti pada lokasi-lokasi perintisan. Permasalahan yang terjadi pada sistem SLTP Terbuka, terjadi pula pada sistem SMU Terbuka, walaupun jumlahnya baru diritis di tujuh lokasi. Atas dasar itu maka perlu upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi belajar dan motivasi berprestasi siswa SLTP Terbuka dan SMU Terbuka.

II. KAJIAN LITERATUR
Cukup banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Namun dalam makalah ini, kami mencoba mengangkat dari berbagai sumber, yang mengatakan hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh 1) karakteristik siswa dan 2) metode atau strategi pembelajaran (Reigeluth, 1983).
1. Karakteristik Siswa
Karakteristik siswa dalam kajian ini penulis batasi pada dua faktor yaitu a) kemampuan awal dan b) motivasi belajar dan motivasi berprestasi.
a. Kemampuan awal
Beberapa ahli perancang pembelajaran, mengisyaratkan bahwa rancangan pembelajaran dikatakan baik apabila memperhitungkan kemampaun awal siswa sebagai sasaran. Pada awal proses pembelajaran kadang-kadang siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dalam kegiatan pembelajaran, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku (kemampuan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan) awal proses pembelajaran dan tingkah laku siswa pada akhir proses pembelajaran. Jurang tingkah laku siswa pada awal dengan akhir pembelajaran tersebut perlu dijembatani, sehingga hasil setelah proses dilakukan tercapai sebagaimana yang direncanakan. Proses pembelajaran yang baik dimulai dengan titik tolak yang berpangkal pada kemampuan awal siswa untuk dikembangkan menjadi kemampuan baru, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan (kemampuan atau tingkah laku final). Oleh karena itu, keadaan siswa pada awal proses pembelajaran tertentu (tingkah laku awal) mempunyai relevansi terhadap penentuan, perumusan, dan pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran (tingkah laku akhir/final). Menurut Winkel (1991), tingkah laku awal itu dipandang sebagai pemasukan (input; entering behavior), yang menjadi titik tolak dalam proses pembelajaran yang berakhir dengan suatu pengeluaran (output; final behavior). Kalau demikian kemampuan awal siswa merupakan salah satu karakteristik yang perlu diperhatikan oleh perancang pembelajaran atau guru dalam merancang pembelajaran tertentu, karena kemampuan awal memungkinkan proses pembelajaran akan berjalan dengan efektif dan pencapaian hasil sebagaimana yang diharapkan.
Benyamin S. Bloom (1976), menyebutkan kemampuan awal (Cognitive Entery Behavior) adalah berkaitan dengan berbagai tipe pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dipersyaratkan (prerequisite), yang esensial untuk mempelajari tugas atau satu set tugas khusus yang baru. Ini berarti kemampuan awal itu adalah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang telah dipelajari atau dikuasai oleh siswa sebagai persyaratan untuk mempelajari tugas-tugas pembelajaran yang baru. Pengetahuan faktual itu mungkin saja sesuatu yang telah atau pernah dipelajari oleh siswa, yang perlu dikeluarkan untuk mempelajari atau memecahkan soal-soal yang sedang dipelajari. Misalnya; untuk mempelajari atau menghitung masa jenis suatu benda (r) pada pelajaran fisika di SLTP menggunakan rumus; masa jenis benda (r) = masa jenis (M) dibagi Volume (V) atau r = M : V. Dalam memecahkan persoalan rumus dan problem fisika ini siswa harus telah mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang perkalian, dan pembagian. Selain itu siswa harus juga telah menguasai pengetahuan bahwa konsep tentang volume sama dengan isi yang disimbolkan ukurannya dengan meter kubik (m3 ) dan masa jenis dengan ukuran kg. Selain itu siswa haru tahu pula bahwa 1 m3 sama dengan 1.000 liter, karena 1 m3 sama dengan 1.000 dm3, sedangkkan 1 dm3 sama dengan 1 liter.
Gerlach dan Ely mengatakan bahwa melalui tes Enteryng Behaviors (kemampuan awal) siswa, guru akan mengetahui apa yang dibawa atau yang telah diketahui oleh siswa terhadap sesuatu pelajaran pada saat (pelajaran) dimulai. Para perancang pembelajaran atau guru dalam mengembangkan satuan pelajaranya dia harus mengetahui; siapa kelompok, populasi, atau sasaran kegiatan pembelajaran tersebut ? Perlunya guru atau perancang pembelajaran mengetahui kemampuan awal ini, agar pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif, karena pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa terdapat juga pengetahuan yang merupakan prerequisit bagi tugas belajar yang baru. Untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa atau mahasiswa perlu diadakan tes awal. Tes awal mempunyai fungsi atau tujuan yang berharga bagi pengembang pembelajaran.
Menurut Popham dan Baker (Hadi, dkk., 1992) berdasarkan data tes awal guru dapat menentukan 1) apakah siswa-siswanya telah memiliki keterampilan yang diperlukan demi berhasilnya program pengajaran yang disusunnya. 2) Sudahkan siswanya telah mencapai tujuan-tujuan yang seharusnya sudah dicapai dalam pelajaran-pelajaran sebelumnya? Apabila siswa telah gagal menguasai prilaku-prilaku prasyarat maka pelaksanaan pembelajaran berikutnya akan mengalami hambatan.
Bloom berpendapat, kemampuan membaca pemahaman pada kelas 1 – 6 kelihatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam belajar di sekolah yang lebih tinggi kemudian. Hal ini dimungkinkan karena kebanyakan bahan belajar yang digunakan di sekolah mempersyaratkan kemampuan membaca pemahaman. Bahkan telah diteliti hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan keberhasilan mempelajari mata pelajaran Matematik dan IPA Fisika. Dari penelitian tersebut dinyatakan bahwa; korelasi antara membaca pemahaman dengan matamatika 0.72, dan membaca pemahaman dengan IPA Fisika 0.62 untuk kelas 6 – 8; sedangkan pada kelas 9 – 12, korelasi antara membaca pemahaman dengan Matematika 0. 54, serta antara membaca pemahaman dengan IPA Fisika 0.58. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelas-kelas rendah (SD dan SLTP) keberhasilan dalam mempelajari berbagai mata pelajaran khususnya Matematikan dan Fisikan banyak dipengaruhi oleh kemampuan membaca pemahaman dari siswa. Makin tinggi kemampuan membaca pemahamannya semakin mudah menelaah materi-materi mata pelajaran lain. Hal ini lebih-lebih pada SLTP Terbuka, karena sistem ini menerapkan sistem belajar mandiri dengan modul cetak sebagai bahan belajar utamanya. Oleh karena itu pengetahuan prerequisites atau cognitive entry behaviors untuk menelaah tugas-tugas belajar kognitif memerlukan suatu keterkaitan antara siswa dengan penyelesaian tugas belajar. Bila siswa telah menguasai pengetahuan prerequisit yang diperlukan untuk tugas-tugas belajar yang baru kemungkinan mereka akan mudah menyesuaikan mempelajari tugas-tugas belajar yang baru, sehingga memungkinkan mereka berhasil dalam mempelajari nata pelajaran yang bersangkutan. Walaupun demikian, hal ini akan terjadi bila mereka termotivasi untuk melakukan tugas-tugas balajar itu dan bila kualitas dari pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian keberhasilan belajar seseorang akan tercapai, di samping mempunyai kemampuan awal yang memadai, bermotivasi untuk melaksanakan tugas-tugas belajarannya dengan baik, dan juga kualitas pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kebutuhan (need) siswa.
Selanjutnya Bloom mengatakan, ada bukti bahwa kemampuan awal (cogtinive entry behaviors) dapat menjelaskan (mempunyai pengaruh) 50 persen terhadap keberhasilan seseorang terhadap suatu set tugas belajar. Ini berarti walaupun kemampuan awal mempunyai andil 50 persen dalam keberhasilan belajar seseorang, namun temuan tersebut belum tentu benar untuk semua tugas belajar atau semua mata pelajaran.
Dari uraian tersebut jelas sekali bahwa kemampuan awal, dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Kemampuan awal yang dibutuhkan untuk mempelajari suatu mata pelajaran, bukan saja pengetahuan yang dikuasai oleh siswa pada mata pelajaran yang bersangkutan, tetapi juga pengetahuan mata pelajaran lain. Pengetahuan awal pada suatu mata pelajaran memungkinkan untuk dimanfaatkan secara lintas mata pelajaran. Misalnya, kemampuan membaca pemahaman dapat mempermudah mempelajari semua mata pelajaran yang tertulis. Begitu pula, simbol-simbol atau angka-angka yang telah dipelajari dan dikuasai melalui mata pelajaran matematika dapat digunakan di samping untuk mempelajari matematika lebih tinggi, tetapi juga untuk mempelajari mata pelajaran fisika, kimia, biologi, tata buku, geografi, ekonomi, statistik, dan sebagainya.
b. Motivasi belajar dan motivasi berprestasi
Motivasi (motivation) berarti to move atau menyebabkan terjadinya aktifitas-aktifitas seseorang (si pebelajar). Motivasi disebut juga sebagai sesuatu yang melatar-belakangi terjadinya prilaku si pebelajar. Bisa juga sebagai dorongan atau hasrat yang menyebabkan si pebelajar beraktifitas atau bertingkah laku dalam mencapai tujuan (pembelajaran) atau kebutuhan (Suriasumantri, tanpa tahun).
Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan belajar siswa, di samping faktor karakteristiknya di antaranya kemampuan awal dan sikap siswa terhadap mata pelajaran dan guru. Menurut Davies (1981), motivasi mempunyai pengaruh penting dalam pembelajaran.
Pertama; Motivasi memberi semangat siswa; Hal ini membuat siswa menjadi aktif, sibuk, dan tertarik. Ini berarti siswa melakukan berbagai upaya atau usaha untuk meningkatkan keberhasilan dalam belajar sehingga mencapai kleberhasilan yang cukup memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Di samping itu motivasi juga menopang upaya-upaya dan menjaga agar proses belajar siswa tetap jalan. Hal ini menjadikan siswa gigih dalam belajar. Upaya-upaya atau usaha (Gredler, 1986), merupakan atribusi intrinsik untuk memperoleh kesuksesan atau menghindari kegagalan. Siswa yang bermotivasi tinggi (motivasi berprestasi) akan melakukan upaya-upaya atau usaha dengan frekuensi dan intensitasnya pun akan tinggi. Bila hal ini terjadi, maka keberhasilan belajar siswa akan terjadi. Dengan kata lain siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar memungkinkan akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula. Semakin tinggi motivasinya, semakin intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka semakin tinggi hasil belajar yang diperolehnya.
Kedua; Motivasi mengarahkan dan mengendalikan tujuan. Siswa yang bermotivasi mampu mengarahkan dirinya untuk melengkapi tugas-tugas, memungkinkan ia mencapai tujuan (khusus) yang diinginkan. Hal ini menjadikan siswa terarah. Dalam proses pembelajaran, selalu mengarah untuk pencapaian tujuan. Bila dalam pembelajaran setelah dievaluasi, menunjukkan sebagian besar tujuan telah dicapai, itu menunjukkan proses pembelajaran tersebut berjalan efektif dan terarah. Semakin tinggi motivasi siswa, semakin efektif atau terarah mengerjakan atau melengkapi tugas-tugas belajar, dan memungkinkan memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Ini berarti motivasi dapat mengarahlan seseorang untuk mencapai tujuan.
Ketiga; Motivasi itu adalah selektif; Selektif dalam menentukan kegiatan yang akan dilakukan (diambil). Artinya siswa terpusat perhatian dan pikirannya terhadap apa yang sedang dihadapinya. Bila pada saat itu sedang belajar, berarti siswa terpusat perhatiannya pada apa yang sedang dipelajarinya. Bila perhatian terpusat banyak informasi, konsep, prosedur, atau meta kognitif, dalam materi yang dipelajarinya terserap. Begitu pula, bila siswa menemukan masalah dalam kondisi pikiran yang terpusat, memungkinkan ia mampu menemukan bagaimana tugas-tugas atau masalah-masalah itu akan dilakukan. Berarti motivasi menentukan prioritas pemecahan masalah dari berbagai kemungkinan pemecahannya. Menilik penjelasan ini, motivasi dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Siswa yang tidak bermotivasi, pikiran dan perhatiannya tidak terpusat, sehingga tidak mampu menemukan alternatif pemecahan masalah belajarnya, memungkinkan hasil belajarnya menurun atau tidak tercapai.
Keempat; Motivasi membentuk prilaku siswa. Motivasi mengorganisir berbagai aktivitas siswa. Aktivitas-aktivitas memungkinkan keberhasilan ditingkatkan frekuensinya, sebaliknya aktivitas-aktivitas yang memungkinkan akan kegagalan, dienyahkan atau diacuhkan. Bila hal ini terjadi dalam kondisi pembelajaran, maka akan memungkinkan keberhasilan akan diperoleh atau diraih. Ini berarti hasil belajar dapat ditingkatkan.
Dari uraian di atas, motivasi yang merupakan fungsi stimulus tugas, dan mendorong siswa (individu) untuk berusaha atau berupaya mencapai keberhasilan atau menghindari kegagalan. Siswa yang bermotivasi (belajar dan berprestasi) tinggi, misalnya ingin memproleh nilai prestasi tinggi, melihat dirinya lebih mampu daripada siswa yang bermotivasi rendah. Mereka akan berusaha lebih banyak serta melakukan atau menyelesaikan tugas-tugas untuk mencapai prestasi itu. Jadi untuk keberhasilan belajar siswa di samping bermotivasi tinggi, juga harus didukung oleh kemampuan yang memadai (kemampuan awal siswa) untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
2. Metode (Strategi) Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik (si pebelajar) dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belaqjar (UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003). Sementara itu, “strategi dapat diartikan sebagai cara bagaimana isi pelajaran disajikan atau dipresentasikan dalam lingkungan pembelajaran” (Gerlach & Ely, 1971). Ini dapat diartikan bahwa strategi pembelajaran adalah cara bagaimana isi pembelajaran dipresentasikan. Hal itu termasuk keluasan dan urutan kegiatan/kejadian yang dapat memberikan pengalaman belajar. Sementara itu Reigeluth & Merril (1983), menyatakan ada tiga komponen utama dalam strategi pembelajaran, yaitu: strategi pengorganisasian Pembelajaran, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan (kegiatan) pembelajaran.
a. Strategi pengorganisasian
Strategi pengorganisasian pembelajaran atau strategi pengorganisasian bahan ajaran lebih menitikberatkan pada “cara untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur, dan meta kognitif yang berkaitan dalam penyajian isi suatu mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa”. Cara penyajian semacam ini dalam sistem SMP dan SMU Terbuka lebih cenderung kepada pengembangan dan penulisan bahan belajar atau modul pelajaran cetak. Modul pelajaran sudah disusun melalui diskusi dan lokakarya yang melibatkan akhli mata pelajarn, guru mata pelajaran, dan pengkaji media.
b. Strategi penyampaian
Strategi penyampaian pembelajaran dapat dirinci menjadi 1) penggunaan media pembelajaran, dan 2) bentuk belajar mengajar (pembelajaran).
Pertama; Penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran mampu menyajikan muatan isi (fakta, konsep, prosedur,meta kognitif) yang akan disampaikan kepada siswa. Interaksi siswa dengan media akan mencakup “apa yang harus dilakukan siswa dan bagaimana peranan media untuk meningkatkan interaksi yang dimaksud”. Proses belajar terjadi dalam diri siswa ketika mereka berinteraksi dengan media atau sumber belajar. Pada sistem SLTP Terbuka, siswa melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan modul cetak sebagai media utama, dan media audio visual (audio kaset, video kaset, program radio, program TV, VCD, buku paket) sebagai media penunjang. Media-media tersebut dipilih dan dikembangkan berdasarkan karakteristik mata pelajaran, dan melibatkan berbagai unsur seperti guru, ahli mata pelajaran, dan pengkaji media. Misalnya; media audio, diperioritaskan untuk mata pelajaran yang diasumsikan efektif disimak melalui pendengaran seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan mata pelajaran IPS. Mata pelajaran-mata pelajaran yang muatan isinya lebih banyak mengandung konsep, prosedur, dan prinsip seperti matematika, fisika, biologi, dan beberapa topik IPS, lebih banyak disajikan dengan media video, atau televisi.
Kedua; Bentuk kegiatan pembelajaran. Dalam bahasan ini akan mencakup pengelompokan siswa dalam bentuk kelompok besar, kecil, perorangan atau mandiri. Dalam sistem SLTP Terbuka, bentuk kelompok besar terjadi pada saat siswa mengikuti pembelajaran melalui tatap muka. Pada kegiatan ini lebih difoluskan pada pemecahan kesulitan-kesulitan atau materi-materi yang tidak dimengerti oleh siswa pada saat belajar mandiri atau kelompok kecil di TKB masing-masing.

c. Strategi pengelolaan
Menurut Reigeluth dan Merrill (Degeng, 1989) paling tidak ada 4 (empat) hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu: “1) penjadwalan; (2) pembuatan catatan kemajuan belajar siswa; (3) kontrol belajar; dan 4) pengelolaan motivasional. Pengelolaan motivasional telah diuraiakan pada bagian-bagian sebelumnya, sehingga tidak perlu dibahas di bagian ini.
Pertama; Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran mengacu kepada kapan dan berapa kali suatu strategi pembelajaran atau komponen-nya dipakai dalam suatu situasi pembelajaran. Misalnya berapa kali siswa menggunakan program kaset audio dan mendengarkan program radio dalam seminggu, berapa kali kegiatan belajar secara tatap muka dilakukan dalam sebulan untuk tiap mata pelajaran, berapa lama mereka dijadwalkan untuk melaksanakan praktek IPA (fisika) dalam satu semester, berapa kali mereka menonton proram video dan televisi dalam satu bulan, dan berapa kali mereka belajar serta mengunjungi alam terbuka seperti metode proyek, serta berapa kali dalam seminggu mereka mengunjungi dan magang pada industri-industri kecil atau rumah tangga di sekitarnya. Bila semua hal tersebut di atas dijadwalkan dengan jelas, maka pelaksanaan pembelajaran akan berjalan secara efektif, menarik, praktekable, maka niscaya hasil belajar siswa meningkat dan bermanfaat.
Kedua; Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, mengacu kepada kapan dan berapa kali penilaian hasil belajar dilakukan, serta bagai-mana prosedur penilaian. Pada sistem SMP Terbuka dilakukan bermacam bentuk penilaian, yaitu penilaian akhir modul, akhir unit (beberapa modul), akhir catur wulan dan ujian akhir dalam bentuk EBTA dan UAN. SLTP Terbuka yang bagus, apabila melaksanakan semua ketentuan termasuk pelaksanaan dan pembuatan catatan kemajuan belajar siswa. Catatan kemajuan belajar siswa, sebagai salah satu fungsinya adalah sebagai balikan (umpan balik) baik bagi siswa maupun bagi sekolah dan guru mata pelajaran (Guru Bina). Berdasarkan hasil penelitian dan berbagai sumber menunjukkan bahwa umpan balik yang dilakukan dengan baik dan benar, mampu mendongkrak motivasi belajar dan berprestasi siswa. Ini berarti umpan balik secara tidak langsung meningkatkan hasil belajar siswa.
Ketiga; Kontrol belajar merupakan bagian penting untuk mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Komponen ini mengacu kepada “kebebasan siswa melakukan pilihan pada bagian isi yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran yang dipakai, dan strategi kognitif yang digunakan. Aspek-aspek ini dapat memberikan petunjuk bagaimana cara pengelolaan pembelajaran”.
Setiap siswa mempunyai kondisi dan karakteristik yang berbeda dengan yang lainnya. Kemajuan belajar setiap siswa selalu berbeda dengan siswa yang lain. Untuk itu diperlukan pengontrolan belajar siswa, termasuk pengontrolan belajar mandiri dan kelompok di rumahnya. Data kemajuan belajar dapat dipakai sebagi informasi tentang fluktuasi dan atmosfir kemajuan belajar siswa. Siswa yang kelihatan kemajuan belajarnya cenderung menurun, maka kepadanya perlu diberikan pengarahan, bimbingan, dan petunjuk-petunjuk bagaimana meningkatkan hasil belajarnya. Sebaliknya siswa yang prestasinya baik dan fluktuasi hasil tesnya menunjukkan grafik yang bagus, maka kepadanya pula diberi pengarahan supaya mempertahankan prestasinya.
III. UPAYA-UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI
Untuk menentukan upaya-upaya peningkatan motivasi, indikatornya banyak sekali. Karakteristik siswa dan mata pelajaran sangat menentukan untuk menentukan upay-upaya tersebut. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi intrinsik yang kuat berbeda penanganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Siswa yang bermotivasi atau beraspirasi melanjutkan pendidikan, berbeda dengan siswa beraspirasi mencari pekerjaan setelah tamat SLTP. Begitu pula pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belar IPA berbeda dengan mata pelajaran Bahasa Inggris, IPS, Bahasa Indonesia, atau Muatan Lokal. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan. Oleh karena itu sangat mustahil dalam tulisan ini untuk menyajikan upaya peningkatan motivasi sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Lagi pula (Davies, 1971) mengatakan sering terjadi strategi yang paling baik adalah tanpa menghiraukan ada atau tidak adanya motivasi, akan tetapi memusatkan pada penyampaian materi dengan cara yang begitu rupa sehingga motivasi siswa dapat dimunculkan dan diperkuat selama proses belajar. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar di atas juga merupakan upaya-upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa terutama siswa SLTP Terbuka. Atas dasar itu kami mencoba menyampaikan upaya-upaya peningkatan motivasi, pada situasi pembelajaran secara umum.
a. Pengembangan Bahan Pembelajaran
Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, siswa belajar secara mandiri melalui bahan belajar utama berupa modul cetak yang ditopang oleh berbagai media non cetak. Berbagai macam jenis media tersebut harus menarik dan mudah dipahami siswa, kalau tidak maka motivasi belajar dan motivasi berprestasi siswa akan menurun. Berarti upya peningkatan motivasi belajar dan berprestasi siswa SLTP dan SMU Terbuka dimulai dengan pengembangan bahan belajar mandirinya.
Upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pengembanagan bahan belajar sudah dilakukan dengan mengacu kepada teknik-teknik, konsep-konsep atau teori-teori pengembangan dan penulisan modul. Misalnya, menggunakan ilustrasi, gambar, dan grafis, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga memudahkan siswa memahaminya, penyajian materi dari yang sederhana ke kompleks, dari yang mudah ke sukar, dari yang konkrit ke yang abstrak, dan penampilan serta perwajahan berwarna.
Penyediaan jenis media yang disesuaikan karakteristik mata pelajaran ini, dimungkinkan guru atau siswa dalam proses pembelajaran dapat memilih jenis media yang sesuai karakteristik dan pola pembelajaran yang diinginkannya, dan memungkinkan pemanfaatannya secara kombinasi. Berarti kehadiran berbagai jenis media, memungkinkan proses pembelajaran sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa. Dengan kata lain kehadiran berbagai jenis media dalam sistem SLTP Terbuka, membuka dan mendorong motivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar dan mecapai keberhasilan dalam belajar. Berarti pemanfaatan media oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran secara maksimal akan memungkinkan peningkatan hasil belajar siswa. Perlu pula diperhatikan dan dicatat oleh Kepala sekolah, Guru Bina, dan Guru Pamong bahwa media atau sumber belajar di samping dapat meningkatkan pengaruh motivasional siswa, “misalnya seorang guru/tokoh masyarakat sebagai sumber belajar dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang siswa, namun perlu hati-hati kadang-kadang pada saat yang sama ia justru menghancurkan motivasi siswa yang lain”.
b. Awal Pembelajaran
Di TKB siswa belajar mandiri dan dalam kelompok kecil dibawah bimbingan atau kontrol dari Guru Pamong. Dalam 2 (dua) hari dalam seminggu mereka mengikuti belajar melalui tatap muka di SLTP Induk atau tempat lain, di bawah bimbingan Guru Bina (Guru Mata Pelajaran).
Pada awal pelajaran kelompok di TKB dan belajar melalui tatap muka, Guru Pamong dan Guru Bina, hendaknya memulai pelajaran atau pertemuan dengan
Pertama; Menyapa siswa, misalnya selamat berjumpa, selamat siang/sore dan diikuti dengan mencek kehadiran siswa; Kegiatan ini dimaksudkan untuk memusatkan perhatian siswa pada situasi pembelajaran yang akan di mulai. Dengan demikian baik fisik dan mentalnya terjaga dan siap mengikuti pelajaran. Memusatkan perhatian berarti motivasi siswa sudah mulai muncul;

Kedua; Mengutarakan mata pelajaran, judul, dan nomor modul yang akan dibahas atau didiskusikan, dan diikuti dengan penjelasan singkata materi yang lalu serta kaitannya dengan modul yang didiskusikan. Perhatian siswa terhadap mata pelajaran bersangkutan susdah lebih dipusatkan. Melalu penjelasan hubungan materi yang lalu dengan materi yang dibahas sekarang, berarti guru merangsang siswa untuk memunculkan informasi berupa fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang telah ada dalam ingatan jangka panjangnya (long term memory). Informasi yang telah dipunyai itu dapat mempermudah mempelajari informasi yang baru.
Ketiga; Membentuk kelompok (belajar kelompok di TKB); siswa diatur duduknya dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang temannya, dan dijelaskan berapa lama mereka belajar mandiri, diskusi kelompok, dan diskusi dalam kelompok besar seluruh siswa di TKB tersebut. Melalui pengelompokan ini, berdasarkan teori belajar arah diri, siswa dapat berinteraksi antar teman, saling tukar menukar pendapat dan pikiran, dan dapat membahas masalah secara bersama. Melalui kegiatan semacam ini dapat mengembangkan konsep diri dan kemampuan memecahkan masalah bagi siswa. Pada sekolah-sekolah di negara Eropah kegiatan semacam ini ditunjang oleh komputer menggunakan bahasa LOGO dengan program grafik kura-kura (turtle graphics)
Untuk menunjang beberapa upaya tersebut di atas, pada setiap bagian pendahuluan modul, selalu menggunakan bahasa sapaan, kaitan isi modul dengan modul sebelumnya, tujuan, pokok-pokok materi, petunjuk cara mempelajari modul, dan petunjuk mengerjakan tes akhir modul sebagai balikan hasil belajar. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa waktu belajar mandiri.
c. Saat Proses Pembelajaran
Pertama; Membuat suasana kelas yang mengandung persaingan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saksama, terarah, dan jelas secara umum kemudian perkelompok (per TKB pada tatap muka). Namun demikian, kurangi persaingan untuk memperoleh ganjaran dan kegiatan yang memberikan ganjaran yang berkaitan dengan akademik.
Kedua; Menciptakan kondisi kelas yang mendukung terjadinya interaksi antar siswa, saling menukar pengalaman dan pengetahuan melalui teknik atau metode diskusi;

Ketiga; Tingkatkan motivasi dan perhatian ke arah siswa yang kelihatan kurang perhatian atau motivasi dengan menggunakan kode gerakkan mata, intonasi suara yang sekali-sekali keras dan bersemangat.
Keempat; Manfaatkan dan gunakan berbagai macam media dan teknik atau metode secara bergantian sesuai dengan spsifikasi materi yang dibahas dan didiskusikan.
d. Akhir Pembelajaran
Pertama; Beriakan balikan (umpan balik) pada saat jawaban pertanyaan oleh siswa, hasil jawaban siswa setiap tes. Dalam memberikan balikan, guru hendaknya memberikan penjelasan jawaban yang benar seharusnya bagaimana, bila jawaban siswa hampir betul atau betul berikan pujian misalnya; bagus sekali, betul sekali dsb. Tetapi bila jawabannya belum betul, janganlah memberikan balikan dengan mengatakan salah, bodoh. Dalam hal ini, alangkah baiknya gunakan bahasa yang menyenangkan, misalnya, jawabanmu belum betul, atau kamu sebenarnya pintar mungkin belum berusaha dengan baik, dan sebagainya.
Kedua; Pada akhir pertemuan atau kegiatan, usahakan materi yang dibahas tadi dibuatkan atau dijelaskan secara singkat rangkumannya dengan tepat, jelas, dan singkat.
Ketiga; Pada akhir kegiatan perlu juga diperingatkan siswa waktu pertemuan lagi, kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa sebelum kegiatan berikutnya, atau memberikan pekerjaan rumah.
Keempat; Pada sat kegiatan berakhir, ucapkan selamat sore atau siang, dan selamat bertemu lagi pada pertemuan yang akan datang.
Selain dari berbagai upaya tersebut di atas, ada pula upaya-upaya lain yang lebih umum dan di luar kegiatan pembelajaran di kelas, seperti berikut.
Pertama; Biasakan memberikan ganjaran berupa hadiah alat tulis, buku pelajaran, atau bea siswa bagi siswa yang masuk kategori 10 besar pada setiap tingkat kelas dan tiap semester.
Kedua; Pada waktu pembagian raport, siswa yang termasuk dalam 10 besar diumumkan di muka orang tua murid, dan dipanggil untuk maju dan berdiri di muka kelas.
Ketiga; Adakan kegiatan olah raga dan kesenian, pertandingan olah raga dan kesenian antar kelas, antar tingkat, dan atar sekolah. Berikan hadiah dan piagam bagi yang berhasil juara, baik perorangan maupun kelompok.
Keempat; Khusus siswa SLTP dan SMUTerbuka, berilah kesempatan mereka untuk mengikuti upacara penaikan dan penurunan bendera, sekali gus sebagai petugasnya. Lebih bagus kegiatan tersebut bergabung dengan siswa-siswa SLTP Induknya.
e. Kehadiran Guru Bina dan Guru
Kehadiran guru bina dan guru pamong dalam pembelajaran tutorial tatap muka dan belajar di TKB akan meningkatkan motivasi belajardan motivasi berprestasi siswa.
Guru mata pelajaran yang bersangkutan di samping membantu siswa memecahkan kesulitan, juga diharapkan meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya siswa yang bermotivasi rendah. Kehadiran guru mata pelajaran yang sehari-harinya mengajar dan sebagai guru SLTP reguler (Induk), memunculkan perasaan/keyakinan siswa bahwa mereka betul-betul bersekolah di SLTP Negeri, walaupun rata-rata hanya dua hari dalam seminggu bertemu dengan guru-guru mata pelajaran (guru bina) dan Kepala Sekolahnya. Pertemuan yang demikian, dapat memunculkan dan meningkatkan rasa senang, menambah wawasan, menambah jumlah kawan dari berbagai TKB dan dari SLTP Induk, dan bahkan dapat menghilangkan ketegangan. Kalau demikian kegiatan pembelajaran melalui tatap muka ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan berprestasi siswa, khususnya siswa-siswa yang bermotivasi rendah. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan hasil belajar siswa. Perlu ditambahkan bahwa, penentuan waktu (hari dan jamnya) dalam pelaksanaan pembelajaran melalui tatap muka di SLTP Terbuka di dasarkan waktu luang bagi siswa itu sendiri.
Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, selain ada pengelompokkan pada pembelajaran tatap muka, juga ada kegiatan belajar dalam kelompok kecil dan mandiri di TKB masing-masing. Pada waktu belajar di TKB, siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa. Dalam kelompok kecil ini siswa diberikan kebebasan untuk menentukan waktunya berapa lama mereka belajar mandiri, kemudian berdiskusi untuk memecahkan kesulitan yang dialami setiap siswa, dan merumuskan kesulitan-kesulitan yang akan diajukan untuk didiskusikan seluruh siswa di TKB tersebut. Selama kegiatan belajar mandiri dan diskusi kelompok, guru pamong bersikap proaktif memonitor, memantau, mengarahkan, membantu memecahkan kesulitan bila kebenaran informasinya tidak diragukan. Suasana belajar rileks, tanpa ada tekanan, siswa bebas memilih mata pelajaran yang didiskusikan asal sesuai dengan jadwal yang ada. Kondisi belajar seperti ini memungkinkan gejolak emosi siswa pada taraf yang normal atau moderat sehingga memungkinkan pembangkitan dan peningkatan motivasi siswa. Berdasarkan berbagai sumber, pada saat emosi seseorang berada pada taraf moderat, akan membuka peluang munculnya motivasi termasuk motivasi belajar dan berprestasi.
Dalam kondisi emosi moderat. seseorang dapat melakukan aktivitasnya dengan baik, mampu membangkitan informasi-informasi dalam memorinya, baik memori jangka panjang maupun jangka pendek. Belajar itu sendiri akan berlangsung dengan baik dan efektif bila mampu mengkaitkan dan menghubungkan informasi yang sudah dimiliki dengan informasi-informasi yang baru.

IV. PENUTUP
Isi makalah ini mungkin saja bukan hal yang baru, terutama sekali para pembaca dan peserta latihan yang pernah duduk dibangku pendidikan guru atau pernah mengikuti penataran yang serupa. Kalau demikian kehadiran makalah ini sebagai upaya untuk membangkitkan dan mengaktifkan informasi-informasi yang telah tertahan dalam ingatan jangka panjang, serta dimanfaatkan dalam menjalankan tugas sebagai pengelola pendidikan. Mungkin juga beberapa informasi dalam paper ini ada hal-hal yang baru, sehingga melengkapi pengetahuan dan pengalaman yang pernah dirasakan dan dilaksanakan.
Bagi pembaca yang berstatus sebagai Kepala Sekolah, kami himbau sebarkan pengetahuan dan informasi dalam makalah ini kepada teman-teman sesama Kepala Sekolah, kepada Guru Bina dan Guru Pamong, serta aplikasikan apabila masuk mengajar di kelas. Menyebarkan ilmu dan pengetahuan itu adalah suatu perbuatan yang baik dan mendapat pahala tiada taranya dari Allah Yang Maha Kuasa. Lebih-lebih orang ditulari itu ditularkan lag kepada temannya dan diamalkan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Berliner, David C. and Calfee, Robert C., Hand Book of Educational Psychology, New York, Macmillan library Revarence USA, 1996.
Bloom, Benyamin S., Human Characteristics and School Learning, New York, McGraw-Hill Company, 1976.
Buchler/Snowman, Psychology Applied to Teaching, Boston, Houston Miffin Company, 1986.
Davies, Ivor K., Pengelolaan Belajar, (Penterjemah Sudarsono sudiardjo, Lily Rompas, Koyo Kartasurya), Jakarta, PAU-UT kerjasama dengan CV Rajawali, 1981.
—-, Instructional Technique, New York, McGrow-Hill Book Company,1981.
Degang, I. Nyoman S., Ilmu Pengajaran; Taksonomi Variabel, Jakarta Depdikbud Ditjen Dikti, 1989.
Gagne, Robert M. and Briggs, Lislie J., Principle of Instructional Design, Second Edition, New York, Holt Rinchart and Winstone, 1979.
Gerlach Vernon S. and Ely, Donald P., Teaching and Media, A Systematic Approach, New Jersey, Prentice-Hall Inc. Engliwood Cliffa, 1971.
Good, Thomas L. and Brophy, Jere E., Educational Psychology A Realistic Approach, Four Edition, New York & London, Longman, 1990.
Gredler, Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan, Penterjemah Munandir, Jakarta, Rajawali Pers, 1986.
McClelland, David C. dkk., The Achievement Motive, New York, Irvington Publishers, 1976.
Pophan, W. James and Baker, Evil L. Teknik Mengajar Secara Sistematik, Penterjemah Amirul Hadi, dkk., Jakarta, Rineka Cipta, 1992.
Reigeluth, Charles M., Instructional Design, Theories and Model An Overview of Their Current Status, London, Lawence Erlbaum Associaties Publisher, 1983.
Steers, Richard M. and Porter, Lyman W., Motivation and Work Behavior, Fift Edition, New York, McGrew-Hill Inc.,
BAB VIII
MASALAH-MASALAH BELAJAR DAN KESULITAN BELAJAR

8.1 Konsep Dasar dan Latar Belakang Kesulitan Belajar.
8.2 Cara Menentukan Masalah-masalah Belajar.
8.3 Patokan Gejala Kesulitan Belajar.
8.4 Penanganan Kesulitan Belajar

Perubahan yang bagaimanakah yang dinamakan belajar? Dan perubahan yang bagaimana pula yang tidak bisa dikatakan belajar. Mengapa demikian?
Bedakan antara belajar afektif dan kognitif menurut bentuk psikis. Bedakan pula antara belajar fakta, konsep, dan prinsip.
Apakah pembelajaran individual itu? Kapan pembelajaran individual mungkin dilakukan? Bagaimana kedudukan guru dalam pembelajaran individual?
Penggalian informasi di LTM selain untuk keperluan reproduksi (mencari informasi), juga digunakan untuk membentuk informasi baru. Jelaskan proses kedua penggalian informasi di LTM tersebut.
Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991), dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu: Conditioning theory, Connection theories, Insighful Learning. Cari perbedaan yang prinsipiil dari ketiga teori tersebut, dan bagaimana penggunaan ke tiga teori belajar tersebut dalam pembelajaran?
Menurut pandangan konstruktivistik kebebasan adalah kunci kesuksesan dalam belajar. Beri penjelasan pernyataan tersebut. Dan bagaimana sanggahan dari pandangan behavioristik terhadap prinsip kebebasan di atas.

SISTEM BELAJAR MANDIRI:
Dapatkah Diterapkan dalam Pola Pendidikan Konvensional?
Oleh: Uwes A. Chaeruman*)
Abstrak
Sistem belajar mandiri adalah cara belajar yang lebih menitikberatkan pada peran otonomi belajar kepada pebelajar. Dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri, pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa yang harus dipelajari dan darimana sumbernya; 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi). Belajar mandiri juga dapat dipandang sebagai metode (proses) maupun tujuan (produk). Sebagai proses, belajar mandiri dijadikan sebagai metode/cara dalam sistem pembelajaran tertentu. Sedangkan sebagai produk, mengandung arti bahwa suatu sistem pembelajaran dengan berbagai strateginya ditujukan untuk menghasilkan pebelajar mandiri. Sebenarnya pendidikan dengan sistem belajar mandiripun, secara tidak langsung akan membantu dan mengembangkan kecakapan belajar mandiri. Sehingga, pendidikan dengan sistem belajar mandiri dapat menghasilkan pebelajar mandiri. Pada dasarnya, sistem belajar mandiri bukan hanya milik pendidikan jarak jauh. Tapi, dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan, termasuk dalam pola pendidikan konvensional. Dalam rangka membentuk manusia sebagai pebelajar mandiri yang dibutuhkan di abad 21, maka penerapan sistem belajar mandiri atau metode lain yang dapat membentuk kemampuan belajar mandiri perlu digalakan dalam semua pola pendidikan.

PENDAHULUAN
Sampai saat ini, belajar mandiri dikenal sebagai salah satu sistem pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan terbuka atau jarak jauh. Tidak semua orang memahami dengan baik konsep belajar mandiri, bahkan akademisi. Berdasarkan pengalaman penulis, di kampus, beberapa akademisi (mahasiswa) masih banyak yang belum memahami betul tentang konsep belajar mandiri atau istilah terkait lain seperti belajar individual, belajar sendiri, belajar terbuka atau jarak jauh, dll. Ada beberapa pertanyaan fundamental yang sering muncul di kalangan akademisi: 1) apakah sebenarnya yang dimaksud dengan belajar mandiri?; 2) mengapa belajar mandiri diterapkan untuk pendidikan terbuka atau jarak jauh?; 3) apakah hanya dapat diterapkan dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh?; 4) dapatkah diterapkan dalam pendidikan konvensional?; 5) jika jawabannya ya, mengapa dan bagaimana?
Dalam makalah ini, penulis ingin berbagi gagasan tentang konsep belajar mandiri dan aplikasinya dalam pendidikan, bukan hanya untuk pendidikan jarak jauh. Pada dasarnya, sistem belajar mandiri dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan, baik konvensional maupun non-konvensional (seperti pendidikan terbuka dan jarak jauh). Disamping itu, penulis juga ingin berbagi pengalaman tentang penerapan belajar mandiri dalam pendidikan konvensional. Dengan harapan gagasan yang disampaikan dalam makalah singkat ini dapat memperluas wawasan akademisi dan professional lain dalam bidang pendidikan tentang belajar mandiri dan penerapannya. Penulis juga ingin berbagi ide bahwa belajar mandiri dapat dipandang sebagai proses (metode) dan produk (tujuan). Penulis ingin mengajak pembaca untuk memikirkan ulang pernyataan kedua. Pebelajar mandiri sebagai produk dari suatu institusi pendidikan sangatlah penting dan dibutuhkan dalam abad 21 ini.

KONSEPSI BELAJAR MANDIRI
Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang belajar mandiri. Istilah-istilah tersebut antara lain adalah 1) independent learning, 2) sel-directed learning, 3) autonomous learning.1) Wedemeyer (1973) menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pebelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Pebelajar mendapatkan bantuan bimbingan dari guru atau orang lain tapi bukan bearti harus bergantung kepada mereka.2)
Rowntree (1992), mengutip pernyataan Lewis dan Spenser (1986) menjelaskan bahwa ciri utama pendidikan terbuka yang menerapkan sistem belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk membantu pebelajar memperoleh kemandirian dalam menentukan keputusan sendiri tentang 1) tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapainya; 2) mata ajar, tema, topic atau issu yang akan ia pelajari; 3) sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan; dan 4) kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan diuji (dinilai).3) Pengertian senada juga dijelaskan oleh Knowles (1975), belajar mandiri adalah suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain untuk 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi sumber-sumber belajar; 4) memilih dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.4)
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi dan sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).

KARAKTERISTIK BELAJAR MANDIRI
Belajar mandiri juga tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang diskrit, tapi merupakan suatu kontinum. Inti dari konsep belajar mandiri terletak pada otonomi belajar. Artinya, semakin besar derajat otonomi/kemandirian (peran kendali, inisiatif, atau pengambilan keputusan) diberikan oleh suatu lembaga pendidikan (guru/dosen) kepada pebelajar dalam menentukan keempat komponen diatas, maka semakin tinggi (murni) derajat sistem belajar mandiri yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan tersebut. Moore (1977) seperti dikutip oleh Keegan (1990) menyatakan bahwa derajat kemandirian belajar yang diberikan kepada pebelajar dapat dilihat dari tiga asoek 1) kemandirian dalam menentukan tujuan: apakah penentuan tujuan belajar ditentukan oleh guru atau pebelajar? 2) kemandirian dalam menentukan metode belajar: apakah pemilihan dan penggunaan sumber belajar dan media lain keputusannya dilakukan oleh guru atau pebelajar?; 3) kemandirian dalam menentukan evaluasi: apakah keputusan tentang metode evaluasi serta criteria yang digunakan ditentukan guru atau pebelajar? 5)
Moore juga memberikan contoh derajat kemandirian belajar yang diterapkan dalam suatu pembelajaran tertentu sebagai berikut:
Contoh Penentuan Penentuan Evaluasi
Tujuan Strategi
1. Privat O O O
2. University of London External
Degree O O NO
3. Belajar Keterampilan Olah Raga O NO O
4. Belajar Mengemudi Kendaraan O NO NO
5. Learner Control Course and
Evaluation NO O O
6. Kebanyakan Kursus/Kuliah
dengan Belajar Mandiri NO O NO
7. Independent Study for Credit N N N
Diadaptasi dari Moore (1977)
Keterangan: O = Otonom (ditentukan oleh pebelajar)
NO = Non-otonom (tidak ditentukan oleh pebelajar)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa privat merupakan salah satu contoh suatu pembelajaran yang benar-benar menerapkan sistem belajar mandiri murni. Sedangkan belajar mandiri untuk mencapai suatu kredit adalah contoh pembelajaran yang benar-benar tidak menerapkan sistem belajar mandiri.

BELAJAR MANDIRI SEBAGAI METODE VS BELAJAR MANDIRI SEBAGAI TUJUAN
Candy (1975), menyatakan bahwa belajar mandiri dapat dipandang sebagai proses atau produk. Artinya belajar mandiri dapat dipandang sebagai metode atau tujuan. Belajar mandiri sebagai proses (metode) mengandung makna bahwa belajar mandiri dijadikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan dimana pebelajar diberikan kemandirian yang relatif lebih besar dalam menentukan ketiga aspek seperti dijelaskan Moore diatas. Belajar mandiri sebagai produk (tujuan) mengandung makna bahwa setelah mengikuti pembelajaran tertentu pebelajar diharapkan menjadi seorang pebelajar mandiri (independent learner).6)
Dalam konteks yang kedua ini, belajar mandiri dianggap sebagai keterampilan hidup yang harus dikuasai oleh setiap orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dunia industri sangat membutuhkan professional bisnis yang memiliki kecakapan belajar mandiri. Karena dalam konteks bisnis, setiap individu dituntut untuk terus belajar sepanjang karirnya.7) Down (1994) dan Mullen (1997), dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa setiap organisasi bisnis mengharapkan lulusan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah, beradaptasi dengan perubahan-perubahan (belajar terus menerus) dan berkolaborasi dengan orang lain.8) Lebih jauh, Hughes (2000) menyatakan bahwa kemampuan untuk belajar dan mengaplikasikannya secara mandiri seharusnya menjadi karajteristik yang membedakan antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama.9) Issu ini telah menjadi sedemikian pentingnya bagi isntitusi pendidikan di beberapa negara maju seperti Penn’ State University10), Cuya Hoga Community College11), Open University of Hongkong12) dan lain-lain.
Dari beberapa keterangan diatas jelas menunjukkan bahwa belajar mandiri tidak hanya menjadi metode, tapi lebih jauh merupakan tujuan. Pebelajar mandiri telah menjadi produk yang diharapkan oleh setiap institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi karena pebelajar mandiri juga merupakan kebutuhan dunia kerja.
Belajar Mandiri: antara Pendidikan Jarak Jauh dan Pola Konvensional
Dengan melihat konsepsi dan karakteristik belajar mandiri diatas, maka timbul pertanyaan, “Apakah belajar mandiri hanya dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh?” Mengapa pendidikan jarak jauh menggunakan sistem belajar mandiri? Apakah sistem belajar mandiri dapat diterapkan dalam pola konvensional?
Jawabnya, belajar mandiri dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh maupun pola pendidikan konvensional. Pada prinsipnya, sejauh suatu sistem pembelajaran memberikan otonomi/kemandirian yang lebih besar kepada pebelajar untuk mengendalikan belajarnya maka dapat dikatakan bahwa sistem pembelajaran tersebut menerapkan sistem belajar mandiri. Knowless mengatakan bahwa beda antara pembelajaran yang menggunakan sistem belajar mandiri dengan yang tidak dapat dilihat dari: 1) apakah pembelajaran yang digunakan lebih berpusat pada pebelajar (student centered) atau tidak; 2) apakah pembelajaran yang digunakan lebih bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) atau tidak; dan 3) apakah pembelajaran yang digunakan lebih banyak dikendalikan oleh pebelajar (student-directed) atau guru.
Dalam pendidikan konvensional, menurut pengalaman penulis, lebih banyak masih bersifat “teacher-centered” atau “teacher-directed”. Padahal, seiring dengan perkembangan teori belajar, khususnya konstruktifisme, hal itu tidak perlu terjadi lagi. Bahkan, tidak hanya dalam pendidikan orang dewasa, tapi dalam pendidikan anakpun (preschool education) sudah semestinya menggunakan pendekatan student center atau student directed learning.
Sebagai kesimpulan, mengingat: 1) telah terjadinya pergeseran paradigma pendidikan dari “teacher-centered” ke “student-centered”; dan 2) pentingnya pebelajar mandiri sebagai produk institusi pendidikan, maka sistem belajar mandiri sangat memungkinkan diterapkan di berbagai pola pendidikan. Tidak hanya terbatas pada pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik utama terpisahnya antara pebelajar dan guru atau tutor. Oleh karena itu, sebagai konsekuensi logis dari karakteristik tersebut maka pendidikan jarak jauh menerapkan sistem belajar mandiri.

KONSEKUENSI PENERAPAN SISTEM BELAJAR MANDIRI
Namun demikian, penerapan sistem belajar mandiri memiliki konsekuensi yang berbeda. Para Ahli menyarankan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan sistem belajar mandiri baik dalam pendidikan jarak jauh maupun dalam pola pendidikan konvensional. Hal-hal tersebut adalah kita harus menyadari bahwa peristiwa belajar yang optimal terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu. Race (1994)13), mengidentifikasi bahwa peristiwa belajar yang optimal terjadi apabila:
• Pebelajar merasa menginginkan untuk belajar (want to learn).
• Belajar dengan melakukan (learning by doing) melalui praktek, trial and error dan lain-lain.
• Belajar dari umpan balik (learning from feedback), baik dari orang lain (tutor, guru, teman) atau diri sendiri (seeing the result).
• Mendalami sendiri (digesting), artinya membuat apa yang telah mereka pelajari masuk akal dan dapat dirasakan sendiri aplikasinya bagi kehdiupannya.
• Sesuai dengan situasi dan kondisinya (at their own pace).
• Pada saat dan tempat yang mereka pilih sendiri (at their own pace).
• Pebelajar mengendalikan sendiri belajarnya (feel in control of their learning)
• Sering bersama dengan kolega (often with other people around, especially fellow-learners).
Beberapa pernyataan diatas menunjukkan bahwa secara umum peristiwa belajar terjadi secara independent (mandiri). Disamping itu, persitiwa belajar terjadi apabila ditunjang oleh sumber belajar (resource-based learning). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa, “most learning is indendent and resources-based”.
Apa implikasinya dalam pendidikan dengan menerapkan system belajar mandiri? Race (1994)14), menyatakan bahwa implikasi utamanya adalah perlunya mengoptimalkan sumber belajar dengan tetap memberikan peluang otonomi yang lebih besar kepada pebelajar dalam mengendalikan belajarnya. Bentuk-bentuk sumber belajar yang perlu dioptimalkan tersebut meliputi:
• Sumber belajar berupa orang (human resources); seperti tutor, guru, atau teman sejawat. Dalam menerapkan system belajar mandiri, peran guru/tutor bergeser dari pemberi informasi menjadi fasilitator dengan cara:
– Menyediakan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan pebelajar;
– Merangsang gairah/selera/kemauan pebelajar untuk belajar.
– Memberi peluang kepada pebelajar untuk menguji atau mempraktekkan belajarnya;
– Memberikan umpan balik tentang perkembangan belajarnya; dan
– Membantu pebelajar bahwa apa yang telah dipelajarinya masuk akal dan berguna dalam kehidupannya (kontekstual).
Sementara itu, teman sejawat diberdayakan sebagai mitra belajar dengan cara memberikan peluang keapda mereka untuk:
– Belajar dari kesalahan satu sama lain;
– Saling membantu menyamakan perspektif dari apa yang telah dipelajari;
– Membantu satu sama lain mencari/bertuka/memberi sumber belajar yang terbaik; dan
– Mendiskusikan ide-ide atau konsep-konsep sulit bersama.
• Sumber Belajar berupa Informasi (Information-Type Resources); Secara histories, jenis sumber belajar berupa informasi biasanya ditulis/disimpan diatas kertas (paper-based) seperti buku, modul, jurnal, artikel, handout atau catatan, buku panduan, buku tugas, dll. Jenis sumber informasi seperti ini adalah yang paling umum digunakan dan paling mudah dikembangkan. Jenis sumber informasi lain, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara lain adalah paket belajar berbantuan computer (seperti CD ROM interaktif dan hypermedia), media komunikasi berbasiskan komputer (seperti computer conferencing, e-mail, online database, dan internet), atau media belajar lain seperti program video, program audio, practical kits dan lain-lain. Jenis yanag kedua ini kebanyakan memerlukan bantuan elektronik dan komputer (electronic and computer-based).
Bagaimana cara mengoptimalkan kedua sumber belajar tersebut? Phill Race (1994) menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
– Motivasi untuk belajar sangat penting bagi pebelajar sehingga mereka mempunyai tanggung jawab untuk belajar secara mandiri. Oleh karenanya, semua sumber belajar (orang maupun non-orang) harus dirancang/direncanakan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga benar-benar atraktif agar dapat merangsang gairah/minat mereka untuk belajar/mempelajarinya.
– Belajar mandiri tergantung pada belajar sambil melakukan (learning by doing). Jangan biarkan pebelajar hanya mempelajari bahan belajar tanpa diberikan peluang untuk mempraktekkannya. Sumber belajar yang efektif adalah sumber belajar yang memberikan peluang kepada pebelajar memilih dan menentukan sendiri tugasnya dan mempraktekkannya.
– Pebelajar memerlukan umpan balik tentang perkembangan belajarnya. Sumber belajar (orang maupun non-orang) harus memungkinkan adanya pemberian umpan balik sebagai respon terhadap kegiatan belajar yang telah mereka lakukan.
– Pebelajar harus merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu berarti bagi dirinya. Oleh karena itu mereka, harus memperoleh arti/makna tersebut dari latihan yang mereka lakukan, umpan balik yang mereka terima dan atau dari kegiatan melakukan tugas/praktek bersama kelompok (teman sejawat).

SISTEM BELAJAR MANDIRI DALAM POLA PENDIDIKAN KONVENSIONAL: CONTOH KASUS
Penulis telah mencoba menerapkan sistem belajar mandiri dalam beberapa mata kuliah yang penulis ampu. Salah satunya adalah dalam mata kuliah Pengenalan Komputer untuk mahasiswa S1 Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat menguasai minimal tiga program aplikasi komputer, yaitu MS Word, MSExcel dan MSPowerPoint. Sistem belajar mandiri ini dilakukan tiak semata-mata sebagai metode, tapi penulis mencoba melalui segala ktifitas yang dilakukan didalamnya berharap agar para mahasiswa tersebut secara tidak dapat mengembangkan keterampilan belajar mandiri.
Penulis sebagai dosen untuk mata kuliah tersebut berupaya memfasiltasinay dengan berbagai langkah sebagai berikut:
1. Pembahasan kontrak kuliah dengan cara membangun visi bersama (shared vision); pada awal perkuliahan, penulis menggambarkan secara umum mata kuliah Pengenalan Komputer kepada mahasiswa. Setelah itu, para mahasiswa, satu persatu diminta untuk menuliskan harapan masing-masing yang ingin dicapai diakhir mata kuliah. Dari 20 mahasiswa, dipilih satu harapan yang dianggap oleh semuanya sebagai harapan (visi) yang paling ideal. Visi bersama ini dijadikan sebagai tujuan umum pembelajaran oleh penulis. Setelah itu penulis, meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi kompetensi-komptensi khsusu apa sajakah yang harus dikuasai agar tujuan umum (visi) tersebut tercapai. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh beberapa tujuan pembelajaran khusus. Untuk membahas dua topik ini, memakan dua jam pelajaran atau 90 menit.
2. Pembahasan Strategi Belajar; Pada pertemuan berikutnya, baru membahas strategi belajar. Dalam hal ini penulis menjelaskan bahwa mahasiswa boleh belajar mulai dari mana saja (apakah mau belajar MSWord dulu, MS excel dulu atau MS Powerpoint dulu) dan boleh mengusulkan ujian kapan saja mereka siap. Dalam belajar mereka akan dibekali modul atau buku lain yang relevan dan aplikasi komputer itu sendiri sebagai sumber belajar non orang dan teman sejawat serta dosen sebagai sumber belajar orang. Dengan demikian, setiap kali pertemuan kuliah, mereka harus datang dengan tujuan dan ide (apa yang mau mereka pelajari, apa yang mau mereka tanyakan, apa yang mau mereka lakukan).
3. Pembahasan Sistem Evaluasi; masih pada pertemuan yang sama, disampaikan kepada mahasiswa bahwa evaluasi dilakukan melalui: 1) sistem portfolio (mereka harus membuat refleksi belajar harian, evaluasi diri, evaluasi dari dua atau tiga orang teman lainnya, dan mereka harus menunjukkan tiga karya yang mereka anggap terbaik untuk dinilai; 2) Mid Test (test buatan dosen) dan 3) Ujian Akhir (dimana ia boleh mengusulkan kapan saja mereka siap dengan soal yang dibuat oleh mereka sendiri). Namun demikian dalam ujian akhir, mahasiswa diajak untuk berdiskusi menyusun kriteria penilaian ujian akhir termasuk bobotnya.
4. Pelaksanaan; dalam pelaksanaan tugas penulis sebagai fasilitator hanya berkeliling membimbing dan mengarahkan mereka.
Percobaan untuk mata kuliah dengan sistem belajar mandiri ini memberikan dampak yang luar biasa tidak hanya untuk hasil belajar tapi juga motivasi, gairah dan kepuasan belajar mahasiswa. Memnagajtrkan MSWord yang biasanya memakan waktu 8 kali pertemuan lebih dengan pola konvensional, dengan metode ini hanya memakan waktu 3-4 kali pertemuan. Disamping itu, dalam ujian kahir, mahasiswa beanr-benar menunjukkan produk terbaiknya untuk mengejar kriteria yang telah mereka susun bersama.
Namun demikian, metode ini, untuk mata kuliah yang sama, tidak berhasil bagi mahasiswa kelas alih program. Mereka masih memiliki tipe “dependent learner” sehingga harus dibimbing langkah per langkah secara bersama. Satu semester tidak cukup untuk mengajarkan MSWord. Hal ini mungkin lebih banyak disebabkan karena faktor: 1) kefamiliaran dengan komputer; 2) umur; 3) orientasi; 4) motivasi belajar dan lain-lain.
KESIMPULAN
Sistem belajar mandiri adalah cara belajar yang lebih menitik beratkan peran otonomi belajar kepada pebelajar. Dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi & sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).
Belajar mandiri juga dapat dipandang sebagai proses (metode) maupun produk (tujuan). Sebagai proses, belajar mandiri dijadikan sebagai metode dalam sistem pembelajaran tertentu. Sedangkan sebagai produk mengandung arti bahwa suatu sistem pembelajaran dengan berbagai strateginya ditujukan menghasilkan pebelajar mandiri. Sebenarnya, pendidikan dengan sistem belajar mandiripun, secara tidak langsung akan membentu dan mengembangkan keterampilan belajar mandiri. Sehingga produknya adalah pebelajar mandiri.
Belajar mandiri tidak hanya dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh. Tapi, dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan sejauh otonomi belajar lebih besar diberikan kepada pebelajar. Dengan kata lain, sejauh suatu sistem pembelajaran lebih bersifat “student-centerd” atau “student-directed”. Namun demikian, dalam penerapannya terdapat beberapah konsekuensi yang harus dipertimbangkan agar berhasil secara optimal. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan atau memberdayakan segala sumber belajar baik yang berupa orang maupun non-orang. Semuanya itu harus dirancang dan dikembangkan sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan belajar mandiri.

DAFTAR PUSTAKA
Candy, Philip C., “Independent Learning: Some Ideas from Literature”, (http://www.brookes.ac.uk /services/ocsd/2_learntch/independent.html)
Cuya Hoga Community College, http://www.dle.tre-c.cc.ch.us/docs/l.html
Hughes, Peter, “Developing Independent Learning Skills”, http://www.herts.ac.uk./envstrat/HLP/ dowconfproc/proc2/hughes%20.htm. h. 7.
Irene, S. C. Siauw, Fostering Self-Directed Learning Readiness by Way of PBL Intervention in Bussiness Education”, Open University of Hongkong, http://www.TPK.edu.sg/pblconference/full/irene%20 siauw.pdf. h. 1
Keegan, Desmond, “Foundation of Distance Education”, (London: Routledge, 1990), h. 54.
Knowless, Malcolm S., “Self-Directed Learning: A Guide for Learners and Teachers” Rowntree, Derek, “Exploring Open and Distance Learning” (London: Kogan Page Limited, 1992) h. 61
Open University of Hongkong, http://www.TPK.edu.sg

Belajar itu Asyik…
August 7, 2006
Suka Musik itu Baik
Filed under: Pertumbuhan Anak
Suka Musik itu Baik
Kecerdasan bermusik adalah salah satu dari delapan kecerdasan teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Dr. Howard Gardner, guru besar pendidikan dari Harvard University, AS. Menurutnya, kecerdasan bermusik mencakup kepekaan dan atau penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik, hingga seseorang mampu menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.
Gardner mengatakan, pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Penelitian menunjukkan bahwa anak usia dua bulan sudah dapat menyuarakan nada tinggi dari nyanyian yang didengarnya, misalnya lagu yang disenandungkan ibunya. Selain itu, di usia empat bulan anak sudah mampu mengikuti ritme/irama lagu. Kecerdasan musik alamiah anak menjadi bertambah atau berkurang tergantung lingkungan. Menurut psikolog sekaligus Managing Partner Jagadnita Consulting, dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun. “Karena pada rentang usia ini otak anak sedang tumbuh pesat” katanya.
Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan aspek emosional. Dr. Frances Rauscher dari University of Wisconsin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California menyimpulkan bahwa musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi serta daya pikir dalam ruang dan waktu.
Menurut mereka, musik secara unik juga mempengaruhi fungsi otak untuk mempelajari matematika, sains, catur, serta permesinan. Para pakar pun sepakat, musik juga mampu mengembangkan kecakapan sikap, tingkah laku, dan disiplin anak. Melalui musik rasa percaya diri anak meningkat yang kemudian menular ke bidang lainnya, seperti matematika, geografi, ekonomi, dan sebagainya.
Pakar pendidikan musik dari Ohio of State University, AS, Jim McCutcheon M.M.Ed dalam artikelnya Private Music Lesson for Kids, memaparkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan orangtua sebelum mengajak si Kecil belajar di kelas musik:
Perkembangan mental dan fisik anak. Apakah rentang perhatian si kecil lebih dari 2 menit? Karena di tahun awal, anak setidaknya memiliki kemampuan mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti arahan yang diberikan selama 15-30 menit.
Alat musik yang dimainkan. Perhatikan alat musik yang tepat sesuai perkembangan usia anak. Seperti terompet yang tidak sesuai untuk anak usia di bawah 10 tahun, akan lebih tepat piano, gitar, biola dan alat musik perkusi.
Pemilihan guru musik. Sebaiknya pilih guru yang mahir berinteraksi dengan anak-anak.
Bisakah meluangkan waktu? Dengan demikian, Anda bisa melihat perkembangan dan potensi anak di bidang alat musik tersebut.
Comments (0)
Stimulasi Untuk Optimalkan Potensi Kecerdasan Si Kecil
Filed under: Pertumbuhan Anak
Stimulasi Untuk Optimalkan Potensi Kecerdasan Si Kecil

Tahun-tahun pertama anak termasuk golden period bagi perkembangan otaknya. Di masa ini informasi akan tertanam kuat dalam dirinya. Bahkan menurut psikolog perkembangan anak, Felicia Irene, M.Psi, akan mempengaruhi sikap dan filosofi hidupnya kelak. Karena pada masa ini anak memiliki konsentrasi 100 persen dalam ingatannya saat menerima informasi, seperti kertas putih.
Jika seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar di usia dini, maka perkembangan otaknya pun akan berlangsung di bawah rata-rata. Kemampuan logika, bahasa, dan menyelesaikan masalahnya menjadi terbatas. Sebab perkembangan otak anak di usia dini hanya mengandalkan eksposur yang diulang sebagai stimulus. Craig dan Sharon Ramey, Direktur Civitan International Research Center, University of Alabama dalam bukunya Right From Birth memaparkan, metode dan stimulasi sangat memperngaruhi perkembangan otak secara optimal.
Keberhasilan dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan anak memerlukan pastisipasi orangtua sejak dini dengan melakukan praktik komunikasi di rumah, kegiatan fisik bersama, dan mendongeng. Kerja otak tak hanya terasah, tapi kemampuan verbal dan indera geraknya pun terlatih. Latihan motorik juga diyakini baik untuk meningkatkan kerja otak pada tahun pertama pertumbuhan anak, khususnya kegiatan yang aktif menggunakan tangan.
Elly Risma Musa, psikolog dari Universitas Indonesia, berpendapat setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Ia menyebutkan, terdapat sembilan potensi kecerdasan yaitu serdas kata, cerdas sosial, cerdas diri, cerdas gerak, cerdas gambar, cerdas hidup, cerdas spiritual, cerdas alam dan cerdas angka. “Kemampuan dan kecerdasan tersebut, terletak di bagian otak yang berbeda, tinggal bagaimana orangtua dapat mengasah kerja otak tersebut, bukan sebaliknya,” paparnya. Kecerdasan anak, tambah Elly, tidak hanya bersumber dari pemenuhan nutrisi seimbang, tetapi juga disertai pemberian stimulasi pada anak. Berikut beberapa kegiatan stimulasi yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan potensi kecerdasan anak.
Bernyanyi
Menyanyi bersama dapat menghibur anak sekaligus membantu perkembangan kreativitasnya. Karena lirik lagu dapat membantu mengembangkan daya ingat dan bahasanya.
Bersajak
Berdasarkan penelitian di Universitas Oxford, Inggris, semakin sering anak mendengarkan sajak maka semakin cepat anak mengerti kata-kata. Bersajak disertai gerakan tubuh mendidik anak berkomunikasi dan berekspresi.
Baca
Kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur dapat membantu anak mengembangkan daya ingat dan perbendaharaan katanya. Salah satu pengamatan menunjukkan, anak berumur 2 tahun yang terbiasa dengan hal tersebut, terbukti dapat mengerti kata-kata sulit tiga kali lipat dibandingkan anak lain yang tidak memiliki kebiasaan demikian.
Membahas Cerita
Saat Anda membacakan buku, tanyakan pendapat anak mengenai gambar, karakter dan alur ceritanya. Hal ini dapat mengukur tingkat pemahaman anak pada cerita.
Berhitung
Tumpukan piring, buku atau baju bisa menjadi inspirasi untuk mengajak anak berhitung. Awalilah pengenalan konsep matematika sederhana dengan permainan mencocokkan, memilah dan melatih anak memahami konsep warna dan bentuk.
Bermain
Waktu bermain bersama teman-teman adalah kesempatan bagi anak untuk menyalurkan kreativitas dan energinya. Anak juga dapat memahami konsep berbagi dan peraturan permainan. Bermain juga efektif menghilangkan stres dan trauma pada anak.
Berikan Semangat
Berikan dukungan jika mereka berhasil menemukan hal baru dan jangan paksa anak untuk mengetahui hal yang belum jadi ketertarikannya. Perkembangan otak terbaik adalah ketika mereka mencari dan menelitinya sendiri.
Comments (0)
STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN
Filed under: Pertumbuhan Anak
STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN
Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya. Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan. Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.
Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.
Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya.
Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan
menentukan kecerdasan. Apalagi bila dikaitkan dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun (ada juga yang mengatakan 0-6 tahun).
Setelah itu, perkembangan otak manusia pun akan melambat. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya. Cepatnya perkembangan otak dalam periode ini
ditandai dengan pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi hampir 3 kali lipatnya setelah akhir tahun ketiga.
Sekadar untuk diketahui, pada masa awal usianya, fungsi kedua belahan otak bayi masih sama. Hal ini bisa terlihat dari cara bayi meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan anak cenderung memakai tangan tertentu (umumnya kanan) untuk melakukan sesuatu.
Contoh lain akan pentingnya stimulasi terlihat pada penelitian tentang huruf ‘’L” yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan, bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap konsonan ‘’L”. Namun, saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang karena konsonan L dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. ‘’Itu salah satu bukti kalau otak tidak distimulasi, sinaps-sinapsnya (simpai) akan hilang begitu saja.”
IBARAT PESAWAT TELEPON
Saraf-saraf dalam organ otak diibaratkan sebagai kumpulan pesawat telepon yang koneksinya belum terhubung satu sama lain. Agar koneksi antara pesawat telepon di dalam otak ‘’saling nyambung” diperlukan stimulasi.
Tujuan stimulasi adalah mengembangkan hubungan (network) antara satu saraf dengan saraf lain. ‘’Saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan karena ‘pesawat-pesawat telepon’ miliknya sudah terkoneksi sebelum itu. Sebaliknya, bila pesawat-pesawat telepon itu tidak distimulasi maka sinaps-sinapsnya akan hilang.
Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan organ otak jadi mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.
Masalahnya, begitu banyak hal yang perlu dipelajari si bayi kecil lewat kelima indranya; ada indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba hingga pengecap. Orang tua harus rajin menstimulasi semua indra bayi secara seimbang agar tumbuh kembangnya menjadi optimal.
Nah, kali ini yang akan dibahas adalah stimulasi indra peraba dan indra pengecap.
STIMULASI INDRA PERABA
Sebenarnya, secara tidak sadar, orang tua sudah melakukan beberapa stimulasi indra sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Pijat bayi
Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat.
‘’Jadi terbukti sentuhan orang tua mempengaruhi perkembangan bayi, bukan?”.
Akan lebih baik bila mengikuti berbagai kursus pijat bayi yang banyak diselenggarakan untuk mengetahui teknik pijatan yang tepat. Jika bayi dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.
Perhatikan ranjang
Kebanyakan, waktu bayi akan dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indra peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.
Manfaatkan berbagai bahan
Bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Untuk itu kita bisa mengenalkannya kepada berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Bisa juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Dengan mandi, misalnya, bayi jadi tahu sifat sabun yang licin.
Berjalan tanpa alas
Bila sudah agak besar, bayi bisa diajak berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan kala menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Nah, apa yang kita sampaikan kepada sensori peraba bayi akan terekam di dalam otaknya dan membantu dia menghubungkan jaringan sel-sel saraf yang ada di dalamnya. Akhirnya, pada sekitar usia 2 tahun ia mulai
bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.
STIMULASI INDRA PENGECAP
Stimulasi indra pengecap pun sudah akrab dengan aktivitas sehari-hari si kecil, berikut beberapa di antaranya:
Menyusu ASI
Menyusu ASI merupakan salah satu cara merangsang indra pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.
Biarkan mengisap jari
Untuk menstimulasi indra pengecapnya biarkan bayi mengisap jari. Seperti diketahui, setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Sampai usia 7 bulan pun, kebiasaan mengisap jari pada bayi masih dianggap wajar. Setelah usia itu tentu kebiasaan ini mesti dihentikan.
Memberikan PASI
Selepas usia 6 bulan, mulailah bayi diperkenalkan dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indra pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.
Mainan gigitan
Bisa diberikan saat ia mulai memasukkan segala sesuatu
ke dalam mulutnya, yakni sekitar usia 6 bulan. Tentu saja perhatikan kebersihannya.
Ajak si kecil ngobrol saat kita memberinya stimulasi. Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Dengan berkomunikasi, orang tua juga akan menjalin kedekatan dengan anak. Namun, kelekatan tetap kurang terjalin bila sambil berbicara, pikiran orangtua berada entah di mana. Jadi, ajak bayi berbicara dengan tatapan mata. Saat memandikan, kita bisa ngobrol tentang air yang begitu dingin. ‘’Ih airnya dingin, ya..”
Dengan begitu, anak merasa bahwa kita berusaha berhubungan dengannya. Walau mungkin respons bayi belum terlihat, hanya menatap saja, misalnya, tapi itu sebenarnya menunjukkan kelekatan sudah terbangun.
Comments (0)
Si Kecil Sehat Bila Pencernaannya Kuat
Filed under: Pertumbuhan Anak
Si Kecil Sehat Bila Pencernaannya Kuat
Apa itu mikroflora?
Mikroflora usus umumnya diidentikkan sebagai flora bakteri di dalam usus. Saluran cerna anak sehat bila keadaan mikroflora dalam tubuhnya stabil dan seimbang, dimana komposisi bakteri yang menguntungkan (bakteri-baik) lebih banyak dibanding yang merugikan (bakteri-jahat).
Bagaimana cara mengupayakan pertumbuhan bakteri baik pada mikroflora?
Berikan prebiotik, yaitu suatu karbohidrat yang tidak dicerna sebagai makanan bakteri menguntungkan, ke dalam makanan si kecil sehari-hari. Prebiotik terdapat pada bahan makanan, seperti gandum, pisang, bawang putih. Penambahan prebiotik dalam jumlah yang cukup ke dalam makanan atau minuman (susu) dapat memenuhi kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan.
Apa manfaat pemberian bakteri baik?
Mikroflora usus yang didominasi oleh bakteri-baik bermanfaat untuk memberi pertumbuhan yang optimal pada anak, juga memperlihatkan kejar tumbuh yang baik pada anak yang menderita malnutrisi, serta mengurangi kejadian diare akut secara drastis. Dengan memberikan asupan Prebiotik pada anak dalam jumlah yang cukup diharapkan bisa mendukung keseimbangan mikroflora saluran cerna secara optimal.
Tip menjaga keseimbangan mikroflora dalam saluran cerna:
•    Berikan pola makan sehat dan seimbang bagi anak.
•    Biasakan anak untuk menjalani pola makan yang teratur.
•    Hindari pemakaian antibiotika yang berlebihan.
•    Jaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah makan
*Setiap individu berbeda kondisi kesehatannya. Sebagian individu mungkin alergi terhadap salah satu atau beberapa   bahan makanan tertentu. Sesuaikan bahan makanan yang digunakan dengan kondisi kesehatan anda. Perhatikan   baik-baik selalu bahan-bahan yang tercantum dalam setiap kemasan.
Comments (0)
Setiap Anak Memiliki Kepekaan, Asahlah Selagi Masih Dini
Filed under: Pertumbuhan Anak
Setiap Anak Memiliki Kepekaan, Asahlah Selagi Masih Dini
Dua anak TK B itu saling berebut ayunan, dan tidak satu pun yang mau mengalah. “Aku duluan!” ujarnya. “Jangan! Aku dulu. Kamu nggak boleh!” katanya mempertahankan ayunan itu. Kejadian seperti ini bukan hal asing lagi. Mereka seolah tak memiliki tenggang rasa dan mau menang sendiri. Keinginan mereka seolah tak dapat ditawar, dan selalu ingin mendapatkannya.
Melihat kejadian itu, Rahma, ibu dari salah satu anak tersebut khawatir kalau-kalau buah hatinya kelak akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki kepekaan atau empati. Hal ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, sebab pada dasarnya setiap anak itu memiliki kepekaan, tinggal bagaimana orangtua dan orang-orang terdekat mengasah kecerdasan emosi anak tersebut, agar terbentuk anak-anak yang berkarakter baik.
Dalam mengasah kecerdasan emosi, Daniel Goleman dalam bukunya berjudul Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ (Kecerdasan Emosi, Mengapa lebih Penting daripada IQ), membagi kecerdasan emosi ke dalam enam wilayah, yaitu empathy (kesadaran akan perasaan, kebutuhan, dan keprihatinan orang lain), understanding others (dapat memahami perasaan dan pandangan orang lain dan mempunyai ketertarikan akan keprihatinan mereka), developing others (mengetahui kebutuhan orang lain ), service orientation (mampu mengantisipasi, mengenali, dan memenuhi kebutuhan orang lain), leveraging deversity (mengolah kesempatan melalui orang-orang yang berbeda), dan organization awareness (mengenali keadaan dalam kelompok).
Menurut Goleman, anak yang memiliki kemampuan-kemampuan tersebut kelak akan mampu membina hubungan personal yang baik dengan lingkungannya, serta membawanya ke pintu sukses dalam berkarir.
Mengasah empati, menjadi satu hal penting yang perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini, sebab empati merupakan kunci keberhasilan anak kelak. Mengasah empati bisa dilakukan lewat bermain. Selama bermain anak akan belajar memahami dan mengerti orang lain. Bukankah selama bermain anak berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya?
Cara lainnya dengan mengajak anak bermain di tempat umum. Di situ ia akan belajar menghargai bahwa anak lain pun juga berhak menggunakan mainan itu secara bergantian. Bisa juga dengan cara mengajak ia berkenalan dengan anak lain seusianya, dan membiarkan mereka bermain bersama. Ajari pula anak untuk memberi pertolongan pada orang yang kekurangan, misalnya ketika ada pengemis, biarkan anak yang memberi uang.
Dengan cara ini, anak akan belajar bagaimana menghargai orang lain.
Kapan saat yang tepat untuk mengajarkan empati pada anak? Membentuk nilai dan pesan moral anak, hasilnya akan semakin baik jika dilakukan sedini mungkin, saat ia mulai bersosialisasi dengan orang lain.
Jadi, bu-pak, tak ada kata terlambat untuk mengarahkan si kecil agar menjadi anak yang penuh empati. Apalagi setiap anak itu pada dasarnya memiliki kepekaan.
Tips Agar Tak Tumbuh Jadi Anak Egois:
Biasakan anak untuk berkata “maaf” bila menyakiti teman atau berbuat kesalahan, atau “terima kasih” bila ia menerima sesuatu dari orang lain.
Ketika melihat temannya jatuh dan menangis, ajarkan untuk mendekati dan membantu anak tersebut. Dengan .
Ajarkan anak untuk berbagi dengan temannya. Biarkan temannya meminjam mainannya saat mereka bermain.
Ketika ia sedang memegang makanan, ajarkan dia untuk memberikan sebagian pada orang yang meminta, atau menawarkannya pada orang lain.
Beri pengertian, memukul dan dipukul tidak akan menyelesaikan masalah, dan hanya menghasilkan rasa sakit.
Sesekali ajak anak berkunjung ke panti asuhan.
Comments (0)
Seni dan Balita Anda
Filed under: Pertumbuhan Anak
Seni dan Balita Anda
Anak yang memperoleh kesempatan, dorongan dan semangat untuk mengekspresikan perasaan, pikiran serta imajinasinya melalui seni, ternyata memperkaya dan memperluas fikir, jiwa dan budi-dayanya. Seni mendorong kreativitas dan kemampuan berfikir. Seni sebagai bagian integral dari pendidikan usia pra-sekolah. Sebagian besar kegiatan sehari-hari asuhan usia prasekolah sebenarnya telah berhubungan erat dengan seni.
Tak kan lepas dari ingatan ketika kita kecil ibu bersenandung lagu, ayah mengajak tepuk tangan gembira kala kita bisa menyanyikan lagu sembarang atau meniru tarian-asal. Kemudian guru di taman-kanak mengajarkan melipat, mencoret, menyusun, menempel, mewarnai, menyanyi, deklamasi, menari, bermain peran dan apapun hasilnya penghargaan serta pujian yang di dapat; kemudian semgangatpun mengatakan apa yang kukerjakan ternyata bisa. Adakah suasana seperti diatas juga diperoleh putra-putri kecil kita?
Seni adalah media bagi anak untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan fantasinya. ‘Karya-seni’ (art-work) anak-anak merupakan gambaran persepsi dunia yang melingkupinya.
Menurut Zimmerman ada 3 hal pendidikan seni untuk anak Balita:
·        Karya-seni adalah refleksi dari perkembangan natural inner processes
·        Berdasar pada pendekatan perkembangan kognitif (cognitive developmental approach), terfokus pada pembangunan pengetahuan umum tentang lingkungan(dunia)nya.
·        Pembelajaran seni untuk mendukung pengembangan-diri sehingga anak anak dapat memahami diri dengan lingkungan sosial dimana mereka tinggal.

Bahwa anak memilki kemampuan alami seni yang tak terhingga bila para dewasa (misal: orang-tua, guru) memfasilitasi dengan ‘lingkungan-kesempatan’ dorongan serta sarana. Bagi anak Balita bebas bereksplorasi pada benda, tekstur, bau, warna, bentuk-susun-bangun, bersuara (menyanyi, bercerita, deklamasi), bergerak (menari, bergaya, berperan) serta berkesempatan mengekspresikan perasaan, persepsi, pendapat/ide merupakan tujuan awal pembelajaran seni. Proses adalah hal yang lebih penting dari pada ‘produk’ seni itu sendiri.
Ketika anak menyelesaikan ‘karya-seni’nya sebagi pengganti sebuah kata pujian ajaklah ia berbincang ringan namun riang. Anda akan belajar banyak tentang karya-seni dan pikiran anak dari berbincang dengannya. Ikuti terus proses itu, karya-seni anak membantu pra dewasa mengikuti jejak-perkembangan anak.
Seni Membuatnya Lebih Ekspresif
Nancy Beal dan Gloria Bley Miller dalam bukunya The Art of Teaching Art to Children menyebutkan bahwa kegiatan seni sangat baik untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Aktivitas ini membuat anak sanggup mengendalikan otot-otot halusnya untuk membentuk plastisin, memotong dengan gunting, melukis dengan kuas dan menggambar atau mewarnai dengan krayon. Konsentrasi, koordinasi, kesabaran dan gerakan tangan anak pun terlatih. Bukan hanya itu, anak pun memperoleh pengalaman mengembangkan daya visualnya.
Aktivitas seni juga dapat membantu anak untuk mengembangkan rasa percaya dirinya. Ia akan merasa jerih payahnya dihargai ketika melihat hasil karyanya dipajang. Hal itu membuat si kecil terus terpacu untuk menghasilkan karya. Dan, ia pun merasa dirinya mampu untuk melakukan suatu hal.
Baiknya seni untuk perkembangan balita juga diulas oleh Anne Reyner, M.A, seorang Art Therapist asal Amerika Serikat. Dalam tulisannya Seven Good Things for You to Know About How The Arts Help Children Grow, ia memaparkan bahwa seni dapat mengembangkan kemampuan dan kreativitas anak secara maksimal. Menurut Reyner, saat bereksperimen dengan peralatan seninya, anak berlatih untuk mencari pemecahan masalah. Ia pun terlatih untuk mengambil keputusan saat harus membangun atau membuat karya seninya. Seni pun dapat melatih kemampuan sosial anak. Misalnya, anak yang pemalu bisa lebih nyaman melakukan koneksi dengan orang lain ketika ia melakukan aktivitas seni bersama-sama.
Lebih lanjut Reyner menyatakan bahwa aktivitas seni melatih otak kiri dan kanan. Aktivitas seni akan merangsang otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan membaca, menghitung dan pemecahan masalah. Secara bersama-sama aktivitas tersebut pun akan melatih otak kanan yang ‘bertanggung jawab’ atas kreativitas dan intuisi.
Bagaimana Tips Membimbingnya?
Amy S. Hood dan Connie Jo Smith dalam tulisannya Safe Play for Toddlers menyebutkan bahwa yang harus disadari orang tua ketika membimbing anaknya adalah seni bagi anak bukanlah hasilnya, melainkan prosesnya. Biarkan anak menggunakan imajinasinya:
1. Memberi contoh boleh, tetapi jangan mendikte. Anak akan menemukan caranya sendiri untuk membuat hasil karya dari peralatan seni yang Anda berikan. Dengan imajinasi dan kreativitasnya sendiri, anak akan membuat hasil karya yang unik dan berarti bagi dirinya.
2. Memuji tak ada salahnya, tapi fokuslah pada pekerjaan yang dilakukannya. Jangan buru-buru melontarkan pujian: “Wow! Itu bagus sekali!” tetapi berikan perhatian pada proses pekerjaannya. Misalnya, berikan komentar seperti:”Wah, kamu pakai tiga warna untuk gambar hati yang kamu buat.”
3. Selalu tekankan sisi positif dari hasil karya anak Anda. Fokus pada hasil karya yang telah jadi dan bukan pada harapan atau ukuran Anda. Jika Anda memberikan komentar berdasarkan apa yang ingin Anda lihat atau harapkan, maka anak tak pernah berhasil memenuhi keinginan Anda. Hal ini akan menimbulkan kekecewaan pada Anda dan anak Anda. Komentar yang positif, bukan celaan atau pujian berlebihan akan membuat anak terpacu untuk membuat hasil karya yang lebih baik.
4. Hargai karya anak Anda. Ada dua cara untuk melakukannya yaitu memberikan komentar positif tentang karyanya dan cara Anda memperlakukan hasil karyanya. Maka, pajanglah karya anak Anda atau simpan di album khusus. Pasang dalam pigura satu atau dua gambar karyanya yang ia sukai. Dengan cara ini, anak mengetahui bahwa Anda menghargai hasil karyanya. Jika perlu, fotokopi atau foto hasil karya anak Anda dan tunjukkan pada nenek dan pamannya.

Sumber: http://www.sahabatnestle.co.id

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

About these ads

01/30/2009 - Posted by | Belajar Dan Pembelajaran

14 Komentar »

  1. gag jlas

    Komentar oleh lina budiarti | 10/08/2009

  2. lengkap lengkip untuk bahan penelitian dan perbandingan dan pngajaran

    Komentar oleh dedi mizwar | 11/16/2009

  3. baik sekali. tetapi lebeh baik lagi jika di masukkan daftar isinya. agar lebih muda mencari materinya.

    Komentar oleh Marwan Kokoti | 03/18/2010

  4. TERIMA KASIH ATAS PAPARAN YANG TELAH DISAMPAIKAN …KARANA DENGAN PAPARAN INI KAMI SANGAT TERBANTU DALAM MENYELESAIKAN TUGAS-TUGAS

    Komentar oleh ubaidillah | 06/07/2010

  5. MKASH INFONYA

    Komentar oleh SITI | 11/22/2010

  6. thank’s atas data’y jdadinya tugas saya agak terbantu…

    Komentar oleh widya | 04/29/2011

  7. very useful…. thanks

    Komentar oleh syaifullah anshory | 06/23/2011

  8. sama-sama

    Komentar oleh zaifbio | 06/27/2011

  9. PINTER SEKALI. MAKASIH

    Komentar oleh mustofa | 10/18/2011

  10. Hello there, I discovered your web site by means of Google even as searching for a related topic, your website got here up,
    it looks great. I’ve bookmarked it in my google bookmarks.
    Hello there, just turned into aware of your weblog thru Google, and located that it’s really informative.
    I am going to be careful for brussels. I’ll be grateful should you proceed this in future. A lot of folks shall be benefited from your writing. Cheers!

    Komentar oleh Robert Griffin III Jersey | 12/12/2012

  11. With a ceramic stone base with surrounding elements that provide even heating,
    the Pete Evans Signature Edition Pizza Maker by Breville is the best choice.
    Cook the chicken first in a little olive oil – cut the chicken
    into little cubes. Add the water a teaspoon at a time so it’s not over done.

    Komentar oleh Klaudia | 01/16/2013

  12. When an individual decides to make the transition from
    eating meat to being a true vegan, many of the usual things they once enjoyed go out the window.
    Sprinkle the top with Italian seasonings for garnish and additional flavor.
    It is not like ordinary dough, it is not supposed to be soft as a baby’s bottom.

    Komentar oleh www.saboracaboverde.com | 02/14/2013

  13. I’ve been exploring for a little for any high quality articles or blog posts in this sort of house . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this web site. Reading this information So i am satisfied to show that I’ve a very just right uncanny feeling I came upon
    just what I needed. I so much for sure will make sure to don?
    t fail to remember this web site and give it
    a look regularly.

    Komentar oleh Jasa Pembuatan Toko Online Murah | 05/23/2013

  14. Furthermore, lifespan cycle of an hair has three phases: growth,
    thinning, and falling out. Finasteride can also involve
    some negative effects when used as being a hair thinning treatment by men including
    loss in libido. Hair loss prevention can also be sustained
    by staying stress-free.

    Komentar oleh http://www.francekit.com/ | 09/26/2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 915 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: